Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup
Oleh: AGUSTINUS LONIS - Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur
Ringkasan
Berbagai macam persoalan mengenai lingkungan hidup merupakan suatu masalah bersama yang dihadapi oleh manusia. Manusia perlu menanggapinya dengan serius sambil mengusahakan suatu solusi yang terbaik. Oleh karena itu, hal-hal yang perlu dilakukan sebagai usaha melestarikan lingkungan hidup antara lain; upaya rekonsiliasi, perubahan konsep tentang alam dan penanaman budaya pelestari.
Permasalahan seputar lingkungan hidup selalu terdengar. Segala macam pemberitaan tentang kerusakan lingkungan hidup tidak lagi asing di pengamatan dan pendengaran kita. Peristiwa demi peristiwa terjadi tanpa kompromi. Kapan dan dimana akan terjadi, manusia hanya bisa mereka-reka. Dan melalui pemanfaatan kecanggihan teknologi yang ada, manusia hanya bisa menghindar dan menyelamatkan diri. Oleh karena itu, tak jarang keresahan dan kecemasan manusia akan suatu efek yang lebih besar, terus menerus membayangi hidup manusia. Dengan demikian, timbullah persepsi bahwa alam adalah musuh bagi manusia, sehingga tingkat kewaspadaan manusia pun semakin meningkat.
Kejadian demi kejadian yang dialami di dalam negeri ini telah memberi dampak yang sangat besar. Tidak sedikit kerugian yang dialami, termasuk nyawa manusia juga. Namun hal yang perlu dipertanyakan, apakah pengalaman tersebut sudah cukup menyadarkan manusia untuk melihat kesalahan dalam dirinya? Ataukah manusia justru merasa lebih nyaman dengan sikap menghindar dan menyelamatkan diri tanpa suatu pencarian solusi yang lebih baik dan lebih tepat lagi/
Menurut saya, ada beberapa usaha yang mestinya dilakukan oleh manusia dalam upaya pelestarian lingkungan hidup, yaitu upaya rekonsiliasi, perubahan konsep atau pemahaman tentang alam dan menanamkan budaya pelestari.
Upaya Rekonsiliasi
Kenyataan kerusakan lingkungan hidup dan efeknya terus berlangsung dan terjadi. Manusia cenderung untuk menangisi nasibnya. Lama-kelamaan tangisan terhadap nasib itu terlupakan dan dianggap sebagai hembusan angin yang berlalu. Bekas tangisan karena efek dari kerusakan lingkungan yang dialaminya hanya tinggal menjadi suatu memori untuk dikisahkan. Tapi perlu diingat bahwa tidaklah cukup jika manusia hanya sebatas menangisi nasibnya, tetapi pada kenyataannya tidak pernah sadar bahwa semua kejadian tersebut adalah hasil dari suatu perilaku dan tindakan yang patut diperbaiki dan diubah.
Setiap peristiwa dan kejadian alam sebagai akibat dari kerusakan lingkungan hidup merupakan suatu pertanda bahwa manusia mesti sadar dan berubah. Upaya rekonsiliasi menjadi suatu sumbangan positif yang perlu disadari. Tanpa sikap rekonsiliasi, maka kejadian-kejadian alam sebagai akibat kerusakan lingkungan hidup hanya akan menjadi langganan yang terus-menerus dituai.Lalu, usaha manusia untuk selalu menghindarkan diri dari akibat kerusakan lingkungan hidup tersebut hendaknya bukan dipahami sebagai suatu kenyamanan saja. Tetapi justru kesempatan itu menjadi titik tolak untuk memulai suatu
perubahan. Perubahan untuk dapat mencegah dan meminimalisir efek yang lebih besar. Jadi, sikap rekonsiliasi dari pihak manusia dapat memungkinkannya melakukan perubahan demi
kenyamanan di tengah-tengah lingkungan hidupnya.
Perubahan Konsep Manusia Tentang Alam
Salah satu paham yang mungkin menjadi akar permasalahan seputar kerusakan lingkungan hidup adalah terjadinya pergeseran konsep manusia tentang alam. Berbagai fakta kerusakan lingkungan hidup yang terjadi di dalam tanah air kita tidak lain adalah hasil dari suatu pergeseran pemahaman manusia tentang alam. Cara pandang tersebut melahirkan tindakan yang salah dan membahayakan. Misalnya, konsep tentang alam sebagai obyek. Konsep ini seolah-olah bahkan secara terang-terangan memberi indikasi bahwa manusia cenderung untuk mempergunakan alam semau gue. Dan tindakan dan perilaku manusia dalam mengeksplorasi alam terus terjadi, tanpa disertai suatu pertanggung jawaban bahwa alam perlu dijaga keutuhan dan kelestariannya.Oleh karena itu, tak jarang pula binatang-binatang yang seharusnya dilindungi pada akhirnya menjadi korban perburuan manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab. Pemabalakan liar yang terjadi pun tak dapat dibendung lagi. Pencemaran tanah dan air sudah menjadi lagu lama yang terus dinikmati. Dan permasalahan seputar polusi telah menjadi semacam udara segar yang terus dihirup manusia tanpa menyadari bahwa terdapat kandungan toksin yang membahayakan. Jadi, di sini alam merupakan obyek yang terus menerus dieksplorasi dan dipergunakan sejauh manusia membutuhkannya.Berhadapan dengan kenyatan demikian, maka menurut saya perlu suatu perubahan konsep yang baru. Konsep yang dimaksud adalah melihat alam sebagai subyek. Konsep alam sebagai subyek berarti manusia dalam mempergunakan alam membutuhkan kesadaran dan rasa tanggung jawab. Di sini tampak bahwa manusia dalam kesaksian hidupnya dapat menghargai dan mempergunakan alam secara efektif dan bijaksana. Misalnya, orang Papua memahami alam sebagai ibu yang memberi kehidupan. Artinya alam dilihat sebagai ibu yang daripadanya manusia dapat memperoleh kehidupan. Oleh karena itu, tindakan yang merusak lingkungan secara tidak langsung telah merusak kehidupan itu sendiri.
Membangun Budaya Pelestari
Kedua upaya melestarikan lingkungan hidup sebagaimana yang telah saya uraikan diatas akan dapat tercapai, jika manusia sungguh-sungguh berusaha membangun dan menanamkan suatu budaya pelestari. Dengan semangat budaya pelestari, manusia senantiasa mempertimbangan segi baik dan buruknya dalam mempergunakan hasil alam. Segi yang baik bahwa manusia bertindak selektif dan mengambil apa yang memang dibutuhkan tanpa bersikap boros.
Dengan demikian, manusia telah dengan sendirinya merasa sebagai bagian dari alam yang
mesti dijaga kelestariannya.
Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah menanamkan budaya pelestari tersebut kepada anak-anak sejak berada di bangku pendidikan. Misalnya pemberian porsi yang lebih kurang banyak tentang persoalan lingkungan hidup agar terbangunlah semangat kesadaran untuk menghargai dan menghormati lingkungan tempat tinggalnya. Tidak sebatas itu saja, tetapi perlu juga membiasakan anak-anak untuk terlibat dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup. Jadi, adanya perpaduan antara teori dan praktek.
Penanaman budaya pelestari yang dilakukan sejak dini merupakan suatu upaya yang sangat efektif dalam mengatasi persoalan kerusakan lingkungan hidup yang terjadi. Tentunya di sini membutuhkan partisipasi dan tanggung jawab orang tua dalam keluarga dan juga dalam seluruh proses pendidikannya di bangku sekolah. Dengan demikian, melalui pembiasaan yang dilakukan secara kontinyu tersebut generasi yang akan datang semakin menyadari akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Selanjutnya, proses penyadaran tersebut juga dapat dilakukan sebagai kebiasaan yang turut membentuk rasa tanggung jawab manusia dalam mempergunakan lingkungan hidup.
KEM AMI Kompetisi Esai 2011
Ekspansi Budaya: Lepas Landas Kebudayaan Indonesia
18-Aug-2011 oleh webmaster Tidak ada Komentar Posting didalam : Naskah, Tahun 2009
Oleh: Sidiq Maulana Muda, Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia. ―Annyong haseyo!‖
Beberapa tahun terakhir, telinga dan mata saya menjadi akrab dengan kata sapaan itu, yang kurang lebih berarti ―Hai, apa kabar!‖ dalam bahasa Korea. Banyak teman saya yang menggunakan kata itu sejak mereka menonton film-film drama Korea yang diputar di televisi. Selain itu banyak juga tambahan kosakata baru seperti ―Kamsahamnida,‖ (terima kasih), ―Sarang haeyo,‖ (I love you) dan sebagainya. Teman-teman saya (terutama yang perempuan) kerap sibuk membahas aktor-aktor drama Korea yang katanya lucu dan ganteng, menghafal lagu-lagu soundtrack-nya, bahkan ada pula yang keranjingan membahas semua hal yang berbau Korea mulai dari masakan, pakaian, bahasa, dan sebagainya.
Korea Selatan adalah salah satu pemain baru yang sukses memasok produk-produk budayanya di pasar global. Gelombang kebudayaan modern Korea atau yang sering disebut Hallyu sejak tahun 1990-an telah menyapu banyak negara di Asia dan kawasan lainnya. Di Indonesia sendiri, gelombang Hallyu mulai dirasakan sejak tahun 2000-an ketika film-film Korea banyak diputar di televisi nasional dan mendapat sambutan hangat dari para pemirsa. Sebelum diterjang oleh gelombang Korea, Indonesia juga sudah diterjang lebih dahulu oleh gelombang India, Jepang, Eropa, Latin, dan tentu saja Amerika. Maka berbagai respon pun bermunculan menanggapi terjangan budaya asing di negeri kita.
