BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.2. Teknik Penelitian
3.4.5. Menyusun Hasil Penelitian
Kegiatan menyusun hasil penelitian ini ialah menyusun hasil penelitian atau fakta-fakta kedalam suatu pola yang benar dan berarti, yaitu sistematika tertentu. Sistematika yang digunakan dalam penulisan skripsi ini ialah menggunakan sistematika yang berlaku dalam jurusan Pendidikan Sejarah dengan menggunakan ejaan yang telah disempurnakan. Penulisan skripsi ini mengacu pada buku pedoman karya ilmiah yang dikeluarkan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tahun 2011. Penulisan ini ditujukan sebagai salah satu tugas akhir akademis yang harus ditempuh oleh mahasiswa dalam jurusan Pendidikan Sejarah untuk menyelesaikan pendidikan tingkat sarjana. Sistematika penulisan ini dibagi menjadi lima bagian yang memuat pendahuluan, kajian pustaka, metodologi penelitian, pembahasan dan kesimpulan.
Penyusunan hasil penelitian merupakan tahapan penyusunan hal-hal yang telah penulis dapatkan kedalam bentuk penulisan skripsi. Dalam penelitian sejarah penulisan hasil penelitian dikenal dengan tahap historiografi yang berarti pelukisan sejarah, gambaran sejarah tentang peristiwa yang terjadi pada waktu yang telah lalu yang disebut sejarah (Ismaun, 2005: 28).
Pada penulisan laporan penelitian ini penulis menapsirkan fakta-fakta yang terdapat dalam sumber-sumber yang telah difilterasi dan diidentifikasikan melalui proses kritik ekstern dan intern. Fakta yang telah didapatkan tersebut kemudian ditafsirkan oleh penulis sehingga peneliti dapat menguji kebenarannya. Penulis melakukan penafsiran terhadap data-data yang
72
telah dikritik dan menetapkan makna dan fakta-fakta dari data-data yang saling berhubungan tersebut. Setelah kebenaran didapatkan, maka peneliti menggabungkan atau merekonstruksi fakta tersebut menjadi sebuah satu
kesatuan yang dibantu dengan “historical thingking”. Hal tersebut dilakukan dengan memikirkan kembali masa lalu seolah-olah penulis mengalami dan menjadi pelaku pada peristiwa yang terjadi pada masa lalu, sehingga penulis dapat memperoleh gambaran tentang permasalahan yang dikaji.
Penafsiran terhadap fakta-fakta sejarah yang terdapat dalam skripsi ini, menggunakan filsafat deterministik. Menurut Romein dan Lucey dalam Sjamsuddin (2007: 163) filsafat sejarah deterministik ini menolak semua penyebab yang berdasarkan kebebasan manusia dalam menentukan dan mengambil keputusan sendiri dan menjadikan manusia sebagai “robot” yang tindakannya dipengaruhi oleh faktor-faktor luar. Tenaga-tenaga yang di luar diri manusia berasal dari dunia fisik seperti geografi, etnologi, sistem ekonomi dan sosial. Alasan peneliti menggunakan filsafat deterministik ini karena, semua peristiwa yang dibahas dalam skripsi ini dilatar belakangi oleh faktor dari luar individu manusia, yaitu kondisi sosial, dan politik yang menyebabkan manusia mengambil kebijakan dan keputusan sejarah.
Filsafat deterministik mempunyai beberapa bentuk, penulis memilih menggunakan bentuk penafsiran sintetis (Sjamsuddin, 2007: 170). Penafsiran sintesis menjelaskan bahwa penafsiran yang mencoba menggabungkan semua faktor dan tenaga menjadi penggerak sejarah. Dalam penafsiran ini, penulis memandang bahwa tidak ada faktor tunggal yang cukup untuk menjelaskan
semua peristiwa sejarah. Semua faktor akan saling berkaitan dan manusia tetap menjadi pemeran utama dalam sejarah tersebut. Penulis menafsirkan berbagai fakta yang berasal dari sumber tertulis. Penafsiran terhadap sumber tertulis dilakukan dengan pemikiran secara mendalam terhadap berbagai pendapat dari peneliti sebelumnya, mengenai dinamika politik Indonesia tahun 1950-1960. Dengan demikian, peneliti mendapatkan jawaban dari setiap perbedaan yang diungkapkan oleh para peneliti sebelumnya.
