• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Data Hasil Penelitian

MENUJU TERBENTUKNYA GREEN COMMUNITY

Pendahuluan

Produksi sampah di Kota Purwokerto dari hari-kehari terus meningkat kuantitas dan kualitasnya, seiring dengan meningkatnya populasi penduduk, perubahan pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat. Meningkatnya daya beli dan gaya hidup masyarakat terhadap berbagai jenis bahan pokok dan hasil teknologi memberikan kontribusi terhadap kuantitas dan kualitas sampah yang dihasilkan.

Pendekatan partisipatif diperlukan untuk melibatkan semua pihak sejak langkah awal, mulai tahapan analisis masalah, penetapan rencana kerja sampai pelaksanaan dan evaluasinya.Kegiatan partisipatif dapat dikelompokkan pada dua kelompok sasaran, yaitu partisipasi pengambil keputusan dan partisipasi kelompok setempat terkait dalam pengelolaan lingkungan hidup (GTZ 1997).

Bab ini membahas tentang aktor-aktor dominan yang dapat menjadi penggerak green waste menuju terbentuknya green community. Kajian meliputi kondisi lingkungan sosial, ekonomi, budaya, faktor kesiapan masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga sebagai upaya mendukung terwujudnya Purwokerto sebagai kota hijau. Aktor-aktor yang melakukan upaya green waste, terdiri dari masyarakat, pemerintah, pemerhati lingkungan, pengusaha, pemulung. Aktor lainnya adalah kepala keluarga, pemulung, nasabah bank sampah, pengelola sampah dan pengusaha rongsok.

Aktor-aktor yang mampu dan dominan dalam menggerakkan elemen masyarakat dalam menuju green community dan green waste diduga cenderung berbasis kepentingan aktor pemerintah saja. Kepentingan meliputi penilaian Adipura dan kota hijau. Apabila aktor berkomitmen dan peduli terhadap lingkungan, maka keberlanjutannya akan terjaga dan berkesinambungan. Faktor yang diduga mempengaruhi partisipasi dalam pengelolaan sampah seseorang adalah perilaku, sikap, persepsi dan pengetahuan masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga, kota hijau dan pola kerigan.

Pembahasan

Kondisi Lingkungan Sosial Masyarakat Kota Purwokerto

Kondisi sosial masyarakat Kota Purwokerto, apabila dilihat dari pendidikan, maka Purwokerto dikenal sebagai salah satu kota pelajar di Pulau Jawa, hal ini dikarenakan cukup banyaknya jumlah sekolah mulai dari taman Kanak- kanak sampai Perguruan Tinggi di kota ini. Hal ini menyebabkan jumlah siswa dan mahasiswa dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang significan juga jumlahnya. Demikian juga untuk jumlah pondok pesantren dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, begitu juga dengan santrinya terjadi kenaikan sekitar 1,99 persen untuk data tahun 2013.

Sebuah kewajaran apabila Purwokerto menyandang predikat sebagai kota pelajar, karena memang Purwokerto merupakan kota yang sangat strategis untuk menimba ilmu. Selain itu juga letak geografisnya yang mudah

74

dijangkau dari berbagai kota khususnya di Pulau Jawa, biaya hidup relatif lebih murah jika dibandingkan dengan biaya hidup kota-kota besar lainnya di Indonesia. Kota Purwokerto dilihat dari lingkungan sosialnya, selama ini tergolong kondusif untuk belajar, sehingga tidak mengherankan setiap tahun dibanjiri mahasiswa- mahasiswa pendatang dari seluruh pelosok tanah air. Adapun perguruan tinggi yang ada di Kota Purwokerto, baik PTN maupun PTS adalah sebagaiberikut: (1) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed); (2) SekolahTinggi Agama Islam negeri (STAIN); (3) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP); (4)Sekolah Tinggi Teknik Wiworotomo Purwokerto; (5) Sekolah Polisi Negara(SPN) Polda Jawa Tengah; (6) Universitas Terbuka Tutorial (UTTP); (7)Politeknik Ma,arif Purwokerto; (8) Politeknik Kesehatan Purwokerto; (8) Universitas Wijaya Kusuma; (9) STIMIK AMIKOM Purwokerto; (10) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Cipta Husada; (11) STIKES Harapan Bangsa; (12) STIE Satria; (13) Politeknik Pratama; (14) Akademi Manajemen RS Kusuma Husada; (15) AKBID YLPP; (16) Akademi Pariwisata Eka Sakti; (17) Akademi Keperawatan Yakpermas; (18) AMIK Bina Sarana Informatika; (19)

