• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN DATA SURAT TAGIHAN PAJAK

2. Fungsi) Mengatur (Regulered)

3.2. Pengertian Penagihan Pajak

1. Menurut Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro, SH mengatakan bahwa:

“Penagihan adalah perbuatan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak,

karena wajib pajak tidak mematuhi ketentuan undang-undang pajak, Khususnya

mengenai pembayaran pajak”.

2. Sihaloho,cyrus.Drs mendefinisikan :

“Penagihan pajak adalah : Surat untuk melakukan penagihan pajak dari

denda/sanksi administrasi berupa bunga atau denda”. (Modul ketentuan

parpajakan, 1996 : 33).

Ketentuan tentang penagihan utang pajak diatur dalam hukum pajak.Dalam

hal ini pajak dipungut dengan suatu ketetapan,maka tindakan penagihan yang

pertama yaitu : menyerahkan suatu surat ketetapan pajak (SKP) kepada wajib

pajak yang bersangkutan.Setelah SKP diserahkan dan sampai waktu

pembayarannya Wajib pajak belum juga memenuhi kewajibannya, maka tindakan

penagihan kedua adalah dengan mengeluarkan suatu surat peringatanDan apabila

tindakan kedua ini belum juga dipenuhi oleh Wajib pajak maka kepada wajib

pajak diberikan surat teguran.Kedua tindakan penagihan ini termasuk tindakan

penagihan secara pasif.Apabila tindakan pasif ini masih belum berhasil maka

tindakan panagihan selanjutnya meningkat pada tindakan penagihan yang aktif,

yaitu dengan membuat surat paksa dan sita,sesuai dengan UU No. 19 Tahun 2000.

Besarnya hutang pajak dihitung sendiri oleh wajib pajak. Apabila

melakukan perhitungan pajak yang terutang atau wajib pajak melanggar ketentuan

yang diatur dalam Undang-undang perpajakan, Direktur Jendral Pajak dapat

menerbitkan surat tagihan pajak, surat ketetapan pajak atau surat ketetapan pajak

tambahan. Ketiga surat ini merupakan sarana administrasi bagi Direktur Jendral

Pajak untuk melakukan penagihan pajak. Dalam hal tgihan pajak tersebut tidak

dibayar pada tanggal jatuh tempo yang telah ditetapkan penagihan dapat

dilakukan dengan surat paksa.

Penagihan utang pajak, tidak dapat disamakan dengan penagihan utang

pada umumnya. Karena utang pajak adalah utang kepada Ngara, sehingga

pelunasannya dapat dipaksakan atas kehendak pihak Negara. Karena sifatnya

yang khusus ini, maka utang pajak dapat dituntut pelunasannya tanpa melalui

proses perdilan perdata lebih dahulu dan dalam batas-batas tertentu. Fiscus berhak

mendahului kreditur-kreditur lainnya.Fiscus mempunyai kekuatan hukum yang

sama dengan keputusan pengadilan perdata.

Hasil sitaan akan dijual dimuka umum (dilelang) dan hasil penjualan

tersebut akan digunakan untuk melunasi pajak yang terutang dengan pelaksanaan

penyitaan dan pelelengan tersebut. Dalam keadaan tertentu pelelangan dapat

dibatalkan bila penanggung jawab (WP) masih sempat melunasi utang pajaknya

termasuk penggantian biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh fiscus sehubungan

Direktorat Jenderal Pajak, berhubungan dengan wajib pajak tidak melunasi

baik sebagian atau seluruh kewajiban perpajakan menurut undang-undang perpajakan

yang berlaku”.

Agar Penagihan pajak dapat tercapai secara efektivitas dan efesien penagihan

pajak harus didasari oleh surat paksa. Ketentuan ini memberikan kekuatan

”EKSEKUTORIAL” serta memberikan kedudukan hukum yang sama dengan

putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap kepada surat paksa.

Dengandemikian surat paksa langsung dapat dilaksanakan tanpa

bantuan putusan pengadilan lagi dan tidak dapat diajukan banding.

