• Tidak ada hasil yang ditemukan

Febrianto (Yogyakarta: Narasi-Pustaka Promethea, 2016), 127.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Febrianto (Yogyakarta: Narasi-Pustaka Promethea, 2016), 127."

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

1 1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah

Pelacuran bukan merupakan hal yang baru di dalam kehidupan manusia. Sejak zaman kuno sampai sekarang, pelacuran hadir dan berkembang layaknya jamur di musim hujan. Pelacuran menjadi tempat yang penuh dengan senyuman, rayuan, tawa, kesedihan, nestapa, kesengsaraan, dan tangisan hati yang disembunyikan dengan baik. Tempat ini menjadi ajang pemaksaan diri banyak pelacur untuk menekan emosional atau psikologis mereka supaya dapat menghibur dan melayani setiap pelanggan yang tidak dikenal dan tidak dicintai. Selain itu, tempat ini juga membuat para pelacur dieksploitasi secara seksual maupun ekonomi. Tubuhnya dipantau dalam otoritas medis, menjadi tempat pelampiasan kekerasan dan nafsu dari para pelanggan, serta terancam hidup di dalam penyakit kelamin.1

Dunia pelacuran dibangun di atas sistem yang bercorak sistemik. Oleh karena itu, pelacuran terhubung dengan sub-sistem lainnya, seperti ekonomi dan sosial. Dari sisi ekonomi, pelacuran terkait dengan pekerjaan, dan penghasilan. Dari sisi sosial, pelacuran terkait dengan hubungan atau interaksi antar-masyarakat, antar-penghuni lokalisasi, antara muncikari dengan pelacur, dan antara pelacur dengan pelanggan.2

Simone De Beauvoir membagi pelacur dalam beberapa golongan, yakni: pertama, dicteriads. Golongan ini biasanya direkrut dari perempuan-perempuan merdeka dan perempuan-perempuan dari kelas yang lebih rendah. Pada golongan ini, pelacur sering dieksploitasi oleh para mucikari dan hidupnya penuh dengan kesengsaraan.

Kedua, auletrids. Golongan kedua ini umumnya kaya karena bakat mereka sebagai musisi. Ketiga, hetairas. Berbeda jauh dari golongan dicteriads, pelacur pada kelas ini, oleh karena kecerdasan, dan artistik, mereka diperlakukan layaknya manusia oleh para laki-laki.3 Dari ketiga golongan pelacur tersebut, dapat dilihat bahwa meskipun golongan hetairas mendapat posisi yang lebih baik dibandingkan golongan lainnya, ternyata eksistensi mereka (ketiga golongan) tetap dipandang rendah, hanya sebagai pelengkap atau instrumen dalam kehidupan lelaki dan sejumlah orang yang terhubung dalam dunia pelacuran. Dari ketiga golongan ini, penulis membatasi fokus

1 Simone De Beauvoir, Second Sex: The Second Sex: Kehidupan Perempuan, ed. Toni B. Febrianto dan Nurani Juliastuti (Yogyakarta: Narasi-Pustaka Promethea, 2016), 411.

2 Nur Syam, Agama Pelacur: Dramaturgi Transendental (Yogyakarta: LKIS, 2010), 86.

3 Simone De Beauvoir, Second Sex: The Second Sex, Book One: Fakta dan Mitos, ed. Toni B.

Febrianto (Yogyakarta: Narasi-Pustaka Promethea, 2016), 127.

(2)

2

tulisan pada pelacur golongan dicteriads, meskipun dalam penulisannya juga akan menyinggung pelacur golongan auletrids dan hetairas.

Seorang pelacur4 adalah kambing hitam. Pelanggan melontarkan kebencian mereka kepadanya dan menolaknya. Entah apakah ia berada di bawah pengawasan polisi, atau ia bekerja secara legal atau rahasia, bagaimanapun, ia diperlakukan sebagai orang yang dikucilkan.5 Banyak gereja, keluarga dan masyarakat sering menyangkal kehadiran mereka, dikarenakan mereka telah melanggar ajaran-ajaran agama dan sejumlah norma di dalam masyarakat. Singkatnya, dalam kehidupannya, pelacur benar-benar didiskriminasi, dimarjinalisasi, dan sering dianggap sebagai bukan “manusia” atau sang liyan.

Jika seseorang hendak mencari arti kata pelacur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maka kata kunci yang harus dipakai adalah lacur. Lacur merupakan kata dasar dari pelacur yang berarti malang, celaka, dan sial.

Berdasarkan kata lacur, KBBI mendefinisikan pelacur sebagai perempuan yang menjual diri (tuna susila), atau sundal. Berangkat dari definisi ini, dapat dilihat bahwa pelacur memiliki stereotype yang negatif atau telah terstigma dalam kehidupan masyarakat.

Masyarakat mempunyai pandangan bahwa pelacur adalah seorang yang buruk, seorang yang tidak mempunyai harga diri, seorang yang pantas untuk ditindas, dijauhi, dikutuk dan ditakuti. Pemahaman ini timbul dari pelbagai ajaran agama serta kebudayaan yang dianut dalam masyarakat, yang pada umumnya menolak dan mengkategorikan hal yang berhubungan dengan seks atau kepuasan nafsu sebagai sesuatu yang tabu. Salah satu contoh konkret dapat ditemukan di dalam Kekristenan, yaitu perintah jangan berzinah (Kel 20:14) ataupun aturan-aturan mengenai hukuman perzinahan (Bil 5:11-31).

Kekristenan pada dasarnya sangat menolak akan kehadiran dari pelacuran dan pelacur.6 Pelacuran, dalam Perjanjian Lama, sering dikaitkan dengan pemujaan

4 Penulis sengaja menggunakan kata pelacur dikarenakan kata ini lebih menggambarkan dan mewakili Kehidupan yang terstigma oleh masyarakat, budaya dan agama (lihat pengertian pelacur berdasarkan KBBI) dari pada Pekerja Seks Komersial (PSK) yang sering digunakan kebanyakan orang dewasa ini.

5 De Beauvoir, Second Sex, 398.

6 Meskipun terdapat argumentasi bahwa pelacur mendapat “tempat” dalam sejarah Kekristenan, secara khusus dalam sejarah nenek moyang Yesus, yakni Rahab (Yos. 2:1-24), penulis tetap melihat bahwa stigma terhadap identitas Rahab sebagai pelacur tidak pernah hilang. Ketika dikaitkan kepada nenek moyang Yesus, yang dilihat bukanlah Rahab sebagai sang pejuang dan penyelamat, tetapi

(3)

3

kepada dewi kesuburan, yang ritualnya dilakukan di dalam kuil-kuil. Misalnya di dalam Bait Allah ketika masa pemerintahan Raja Manasye (687-642 SZB),7 dan juga merupakan suatu metafora ketidaksetiaan bangsa Israel kepada Tuhan yang dicontohkan dalam perkawinan Hosea dan seorang perempuan sundal bernama Gomer. Beberapa bagian Perjanjian Baru juga membicarakan pelacur dalam bahasa yang negatif. Khususnya dalam Wahyu 17, pelacur disimbolkan sebagai sumber kekejian bagi bumi. Selain itu, dalam pengembaraan atau perziarahan8 gereja di abad Pertengahan, dengan kekhasan anti-seksualitas, kemanusiaan pelacur menjadi semakin kabur. Misalnya, St. Agustinus dan St. Thomas menegaskan bahwa pelacur bagi suatu kota ibarat pipa-pipa pembuangan air kotor dalam sebuah istana.9 Hal ini dapat terjadi oleh karena pandangan gereja yang sangat negatif terhadap tubuh (seks dan seksualitas) – tubuh sebagai sumber dosa. 10

Dewasa ini, dengan pelbagai metode penafsiran, ahli-ahli tafsir menemukan beberapa hal yang menyebabkan seorang perempuan memilih untuk menjadi pelacur, di antaranya tidak terjangkaunya akses-akses sosial, seperti lapangan pekerjaan yang tersedia, terisolisasinya suatu tempat (seperti dalam cerita kehidupan Rahab dalam Yosua 2:1-24),11 terlahir dalam keluarga miskin, kurangnya pengetahuan (seperti kehidupan Firdaus dalam novel Perempuan Di Titik Nol),12 identitasnya sebagai pelacur. Sehingga, penulis tetap dalam pemahaman bahwa Kekristenan pada

dasarnya menolak akan kehadiran pelacur maupun pelacuran.

7 Keren Amstrong, Sejarah Tuhan: A History of God: Kisah 4.000 Tahun Pencarian Tuhan dalam Agama-Agama Manusia, ed. Zaimul Am (Bandung: Mizan, 2016), 95-96.

8 Penulis menggunakan kata mengembara atau perziarahan dengan merujuk pada pernyataan Agustinus bahwa gereja dan umat Kristiani adalah civitas peregrina (umat yang mengembara). Lihat Jan S.