Akademi Farmasi Kusuma Husada; (20) Politeknik Ma’arif NU; (21) Akademi

Kebidanan Perwira Husada

Hasil analisis SWOT (Kurniawan 2009), aspek-aspek yang perlu menjadi pertimbangan pemerintah kabupaten adalah dari segi geografis dan demografis. Dari segi geografis, Purwokerto berada pada lokasi yang strategis, yaitu pertemuan jalur selatan- utara. Purwokerto juga memiliki atmosfer dan cuaca yang mendukung proses pembelajaran. Dari segi demografis, Purwokerto memiliki SDM terdidik yang cukup banyak. Banyak tokoh-tokoh pendidikan lahir dari Kota Purwokerto. Kota Purwokerto juga memiliki fasilitas pendidikan yang cukup memadai. Potensi-potensi ini sangat mendukung terwujudnya Kota Purwokerto sebagai kota pendidikan.

Aspek kesehatan bagi masyarakat Kota Purwokerto merupakan faktor penting dalam kehidupan dalam meningkatkan kualitas SDM. Ketersediaan sarana kesehatan sangat penting di dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Pada tahun 2012 sudah berdiri rumah sakit baik negeri maupun swasta. Sarana kesehatan di Purwokerto tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18 Sarana kesehatan di kota Purwokerto tahun 2013

No. Sarana kesehatan Jumlah (unit)

1. Rumah Sakit Negeri/Swasta 22

2 Puskesmas Keliling 16

3 Puskesmas 6

4 Puskesmas Pembantu 3

5 Posyandu 352

6 Dokter Praktek Bersama 21

Jumlah 398

75 Jumlah tenaga medis di Kota Purwokerto diantaranya 307 dokter baik dokter umum maupun dokter spesialis, 486 bidan dan 394 paramedis yang lainnya. Peserta KB aktif pada tahun 2010 tercatat sebanyak 229.983 peserta, yang berarti mengalami kenaikan sebesar 2,34 persen dibandingkan dengan tahun 2009. Alat kontrasespsi yang paling diminati masyarakat Kota Purwokerto adalah suntik yaitu sebanyak 135.552 atau 58,92 persen.

Keberhasilan sebuah pembangunan tidak saja dilihat dari pembangunan ekonomi saja, tetapi dari kualitas sumberdaya manusia, karena itu sumberdaya manusia (SDM) menempati faktor sentral dalam pembangunan (Lestari 2014). Kinerja pembangunan manusia suatu wilayah/kota khususnya, organisasi dunia yaitu UNDP (United Nations Developmen Programe) merumuskan suatu indikator yang dinamakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI). IPM mengukur pencapaian pembangunan manusia dari suatu daerah dalam tiga dimensi dasar pembangunan manusia, yaitu (a) dimensi lamanya hidup yang diukur berdasarkan angka harapan hidup pada saat lahir, kemudian (b) dimensi pendidikan yang diukur berdasarkan angka

melek huruf dan rata-rata lama sekolah, (c) dimensi kualitas standar hidup yang diukur dengan pendapatan perkapita riil yang disesuaikan dengan paritas daya beli. Ketiga indikator IPM mempresentasikan kebutuhan pokok manusia yang menyangkut aspek sosial, dalam hal ini adalah aspek kesehatan, pendidikan (angka melek hurup dan rata- rata lama sekolah) dan ekonomi. Asumsi bahwa semakin tinggi angka IPM suatu wilayah maka menunjukkan keadaan wilayah yang bersangkutan semakin baik secara sosial ekonomi.

Berdasarkan data dalam pembangunan berbasis gender tahun 2012 disebutkan Angka Harapan Hidup Kota Purwokerto Kabupaten Banyumas tahun 2010 sebesar 69,72 persen sedangkan tahun 2011 sebesar 69,78 persen terjadi kenaikan sebesar 0,06 persen . Aspek sosial lainnya adalah angka melek hurup pada tahun 2010 sebesar 93,98 persen sedangkan tahun 2011 sebesar 94,06 persen , terjadi kenaikan sebesar 0,08 persen IPM tahun 2010 sebanyak 72,60 dan 2011 sebesar 72,96, terjadi kenaikan IPM sebesar 0,36. Terjadi kenaikan cukup baik, walaupun persentasenya relative kecil.

