oleh: GIGAY CITTA ACIKGENC – UNIVERSITAS INDONESIA
Ringkasan
Tujuan akhir pendidikan adalah mencetak generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman belum tercapai. Jam sekolah yang tinggi dan materi yang berjejal membuat pelajar ogah – ogahan sekolah. Sistem evaluasi pilihan ganda tidak memberi insentif bagi peserta didik untuk cinta membaca. Berangkat dari pengalaman mencicipi pendidikan di tanah eropa, ide – ide segar lahir dan cita – cita baru terpatri di nurani. Menepis setiap kepentingan politis demi pendidikan yang dapat mengubah sendi – sendi kehidupan adalah misi utama jika saya kelak menyandang titel Menteri Pendidikan.
Program pertukaran pelajar yang pernah saya ikuti dua tahun silam meninggalkan jejak abadi di bilik memori. Hari – hari di sekolah yang saya jalani selama satu tahun ajaran membuka pintu kesempatan untuk saya merasakan perbedaan sistem pendidikan di Italia dan di Indonesia. Pengalaman sekali seumur hidup ini sukses membuat saya mencetuskan sebuah cita – cita baru: Menteri Pendidikan Republik Indonesia. Dan setelah saya pulang ke tanah air, imajinasi posisi panglima tertinggi di sektor pendidikan formal tersebut semakin tumbuh di benak saya.
Sekolah yang Menyenangkan
Tatkala saya menjadi murid di sebuah SMA negeri di kota Roma, ada percik antusiasme yang membuncah sebelum saya berangkat ke sekolah. Terpaan angin dingin bumi eropa setiap pagi ketika sedang menunggu bus tidak menyurutkan semangat saya untuk hadir di ruang kelas. Kemampuan bahasa Italia saya yang belum seberapa juga tidak menciutkan nyali saya untuk mengikuti ujian lisan maupun tulis yang sebenarnya tidak wajib mengingat sekembalinya saya ke Indonesia saya tetap akan mengulang kelas tiga SMA. Akan tetapi, mata pelajaran yang menarik serta sistem evaluasi yang bebas dari model pilihan ganda mengaburkan kendala bahasa dan cuaca yang menghadang saya.
Sesuai dengan usia saya yang saat itu berumur 17 tahun, saya ditempatkan di kelas IV Liceo Scientifico Stanislao Cannizzaro. Kelas IV disana setara dengan kelas 2 SMA di negara kita. Dan seperti yang tertulis di nama sekolah saya, saya masuk di sekolah Ilmu Alam. Yang unik, selain belajar Matematika, Fisika, dan Kimia, alokasi jam Sastra Italia, Sastra Latin, Sastra Inggris, Filsafat, Sejarah, dan Sejarah Seni tidak dianak-tirikan. Tak hanya kemampuan berhitung yang diasah, namun kami dilatih pula untuk mengenal keping – keping masa lalu yang acap kali di Indonesia tidak diselami lebih dalam kecuali jika Anda mahasiswa Ilmu Sejarah.
Selama satu tahun tersebut, jendela wawasan saya diperlebar dan keran pengetahuan yang terbuka dari berbagai disiplin ilmu membanjiri isi kepala saya. Saya memaknai kutipan populer Carpe Diem di jam Literatur Latin. Carpe Diem yang ditulis oleh Horace – yang artinya adalah Seize the Day – mengingatkan saya untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup yang saya dapat hari ini. Lalu, di sesi Literatur Italia saya mengapresiasi fungsi moral dongeng Pinocchio dan Cinderella serta menganalisis faktor internal novel abad 17 karya Robinson Crusoe di jam Literatur Inggris. Saya juga membedah lukisan School of Athens karya Michelangelo dan mencoba memahami filsafat politik dari pemikiran filsuf asal Britania Raya, John Locke.
Saya tiba di Italia dengan kemampuan berbahasa sebatas ‗Halo! Nama saya Gea. Saya datang dari Indonesia‘. Tiga bulan awal saya benar – benar merasa seperti alien. Ketika berada di kelas, menahan kantuk adalah kegiatan utama karena saya sama sekali tidak menangkap materi pelajaran atau obrolan yang sedang mereka bicarakan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, saya membuktikan sendiri keajaiban otak manusia dalam beradaptasi dengan bahasa baru. Di bulan Desember 2011, saya mulai bisa berkomunikasi dua arah dan memberanikan diri untuk mengikuti ujian Literatur Italia dengan sub topik Il Purgatorio karya Dante.