Selama ini, yang selalu diulang-ulang kepada kita adalah seruan untuk waspada terhadap globalisasi dan ekspansi budaya global. ―Hati-hati terhadap bahaya westernisasi!‖, ―Lindungi generasi muda dari pengaruh buruk budaya asing!‖. Seruan semacam itu pada dasarnya tidak salah, karena merupakan suatu usaha untuk mempertahankan budaya dan identitas kita. Sosiolog Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa ciri-ciri bangsa yang kalah adalah terjadinya imitasi massal terhadap cara hidup bangsa pemenang seperti dalam model pakaian, kendaraan, gaya arsitektur, jenis makanan, bahasa, hingga pemikiran dan adat kebiasaan. Ciri-ciri itu sangat relevan dengan negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia saat ini yang terkatung-katung dalam peta kebudayaan global. Ya, kita sedang kalah. Tapi resistensi dan sikap-sikap defensif yang cenderung menutup diri juga tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, karena suka atau tidak suka globalisasi telah sampai di rumah-rumah kita. Ketakutan yang berlebihan
terhadap ekspansi budaya global hanya makin menunjukkan bahwa kita bangsa yang inferior, yang selalu menjadi objek paparan budaya asing tanpa mampu berbuat apa pun. Maka strategi bertahan yang paling tepat adalah dengan menjadi bagian yang signifikan dari arus globalisasi itu sendiri.
Merancang Gelombang Budaya Indonesia
Globalisasi budaya identik dengan budaya pop dan postmodernisme yang bersifat fleksibel dan berubah-ubah. Budaya pop awalnya merupakan hegemoni budaya Barat (terutama Amerika), ditandai dengan merebaknya gaya hidup Amerika melalui industri budayanya seperti musik, olahraga, fastfood, mode pakaian, dan film-film Amerika di seluruh dunia. Namun kondisi ini pun tidak selalu statis. Sesuai sifatnya yang fleksibel dan berubah-ubah, budaya pop menjadi sangat terbuka untuk diisi oleh budaya mana pun. Globalisasi budaya memungkinkan dibukanya kelas-kelas yoga di New York dan restoran sushi di Kuwait. Peran media massa dalam menyebarkan informasi menjadikan proses ini makin cepat, dengan persinggungan antar budaya yang mengalir deras melahirkan variasi kebudayaan yang sangat beragam. Saya memakai baju koko dan celana jeans, duduk di kantin memesan sepiring nasi Hainan, sambil membaca komik Doraemon, sesekali meng-update status facebook serta mendengarkan lagu ST12 yang disetel ibu kantin. Terus terang saat ini saya tak mampu berbuat banyak selain berusaha menikmatinya. Dalam situasi seperti ini, pilihannya hanya mempengaruhi dan dipengaruhi. Jika kita tidak mampu menghindar dari pengaruh, mengapa kita tidak ikut memberi pengaruh? Karena itu, sudah saatnya kita bersikap serius untuk terjun dalam globalisasi budaya dan turut membawa kebudayaan kita kepada dunia.
Yang harus kita tentukan mula-mula ialah definisi kebudayaan kita sendiri. Apa itu budaya Indonesia? Batik, angklung, wayang, mandau, tari saman, gotong royong, paguyuban, nagari, apa pun itu, daftarkan satu per satu baik budaya tradisi maupun kontemporer, baik budaya kongkrit maupun abstrak. Sebelum mulai menyebarkan budaya, kita perlu mengenali dulu budaya kita. Ini penting terutama ketika kita berurusan dengan masalah hak cipta, kekayaan intelektual dan kekayaan budaya. Budayawan Jepang Yamada Shoji mengatakan bahwa ada dua hal yang bertentangan dalam budaya yakni perilaku ‗memiliki‘ sekaligus ‗menyebarkan‘. Paradoks ini kita temui tatkala terjadi saling klaim atas suatu budaya seperti yang kita alami akhir-akhir ini dengan Malaysia. Ini menjadi satu kesulitan tersendiri, karena di satu sisi kita semestinya bangga terhadap luasnya penyebaran budaya kita, tapi di sisi lain kita merasa hak milik kita dirampas. Kebudayaan Indonesia pun nyatanya sangat banyak yang merupakan pengaruh kebudayaan asing. Apakah salah jika kita mengikutsertakan barongsai dan potehi dalam festival budaya Indonesia? Saya juga tak ingin rakyat India mendemo kita karena
memainkan lakon-lakon Ramayana. Maka inventarisasi terhadap aset-aset kebudayaan kita penting untuk dilakukan, namun dengan tetap meniscayakan asimilasi dan akulturasi. Berbagai UU Perlindungan Budaya yang telah ada selayaknya dimaksimalkan.
Setelah memegang daftar inventaris budaya Indonesia, maka berikutnya kita perlu menggegas industrialisasi budaya. Hanya dengan memberikan nilai ekonomi yang tinggi, maka kebudayaan kita akan memiliki daya jual yang meningkatkan daya saing dan kemampuan survivalnya, memberi imbas positif bagi kesejahteraan masyarakat serta menjadi jalan menuju ekspansi budaya besar-besaran. Bagaimana industrialisasi budaya mendorong ekspansi budaya? Hal ini terjadi karena industri membutuhkan pasar yang besar, dan pasar dari industri budaya adalah orang-orang yang berminat terhadap budaya tersebut. Maka kesuksesan industri budaya berbanding lurus dengan kesuksesan ekspansi budaya. Setiap kali industri tersebut melakukan ekspansi pasar, maka ia juga telah melakukan ekspansi budaya. Ada pun ekspansi budaya membutuhkan produk-produk yang agresif, yaitu produk-produk berorientasi ekspor yang mampu membawa nama Indonesia ke seluruh dunia.
Dalam proses ekspansi budaya ini, kita pun memerlukan metode penyebaran yang tepat. Meski pun kita telah melakukan industrialisasi batik, namun permintaan batik di luar negeri tidak akan serta merta melonjak karena pasar harus tertarik lebih dulu dengan produk batik. Lalu bagaimana kita akan mempromosikan begitu banyak budaya kita kepada pasar luar negeri? Bahkan untuk memperkenalkannya saja sudah sulit. Menurut Turner (1984), budaya pop dan media massa memiliki hubungan simbiotik di mana keduanya saling tergantung dalam sebuah kolaborasi yang sangat kuat. Kepopuleran suatu budaya sangat bergantung pada seberapa jauh media massa gencar mengkampanyekannya. Begitu pula media massa hidup dengan cara mengekspos budaya-budaya yang sedang dan akan populer. Maka kita harus memprioritaskan terlebih dahulu produk-produk budaya yang berkaitan dengan komunikasi massa. Saya memilih industri film sebagai langkah awal ekspansi budaya secara serius. Film yang saya maksud meliputi film layar lebar dan sinetron di televisi. Format audio visual memungkinkan film untuk menarik perhatian lebih besar, menjadikannya efektif dalam komunikasi massa. Alur cerita akan memudahkan para penonton untuk menangkap maksud film dengan cara yang menyenangkan, sementara film juga mudah disisipi pesan-pesan sampingan yang tidak begitu disadari seperti iklan dan propaganda.
Film merupakan whole package karena mampu mengakomodasi unsur-unsur budaya lain seperti bahasa, musik, pakaian, adat, kebiasaan, nilai-nilai dan lain sebagainya. Misalnya suatu film Indonesia akan menampilkan keseharian masyarakat Indonesia, para pemerannya berdialog dengan bahasa Indonesia, menyantap masakan Indonesia, memamerkan alam dan
budaya Indonesia, dan sebagainya. Bagi negara-negara yang sama sekali asing dengan Indonesia, film akan menjadi ajang perkenalan sekaligus promosi budaya. Sedangkan perbedaan bahasa dapat diatasi dengan subtitle dan dubbing. Tugas dari film-film ini adalah untuk menjadi sepopuler mungkin di negara-negara tujuan, karena budaya pop menjanjikan suatu kelas fanatik yang sangat setia yaitu fans. Selain sebagai konsumen utama produk-produk budaya kita, mereka lah yang juga kita harapkan akan mampu menjadi agen budaya kita di samping media massa seperti televisi, majalah, dan internet. Saya ingin mengambil contoh, di kampus saya terdapat sebuah klub yang membahas semua hal tentang Jepang. Mereka awalnya adalah fans dari satu atau beberapa produk budaya Jepang seperti komik, anime, dan J-dorama. Setiap bulan mereka mengadakan kegiatan membahas bagian tertentu dari budaya Jepang seperti festivalnya, masakannya, permainannya, sampai hantunya. Dan tentu saja mereka tidak dibayar oleh pemerintah Jepang untuk melakukan semua itu. Maka potensi fans sangat besar bagi ekspansi budaya, tergantung dari seberapa besar produk budaya yang digandrunginya kemudian mengarahkannya pada produk lain.
Film sebagai perintis ekspansi memiliki efek domino yang besar karena kesuksesannya akan membuka peluang bagi kesuksesan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya. Industri perfilman Indonesia yang tengah bangkit saat ini dapat diandalkan untuk memimpin ekspansi budaya kita ke manca negara. Jika ekspor film-film Indonesia sukses di negara-negara tujuan, maka hal itu diharapkan akan membuka pintu bagi pemasaran produk-produk budaya lainnya. Pemerintah dituntut aktif untuk mengawal, melindungi, serta menggunakan lobinya untuk memuluskan jalan bagi produk-produk budaya kita di negara lain. Target ekspor budaya kita diharapkan mampu menjangkau kawasan Asia, Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, hingga dunia Barat.