Pada skripsi ini, faktor-faktor yang mempengaruhi adalah adanya faktor keinginan sebagian umat Islam menggunaan ideologi Islam sebagai dasar negara Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut seluruh organisasi umat Islam di Indonesia sepakat untuk mendirikan suatu partai yaitu Partai Masyumi. Terbentuknya Partai Masyumi diharapkan akan mencapai tujuan tersebut. Namun dalam perkembangannya terjadi perpecehan dalam Partai Masyumi yang mengakibatkan keluarnya NU, PSII dan Perti. Hal tersebut mengakibatkan berkurangnya dukungan terhadap Partai Masyumi sehingga perolehan suara Partai Masyumi dalam pemilu 1955 masih di bawah PNI. Pertarungan Partai Masyumi yang menginginkan Islam sebagai dasar negara dengan kaum sekuler yang tidak setuju semakin terlihat dalam suasana sidang konstituante yang tidak menghasilkan keputusan yang seharusnya. Selain oleh Partai Masyumi Ideologi Islam sebagai dasar negara juga diperjuangkan oleh gerakan Darus Islam atau DI-TII Kartosuwiryo di Jawa Barat. Namun, bedanya gerakan DI-TII Kartosuwiryo mereka tidak mengakui kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai suatu negara yang
74
dipimpin oleh orang-orang sekuler. Keberadaan DI-TII ini oleh pemerintah dianggap sebagai pemberontak dan merupakan organisasi terlarang.
Faktor lainnya yaitu terbentuknya aliran-aliran politik yaitu dengan terbaginya partai politik dalam beberapa aliran pemikiran politik yang memberikan warna terhadap kondisi perpolitikan pada masa tahun 1950-1960. Sumber aliran pemikiran politik di Indonesia itu terbagi dalam dua sumber utama. Pertama, yang bersumber pada tradisi dan kedua, yang bersumber dari luar (aliran pemikiran barat). Kedua arus sumber utama tersebut melahirkan lima aliran pemikiran politik dalam masyarakat, yakni; komunisme, sosialisme
demokratik, nasionalisme radikal, Islam, dan Tradisionalisme Jawa. Kondisi
ini mengakibatkan kinerja pemerintah yang tidak stabil, karena persoalan- persoalan ideologi yang sulit untuk dikompromikan. Hal ini juga memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat yang kurang sejahtera baik itu secara ekonomi maupun pendidikan, sehingga masih banyak masyarakat yang hidup miskin dan buta huruf. Pembagian ideologi ini menjadi salah satu fatkor tidak terwujudnya suatu negara Islam yang dicita-citakan Partai Masyumi.
Berbagai penafsiran yang telah didapatkan dikaitkan menjadi beberapa fakta, disusun ke dalam sebuah skripsi. Di dalam skripsi ini tertuang berbagai hal yang telah dilakukan dan dihadapi oleh penulis dalam melakukan penelitian. Selain itu, dituangkan pula berbagai informasi yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.
Fakta yang didapat oleh penulis tidak hanya ketika melakukan penelitian saja, namun peneliti juga mendapatkannya ketika penulisan laporan
ini sedang disusun. Fakta baru ini memberikan informasi dan kontribusi yang penting sehingga penulisan laporan ini menjadi lebih baik lagi. Fakta baru juga dicari oleh penulis ketika merasa ada yang kurang dalam penelitian ini.
3.4.6. Menyajikan Hasil Penelitian
Hasil penelitian disajikan melalui karya tulis ilmiah dalam bentuk skripsi yang berjudul „Dinamika Partai Masyumi di Jawa Barat Periode Tahun 1950-1960”. Melalui skripsi ini penulis dapat mengkomunikasikan semua hasil penelitian yang telah diperoleh kepada para pembaca.
