• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perihal Hukum Lafadz ‘ َﻦْﻴَـﺑ’

Q. Perkara-perkara yang Melatar Belakangi Sujud Sahwi dan yang Berhubungan dengannya

4. Menjatuhkan rukun fi’li disertai keraguan

Maksudnya, sebab sujud sahwi keempat adalah menjatuhkan rukun fi’li disertai ragu menambahi, misalnya; musholli mengalami keraguan saat ia berada di rakaat ketiga dalam sholat rubaiah (Dzuhur, Ashar, Isyak), apakah ia telah melakukan 3 rakaat sedangkan ia hendak menambahi satu rakaat sebagai rakaat keempat atau apakah ia telah melakukan 4 rakaat sedangkan ia hendak menambahi satu rakaat sebagai rakaat kelima, kemudian ia meyakinkan dirinya, ia berdiri dan melakukan satu rakaat, setelah ia berdiri tegak, di tengah-tengah satu rakaat itu dan sebelum salam, ia baru ingat kalau rakaat yang sedang dilakukannya itu adalah rakaat keempat, maka ia disunahkan melakukan sujud sahwi karena rukun-rukun yang telah ia lakukan dalam satu rakaat tersebut sebelum ia ingat mengandung kemungkinan kalau rukun-rukun tersebut termasuk dari rakaat kelima atau dari rakaat keempat. Berbeda apabila sebelum berdiri tegak untuk menambahi satu rakaat, musholli ingat kalau rakaat yang ia ragukan itu adalah rakaat keempat maka ia tidak bersujud sahwi karena rukun-rukun dari rakaat yang diragukan itu tidak mengandung unsur menambahi sebab rukun-rukun tersebut sudah pasti termasuk dari rakaat, baik saat itu ia sedang dalam rakaat ketiga atau keempat.

) عوﺮﻓ ( ﻮﻟ ﻚﺷ ﺪﻌﺑ ﻪﻣﻼﺳ ﰲ كﺮﺗ ضﺮﻓ ﲑﻏ ﺔﻴﻧ ةﲑﺒﻜﺗو ماﺮﺣﻹا ﱂ ﺮﺛﺆﺗ نﻷ ﺮﻫﺎﻈﻟا

عﻮﻗو ةﻼﺼﻟا ﻦﻋ مﺎﲤ ﻩﻮﻬﺳو لﺎﺣ ﻪﺗوﺪﻗ نﺄﻛ ﺎﻬﺳ ﻦﻋ ﺪﻬﺸﺘﻟا لوﻷا ﻪﻠﻤﳛ مﺎﻣﻹا ﺎﻤﻛ

ﻞﻤﳛ ﺮﻬﳉا ةرﻮﺴﻟاو ﺎﳘﲑﻏو يأ ﻼﻓ دﻮﺠﺳ ﻪﻴﻠﻋ ﻮﻠﻓ ﻦﻇ ﻪﻣﻼﺳ ﻢﻠﺴﻓ نﺎﺒﻓ فﻼﺧ ﺎﻣ

ﻪﻨﻇ ﻪﻌﺑﺎﺗ ﰲ مﻼﺴﻟا ﻻو دﻮﺠﺳ نﻷ ﻩﻮﻬﺳ ﰲ لﺎﺣ ﻪﺗوﺪﻗ ﻮﻟو ﺮﻛذ ﰲ لﺎﺣ ﻩﺪﻬﺸﺗ كﺮﺗ

ﻦﻛر ﲑﻏ ﺔﻴﻧ وأ ةﲑﺒﻜﺗ ﻰﺗأ ﺪﻌﺑ مﻼﺳ ﻪﻣﺎﻣإ ﺔﻌﻛﺮﺑ نﺄﻛ كﺮﺗ ةﺪﺠﺳ ﻦﻣ ﲑﻏ ةﲑﺧﻷا ﻻو

ﺪﺠﺴﻳ نﻷ ﻩﻮﻬﺳ ﰲ لﺎﺣ ﻪﺗوﺪﻗ

[CABANG]

Apabila setelah salam sholat, seseorang ragu tentang meninggalkan suatu kefardhuan selain niat dan takbiratul ihram, maka sholatnya tetap sah karena menurut keadaan dzohir-nya, sholatnya telah selesai.