Apabila produk-produk budaya kita yang dipelopori oleh perfilman telah berhasil meraih pasar dan menumbuhkan minat terhadap budaya Indonesia di manca negara, maka tugas berikutnya adalah memelihara dan mengembangkan minat itu dari sebuah infiltrasi menjadi suatu gelombang budaya Indonesia yang deras. Pada tahap ini, produk-produk budaya lainnya seperti musik, literatur, hingga fashion akan berperan penting untuk menarik dan mengikat minat budaya itu lebih jauh dan lebih kokoh lagi. Jika kelompok-kelompok fans telah terbentuk di manca negara, maka para selebriti Indonesia akan meraih momentumnya untuk go international. Trend-trend yang berlaku di Indonesia akan turut digandrungi pula di negara-negara yang telah menerima ekspansi budaya kita. Ini bisa diiringi pula dengan masuknya produk-produk lain seperti beragam manufaktur yang membawa nama dan gaya
hidup Indonesia. Selangkah demi selangkah, kita menuju hegemoni budaya Indonesia. Dan jika saatnya tiba, kita boleh tersenyum melihat budaya Indonesia berkibar di mana-mana.
Sejumlah PR
Industrialisasi budaya merupakan sebuah pilihan yang dilematis. Sifat industri yang cenderung berorientasi pasar dikhawatirkan justru akan menurunkan kualitas budaya, karena menyerahkannya pada selera pasar yang belum tentu bermutu. Hal ini bisa kita saksikan misalnya pada dunia sinetron kita yang sangat memprihatinkan. Tayangan yang sifatnya membodohi bahkan merusak seperti ini memang meresahkan. Oleh karena itu, pemerintah harus campur tangan dengan mengontrol kualitas produk-produk budaya sebagai bentuk tanggung jawab sosial budaya sekaligus strategi pencitraan Indonesia di mata dunia. Produk-produk budaya yang berorientasi ekspor akan membawa misi budaya kita ke seluruh dunia, sehingga patut diberi perhatian. Jangan sampai sinetron dan film-film sampah bisa lolos ekspor. Sebagai konsekuensi dari peningkatan kualitas produk, maka pemerintah pun wajib
mengeluarkan kebijakan yang memudahkan sektor industri budaya kita. Beban pajak yang tinggi yang selama ini dikenakan kepada produk dan aktivitas kebudayaan harus dikurangi, atau pengalokasiannya ditujukan secara jelas bagi perkembangan budaya itu sendiri. Selain itu, pemerintah juga dapat memberlakukan subsidi silang dengan menggunakan pajak-pajak dari sektor budaya pop untuk membiayai keberlangsungan higher culture. Kita semua sangat menanti dukungan dan peran aktif pemerintah.
Kemudian ada hal-hal yang masih mengganjal bagi saya mengenai kebudayaan kita ini. Sementara kita membicarakan ekspansi budaya, ada ketimpangan yang sangat nyata dalam perkembangan kebudayaan kita selama beberapa dekade terakhir. Kebijakan sentralisasi yang dulu diterapkan telah menjadikan Jakarta sebagai satu-satunya episentrum kebudayaan di Indonesia yang memberi pengaruh langsung ke seluruh negeri. Katakan, apa itu film nasional? Apa itu artis nasional? Apa itu koran nasional? Apa itu televisi nasional? Bohong, yang ada hanya lah film-film dan artis-artis Jakarta. Koran-koran dan televisi-televisi Jakarta. Apa itu Monas? Monumen nasional? Bohong, itu monumen yang ada di emblem Pemda DKI Jakarta.
Mungkin kita perlu mengingat kembali apa itu kebudayaan nasional. Dalam penjelasan pasal 32 Undang-Undang Dasar 1945 diterangkan bahwa, Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya, persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.
Para penyusun undang-undang ini sadar bahwa masyarakat kita sejak dulu telah memiliki banyak puncak kebudayaan, bukan hanya satu. Konsep kebangsaan kita unik karena memayungi ratusan suku, bangsa, budaya, dan bahasa yang berbeda ke dalam satu identitas baru yaitu Indonesia. Harus diakui, konsep kebangsaan kita memang didefinisikan oleh penjajah. Itu menjelaskan mengapa masyarakat Riau harus berbeda bangsa dengan masyarakat Johor meski mereka berbagi budaya yang sama di masa lalu. Juga mengapa masyarakat Timor Timur dan Timor Barat harus berbeda bangsa meski sesama anak Timor. Juga putra-putri Dayak, Papua, dan lainnya yang terbelah oleh batas-batas teritorial yang dulu dibuat para penjajah dan kini diwariskan dalam bentuk negara-negara bangsa (nation-states) modern seperti yang kita kenal saat ini.
Oleh karena itu, nasionalisme yang kita miliki sepatutnya dipahami secara bijak. Bahwa bangsa Indonesia terdiri dari bangsa-bangsa yang berbeda, yang dulu memutuskan untuk bersatu karena kesamaan nasib di bawah penjajah yang sama. Dan karena nasionalisme kita bertujuan memerdekakan seluruh negeri dari penjajahan, maka sangat tidak pantas jika Republik Indonesia dijadikan alat penjajahan baru. Bentuk negara kesatuan tidak boleh dijadikan alasan untuk mematikan keragaman identitas bangsa-bangsa yang kini bernaung dalam rumah Indonesia.
Era reformasi saat ini menjadi tantangan bagi masyarakat Indonesia untuk mematahkan dominasi pusat terhadap kebudayaan nasional. Dalam semangat desentralisasi saat ini, saya sangat berhadap di masa depan nanti perkembangan kebudayaan nasional kita akan berlangsung lebih adil. Kita butuh lebih banyak lagi pusat-pusat kebudayaan di seluruh Indonesia, bukan hanya di Jakarta. Beberapa waktu lalu, saya mendengar berita tentang peresmian Trans Studio di Makassar. Terlepas dari sejumlah kritik mengenai efek-efek negatif yang ditimbulkannya, saya cukup salut karena pembangunan pusat hiburan sebesar itu merupakan suatu bentuk keberanian untuk berpaling dari Jakarta. Perkembangan kebudayaan nasional secara dinamis yang didorong oleh desentralisasi akan menghadirkan wajah kebudayaan Indonesia yang lebih integratif dan representatif. Dan apabila putra-putri Indonesia telah mampu untuk berdiri lebih setara dari Sabang sampai Merauke, maka kita akan lebih mudah bersatu untuk melebarkan sayap kebudayaan kita ke manca negara.
Referensi
Ibn Khaldun, Franz Rosenthal, N. J. Dawood (1967), The Muqaddimah: An Introduction To History, Princeton University Press
http://www.nichibun.ac.jp/research/team_archive/archive20_e.html#e
Turner, Kathleen J (1984) Mass Media and Popular Culture, Chicago: Science Research Associates
BIODATA
Nama: Sidiq Maulana Muda TTL: Jakarta, 12 Januari 1989
Pendidikan: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Alamat: Komplek POLRI Munjul no. 258 Cipayung Jakarta Timur No. Telp: 021-8445916
―Pemimpin dan Budi Pekerti‖
Oleh: VINISA NURUL AISYAH - UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Rangkuman :
Pemimpin kampus sebagai pemegang kekuasaan memiliki hobi unik. Penghakiman budi pekerti. Budi pekerti dijadikan alasan demi kesewenang-wenangan atas kuasa yang dimiliki. Pemimpin institusi pendidikan yang memberi contoh menjawab dengan logis dan tanggung jawab selalu diabaikan. Mengapa pemimpin tak pernah mau mengakui kesalahan demi sebuah perbaikan?
————-
―Mba, Mba‘nya itu berjilbab. Jadi harus jujur dan nggak boleh su‘udzon dengan pihak fakultas,‖ kata Pembantu Dekan I Fisip Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) periode 2009 lalu. Kata-kata itu terlontar saat saya mempertanyakan pungutan uang sumbangan dari fakultas kepada mahasiswa baru yang dilakukan tanpa ada legalitas dan sepengetahuan rektorat. Bukannya mempertanggungjawabkan pungutan tersebut dengan jelas dan logis, malah menghukum moral dan budi pekerti saya di ruang dekanat.
Tiga tahun berlalu, budi pekerti masih menjadi kilahan yang laris manis digunakan oleh birokrat kampus. Kali ini terjadi di Fakultas Peternakan saat audiansi tentang adanya pungutan untuk syarat wisuda mahasiswa angkatan 2008 bulan ramadhan tahun ini.
Saat ditanya legalitas penarikan, jawaban soal budi pekerti pun terlontar kembali. ―Penarikan ini sebenarnya untuk membuktikan bagaimana moral dan kejujuran adek-adek mahasiswa kepada orang tua. Apalagi kan ini sedang bulan ramadhan,‖ ujar Dekan Fakultas Peternakan. Kasus ini dilatarbelakangi mahasiswa yang keberatan membayar uang pungutan sebagai syarat wisuda. Pasalnya, mahasiswa bersikeras pungutan tersebut ilegal, tak ada payung hukumnya dan tak tahu kemana larinya uang-uang hasil pungutan itu. Bahkan pihak rektorat sudah melarang pungutan liar bagi mahasiswanya.
Awalnya penarikan diwajibkan, namun ketika sudah mencapai tahap audiensi mereka justru melemparkan pernyataan-pernyataan justifikasi budi pekerti. Logika ―siapa yang tak mau membayar, maka berbudi pekerti jelek‖ dilontarkan. Kemudian logika, ―Birokrasi dengan budi pekerti macam apa yang terus menarik pungutan paksa untuk mahasiswa?‖ muncul dan hasilnya, tak seorang pun mahasiswa membayar pungutan liar tersebut.
Seolah kehabisan alasan, berkali-kali budi pekerti menjadi pemanis kesewang-wenangan bagi orang yang yang memiliki kuasa. Bahkan di dalam instiutsi pendidikan. Benarlah apa yang dikatakan Goenawan Mohamad dalam catatan pinggirnya, ―Budi pekerti dalam pergulatan kekuasaan, akhirnya berfungsi sebagai bedak dan gincu‖.