Kota Purwokerto dengan tata spasialnya dibentuk dari kearifan lokal yang melekat di masyarakatnya serta dinamika relasi kekuasaan yang terjadi sepanjang sejarah perkembangan kotanya. Kearifan lokal (local wisdom) dibentuk dan tumbuh dari persentuhan panjang masyarakatnya dengan tradisi Jawa non- Keraton yang egaliter khas Banyumasan, modernisasi barat, gerakan anti kolonialisme, nasionalisme dan Islamisasi gradual. Dinamika relasi kekuasaan menyangkut jatuh bangunnya kekuatan sosial dominan yang mengontrol ruang publik, baik fisik maupun sosial.

Perkembangan Kota Purwokerto dengan simbul ke-modern-an, telah membawa dampak negatif yang harus ditanggung masyarakatnya. Misalnya

“penghancuran” gedung-gedung lama seperti situs lama ISSOLA dan gedung

kesenian Shin Hwa She, solidaritas sosial semakin memudar, budaya lama seperti pola kerigan semakin memudar, membawa hilangnya sense of continuity

dengan masa lalu yang turut member warna perkembangan kota.

Dampak sosial yang timbul dengan perkembangan Kota Purwokerto adalah individualisme, munculnya pengamen, pengemis, gelandangan, PSK, kemacetan, aksi kriminalitas dan munculnya daerah kumuh (slum area).

76

Rencana Tata Ruang Wilayah dan master plan kota, resapan air, akibat komersialisasi berlebihan. menyebabkan terjadinya potensi destruktif secara ekologis dan sosial seringkali masalah ekologi ini diabaikan.

Faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya volume sampah

Kementerian Kesehatan RI (2014) menyebutkan bahwa dua pertiga penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan pada tahun 2035. Hal ini diakibatkan karena selain pertumbuhan alamiah warga dan urbanisasi, juga diakibatkan perubahan desa menjadi kota, turut menyumbang banyaknya penduduk yang tinggal di perkotaan. Sebuah fenomena umum yang banyak terjadi di negara-negara berkembang dan maju. Meski wajar, lonjakan penduduk perkotaan belum diantisipasi, lemahnya penegakan hukum atas peraturan penataan ruang membuat kota tumbuh merambat, mengokupasi kawasan pendukung yang seharusnya dikonservasi.

Sonny, Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, pada tanggal 14 April 2014 (Kompas 2014) mengemukakan tentang pembangunan infrastruktur bahwa:

“… pembangunan infrastruktur pendukung perkotaan tidak mampu mengimbangi

pertumbuhan kota. Keterlambatan penyediaan infrastruktur kota membuat kota

sarat masalah yang menurunkan kualitas hidup warganya…”.

Senada dengan pernyataan Sonny,, maka Iwan, selaku Ketua Program Magister Studi Pembangunan (MSP) ITB, tanggal 14 April 2014 (Kompas 2014) mengemukakan sebagaiberikut:

“… buruknya perencanaan pembangunan kota mengancam keberlanjutan kota.

Kota seharusnya dikembangkan secara kompak, bukan melebar seperti terjadinya di semua kota di Indonesia saat ini. Kota melebar membuat infrastruktur yang dibangun tidak efesien, mahal dan boros energi…”.

Pertambahan penduduk dan penambahan pola konsumsi masyarakat di Kota Purwokerto Kabupaten Banyumas menimbulkan bertambahnya volume sampah, jenis, karakteristik sampah yang semakin beragam, sehingga diperlukan sistem pengelolaan sampah ramah lingkungan (green waste). Untuk melaksanakan ketentuan pasal 11 ayat (2), Pasal 12 ayat (2), Pasal 17 ayat (3), Pasal 18 ayat (2), Pasal 24 ayat (3), Pasal 25 ayat (4), Pasal 28 ayat (3), Pasal 29 ayat (3), Pasal 31 ayat (3), Pasal 32 ayat (3) , Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga (Lembaran Negara RI Tahun 2012 Nomor 188, maka PemeKab Banyumas menerbitkan Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas (Perda) Nomor 6 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Sampah.

