4. Rekonstruksi Pemahaman Berdasarkan Hasil Studi Hermeneutik
4.2. Menjadi Persekutuan yang Melawan Penindasan dan Perbudakan
Ketika fenomena keberadaan pelacur menjadi sebuah realitas dalam kehidupan gereja, maka sudah seharusnya gereja membuka rangkulannya menjadi lebih luas.
Gereja tidak menutup mata atau bahkan menyangkal keberadaan para pelacur, tetapi justru melihatnya sebagai sebuah tantangan yang harus segera ditangani secara holistik.
Sebab makna kerajaan Allah secara utuh harus dirasakan dalam kehidupan mereka.
Kerajaan Allah di mana setiap orang dipulihkan kemanusiaannya, dan semua orang dapat berdiri dalam semangat kesetaraan dan keadilan.
Kehadiran gereja, oleh karenanya tidak hanya memberikan obat bius untuk menahan rasa sakit akan kemanusiaan yang dicabut dan dirampas, tetapi memberikan sebuah pemulihan total. Artinya gereja tidak sekadar hadir dan memberikan pastoral-penguatan kepada para pelacur supaya tetap semangat dan tetap kuat, tetapi justru menghentikan kekerasan yang melingkupi mereka. Seperti Yesus yang tidak hanya sekadar sakit atau meninggalkan perempuan yang kedapatan berzinah, tetapi justru membebaskannya dari rajam tersebut. Yesus mewujudnyatakan kasih dan kerajaan Allah yang inklusif dalam sebuah hospitalitas pelayanan.
30
Gereja telah membentuk pengakuan dan pemahaman untuk bertanggung jawab dalam kehidupan seluruh ciptaan. Ini dapat dilihat dalam Pokok-Pokok Panggilan Bersama (PPPB) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI)yang menyatakan bahwa gereja dituntut untuk memberi perhatian khusus atau menyatakan keberpihakan dengan korban-korban ketidakadilan dan pelecehan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), rusaknya lingkungan hidup, serta terhadap orang-orang miskin dan tertindas.101 Maka sekarang menjadi waktu bagi gereja untuk mempertanggungjawabkan semua itu.
Gereja harus berdiri dan bersama menyuarakan narasi-narasi dari pinggiran yang menuntut untuk digandeng dan diperhatikan. Lebih lanjut, Gereja tidak cukup mengembangkan misi dari kaum marginal (mission from the margins) yang membiarkan korban menjadi agen dalam perjuangan melawan penindasan dan peminggiran, tetapi mengembangkannya menjadi misi bersama kaum marginal (mission with the margins).102 Dalam pemaknaan bahwa gereja tidak hanya dari pusat pergi ke pinggiran dan pulang kembali ke pusat sendirian, sehingga membiarkan korban bersuara sendiri.
Namun sebaliknya, gereja pergi ke pinggiran untuk duduk bersama, mendengar, menangis, memulihkan diri bersama-sama dengan korban, dan bersama semua orang di pinggiran berarak-arakan ke pusat untuk merayakan kehidupan.
Sampai titik ini, dengan berdasar pada keberpihakan Yesus, gereja tidak lagi mempunyai alasan untuk tidak merangkul orang-orang pinggiran, termasuk para pelacur. Sebab, segala isi Hukum Taurat tidak dapat dilihat dan digunakan sebagai alasan penajisan orang berdosa, termasuk pelacur, melainkan sebagai langkah gereja untuk merangkul. Gereja tidak melihat mereka sebagai yang terhina dan pantas untuk disangkal, tetapi sebagai anggota tubuh Kristus yang terluka yang harus dirangkul dan
“disembuhkan”. Gereja tidak membungkam narasi para pelacur tentang Allah, tetapi merangkulnya secara kritis sebagai fenomena kepelbagaian warna kehidupan dan pemahaman akan Allah.
Para pelacur dan semua orang yang tertindas adalah tubuh itu, tubuh Kristus yang dipecah-pecahkan. Maka, kemudian gereja dituntut untuk tidak hanya membentuk
101 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Dokumen keesaan Gereja: Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (DKG-PGI) 2014-2019 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), 62.
102 Mery kolimon, “Kerentanan dan Luka, Perlawanan dan Penyembuhan: Refleksi Teologis Tentang Perdagangan Orang di Wilayah Pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT),” dalam Menolak Diam: Gereja Melawan Perdagangan Orang, ed. Mery Kolimon, Hans A. Harmakaputra, Toar B. Hutagalung, Rappan Paledung (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018), 19-20.