Moral dan budi pekerti digunakan untuk menutupi kesewenang-wenangan. Seringkali mahasiswa terkecoh kemudian tenggelam pada refleksi moral diri sendiri. Kesewenang-wenangan pun terlupakan.
Bukankah sangat memalukan, atas nama budi pekerti dan kuasa, kesewenang-wenangan terus terjadi? Sedang orang-orang dibawahnya? Hanya mampu menggeram karena tak digubris, sisanya terkecoh.
Seolah tak malu dengan status lembaga pendidikan tinggi. Di dalam kelas kita selalu dituntut untuk menjawab pertanyaan dosen dengan logis, sesuai dengan kapasitas sebagai seorang
intelektual muda. Namun di luar kegiatan belajar mengajar, kita terus dicekoki dengan jawaban yang tak logis.
Birokrasi-birokrasi busuk terus mengoyak kehidupan kampus kecil di lereng gunung Slamet ini. Mereka menciderai status pelayan mahasiswa dalam memperoleh pendidikan, yang pada akhirnya mengkhianati niat baik dibangunnya institusi pendidikan tinggi.
Bahkan terang-terangan, dalam sebuah buletin LPM Solidaritas, pers mahasiswa di Fisip Unosed, Pembantu Rektor II menyatakan mahasiswa adalah bisnisnya Unsoed. Mahasiswa direndahkan statusnya, bukan sebagai manusia yang mengidamkan sebuah pencerahan dari gudnag ilmu pengetahuan. Mereka memandang mahasiswa sebagai mangsa empuk yang harus dikuras dompetnya demi menumpuk kekayaan universitas.
Tak pernah belajar dari sejarah, hal tersebut bukan satu atau dua kali namun sering layaknya sebuah rutinitas. Pantas jika jalan yang mereka tempuh gelap tanpa cahaya pembelajaran dari sejarah.
Tak heran, yang terjadi kini adalah ketidakpercayaan pada birokrasi. Mosi tidak percaya karena pengkhianatan dan kesewenang-wenangan terus dilakukan. Seiring dengan hal tersebut, mahasiswa yang mengkritisi dan mencecar kebijakan akan disebut mahasiswa berbudi pekerti buruk. Hanya karena berjilbab dan menanyakan pertanggungjawaban penarikan ―haram‖ yang terjadi, atau karena segan membayar pungutan dengan akal-akalan syarat wisuda yang entah-kebijakan-siapa.
Kasus demi kasus seolah ingin mengatakan sudah hilangnya pemimpin kampus yang memiliki tanggung jawab pada peserta didiknya. Tak heran jika menular pada struktur birokrasi yang ada di bawahnya.
Birokrasi yang melayani bagian akademik dan kemahasiswaan di tingkatan fakultas seringkali menarik pungutan tak jelas. Seribu rupiah untuk selembar ijazah yang sudah dilegalisir. Tiga ribu rupiah untuk pengambilan raport per semester. Jika dikritik, mereka hanya melempar pada struktur yang lebih tinggi tanpa jawaban yang pasti.
Masyarakat kampus (mahasiswa) sudah tak kaget lagi jika kata-kata pemimpin tak sejalan dengan kebijakan dan tindakan mereka. Kekecewaan dan kemuakan ini mungkin tersampaikan juga lewat sebuah karya, lagu berjudul ―Mosi Tidak Percaya‖ milik Band Efek Rumah Kaca. Ini masalah kuasa, alibimu berharga. Kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa? Kau tak berubah, selalu mencari celah. Lalu smakin parah, tak ada jalan tengah, Jelas kalau kami marah, kamu dipercaya susah, pantas kalau kami resah, sebab argumenmu payah!
Apa yang harus kita pelajari dari sebuah institusi pendidikan dengan pemimpin yang mengkambinghitamkan moral? Kita hanya akan belajar bagaimana menjadi Indonesia yang lemah.
Menjadi Indonesia yang kuat tak membutuhkan pemimpin yang pandai berkilah atas kesalahan dan tak mengenal perbaikan. Pemimpin Indonesia adalah sejalan dengan apa yang dikatakan Goenawan Mohamad, menjadi manusia yang bersiap memperbaiki keadaan, tetapi bersiap pula untuk melihat bahwa perbaikan itu tidak akan pernah sempurna dan ikhtiar itu tidak pernah selesai.
1 Komentar Tempo Institute 15 Januari 2013
Naskah 30 Besar KEM 2012 Permalink
Merajut Cita Bangsa di Balai Kambang
Oleh: DEWI MAGHFIROH - UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
Ringkasan
Pendidikan masih menjadi sesuatu yang prestisius. Konsep standarisasi internasional santer diperdebatkan. Sementara, pendidikan toh tak dapat menjawab persoalan bangsa. Begitu pula dengan sistem pendidikan yang secara tidak langsung mengarah pada academic orientad. Tanpa diimbangi dengan penanaman nilai-nilai. Pengajar pun seolah menutup mata, dan hanya sebatas melaksanakan tugas. Maka dari itu, pendidikan Indonesia memerlukan terobosan-terobosan untuk mencapai cita bangsa yang termaktub dalam Undang-undang. salah satunya pendidikan di Balai Kambang. Di tempat tersebut memadukan antara ilmu agama, pendidikan formal, dan ketrampilan. Siswa tak lagi dituntut hanya pada satu sisi yaitu akdemik. Namun, ketulusan untuk tercapainya sebuah ilmu dan membentuk moral pelajar. Membangun sikap kesopanan, kedisiplinan, dan kreativitas.
————————-
Bergelimang manusia tumpah ruah di pojok pendidikan. Iming-iming bilingual, standart international masih menjadi dambaan. Khususnya untuk mereka yang berstatus anak penggede. Namun, sebagai masyarakat kecil yang hanya mampu menyusur mulut dengan sirih seadanya, pendidikan bukan pada statusnya namun lebih pada esensi. Koceh-koceh mulut petinggi yang selalu membumbung menyoal pendidikan, toh akhirnya berujung bisnis.
Tumpulnya orang yang berpendidik tanpa bermoral menjadikan semakin merosotnya kualitas manusia. Tak ada yang patut dipercaya kecuali menemukan jalan sendiri. Cita pendidikan di negeri ini yang termaktub dalam undang-undang pun mulai pudar. Mencoba bangkit merangkai serpih-serpih yang telah berserakan. Sebuah terobosan untuk merajut cita pendidikan kembali, yakni sistem pendidikan yang menggabungkan antara ilmu agama dan pendidikan formal.
Pendidikan masih menjadi idaman setiap rakyat. Orang tua menginginkan pendidikan tinggi kepada anaknya. Secercah harapan pun terbesit ―anakku harus menjadi orang yang sukses tak seperti orangtuanya‖. Tetes-tetes keringat dibiarkan bercucuran untuk beberapa lembar uang lusuh, kumal.
Terik mentari menjelang, masyarakat Desa sekitar tempat tinggal saya sudah siap di peraduan nasib. Kehidupan yang bisa dikatakan jauh dari kemewahan. Keliling dari desa ke desa dengan memanggul dagangan, di perempatan jalan mengatur lalu lalang kendaraan tanpa embel-embel pangkat dan hanya mengharap receh dari tangan-tangan tulus pengemudi. Bergumul dengan debu menjadi suatu keharusan. Mereka lakukan setiap hari hingga mentari terbenam. Semua itu tak ada yang lain demi pendidikan seorang anak.
Sejauh ini pendidikan Indonesia belum bisa sepenuhnya mencetak generasi-generasi yang berbudi luhur dan berpemikiran luas. Sepak terjang yang selalu menekankan pada akedemik menjerumuskan pendidikan pada kegelapan. Angka menjadi tuhan tersendiri bagi pelajar. Pemuja nilai. Betapa tidak, pengajar selalu menekankan pada anak didiknya untuk mempunyai nilai tinggi dan lulus cepat. Tanpa memberikan pemahaman bagaimana proses untuk mendapatkan sebuah nilai dan kelayakan untuk meninggalkan bangku pendidikan. Alhasil pragmatisme yang dipahami pelajar. Instan lebih dipilih daripada harus bergeliat dari nol hingga mencapai sebuah asa. Euforia pendidikan pun seakan diamini semua lapisan. Imbas kondisi pendidikan yang seperti itu menjadikan generasi kini bermental nglokro. Yang ujung-ujungnya materi yang dikejar. Pendidikan tanpa didasari moral yang selaras. Sebagai buktinya banyak koruptor yang berada di kerangkeng penjara, jauh lebih banyak lagi yang masih berkeliaran melenggang kesana kemari. Oh, ternyata memang sistem pendidikan kita ini ada yang salah. Mencetak yang berpendidik tanpa bermoral. Padahal moral jauh lebih penting untuk menata kepribadian. Kesadaran setiap manusia tak akan terlahir tanpa kepribadian yang bermoral. Sehingga jika setiap orang mempunyai moral yang baik, kualitas hidup bermasyarakat dan bernegara pun akan baik pula.
Balai Kambang mengingatkan saya pada pendidikan yang sebenarnya. Berdiri di desa kecil di Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara. Namun siswa datang dari berbagai daerah dan kalangan. Balai kambang didirikan atas keprihatinan seorang kakak beradik terkait pendidikan Indonesia yang semakin menapaki jurang kegelapan. Awalnya kakak-beradik tersebut menginginkan putra-putrinya mendapatkan pendidikan yang layak. Begitu pula kondisi di sekitar yang masih asing dengan bangkau sekolah. Kemudian mempunyai niatan untuk mewadahi mereka agar dapat mengenyam pendidikan. Pendidikan yang menggabungkan antara ilmu agama dan sekolah formal. Mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau Sekolah Dasar, Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau Sekolah Menengah Pertama, Madrasah Aliyah (MA) atau Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Mereka diwajibkan untuk tinggal di asrama. Di sana diajarkan kemandirian dan kreativitas.