Pertambahan penduduk dan arus urbanisasi perpindahan masyarakat dari desa ke kota yang sangat besar (urbanisasi berlebih) menyebabkan timbunan sampah di TPA semakin meningkat banyak. Purwokerto sebagai salah satu kota yang memiliki potensi pengembangan ekonomi cukup tinggi ternyata sangat menarik banyak warga dari desa. Terlebih Kota Purwokerto memiliki Universitas Jenderal Soedirman, IAIN, Sekolah Polisi Negara Polda Jawa Tengah, tentunya hal ini menjadikan “magnet” yang kuat.

77 Hasil penelitian menunjukkan di Kota Purwokerto banyak berdiri komplek pemukiman baru, sehingga pembangunan perumahan membawa konsekuensi jumlah penduduk berbanding lurus dengan banyaknya sampah yang dihasilkan di Kota Purwokerto. Produksi sampah di Kota Purwokerto dari hari-kehari terus meningkat jumlah dan kualitasnya, seiring dengan meningkatnya populasi penduduk, perubahan pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat. Meningkatnya daya beli masyarakat terhadap berbagai jenis bahan pokok dan hasil teknologi serta meningkatnya kegiatan penunjang pertumbuhan ekonomi juga memberikan kontribusi besar terhadap kuantitas dan kualitas sampah yang dihasilkan.

Hal ini mengakibatkan permasalahan yang serius bagi Kota Purwokerto di masa sekarang dan masa yang akan datang. Kebutuhan terhadap lahan untuk pembuangan sampah semakin tinggi, sementara lahan yang ada semakin sempit karena digunakan untuk permukiman penduduk, pertokoan, perusahaan, perkantoran dan sebagainya. Masalah sampah mengakibatkan terjadinya pencemaran, kesehatan, banjir dan tingginya biaya lingkungan di masa yang akan datang, sehingga perlu diantisipasi sejak saat ini juga.

Peningkatan volume sampah di Kota Purwokerto perlu dicegah dengan cara menekan produksi sampah melalui program 3 R (green waste) yaitu mengurangi (reduce), memanfaatkan kembali (reuce) dan mendaur ulang (recycle) sampah mulai dari sumber sampah yaitu rumah tangga. Upaya menekan laju produksi sampah tidak dapat terjadi, apabila tidak ada perubahan (a) pola konsumsi masyarakat yang saat ini semakin tinggi, akibat meningkatnya, (b) status sosial ekonomi masyarakat yang tidak diimbangi dengan, (c) pola pikir perubahan paradigma terhadap sampah tersebut. Juga (d) rendahnya kesadaran masyarakat dalam berperilaku ramah lingkungan menjadi faktor utama terjadinya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh menumpuknya timbunan sampah. Penggunaan plastik kemasan yang terus meningkat jumlahnya menjadi ancaman serius bagi lingkungan hidup, hal ini dikarenakan plastik tersebut sukar sekali diuraikan oleh proses alam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80 persen jenis sampah perkotaan berpotensi untuk dimanfaatkan kembali, sehingga sampah tersebut tidak dianggap sebagai barang buangan semata yang harus diangkut ke TPA. Memilah dan mendaur ulang sampah merupakan gagasan perilaku atau paradigma baru yang tidak mudah untuk di aplikasikan dan memerlukan waktu untuk merubah paradigma masyarakat. Hal ini disebabkan bukan saja karena belum memadainya fasilitas yang menunjang perilaku tersebut, akan tetapi karena masih relative rendahnya tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat dalam hal pemilahan dan mendaur ulang (recycle) sampah yang ada menuju green waste atau nir-limbah..

Yayasan Sumber Ilmu (YSI) telah melakukan beberapa inovasi dalam rangka melakukan perubahan tingkat pengetahuan, persepsi, sikap dan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga. YSI tersebut, melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui dunia pendidikan mulai dari guru hingga murid, baik lembaga pendidikan formal maupun pendidikan non-formal. Upaya lain adalah melakukan pendekatan perubahan langsung di masyarakat melalui tabungan sampah yaitu dengan digalakkannya pembentukan bank sampah.