Skripsi ini disusun ke dalam lima bab, yang terdiri dari Pendahuluan, Tinjauan Pustaka, Metodologi Penelitian, Pembahasan, dan Kesimpulan. Pembagian penyusunan kedalam lima bab ini bertujuan untuk memudahkan pemahamam terhadap karya tulis ini.
Bab I Pendahuluan, bab ini berisi mengenai latar belakang masalah yang menjelaskan kerangka pemikiran mengenai pentingnya penelitian
terhadap “Dinamika Partai Masyumi di Jawa Barat Periode Tahun 1950- 1960”. Untuk memfokuskan penelitian maka bab ini dilengkapi pula dengan rumusan masalah. Bab ini juga memuat mengenai tujuan penelitian, penjelasan judul, manfaat penelitian dan juga sistematika penulisan.
Bab II Kajian Pustaka, bab ini akan mengkaji kajian Pustaka dan Kerangka Teoritis, mengemukakan penjelasan beberapa sumber kepustakaan yang menjadi rujukan serta relevan dengan permasalahan yang akan dibahas
76
Kemudian penulis akan mengemukakan penjelasan mengenai konsep-konsep yang relevan dengan tema yang akan dikaji, serta menyediakan suatu kerangka pemikiran yang mencakup berbagai konsep dan teori yang akan dipakai dalam membuat analisis.
Bab III Metodologi Penelitian, bab ini akan menjelaskan mengenai serangkaian kegiatan serta cara-cara yang ditempuh dalam melakukan penelitian untuk mendapatkan sumber yang relevan dengan masalah yang sedang dikaji oleh penulis. Diantaranya mengusut evidensi, yaitu proses pengumpulan data-data yang dibutuhkan dalam penulisan skripsi ini. membuat catatan-catatan penting. Kritik, yaitu melakukan penilaian secara intern dan ekstern terhadap data yang telah diperoleh dalam langkah sebelumnya, untuk mendapatkan berbagai informasi yang akurat berkaitan dengan permasalahan yang dikaji. Penyusunan hasil laporan penelitian yang sesuai dengan sistematika karya ilmiah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tahun 2011, dan tahap penyajian laporan penelitian dalam bentuk karya ilmiah skripsi.
Bab IV Dinamika Partai Masyumi di Jawa Barat periode Tahun 1950- 1960, bab ini merupakan pemaparan atas jawaban pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam rumusan masalah. Bab dikembangkan menjadi dua sub bab yaitu sub bab pertama mengenai gambaran umum provinsi Jawa Barat tahun 1950-1960, yang meliputi kondisi geografis dan administratif Jawa Barat, dan kondisi sosial masyarakat Jawa Barat. Sub bab kedua, mengenai hasil penelitian dan pembahasan yang meliputi, latar belakang banyaknya pendukung Partai Masyumi di Jawa Barat tahun 1950-1960, perkembangan
Partai Masyumi di Jawa Barat tahun 1950-1960, dan kondisi politik Partai Masyumi di Jawa Barat setelah dibubarkan pada tahun 1960.
Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi, bab ini akan dikemukakan kesimpulan sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan serta sebagai inti dari pembahasan pada bab-bab sebelumnya dan menguraikan hasil temuan penulis tentang permasalahan yang dikaji pada penulisan skripsi ini, dan rekomendasi dari penulis yang diajukan kepada berbagai pihak yang berkepentingan dalam penelitian ini khususnya dengan pembelajaran sejarah di Sekolah.