Sebuah terobosan pendidikan di tengah konsepan sekolah yang masih grambyangan tanpa arah yang jelas. Pengajaran di Balai Kambang menekankan pada ketulusan untuk tercapainya sebuah ilmu dan membentuk moral pelajar. Tak hanya melulu mengkaji ilmu agama, namun juga ilmu sains. Di tengah tuntutan jaman yang serba modern dan canggih Balai Kambang menyesuaikan dengan perubahan jaman. Namun, tetap tanpa melupakan esensi agama. Jika setiap orang memahami akan agama masing-masing secara luas dan mengindahkan fanatisme, kehidupan akan selaras.
Pelatihan-pelatihan ketrampilan juga semakin diberlakukan. Seperti, menjahit, merajut, otomotif, berdagang, dan kerajinan tangan. Diungkap pengasuh yayasan, harapan mandiri setelah lulus juga sangat diperhatikan pengajar. Mereka dibekali pengetahuan lebih setidaknya untuk pegangan diri sendiri lebih-lebih orang disekitarnya.
Dalam pendidikan formal biasa, seorang guru diyakini menjadi orang yang bisa digugu lan ditiru siswa. Kenyataannya, mereka hanya menjadi pengajar. Berbeda dengan di Balai Kambang. Pengajar selain menjadi pengajar, juga menjadi pamong, pengasuh, dan pendidik. Merajut Cita
Isu miring pendidikan Indonesia tak menjadikan semakin terpuruk. Tamparan tersebut sebagai introspeksi semua elemen. Baik sang pemangku kebijakan pendidikan dan rakyat biasa. Cita pendidikan yang telah menjadi serpih-serpih daun kering yang siap diguncang angin mulai terkumpul kembali. Banyak jalan untuk menuju Roma, begitu pula banyak jalan menuju gerbang kemajuan pendidikan. Pendidikan tak hanya dari satu sisi yakni, pemerintah. Kita dapat menjadi berpendidik dan bermoral dari manapun arahnya.
Balai Kambang menjadi salah satu terobosan pendidikan di Indonesia. Rakyat Indonesia harus yakin akan pendidikan. Pendidikan bukan sebagai penentu kursi kekuasaan. Namun, melalui pendidikan sebagai bekal ilmu untuk mengembangkan keahlian.
Cita yang terwujud tak selamanya harus ditempuh di jenjang yang eksklusif. Lebih-lebih dengan biaya yang mahal. Bukan apa dan siapa yang dapat menentukan cita kita. Namun, kita sendiri yang harus begerak. Jika setiap cita kecil selalu dirajut maka akan menjadikan kekuatan besar. Kekuatan negara akan terbentuk dari generasi yang mau peduli dengan kondisi negaranya.
Tidak ada Komentar Tempo Institute 15 Januari 2013
Naskah 30 Besar KEM 2012 Permalink
Tradisi Lisan : Aktualisasi, Eksistensi, dan Transformasi Hasil Budaya Masa Lampau Oleh: SITI RAHMANA - UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Ringkasan :
Indonesia memiliki keanekaragaman budaya. Budaya-budaya yang tersebar di Indonesia adalah hasil kecerdasan masyarakatnya, baik itu adat istiadat, bahasa, kepercayaan, juga tradisi. Tradisi sebagai bagian dari budaya nusantara sudah seharusnya dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat selaku pemiliknya, termasuk tradisi lisan (penuturan). Tradisi lisan mengandung banyak nilai positif yang dapat diterapkan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. Karena pada hakikatnya, tradisi lisan hadir di tengah-tengah masyarakat tradisional yang begitu menjaga dan memilihara Indonesia dari berbagai aspek kehidupan. Hal ini terkait dengan adanya pesan moral, kepercayaan, norma yang dipatuhi masyarakat demi keteraturan sistem sosial, serta nilai pendidikan yang dapat dijumpai di dalam tradisi lisan.
—————
Sebagai hasil budaya masa lampau yang ikut membentuk peradaban nusantara, eksistensi tradisi lisan belakangan ini mulai dipertanyakan. Keberadaan tradisi lisan dewasa ini memberikan saya pemahaman untuk mengkaji lebih lanjut mengenai pencitraan kuno terhadap tradisi lisan oleh sebagian besar masyarakat modern Indonesia, juga dalam hal keterbatasan pewarisan tradisi lisan, serta permasalahan mengenai nilai kebenaran pada tradisi
lisan terkait dengan aspek ilmu pengetahuan. Untuk menjawab persoalan tersebut, ada beberapa gagasan yang dihadirkan. Diantaranya dengan pengaktualisasian tradisi lisan yang dikemas dalam seni pertunjukan agat lebih memungkinkan untuk dikonsumsi publik tanpa meninggalkan nilai-nilai yang tersirat di dalamnya, selain itu juga menciptakan ―formula baru‖ dengan membuka studi khusus tradisi lisan di perguruan tinggi maupun menjadikannya sebagai ekstrakulikuler di sekolah, serta menggunakan tradisi lisan sebagai sumber pengetahuan melalui ―pendekatan historis‖.
Indonesia memiliki keanekaragaman budaya. Budaya-budaya yang tersebar di Indonesia adalah hasil kecerdasan masyarakatnya, baik itu adat istiadat, bahasa, kepercayaan, juga tradisi. Tradisi sebagai bagian dari budaya nusantara sudah seharusnya dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat selaku pemiliknya, termasuk tradisi lisan. Sebelum masyarakat Indonesia mengenal tradisi tulis-menulis yang menandai dimulainya periodesasi Sejarah Indonesia Kuno, masyarakat Indonesia telah lebih dulu mengenal tradisi lisan. Masyarakat yang hidup pada masa tradisi lisan di Indonesia dikenal dengan masyarakat pra-aksara. Masyarakat tersebut memiliki kecendrungan dekat dengan alam, sehingga mereka berusaha menyelaraskan pola pikir saat itu dengan lingkungan alamnya. Hal ini memunculkan korelasi yang erat antara peristiwa alam dengan cerita turun-temurun yang termuat dalam mitos, legenda, dongeng, maupun folklore sebagai bagian dari tradisi lisan. Sehingga tradisi lisan dapat dimaknai sebagai gagasan atau aktivitas yang dilakukan secara berkelanjutan, melalui proses ―penuturan‖ dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tradisi lisan mengandung banyak nilai positif yang dapat diterapkan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat ataupun bernegara. Karena pada hakikatnya, tradisi lisan hadir di tengah-tengah masyarakat tradisional yang begitu menjaga dan memilihara Indonesia dari berbagai aspek kehidupan. Hal ini terkait dengan adanya pesan moral, kepercayaan, norma yang dipatuhi masyarakat demi keteraturan sistem sosial, serta nilai pendidikan yang dapat dijumpai di dalam tradisi lisan. Namun dalam perkembangannya, eksistensi tradisi lisan belakangan ini mulai dipertanyakan. Sebagai hasil budaya masa lampau yang ikut membentuk peradaban nusantara sekaligus menjadi identitas Indonesia, terabainya tradisi lisan sudah sepantasnya menjadi kekhawatiran bersama. Keberadaan tradisi lisan dewasa ini memberikan saya pemahaman untuk mengkaji lebih lanjut mengenai pencitraan kuno terhadap tradisi lisan oleh sebagian besar masyarakat modern Indonesia, juga dalam hal keterbatasan pewarisan tradisi lisan, serta permasalahan mengenai nilai kebenaran pada tradisi lisan terkait dengan aspek ilmu pengetahuan.
Iklim globalisasi masuk ke Indonesia membawa pengaruh besar bagi terciptanya masyarakat modern Indonesia. Hal ini turut mempengaruhi perkembangan cara berpikir masyarakat. Lambat laun masyarakat tradisional mulai bertransformasi menjadi masyarakat modern. Dimana segala sesuatu yang dilakukan masyarakat modern Indonesia mulai mengikuti pola kebudayaan barat. Misalnya menjaring ikan menggunakan pukat harimau, cara hidup berbasis teknologi ini lebih mengedepankan nilai keefektivitasan serta keefisiensian, tanpa menimbang dampak jangka panjang bagi lingkungan hidup. Perilaku masyarakat modern tersebut menjadi salah satu penyebab menurunnya kesadaran akan identitas masyarakat Indonesia, dimana masyarakat modern mulai meninggalkan budaya lokal pesisir yang menggunakan syair lagu untuk memanggil ikan tangkapan. Menurunnya kesadaran identitas yang dimaksud, berupa cara berpikir dan berperilaku layaknya orang Indonesia yang senantiasa menjaga serta memelihara budaya lokal demi keselarasan masyarakat dengan lingkungan alamnya, seperti yang tersirat dalam tradisi lisan. Dewasa ini, sebagian besar masyarakat Indonesia mulai berpikir bahwa budaya lokal merupakan budaya yang tidak mengikuti perkembangan zaman. Oleh karena itu, tradisi lisan mulai ditinggalkan sehingga budaya lokal yang satu ini terancam hilang dari peradaban nusantara.