31
”program-program indah” tentang sukarnya kehidupan, tetapi juga tindakan gereja untuk merangkul, menangis, memulihkan dan memberdayakan setiap orang yang kalah dan terluka dalam hidup. Melalui pengenalan yang total akan masalah dunia pelacuran, dan pemahaman teologis yang membebaskan, gereja kemudian dapat membentuk suatu pelayanan yang total melalui suatu pendekatan pastoral yang holistik, penyegaran liturgi-liturgi yang bertujuan menyembuhkan, membebaskan dan memberdayakan, dan pengembangan misi yang membebaskan. Secara khusus untuk sebuah pastoral yang holistik, Emmy Sahertian mencatat bahwa dalam konteks ini gereja dipahami bukan sekadar merupakan sekumpulan orang atau club untuk dirinya sendiri, melainkan mestinya merupakan life saving station, tempat penyelamatan umat dan sesama.
Sehingga eklesia dipahami secara dewasa sebagai persekutuan yang peduli dan menyembuhkan, yang di dalamnya setiap umat dan sesamanya ditolong dan dipulihkan dari kehidupan yang rusak.103
Akhirnya dapat dikatakan secara tegas bahwa pelacur adalah anggota eklesia.
Seluruh narasi kehidupannya adalah ratapan eklesia yang terluka, eklesia yang ringkih, dan eklesia yang butuh untuk segera dipulihkan. Yesus telah memurnikan cara beragama dan kehidupan komunitas yang berdasarkan cinta kasih. Oleh karenanya, gereja yang mewarisi seluruh ajaran Kristus menjadi persekutuan yang bersih dari ritus korbani, dan mampu berdiri untuk menyuarakan pendamaian bagi semua orang. S.
Mark Heim mengatakan bahwa di sinilah letak fungsi gereja untuk, melalui kuasa Roh Kudus, harus terus menerus membuktikan dampak pemutusan rantai kekerasan.104 Gereja harus berdiri, menangis, dan berjuang bersama mematahkan narasi-narasi pengkambinghitaman yang membungkam setiap narasi-narasi para korban, dan juga harus menemukan anggota-anggotanya yang terjebak dalam dunia pelacuran: para germo dan “pengunjung” untuk menjauhkan dan melepaskan mereka dari rantai kekerasan itu. Eklesia pada akhirnya adalah rumah bagi orang-orang sakit (pelaku dan korban) yang bersama berbagi kasih, memulihkan diri, dan berharap akan hari esok yang lebih baik.
103 Emmy Sahertian, “Pendampingan Pastoral Holistik Untuk Melawan Perdagangan Manusia di Nusa Tenggara Timur (NTT),” dalam Menolak Diam: Gereja Melawan Perdagangan Orang, ed. Mery Kolimon, Hans A. Harmakaputra, Toar B. Hutagalung, Rappan Paledung (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018), 172.
104 Joas Adiprasetya, Berdamai Dengan Salib: Membedah Ionaes Rakhmat dan Menyapa Umat (Jakarta: Grafika Kreasindo & UPI-STT Jakarta, 2010), 56.
32 5. Penutup
5.1. Kesimpulan
Memahami panggilan secara holistik membuat gereja memaknai eksistensinya sebagai suatu persekutuan yang membebaskan dan memberdayakan. Persekutuan itu menjadi situs di mana semua orang merayakan kehidupan dalam keadilan dan menatap hari esok yang lebih baik. Hari esok di mana pemerintahan Allah dirasakan dan dihidupi oleh semua orang. Tidak ada lagi diri yang terluka, sebab sebuah komunitas yang berakarkan cinta kasih telah terbentuk. Sehingga, pada akhirnya seluruh kisah pengembaraan atau perziarahannya adalah kisah-kisah tentang perayaan kehidupan yang penuh cinta kasih antara Allah dan manusia.