78

Sandra (1982) mengemukakan bahwa jumlah dan kepadatan (densitas) sampah sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis, iklim, jumlah penduduk, jumlah fasilitas komersial dan industri, status sosial ekonomi masyarakat dan pola konsumsi. Masyarakat dengan status sosial ekonomi yang tinggi cenderung menghasilkan sampah yang lebih banyak dari pada masyarakat dengan SES yang lebih rendah, tetapi kepadatannya lebih rendah. Senada dengan Sandra, maka Peavy et al (1985) mengemukakan bahwa keanekaragaman aktivitas masyarakat dan status sosial mempengaruhi karakteristik timbunan sampah dan volume sampah yang dihasilkan. Hasil studi BPPT (1990) terhadap karakteristik sampah di DKI Jakarta menunjukkan bahwa kandungan sampah organik di DKI Jakarta jumlahnya mencapai 70 persen dan sisanya 30 persen lagi berupa sampah an-organik.

Tchobonoglous (1977) menyatakan bahwa jumlah timbunan sampah yang dihasilkan per orang perhari dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, yaitu (a) tingkat pendapatan masyarakat, (b) letak geografis dan (c) iklim. Untuk daerah perkotaan dan komersial menurut Peavy, et al (1985) mengemukakan bahwa rata-rata timbunan sampah perorang/ perhari berkisar antara 2,00 – 5,00 liter, sedangkan daerah industri berkisar antara 1,5 – 3,5 liter. Tchobanoglous (1977) menyatakan bahwa masyarakat dengan pendapatan yang lebih tinggi cenderung menghasilkan timbunan sampah yang lebih banyak dibandingkan dengan tingkat pendapatan rendah.

Menurut Peavy et al (1985) mengemukakan bahwa ada tujuh faktor yang mempengaruhi jumlah timbunan sampah yaitu (1) lokasi geografis, (2) musim, (3) frekuensi pengumpulan sampah, (4) penggunaan alat penggiling (pencacah sampah) di dapur, (5) perilaku dari masyarakat, (6) volume dari pengangkutan dan pendaur ulangan dan (7) peraturan pemerintah.

Ditjen Cipta Karya (1999) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi timbunan sampah adalah sebagaiberikut:

1. Jenis bangunan yang ada, yaitu jenis ini akan menentukan macam jenis dan besar timbunan sampah. Misalnya kantor sering menghasilkan sampah kering (an-organik).

2. Tingkat aktifitas yaitu jumlah sampah yang berhubungan langsung dengan tingkatan aktifitas orang-orang yang mempergunakannya. 3. Iklim yaitu pada daerah penghujan mempunyai tumbuh-tumbuhan

yang lebih lebat dari pada daerah beriklim kering.

4. Musim, yaitu setiap penggantian musim, akan berganti pula jenis sampah yang timbul dan berbeda pula volumenya.

5. Letak geografis yaitu buah-buahan daerah tropis biasanya lebih berair dari pada buah-buahan sub-tropis.

6. Letak tofografis, yaitu daerah berelevasi tinggi mempunyai pohon dengan daun lebih kecil.

7. Kepadatan penduduk dan jumlah penduduk, yaitu di kota besar, makin padat penduduknya maka makin besar pula sampah yang timbul, demikian pula sebaliknya. Namun demikian, hal sebaliknya berbeda dengan lahan untuk TPA akan semakin menyempit sehingga daya tampungnya semakin sedikit.

8. Periode sosial ekonomi, yaitu negara dengan tingkat ekonomi baik, negara subur makmur, produksi meningkat, daya beli masyarakat

79 bertambah, maka akan besar pula timbunan sampahnya, dan diikuti dengan sitem pengelolaan sampah yang baik (green waste).

9. Tingkat teknologi, yaitu industri dengan teknologi maju akan mencapai efesiensi maksimal, terutama penggunaan bahan baku. Bahkan sudah menerapkan sistem reuse, reduce dan recycle.

Faktor-faktor yang Menyebabkan Meningkatnya Jumlah Penduduk

Pemerintah daerah, umumnya kurang memprioritaskan program pengendalian laju pertumbuhan penduduk. Terbukti dari 511 kabupaten/kota di Indonesia, hanya 19 daerah yang membentuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Daerah (BKKBD), padahal laju pertumbuhan penduduk 2014 saat ini mencapai 1,5 persen dari target 1,27 persen.

