• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meningkatnya Populasi Industri Minuman dan Tembakau

PERSPEKTIF PEMBELAJARAN ORGANISASI 1. Tersusunnya

1. Meningkatnya Populasi Industri Minuman dan Tembakau

Indikator dari sasaran ini antara lain: Terfasilitasinya pengembangan industri pangan;

Terfasilitasinya pengembangan industri bahan penyegar; dan Terfasilitasinya pengembangan industri minuman lainnya.

1.1. Terfasilitasinya Pengembangan Industri Pangan

Pengembangan industri pangan dalam lingkup pembinaan Direktorat Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar difasilitasi melalui penyusunan rekomendasi kebijakan dalam rangka mendorong iklim investasi industri untuk dua komoditi yaitu rekomendasi iklim usaha industri pengolahan susu dan rekomendasi iklim usaha industri pengolahan buah dan sayur/hortikultura, selama tahun 2015-2019. Selain itu, pada tahun 2019 juga dilakukan peningkatan kompetensi SDM industri melalui bimbingan teknis SDM, termasuk untuk industri pengolahan susu dan industri pengolahan hortikultura.

Permasalahan utama yang dihadapi dalam pengembangan industri pengolahan susu (IPS) adalah rendahnya ketersediaan susu segar dalam negeri yang berakibat pada tingginya ketergantungan IPS terhadap bahan baku impor. Saat ini hampir seluruh produksi susu segar dalam negeri telah diserap oleh IPS, tetapi IPS masih harus mengimpor bahan baku susu untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan susu IPS tahun 2018 tercatat ± 4,07 juta ton (setara susu segar), dengan pasokan bahan baku susu dalam negeri 909.638 ton (20%), dan sisanya sebesar 3,2 juta ton (80%) masih diimpor dari berbagai negara dalam bentuk: Skim Milk Powder (SMP), Whole Milk Powder (WMP), Anhydrous Milk Fat (AMF), dan Butter Milk Powder (BMP).

Dengan kondisi tersebut, Kementerian Perindustrian telah melakukan upaya peningkatan rasio penggunaan susu segar dalam negeri. Upaya tersebut diwujudkan melalui program kemitraan IPS dengan koperasi/kelompok peternak. Jenis kemitraan dapat berupa:

penyerapan, peningkatan produksi, dan kualitas susu segar dalam negeri; peningkatan populasi ternak sapi perah melalui pembangunan rearing farm; dan peningkatan kualitas SDM peternak/ koperasi.

Selain program kemitraan, rekomendasi kebijakan industri pengolahan susu lainnya adalah percepatan penerapan teknologi 4.0 untuk meningkatkan mutu produk, produktivitas dan efisiensi. Kemudian juga memberikan dukungan penuh terhadap penanaman investasi di dalam negeri dengan memberikan insentif berupa kemudahan perijinan dan jaminan bahan baku, antara lain : kemudahan prosedur perizinan berusaha yang terintegrasi secara elektronik atau Online Single Submission (OSS), fasilitas insentif tax allowance (PP 9/2016), dan fasilitas super deductible tax (PP 45/2019).

46 Sedangkan permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan industri pengolahan buah dan sayur antara lain: pasokan bahan baku tidak kontinu (buah musiman, terbatasnya investasi skala perkebunan besar); terbatasnya penanganan teknologi pasca panen;

rendahnya penguasaan teknologi proses produksi di tingkat usaha kecil menengah;

rendahnya kemampuan inovasi produk; terbatasnya penerapan Good Manufacturing Practice (GMP) dan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP).

Rekomendasi pengembangan industri pengolahan buah dan sayur sebagai berikut:

1. Sinergi kebijakan di sektor hulu dan hilir dalam memilahkan pengembangan buah konsumsi rumah tangga dan buah untuk bahan baku industri. Varietas perlu ditetapkan dari awal pembibitan.

2. Pemanfaatan lahan perlu dioptimalkan dan dimanfaatkan sebaik mungkin.

3. Pemberian fasilitas Kawasan Berikat seperti Penangguhan Bea Masuk dan Pajak Tidak Dipungut untuk barang modal (pupuk, pestisida, suku cadang barang modal) di sentra penghasil buah untuk keperluan industri.

4. Negosiasi penurunan tarif bea masuk ke negara importer, misalnya bea masuk nanas kaleng dari Indonesia ke Eropa sebesar 14,9%, sedangkan Filipina sudah mendapatkan tarif bea masuk 0% ke Eropa.

1.2. Terfasilitasinya Pengembangan Industri Bahan Penyegar

Pengembangan industri bahan penyegar difasilitasi melalui penyusunan rekomendasi kebijakan dalam rangka mendorong iklim investasi industri untuk tiga komoditi yaitu industri pengolahan kakao, industri pengolahan kopi, dan industri pengolahan teh, selama tahun 2015-2019. Khusus untuk industri pengolahan kakao, baru masuk menjadi industri binaan Direktorat Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar pada tahun 2016/2017.

Pada tahun 2017-2019 dilakukan Pembangunan Pusat Pengembangan Kompetensi Industri Pengolahan Kakao Terpadu di Batang, Jawa Tengah. Selain itu, pada tahun 2019 juga dilakukan penyusunan profil investasi industri pengolahan cokelat, peningkatan kompetensi dan diversifikasi produk kakao di Sulawesi Tenggara, dan peningkatan kompetensi SDM industri melalui bimbingan teknis SDM industri pengolahan kakao, kopi, dan teh.

Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan industri pengolahan kakao dari hulu ke hilir antara lain: Produktivitas tanaman masih rendah dan produksi kakao Indonesia cenderung menurun karena sebagian tanaman tua/tidak produktif, serangan hama penyakit, kurangnya pemeliharaan oleh petani dan perubahan iklim serta degradasi kesuburan tanah;

Industri pengolahan kakao kekurangan bahan baku karena menurunnya produksi kakao nasional, akibatnya untuk memenuhi bahan baku, impor biji kakao meningkat, dengan tarif bea masuk 5%; Terdapat perbedaan data produksi kakao nasional antara pemerintah, asosiasi kakao dan International Cocoa Organization (ICCO) karena metodologi yang

47 digunakan berbeda; Ekspor produk olahan kakao Indonesia ke Uni Eropa dikenakan tarif bea masuk 4-6%, sedangkan ekspor produk olahan kakao dari Afrikan ke Uni Eropa mendapatkan preferensi tarif bea masuk 0%.

Hal-hal yang sudah dilakukan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut antara lain:

1. Melakukan pembahasan dan memberikan usulan terkait peningkatan produksi kakao melalui perbaikan tanaman (peremajaan, rehabilitasi, intensifikasi) dengan Kementerian Pertanian

2. Melakukan pembahasan penurunan bea masuk impor biji kakao menjadi 0% dengan Kemenko Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan (BKF dan Bea Cukai), dan asosiasi-asosiasi kakao. Namun masih terdapat perbedaan pendapat antara instansi terkait dengan asosiasi kakao sehingga pada tahun 2019 Dit. Ind. Mintemgar telah melakukan kegiatan evaluasi penerapan kebijakan tarif dalam rangka peningkatan daya saing industri pengolahan kakao.

3. Menyampaikan usulan penurunan/penghapusan tarif bea masuk ekspor produk olahan kakao Indonesia ke Uni Eropa kepada Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri agar dapat bernegosiasi antar pemerintah (G to G) dan menyampaikan pada sidang internasional yang terkait dengan komoditas kakao.

Permasalahan dan hal yang sudah dilakukan di industri pengolahan teh antara lain:

Mesin dan peralatan pada kondisi idle capacity, saat ini sudah diusulkan kebun seluas 125 ribu Ha moratorium untuk memenuhi kebutuhan ekspor; Pabrik pengolahan tidak ekonomis karena mesin sudah tua; Belum memperhatikan standar produksi, seperti GMP dan HACCP;

dan Lemahnya SDM sehinga perlu pelatihan untuk peningkatan kompetensi.

Industri pengolahan kopi mengalami masalah adanya ketimpangan antara supply dengan demand dimana produksi biji kopi Indonesia masih stagnan sedangkan permintaan pasar/konsumsi produk olahan kopi terus meningkat. Di samping itu juga terjadi perebutan bahan baku kopi antara perusahaan lokal dengan eksportir asing; bea masuk produk olahan kopi ke negara tujuan ekspor yaitu Brazil, India, dan Vietnam masih cukup tinggi, terutama yang mengandung susu dan produk pertanian lainnya; serta masih belum maksimalnya peningkatan nilai tambah melalui diversifikasi produk olahan kopi utamanya ke arah produk non-pangan (farmasi dan kosmetik).

Permasalahan yang dihadapi oleh industri bahan penyegar, baik kakao, teh, maupun kopi, adalah pengenaan PPN 10% atas barang hasil pertanian, perkebunan dan kehutanan yang berdampak negatif kepada pengusaha/industri /eksportir dan juga petani. Sebagai tindak lanjut, Kemenperin selalu mengikuti pembahasan dan mendukung upaya pembebasan pengenaan PPN 10% atas barang hasil pertanian, perkebunan dan kehutanan.

48 Khusus untuk kakao jenis barang yang diusulkan dibebaskan dari PPN adalah biji kakao kering non fermentasi dan biji kakao kering fermentasi.

Fasilitasi pengembangan industri bahan penyegar juga dilakukan melalui bantuan mesin dan peralatan pengolahan kopi, pengolahan teh, dan pengolahan kakao ke berbagai daerah yang potensial untuk pengembangan industri tersebut.

1.3. Terfasilitasinya Pengembangan Industri Minuman Lainnya

Pengembangan industri bahan penyegar difasilitasi melalui pelaksanaan kegiatan yang berkaitan dengan iklim usaha industri air minum dalam kemasan, minuman ringan, minuman beralkohol, serta bantuan mesin peralatan teknologi es balok. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan industri air minum dalam kemasan dan minuman ringan antara lain:

adanya Undang-Undang No.17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air (UU SDA) yang menimbulkan masalah terkait akses sumber air industri; peraturan pusat dan/atau daerah yang membatasi atau melarang pengunaan air minum dalam kemasan; sempat munculnya wacana pengenaan pajak/cukai untuk produk minuman berkarbonasi dan kemasan plastik untuk industri. Terkait UU SDA, Dit. Ind. Mintemgar telah mengikuti dan mengawal dalam proses pembahasan rancangannya, namun terdapat usulan yang tidak diakomodir. Oleh sebab itu perlu pengawalan dalam penyusunan peraturan turunannya, terutama terkait akses penggunaan sumber daya air. Sedangkan terkait industri minuman beralkohol, Dit. Ind.

Mintemgar setiap tahunnya selalu melaksanakan kegiatan pengawasan dan pengendalian.

Pada tahun 2019, telah selesai dilakukan penyusunan Peraturan Menteri Perindustrian No.17 Tahun 2019 tentang Pengendalian dan Pengawasan Industri Minuman Beralkohol yang merupakan revisi dari peraturan sebelumnya. Mengenai bantuan mesin dan peralatan teknologi proses es balok untuk meningkatkan daya simpan produk hasil laut telah dimanfaatkan dan dikelola oleh penerima dengan baik.

Dokumen terkait