BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
2. Menulis
a. Pengertian Menulis
Menulis adalah suatu cara memahami dan menemukan arti hidup. Kata-kata dapat menjadi cermin ajaib yang mampu mencerminkan siapa diri kita, seperti apa diri kita, ingin menjadi apa, dan dapat menjadi apa. Dengan menulis kita dapat lebih mengenal bagian dari diri kita yang sunyi, terluka dan sepi. Juga bagian-bagian yang kreatif, gembira dan tangguh. Dalam beberapa hal, tulisan ibarat sidik jari di dunia lingkaran, kerutan dan citra yang mengidentifikasi kita sebagai diri sendiri Meiferawati (2007).
Tarigan (1986) mengertikan menulis adalah suatu kegiatan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak bertatap muka dengan orang lain. Keterampilan menulis tidak didapatkan secara alamiah, melainkan harus melalui proses belajar dan berlatih. Berdasarkan sifatnya, menulis juga merupakan keterampilan yang produktif dan resaptif. Dalam kegiatan menulis, penulis harus terampil memanfaatkan grafologi
(sistem tulisan), kosa kata, struktur kalimat, pengembangan paragraph, dan logika berbahasa.
Menurut William Smith Menulis adalah perilaku kreatif, perilaku menulis kreatif karena membutuhkan pemahaman atau merasakan sesuatu: sebuah pengalaman, tulisan, atau peristiwa.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1995), menulis berarti melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan. Menulis merupakan kemampuan mengungkapkan pikiran dan juga perasaan dalam tulisan yang efektif. Sebagian besar orang menganggap kegiatan menulis sebagai kegiatan mengarang. Tanpa teknik dan alat tersebut penulis cenderung terjerumus ke dalam keadaan anarkis, mudah kehilangan control dan arah karangan yang telah tercapai. Akibatnya, kesan yang timbul tidak sejalan dengan tujuan penulisan.
Berdasarkan uraian pendapat di atas, dapat diketahui bahwa menulis merupakan proses bernalar. Untuk menulis suatu topik, penulis harus berpikir, menghubungkan berbagai fakta, membandingkan, dan sebagainya. Berpikir merupakan kegiatan mental. Ketika penulis berpikir, dalam benak penulis timbul serangkaian gambaran tentang sesuatu yang tidak hadir secara nyata. Kegiatan ini tidak terkendali terjadi dengan sendirinya dan tanpa kesadaran.
b. Tujuan Menulis
Setiap jenis tulisan mengandung beberapa tujuan, tetapi karena tujuan itu sangat beranekaragam, maka bagi penulis yang belum berpengalaman ada baiknya memperhatikan beberapa kategori tujuan menulis, yaitu memberitahukan atau mengajar, meyakinkan atau mendesak, menghibur ataumenyenangkan, mengutarakan atau mengekspresikan perasaan dan emosi yang berapi-api (Tarigan 2008:24).
Hartig (dalam Tarigan 2008:24) menyebutkan tujuan menulis sebagai berikut:
1. Assignment purpose (tujuan penugasan)
Tujuan penugasan ini sebenarnya tidak mempunyai tujuan sama sekali. Penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauannya sendiri (misalnya para siswa yang diberi tugas merangkum buku).
2. Altruistik putpose (tujuan altruistik)
Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih menyenangkan dengan karyanya itu.
3. Informational purpose (tujuan informasional atau tujuan penerangan)
Tulisan yang bertujuan memberi informasi atau keterangan/penerangan kepada para pembaca.
4. Self-expressive purpose (tujuan pernyataan diri)
Tulisan yang bertujuan memberi informasi atau menyatakan diri sang pengarang kepada pembaca.
5. Cteative purpose (tujuan kreatif)
Tujuan ini erat hubungannya dengan tujuan pernyataan diri. Tetapi “keinginan kreatif” di sini melebihi pernyataan diri, dan melibatkan dirinya sendiri dengan keinginan mencapai norma artistic, atau seni yang ideal, seni idaman tulisan yang bertujuan mencapai nilai-nilai artistik, nilai-nilai kesenian.
6. Problem solving purpose (tujuan pemecahan masalah)
Dalam tulisan ini sang penulis ingin memecahkan masalah yang dihadapi. Sang penulis ingin menjelaskan, menjernihkan serta menjelajahi dan meneliti secara cermat pikiran-pikiran dan gagasan-gagasannya sendiri agar dapat dimengerti dan diterima oleh para pembaca.
Tulisan yang bersifat kreatif merupakan tulisan yang bersifat apresiatif dan ekspesif. Apresiatif maksudnya melalui kegiatan menulis kreatif orang dapat mengenali, menyenangi, menikmati, dan mungkin menciptakan kembali secara kritis berbagai hal yang dijumpai dalam teks-teks kreatif karya orang lain dengan caranya
sendiri dan memanfaatkan berbagai hal tersebut ke dalam kehidupan nyata.
Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa tujuan menulis antara lain: (1) menulis yang bertujuan untuk memberitahukan atau mengajar, (2) menulis bertujuan untuk meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan, (3) menulis bertujuan untuk menghibur atau menyenangkan atau yang mengandung tujuan estetik, (4) menulis bertujuan untuk memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang kepada pembaca.
c. Manfaat menulis
Menulis merupakan wujud kemahiran berbahasa yang mempunyai manfaat besar bagi kehidupan manusia, khususnya bagi para siswa. Dengan menulis siswa dapat menuangkan segala keinginan hati, perasaan, keadaan hati di saat susah dan senang, sindiran, kritikan dan lainnya.
Tarigan (2008:22-23) berpendapat bahwa menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan pelajar berpikir. Menulis juga dapat mendorong kita untuk berpikir secara kritis, memudahkan penulis merasakan dan menikmati hubungan-hubungan, memperdalam daya tanggap atau apersepsi kita, memecahkan masalah yang dihadapi, menyusun urutan bagi pengalaman.
Pendapat berbeda disampaikan oleh Nurudin (2007:26-27) mengemukakan wnam manfaat menulis, yaitu: (1) suatu sarana untuk pengungkapan diri, (2) suatu sarana untuk pemahaman, (3) suatu sarana untuk membantu mengembangkan kepuasan pribadi, kebanggaan, dan suatu perasaan harga diri, (4) suatu sarana untu meningkatkan kesadaran dan penyerapan terhadap lingkungan sekeliling seseorang, (5) suatu sarana untuk keterlibatan secara bersemangat dan bukannya penerimaan yang pasrah, (6) suatu sarana untuk mengembangkan suatu pemahaman tentang keterampilan menggunakan bahasa.
Berdasarkan dua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa manfaat menulis adalah untuk mengembangkan kemampuan mengungkapkan gagasan dan ide-ide sehingga dapat berpikir secara kritis manfaat lainnya menulis juga sebagai sarana untuk mengembangkan suatu pemahaman tentang keterampilan menggunakan bahasa.
d. Tahap-tahap Menulis
Ada beberapa tahap dalam menulis, yaitu tahap persiapan atau pramenulis, tahap inkubasi, tahap iluminasi, dan tahap verifikasi. (a) Tahap persiapan atau pra penulis adalah ketika pembelajar menyiapkan diri, mengumpulkan informasi, merumuskan masalah, menentukan fokus, mengelola informasi, menarik tafsiran dan referensi terhadap realita yang dihadapinya, berdiskusi, membaca,
mengamati, dan lain-lain yang memperkanya masukan kognitifnya yang akan diproses selanjutnya. (b) Tahap inkubasi adalah pembelajaran memproses informasi sedemikian rupa, sehingga ditemukannya pemecahan masalah atau jalan keluar yang dicari. (c) Tahap iluminasi adalah ketika datangnya inspirasi atau insight, yaitu gagasan datang tiba-tiba dan berloncatan dari pikiran kita. (d) Tahap verifikasi, yaitu apa yang dituliskan sebagai hasil dari tahap iluminasi itu diperiksa kembali, seleksi, dan disusun sesuai dengan fokus tulisan.
Menurut Nurudin (2007:92-111), tahap-tahap dalam menulis dapat dijabarkan ke dalam beberapa tahap, yaitu tahap pramenulis, tahap merencanakan tulisan, dan tahap menulis dan merevisi draft. Tahap pertama, yaitu tahap pramenulis.Pada tahap pramenulis terdiri atas dua tahapan, yaitu memilih dan membatasi topik, dan generalisasi gagasan. Pada tahap ini penulis mencari topik yang paling khusus sehingga tidak kesulitan untuk mengembangkan topik tersebut. Generalisasi gagasan adalah mengolah sebuah gambaran pikiran yang ada, diolah, dipikir lebih matang dan diputuskan, Tahap kedua, yaitu tahap merencanakan tulisan. Pada tahap merencanakan tulisan terdiri atas tiga tahap, yaitu membuat daftar, menulis kalimat topik, dan membuat outline. Hal pertama pada tahap ini adalah membagi gagasan ke dalam beberapa masalah dan mencoretnya jika tidak berkaitan dengan topik yang dipilih. Selanjutnya, menulis dan
menjabarkan semua itu ked dalam kalimat-kalimat. Outline dibuat sebagai dasar untuk membuat alenia. Pada tahap terakhir, yaitu tahap menulis dan merevisi draft. Pada tahap ini terdiri atas tiga tahapan, yaitu menulis draft kasar, merevisi organisasi isi, dan menulis akhir. Tahap pertama proses revisi adalah menulis kasar dari outline yang sudah dibuat. Setelah menulis draft kasar, tahap selanjutnya adalah merevisinya. Setelah semua aktivitas menulis dilakukan, tahap terakhir adalah mengoreksi sekali lagi.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa tahap dalam kegiatan menulis. Tahap-tahap tersebut, yaitu penulis merencanakan dan menentukan topik yang akan dibuat menjadi sebuah tulisan, tahap menulis dengan mengacu pada topik yang sudah ditetapkan, dan tahap terakhir adalah tahap merevisi. Pada tahap ini penulis memeriksa dan mengoreksi kembali hasil menulis, apakah hasil tulisan sudah sesuai dengan topik yang telah ditentukan.