Tujuan
Kamu dapat menyimpulkan tema dan mendata latar-latar yang ada dalam cuplikan cerpen. Kamu pun dapat menjelaskan karakter tokoh dalam cuplikan cerpen.
"Dengan bakti sosial, kita tingkatkan kepedualian kepada sesama", boleh jadi itu poster yang pernah kamu buat? Pernyataan seperti itu sebenarnya merupakan tema kegiatan yang kemudian dipampang di tempat umum dan jadilah sebagai suatu poster.
Tidak hanya kegiatan yang memiliki tema, novel pun dan karangan- karangan lainnya pun pasti memilikinya. Tema merupakan salah satu unsur di dalam cerita di samping latar, penokohan, alur, dan amanat.
Setelah mempelajari alur dan penokohan dalam bab terdahulu, dalam pelajaran ini kamu akan diajak mempelajari lebih jauh tentang tema dan latar.
1. Tema
Tema adalah gagasan yang menjalin struktur isi cerita. Tema suatu cerpen menyangkut segala persoalan, baik itu berupa masalah kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, dan kecemburuan.
Tema antara satu novel mungkin saja isi pokoknya sama. Tema tentang kasih sayang, misalnya. Mungkin kamu pun telah membaca puluhan atau bahkan ratusan cerpen yang bertema ini. Namun cerita-cerita tersebut tetap membuat penasaran kita sebagai pembacanya. Novel-novel itu selalu menarik karena tema itu digarap dari sudut pandang yang berlainan. Walapun temanya itu sama-sama tentang kasih sayang, mungkin saja yang satu digarap dari sudut pandang seorang anak, ibu, nenek, bibi, pacar, dan berbagi sudut pandang lainnya.
Perhatikan cuplikan berikut.
Cerita 1
"Kak, kenapa kaki Riri sulit untuk digerakkan? Riri, kan, mau main bersama teman-teman," keluh Riri kepada kakaknya.
"Kaki Riri kan masih sakit. Jadi, pantas kalau kakinya sulit untuk digerakkan. Nanti tak lama lagi juga kaki Riri sembuh," jawab Andika berbohong.
Kata dokter yang menangani Riri, kaki Riri akan sangat sulit untuk disembuhkan. Satu-satunya cara untuk dapat mengobati kaki Riri adalah dengan terapi yang biayanya tidak sedikit. Itu pun kemungkinan untuk sembuh sangat kecil.
"Kakak kerja dulu, hati-hati, ya!" pesan Andika kepada adiknya. Setiap hari Andika bekerja keras untuk dapat mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Yang ada di benaknya adalah bagaimana mencari uang sebanyak mungkin untuk mengobati Rin.
"An, ayo kita istirahat!" ajak Tono teman kerjanya, "Kamu tidak capek mengantar barang ke sana kemari?"
"Saya tidak peduli dengan rasa capek karena saya harus dapat mengumpulkan uang secepatnya. Riri harus segera sembuh," jawab Andika sambil mengusap keringatnya.
Setiap sehabis salat, Andika selalu berdoa untuk keselamatan adiknya. Dia selalu berharap ada keajaiban di dalam hidupnya.
"Kak, kapan kaki Riri sembuh. Tahun depan, kan, Riri mau masuk sekolah dasar?" kembali Riri bertanya dengan pertanyaan yang sama setiap hari.
"Riri sabar, ya! Riri, tadi Kakak bertemu dengan Dokter Haris. Katanya Kamu harus diterapi biar cepat sembuh. Riri mau kan menjalani terapi?"
Sumber: "Keajaiban Tuhan", Riska Irnawati.
Cerita 2
"Memangnya kamu lagi latihan menyanyi?" tanya mamanya. "Iya, Ma. Kan Diana terpilih untuk ikut festival nyanyi mewakili sekolah. Diana disuruh berlatih di rumah," jawab Diana.
"Ohh ... begitu? Baik, kalau begitu. Nanti mama bantu kamu. Mama nanti sampaikan kepada Papa suapaya ia belikan baju yang pantas untuk kamu," kata mamanya membesarkan hati Diana.
Dan sejak itulah tim suksesnya jadi lebih lengkap. Andina pun, kini tak marah-marah lagi, bahkan dia pun ikut mendukung Diana berlatih di rumah dan memberi support di sekolah.
Saat latihan terakhir, berdasarkan evaluasi, Diana terpilih sebagai unggulan pertama.
Di sebuah gedung pertunjukan yang cukup mewah, Diana tampil bersama saingan-saingannya dari sekolah lain. Diana mendapat nomor undian untuk tampil pada giliran kelima, sementara Ferty di urutan kesepuluh.
"Tenangkan pikiranmu. Konsentrasikan penuh dan kamu coba tampil maksimal. Kamu jangan gugup oleh banyaknya penonton. Bapak yakin kamu bisa," Pak Yusuf memberi instruksi terakhirnya saat Diana mau tampil. Tepuk tangan riuh rendah saat Diana melantunkan lagu dengan sempurna.
