Di dalam ketentuan pidana yang diatur Pasal 251 KUHP, yang rumusan aslinya dalam bahasa Belanda berbunyi sebagai berikut :
75
Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa izin pemerintah, menyimpan atau memasukkan ke Indonesia keeping-keping atau lembaran-lembaran perak, baik yang ada maupun yang tidak ada capnya atau dikerjakan sedikit, mungkin dianggap sebagai mata uang, padahal tidak nyata-nyata akan digunakan sebagai perhiasan atau tanda peringatan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau pidana denda paling banyak sepuluh ribu rupiah.
Artinya :
76
Rumusan pasal 251 tersebut bila dirinci, dapat dilihat unsur-unsurnya sebagai berikut :
74
Adam Chazawi, Ardi Ferdian, Op.cit., hlm.86-89. 75
Engelbrecht, Op.cit.
76
Unsur-unsur objektif : 1. Perbuatannya : a. menyimpan;
b. memasukkan ke Indonesia;
2. Melawan hukum : Tanpa izin Pemerintah;
3. Objeknya : a. keeping-kepingan perak
b. lembar-lembaran perak :
- yang ada capnya;
- yang tidak ada capnya;
- yang diulang capnya;
- yang setelah dikerjakan sedikit tampak seperti mata uang;
4. padahal tidak nyata-nyata akan digunakan sebagai perhiasan atau tanda peringatan;
Unsur subjektif 5. Kesalahan : dengan sengaja.
Dibentuknya tindak pidana pasal 251 dimaksudkan sebagai usaha preventif agar di Indonesia tidak terjadi adanya benda-benda yang beredar yang menyerupai mata uang. Oleh sebab itu, pasal ini melarang orang melakukan perbuatan menyimpan atau memasukkan ke Indonesia benda-benda berupa kepingan atau lembaran perak yang ada capnya maupun tidak ada capnya, atau telah diulang capnya atau setelah dikerjakan sedikit tampak seperti mata uang, benda-benda mana menyerupai atau seperti mata uang.
Untuk menyimpan atau memasukkan ke Indonesia benda-benda yang menjadi objek tindak pidana pasal ini, terlebih dahulu harus mendapat izin dari pemerintah, kecuali apabila benda-benda tersebut nyata-nyata dimaksudkan untuk digunakan sebagai perhiasan, misalnya liontin, kalung, cincin dan sebagainya, atau tanda peringatan misalnya untuk membuat medali. Sifat melawan hukumnya perbuatan menyimpan atau memasukkan ke Indonesia terletak pada unsur tanpa izin tersebut. Sementara “unsur tidak nyata-nyata akan digunakan sebagai perhiasan atau tanda peringatan”, merupakan unsur syarat tambahan untuk
dapatnya perbuatan itu menjadi melawan hukum, atau dengan kata lain untuk dapatnya dipidana.
Perbuatan menyimpan adalah perbuatan menempatkan suatu benda di dalam kekuasaan atau tempat yang sedemikian rupa, yang menjadikan hubungan yang sedemkian eratnya antara dirinya dengan benda itu. Dalam hal ini tidak diperlukan benar-benar disimpan oleh dirinya sendiri, melainkan dapat juga oleh orang lain atas perintahnya. Hubungan yang sedemikian eratnya itu juga menjadikan keadaan aman dan terpeliharanya benda itu dari gangguan dan kerusakan.
Tidak terdapat maksud apa yang terkandung dalam diri si pembuat yang menyimpan atau memasukkan ke Indonesia. Namun demikian, jika maksud si pembuat nyata-nyata ditujukan untuk dibuat perhiasan, maka perbuatan menyimpan meskipun tanpa izin tidaklah dapat dipidana. Maksud yang demikian ini merupakan alasana peniadaan kesalahan.77
77
Adam Chazawi, Ardi Ferdian, Op.cit., hlm.90 - 92.