Aritonang dan Asteria Aritonang, Mereka Juga Citra Allah: Hakikat dan Sejarah Diakonia Termasuk Bagi yang Berkeadaan dan Berkebutuhan Khusus (Buruh, Migran & Pengungsi, Penyandang Disabilitas, LGBT) (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017), 289.

9 De Beauvoir, Second Sex, 145.

10 Pandangan negatif gereja terhadap tubuh dinyatakan dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan seks, birahi dan erotisme yang dilihat sebagai suatu perwujudan dari yang kotor dan erat

kaitannya dengan iblis. Sehingga intensi gereja pada masa ini adalah mengontrol dan mendeseksualisasi tubuh secara total agar tidak mendatangkan dosa lagi. Seks pada masa ini harus diakui sebagai dosa oleh setiap orang. Lebih lanjut lihat Michel Foucault, Sejarah Seksualitas: Historie de la sexualite: Seks dan Kekuasaan, ed. Rahayu S. Hidayat (Jakarta: Gramedia, 1997), 38-40; Amply Kali, Diskursus Seksualitas:

Michel Foucault (Maumere, Ledalero, 2013), 5-6.

11 Ira D. Mangililo, “When Rahab and Indonesian Christian Women Meet in The Third Space,”

dalam Journal of Feminist Studies in Religion, ed. Journal of Feminist Studies in Religion (Madison: Journal of Feminist Studies in Religion, 2015), 51.

12 Novel ini merupakan kisah nyata seorang perempuan pelacur bernama Firdaus yang terlahir dari keluarga miskin dan diselimuti oleh kuatnya budaya patriakal. Kemiskinan dan kuatnya budaya partiakal membuat ia tidak mendapat hak yang baik. Hak yang dimaksud berupa kasih sayang dan pengetahuan (pendidikan) yang memadai. Kurangnya hak yang di dapat berimplikasi pada kehidupannya yang dilperlakukan sebagai seorang budak kerja dan budak seks pada masa remaja dan dewasa. Oleh

(4)

4

ditipu,13 dll. Berangkat dari realitas ini, maka tidak heran jika tempat-tempat pelacuran dan para pelacur dapat dengan mudah dijumpai.

Pelacuran adalah “dunia identitas” yang tidak transparan, sehingga akan sangat sulit untuk menemukan data secara pasti mengenai jumlah pelacur. Hal ini umumnya disebabkan oleh para mucikari yang tidak mau memberikan secara pasti jumlah pelacur yang berada di bawah asuhannya. Hal tersebut dapat terjadi karena besarnya jumlah pelacur akan berdampak pada besarnya uang yang harus dilaporkan ke pihak-pihak yang melindungi keberadaan mereka. Oleh karena itu dapat diperkirakan bahwa jumlah pelacur yang tercatat lebih kecil dari pada kenyataannya.14

Setidaknya pada tahun 2012, Kementerian Sosial mencatat ada 161 lokalisasi15 di Indonesia yang terbagi dalam 19 provinsi, yaitu Nias, Riau, Jambi, Kep. Riau, Kep.

Bangka Belitung, Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara dan Papua.16 Grafik ini meningkat pada tahun 2015 dengan jumlah pelacur 56.000 orang yang tersebar ke 164 lokalisasi di seluruh Indonesia.17 Fenomena pelacuran ini sepertinya belum menjadi perhatian serius oleh gereja-gereja pada umumnya. Pertanyaan yang timbul sebagai respons adalah apakah sentral pelayanan gereja hanya pada orang-orang yang “suci” saja? Dan apakah pelacur tidak termasuk sebagai anggota eklesia?

Berangkat dari permasalahan di atas, penulis ingin mendalami sikap gereja terhadap para pelacur dengan mendalami Yohanes 7:53-8:11. Teks ini menceritakan tentang perempuan yang tertangkap berzinah, yang digiring oleh orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat, dan banyak orang lagi kepada Yesus saat hari masih pagi dengan karena keadaan tersebut, ia memilih untuk menjadi seorang pelacur yang dipandang dapat membuatnya sebagai perempuan merdeka dan berharga di mata orang lain. Lihat Nawal El Saadawi, Perempuan Di Titik Nol: Women at Point Zero (Jakarta: Yayasan Obor, 2006).

13 Arthur Golden, Memoar Seorang Geisha: Memoirs of A Geisha (Jakarta: Gramedia, 2002). Novel ini menceritakan seorang anak perempuan yang ditipu yang kemudian dijual kepada rumah geisha untuk dididik menjadi seorang geisha. Ketika menjadi geisha, keperawanan mereka “dilelang” dengan harga yang tinggi dan mereka dipaksa untuk melayani orang yang sama sekali tidak dicintai.

14 Syam, Agama Pelacur, 86-87.

15 KBBI mendefinisikan lokalisasi sebagai tindakan pembatasan pada suatu tempat atau lingkuan.

Sehingga, jika dikaitkan dengan dunia pelacuran, (me)lokalisasi dapat dimaknai sebagai pembatasan aktivitas para pelacur pada suatu tempat secara legal sesuai dengan pearaturan yang berlaku.

16 Detik News, Ini Data Dan Persebaran 161 Lokalisasi Di Indonesia, Detik News, 20 Juni 2014, diakses tanggal 30 Maret 2017, http://m.detik.com/news/berita/2614608/ini-data-dan-persebaran- 161-lokalisasi-di-indonesia

17 Merah Putih Nasional, Wow Jumlah Pelacur di Indonesia Mencapai 56 Ribu, Merah Putih. 16 April 2016, diakses tanggal 6 Juli, 2017, https://merahputih.com/post/read/wow-jumlah-psk-di- indonesia-capai-56-ribu

(5)

5

tujuan mencobai dan mencelah Yesus. Orang banyak itu menggunakan hukum Musa;

merajam orang yang tertangkap basah berzinah, untuk melihat dan menguji respons Yesus terhadap perempuan yang dibawa ke hadapanNya.

Lebih dalam, Injil Yohanes merupakan salah satu dari keempat Injil yang memiliki kekhasan dalam mendeskripsikan pribadi Yesus dibanding ketiga Injil lainnya – Matius, Markus dan Lukas. Yohanes ditulis sekitar tahun 100 ZB dan ditujukan kepada orang-orang berlatarbelakang Yahudi di perantauan (Yahudi diaspora). Antara sidang pembaca Yohanes dan “orang-orang Yahudi” terjadi ketegangan dan perdebatan yang mendalam tentang identitas Yesus. “Orang-orang Yahudi” mempertanyakan apakah Yesus adalah Mesias yang dinubuatkan nabi-nabi dalam Perjanjian Lama atau tidak.18 Menjawab itu, Yohanes mendeskripsikan Yesus sebagai firman (ho logos) yang menjadi daging atau manusia. Dalam kemanusiaan Yesus sebagai firman, kasih setia dan kemuliaan Allah turun kepada manusia.19 Yohanes memberikan gelar kepada Yesus sebagai “Anak Manusia” yang pada akhir zaman akan datang untuk menghakimi dan menyelamatkan, sebagai salah satu jawaban terhadap pertikaian dan ketegangan yang terjadi.

Selanjutnya, latar belakang berpikir Yohanes yang berbeda dari ketiga Injil sinoptik menghasilkan tafsiran yang beragam terhadap Yohanes 7:53-8:11.

Groenen20 dan Eko Riyadi21 mengatakan bahwa kisah tentang perempuan berzinah merupakan sebuah sisipan ke dalam Yohanes yang salah “sambung”, karena dalam kebanyakan naskah Injil terkuno (kodeks Sinaiticus, Alexanderia, Vaticanus) tidak ditemukan kisah terebut. Argumentasi ini dapat dibuktikan lewat kritik apparatus yang menunjukkan bahwa teks ini tidak ditemukan dalam (omit) P66, 75 a Avid B.

Tetapi merupakan teks yang ditambahkan kemudian (teks sisipan) oleh bapa-bapa gereja (mss) yang ditemukan dalam kodeks Bazae (D) yang berasal dari abad V.22 Karenanya Groenen mengusulkan untuk lebih baik cerita mengenai perempuan yang berzinah ini dihilangkan. Menanggapi usulan ini, penulis berpikir bahwa meskipun cerita perempuan berzinah dinyatakan tidak masuk dalam sentral pekabaran

18 C. Groenen OFM, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru (Yogjakarta: Kanisius, 1984), 146-147.

19 Martin Harun, OFM, Yohanes: Injil Cinta Kasih (Yogyakarta: Kanisius, 2015), 29-30.

20 Groenen, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru, 162.

21 Eko Riyadi, Yohanes: Firman Menjadi Manusia (Yogyakarta: Kanisius, 2011), 198.

22 Berikut penulis sajikan keterangan pada Injil Yohanes 7:53-8:11 yang berdasarkan Perjanjian Baru (Indonesia-Yunani) {A} omit 7.53:8.11 P66, 75 a Avid B Cvid L N T W D Q Y (but added in some late mss. of syrp,h)// include 7.53-8.11 D.