Saat turun dari pentas, Diana disalami pelatih dan guru-guru serta teman-teman yang memberikan support. Malah Bu Rina yang mengurusi kostum dan make up, merangkul dan menciumi Diana.
Ada enam juara yang dipilih dan penyebutannya dihitung mundur, dari juara harapan sampai juara utama. Juara satu. Enam, lima, empat ... tiga ... hingga penyebutan ketiga, nama Diana belum terpanggil juga. Makin tegang saja ketika hingga hitungan dua juga belum disebut. Jangan-jangan gagal jadi juara.
"Dan sebagai juara satunya adalah ... dari SLTP Negeri 3 dengan jumlah skor 847."
Meledaklah tangis Diana dan semua teman-temannya. Lebih-lebih guru-guru tim sukses. Diana berhasil menyabet juara I. Tak sia-sialah hasil jerih payah latihannya. Andina; Kakaknya pun menangis terharu. "Maafkan kakak, Diana! Kamu memang hebat...."
Sumber: "Penyanyi Cilik", Gilang Gumelar P.M.
Kedua cuplikan tersebut sama-sama mengulas tentang kasih sayang. Cuplikan I bercerita tentang kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Adapun Cuplian II tentang kasih sayang ibu dan guru kepada anak atau muridnya. Walapun memiliki tema yang sama, kedua cerita itu tetap menarik karena disajikan dalam sudut pandang yang berbeda.
2. Latar
Latar adalah tempat dan waktu terjadinya peristiwa. Untuk lebih jelasnya perhatikan cuplikan cerita berikut.
Cerita 1
Menjelang hari raya ini aku terbaring di rumah sakit. Dari jendela kamar rumah sakit yang kudiami aku bisa melihat keluar dengan jelas. Hujan menderas, manusia-manusia menepi pada kesunyian, lagu hujan, lagu keleneng becak. Di ruangan ini, aku cuma berdua. Selisih satu ranjang, terbaring seorang perempuan tua. Sendiri. Tak kulihat semenjak aku di sini, seorang pun yang menengoknya, yang mengajaknya bercakap-cakap kecuali dokter dan perawat yang memeriksanya. Itu pun sesuai jadwal dan sebentar saja
Cerita 2
Menggigil aku berjalan menyusuri perkampungan yang sudah sunyi. Sepupuku, Riri, tampak menarik jaketnya. Ia berjalan agak merapat di sampingku. Kami berdua sangat lelah. Seharian naik bus dan kini kemalaman tiba di Kampung Sekar. Salahnya kami tak sempat mengabari Paman. Beginilah kalau bepergian tanpa rencana matang.
Kulirik sebentar artlojiku. Jam menunjukkan hampir pukul dua belas kurang seperempat. Malam semakin sunyi. Apalagi, jalan yang kami lewati sangat sepi. Hanya ada satu dua rumah penduduk. Perkampungan yang ramai masih agak jauh. Namun, berkas-berkas sinar lampu tampak dari kejauhan. Di sanalah rumah Paman Sukri berada Sumber: "Perjalanan Malam" karya Mas Beng.
Pada cerita "Menjelang Hari Raya", tampaklah latar cerita itu adalah di rumah sakit dan pada saat menjelang hari raya. Adapun cerita "Perjalanan Malam" latarnya adalah di suatu perkampungan yang sunyi. Waktunya pada malam hari.
3. Penokohan
Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Untuk menggambarkan karakter seorang tokoh tersebut, pengarang dapat menggunakan teknik sebagai berikut: a. penggambaran karakter langsung oleh pengarang
Contoh:
Beberapa saat Karjo diam saja di depan setir mobilnya. Pembantu sudah menutup gerbang sehingga ruang garasi itu gelap. Namun, lelaki muda itu belum juga beranjak. Dilonggarkannya dasinya, dia menatap arah pembantu dengan muka merah. Bibirnya bergetar. Dia ini orang yang tidak sabar.
Sumber: Novel Istana Terindah karya F. Muhammad N, Bandung: Pustaka Budaya, 2007.
b. penggambaran karakter secara tidak langsung atau penggambaran oleh tokoh lain
Contoh:
"Tunggu sebentar," tegur Ruben kepada kawannya.
"Kamu harus menggergaji dulu ujung papan itu sebelum memasangnya."
"Ah, kamu ini menjengkelkan dan sok tahu. Bukankah sebelum memotong kayu ini, gergajinya harus dikikir dulu," ujar dia.
