• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENULIS, SIAPA TAKUT?

Dalam dokumen LITERASI DIRI, Tentang Aku dan Buku-bukuku (Halaman 87-92)

Yusmanto

enulis merupakan satu di antara kegiatan wajib yang harus dilakukan oleh setiap personal yang berkecimpung di dunia pendidikan tinggi. Kegiatan menulis ini harus menjadi suatu kewajiban bagi seorang dosen dan akademisi. Tulisan dapat berupa artikel dan buku yang merupakan hasil sebuah penelitian. Tulisan juga dapat berupa hasil refleksi dari fenomena yang terjadi di dalam lingkungan kehidupan sosial. Bagi seorang pemula, tema dan hasil tulisan dapat berupa refleksi pengalaman hidup sehari-hari. Dengan seringnya kita menulis maka secara otomatis akan mengasah kemampuan dan keahlian kita untuk menghasilkan sebuah karya tulis.

Persoalan tidak dapat menulis sesungguhnya hanya dikarenakan aspek psikologis. Seseorang tidak menulis dengan alasan misalnya; sibuk, rutinitas, takut salah, tidak ada ide, dan mencari-cari alasan lainnya. Kesibukan bukan menjadi alasan tidak menulis, maka bohong bila tidak ada waktu untuk menulis. Sesungguhnya menulis dapat dilakukan kapan dan dimana saja. Bila terbiasa menulis maka akan muncul ide-ide kecil yang akan menjadi tema tulisan kita. Ide dapat muncul misalnya saat di

[ Yusmanto: Menulis, Siapa Takut?]

[ 78 ]

bahkan ide dapat muncul kapan dan di mana saja. Artinya bahwa ide dapat muncul setiap saat dalam perjalanan hidup kita.

Pernahkah pada suatu ketika Anda mengalami keadaan begitu banyak ide yang muncul di pikiran Anda? Nah, sesungguhnya itu adalah hal yang secara alamiah di alami oleh setiap orang. Apabila tanggap akan keadaan ini maka ide tersebut dapat dituangkan dan dikembangkan menjadi sebuah tulisan. Halangan lainnya untuk tidak menulis yaitu takut salah. Jangan terlalu khawatir tulisan yang kita hasilkan nantinya akan dipandang murahan oleh publik. Perlu pertimbangkan dalam menentukan tema tulisan seperti; relevan, fenomenal, bahkan kontradiksi misalnya tulisan berjudul “Menipu Setan” sebuah buku hasil karya Dr. Ngainun Naim.

Menulis mesti dibiasakan dapat dengan cara dicicil, sedikit demi sedikit dengan menuangkan ide yang muncul dalam bentuk tulisan. Ide untuk tema tulisan juga dapat muncul dari rutinitas dalam membaca buku. Semakin sering menulis maka hasilnya akan terstuktur dan lebih berkualitas. Kegiatan menulis harus dilakukan dengan sabar, maka jangan menulis karena persoalan kejar tayang (death line), karena hasilnya tidak optimal.

Menulis dilakukan secara bebas, artinya menulis setiap hari, setiap waktu, setiap saat, kapan saja dan dimanapun. Spirit menulis itu tidak tetap, semangat menulis dapat muncul pada saat kapan dan dimanapun. Ide dan spirit menulis dapat muncul pada saat dalam perjalanan, berlibur, membaca buku, bahkan saat ngobrol di warung kopi. Menulis dapat dimulai sejak bangun tidur dan saat melakukan aktivitas sehari-hari. Menulis dapat dibaratkan seperti nyetir mobil, kalau punya sim A tapi nyetir mobil sebulan sekali, mana bisa mahir? Saat menulis juga biasa muncul persoalan lain yaitu seolah-olah kehabisan ide untuk melanjutkan tulisan. Maka hal yang harus kita lakukan yaitu berhenti sejenak, membaca buku, membaca artikel di internet yang ada hubungannya dengan tulisan yang kita buat. Saat