Namun, anggapan yang menilai tradisi lisan tidak mampu bergerak secara dinamis merupakan suatu kebohongan besar, mengingat hakikat tradisi adalah mengalami perkembangan yang disesuaikan dengan jiwa zaman masyarakatnya. Bukan tidak mungkin tradisi lisan yang terkesan kuno tersebut dikemas dengan lebih aktual mengikuti jiwa zaman saat ini. Cerita rakyat, upacara, pantun, tarian rakyat, mantra, serta nyanyian rakyat dapat dikombinasikan dan kemudian dikemas dalam seni pertunjukan lokal secara berkala. Aktualisasi tradisi lisan yang dikemas dalam sebuah pertunjukan lebih memungkinkan untuk dikonsumsi publik tanpa meninggalkan nilai-nilai yang tersirat di dalamnya. Terkhusus lagi, dapat membuka ruang antusias yang tinggi terhadap tradisi lisan dikalangan generasi muda Indonesia. Sehingga kegiatan ini dapat menghidupakan kembali ―penuturan‖ yang dilakukan secara turun-temurun di tengah masyarakat modern Indonesia.
Seiring dengan pengaktualisasian tradisi lisan dalam rangka menyelamatkan produk budaya masa lampau, masalah lain yang muncul terkait dengan eksistensi tradisi lisan adalah belum tersedianya generasi yang siap berkomitmen melestarikan tradisi lisan, pasca dikenalnya aksara yang mendukung terciptanya tradisi menulis. Berkembangnya tradisi tulis-menulis sejak ditemukannya prasasti di Kerajaan Kutai sekitar abad ke-4 Masehi, ternyata membawa pengaruh besar bagi keberlangsungan tradisi lisan. Hingga sekarang, disiplin ilmu yang berkembang di Indonesia cendrung mengandalkan sumber tertulis daripada
menggunakan tradisi lisan sebagai sumber pengetahuan. Oleh karena itu, perlu adanya ―formula baru‖ untuk menghasilkan sumber daya manusia yang dibekali dengan kemampuan khusus mempelajari tradisi lisan, sekaligus sebagai upaya mempersiapkan generasi pelopor pelestarian tradisi lisan. ―Formula baru‖ tersebut dapat diwujudkan dengan mengikutsertakan tradisi lisan ke dalam lingkungan pendidikan, baik itu membuka studi khusus tradisi lisan di perguruan tinggi maupun menjadikannya sebagai ekstrakulikuler di sekolah. Dengan begitu, tradisi lisan mulai dikenal di dunia akademis, sehingga keberadaan tradisi lisan bisa lebih diperkuat dengan mendapatkan perhatian khusus dari kalangan akademisi.
Terakit displin ilmu di Indonesia yang cendrung menggunakan sumber tertulis, hal ini memunculkan polemik tersendiri bagi posisi tradisi lisan yang juga sebagai sumber pengetahuan. Kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari adanya keraguan terhadap kebenaran informasi yang terkandung dalam tradisi ―penuturan‖ ini. Tradisi lisan berupa dongeng, hikayat, mantra, dan legenda lebih didominasi unsur ―fantasi‖ dalam cerita, sehingga tidak mudah membedakan antara fakta dan fiksi yang sebenarnya. Pada hakikatnya, masyarakat pra-aksara belum mampu mendefinisikan suatu peristiwa berdasarkan kajian ilmu pengetahuan. Sehingga cerita-cerita yang berkembang melalui ―penuturan‖ senantiasa disesuaikan dengan kemampuan berpikir, kebutuhan, dan kondisi masyarakat saat itu. Masyarakat pra-aksara berusaha menyalurkan norma, nilai, hukum, kebiasaan, dan pengetahuan yang berkembang saat itu melalui ―penuturan‖ secara turun-temurun. Hal ini didasari pada tingkat pengalaman dan pemahaman yang mereka dapati. Oleh karena itu tidak sedikit ilmuwan berpendapat, bahwa tradisi lisan telah mengalami proses pewarisan dalam waktu yang panjang sehingga tradisi lisan dimungkinkan mengalami distorsi. Alhasil, nilai kebenaran dalam tradisi lisan lantas dipertanyakan.
Melalui kaca mata yang berbeda, saya mencoba untuk membalikan kenyataan. Kenapa tidak tradisi lisan digunakan sebagai sumber pengetahuan, jika kita mampu menjadikan ritual Hamis Batar (tradisi lisan masyarakat Timor berupa upacara syukuran terhadap jagung yang dipanen) di Kupang sebagai media untuk memperoleh pengetahuan yang mendekati nilai kebenaran, seperti mengkaji kepercayaan masyarakat setempat terhadap kekuatan di luar diri manusia, tentang fungsi tetua adat sebagai bagian dari sistem sosial yang mengambil peran dalam ritual Hamis Batar, juga kebiasaan masyarakat mempersiapkan jagung yang memiliki kualitas terbaik dari hasil panen untuk diikutsertakan dalam upacara adat, serta eksistensi nilai dan norma yang ikut diwariskan secara turun-temurun melalui ritual Hamis Batar. Dengan melakukan ―pendekatan historis‖ untuk mendapatkan pengetahuan dari tradisi lisan, kita bisa
menemukan pondasi kebudayaan Indonesia, sekaligus dapat digunakan untuk memantapkan identitas kebudayaan nusantara dalam rangka menjawab tantangan zaman.
Tradisi ―penuturan‖ merupakan akar dari budaya yang berkembang di nusantara. Hal ini dapat diasumsikan melalui masyarakat pra-aksara yang menggunakan tradisi lisan untuk menyalurkan cara berpikir dan cara hidup antar sesama manusia, termasuk aktivitas yang berhubungan dengan alam dan sang pencipta. Sehingga, hadirnya tradisi lisan ternyata ikut mendukung lahirnya adat istiadat, kebiasaan, hukum, kepercayaan, maupun bahasa yang berkembang di wilayah-wilayah Indonesia. Seiring dengan perkembanan zaman, tradisi lisan mulai ditinggalkan karena pencitraannya yang kuno dan statis sebagai hasil budaya masa lampau. Hal ini tidak terlepas dari tradisi tulis-menulis yang mulai dikenal, serta adanya pengaruh globalisasi yang serta-merta ikut merubah cara berpikir masyarakat Indonesia. Sehubungan dengan upaya penyelamatan dan pelestarian terhadap akar budaya nusantara, maka diperlukan usaha-usaha membangkitkan ketertarikan kembali terhadap tradisi ―penuturan‖ ini. Usaha-usaha tersebut diantaranya, melakukan aktualisasi tradisi lisan yang dikemas dalam seni pertunjukan, mengikutsertakan tradisi lisan dalam dunia akademis sebagai upaya pengenalan sekaligus melahirkan generasi pewaris tradisi ―penuturan‖, serta menjadikan tradisi lisan sebagai sumber pengetahuan yang dapat dikaji melalui metode ilmiah dan pendekatan displin ilmu sosial, seperti pendekatan historis. Diharapkan tradisi lisan dapat diselamatkan dan dilestarikan keberadaannya ditengah-tengah iklim globalisasi. Sehingga, masyarakat Indonesia memiliki identitas kebudayaan yang kuat agar dapat digunakan sebagai pedoman dalam rangka menyikapi budaya-budaya asing yang masuk ke Indonesia.
Tidak ada Komentar Tempo Institute 15 Januari 2013
Naskah 30 Besar KEM 2012 Permalink
Menjadi Indonesia Lewat ―Rumah Pelangi‖ di Bantaran Sungai Bengawan Oleh: SEPTI DIAH PRAMESWARI - UNIVERSITAS PARAMADINA
Hawa dingin di pagi itu tak menyurutkan langkah seorang gadis muda untuk keluar rumah. Dialah yang sering dipanggil ―Ustadzah Ida‖ oleh anak-anak kecil di kampung mereka. Seorang gadis lulusan SMA, tapi punya semangat tinggi untuk berbagi dengan sekitarnya. Ia terus melangkah, menyusuri tanggul dan berhenti di sebuah rumah mungil di pinggir tanggul. Meski mungil, rumah itu terlihat ada nuansa ceria yang melingkupinya. Mungkin karena cat
warna-warni di dindingnya. Mungkin juga karena suara keceriaan anak-anak yang terdengar keluar. Di depan rumah mungil itu terpampang papan putih bertuliskan ―Rumah Pelangi‖ dengan huruf berwarna-warni. Apa itu Rumah Pelangi?
Ceritanya berawal saat banjir besar melanda sebagian besar Solo yang dekat dengan bantaran sungai Bengawan Solo dan anak-anak sungainya di akhir tahun 2007 silam. Kejadian itulah yang menjadi awal perjuangan gadis bernama Ida yang tinggal di kampung Sawangan, di pinggir kota Solo. Waktu itu, dia masih duduk di bangku putih abu-abu. Rumahnya ikut terendam air bah hingga setinggi lima meter. Banjir yang datang tiba-tiba di pagi buta itu tanpa isyarat, sehingga hanya pakaian yang menempel di badannyalah yang dapat diselamatkan. Bantuan materiil berupa selimut, tenda, bahan makanan segera datang dari berbagai pihak tak kurang dari 12 jam setelah air bah datang. Namun, kesedihannya belum terobati karena buku-buku pelajaran dan ijazahnya mulai SD-SMP sekaligus sertifikat-sertifikat penghargaan yang ia miliki ikut terendam banjir. Tidak hanya itu, ayahnya yang sudah lama sakit tiba-tiba meninggal dunia. Dua hari setelah air bah surut dan ia mulai membersihkan rumahnya bersama sang ibu, lagi-lagi air bah kembali datang menghampiri. keadaan seperti itu berlangsung hingga 4 kali dalam 2 pekan. Ia putus harapan. Ia berniat tak akan kembali ke sekolah.