Fasli Jalal, selaku Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), tanggal 22 April 2014 mengemukakan bahwa :

“… Pemerintah daerah kurang menyadari, laju pertumbuhan penduduk yang

tidak terkendali akan membuat sejumlah sasaran pembangunan tidak tercapai. Padahal dalam Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga memerintahkan kepada seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota wajib membentuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Daerah (BKKBD). Keberadaan BKKBD di beberapa daerah terbukti efektif mengendalikan laju pertumbuhan penduduk daerah tersebut. Peran Pemda dalam pengendalian laju pertumbuhan penduduk sangat besar. Sejumlah program dan sasaran BKKBN tidak akan tercapai jika tidak diimplementasikan di tingkat kabupaten/kota. Semua sektor mulai dari pusat,

propinsi sampai kabupaten/kota harus mensukseskan program kependudukan….”. Wilayah perkotaan di Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan

yang berkaitan dengan globalisasi, urbanisasi, lingkungan, perubahan iklim, disparitas wilayah dan desentralisasi (Firman 2011). Dari data Badan Pusat Statistik dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, tercatat bahwa sebelum tahun 2008 jumlah penduduk pedesaan lebih banyak dari penduduk perkotaan. Tahun 2008, merupakan tonggak sejarah perkotaan Indonesia, untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban modern Indonesia, jumlah penduduk perkotaan melebihi jumlah penduduk yang bermukim di wilayah pedesaan yaitu sebesar 50,5 persen . Diprediksi pada tahun 2015 penduduk perkotaan di Indonesia akan mencapai 59,5 persen (BPS, BAPPENAS dan UNFPA 2008).

Data lain di Indonesia, memperkirakan pada tahun 2025 diperkirakan 57 persen penduduk ada di perkotaan dan 43 persen tinggal di pedesaan. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk di Propinsi Jawa Tengah dari tahun cenderung menurun, yaitu untuk periode tahun 1990-200 sebesar 0,94 persen dan untuk 2000 – 2010 sebesar 0,37 persen , untuk laju pertumbuhan penduduk Nasional, yaitu untuk periode 1990-2000 sebesar 1,49 persen dan periode tahun 2000- 2010 sebesar 1,49 persen, berarti tidak terjadi perubahan laju pertumbuhan penduduk untuk periode tersebut, untuk laju pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 2014 masih 1,5 persen dari target 1,27 persen , sedangkan laju kenaikan penduduk Kota Purwokerto 2013 sebesar 0,45 persen.

80

Perkembangan urbanisasi di Kota Purwokerto perlu dicermati, karena dengan adanya urbanisasi ini, maka kecepatan pertumbuhan perkotaan dan pedesaan menjadi semakin tinggi. Faktor - faktor yang dominan mempengaruh jumlah penduduk Purwokerto adalah sebagaiberikut:

1. Mortalitas (kematian) disebabkan beberapa faktor yaitu usia, tempat tinggal, makanan, kebersihan, kesehatan, bencana alam dan kejadian yang tidak terduga lainnya.

2. Fertilitas (kelahiran) , merupakan penyebab utama meningkatnya jumlah penduduk. Hal ini dikarenakan rata-rata pertumbuhan penduduk adalah tingginya angka kelahiran dibandingkan angka kematian. Faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat fertilitas penduduk adalah (a) faktor demografi, (b)non-demografi meliputi keadaan ekonomi penduduk, tingkat pendidikan, perbaikan status perempuan, urbanisasi dan industrialisasi, (c) pandangan masyarakat Kota Purwokerto, tidak logis yang menyebabkan pertumbuhan penduduk tinggi seperti “ banyak anak, banyak rejeki”. 3. Faktor penyebab jumlah kelahiran lebih banyak dari jumlah kematian

adalah (1) meningkatnya kesadaran penduduk akan pentingnya kesehatan, (2) fasilitas kesehatan yang memadai, (3) meningkatnya gizi penduduk, (4) banyak tenaga medis seperti dokter, bidan dan mantri.

4. Migrasi (Perpindahan), merupakan akibat dari keadaan lingkungan sekitar kurang menguntungkan bagi dirinya. Sebagai akibat dan keadaan alam kurang menguntungkan menimbulkan terbatasnya sumberdaya secara permanen dan sementara. Faktor-faktor yang mempengaruhi migrasi adalah individu, yang terdapat di daerah asal.