Selanjutnya, melalui studi hermeneutik dari perspektif kambing hitam- René Girard, setiap individu didorong untuk tidak hanya merangkul korban, tetapi juga mengajak setiap orang untuk menolak penggunaan perspektif penganiaya dalam membaca setiap teks kitab suci. Setiap orang yang hendak membaca teks diharuskan menggunakan pembacaan yang membebaskan, yakni pembacaan yang menggunakan perspektif korban. Pembacaan dengan perspektf ini memampukan pembaca untuk terhindar dari budaya pelanggengan kambing hitam dan ritus korbani, dan terlebih membiarkan korban menarasikan hidupnya secara bebas. Sehingga ketika korban telah bersuara, pemulihan terjadi kepada dirinya dan juga para pelaku. Pembacaan dengan menggunakan kecamata kambing hitam atas teks Yohanes 7:53-8:11 kemudian menjadi sumbangan terhadap pemikiran Girard sebagai pembacaan yang tidak hanya mengundang korban tetapi juga pelaku untuk berdiri merayakan kehidupan.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil tafsir dan relevansinya, gereja didorong untuk mengubah pandangannya dan merangkul semua orang, termasuk para pelacur sebagai luka dalam eklesia itu. Gereja perlu merangsang para presbiter untuk membaca teks dari perspektif yang baru, sehingga dapat mengakui setiap pelacur sebagai anggota eklesia yang perlu untuk “disembuhkan” dan berhenti untuk merajam mereka dengan bahasa-bahasa penyangkalan dan kutukan. Gereja juga harus merangkul para pelaku dengan cara
“menobatkan” mereka atas dosa besar yang telah dilakukan selama ini. Sehingga, tugas
33
profetis gereja untuk menghadirkan kerajaan Allah di dunia dapat nyata dalam setiap perayaan kehidupan korban dan pelaku yang telah dipulihkan kemanusiaannya.
34
Daftar Pustaka Buku
Adiprasetya, Joas. Berdamai Dengan Salib: Membedah Ionaes Rakhmat dan Menyapa Umat. Jakarta: Grafika Kreasindo & UPI-STT Jakarta, 2010.
Amstrong, Keren. Sejarah Tuhan: A History of God: Kisah 4.000 Tahun Pencarian Tuhan dalam Agama-Agama Manusia. Diedit oleh Zaimul Am. Bandung:
Mizan, 2016.
Aritonang, Jan S. dan Aritonang Asteria. Mereka Juga Citra Allah: Hakikat dan Sejarah Diakonia Termasuk Bagi yang Berkeadaan dan Berkebutuhan Khusus (Buruh, Migran & Pengungsi, Penyandang Disabilitas, LGBT). Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017.
De Beauvoir, Simone. Second Sex: The Second Sex, Book One: Fakta dan Mitos. Ed. Toni B.
Febrianto. Yogyakarta: Narasi-Pustaka Prometha, 2016.
. Second Sex: The Second Sex: Kehidupan Perempuan. Ed. Toni B. Febrianto dan Nurani Juliastuti. Yogyakarta: Narasi-Pustaka Prometha, 2016.
Drane, John. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar Historis Teologis. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
El Saadawi, Nawal. Perempuan Di Titik Nol: Women at Point Zero. Jakarta: Yayasan Obor, 2006.
Fiorenza, Elisabeth Schüssler. Untuk Mengenang Perempuan Itu: In Memory of Her:
Rekonstruksi Teologis Feminis tentang Asal-usul Kekristenan, ed. Stephen Suleeman. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.
Foucault, Michel. Sejarah Seksualitas: Histoire de la Sexualite:Sex dan Kekuasaan. Ed.
Rahayu S. Hidayat. Jakarta: Gramedia, 1997.
Girard, René. Job, the Victim of his People: Ayub Korban Masyarakatnya. Ed. Daniel K.
Listijabudi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.
. I See Satan Fall Like Lightning. Maryknoll: Orbis Books, 2001.
. The Girard Reader. Crossroad: New York, 1996.
. The Scapegoat. Baltimore: The Johns Hopkins University Press, 1986.
. “The First Stone.” Dalam Renascence: Essays on Values in Literature. Vol. 52.
Milwaukee: Marquette University Press, 1999.
. Things Hidden Since the Foundation of the World . Kalifornia: Stanford University Press, 1987.
35
. Deceit, Desire, and the Novel. London: The Jhons Hopkins Press, 1965.
. Violence and the Sacred. London: The Jhons Hopkins Press, 1977.
Golden, Arthur. Memoar Seorang Geisha: Memoirs of A Geisha. Jakarta: Gramedia, 2002.
Grimsud, Ted. Scapegoating No More: Christian Pacifism and New Testament Views of Jesus’ Death, dalam Violence Renounced. Telford: Pandora Press U.S, 2000 Groenen, C. Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru. Yogjakarta: Kanisius, 1984.
Hagelberg, Dave. Tafsiran Injil Yohanes (Pasal 6-12) Dari Bahasa Yunani. Yogyakarta:
Andi, 2001.
Harun, Martin. Yohanes: Injil Cinta Kasih. Yogyakarta: Kanisius, 2015.
Kali, Amply. Diskursus Seksualitas: Michel Foucault. Maumere: Ledalero, 2013.