Keadaan mulai berangsur normal setelah sebulan berlalu, air bah tak datang-datang lagi. Ia membangun asa kembali setelah tersadar bahwa lingkungannya membutuhkan kehadiran dia dan orang-orang sepertinya. Ia kembali ke sekolah, tapi sekarang tidak hanya sekolah aktivitasnya sehari-hari. Ia tersadar ketika melihat anak kecil yang setenda dengannya di camp pengungsian saat bencana banjir menghampiri. Anak itu masih duduk di bangku kelas 1 SD. Namanya Eka. Eka kecil selalu merajuk pada ibunya agar diantar ke sekolah. Setiap kali ingat sekolah, Eka kecil merajuk. Ibunya bukan malas mengantar Eka kecil ke sekolah, tapi yang menjadi sebab ialah sekolah Eka kecil ikut terendam banjir. Kerusakan bangunan sekolahnya pun tergolong parah, sehingga memakan waktu yang lumayan lama untuk membenahinya. Namun, Eka kecil tak paham tentang keadaan itu. Eka kecil sering menangis meraung hanya karena ia tak dapat pergi ke sekolah. Hingga suatu pagi suara tangis Eka kecil tak terdengar. Eka kecil ternyata sakit. Ida begitu terharu melihat keadaan Eka kecil yang begitu antusias pergi ke sekolah meski suhu badannya tinggi. Berbeda dengan dirinya yang kehilangan semangat untuk melanjutkan sekolah.
Melihat Eka kecil sakit, ia bertanya pada Eka kecil dan sungguh jawaban mulut mungilnya membuat hujan di hati gadis itu semakin deras. Eka kecil menjawab, ―Eka kepingin sekolah, mbak. Eka wedi dadi cah bodho. Eka kepingin dadi dokter. Dadi dokter kudu pinter yo,
mbak?‖[1] Dari Eka kecil ia belajar. Ia bulatkan tekad untuk meraih cita-citanya. Bukan hanya untuk sekolah, tapi ia mengabdikan dirinya untuk mengajar Eka kecil dan teman-temannya.
Hari itu juga Ida bertekad untuk punya semangat yang tinggi layaknya Eka kecil. Di tenda pengungsian, ia kumpulkan teman-teman Eka kecil, tentu saja bersama Eka untuk belajar dan bermain bersama. Hal itu disambut dengan antusiasme yang tinggi, baik dari orang tua maupun anak sendiri. Selain belajar dan bermain, Ida sering mendongeng untuk anak-anak. Ida yakin lewat dongeng, Ida dapat berbagi banyak hal dengan anak-anak-anak. Rutinitas itu berjalan tidak hanya saat di tenda pengungsian. Setelah rumah mereka dapat di huni kembali, kegiatan bersama anak-anak itu tetap berlanjut di rumah Ida. Jika saat di tenda kegiatan itu berlangsung di siang hari, namun saat di rumah Ida kegiatan itu dilakukan di sore hari mengingat Ida pun sudah harus kembali ke sekolah. Sebagian besar anak-anak yang ikut kegiatan Ida belum dapat kembali ke sekolah karena sekolah mereka belum selesai dibenahi. Beberapa minggu kemudian, saat anak-anak sudah mulai kembali ke sekolah, Ida berpikir bahwa waktunya berbagi dengan anak-anak sudah selesai. Namun, dia kembali berpikir, kenapa ia harus berhenti untuk ikut serta membantu mencerdaskan putra-putri bangsa ini. Akhirnya Ida tetap membuka rumahnya untuk menjadi rumah singgah bagi anak-anak. Ida mencari donatur buku bacaan anak agar anak-anak mendapat tambahan ilmu dari buku-buku bacaan. Ida sadar, jika hanya mengandalkan orang tua anak-anak tersebut, mereka hanya akan dapat membaca buku dari sekolah. Ekonomi orang tua mereka yang sulit, mengingatkan bahwa dapat menyekolahkan anak-anak mereka pun sudah termasuk kebahagiaan tersendiri. Di lingkungan Ida, hanya segelintir orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus SMP apalagi SMA. Hal ini juga yang mendorong Ida untuk tetap berbagi dengan anak-anak di sekitarnya.
Sekarang Ida telah lulus SMA, ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di kotanya. Kesibukan sebagai mahasiswa tidak menghalanginya melakukan aktivitas dengan anak-anak di rumah singgahnya. Lewat jerih payah Ida mencari donatur dan mengumpulkan uang pribadinya, Ida berhasil menyewa satu ruangan kecil untuk rumah singgahnya, tepat di bibir tanggul Bengawan Solo. Di rumah itu ia habiskan waktu bersama anak-anak. Membagi semangat, membagi cerita dan berdongeng untuk anak-anak. Rumah itu ia beri nama ‗Rumah Pelangi‖, di mana ia berharap lewat rumah itu anak-anak di sekitarnya mampu melihat indahnya pelangi cita-cita mereka. Cita-cita mereka yang beragam yang tergantung di langit layaknya pelangi beraneka warna yang sering terlihat di atas riak-riak Bengawan Solo. Lewat usaha Ida juga, teman-teman Ida tertarik menjadi sukarelawan
untuk berbagi bersama anak-anak kampung di Rumah Pelangi. Tidak hanya materiil yang mereka bagi, tapi waktu, perhatian, semangat dan cita-cita pun mereka bagi. Sekarang Rumah Pelangi tak pernah sepi dari aktivitasnya. Penulis yakin, di luar sana ada seribu Ida yang peduli dengan Indonesia. Semoga terus tumbuh Ida-Ida yang lain di berbagai bidang, yang peduli dengan masa depan anak-anak bangsa.
[1] ―Eka ingin sekolah, mbak. Eka takut jadi anak bodoh. Eka ingin jadi dokter. Jadi dokter harus pintar kan, mbak?‖
Tidak ada Komentar Tempo Institute 15 Januari 2013
Naskah 30 Besar KEM 2012 Permalink
Kurikulum Sekolah Bagi Si Miskin di Pedalaman
Oleh: FIRDAUS - Universitas Jabal Ghafur Gle Gapui-Sigli Ringkasan:
Salah satu faktor tingginya jumlah pengangguran di Indonesia disebabkan oleh kurang trampilnya warga negaranya. Dengan kata lain, penduduk Indonesia tidak bisa memenuhi tuntutan kerja dewasa ini karena latar pendidikan dan skill yang tidak memadai. Akibatnya, hal tersebut juga berdampak pada terus meningkatnya angka kemiskinan di Republik kita tercinta ini.
Pendidikan bukan hanya sekedar menjadi wacana untuk digembar-gemborkan melalui berbagai program yang tidak tepat sasaran. KTSP yang menjadi kurikulum pendidikan nasional di Indonesia perlu dipertimbangkan lagi ke-efektifitasannya, mengingat, masih banyaknya sekolah-sekolah di pedalaman yang tidak ditunjang oleh fasilitas yang lengkap, SDM guru yang tidak bisa memanfaatkan fasilitas atau media belajar yang sudah ada pun perlu dibenahi, dan otonomi yang ada dalam KTSP sendiri untuk membebaskan para guru menyusun bahan ajar sendiri sesuai dengan daerah masing-masing meski harus mengacu pada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan di bawah pengawasan dinas kabupaten atau kota, tidaklah sesuai dengan ujian akhir nasional yang kadang soal-soalnya bertentangan dengan apa yang selama 3 tahun dipelajari oleh para siswa di sekolah mereka masing-masing.
Adapun beberapa solusi agar mutu pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik ke depan, penulis menawarkan beberapa gagasan, yaitu: lahirkanlah guru-guru yang profesional, kurangi jumlah mata pelajaran yang terlalu ‗gemuk‘, dan stop KKN serta jangan politisir dunia pendidikan.
Kebodohan itu dekat dengan kemiskinan, kemiskinan adalah tetangganya si zalim atau si ‗pencipta onar‘! Dan manusia yang zalim, buruk peranggai serta biadab tingkah lakunya tentulah akan disambut oleh malaikat Malik di pintu neraka! Di samping itu, jika bangsa ini dihuni oleh ―para kaum dungu dan buruk peranggai‖, maka di hari ulang tahun negara Republik Indonesia yang ke-400 pun, negara ini masih saja dihiasi oleh demo-demo masalah keanaikan BBM, demo yang menuntut kenaikan upah buruh, dan berita-berita mengenai TKI yang disiksa di luar negeri karena ketidakmapanannya manusia-manusia yang menghuni negara ini walau hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup yang primer (pokok). Nah, salah satu cara membebaskan para manusia yang mengantongi kartu tanda penduduk (KTP) Republik Indonesia dari kebodohan adalah melalui pendidikan. Pandidikan adalah jembatan yang menhubungkan ilmu pengetahuan dengan kesejahteraan dan si manusia yang berbudi luhur. Namun, bagaimana kiranya warga negara kita hendak melalui jembatan pendidikan tersebut jika pemerintah tak membangun jembatan-jembatan itu secara adil di seluruh penjuru Indonesia. Oke, kita patut berbangga dengan adanya sekolah-sekolah unggulan sekarang, contohnya beberapa sekolah yang ada di Aceh, dan Pidie khususnya, di tempat penulis berdomisili, seperti: SMP dan SMA Unggul Sigli yang dulunya dibangun pada tahun 2007 oleh Swiss Red Cross paska musibah tsunami yang diperuntukan bagi anak-anak korban tsunami dan konflik, tapi kini justru menjadi sekolah bagi anak-anak kaum pengusaha, pejabat, dan pegawai negeri yang berpangkat!
Dan jika pun ada beberapa sekolah unggul atau sekolah yang bertaraf internasional di negara kita yang tercinta ini, coba kita tanyakan lagi pada diri kita masing-masing, berapa persenkah anak-anak di seluruh pelosok nusantara mampu bersekolah di sekolah-sekolah elit tersebut? Jawabannya tentu saja sangat SEDIKIT dan hanya bagi mereka-mereka yang punya orang tua kayalah yang mampu menikmati pendidikan yang layak dan berkualitas.