Sepanjang satu tahun ajaran 2010/2011 itu, saya tidak pernah bertemu ujian dengan soal pilihan ganda. Yang saya hadapi adalah selembar kertas folio kosong. Saya tidak pernah menyilang jawaban, saya merangkai jawaban. Apa yang saya dan teman – teman pahami adalah yang akan kami tuangkan dalam bentuk tulisan. Beruntung sekali para guru sangat menghargai partisipasi saya setiap kali ada ujian. Mereka menilai ujian saya berdasarkan perkembangan tata bahasa Italia saya. Apresiasi ini pula yang membuat saya berangkat ke sekolah dengan perasaan senang, bukan paksaan atau pun sebuah keharusan.
Perbedaan kontras sangat terasa ketika saya kembali dan mengulang kelas 3. Jam sekolah yang tinggi, materi yang padat dan diujikan dalam bentuk Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan meredupkan percik api semangat yang dulu pernah saya rasakan. Saya kehilangan waktu luang dan kebebasan melukiskan pikiran dalam bentuk tulisan. Di Italia, saya hanya berada di sekolah dari pukul 8.30 sampai pukul 13.30. Dan untuk lulus SMA, murid – murid disana diperbolehkan menulis apa saja dalam bentuk karya ilmiah yang nantinya akan dipresentasikan. Host-brother saya kala itu menulis tentang badut dan kaitannya dengan karya pelukis Picasso. Selain karya ilmiah yang bisa dipersiapkan di rumah, ujian di dalam ruangan (sit-in test) juga diselenggarakan oleh pemerintah. Teman saya menulis sebuah esai dengan tema you are what you eat (Kamu adalah apa yang kamu makan).
Bukan berlebihan jika saya mengatakan masyarakat kita hari ini adalah produk kurikulum nasional. Pendidikan adalah salah satu faktor pembentuk karakter umum suatu masyarakat. Meskipun ada perubahan, kurikulum dulu dan kini sebetulnya memiliki napas yang sama: materi pelajaran yang membeludak, jam sekolah yang tinggi, sistem evaluasi model pilihan ganda, dan ujian yang terstandardisasi (standarised-test).
Kalau hari ini masih banyak orang yang tidak malu melakukan tindak pidana korupsi, bisa jadi karena pelaksanaan EBTA/EBTANAS sampai yang namanya diubah menjadi Ujian Nasional tidak dianggap sebagai tempat bersemainya benih – benih generasi koruptif. Pelaksanaan Ujian Nasional yang rentan kecurangan adalah rahasia umum. Banyak murid yang saking takutnya atau saking malasnya akhirnya membeli soal dari pihak yang tak bertanggungjawab. Karena mereka dituntut untuk memenuhi nilai minimum kelulusan, tidak semuanya mampu menomorsatukan kejujuran. Soal pilihan ganda yang diujikan memudahkan para murid untuk menghalalkan praktik sontek – menyontek. Model evaluasi yang melihat nilai sebagai indikator kelulusan dan keberhasilan siswa memproduksi peserta didik yang belajar dengan berorientasi pada nilai (score-oriented), bukan berorientasi pada spirit pembelajar sejati (learning-oriented) yang seharusnya menjadi landasan setiap orang yang pernah mengecap pendidikan formal.
Karena sifatnya berorientasi pada nilai, alhasil pola belajar – mengajar di kelas mau tidak mau berfokus pada bagaimana nanti kami (baca: siswa) bisa lulus Ujian Nasional. Akibatnya, yang kami pelajari di sekolah adalah skill menjawab soal dengan cepat dan tepat. Dan yang dikejar oleh para tenaga pengajar, kepala sekolah, dan Menteri Pendidikan adalah kenaikan angka statistik kelulusan.
Parameter keberhasilan pendidikan nasional yang diukur oleh nilai batas minimum yang mampu dilewati siswa adalah potret kesuksesan yang semu. Buktinya semakin banyak orang yang bisa sekolah, berita tawuran antarpelajar, demo mahasiswa yang berujung kericuhan masih santer terdengar. Apa pasal ini bisa terjadi? Di kelas tidak ada cukup ruang untuk melatih cara berkomunikasi yang santun melalui media diskusi tukar opini. Dua jam mata pelajaran tidak cukup efektif untuk mempertajam radar berimajinasi dan bereksplorasi.