Pasal 251 terdapat unsur sengaja, yang dalam rumusan ditempatkan mendahului semua unsur. Agar seseorang terdakwa yang didakwa melanggar larangan yang diatur dalam pasal 251 KUHP dapat dipandang sebagai telah memenuhi unsur kesengajaan tersebut, baik penuntut umum maupun hakim harus dapat membuktikan di sidang pengadilan yang memeriksa dan mengadili perkara terdakwa tentang :
a. adanya kehendak pada terdakwa untuk tanpa mendapat izin dari kepala Pemerintahan Daerah setempat mempunyai dalam persediaan atau
memasukkan ke Indonesia keeping-keping atau lempengan-lempengan perak baik yang dibubuhi ataupun yang tidak dibubuhi dengan sebuah cap;
b. adanya pengetahuan pada terdakwa bahwa keping-keping atau lempengan- lempengan perak tersebut setelah dibubuhi atau dibubuhi kembali dengan sebuah cap ataupun setelah dikerjakan dengan sesuatu cara yang lain dapat dipandang sebagai mata uang;
c. adanya kehendak pada terdakwa untuk tidak memakai benda-benda tersebut sebagai perhiasan atau tanda kenang-kenangan.
Jika kehendak dan pengetahuan terdakwa ataupun salah satu dari kehendak dan pengetahuan terdakwa tersebut di atas ternyata tidak dapat mereka buktikan, maka dengan sendirinya juga tidak ada alasan bagi mereka untuk menyatakan terdakwa terbukti memenuhi unsur kesengajaan yang diisyaratkan di dalam rumusan ketentuan pidana yang diatur pasal 251 KUHP, sehingga hakim harus memberikan putusan bebas bagi terdakwa.78
Dalam tindak pidana mengenai mata uang dan uang kertas, hanya pasal 251 ini saja yang mencantumkan unsur sifat melawan hukumnya perbuatan, yaitu “tanpa izin pemerintah”. Perkataan “tanpa izin” adalah merupakan unsur sifat melawan hukum, dicantumkannya unsur ini dalam pasal 251 dimaksudkan, agar tidak semua perbuatan memasukkan ke Indonesia benda keping-kepingan atau lembaran perak sebagaimana yang dimaksudkan dipidana. Dari sudut unsur melawan hukum ini, jika ada izin maka perbuatan menyimpan atau memasukkan ke Indonesia benda-benda tersebut tidak boleh dipidana. Apabila unsur tanpa izin tersebut tidak dicantumkan, maka semua orang yang menyimpan atau memasukkan benda-benda tersebut ke Indonesia dapat dipidana.79
Berbeda dengan tindak pidana terhadap uang lainnya, tidak dicantumkan unsur melawan hukum. Meskipun tidak dicantumkan secara formal dalam rumusan, bukan berarti tidak mengandung sifat melawan hukum. Tidak ada satu tindak pidana manapun yang tidak mengandung sifat melawan hukum di dalamnya. Apabila tidak ditemukan dalam rumusan, unsur melawan hukum terdapat secara terselubung. Sifat terlarangnya perbuatan tersembunyi di unsur perbuatannya, atau unsur-unsur keadaan tertentu, atau akibat tertentu yang
78
P.A.F Lamintang, Theo Lamintang. Op.cit., hlm. 205-206. 79
dilarang,80
Objek tindak pidana pasal 251 adalah benda perak yang terdiri dari kepingan-kepingan atau lembar-lembara perak. Pada objek ini melekat 4 (empat) unsur keadaan yang menyertai, ialah : “ada capnya” ; “tidak ada capnya”; “diulang capnya” dan setelah dikerjakan sedikit menyerupai mata uang.
atau objek tindak pidana, atau keadaan menyertai perbuatan atau menyertai objek tindak pidananya.
Perbedaan antara tindak pidana yang dicantumkan unsur melawan hukum dan yang tidak ada hanyalah dari sudut pembuktiannya saja. Apabila dicantumkan maka harus dibuktikan. Apabila tidak maka tidak perlu dibuktikan. Cukup membuktikan unsur dimana unsur sifat melawan hukum tersebut melekat. Dengan terbuktinya unsur tersebut, maka unsur sifat terlarangnya perbuatan telah dianggap terbukti pula.
81
- De valse, vervalste of geschonden muntspecien,
8. Pidana Tambahan Bagi Para Pelaku Tindak Pidana Yang Diatur Dalam