5. Faktor lain yang mendorong seseorang mempengaruhi cepatnya pertumbuhan penduduk di Indonesia adalah keyakinan masyarakat yaitu

bahwa : “banyak anak, banyak rejeki”.

Masalah lingkungan fisik akibat kepadatan penduduk yang tinggi adalah : (a) kerusakan hutan, (b) kekeringan pada musim kemarau, (c) semakin sempitnya lahan pertanian, (d) timbulnya banjir dan (e) menumpuknya volume sampah.

Sehubungan dengan meningkatnya jumlah penduduk di wilayah Kota Purwokerto, maka menyebabkan bertambahnya volume sampah perkotaan, baik kualitas maupun kuantitas sampah tersebut. Apabila hal ini tidak diatasi, maka tidak mustahil TPA akan semakin pendek umur operasinya, di satu sisi tidak semua sampah yang dihasilkan masyarakat dapat terangkut petugas, sehingga banyak yang tidak terangkut dan “tercecer” di jalan.

Data DCKKTR Banyumas (2014), pada tahun 2013 volume sampah yang dihasilkan tiap hari sudah melampaui daya tampung di TPA “Gunung

Tugel”, yaitu sebanyak 279-285 m3/hari, sedangkan sampah yang dapat

terambil serta dimanfaatkan ulang melalui pemulung, bank sampah, pengepul rata-rata tujuh persen. Jumlah penduduk Kota Purwokerto 243,341 jiwa, tingkat pertumbuhan penduduk 0,45 persen dan jumlah rumah 33.082 unit, volume sampah dihasilkan per jiwa rata-rata 0,0024 m3/jiwa/hari.

Kapasitas TPA “Gunung Tugel” dapat menampung setiap hari sekitar 260 m3/hari, maka apabila dibiarkan terus menerus dan tidak ada solusi dalam pengolahan sampah. Rata-rata produksi sampah yang dihasilkan di wilayah Kota Purwokerto (Tabel 19).

81 Tabel 19 Rata- rata sampah masuk di TPA (2009-2013) (m3)

NO. KECAMATAN Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 1. Purwokerto Selatan 32.876 33.585 36.622 34.698 36 507 2. Purwokerto Barat 22.477 23.116 24.218 23.368 25 202 3. Purwokerto Timur 25.794 26.949 27.965 28.904 28 499 4. Purwokerto Utara 25.990 27.548 27.992 29.885 27 556 5. Kota Purwokerto 107.137 111.198 116.997 116.855 117 764

Sumber Data : UPT Pengelolaan Sampah “Gunung Tugel” 2014

Sehubungan dengan itu, maka rata-rata daya tampung sampah di TPA

“Gunung Tugel” dari tahun ke tahun menurun. Hal ini disebabkan karena lokasi

TPA yang dapat menampung sampah, semakin lama semakin berkurang. Ini dikarenakan semakin menumpuknya volume sampai di tempat tersebut dan proses pengelolaan sampah masih menggunakan sistem open dumping. Daya tampung TPA sampah pada tahun 2009 menunjukkan 399 m3, tahun 2010 sebanyak 323 m3, tahun 2011 sebanyak 284 m3, tahun 2012 sebanyak 253 m3 dan tahun 2013 daya tampung sampah di TPA sebanyak di 214 m3.

Berdasarkan data daya tampung sampah di TPA “Gunung Tugel” tersebut dari tahun ke tahun semakin menurun sejalan dengan banyaknya volume sampah yang dihasilkan masyarakat Kota Purwokerto. Perlu upaya pengelolaan sampah rumah tangga di sumber penghasil sampah, melalui pola 3 R dan peningkatan partisipasi masyarakat mendukung program green waste.

Solusi untuk mengatasinya yaitu meminimalisasi volume sampah yang masuk ke TPA dengan meningkatkan potensi yang ada di masyarakat. Potensi tersebut antara lain, kearifan lokal pola kerigan dalam pengelolaan sampah menuju green waste dalam bentuk kepedulian masyarakat dengan aksi nyata partisipasi pengelolaan sampah mulai dari sumber penghasil sampah.