Lalu, kawan Ruben itu pergi mencari kikir untuk menajamkan gergaji. Namun kemudian, sebelum menggunakan kikir itu, Ruben menyuruhnya lagi membuat pegangan kikirnya. "Memuakkan kau ini, Ruben!" gumam kawannya.
c. penggambaran karakter melalui gerak-gerik dan tingkah laku tokoh Contoh:
Sesampainya di kantor, Barli malah termenung di bangku menghadap ke arah jendela. Orang lain di ruang sebelahnya lalu lalalang dengan kesibukannya. Wajah Barli tersorot sinar lampu dari atas langit-langit ruang kerjanya. Satu orang stafnya asyik di depan komputer sambil merokok. Tidak lama, datang seseorang bernama Husen, melepas kacamatanya, dan sebuah pensil terselip di balik daun telinganya
Sumber: Cerita "Pada Sebuah Kantor" karya Hetti Restianti, Bandung Pustaka Budaya, 2007.
Pengalaman Belajar
1. Mintalah 1-2 orang temanmu untuk membacakan cuplikan novel di bawah ini. Simaklah dengan baik pembacaan cuplikan novel tersebut. Kemudian secara berkelompok, tentukanlah tema dan latarnya. 2. Presentasikan pendapat kelompokmu di depan kelas untuk mendapat
tanggapan dari teman-temanmu!
Selasa, 21 April tiga bulan lalu, tepat sembilan belas. Tidak ada acara apa-apa, kecuali lepas sembahyang isya bersama keluarga melakukan doa syukur.
Semula Ibu mau membuatkan aku nasi tumpeng, sekadar merayakan hari bahagia putri sulungnya. Dan Ayah pun setuju-setuju saja. Kalau orang lain bikin acara tiup lilin, mengundang teman dan kerabat, bahkan ada yang dipestakan dengan biaya berjuta-juta, tak apalah sesekali ramai-ramai sekeluarga makan tumpeng, katanya.
Sesekali. Hanya sekeluarga. Sebab keluarga kami tak punya kebiasaan merayakan ulang tahun. Tidak juga kedua adikku, Resti dan Ikbal. Apalagi Ibu dan Ayah. Bahwa rencana bikin tumpeng akhirnya gagal terlaksana adalah gara-gara Lilis. Begitu pun jika tiba-tiba Ibu berkeinginan membuatkan aku tumpeng. Sama gara-gara wanita mungil berhidung bagus itu.
Ya, semuanya gara-gara dia.
"Teh Eneng kapan ulang tahun?" celetuknya.
"Bulan ini, tanggal dua satu. Sekarang tanggal berapa?" aku dan Lilis menatap almanak.
"Delapan belas ... berarti Selasa, " katanya. "Ya, Selasa, "aku membenarkannya begitu saja.
"Teh Eneng, bikin-bikin tumpeng, " katanya, seperti biasa ngomong Melayunya sarat cita rasa Sunda pedesaan.
Teh Eneng. Teteh. Eneng. Itulah panggilanku sehari-hari. Biasa dipanggil teteh lantaran aku anak sulung. Sedangkan eneng nama kesayangan orang Sunda bagi anak perempuan.
Demikianlah malam minggu itu kami semua berkumpul di ruangan tengah. Mengobrol ke sana ke mari sambil nonton televisi. Sampai akhirnya dari mulut Lilis terlontar kalimat: bikin-bikin tumpeng atuh. Dan Ibu langsung mengiyakannya. Disambung kata setuju dari Ayah.
"Tapi, nggak usah mengundang siapa-siapa," kata Ayah. Kami pun setuju.
"Dan tidak bermaksud merayakan ulang tahun," ujarnya lagi. Kami pun tidak merasa perlu berbantahan.
Karena tak akan mengundang siapa-siapa, semua sepakat cukup bikin satu tumpeng saja.
Lauknya ayam bakar bumbu kecap. Ikbal yang mengusulkan. Ayah minta tambah urap daun singkong. Sementara itu Resti ingin emping goreng. Lalu seisi rumah, kecuali Ayah, berjanji siap bahu membahu berbagi tugas. Sejujurnya kami semua sangat menyayangi Lilis. Aku sendiri sama sekali tidak bekebaratan dipanggil teteh olehnya. Meskipun dia bukan adikku. Dan statusnya cuma pembantu. Apalagi usianya lebih muda dua tahun dariku. Jadi tepat sekali jika dia memanggilku teteh. Sebagaimana halnya kedua adikku.
Sementara itu, aku memanggilnya Lilis saja. Tidak pakai embel-embel bibi, seperti lazimnya orang lain kepada pembantunya. Oh, ya, kedua adikku juga tidak pernah memanggilnya bibi. Mereka memanggilnya sama seperti memanggilku; teteh. Teh Lilis.
Mestinya sejak Senin rencana bikin tumpeng mulai diwujudkan. Setidaknya menjemur dan menggoreng emping. Ibu juga seharusnya sudah memesan daging dari tukang sayur langganan. Namun, semuanya batal dilakukan. Bukan cuma batal bikin tumpeng, melainkan sejak Senin pagi kami terpaksa harus kehilangan Lilis. Seberapa lama? Entahlah. Mungkin untuk selama-lamanya.