148
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian di lapangan mengenai dinamika Partai Masyumi di Jawa Barat periode tahun 1950-1960. Maka penulis dapat menyimpulkan. Pertama, banyaknya pendukung Partai Masyumi di Jawa Barat tahun 1950-1960 karena masyarakat Jawa Barat mayoritas beragama Islam, bahka dapat dikatakan agama Islamnya kuat. Maka dengan begitu, respon terhadap Partai Masyumi sebagai partai Islam mendapat dukungan yang banyak dari masyarakat Jawa Barat. Adanya Keterlibatan para tokoh agama seperti ulama dan kiai dalam memperjuangkan Partai Masyumi menjadi pendorong masyarakat untuk mendukung Partai Masyumi. Selain itu, ada sebagian masyarakat Jawa Barat menyakini bahwa Partai Masyumi merupakan partai yang akan menyelamatkan mereka dari kesengsaraan.
Ketika NU keluar dari Partai Masyumi tahun 1952, Masyarakat Jawa Barat mayoritas masih tetap mendukung Partai Masyumi. Ulama dan kiai tradisional di Jawa Barat orintasi politiknya cendrung lebih mendukumg Partai Masyumi yang cenderung modern dibandingkan dengan NU yang cenderung tradisional. Banyaknya pendukung Partai Masyumi di Jawa Barat setelah NU keluar juga dikarenakan beberapa organisasi Islam beraliran modern yang dengan
Partai Masyumi berdiri dan berkembang di Jawa Barat seperti Organisasi Persatuan Islam (Persis) dan Organisasi Persatuan Umat Islam (PUI).
Kedua, Perkembangan Partai Masyumi di Jawa Barat tahun 1950-1960.
Awal tahun 1950’an kebanyakan masyarakat Jawa Barat mulia mengetahui
Masyumi sebagai Partai politik. Keberadaan Partai Masyumi sebagai partai Islam mendapatkan dukungan yang banyak dari masyarakat Jawa Barat dan menjadikan Partai Masyumi menjadi partai yang kuat dan mendominasi perpolitikan Jawa Barat. Dukungan Partai Masyumi semakin bertambah banyak ketika para pemimpin partai sering melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui kegiatan-kegiatan keagamaan.
Melihat perkembangan pendukung Partai Masyumi, lawan politik Partai Masyumi mulai melakukan ancaman-ancaman dan isu-isu politik yang menjadikan citra Partai Masyumi menjadi buruk dimata masyarakat. Seperti halnya mengidentikan Partai Masyumi dengan gerakan DI-TII. Hal ini menjadikan sebagian orang-orang yang menjadi anipati atau tidak suka dengan Partai Masyumi. Ancaman dan isu ini semakin berkembang menjelang pemilu 1955. Untuk mengatasi hal tersebut Partai Masyumi pemahaman-pemahaman kepada masyarakat dan giat melaksanakan kampanye. Sehingga dalam pemilu 1955 Partai Masyumi di Jawa Barat mendapatkan suara paling banyak.
Setelah pelaksanaan pemilu 1955, Partai Masyumi sudah mulai memperlihatkan adanya penurunan. Hal ini dikarenakaan kegiatan-kegiatan yang
150
jarang dilakukan lagi. Sehingga antusias masyarakat mulai berkurang. Namun hal ini tidak sepenuhnya, Partai Masyumi juga masih melakukan kegiatan seperti pengajian-pengajian bahkan mendirikan lembaga pendidikan seperti mendirikan sekolah agama.
Menjelang tahun 1959 sorotan pemerintah terhadap Partai Masyumi mulai tajam. Munculnya gerakan PRRI yang melibatkan para pemimpin-pemimpin Partai Masyumi seperti Mohammad Natsir, Burhanudin Harahap dan Sjafrudin Prawiranegara mengakibatkan munculnya citra yang buruk terhadap Partai Masyumi. Hal ini juga ditambah dengan isu adanya hubungan Partai Masyumi dengan gerakan DI-TII di Jawa Barat. Kondisi Partai Masyumi semakin buruk ketika Partai Masyumi mengambil sikap tidak mendukung pemerintahan presiden Soekarno dengan alasan masuknya PKI dalam politik pemerintahanp presiden Soekarno. Selain itu, Partai Masyumi menganggap bahwa sistem Demokrasi Terpimpin dinilai sebagai move Presiden Soekarno untuk menciptakan suatu negara kekuasaan, sebagai lawan dari negara hukum di Indonesia.