(6)

6

Yohanes, tetapi kisah ini tidak dapat dihilangkan karena merupakan hasil kanon dan tetap berlaku di dalam kehidupan orang percaya. Oleh karena itu, pembaca perlu membuat sebuah komitmen sikap untuk membaca teks ini sebagai suatu bagian besar dari Yohanes, melihat dia sebagai yang disisipkan, dan atau memilih mengabaikannya dari kanon.23

Berbeda arus dari Groenen yang mempermasalahkan kedudukan teks, banyak ahli tafsir dengan pemahaman berbeda membaca kisah ini sebagai salah satu jalan yang ditempuh oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi untuk menjerat Yesus.

Para penguasa (baca: ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi) menggunakan perempuan tersebut demi suatu kepentingan politis untuk menjatuhkan Yesus yang dipandang sebagai lawan politis, kemudian merelevansikannya dalam pengalaman perempuan korban sex traficking.24 Selain itu, ada juga intepretasi terhadap belas kasihan Yesus atas perempuan yang tertangkap berzinah (adultery), dan penegasan Yesus untuk melihat kelemahan setiap orang dan sadar akan kelemahan diri sendiri.25 Atas ini, penulis mengambil jarak yang cukup untuk menawarkan sebuah tafsiran yang mungkin belum dilihat oleh para ahli tafsir sebelumnya. Penulis akan membaca kisah ini dalam wacana Hermeneutik dari perspektif Kambing Hitam- René Girard.

Tindakan menggiring perempuan yang kedapatan berzinah kepada Yesus, dalam perspektif kambing hitam dapat dilihat sebagai suatu tindakan unanimitas, yaitu tindakan semua melawan satu. Perempuan tersebut dilihat sebagai yang “benar”

bersalah, dan oleh karena dia, semua orang yang menggiring merasa “benar” tidak bersalah. 26 Hal ini dapat saja terjadi, karena Girard menjelaskan bahwa dalam suatu sistem masyarakat sudah selalu ada ritual atau tradisi yang mencari “korban” untuk mendamaikan atau menutup kejahatan yang terus terjalin di dalam kehidupan kolektif. Dapat dikatakan bahwa inti dari pendekatan Kambing Hitam oleh Girard

23 George Aichele, Reading Jesus Writing, KoninKlijke Brill NV (2004): 361, diakses pada 2 Juni 2017,

http://search.ebscohost.com

24 Ira Imelda, Menelaah keberpihakan Yesus Terhadap Perempuan Korban Kepentingan Penguasa, Gema Teologi, vol. 38, no, 1 (April 2014): 49-64, diakses pada 2 Juni, 2017,

www.ukdw.ac.id

25Harun, Yohanes: Injil Cinta Kasih, 150-151.

26 Sindhunata, Kambing Hitam: Teori René Girard (Jakarta: Gramedia, 2007), 165.

(7)

7

adalah tindakan yang berusaha membaca suatu permasalahan dengan kacamata atau dari sudut pandang sang korban.27

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, sekiranya terdapat dua permasalahan utama yang menjadi sentral penulisan tugas akhir ini, yaitu: Pertama, apa kajian Hermeneutik Kambing Hitam-René Girard terhadap kisah perempuan yang kedapatan berzinah dalam Yohanes 7:53-8:11? Kedua, apa implikasinya terhadap sikap gereja dalam melihat dan memperlakukan setiap anggota gereja, termasuk di dalamnya pelacur?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujan dari penulisan ini adalah untuk membedah teks dengan studi hermeneutik dalam perspektif kambing hitam, yang dalam proses pembedahannya akan menunjukkan bagaimana korban dikambinghitamkan melalui mekanisme korbani, dan tindakan pembebasan perempuan berzinah oleh Yesus. Setelah itu, dengan berdasar pada hasil hermeneutik, penulis akan merelevansikan implikasi teologis dan implikasi praktis terhadap penanganan persoalan pelacuran oleh gereja.

1.4 Manfaat Penelitian

Penulis berharap hasil dari tugas akhir ini dapat menjadi salah satu situs perjuangan pembebasan dalam merekonstruksi pemahaman dan pelayanan gereja terhadap orang-orang tertindas, termasuk di dalamnya pelacur. Dalam pemahaman bahwa mereka juga termasuk anggota eklesia yang perlu diberikan pelayanan secara holistik yang mewujud dalam sebuah hospitalitas pelayanan.

1.5 Metode Penelitian

Persoalan yang dikemukakan dalam tulisan ini akan dikaji dalam bentuk studi biblika. Adapun metode yang digunakan sebagai pisau analisis adalah Hermeneutik dari perspektif kambing hitam-René Girard. Hermeneutik dari perspektif kambing hitam adalah suatu upaya melihat sebuah masalah dari perspektif korban. Pendekatan yang menitikberatkan pada diri korban mengambil jalan berbeda dalam melihat suatu

27 René Girard, Job, the Victim of his People: Ayub Korban Masyarakatnya, ed. Daniel K. Listijabudi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 137.

(8)

8

permasalahan lebih mendalam yang sering ditutupi suatu tradisi di dalam masyarakat;

tradisi yang berakar kuat pada mekanisme kambing hitam.28 1.6. Sistematika Penulisan

Tulisan ini akan disajikan dalam lima bagian utama, yaitu: Pertama, pendahuluan yang menguraikan latar belakang penulisan, perumusan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Kedua, menyajikan landasan teori kambing hitam-René Girard. Ketiga, melakukan studi hermeneutik dari perspektif kambing hitam-René Girard terhadap Yohanes 7:53-8:11. Keempat, merekonstruksi implikasi-implikasi teologis berdasarkan studi Hermeneutik dari perspektif kambing hitam-René Girard terhadap Yohanes 7:53-8:11. Kelima, penutup yang berisikan kesimpulan dan saran.

2. Teori Kambing Hitam-René Girard dalam Upaya Studi Hermeneutik Terhadap Teks

Pada bagian ini penulis akan mendeskripsikan dan menjelaskan secara kritis teori Kambing Hitam René Girard dan dalam kaitannya dengan studi hermeneutik. Hal ini dilakukan karena teori kambing hitam hendak digunakan sebagai pembedah teks Injil Yohanes 7:53-8:11 pada bagian tiga nantinya. Adapun tulisan ini akan disajikan dalam beberapa bagian besar yakni, pertama, fenomena mimemis yang menjadi awal penemuan Girard dan juga menjadi dasar untuk memahami teori Kambing Hitam.

Kedua, Kambing Hitam sebagai fenomena agama mengatasi atau menjinakkan kekerasan. Ketiga, fenomena kambing hitam di dalam Alkitab dan bagaimana Alkitab, terkhususnya Injil membongkar kekerasan terhadap kambing hitam. Keempat, menentukan langkah-langkah yang akan ditempuh dalam melakukan studi hermeneutik dari perspektif kambing hitam.

2.1. Fenomena Mimemis: Penemuan dan Dasar Pemikiran René Girard

René Girard lahir pada tahun 1923 di Avignon. Ia meraih gelar sarjana muda dalam bidang Filsafat di Lycée Avignon, dan banyak menghabiskan waktu hidupnya

28 Girard, Ayub Korban Masyarakatnya, 137.

(9)

9

untuk meneliti fenomena kekerasan, termasuk kekerasan dalam dunia Alkitab.29 Ia, dalam penelitiannya, berhasil meletakkan akar atau “penyebab tunggal” yang berlaku secara universal dari segala fenomena kekerasan dalam kehidupan manusia. Akar dari segala kekerasan tersebut adalah hasrat mimemis (mimetic desire) yang niscaya terjadi dalam segala relasi manusia.

Hasrat mimemis30 menjadi dasar penyebab kekerasan, karena bagi Girard setiap orang selalu menginginkan apa yang dihasratkan sesamanya. Hal ini dijelaskannya secara detail dengan menggunakan fenomena hasrat segitiga (trianguler desire) yang merupakan hasil penelitiannya akan sumber-sumber sastra, seperti Cervantes, Flaubert, Stendhal, Proust, dan Dostojevsky.31 Ketika seseorang menghasratkan atau menginginkan suatu benda atau objek, hasrat itu bukan karena “nilai jual” objek tersebut atau lahir secara “murni” dari dirinya, tetapi karena mediator (mediator of desire) yang menghasratkan benda atau objek tersebut.32 Maksud Girad dapat dipahami lebih lanjut lewat dua karya sastra berikut yang dikaji olehnya dalam buku Deceit, Desire & The Novel.33

Pada kisah Don Quixote dari La Mancha karangan Cervantes, Don Quixote sangat mengagumi Amadis pahlawannya. Segala hal yang menyangkut dengan kepahlawanan Amadis diikutinya dengan penuh fantasi; tindakan perlawanan raksasa, menunggang kuda, mempunyai seorang pengikut setia, dan memiliki satu putri cantik. Kehidupan fantasi ini dapat terjadi karena ia menghasratkan hasrat sang mediator, Amadis; Amadis menghasratkan suatu objek dan Don Quixote menghasratkan (mengingini) objek yang dihasratkan Amadis.34 Hasrat segitiga yang terjadi di antara keduanya tidak menimbulkan rivalitas yang berujung pada kekerasan, kerena terbentangnya jarak

29 Lebih lanjut lihat penjelasan tentang biogarafi Girard dalam René Girard, The Girard Reader (Crossroad: New York, 1996), 1-6.