Lupa yang terjadi di saat musholli berqudwah (menjadi makmum), misalnya; musholli lupa melakukan tasyahud awal yang ditanggung oleh imam sebagaimana imam menanggung membaca keras, membaca Surat, dan lain-lain, maka tidak perlu melakukan sujud sahwi.

Apabila makmum menyangka (dzon) kalau imam-nya mengucapkan salam, kemudian makmum mengucapkan salam, ternyata sangkaannya salah, maka makmum mengikuti imam dalam salam dan makmum tidak perlu sujud sahwi karena lupa yang dialaminya terjadi pada saat ia masih berqudwah kepada imam.

Apabila pada saat tasyahud, musholli ingat kalau ia meninggalkan satu rukun selain niat atau takbiratul ihram, maka setelah salamnya imam, ia menambahi satu rakaat, semisal ia meninggalkan satu sujud yang bukan sujud terakhir, dan ia tidak perlu sujud sahwi karena lupanya terjadi pada saat ia bermakmum (qudwah) kepada imam.

فﻼﲞ

Beda halnya dengan lupa yang terjadi sebelum menjadi makmum (qudwah), misal; musholli munfarid (sholat sendirian) telah meninggalkan satu rukun selain niat atau takbiratul ihram karena lupa, kemudian di tengah sholatnya, ia bermakmum kepada imam, maka imam tidak dapat menanggung rukun yang ditinggalkan makmum tersebut sebab lupanya makmum terjadi sebelum ia bermakmum kepada imam. Maka, ia nanti bersujud sahwi.

Begitu juga dengan lupa yang terjadi setelah menjadi makmum (qudwah) semisal ia lupa melakukan satu rukun setelah

salamnya imam, baik makmum tersebut masbuk atau muwafik, maka ia dianjurkan melakukan sujud sahwi karena lupanya terjadi setelah selesainya qudwah. Oleh karena ini, apabila makmum masbuk mengucapkan salam karena mengikuti salamnya imam, lalu masbuk ingat kalau sholatnya seharusnya belum selesai, maka ia meneruskan sholatnya itu jika memang antara salamnya dan memulai meneruskan sholat tidak terpisah waktu yang lama, dan ia nanti melakukan sujud sahwi karena lupanya terjadi setelah ia selesai menjadi makmum (qudwah).

Sama halnya dianjurkan sujud sahwi, apabila makmum masbuk melakukan salam secara bersamaan dengan salamnya imam, kemudian makmum ingat kalau dirinya telah meninggalkan satu rukun, maka ia bersujud sahwi karena lupanya makmum, meskipun terjadi pada saat qudwah, tetapi qudwahnya tersebut telah dirusak oleh persiapan makmum memulai melakukan salam.

Disamakan dengan lupanya makmum adalah lupanya imam dan kesengajaan imam sebagaimana imam menanggung lupanya makmum, baik imam lupa sebelum makmum bermakmum kepadanya atau imam lupa pada saat makmum sedang bermakmum kepadanya. Oleh karena itu, apabila imam melakukan sujud karena lupa maka makmum wajib mengikuti sujudnya imam meskipun imam tidak tahu kalau dirinya itu lupa, bahkan apabila imam hanya melakukan satu sujud saja (baik karena lupa atau sengaja), maka makmum tetap wajib mengikuti imam, dan makmum nanti melakukan sujud kedua setelah salamnya imam karena apabila makmum tidak mengikuti imam maka sholatnya menjadi batal.

Apabila makmum masbuk bermakmum kepada imam yang lupa melakukan sujud yang mana lupanya imam tersebut terjadi setelah makmum bermakmum kepada imam atau sebelum bermakmum kepadanya, maka makmum tersebut melakukan sujud bersamaan dengan imam, kemudian makmum bersujud di akhir sholatnya karena akhir sholat adalah tempatnya sujud sahwi, dan apabila imam tidak bersujud dan ia mengucapkan salam maka makmum masbuk melakukan sujud di akhir sholatnya agar menambal kekurangan sholatnya sebab lupanya imam.