Sikap politik Partai Masyumi tersebut berdampak terhadap kegiatan politik Partai Masyumi. Pemerintah Presiden Soekarno tidak memberikan peluang bagi Partai Masyumi untuk berperan dalam pemerintahan. Pada tanggal 15 Agustus 1960, akhirnya Pesiden Soekarno mengeluarkan Keppres Nomor 200/1960, yang bertujuan untuk membubarkan Partai Masyumi tetapi dengan taktik Partai Masyumi yang harus membubarkan sendiri. Pada tanggal 13
Ketiga, Kondisi politik Partai Masyumi di Jawa Barat setelah dibubarkan
tahun 1960. Bubarnya Partai Masyumi karena taktik politik pemerintah Soekarno
memperlihatkan bahwa hilangnya peranan politik Partai Masyumi ini bukan karena peranan dan pendukung Partai Masyumi yang menurun tetapi karena eksistensi Partai Masyumi diakhiri oleh Presiden Soekarno. Setelah Partai Masyumi resmi membubarkan diri, para mantan pendukung dan pemimpin Partai Masyumi merasa kebingungan tidak ada pegangang. Sehingga untuk menyalurkan aspirasi organisasinya mereka masuk kedalam organisai-organisasi Islam lain seperti NU, HMI dan bahakan di Jawa Barat ada organisasi BMAU (Badan Majelis Alim Ulama) wadah bagi para kiai dan ulama yang berada di bawah militer.
Organisasi BMAU ini bertujuan untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat Islam di Jawa Barat melalui ulama dan kiai yang anti terhadap PKI untuk mencegah kekuatan politik PKI. Salah satu cara untuk mencegah kekuatan politik PKI yaitu dengan mencegah masuknya paham komunis terhadap masyarakat di Jawa Barat. Maka dari itu, usaha Nasakomisasi di Jawa Barat tidak selancar seperti yang diharapkan oleh PKI, karena masyarakat Jawa Barat yang umumnya beragama Islam dan dulunya merupakan basis pendukung partai Masyumi sukar untuk menerima ideolog Komunis.
Kegiatan-kegiatan mantan para pndukung Partai Masyumi di Jawa Barat dalam perkembangannya memperlihatkan bahwa mereka mendukung pemerintah
152
mendirikan negara Islam seperit halnya perjuangan Partai Masyumi karena mustahil bagi umat Islam untuk mendirikan negara Islam ditengah kondisi politik Indonsia yang sudah eksis dngan negara Pancasila. Maka dengan begitu, untuk kalangan masyarakat Jawa barat yang luas, mantan pendukung partai Masyumi sebelumnya lebih memilih untuk tidak berorintasi dalam bidang politik, mereka lebih memilih untuk memajukan agama Islam dan untuk bidang politik mereka mengikuti kebijakan pemerintah.
5.2. Rekomendasi
Penelitian ini diharapkan dapat memberi rekomendasi pada pembelajaran sejarah di sekolah khususnya pada tingkat Sekolah Menengah Atas. Materi dari penelitian ini sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD) kelas XII program IPS semester I yaitu dengan SK menganalisis perjuangan bangsa Indonesia sejak Proklamasi hingga lahirnya Orde Baru dan KD menganalisis perkembangan politik dan ekonomi serta perubahan masyarakat di Indonesia dalam upaya mengisi kemerdekaan. Selain itu SKKD kelas XI program IPA semester II dan kelas XII program Bahasa semester I dengan SK merekontruksi perjuangan bangsa Indonesia sejak masa Proklamasi hingga lahirnya Orde Baru dan KD merekontruksi perkembangan masyarakat Indonesia sejak Proklamasi hingga Demokrasi Terpimpin.
