E. Scientific Approach
5) Menyaksikan fenomena alam,
Melatih kesungguhan dalam mencari informasi, menemukan fakta, ataupun suatu persoalan.
34 social budaya
Menanya Mengajukan pertanyaan tentang
hal-hal yang tidak dipahami dari suatu yang diamatinya.
Pertanyaan-pertanyaan bersifat
factual
Per…….. problematic.
Mengembangkan rasa ingin tahu dan sikap kritis.
Menalar 1) Mengumpulkan sejumlah
informasi ataupun fakta-fakta
dalam rangka menjawab
pertanyaan permasalah-an
yang diajukan siswa
sebelum-nya. Caranya dengan
membaca sejumlah referensi,
melakukan wawancara,
melakukan pengamat-an
lapangan, ataupun kegiatan penelitian di laboratorium. 2) Mengolah informasi ataupun
fakta-fakta yang telah
dikumpulkan menjadi sebuah rumusan kesimpulan, sesuai
dengan masalah yang
diajukan pada langkah
sebelumnya.
Mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Mengasosiasikan Menerapkan (mengembangkan,
memperdalam) pemahaman atas suatu persoalan kepada persoalan lain yang sejenis atau yang berbeda. Mengembangkan kemampuan bernalar secara sistematis dan logis.
35 Berikut langkah-langkah Scientific Approach :
a. Mengamati (Observing)
Langkah pertama dalam pembelajaran saintifik adalah mengamati. Kegiatan bertujuan untuk memperoleh gambaran umum dari suatu objek materi yang berkenaan dengan kompetensi dasar yang akan dipelajari . kegiatan mengamati dalam pembelajran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah berikut:
1) Menemukan objek pengamatan, sesuai dengan KD yang akan dipelajari 2) Menentukan aspek-aspek yang perlu diamati siswa sesuai dengan indicator
pembelajran
3) Menuliskan serangkaian kegiatan yang harus dilakukan siswa selama kegiatan pengamatan
4) Menyiapkan scenario pembelajaran lanjutan setelah melakoni proses pengamatan (Kosasih, 2013: 74).
Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi.
Mengkomunikasikan Menyampaikan hasil kegiatan
belajar kepada orang lain secara jelas dan komunikatif, baik lisan ataupun tulisan. Mengembangkan sikap jujur, percaya diri, betanggung jawab, dan toleran dalam menyampaikan pendapat kepada orang lain dengan memperhatikan pula kejelasan, kelogisan dan keruntutan sistematikanya.
36
Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa hubungan antara objek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru. Kegiatan mengamati dalam pembelajran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut:
1) Menentukan objek apa yang akan diobservasi
2) Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkungan objek yang akan diobservasi
3) Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder.
4) Menentukan dimana tempat objek yang akan diobservasi
5) Menentukan secar jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancer.
6) Menentukan cara dan melakukan pencatatn atas hasil observasi, seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorer, video perekam dan alat-alat tulis
Secara lebih luas alat atau instrument yang digunakan dalam melakukan observasi dapat berupa data cek, skala rentang, dan catatan bersifat anekdot, catatan berkala dan alat mekanikal. Daftar cek dapat berupa suatu daftar yang berisikan nama-nama subjek, objek atau factor-faktor yang yang akan diobservasikan tingkatnya. Catatan anecdotal berupa catatan yang dibuat oleh peserta tingkatnya. Catatan anecdotal berupa catatan yang dibuat oleh peserta didik dan guru mengenai kelakukan-kelakuan luar biasa yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi. Alat mekanikal berupa alat mekanik yang subjek yang dapat dipakai untuk memotret atau merekam peristiwa-peristiwa tertentu yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi.
Menurut Hosnan (2014:40) mengatakan bahwa metode observing adalah salah satu strategi pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual dan media asli dalam rangkam pembelajarkan siswa yang mengutamakan kebermaknaan proses belajar. Dengan metode observasi, siswa akan merasa tertantang mengeksplorasi rasa keingintahuannya tentang fenomena dan rahasia alam yang senantiasa menantang. Metode observasi mengedepankan pengamatan
37
langsung pada objek yang akan dipelajari sehingga siswa mendapatkan fakta berbentuk data yang objektif yang kemudian dianalisis sesuai tingkat perkembangan siswa.
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar dan membaca. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek.
b. Menanya
Dalam kegiatan mengamati, guru memberikan kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dan dibaca. Guru harus membimbing peserta didik untuk bisa mengajukan pertanyaan: pertanyaan tentang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak. Pertanyaan yang bersifat factual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik.
1) Fungsi bertanya yaitu :
1) Membangkitkan rasa ingin tahu, minat dan perhatian peserta didik
2) Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri
3) Mendiagnosa kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan ancaman untuk mencari solusinya
4) Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap, keterampilan dan pemahamanny.
5) Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan dn memberikan jawaban secara logis.
2) Kriteria Pertanyaan yang Baik
Kriteria pertanyaan yang baik, sebagai patokan untuk bertanya dalam proses pembelajaran sebagai berikut:
a) Singkat dan jelas b) Menginspirasi jawaban c) Memiliki focus
38 d) Bersifat pobling dan divergen e) Bersifat validatif atau penguatan
f) Member kesempatan peserta didik untuk berfikir ulang g) Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitf h) Merangsang proses interaksi
3) Tingkatan Pertanyaan
Guru harus memahami kualitas pertanyaan, sehingga menggambarkan tingkat kognitif seperti apa yang akan disentuh, mulai dari yang rendah hingga yang tinggi. Hal tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a) Kognitif tingkat lebih rendah meliputi pengetahuan (apa, siapa, dimana, sebutkan jodohkan, golongkan), pemahaman (terangkan, bedahkan, terjemahkan, simpulkan, bandingkan, ubahla), penerapan (gunakan, tunjukkan, buatlah, demonstrasikan, carilah hubungan).
b) Kognitif yang lebih tinggi meliputi: Analisis ( analisislah, kemukakan bukti-bukti, mengapa, identifikasi, tujukkan sebabnya, berikan alasannya), sintesis (ramalkanlah, bentuklaah, ciptakanlah, susunlah) Evaluasi (berikanlah pendapat anda, alternative mana yang lebih baik, kritiklah, setujukah anda).
c. Menalar
Menalar adalah salah satu istilah dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adlah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penalaran non ilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada kemampuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukkan menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan
39
peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan dimemori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar.
Kegiatan yang dilakukan siswa dalam tahap bernalar adalah sebagai berikut:
1) Membaca beragam referensi yang sekiranya dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
2) Melakukan pengamatan lapangan, terutama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan pembuktian ilmiah
3) Mewawancarai narasumber untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban yang berupa pendapat ahli (Kosasi, 2013: 78)
Seperti telah dijelaskan dimuka, terdapat dua cara menalar, yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalarn induktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari fenomena atau atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Jadi, menalar secara induktif adalah proses penarikan simpulan dari kasus-kasus yang bersifat umum. Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi indrawi atau pengalaman empiris. Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataan-pernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. pola penalaran deduktif dikenal dengan pola silogisme. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagian yang khusus.
d. Mengolah
Pada tahap mengolah ini peserta didik sedapat mungkin dikondisikan belajar secara kalaboratif. Pada pembelajaran kalaboratif kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar, sebaliknya, peserta didiklah yang harus lebih aktif. Jika pembelajaran kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafa pribadi, maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang lainnya atau guru.
40
Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Peserta didik pun harus mempunyai keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi sehari-hari. e. Menyimpulkan
Kegiatan menyimpulkan merupakan kelanjutan dari kegiatan mengolah, bisa dilakukan bersamasama dalam satu kesatuan kelompok atau bisa juga dengan dikerjakan sendiri setelah mendengarkan hal kegiatan mengolah informasi. Aktivitas menyimpulkan tidak lain dari menjawab pertanyaan pokok dari tujuan utama kegiatan atau proses pembelajaran.
f. Menyajikan
Hasil tugas yang dikerjakan bersama-sama secara kolaboratif dapat disajikan dalam bentuk laporan tertulis dan dapat dijadikan sebagai salah satu bahan untuk portofolio kelompok dan individu yang sebelumnya dikonsultasikan terlebih dahulu kepada guru. Pada tahapan ini, walaupun tugas dikerjakan secara berkelompok, tetapi hasil pencatatan dilakukan oleh masing-masing individu, sehingga portofolio yang dimasukkan ke dalam file atau map peserta didik terisi dari hasil pekerjaanya sendiri secara individu.
g. Mengkomunikasi Hasil
Pada kegiatan akhir siharapkan peserta didik dapat mengomunilkasikan hasil percobaan yang telah disusun, baik secara bersama-sama dalam kelompok dan atau secara individu dari hasil kesimpulan yang telah dibuat bersama. Kegiatan mengomunikasikan ini dapat dilakukan dalam bentuk pejangan atau lisan melalui presentasi.
Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogic modern dalam pembelajaran, yaitu dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (Scientific Approach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanyya, menalar, mencooba dan membentuk jarring-jaring intuk semua mata pelajaran. Prosses pembelajaran menyentuh tiga rana, yaitu: sikap, pengetahuan dan keterampilan. Melalui pendekatan itu, diharapkan siswa
41
memiliki kompetensi sikap keterampilan dan pengetahuan yang jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bias sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan dizamannya, memasuki masa depan yang lebih baik. Upaya penerapan pendekatan (Scientific Approach) dalam proses pembelajaran ini kemudian melahirkan system evaluasi yang auntentik, (Sunarti: 2013:2).