لﺎﻗ ﱘﺮﻜﻟاﺪﺒﻋ ﺎﻣأ

ﻮﻟ مﺎﻗ ﻪﻣﺎﻣإ ﺔﺴﻣﺎﳋ ًﺎﻴﻫﺎﺳ ﻪﻧﺈﻓ ﻊﻨﺘﳝ ﻰﻠﻋ مﻮﻣﺄﳌا ﻪﺘﻌﺑﺎﺘﻣ ﻮﻟو نﺎﻛ

ًﺎﻗﻮﺒﺴﻣ ﻮﻫو ﲑﳐ ﲔﺑ ﻪﺘﻗرﺎﻔﻣ ﻢﻠﺴﻴﻟ ﻩﺪﺣو ﻩرﺎﻈﺘﻧاو ﻢﻠﺴﻴﻟ ﻪﻌﻣ ﻞﳏو بﻮﺟو ﻪﺘﻌﺑﺎﺘﻣ ﰲ

دﻮﺠﺴﻟا ﺎﻣ ﱂ ﻦﻘﻴﺘﻳ مﻮﻣﺄﳌا ﻂﻠﻏ ﻪﻣﺎﻣإ ﻻإو ﻼﻓ ﻪﻌﺒﺘﻳ نﺄﻛ ﺪﺠﺳ كﱰﻟ ﺮﻬﳉا وأ ةرﻮﺴﻟا

ﻰﻬﺘﻧا

Abdul Karim berkata, “Apabila imam telah berdiri pada rakaat kelima karena lupa maka makmum dilarang mengikuti imam meskipun makmum tersebut adalah makmum masbuk, tetapi ia diperkenankan untuk memilih antara berniat mufaroqoh (memisah dari qudwah) agar bisa mengucapkan salam sendirian atau menunggu imam agar ia bisa mengucapkan salam bersamanya. Kewajiban makmum untuk mengikuti imam dalam sujud sahwi adalah selama makmum tidak meyakini kesalahan imamnya, apabila makmum meyakininya maka ia tidak wajib mengikuti imamnya, seperti; imam melakukan sujud sahwi karena tidak membaca keras atau tidak membaca Surat.”

دﻮﺠﺳو ﻮﻬﺴﻟا نإو ﺮﺜﻛ ﻮﻬﺴﻟا نﺎﺗﺪﺠﺳ ﺔﻴﻨﺑ

دﻮﺠﺳ ﻮﻬﺴﻟا ﻦﻣ ﲑﻏ ﻆﻔﻠﺗ ﺎ ﻮﻠﻓ

ﺪﺠﺳ ﻼﺑ ﺔﻴﻧ وأ ﻆﻔﻠﺗ ﺎ ﺖﻠﻄﺑ ﻪﺗﻼﺻ ﻢﻌﻧ مﻮﻣﺄﳌا ﻻ جﺎﺘﳛ ﱃإ ﺔﻴﻧ ﻪﺘﻴﻌﺒﺘﻟ مﺎﻣﻺﻟ ﻪﻠﳏو

ﻞﻴﺒﻗ مﻼﺴﻟا ءاﻮﺳ ﰲ ﻚﻟذ ﻢﻜﳊا ﻮﻬﺴﻟا ةدﺎﻳﺰﺑ مأ ﺺﻘﻨﺑ مأ ﺎﻤ

Meskipun lupa terjadi lebih dari satu kali, sujud sahwi tetap hanya dilakukan sebanyak dua kali sujud dengan niatan sujud sahwi tanpa melafadzkan niatnya. Jadi, apabila musholli bersujud sahwi tanpa berniat sujud sahwi atau ia melafadzkan niatnya maka sholatnya menjadi batal. Bagi musholli yang sebagai makmum, ia tidak perlu berniat sujud sahwi karena ia mengikuti imam. Tempat dilakukannya sujud sahwi adalah sebelum salam, baik lupa yang dialami musholli adalah lupa menambahi (seperti; rukun) atau lupa mengurangi, atau lupa menambahi dan mengurangi.

لﺎﻗ ﺪﺒﻋ ﺰﻳﺰﻌﻟا ﰲ ﺢﺘﻓ ﲔﻌﳌا ﺎﳘو سﻮﻠﳉاو ﺎﻤﻬﻨﻴﺑ

دﻮﺠﺴﻛ ةﻼﺼﻟا

سﻮﻠﳉاو ﲔﺑ

ﺎﻬﻴﺗﺪﺠﺳ ﰲ

ﺎ ﺎﺒﺟاو ﺎ ﺎﺑوﺪﻨﻣو ﺮﻛﺬﻟﺎﻛ

ﺎﻬﻴﻓ