30 Perlu dicatat bahwa Girard menolak untuk menerjemahkan “mimemis” menjadi “imitation”

atau “imitative desire”. Sebab baginya mimemis mempunyai nilai khusus untuk melihat aspek konflik dari tiru meniru yang tidak dapat dijelaskan oleh “imitasi”. René Girard, I See Satan Fall Like Lightning

(Maryknoll: Orbis Books, 2001), 10.

31 Lebih lanjut lihat René Girard, Deceit, Desire, and the Novel (London: The Jhons Hopkins Press, 1965).

32 René Girard, Violence and the Sacred (London: The Jhons Hopkins Press, 1977), 145.

33 Penulis sengaja untuk menyajikan beberapa karya sastra yang telah menginspirasi Girard secara langsung demi suatu pemahaman yang utuh dari pembaca. Pada sisi lain, penyajian ini juga membantu penulis untuk menjelaskan secara “efesien” maksud Girard tentang mimemis dan hasrat segitiga, dan juga nantinya akan menjadi dasar untuk membedakan Girard dengan beberapa filsuf besar yang juga berbicara tentang mimemis dan individu yang otonom.

34 Sindhunata, Kambing Hitam, 21.

(10)

10

(distance) antara keduanya. Jarak tersebut tidak dimaknai secara fisikal atau spasial, tetapi secara spiritual, yakni perbedaan derajat dan pangkat. Girard menyebut pola hasrat segitiga yang terjadi ini sebagai mediasi ekstern.

Berbeda dengan karya Cervantes, Stendhal, dalam karangannya The Red and The Black mengungkapkan bagian berbeda dari hasrat segitiga. Diceritakan bahwa M. De Rênall hendak menjadikan Julien Sorel sebagai pembimbing (tutor) semata-mata karena Valenod, rival dan saingan M. De Rênall ingin menjadikan Julien Sorel sebagai tutor.

Terjadilah hasrat segita antara M. De Rênall, Valenod, dan Julien. Valenod yang dulu memberikan teladan kepada M. De Rênall, sekarang merasa terancam dan mencoba menghalangi hasrat M. De Rênall. Terjadilah perubahan dari model (mediator) ke penghalang; M. De Rênall tidak lagi menjadi murid tapi menjadi saingan, dan sang imitator menjadi ancaman. Ini kemudian melahirkan rivalitas antara mediator dan subjek. Rivalitas terjadi akibat jarak yang dekat antara M. De Rênall dan Valenod.

Berbeda dengan Don Quixote, dalam kasus ini terjadi mediasi intern.35 Mediasi intern membawa kepada sebuah rivalitas yang tiada henti akibat jarak antara subjek dan mediator menghilang.36

Dari cerita di atas, dapat dipahami lebih lanjut maksud Girard tentang mimemis sebagai fenomena universal yang dapat membawa manusia pada relasi yang destruktif.

Jika mimemis masuk dalam mediasi intern, maka “kedamaian” tidak dapat dipertahankan lagi, karena rivalitas lahir sebagai akibat hasrat yang terus meningkat antara subjek dan mediator. Rivalitas itu kemudian, mau tidak mau, harus mengarahkan dirinya kepada kekerasan, dan kekerasan menjadi situs perjuangan tiap pihak untuk mempertahankan hak-haknya: hidup dan harga dirinya. Kekerasan yang terjadi dapat merambat secara buta kepada orang lain yang sebelumnya tidak terlibat dalam rivalitas tersebut. Ia merajalela dan menjangkit setiap orang yang berhubungan jauh, ataupun tidak sama sekali memiliki kaitan dengan masalah tersebut; kekerasan yang menjangkit itu dapat melahirkan sebuah massa (mob) yang memiliki daya destruktif.37

35 Sindhunata, Kambing Hitam, 23-25.

36 Girard, Deceit, Desire, and the Novel, 9.

37 Salah satu contoh dapat dilihat dalam kisah penggiringan Yesus di hadapan Pilatus. Pada penggiringan tersebut terdapat mob yang terjangkit oleh kekerasan akibat hasrat mimemis yang menginginkan kematian (penyaliban) Yesus. Jika diperhatikan secara detail, maka akan menemukan bahwa sebagian besar bahkan hampir semua orang-orang ini tidak memiliki kepentingan apapun dengan kematian Yesus. Aktor utamanya dan asalinya bukan kerumunan orang-orang tersebut, tetapi “orang-

(11)

11

2.1.1. Mimemis Girard Sebagai Sebuah Pembeda Sejarah

Sindhunata dalam bukunya Kambing Hitam mengulas keunggulan dan keunikan mimemis Girard yang membedakannya dari teori mimemis lainnya, dan dari teori rasionalisme, romantisme, dan subjektivisme.38 Mimemis telah banyak diperbincangkan jauh sebelum Girard, dan memiliki beragam warna dalam penjelasannya. Kepelbagaian warna itu kemudian menjadi salah satu titik berangkat Girard untuk memisahkan diri sekaligus menunjukkan keunikan pemikirannya. Misalnya penjelasan Girard mengenai hasrat mimemis mirip dengan teori Hegel tentang hasrat. Tetapi Girard membantah bahwa apa yang dikemukakannya sama dengan teori Hegel. Hegel berpendapat bahwa manusia tidak hanya berpikir supaya ada, melainkan juga berhasrat akan sesuatu, dan orang lain juga memiliki hasrat yang sama. Hasrat yang sama itu kemudian menimbulkan pengakuan akan keberadaan orang lain. Hegel memahami mimemis sebagai menginginkan atau menghasratkan keinginan atau hasrat orang lain (desiring the desire of other), dan dengan demikian mengakui saya, sedangkan mimemis Girard adalah I desire according to the other, atau dengan kata lain hasratku diatur oleh objek yang dihasratkan orang lain.39 Oleh karenanya mimemis Girard tidak dimaknai sebagai hasrat yang mengarah pada pengakuan diri, tetapi mengarah kepada perbudakan diri (relasi tuan-budak).

Mimemis yang dapat mengarahkan pada relasi tuan-budak secara tidak langsung juga memisahkan Girard dari pandangan rasionalisme, romantisme, dan subjektivisme.

Ketiga aliran ini dengan tokohnya masing-masing Descartes, Rousseau, dan Kant yang sangat menekankan otonomi subjek. Descartes yang meragukan semua kepastian dan kemapanan pemikiran, sampai pada pemahaman otoritas dan kedaulatan ego terhadap dunia luar. Sang subjek, dengan berdasarkan pada kesadaran dirinya: cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada), yang total rasional itulah yang menentukan nilai-nilai, orang Farisi dan ahli-ahli Taurat”. Lebih lanjut lihat, René Girard, The Scapegoat (Baltimore: The Johns Hopkins University Press, 1986), 100-111. Ataupun dapat melihat kisah Ayub yang menjadi korban keluarga, sahabat-sahabat dan masyarakatnya akibat terjangkit kekerasan rivalitas yang pecah. Lebih lanjut lihat, René Girard, Job, the Victims of His People: Ayub Korban Masyarakatnya, ed. Daniel K.

Listijabudi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006).

38 Pada bagian ini penulis memilih untuk tidak menyinggung mengenai mimemis Platon. Hal ini dilakukan karena penulis melihat kecenderungan kesalahan membaca pemikiran Platon tentang Idea yang telah diwariskan sejak zaman filsafat Neoplatonisme. Untuk kritik kesalahan membaca Idea Platon lihat A. Setyo Wibowo, Pengantar Sejarah Filsafat Yunani: Platon, makalah yang disampaikan dalam diskusi Komunitas Salihara, 19 Maret 2016.