Selama 12 tahun kami dijejali soal – soal yang tidak akan kami hadapi di kehidupan nyata. Kami tidak dibekali cara berpikir kritis karena kami tidak dibiasakan menulis. Dari ulangan harian sampai Ujian Nasional yang berbentuk pilihan ganda tidak mendorong kami untuk mencintai riset pustaka alias merangsang kami untuk gemar membaca. Sehingga, akhirnya tidak terbentuk pola pikir yang kreatif dan berpikiran terbuka (open-minded) dalam menyelesaikan masalah. Pengenalan pentingnya leadership (kepemimpinan) dan entrepreneurship (kewirausahaan) ? Di sekolah – sekolah swasta mungkin dua hal ini diselipkan. Akan tetapi, di sekolah negeri yang notabene untuk rakyat semua kalangan? Belum tentu.
Kita perlu berbenah. Sebagai lembaga negara yang memegang tongkat kekuasaan, Kementrian Pendidikan Nasional harus tahu diri. Kita tidak boleh mengabaikan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2012 yang menyatakan bahwa jumlah pengangguran secara nasional pada Februari 2012 mencapai 7,6 juta orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2012 sebesar 6,32 persen. (sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/203205 Selasa, 25 September 2012, 11.56 ). Alokasi dana APBN sebesar 20% jangan lagi digunakan untuk proyek yang tidak berdampak langsung terhadap kualitas peserta didik. Sistem perekrutan guru dan lulusan bergelar sarjana pendidikan wajib ditinjau ulang. Belajar dari negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, Finlandia, guru – guru disana merupakan lulusan dengan nilai yang menduduki peringkat 1 sampai 5. Dengan model evaluasi berupa esai tentu dibutuhkan kompetensi sumber daya manusia yang lebih mumpuni agar tulisan yang dibuat benar – benar dapat melihat sejauh mana pemahaman siswa.
Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan
Saya ingin merampingkan materi yang terlalu detil dan memotong jam sekolah yang memakan waktu lama supaya percik api antusiasme yang pernah saya rasakan juga hadir di setiap individu. Saya ingin sedari dini warisan budaya seperti batik, wayang, upacara sakral, kesenian daerah diperkenalkan di sekolah. Setidaknya jika ada yang mengklaim, kita tidak hanya berteriak saling menyalahkan tetapi nyatanya kita tidak meruwat budaya Indonesia.
Saya bermimpi profesi guru kembali kepada hakikatnya sebagai pendidik, bukan sekadar pengajar yang hanya mempersiapkan siswa untuk lulus ujian. Saya ingin nadi budaya baca – tulis dan rasa ingin tahu selalu berdenyut di pelosok pedesaan hingga jantung perkotaan. Saya tidak mau institusi modern mematikan potensi berpikir kritis anak – anak hanya karena tidak ada yang memicu kebiasaan berargumentasi di ruang kelas. Harapan saya pendidikan di tanah air tidak lagi menjadi ajang transfer ilmu yang menjadikan murid adalah cetak biru sang guru. Peserta didik harus mampu mentransformasi ilmu pengetahuan sehingga tujuan akhir pendidikan untuk mencetak generasi yang mampu menjawab tantangan zaman dapat tercapai. Reformasi kurikulum hanya dapat diwujudkan oleh orang nomor satu di jajaran aparatur Kementrian Pendidikan Nasional. Saya belum tahu bagaimana caranya mecuri atensi presiden agar kelak beliau bersedia mengamanahi saya posisi yang menjadi poros utama penyelenggaraan pendidikan formal oleh negara. Akan tetapi, paling tidak mulai dari hari ini saya telah menghimpun gagasan perubahan yang layak diperjuangkan.
Dengan titel Ibu Menteri, saya juga ingin mengajak masyarakat untuk menghapus citra ‗Anak IPA lebih pintar dari anak IPS‘. Nosi ‗Setiap Anak itu Unik‘ harus disebarluaskan. Kelebihan di bidang olahraga, musik, seni rupa, jangan lagi diremehkan. Orang tua harus diberi pencerahan bahwa nilai di atas kertas bukan ukuran absolut keberhasilan anaknya. Ujian Nasional digantikan oleh tugas akhir berupa proyek sosial atau karya ilmiah agar siswa menyadari bahwa kesuksesan yang nyata tidak mendewakan angka semata. Namun, berawal dari ketekunan dan kerja keras, bukan dari tak-tik menjawab soal pilihan ganda dengan tangkas. Imaji orang yang terpelajar dinilai berhasil karena pencapaiannya dalam bentuk materi; kaya raya, rumah dua, mobil merk ternama, harus pelan – pelan digeser menjadi imaji individu yang keberadaannya membawa manfaat sebanyak – sebanyaknya bagi sekitar.