Bagi Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS UPI, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan rekomendasi dalam perkuliahan khususnya mata kuliah Sejarah Demokrasi Liberal dan Terpimpin. Bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS UPI, yang berminat melakukan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan sejarah partai politik Islam di Indonesia, terutama dengan ruang lingkup lokalitas di Jawa Barat. Penulis menyarankan beberapa permasalahan yang belum diteliti seperti peranan para kiai dan ulama di Jawa Barat dalam politik Partai Masyumi, atau hubungan Partai Masyumi dan gerakan DI-TII di Jawa Barat.
DAFTAR PUSTAKA
A. Sumber Buku
Abdurahman, D. (2007). Metodologi Penelitian Sejarah. Yogyakarta: Ar- Ruzz Media.
Aboebakar (1957). Sedjarah Hidup K. H. A. Wahid Hasyim dan Karangan
Tersiar. Jakarta: Panitia Buku Peringatan.
Basrowi, dan Suwandi. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta.
Black, J.A dan Champion, D.J. (2009). Metode dan Masalah Penelitian
Sosial. Bandung: PT. Refika Aditama.
Budiardjo, M. (1981). Partisipasi dan Partai Politik: Sebuah Bunga
Rampang. Jakarta: Gramedia.
---. (1993). Dasar-Dasar Ilmu Politik. PT. Gramedia Pustaka Jakarta: Utama.
Dengel, H. H. (1995). Darul Islam-NII dan Kartosuwiryo: Angan-angan
yang Gagal. Jakarta: PT. Pustaka Sinar Harapan.
Depdiknas. (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Dewanto, N. (2011). Natsir: Politik Santun di antara Dua Rezim. Jakarta: Tempo.
Djamhari, S. A. (2009). Komunisme di Indonesia Jilid IV. Jakarta: Pusjar. TNI.
Federspiel. H.M. (1996). Persatuan Islam: Pembaharu Islam Indonesia
Abad XX. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Feith, H. (1999). Pemilihan Umum 1955. Jakarta: Kepustakaam Populer Gramedia.
Feith, H dan Castles, L [Eds]. (1988). Pemikiran Politik Indonesia 1945-
Gottschalk, L. terjemahan Nugroho Notosusanto). (1985). Mengerti
Sejarah. Jakarta: UI Press.
Haris, S. (1995). Demokrasi di Indonesia. PT Pustaka LP3ES Indonesia: Jakarta.
Hidajat, I. (2009). Teori-Teori Politik. Malang: Setara Perss.
Iskandar, M. (2001). Para Pengemban Amanah: Pergulatan Pemikiran
Kiai dan Ulama di Jawa Barat 1900-1950. Yogyakarta: Mata
Bangsa.
Ismaun. (2005). Sejarah Sebagai Ilmu. Bandung: Historia Utama Press. Jurdi, S. (2008). Pemikiran Politik Islam di Indonesia. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Kahin, G. M. C. (terjemahan Nin Bakdi Soemanto). (1995). Nasionalisme
dan Revolusi di Indonesia. Jakarta: UNS Press.
Kantaprawira, R. (1992). Sistem Politik Indonesia. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Kartodirdjo, S. (1987). Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi
Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Koirudin, (2005). Politik Kiai: Polemik Keterlibatan Kiai dalam Politik
Praktis. Malang: Averroes Press.
Kuntowijoyo. (2003). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Lubis, dkk. (2011). Sejarah Provinsi Jawa Barat Jilid II. Bandung: Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Ma’arif, A. S. (1987). Islam dan Masalah Kenegaraan. Jakarta: LP3ES. Noer, D. (1987). Partai Islam di Pentas Nasional 1945-1965. PT. Pustaka
Jakarta: Utama Grafiti.
Poesponegoro, M.D dan Notosusanto, N. (1993). Sejarah Nasional
Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.
Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
Samsuri. (2004). Politik Islam Anti Komunis: Pergumulan Masyumi dan
PKI di Arena Demokrasi Liberal. Yogyakarta: Syafira Insania
Perss.