Sistem pendidikan di negara ini pun sungguh luar biasa hebatnya! Tahukah Anda kenapa? Ya, karena persoalan ujian nasional dan kurikulumnya yang persis sama seperti seorang penderita penyakit kurap dan panu yang sengaja menutupi tubuhnya dengan baju agar tak terlihat penyakit memalukan itu oleh orang lain. Sudah menjadi rahasia umum jika ujian nasional yang diberlakukan oleh pemerintah adalah ibarat ―sinetron remaja‖ yang dibagian
pembukanya tertulis beberapa kalimat, seperti berikut: ―Ujian ini adalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan cerita, tempat, dan tokoh, hal tersebut tidaklah disengaja!‖
Adapun maksudnya adalah semua elemen masyarakat, praktisi pendidikan, sampai tukang parkir pun tahu jika ujian nasional tidaklah objektif. Kunci jawaban berhamburan ketika ujian fiktif ini diselenggarakan. Semua sekolah berlomba-lomba meluluskan semua siswa-siswa mereka tanpa mempersoalkan fair atau tidak fairkah ujian itu sendiri, yang terpenting LULUS 100%. Nama baik sekolah dan posisi seorang kepala sekolah pun ikut dipertaruhkan dalam ujian yang diberlakukan setahun sekali ini. Provinsi menyurati dinas pendidikan kabupaten, dinas kabupaten kemudian membagikan maklumat ―kramat‖ kepada semua kepala sekolah yang berada di bawah naungannya tersebut. Apabila hasil ujian nasional disatu sekolah tertentu mengecewakan dinas dan provinsi, maka sang kepala sekolah siap-siap untuk dimutasi alias ‗angkat koper‘ ke sekolah pedalaman atau sekolah yang letaknya di daerah terpencil. Anehnya lagi, di koran pun, semua sekolah berlomba-lomba memasang target kelulusan untuk ujian nasional pada bulan-bulan sebelum ujian nasional terselenggara sebagai simbol pretise belaka.
Kurikulum nasional yang di adaptasi oleh semua sekolah di Indonesia sekarang ini sebenarnya tidaklah efektif dan selalu tidak tepat sasaran. Mengapa demikian? Nah, mari kita telaah terlebih dahulu apa itu kurikulum dan seperti apakah kurikulum pendidikan di Indonesia saat ini. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan tujuan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran yang digunakan sebagai rambu-rambu (pedoman) dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pengajaran itu sendiri. Sejak tahun 2006, kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum pendidikan nasional yang telah diputuskan oleh pemerintah.[1] Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sendiri merupakan model kurikulum yang dikeluarkan oleh pemerintah sebagai penyempurnaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Dalam meng-implementasi KTSP, guru diberikan kebebasan untuk menyusun bahan ajar sendiri. Lebih lanjut, KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP juga dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota.[2]
Dari gambaran tentang definisi KTSP di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kurikulum ini memberikan otonomi khusus bagi sekolah (dewan guru) untuk menyusun bahan ajar sendiri walaupun harus mengacu pada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan berada di bawah supervisi dinas pendidikan Kabupaten/Kota. Namun dalam pelaksanaan KTSP di sekolah-sekolah tidaklah seindah konsep KTSP yang telah tersusun sedemikian rupa.
Contohnya, banyak ditemui sekolah-sekolah yang sama sekali tak mampu meng-aplikasikan KTSP karena fasilitas belajar yang tidak memadai, tapi uniknya lagi, ada pula sekolah yang punya fasilitas lengkap bantuan pemerintah, justru tak menggunakan media belajar tersebut dikarenakan oleh dari sumber daya manusia (SDM) guru yang tidak layak pakai.
Untuk lebih jelas, di sini penulis mencoba mengambil satu contoh sekolah yang terletak disekitar tempat tinggal penulis sendiri, yaitu: SMP Negeri 2 Kembang Tanjong Desa Arusan. Sekolah tersebut berada langsung di bawah pengawasan Dinas Pendidikan Kabupaten Pidie, Provinsi NAD. SMP Negeri 2 Kembang Tanjong Desa Arusan terletak pedalaman daerah pesisir yang mayoritas penduduk di sekitar bekerja sebagai petani garam dan nelayan. Ketika penulis mendatangi sekolah ini untuk melengkapi salah satu tugas liputan (berupa video) untuk memenuhi tugas mata kuliah Kurikulum dan Pembelajaran, penulis sempat mewawancarai sang kepala sekolah SMP tersebut. Berikut, adalah beberapa poin dari penggalan percakapan penulis dan kepala sekolah SMP Negeri 2 Kembang Tanjung Desa Arusan, yang bernama: Ibu Mardussana, S.Pd.
Penulis : ―Sejauh mana implementasi KTSP di sekolah ini dan adakah kendala yang ditemui di dalam kelas saat proses belajar mengajar dengan mengadaptasi kurikulum tersebut?‖
Ibu Mardussana, S.Pd : ―KTSPkan tentang sekolah kami sendiri, misalnya untuk sekolah kami punya lima belas mata pelajaran, jadi untuk pengembangan kurikulum, kami bisa menambahkan beberapa mata pelajaran muatan lokal, seperti: fiqih dll.‖
Penulis : ― Bagaimana dengan jumlah guru di sini?‖
Ibu Mardussana, S.Pd : ―Guru melebihi karena jumlah siswanya kurang. Jumlah murid hanya 113 dari kelas 1 sampai dengan kelas 3.‖
Penulis : ―Apakah guru di sini mengajar sesuai dengan disiplin ilmu meraka masing-masing?‖ Ibu Mardussana, S.Pd : ―Misalnya begini, kamikan kadang-kadang guru-gurunya perjurusankan lebih, kadang-kadang dijurusan yang lain tidak ada. Misalnya, TIK tidak ada ahlinya, tapi ada guru ekonomi yang bisa pegang TIK, jadi kami kasih guru yang pegang ekonomi itu mengajar TIK.‖
Penulis : ―Bagaimana dengan jumlah kelulusan siswa dalam ujian nasional tahun ini?‖ Ibu Mardussana : ―Alhamdullilah, sekolah kami lulus 100%.‖
SMP Negeri 2 Kembang Tanjong Desa Arusan bisa dikatakan minim peminat dikarenakan faktor tempat yang terletak dipedalaman dan juga anggapan negatif para orang tua siswa terhadap kualitas sekolah ini. Hal tersebut dikatakan langsung oleh kepala sekolah, Ibu Mardussana, S.Pd. Beliau juga menambahkan, ―Dinas sudah menetapkan rayon masing-masing, tetapi kadang-kadang orang tua menganggap sekolah di kecamatan lebih bagus.‖
Dari segi fasilitas belajar, Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Kembang Tanjong Desa Arusan hanya memiliki 1 Lab. IPA dan 1 perpustakaan, namun SMP Negeri 2 Kembang Tanjong Desa Arusan adalah salah satu sekolah yang bisa meluluskan 100% siswa-siswanya meskipun KTSP di sana berjalan terseok-seok sebab kurangnya fasilitas dan SDM guru. ―100% ajaib!‖
Untuk keluar dari kesembrawutan sistem pendidikan nasional, maka penulis ingin menawarkan beberapa gagasan, yaitu: guru yang mengajar di sekolah bukanlah guru jadi-jadian, sekolah di Indonesia jangan lagi ‗egois‘, dan pemerintah harus ekstra peduli terhadap nasib-nasib sekolah di negara ini.
Mengacu pada poin yang pertama, menganai tenaga pengajar (guru) hendaknya haruslah betul-betul profesional. Jika bisa, para guru yang diseleksi untuk menjadi pegawai negeri bukan hanya menjawab soal-soal di kertas saja, tapi teslah juga kepribadian mereka. Bisakah calon-calon guru tersebut menguasai kelas dan memotivasi para muridnya nanti? Karena mengajar bukanlah hanya sekedar menstranfer ilmu saja, tapi membuat siswa mau peduli untuk belajar jauh lebih penting agar para guru nanti tidak menguraikan dan menjelaskan materi pelajaran pada dinding-dinding kelas, tapi mereka harus bisa menggerakkan para siswa untuk peduli pada materi yang sedang diajarkan. Dan para guru haruslah mengajar sesuai dengan disiplin ilmu mereka masing-masing. Jangan lagi ada guru Ekonomi mengajar mata pelajaran teknologi informasi dan komunisi ataupun guru bahasa daerah yang mengajar pelajaran bahasa Inggris.
Kedua, hendaknya jumlah mata pelajaran janganlah terlalu banyak karena hal tersebut tidaklah mungkin ter-kaver oleh anak-anak Indonesia yang kebanyakan menderita ―gizi buruk‖. Arahkan mereka sesuai minat dan bakat mereka masing-masing. Hal tersebut justru lebih efisien dan tidak membuang-buang waktu.
Yang terakhir, stop KKN dan jangan politisir dunia pendidikan! Pemerintah harus lebih peduli tentang nasib jutaan anak manusia yang akan menjadi kunci maju atau tidaknya bangsa ini di masa yang akan datang. ―Peduli‖ di sini bukan hanya sekedar menciptakan program sebanyak-banyaknya tapi tidak tepat sasaran, contohnya: sertifikasi guru yang sampai dengan hari ini tak jua memperlihatkan dampak positif yang signifikan untuk dunia pendidikan Indonesia, pelatihan-pelatihan jangka pendek yang menghabiskan banyak biaya, dan lain-lain, tetapi tugaskanlah atau berikanlah posisi-posisi yang berkenaan dengan dunia pendidikan pada ahlinya, bukan hanya pada manusia-manusia yang punya kerabat dengan pejabat tertentu. Jika salah menempatkan orang sesuai dengan bidang masing-masing bukanlah