39 Lebih lanjut tentang perbedaan mimemis Hegel dan Girard lihat Sindhunata, Kambing Hitam, 90-94.

(12)

12

bukan masyarakat. Selain itu, Rousseau, dengan filsafat romantismenya, percaya bahwa manusia itu adalah subjek yang ideal dan bebas, sebelum manusia itu digerogoti masyarakat. Demikian juga Kant yang mengutamakan otonomi manusia. Manusia itu otonom karena ia rasional. Ia dapat menggunakan akalnya untuk dapat menjalankan hidupnya sesuai dengan prinsip-prinsip hidup atau nomos. Ia mampu menjalankan hidupnya tanpa bantuan intervensi ilahi atau masyarakat di luar dirinnya.40

Girard secara otomatis jelas menolak pemahaman subjek yang otonom. Sebab, seperti yang dikemukakan sebelumnya, tidak ada manusia yang otonom karena dalam dirinya niscaya ada hasrat tiru-meniru atau hasrat mimemis. Ia tidak memiliki otonomi individu, karena ketika masuk dalam hasrat mimemis segala kehendaknya diatur oleh sang mediator. Pada Girard, mimemis adalah suatu status metafisik-dinamis yang mendahului individu dan masyarakat, dan sekaligus menjerat individu dan masyarakat tersebut. Mimemis berpotensi melahirkan agama dan masyarakat dari kekerasan dan kekacauan, juga kultur dan anti-kultur. Mimemis pula yang memungkinkan lahirnya kambing hitam yang menyelamatkan.41

2.2. Kambing Hitam: Sebuah Upaya Penjinakan dan Penaklukkan Kekerasan oleh Agama42

Kekerasan yang telah menyebar membuat semua orang menjadi musuh atas sesama, sehingga bahaya kemusnahan pun menghantui mereka. Orang-orang kemudian berusaha untuk membebaskan diri dari bahaya tersebut. Menurut Girard, usaha untuk keluar dari bahaya kekerasan tersebut hanya dapat berhasil ketika semua orang mengarahkan kesalahan mereka kepada satu orang (unanimitas kekerasan)43. Unanimitas tersebut tidak dinyatakan secara gamblang, melainkan dibungkus dalam tema-tema seperti incest, wabah, penyakit, dan dosa.44

40 Sindhunata, Kambing Hitam, 87-88.

41 Sindhunata, Kambing Hitam, 89.

42 Perlu untuk ditekankan bahwa agama yang dimaksudkan oleh Girard adalah agama non- Kristen, termasuk di dalamnya agama murba dan Yahudi. Sehingga seluruh penjelasan bagian ini, tentang agama, sepenuhnya diarahkan pada agama non-Kristen.

43 Unanimitas berarti semua melawan satu. Hanya satu orang yang “benar” bersalah, dan karena dia orang lain merasa “benar” tidak bersalah. Lebih lanjut lihat Sindhunata, Kambing Hitam, 165.

44 Emanuel Gerrit Singgih, Korban dan Pendamaian: Studi Lintas Ilmu, Lintas Budaya, dan Lintas Agama Mengenai Upaya Manusia Menghadapi Tantangan Terhadap Kehidupan di Luar Kendalinya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018), 33.

(13)

13

Proses pencarian kambing hitam (pharmakos)45 mulai dilakukan dengan maksud pembebasan diri dari kekerasan. Girard menambahkan bahwa manfaat dari kambing hitam begitu besar sehingga semua komunitas manusia melakukan yang terbaik untuk mereproduksi seluruh fenomena terhadap korban pengganti, dengan tujuan melindungi diri mereka.46 Tindakan untuk selalu mencari kambing hitam ketika terjadi suatu “masalah” dalam komunitas kemudian melahirkan mitos dan ritus yang dipahami sebagai ingatan pengenangan akan tindakan kekerasan.47 Mitos dan ritus ini memainkan peranannya dalam tema-tema yang disebutkan di atas.

Melalui ritus dan mitos, ketika terjadi kekerasan yang menimpa masyarakat maka pencarian kambing hitam harus dilakukan untuk mendamaikan komunitas. Di sini pharmakos mempunyai peran ganda: ia sebagai yang bersalah dan juga sebagai yang mendamaikan (sebagai racun maupun penangkal racun).48 Girard menambahkan bahwa tidak penting dan tidak perlu diributkan apakah korban yang harus dipilih itu manusia atau binatang, sebab korban hanya berfungsi sebagai penyalur kekerasan atau pengosongan kekerasan.49 Korban yang dipilih bukan karena kejahatan yang dituduhkan kepada mereka, tetapi karena tanda korban (victim’s signs) yang mereka pikul.50 Jika binatang yang dipilih untuk menyalurkan kekerasan, maka binatang tersebut harus memiliki kemiripan dengan manusia. Pada sisi lain, dalam pemilihan korban manusia, manusia yang dipilih haruslah berasal dari kelompok yang marginal;

insan dengan disabilitas atau orang-orang yang voiceless dan powerless di dalam masyarakat.51 Hal ini dilakukan dalam rangka mencegah tindakan balas dendam yang akan kembali mengancam kedamaian masyarakat.

Perlu diingat bahwa pencarian korban hewan atau manusia harus dipahami dalam rangka pencarian kambing hitam. Tentunya tujuan dasar ini sangat berbeda dari persembahan-persembahan yang dilakukan oleh orang-orang Perjanjilan Lama di Bait Allah (bagian ini akan penulis jelaskan lebih lanjut pada sub bagian berikut), sehingga

45 Girard menerangkan lebih lanjut bahwa when we speak of pharmakos we mean an innocent victim in the contaminated Judaic and Christian sense. René Girard, Tha Scapegoat, 122.

46 René Girard, The First Stone, dalam Renascence: Essays on Values in Literature. Vol. 52 (Milwaukee: Marquette University Press, 1999), 12.

47 Sindhunata, Kambing Hitam, 176.

48 Girard, Violence and the Sacred, 95.

49 Sindhunata, Kambing Hitam, 109.

50 Girard, The Scapegoat, 24.

51 Lebih lanjut lihat cerita tentang Mitos Oedipus dalam Oedipus Rex yang dibaca Girard dari kaca mata ritus korban. René Girard, The Scapegoat, 25-44.

(14)

14

pembaca perlu untuk memahami ritus pengorbanan menurut Girard dengan sudut yang berbeda. Lebih lanjut tentang pengorbanan manusia dengan tujuan pengosongan kekerasan, Girard menambahkan bahwa sifat femininitas adalah salah satu tanda korban. Ini dapat dijejaki melalui dua faktor pembeda perempuan dan laki-laki, yakni perempuan mempunyai posisi terendah dalam komunitas maupun masyarakat, dan kelemahan fisik mereka; menstruasi, payudara, rahim dan lainnya. Dua kelemahan dasar ini membuat perempuan paling berisiko untuk dipilih sebagai korban. 52

Ketika kambing hitam berhasil mencegah penghancuran masyarakat, maka ia menjadi awal dari struktur dan ketertiban di dalam masyarakat. Di sini peran ritus dan mitos menjadi dasar kelahiran agama. Mitos dan ritus berfungsi menutupi dan mengaburkan segala kejahatan yang ditimpakan kepada kambing hitam. Pembunuhan tersebut dilihat sebagai suatu intervensi ilahi yang menuntut adanya korban sebagai sarana pendamain. Dari ritus pengorbanan kepada kambing hitam yang berhubungan dengan sesuatu yang suci (violence is the heart of sacred) tampak dua hal: pertama, kekerasan dan apa yang suci tidak dapat dibedakan dan dipisahkan, dan kedua, kekerasan adalah dasar dari pelbagai institusi masyarakat, termasuk agama.53 Maka tidak heran agama sangat menjunjung tinggi ritus korban.

Sampai pada titik ini, upaya Girard untuk menyingkap kebenaran di balik tirai ritus keagamaan memberikan sumbangsih baru dalam melihat eksistensi agama. Ia kemudian meninggalkan segala anggapan tradisional yang melihat suatu tindakan ritual sebagai persembahan kepada dewa atau dewi atau yang ilahi untuk mendapatkan ketenangan hidup, hujan untuk membasahi tanaman, terhindar dari gagal panen, penolakan wabah, dan bencana alam. Baginya hanya ada satu alasan dasar yang mendorong tindakan korban, yakni kekerasan internal yang mengacaukan masyarakat, dan tujuan ritus korban untuk memperbaiki hubungan atau mengharmoniskan kembali masyarakat yang kacau akibat kekerasan.54 Akhirnya, lewat penelitiannya akan kekerasan yang berdasar pada hasrat mimemis, Girard tidak menyimpulkan hubungan kekerasan dan agama secara religius ataupun teologis, tetapi memberikan kesimpulan

52 Wolfgang Palaver, René Girard’s Mimetic Theory (Michigan: Michigan State University Press, 2013), 304.

53 Sindhunata, Kambing Hitam, 206.

54 Sindhunata, Kambing Hitam, 207.

(15)

15

sosial-fungsional bahwa agama itu diperlukan karena ia adalah lembaga penanganan kekerasan.55

2.2.1. Sebuah Upaya Keberpihakan Kepada Korban

Ritus yang memainkan peranan dalam pemilihan korban harus disadari sebagai sebuah instrumen yang melahirkan narasi-narasi pendukung penganiaya. Oleh karenanya, Jika tidak segera disadari, maka seorang pembaca akan ikut tenggelam dalam pemujaan ritus tersebut, yang akan terus melanggengkan kekerasan sebagai maksud tipuan mendamaikan komunitas. Girard telah menunjukkan kasus-kasus yang selama ini disalahpahami dalam membaca teks dengan bingkai penganiaya: Black Death sebagai ajang pembunuhan orang-orang Yahudi oleh karena tuduhan peracunan sumber air masyarakat,56 pengasingan Oedipus oleh karena pembunuhan ayah dan incest,57 dan masih banyak lagi. Dapat dikatakan bahwa Girard dengan teori kambing hitam berusaha untuk membuka dan menelanjangi (unmasking) ritus dan mitos keagamaan tersebut, dan membaca teks atau kisah dari bingkai korban (victim).