Sjamsuddin, H. (2007). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak. Supardan, D. (2008). Pengantar Ilmu Sosial. Jakarta: Bumi Aksara. Sukamto. (1995). Kepemimpinan Kiai dalam Pesantren. Jakarta: LP3ES. Surjani, A. (1985). Masyarakat Sunda dan Problematika. Bandung:
Anggota Ikapi.
Syaifullah. (1997). Gerakan Politik Muhammadiyah dalam Masyumi. Jakarta: P.T. Pustaka Utama Garfiiti.
Turmudzi, D. (2006). Kerifan Budaya dan Politik Sunda: Menggali
Potensi Lokal mengangkat Harkat Bangsa. Bandung: Atmayaja.
UPI. (2011). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Wanda, S. (1997). KH. Halim Iskandar: dan Pengaruhnya Dalam Bidang
Studi ke-PUI-an. Bandung: Pengurus Besar Persatuan Umat
Islam (PUI).
Wildan, D. (1995). Sejarah Perjuangan Persis 1923-1983. Bandung: Gema Syahida.
B. Sumber Internet
Gambar Isa Anshary. [Online]: Tersedia:
http://www.google.co.id/#hl=id&output=search&sclient=psy- ab&q=Isa+Anshary&oq=Isa+Anshary&gs. [ 18 September 2012].
Gambar Partai Masyumi. [Online]. Tersedia: http://www.google.co.id/search?q=partai+Masyumi&html. [12 September, 2012].
Gambar Peta Jawa Barat. [Online]. Tersedia: http://www.gimonca.com/sejarah/mapjawa1.shtml. [ 20 Oktober, 2012].
Giovani, S. (tanpa tahun). Sistem kepartaian di Indonesia. [Online]. Tersedia: http://setabasri01.blogspot.com/2009/02/sistem- kepartaian-di-indonesia.html. [Rabu 27 Juni 2012].
Jabbar, U. A. (2010). Partai Masyumi. [Online]. Tersedia: http://anakpolitik.blogspot.com/2010/12/ partai-masyumi.html. [20 September 2012].
Nurdin, M. H. (2006). Pemikiran Politik Partai Masyumi. [Online]. Tersedia: (http://hermawaneriadi.com/kiprah-dan-jejak-politik- masyumi). [ 8 agustus 2012].
Pikiran Rakyat diterbitkan pada tanggal 2 Oktober tahun 1950, [Online]. Tersedia: http://sejarah.kompasiana.com/2011/09/29/reinkarnasi- sebuah-kota-bandung-1950-5/. [4 mei 2012].
Pikiran Rakyat diterbitkan pada tanggal 23 Oktober 1950, [Online]. Tersedia: http://sejarah.kompasiana.com/2011/09/29/reinkarnasi- sebuah-kota-bandung-1950-5/. [4 mei 2012].
Rasyid, F. A. (2012). Gerakan Politik dan Pembaharuan Islam di Jawa
Barat. [Online]. Tersedia:
http://politik.kompasiana.com/2012/01/27/gerakan-politik-dan- pembaharuan-islam-di-jawa-barat/html. : [5 November 2011]. Saifudin. (2009). Teori Negara Islam. [Online]. Tersedia:
http://saifudinonline.blogspot.com/2009/04/teori-negara- islam.html. [23 Juli 2012].
C. Sumber Wawancara
Wawancara dengan Bapak H. Mahpud (80 tahun). Ex: Simpatisan Partai Masyumi dan saksi sejaman. Tanggal 6 Oktober 2012.
Wawancara dengan Bapak H.M. Djajamiharja, A.MM (79 tahun). Ex: Ketua Partai Masyumi di daerah kecamatan Sukaraja. Tanggal 13 Oktober 2012.
Wawancara dengan Bapak H. Mukhtar (75 tahun). Ex: Simpatisan Partai Masyumi dan saksi sejaman. Tanggal 2 Agustus 2012.
Wawancara dengan H.Oim Abdurohim (75 tahun). Ex: Simpatisan Partai Masyumi dan saksi sejaman. Tanggal 25 September 2012.