3.2.1. Dasar Hukum Penagihan Pajak

1) Undang-Undang No.16 Tahun 2000 tentang ketentuan Umum dan Tatacara

Perpajakan.

2) Undang-Undang No.19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak dengan Surat

Paksa.

3) KMK No. 561/KMK.03/2000 tentang Cara Pelaksaan penagihan Seketika dan

Sekaligus dan Pelaksanaan Surat Paksa.

4) KMK No. 85/KMK.03/2002 tentang Tatacara Penyitaan Kekayaan

Penanggung Pajak berupa Piutang dalam Rangka Penagihan Pajak dengan

Surat Paksa.

5) PP No.135 Tahun 2000 tentang Tatacara Penyitaan dalam Rangka Penagihan

6) Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-02/PJ.75/2002 tentang Kebijaksanaan

Penagihan Pajak 2002.

7) Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-05/PJ.75/2002 tentang Tindak

Lanjut Atas Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-02/PJ.75/2002 tentang

Kebijaksanaan Penagihan Pajak Tahun 2002.

8) Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-08/PJ.75/2002 tentang Pemeriksaan

Untuk Tujuan Penagihan Pajak (Delinquency Audit).

9)UU No.28 Thn 2007” Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang

oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan

Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan

untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan penagihan pajak diatur dalam

pasal 19 sampai dengan pasal 24 dalam UU KUP,dasar penagihannya antara lain :

Surat Tagihan Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat

Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), Surat Ketetapan

Pembetulan, Surat Keberatan, Putusan Banding merupakan dasar penagihan

pajak.

Pada dasarnya besarnya utang pajak dihitung sendiri oleh wajib pajak. Baru

apabila kemudian ternyata terdapat kekeliruan/kesalahan wajib pajak dalam

melakukan perhitungan pajak terutang atau wajib pajak melanggar ketentuan yang

Pajak) dapat menerbitkan Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurng Bayar,

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. Ketiga surat ini merupakan sarana

administrasi bagi Direktorat Jendral Pajak (DJP). Dalam hal tagihan pajak tersebut

tidak dibayar pada jatuh tempo yang telah ditentukan/ditetapkan penagihannya dapat

dilakukan dengan surat paksa.

Untuk penerbitan dan keseragaman tindakan dalam melaksanakan penagihan

pajak. Menteri Keuangan akan mengatur tata carannya termasuk aspek administrasi

baik mengenai tindakan penagihan itu sendiri maupun aspek pelaksanaan pembayaran

atas tagihan pajak.

3.2.2. Jenis-Jenis Penagihan

a) Penagihan Pasif, yaitu surat paksa dan surat teguran.

b) Penagihan Aktif, yaitu menggunakan surat paksa, surat perintah penyitaan

sampai mengajukan permintaan penetapan hari, tanggal dan tempat

pelelangan.

c) Penagihan Seketika dan Sekaligus, adalah tindakan penagihan yang

dilakukan oleh juru sita pajak kepada penanggung pajak tanpa menunggu

tanggal jatuh tempopembayaran yang meliputi seluruh hutang pajak dari

semua jenis pajak, masa pajak dan tahun pajak.

3.2.3. Jenis-Jenis Sanksi Atas Keterlambatan Wajib Pajak dalam Membayar Pajak

Dalam Undang-Undang Perpajakan, jenis sanksi yang diberikan kepada wajib

pajak apabila atas keterlambatannya dalam membayar pajak ada 2 macam yaitu :

1 . Sanksi Administrasi

Sanksi administrasi merupakan sejumlah pembayaran kerugian berupa uang

kepada Negara dalam bentuk bunga, denda atau kenaikan, sanksi ini diatur dalam

Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan (UU No. 16/1983 jo, UU No. 19/1997)

dan ditetapkan oleh Direktorat Jendral Pajak.

a. Bunga, pembayaran, penagihan, ketetapan masing-masing 2%

perbulan

b. Kenaikan 50%-100%.

c. Denda, Rp.50.000-Rp100.000 (Menurut UU KUP No.16

Tahun 2000).

Dokumen terkait