Tidak ada Komentar Tempo Institute 14 Januari 2013
Naskah 30 Besar KEM 2012 Permalink
SURAT UNTUK ABDURRAHMAN WAHID ~ Dari Seorang Anak Kampung tentang Gejolak Tanah Kelahiran ~
oleh: FERRY RACHMADANI SAPUTRA - UNIVERSITAS GADJAH MADA
Ringkasan:
Madura sedang krisis. Tragedi 26 Agustus 2012 telah menunjukkan betapa tak mudahnya merawat toleransi dan keberagam(a)an. Darah tumpah di tanah Sampang. Di saat momen itu masih menyisakan pilu, terdengar sayup-sayup nama ―Gus Dur‖ ke permukaan. Gus Dur mulai dirindukan saat gejolak itu melibatkan sekelompok masyarakat yang mayoritas di antaranya adalah Nahdlatul Ulama. Dalam esai ini, seorang anak kampung dari Madura mengungkapkan kegelisahannya kepada Gus Dur secara imajiner. Surat ini memang tak berarti apa-apa untuk menyelesaikan kasus itu, tapi setidak-tidaknya ia mencerminkan satu hal: bahwa masih ada pemuda yang peduli pada negerinya, pada tanah kelahirannya, pemuda yang benar-benar ingin berikhtiar—meski tak seberapa—untuk suatu perubahan penting di masa mendatang.
Gus Dur, percakapan kita hari ini adalah percakapan dua hati yang berbeda. Kau adalah seorang pejuang, pemikir, pemimpin, yang setiap hari merenungkan kebersatuan negeri ini. Sedangkan aku bukanlah siapa-siapa. Aku bukanlah seorang pemikir sepertimu. Aku hanyalah seorang anak kampung yang ingin berbagi kegelisahanku melihat kondisi keberagaman kita hari ini. Maukah kau sejenak mendengarku, Gus? Aku ingin bercerita dalam sunyi.
Keberagaman hari ini terasa berbeda dengan keberagaman saat engkau masih hidup beberapa tahun lalu. Waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, ketika aku tahu namamu dari cerita orang-orang kampung. Mungkin kau perlu tahu, Gus, aku lahir di tanah Madura, tempat di mana Nahdlatul Ulama (NU) menjadi urat nadi kami. Dulu, ketika engkau masih hidup sehat, aku selalu melihat betapa orang-orang kampungku menaruh kagum padamu. Engkau menjadi panutan di saat mereka sedang rapuh. Kau layaknya ikon bagi sekian umatmu di sini. ***
Sekarang, Gus, situasi telah berubah. Jika kau hidup sekarang, semakin jarang kau temui masyarakat yang meniru jejak perjuanganmu. Entahlah, mungkin mereka terlampau merindukanmu, atau mereka tak lagi menemukan sosok lain penggantimu.
Di sana sini, pergolakan semakin marak di kampungku. Kami hidup di tengah-tengah masyarakat yang begitu sentimen pada perbedaan, masyarakat yang rentan dibakar emosi hanya karena persoalan ideologi. Di sini, Gus, kau menyaksikan betapa gagasanmu tentang toleransi ternyata masih menyisakan persoalan tersendiri.
Dan, hari ini, Gus, lebih dari seribu hari setelah engkau pergi, seharusnya kami bisa melihat kondisi keberagaman dengan lebih baik. Kondisi yang selalu engkau perjuangkan hingga di
sisa-sisa akhir hidupmu. Tapi, apa lacur, sepertinya kami harus memendam mimpi itu dalam-dalam.
***
Di sini, di Sampang, salah satu daerah di pulau Madura, angkara murka dan kesewenangan masih kuat merajalela. Padahal, di tempat ini, sebagaimana tempat-tempat lain di Madura, NU selalu menjadi bagian penting dalam diri mereka, menjadi benteng terakhir saat toleransi tak menemukan jalan keluarnya.
Tapi orang-orang tak hirau, Gus. Di Sampang hari ini, di wilayah yang katanya memiliki puluhan pesantren itu, ratusan orang dibunuh, puluhan dikucilkan, dan sekian ratus lainnya terluka. Mereka dibunuh karena mereka menolak mengakui sebuah ideologi yang berbeda dari ideologi masyarakat umumnya. Mereka dibunuh karena mereka berbeda.