Secara tegas Girard mengatakan bahwa narasi-narasi persekusi yang ditulis dalam balutan penganiaya harus segera ditelanjangi agar teks-teks tersebut tidak selamanya menutupi narasi-narasi ratapan korban.58 Hal inilah yang selama ini diabaikan oleh para penggumul agama dalam kaitannya dengan kekerasan. Kelalaian ini gagal melihat bahwa agama adalah institusi yang melanggengkan kekerasan, dan terlebih terhisap dalam lingkaran kekerasan tersebut. Tidak akan ada pendamaian abadi, tidak akan ada ketenangan abadi, dan tidak akan ada pemulihan abadi karena setiap orang selalu berpotensi terhisap dalam lingkaran kekerasan tersebut. Pertanyaan kemudian adalah apakah mungkin ada yang dapat bebas dari lingkaran kekerasan?

Apakah ada agama yang secara jujur berbelarasa dengan korban? Apakah ada agama yang dapat membebaskan serta merusak lingkaran kekerasan tersebut? Bagaimana ia merusaknya?

2.3. Injil dan Kambing Hitam: Pemutusan Rantai Kekerasan dan Keberpihakan Yesus

55 Sindhunata, Kambing Hitam, 212.

56 Girard, The Scapegoat, 1-2.

57 Girard, The Scapegoat, 25.

58 Girard, The Scapegoat, 8.

(16)

16

Posisi Girard terhadap agama-agama murba59, sebagaimana telah dijelaskan di atas, harus sedikit dikesampingkan ketika seseorang hendak beralih pada penilaian atau pandangan Girard terhadap Kekristenan (khususnya dalam membaca Alkitab).

Banyak ahli seperti Sindhunata, Singgih, Harmakaputra, secara umum menyimpulkan bahwa posisi akhir pemikiran Girard sangat bernada pembelaan terhadap Kekristenan.

Hal ini dapat dirujuk dalam pemahamannya akan agama Kristen sebagai agama yang bebas akan ritus korbani. Artinya eksistensi Kekristenan (struktur, tradisi dan etika) mutlak “menolak untuk terlibat dalam kekerasan”. Kekristenan menjadi agama yang menghancurkan lingkaran kekerasan tanpa diselimuti olehnya.60 Lebih lanjut, Girard mengatakan bahwa Alkitab (PL dan PB) telah memberikan wahyu untuk menyingkapi kekerasan yang memungkinkan seseorang untuk menguraikan apa yang sebenarnya telah dipelajari dalam mengidentifikasi penganiayaan-penganiayaan oleh para penganiaya. 61

Alkitab tidak seperti teks suci lainnya yang menyembunyikan kekerasan dengan tipuan dan hipnotis mitos; terus melanggengkan kekerasan pada korban atau membisukan narasi-narasi ratapan sang korban. Alkitab menantang mitos dan membuka kedok-kedok pelbagai ritus pengorbanan. Willard M. Swartley melihat bahwa perhatian Girard terhadap Alkitab menempatkan kekerasan yang digambarkan secara narasi dalam sudut pandang baru. Wahyu dalam Alkitab mengungkapkan kekerasan pengorbanan dan memungkinkan pembaca untuk mendengar, melihat, dan berpihak pada korban. 62 Ketika pembaca mampu untuk mendengar, melihat, dan berdampingan (berbelarasa) dengan para korban, ia membuka mulut korban yang selama ini ditutup sehingga teriakan korban yang menuntut untuk dibebaskan dari mitos dan ritus pengorbanan terdengar oleh semua orang. Singkatnya, Alkitab adalah sebuah sumber

59 Penulis mengikuti Yewangoe dan Singgih untuk menggunakan istilah murba dari pada istilah primitif yang lebih memberi kesan “positif” terhadap agama-agama tersebut. Lihat Singgih, Korban dan Pendamaian, 32.

60 Sindhunata, Kambing Hitam, 291. Dapat juga dirujuk dalam Singgih, Korban dan Pendamaian, 37-38; Hans Abdiel Harmakaputra, “Between Transcendence and Violence: Gianni Vattimo and René Girard on Violence in a Secular Age,” dalam Contagion: Journal of Violence, Mimemis, and Culture, Vol. 23, No. 1 (Spring 2016), 117-136. Lihat juga buku yang menjadi “pernyataan” posoisi terakhirnya dalam René Girard, I See Satan Fall Like Lightning (Maryknoll: Orbis Books, 2001).

61 Girard, The Scapegoat, 100-101.

62 Willard M. Swartley, “Introduction,” untuk Violence Renounced: René Girard, Biblical Studies, and Peacemaking, ed. Willard M. Swartley (Telford: Pandora Press U.S, 2000), 24.

(17)

17

unik yang melucuti mitologi yang selama ini mengalihkan umat dari realitas yang terbentuk oleh ritus pengorbanan.63

Girard menunjukkan bahwa dalam Perjanjian Lama (PL) ada banyak penyingkapan yang dilakukan. Pernyataan ini dapat dilihat dalam kisah pembunuhan Habel oleh Kain,64 penjualan Yusuf oleh saudara-saudaranya,65 Musa yang dibenci oleh kaumnya,66 Ayub sebagai korban masyarakatnya,67 Hamba Yahwe dalam Kitab Yesaya dan masih banyak lagi. Namun, menurut Girard, PL kurang begitu membuka ritus dan mitos secara penuh. Baginya yang membuka ritus dan mitos serta melucutinya secara terang-terangan adalah Perjanjian Baru, terkhususnya Injil-Injil dalam kisah kehidupan, penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Injil bukan pewahyuan kata-kata tentang kekerasan saja, tetapi pewahyuan faktual dari kekerasan itu sendiri;

menampilkan kekerasan apa adanya, sampai kekerasan tidak dapat menutupi diri dan wajahnya lagi, kecuali menampakkan kebugilannya sebagai kekerasan yang unanim dan satu-satunya.68 Injil juga tidak hanya menelanjangi kekerasan, tetapi juga menjadi saksi bahwa Allah dan Roh Kudus berdiri bersama (stands with) korban yang tidak bersalah yang dinyatakan dalam kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus.69

Yesus adalah satu-satunya manusia yang bebas dari hasrat mimemis, tidak terjangkit dan tidak menyebarkan kekerasan. Dia mendasarkan cinta kasih sebagai dasar pemutus rantai kekerasan, dan sebagai dasar keberpihakan terhadap korban.70 Inilah dasar baru yang diletakkan Yesus untuk membuka seluruh hal-hal yang telah disembunyikan sejak dunia dijadikan. James G. Williams menambahkan bahwa pewahyuan Injil atas korban dengan pendasaran cinta kasih berkisar pada perkataan, kehidupan, dan dalam Yesus sebagai Firman itu sendiri. Pewahyuan itu terfokus pada rencana Allah untuk membentuk sebuah komunitas kasih dan suka cita (love and joy) – esensi kerajaan Allah – dan sekaligus membatalkan serta menghancurkan seluruh

63 Ted Grimsud, “Scapegoating No More: Christian Pacifism and New Testament Views of Jesus’

Death,” dalam Violence Renounced (Telford: Pandora Press U.S, 2000), 51.

64 Lihat Girard, Violence and the Sacred, dan lihat juga, Daniel K. Listijabudi, Tragedi Kekerasan:

Menelusuri Akar dan Dampaknya dari Balada Kain-Habel (Yogyakarta: Penerbit Taman Pustaka Kristen, 1997).

65 René Girard, I See Satan, 107-116.

66 James G. Williams, “Foreword,” untuk I See Satan Fall Like Lightning, oleh René Girard (Maryknoll: Orbis Books, 2001), xx.

67 Lihat Girard, Job, the Victim of His People.

68 Sindhunata, Kambing Hitam, 253.

69 René Girard, The Girard Reader, viii.

70 René Girard, Things Hidden Since the Foundation of the World (Kalifornia: Stanford University Press, 1987), 276.

(18)

18

hasrat mimemis. Pembukaan kekerasan dan keberpihakan kepada korban kemudian menjadi dasar cara beragama baru yang mematahkan dan menolak seluruh tradisi korbani.