[ Yusmanto: Menulis, Siapa Takut?]

membaca sebuah buku atau literatur, tandai point yang menurut anda nanti untuk dijadikan list referensi. Buatlah folder-folder yg berisi data referensi yang sudah diklasifikasikan. Foot note harusnya menyusul setelah tulisan kita jadi. Tulisan yang bagus bukan berarti harus ada foot note, namun tulisan yang bagus bila sudah selesai dan dipubikasikan. Foot note berasal dari teori-teori dari penelitian terdahulu yang kita gunakan untuk mendukung dan memperkuat pemikiran kita. Mencontoh model atau pola tulisan yg sudah ada diperbolehkan bahkan dianjurkan tapi bukan copy paste. Meniru pola tulisan misalnya, bahasa, tata kalimat, penekanan makna tulisan, dan lain sebagainya.

Teori yang kita gunakan pada tulisan dapat menunjukkan keilmiahan penelitian yang kita lakukan. Melalui hasil penelitian kita, teori yang terdahulu dapat didukung, dikritisi, bahkan dapat memunculkan teori baru. Namun perlu diingat bahwa teori bukalah satu-satunya unsur keilmiahan tulisan, namun bagaimana kwalitas hasil penelitian tersebut.

Tujuan menulis Jangan hanya untuk naik pangkat dan melengkapi persyaratan akademis. Hendaknya perlu dihayati motto dalam menulis yaitu “Menulis jangan mengharapkan materi namun berkat dan hasilnya dapat dibagikan kepada khalayak”. Menulis jangan dimulai dari referensi, karena kita seolah-olah akan menjadi “penjahit”, sehingga sulit bagi kita untuk mengembangkan tulisan. Maka caranya kita tulis mengalir dulu bebaskan dari ikatan referensi teori-teori. Terkadang ada beberapa penulis terpaku karena spesialisasi atau bidang keahliannya. Model penulis seperti ini akan meneliti dan menulis hanya sesuai dengan bidang keahliannya. Maka dari sisi keilmuan orang yang demikian tidak berkembang. Satu hal yang tidak kalah penting dalam menulis yaitu, saat sedang menulis, tulisan jangan di edit atau diperbaiki dulu, karena hal ini akan menghabiskan energi Anda. Selain itu pula kondisi fsikologis saat menulis dan mengedit berbeda. Apabila Anda sedang menulis

[ Yusmanto: Menulis, Siapa Takut?]

[ 80 ]

sebuah tema, maka buatlah target waktu kapan tulisan tersebut diselesaikan. Menyelesaikan sebuah tulisan diperlukan target waktu, bukan target halaman.

Menulis itu merupakan bentuk perjuangan. Agar dapat menghasilkan tulisan setiap hari dibutuhkan komitmen yang kuat. Menulislah dengan hasil seberapapun, satu halaman, satu paragraf, bahkan mungkin hanya judul saja. Jangan menunggu waktu senggang baru akan menulis, karena pada kenyataanya bila ada waktu senggangpun pasti tidak akan menulis. Rutin membaca juga diperlukan untuk memunculkan ide sebagai modal menulis. Manfaat menulis dapat membangkitkan ide-ide (gagasan) baru. Menulis membantu mengorganisirkan gagasan dan menjelaskan gagasan tersebut.

Ayo menulis, mulai hari ini...

Catatan: Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman yang telah dibagikan oleh Bapak Dr. Ngainun Naim yang telah memberi banyak inspirasi dan spirit literasi.

[ Yusmanto: Menulis, Siapa Takut?]

Yusmanto, Mahasiswa S-3 Universitas Negeri

Semarang. Dosen STAKN Pontianak, Kalimantan Barat.

16

RAKUS BELI, BUKAN RAKUS BACA

Dalam dokumen LITERASI DIRI, Tentang Aku dan Buku-bukuku (Halaman 87-92)