Gus… kau tahu, siapa yang peduli pada mereka, pada orang-orang minoritas itu? Tidak ada. Tidak ada, Gus. Ada sekian banyak orang yang memberi rasa simpati, sekian ratus orang yang berbicara di forum-forum, tapi tak ada satupun dari mereka yang mampu menggerakkan emosi kita untuk benar-benar peduli pada mereka.
Aku sejujurnya tak tahu, Gus, apakah aku adalah epigonmu, ataukah aku terlampau merindukan sosokmu di tengah kecamuk perbedaan di negeri ini. Yang aku tahu, mereka, orang-orang itu, benar-benar mati, justru karena konflik ideologi yang engkau perangi selama ini.
Tapi, Gus, ingin kukabarkan kepadamu bahwa mereka telah banyak terbunuh oleh gerakan yang selama ini engkau pimpin, gerakan yang konon selalu memegang teguh toleransi dan keberagamaan: Nahdlatul Ulama. Ketika darah tumpah di Sampang, hatiku selalu bergemuruh: di manakah NU yang aku kenal waktu kecil?
Gus, aku memang pemuda NU. Aku lahir di keluarga dan lingkungan yang sepenuhnya menjunjung NU sebagai ideologi kami. Tapi, aku benar-benar kecewa, Gus. Sampai saat ini, NU seakan buta pada konflik yang jelas-jelas melibatkan nama mereka di sana.
Madura sedang krisis, Gus. Madura tak lagi menemukan sandaran figural saat tampuk kepemimpinan yang dulunya engkau pegang sedang berada di ‗entah siapa‘. Aku hanya khawatir, mereka, orang-orang awam yang hanya tahu peristiwa-peristiwa kekerasan semacam itu di stasiun televisi, akan semakin tak peduli pada NU, semakin apatis pada perbedaan, semakin meninggalkan namamu di belakang rumah-rumah mereka.
Gus, kau boleh saksikan sendiri. Tepat pada 14 September lalu, di Cirebon, Bogor, Nahdlatul Ulama berkumpul mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) demi cita-cita umat. Sayang, pada Munas itu, hanya kekecewaan yang aku rasakan. Aku kecewa bukan karena NU tak lagi
berbicara tentang negara dan masyarakat, bukan lantaran mereka tak membahas soal air, migrasi, investasi asing, dan sebagainya. Semua ini sudah mereka bahas panjang lebar dalam forum itu. Bukan. Bukan itu yang membuat aku kecewa, Gus. Aku kecewa karena tak satupun dari rekomendasi mereka menawarkan resolusi tegas tentang tragedi berdarah di Sampang. Mereka tak lagi hirau pada semangat inti yang justru engkau perjuangkan selama ini di NU. ***
Entahlah, semakin hari, aku semakin merasa (ingin) menjadi Indonesia daripada NU, daripada Madura. Madura tak seramah dahulu. Ideologiku juga tak (lagi) memberiku semangat, seperti semangat yang pernah aku miliki saat kau masih hidup dulu.
Dan, aku pun mulai sadar, justru karena Indonesialah, engkau mampu menjadikan NU hingga seperti sekarang ini. Engkau berjuang, bukan karena NU semata, tapi karena Indonesia, karena cita-cita kesatuan dan persatuan negeri ini. Gus, ajarkan kami tentang keindonesiaan itu, tentang semangat menghargai the others, melampaui identitas. Meski aku degil pada sejarah, aku masih mencintai negeri ini, negeri Indonesia.
Gus… aku tak tahu berapa banyak lagi yang akan terbunuh besok, di tempat yang sama, atau di kasus-kasus yang berbeda. Aku tak dapat menghitung berapa banyak lagi darah yang tumpah hanya demi sebuah nafsu dan perbedaan. Aku tak tahu lagi, dengan cara apa aku menyelamatkan mereka yang ketakutan dan terkucilkan. Aku tak tahu, dengan cara apa kami bisa mengusir semua konflik berdarah ini.
Yang aku tahu, Gus, besok kau tak akan lagi di atas sana. Engkau akan turun dari nirvana, menemui mereka yang sengsara, menasehati mereka yang semena-mena. Yang aku tahu, Gus, engkau akan mengayomi kembali mereka yang minoritas, mereka yang pernah menjadi korban perbedaan negeri ini.
Gus Dur… apakah kau mendengar kami di sana? Maukah kau mendengar kami?
Anak-anak muda masih membutuhkan semangatmu di sini, Gus, di tengah krisis yang menjadikan perbedaan sebagai ‗perjudian‘ di antara mereka.
Madura, 28 Agustus 2012 ***