Oleh karenanya, Hermeneutik dari perspektif kambing hitam kemudian dimaknai sebagai suatu upaya memahami; mendengar narasi korban dan mengungkapkan pelbagai ketidakadilan terhadap korban yang selama ini dilegitimasi oleh para penganiaya. Ia menggali motif di balik pemilihan korban dan motif tindakan korbani. Lewat penelanjangan kekerasan, hermeneutik dari perspektif kambing hitam menciptakan suatu ruang untuk korban dan pembaca teks dapat bertemu, sehingga melahirkan suatu pembacaan yang membebaskan. Korban tidak lagi dilihat sebagai objek yang dapat dibungkam tetapi sebagai subjek yang mempunyai hak untuk menarasikan kehidupannya sendiri.

2.4. Langkah-Langkah Studi Hermeneutik dari Perspektif Kambing Hitam

Adapun langkah-langkah yang digunakan penulis untuk melakukan studi hermeneutik kambing hitam terhadap teks Yohanes 7:53-8:11, yakni: Pertama, melihat latar belakang teks. Pada tahap ini penulis mencoba menggali mekanisme kambing hitam yang telah berakar di dalam kebudayaan Yahudi. Kedua, menganalisis relasi antara korban dan pelaku (persecutors) dalam teks dengan memperhatikan mekanisme pemilihan korban dan mekanisme pembunuhan korban tunggal. Pada tahap ini, penulis ditolong untuk melihat relasi dan arah pemilihan korban dalam teks. Ketiga, mengusulkan tahap-tahap pembacaan teks yang berpihak terhadap korban, dan merelevansikan hasil temuan terhadap sikap gereja dalam melihat orang-orang tertindas, termasuk para pelacur.

3. Sebuah Upaya Menafsir Yohanes 7:53-8:11

Setelah memberikan landasan teori kambing hitam pada bagian dua, kini penulis akan berusaha membaca teks menggunakan perspektif kambing hitam dengan penjabaran sebagai berikut: Pertama, penulis akan mengurai latar belakang Injil Yohanes sebagai sebuah pintu masuk untuk penafsiran teks. Kedua, penulis akan melakukan penafsiran terhadap teks dengan memerhatikan mekanisme pemilihan dan pengorbanan kambing hitam.

(19)

19

3.1. Memahami Latar Belakang Teks Sebagai Sebuah Pintu Masuk Penafsiran 3.1.1. Latar Belakang Injil Yohanes

Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian pendahuluan, Injil Yohanes memiliki sumber yang independen dan oleh karenanya Injil ini berbeda dengan Injil- Injil Sinoptik. Misalnya, dalam Injil Sinoptik alur perjalanan Yesus dimulai dari Galilea menuju ke Yerusalem, tetapi Injil Yohanes menggambarkan alur perjalanan Yesus yang bolak-balik beberapa kali antara Galilea-Yerusalem. Selain itu, terdapat salah satu perbedaan yang khas antara Injil Sinoptik dan Injil Yohanes, yakni jika Injil Sinoptik menekankan tentang pewartaan kerajaan Allah atau pemerintahan Allah, Injil Yohanes justru menekankan tentang entitas Yesus itu sendiri. Setiap pewartaan Injil Yohanes menegaskan bahwa Yesus adalah Anak Tunggal Allah yang menyatakan Allah.71

Injil ini dapat dibagi dalam tiga bagian besar, yakni pelayanan umum Yesus (pasal 1-12), bagian khusus tentang pengajaran kepada para murid (pasal 13-17), dan kisah penderitaan dan kebangkitan Yesus (18-20). Elisabeth Schüssler Fiorenza menambahkan bahwa pasal 21 kemungkinan ditambahkan oleh seorang penyunting akhir, yang penjelasannya terus mengalami perdebatan.72 Lebih lanjut, Berdasarkan narasi-narasi Injil Yohanes (9:22; 12:42; 16:2), kemungkinan besar komunitas Injil Yohanes mengalami pelbagai penganiayaan dan kesulitan. Riyadi mengatakan bahwa kemungkinan situasi kritis tersebut muncul karena pengusiran jemaat Kristen dari Sinagoge Yahudi yang disebabkan oleh iman mereka akan Yesus. Oleh karenanya narasi-narasi dalam Injil ini bertujuan meneguhkan iman jemaat Kristen yang menderita akibat pengusiran tersebut lewat kehidupan kekal dalam Yesus (20:31).73

Injil Yohanes kemungkinan ditulis oleh seorang yang berasal dari komunitas Yohanian yang hidup pada masa kemudian. John Drane mengidentifikasi bahwa meskipun dikatakan pangarang Injil ini adalah Rasul Yohanes, murid yang dikasihi Yesus, nampaknya murid itu hanya digunakan sebagai tokoh ideal yang melambangkan

71 Yusak B. Setyawan, Pengantar Untuk Studi Hermeneutik perjanjian Baru (Salatiga: Fakultas Teologi UKSW, 2015), 100.

72 Penulis memilih untuk tidak menjelaskannya di sini, karena membutuhkan penjelasan yang lebih panjang dan mengingat juga konsentrasi khusus tulisan ini. Lihat Elisabeth Schüssler Fiorenza, Untuk Mengenang Perempuan Itu: In Memory of Her: Rekonstruksi Teologis Feminis tentang Asal-usul Kekristenan, ed. Stephen Suleeman (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), 420.

73 Riyadi, Yohanes, 34.

(20)

20

pengikut sejati Kristus.74 Lebih lanjut, pengarang Injil Yohanes tidak memberikan serangan terhadap orang-orang Yahudi karena kemunafikan mereka, tetapi pada penolakan dan usaha mereka untuk membunuh Yesus. Yohanes juga tidak lagi terfokus pada masalah hukum Taurat yang menjadi pegangan orang Yahudi, tetapi penggenapan hukum Taurat dalam diri Yesus yang mewujud dalam pembangunan Perjanjian Baru antara Allah dan manusia yang berlandaskan cinta kasih.75 Hal ini dapat ditemukan dalam narasi-narasi Yesus kepada para murid untuk hidup dalam damai (13:34-35;

15:17). Oleh karena itu, menjadi tidak berlebihan jika Injil ini disebut sebagai Injil cinta kasih.

3.1.2. Logos dalam Injil Yohanes: Penelanjangan Kekerasan dan Pendasaran Cinta Kasih

Logos76 dalam pembukaan Injil Yohanes (Yoh. 1:1) menjanjikan sebuah pemaknaan khusus yang membedakan dirinya dari Injil-Injil Sinoptik dan juga alam berpikir Yunani. Kedudukannya yang banyak dipengaruhi pemikiran Yunani, membuat para penafsir harus menciptakan ruang tersendiri untuk memahaminya dari pada menghubungkannya secara langsung dengan Injil-Injil Sinoptik.77 Begitu juga pembahasan mengenai Logos pada dirinya sendiri – identitas Yunaninya. Sebab bagi Girard, Logos Yohanes tidak tenggelam dalam peradaban kekerasan seperti yang terjadi pada “Logos Yunani”. Logos Yohanes lebih lanjut menjadi kunci dasar untuk memahami Injil Sinoptik, dan seluruh bagian Alkitab sebagai sebuah karya penelanjangan kekerasan yang subtil dalam kebudayaan manusia.78

Pemaknaan akan Logos yang berbeda (yang tidak dikenal serta ditolak), menjadi jalan masuk untuk memahami Injil Yohanes secara holistik; karakteristik cerita, dan

74 John Drane, Memahami perjanjian Baru: Pengantar Historis Teologis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 226. Oleh karena penulis harus membatasi diri pada fokus utama, maka penjelasan ini tidak akan dibahas lebih lanjut.

75 Riyadi, Yohanes, 37.

76 Penulis menolak untuk menerjemahkan kata Logos ke dalam bahasa Indonesia seperti yang dilakukan TB-LAI menjadi Firman, dikarenakan dalam bagian ini penulis hendak mengemukakan kekhasan Logos Yohanes yang memisahkan dirinya dari alam berpikir Yunani. Adapun Kamus Yunani- Indonesia Untuk Perjanjian Baru menerjemahkan kata Logos sebagai perkataan, firman, dan ajaran.

77 Untuk pembahasan lebih detail lihat Groenen, Pengantar, 143-168; Willi Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis Terhadap Masalah-Masalahnya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2014), 310-322; John Drane, Memahami Perjanjian Baru, 220-226; dan buku-buku penafsiran Injil Yohanes lain yang relevan.

78 Girard, Things Hidden, 278.

(21)

21

esensi pemberitaan.79 Sebab, penolakan yang berakhir pada penyaliban Yesus memberikan makna akan kehidupan dan kebangkitan sebagai keberpihakan kepada korban. Ia menelanjangi kekerasan dengan tidak terjangkit padanya. Kasih kemudian menjadi resistensi dasar untuk pembebasan tersebut; pembebasan akan kekerasan yang terus menjangkit dalam suatu bingkai korbani, yang memakai topeng pendamaian.