Kolimon, Mery. Kerentanan dan Luka, Perlawanan dan Penyembuhan: Refleksi Teologis Tentang Perdagangan Orang di Wilayah Pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), dalam Menolak Diam: Gereja Melawan Perdagangan Orang, ed. Mery Kolimon, Hans A. Harmakaputra, Toar B. Hutagalung, Rappan Paledung. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018.
Listijabudi, Daniel K. Tragedi Kekerasan: Menelusuri Akar dan Dampaknya dari Balada Kain-Habel. Yogyakarta: Penerbit Taman Pustaka Kristen, 1997.
Loomba, Ania. Kolonialisme/ Pascakolonialisme: Colonialism/ Postcolonialism. Ed.
Hartono Hadikusumo. Yogyakarta: Narasi-Pustaka Promethea, 2016.
Mangililo, Ira D. “When Rahab and Indonesian Christian Women Meet in The Third Space”, dalam Journal of Feminist Studies in Religion. Diedit oleh Journal of Feminist Studies in Religion. Madison: Journal of Feminist Studies in Religion, 2015.
Marxsen, Willi. Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis Terhadap Masalah-Masalahnya. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2014.
O’Day, Gail. R. “John 7:53-8:11: A Study In Misreading,” dalam The Women’s Bible Commentary, ed. C. A. Newsom dan S.H. Ringe (Louiseville: Westminster John Knox Press, 1998.
Palaver, Wolfgang. René Girard’s Mimetic Theory. Michigan: Michigan State University Press, 2013.
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Dokumen keesaan Gereja: Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (DKG-PGI) 2014-2019. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016.
36
Sahertian, Emmy. Pendampingan Pastoral Holistik Untuk Melawan Perdagangan Manusia di
Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam Menolak Diam: Gereja Melawan
Perdagangan Orang, ed. Mery Kolimon, Hans A. Harmakaputra, Toar B.
Hutagalung, Rappan Paledung. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018.
Sindhunata. Kambing Hitam: Teori René Girard. Jakarta: Gramedia, 2007.
Singgih, Emanuel Gerrit. Korban dan Pendamaian: Studi Lintas Ilmu, Lintas Budaya, dan Lintas Agama mengenai Upaya Manusia Menghadapi Tantangan Terhadap Kehidupan di Luar Kendalinya. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018.
Song, Choan-Seng. Yesus dan Pemerintahan Allah: Jesus and the Reign of God, ed.
Stephen Suleeman. Jakarta: BPK Gunung Mulia 2010.
Swartley, Willard M. “Introduction,” dalam Violence Renounced: René Girard, Biblical Studies, and Peacemaking, ed. Willard M. Swartley. Telford: Pandora Press U.S, 2000.
Syam, Nur. Agama Pelacur: Dramaturgi Transendental. Yogyakarta: LKIS, 2010.
Williams, James G. “Foreword.” Dalam I See Satan Fall Like Lightning, oleh René Girard. Maryknoll: Orbis Books, 2001.
Jurnal
Aichele, George. Reading Jesus Writing. KoninKlijke Brill NV (2004). Diakses pada 2 Juni 2017, http://search.ebscohost.com
Imelda, Ira. Menelaah keberpihakan Yesus Terhadap Perempuan Korban Kepentingan Penguasa. Gema Teologi, vol. 38, no, 1 (April 2014). Diakses pada 2 Juni 2017, www.ukdw.ac.id
Mueller, Joan. Throwing Religious Stones: God’s Law as Mercy in John’s Gospel (John 7:53-8:11). Bible Today. Diakses pada 16 Juni 2018, http://search.ebscohost.com
Makalah
Mangililo, Ira D. Yang Terpotong-potong yang Menyatukan? (Analisa Poskolonial Feminis Terhadap Hakim-hakim 19:1-30). Makalah yang disampaikan dalam Simposium Nasional VIII Ikatan Sarjana Biblika Indonesia di STAKN Toraja, 26-29 Juli 2016.
Wibowo, A Setyo. Pengantar Sejarah Filsafat Yunani: Platon. Makalah yang disampaikan dalam diskusi Komunitas Salihara, 19 Maret 2016.
37 Website
Detik News. Ini Data Dan Persebaran 161 Lokalisasi Di Indonesia. Detik News. 20
Juni, 2014. Diakses tanggal 30 Maret 2017.
http://m.detik.com/news/berita/2614608/ini-data-dan-persebaran-161-lokalisasi-di-indonesia
MerahPutih Nasional. Wow Jumlah Pelacur di Indonesia Mencapai 56 Ribu. Merah Putih. 16 April 2015. Diakses tanggal 6 Juli, 2017.
https://merahputih.com/post/read/wow-jumlah-psk-di-indonesia-capai-56-ribu