Oleh karenanya, pembacaan bagian-bagian (pasal-pasal) Injil Yohanes harus dimulai dalam bingkai pembebasan Allah melalui Yesus sang Logos kepada korban dengan tidak masuk dalam rantai kekerasan. Melalui pembacaan ini, pembaca mampu untuk memahami relasi kesengsaraan Yesus dengan korban sebagai situs pembebasan, dan perayaan kemanusiaan yang selama ini di-dehumanisasikan oleh hasrat korbani.

3.1.2.1. Injil dan Agama Yahudi

Logos Yohanes sebagai situs pembacaan menjadi jalan masuk untuk melihat praksis keagamaan Yahudi.80 Girard menjelaskan, sama seperti agama-agama non- Kristen, agama Yahudi dibangun di atas mekanisme kambing hitam. Sebab, bukan kasih, tetapi pengorbanan sang liyanlah yang menjadi dasar kehidupan bersama. Karena bagi masyarakat Yahudi, kekerasan dan kematian itu sangat diperlukan untuk memulihkan tatanan masyarakat mereka.81 Hal ini dapat dilihat dalam teks yang menerangkan bahwa orang-orang Farisi yakin bukan mereka yang telah membunuh para nabi, melainkan mereka hanyalah keturunan dari para pembunuh nabi. Tetapi, menurut Girard, justru dengan itu mereka menyatakan kembali tindakan yang dilakukan oleh leluhur mereka: menolak, meski melakukan kekerasan. Penyangkalan diri akan keterlibatan dalam pembunuhan itulah yang menjadi kekhasan mental orang-orang Farisi.82 Lebih lanjut dapat dilihat dalam penggunaan hukum Musa sebagai instrumen pencapaian kedamaian yang berdasarkan kekerasan; hukum mata ganti mata, gigi ganti gigi, dan hukum rajam. Semua itu tidak dilakukan semata-mata untuk pelaksanaan hukum Musa, tetapi sebagai sarana pendamaian yang semu. Oleh karena itu, ketika Yesus hendak menjernihkan hukum Musa, Ia dikecam, dibenci, bahkan dibunuh.

79 Girard, Things Hidden, 275.

80 Meskipun sub-bagian ini lebih tepat digabungkan pada sub-penjelasan bagian 2.2, tentang kambing hitam sebagai upaya penjinakan kekerasan oleh agama, tetapi demi keperluan penafsiran, penulis memilih menuliskannya pada bagian ini.

81 Sindhunata, Kambing Hitam, 262.

82 Sindhunata, Kambing Hitam, 240-241.

(22)

22

Yesus menerangi gelapnya kehidupan Yahudi melalui tindakan penjernihan hukum. Ia melakukannya tidak dengan tindakan korbani, tetapi dengan kasih. Ia, dengan demikian, mengajak untuk melihat segala tindakan pembunuhan atas nama Allah sebagai sebuah tindakan pencarian dan pembunuhan kambing hitam. Oleh karena itu, segala tindakan rekonsiliasi-korbani orang Yahudi harus dibaca dalam bingkai pemulihan kedamaian yang korbani.

3.2. Sebuah Upaya Memahami Yohanes 7:53-8:11

3.2.1. Perempuan yang Ringkih83: Pemilihan Perempuan Bukan Laki-Laki Sebagai Korban

Pagi itu keadaan yang teduh di Bait Allah tiba-tiba menjadi mencekam karena penggiringan perempuan yang kedapatan berzinah oleh ahli-ahli Taurat dan orang- orang Farisi. Penggiringan ini tentunya menarik perhatian banyak orang, termasuk mereka yang sedang mengajar dan belajar bersama di Bait Allah, untuk menghampiri, menanggapi dan menjadi “algojo” terhadap perempuan tersebut. Pasalnya menurut hukum Taurat, pasangan yang kedapatan berzinah harus digiring ke depan umum untuk segera dijatuhkan hukuman mati (Im. 20:10 dan Ul. 22:22-24). Namun, dalam keadaan yang mencekam tersebut terdapat sebuah kejanggalan besar yang patut dilihat, yakni absennya laki-laki (pasangan perempuan tersebut) dalam penggiringan menuju penghukuman.

Meskipun tidak diceritakan penyebab perempuan tersebut digiring seorang diri, nampaknya pemilihan korban tunggal tersebut bukan hal yang tak disengaja. Dari teks dapat dilihat bahwa perempuan itu telah kedapatan berbuat zinah atau tertangkap basah berzinah (ay. 3-4), selain itu kata yang digunakan dalam bahasa Yunani untuk mengidentifikasi perempuan tersebut adalah moicei,a| yang dapat diterjemahkan sebagai hubungan seksual antara seseorang yang menikah dengan seseorang yang bukan suami atau istrinya.84 Sehingga (seharusnya) tidak ada alasan untuk menggiring perempuan seorang diri. Maka dengan melihat ini, dapat dipahami bahwa tidak

83 Ringkih adalah kata dalam bahasa Jawa yang sering dimaknai sebagai kerapuhan, dan tidak kuat. Sehingga “perempuan yang ringkih” dapat dimaknai sebagi perempuan yang rapuh, tidak kuat, sehingga mudah untuk dipolitisasi.

84 Imelda, Menelaah Keberpihakan Yesus Terhadap Perempuan Korban Kepentingan Penguasa: 56.

(23)

23

mungkin pemilihan korban tunggal bukan karena ketidaksengajaan, melainkan karena keperluan atau faktor lain di balik penggiringan tersebut.

Teks memberikan informasi bahwa maksud penggiringan ini yaitu semata-mata bertujuan untuk menjebak Yesus dengan meminta pendapat (pemahaman atau tafsir Yesus) tentang hukum rajam yang harus dilakukan. Gail R. O’Day dengan mendasari tujuan tersebut memberikan kesimpulan bahwa sang perempuan oleh karenanya hanya menjadi objek yang dieksploitasi untuk tujuan asali orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Dia tidak dilihat pertama-tama sebagai seorang yang telah melanggar Taurat Musa, tetapi sebagai objek untuk kepentingan pribadi mereka.85 Namun, penjelasan atas alasan tersebut tidak menyelesaikan masalah tentang ketidakhadiran laki-laki, dan kenapa bukan dia yang digiring. Apakah semata-mata hanya karena digunakan sebagai sarana ataukah terdapat maksud atau makna lain dari pemilihan. Atau mungkin dapat dicurigai, meskipun sumber dari teks sangat tidak memadai, bahwa barangkali laki-laki yang terlibat dalam perzinahan tersebut adalah salah satu dari orang banyak itu, mungkin orang-orang Farisi dan mungkin juga ahli-ahli Taurat.86

Menurut penulis, dengan mempertimbangkan mekanisme pemilihan kambing hitam, pemilihan perempuan seorang diri untuk digiring disebabkan oleh karena tanda korban yang dipikulnya. Perempuan memiliki tubuh yang dengan mudah dapat diobjektivikasi, dipolitisasi, dan dieksploitasi karena mengingat posisinya sebagai subaltern87; voiceless, dan powerless di dalam dunia patriakal. Jika mengingat kisah Sodom dan Gomora dimana Lot ingin menukarkan kedua anak perempuannya sebagai korban pengganti kepada para lelaki Sodom yang ingin “memperkosa” tamu-tamu Lot (Kej. 19:5-8), dan juga kisah pemilik rumah yang ingin menyelamatkan tamunya (baca:

Lewi dan gundiknya) dengan hendak menukarkan anak perempuannya, dan juga penyelamatan diri Lewi dari orang-orang yang ingin memperkosanya dengan

85 Gail. R. O’Day, “John 7:53-8:11: A Study In Misreading,” dalam The Women’s Bible Commentary, ed. C. A. Newsom dan S.H. Ringe (Louiseville: Westminster John Knox Press, 1998), 632.

86 Kecurigaan ini timbul dari analisis penulis akan relasi kekuasaan yang terjadi antara perempuan tersebut dan laki-laki yang barangkali adalah salah satu di antara orang-orang Farisi atau ahli-ahli Taurat. Oleh karena kuasa yang dimiliki dan tendensi tindakan yang represif terhadap sang perempuan, maka perempuan itu tetap menutup identitas laki-laki tersebut. Namun, karena keterbatasan penulis dan sumber teks yang tidak memadai, maka penulis memilih untuk tidak melangkah lebih jauh dalam kecurigaan ini.

87 Subaltern digunakan oleh Gramci untuk menyebut orang-orang yang tertindas. Pengertian ini agak inkonsisten dengan makna asalinya yaitu istilah militer yang dipakai untuk menyebut perwira- perwira di bawah para kapten. Lihat Ania Loomba, Kolonialisme/ Pascakolonialisme: Colonialism/

Postcolonialism, ed. Hartono Hadikusumo (Yogyakarta: Narasi-Pustaka Promethea, 2016), 77.

Referensi

Dokumen terkait