• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

4. Pengulangan dan Makna (Iterability and Meaning)

2.2.3. Merancang dengan Tema Akulturasi Dekonstruktif

Dari beberapa pengertian akulturasi dan dekonstruksi maka dapat disimpulkan akulturasi dekontruktif adalah suatu proses sosial yang timbul pada suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri disebabkan adanya suatu metode pembongkaran (dekonstruktif) pada tahapan-tahapan dalam proses perkembangan kebudayaan setempat, (Hasil Analisis, 2010).

Josef Prijotomo menjelaskan tahapan-tahapan akulturasi dekonstruktif dalam buku Pasang Surut Arsitektur Indonesia, dia mengatakan “penghadirlah yang memutuskan untuk menampilkan sesuatu gaya atau atau memancarkan kebudayaan lewat gedung yang dibuatnya. Seorang penghadir benar-benar diharuskan untuk membuat keputusan itu sebab di dalam usaha penghadiran ini terdapat sejumlah alternatif”. Beberapa tahapan diantaranya adalah:

1. Mencontoh gaya dan kebudayaan A (disebut pula membuat copy gaya dan kebudayaan A, yang bisa saja lebih besar atau lebih kecil dalam ukuran, bisa pula mirip atau berbeda dalam bahan bangunan dan teknologinya).

2. Hanya mengambil sebagian dari kebudayaan A tapi tidak mengganti bagian yang tak diambil itu dengan gaya dan kebudayaan lain.

69

3. Memadu, mencampur, menjejerkan, atau mengintegrasikan sebagian dari gaya dan kebudayaan A dengan sebagian dari gaya dan kebudayaan B. 4. Menghadirkan kebudayaan A sebagai tempelan atau pajangan (bagaikan

sticker) pada gaya dan kebudayaan B.

5. Sepenuhnya meninggalkan kebudayaan dan gaya A serta menghadirkan sepenuhnya gaya dan kebudayaan B.

6. Menghadirkan gaya dan kebudayaan B namun memodifikasinya dengan memancarkan kesan, nuansa, atau suasana kebudayaan A. Di sini, posisi kedua kebudayaan dan gaya tadi dapat pula saling dipertukarkan.

7. Tidak menghadirkan A dan B tetapi justru menghadirkan kembali, dan disertai dengan modifikasi, sesuatu gaya dan kebudayaan yang telah tiada.

Akulturasi memegang peranan penting dalam menciptakan identitas atau memori suatu kawasan sekaligus menghadirkan konteks kekiniannya. Ada tiga strategi yang harus ada dalam kajian ini, yaitu:

1. Pengajegan, menunjukkan pengakaran pada tradisi setempat demi keberlanjutan identitas bangunan di masa kini dan mendatang.

2. Pengembangan, adalah proses perubahan dan penyesuaian dengan kekinian dari suatu bangunan (wujud perlanggaman dan teknologi konstruksi) untuk mendapatkan kondisi terbaik.

3. Pemanfaatan, adalah menciptakan kegunaan atau memberi wadah bagi kegiatan demi keberlangsungan eksistensi bangunan lama di masa kini dan mendatang.

70

Langkah diatas adalah melakukan jelajah dengan cara menggunakan tiga strategi konservasi sebagai alat bacanya, (Eko Budihardjo, 2004).

Tiga strategi konservasi arsitektur tersebut antara lain:

Gambar 2.19. Skema Proses Menciptakan Identitas Kekinian Sumber: Eko Budihardjo (2004)

Kebudayaan yang melibatkan suatu makna dari tanda-tanda merupakan pembeda manusia dari alam sekitarnya, perlahan namun pasti. Manusia sebagai bagian dari kebudayaan mengupayakan agar situasinya menjadi sempurna melalui beragam inovasi dan kreatifitas. Lalu, dengan kebudayaan menjadikan karya manusia secara spesifik di dalam seni, agama, serta ilmu pengetahuan secara umum. Kebudayaan ini dipahami sebagai bentuk-bentuk adikarya manusia dalam pemaknaan terhadap suatu tanda-tanda yang ada sehingga dapat menyempurnakan apapun yang dihadapi dan dihidupi, (Eko Budihardjo, 2005).

Proses transformasi budaya, secara umum didahului oleh proses dialog budaya secara terus menerus, terjadi sintesis budaya yang melahirkan berbagai bentuk kebudayaan campuran. Proses ini berlangsung selama puluhan tahun sehingga melahirkan format kebudayaan akhir yang mantap. Di dalamnya tercakup pergeseran-pergeseran nilai estetik dalam karya. Perubahan budaya juga dapat timbul akibat timbulnya perubahan lingkungan masyarakat,

penemuan-Konservasi Arsitektur

71

penemuan baru, dan kontak dengan kebudayaan-kebudayaan lain, (http://en.wikipedia.org/wiki/budaya).

Gambar 2.20. Skema Proses Transformasi Budaya Sumber: Sachari, Metodologi Penelitian Budaya Rupa (2003)

Keterangan:

A : Kebudayaan Donor B : Kebudayaan Lokal AB : Sintesis Budaya A’B’ : Budaya Akhir

Dekonstruksi juga menerobos segala sistem budaya dengan apa yang disebut infrastruktur. Sudah tentu orang orang ingin lebih jelas apa yang mungkin dan tidak mungkin digarap oleh dekonstruksi melalui konsep infrastruktur itu. Karya rancang bangun itu tidak lebih dari sutu struktur yang memberikan manusia tempat tinggal diatas bumi. Tujuannya adalah yakni menyingkap kebenaran; keberadaan dan kondisi yang membuat suatu fenomenom bersinar melalui apa yang dikandungnya, (Kalam edisi 5, 1995 “Dekonstruksi dalam Arsitektur”).

Proses Transformasi Budaya

Dialog Budaya Akulturasi-Inkulturasi Pematangan & Pemantapan

72

Gambar 2.21. Skema Proses Dekonstruksi Sumber: Hasil Analisis Pudji Pratitis Wismantara (2009)

Sesuai dengan ungkapan masyarakat pesantren “almuhaafadha’alal qodiemi ash-shooli ma’al akhdzi bi al jadiediel ashlah”, artinya memelihara tradisi lama yang baik dengan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Kondisi seperti inilah yang dinamakan sebagai akulturasi dekonstruktif karena bagaimanapun perancangan Pesantren Budaya berupaya untuk menciptakan bangunan yang baru dengan budaya yang lama sebagai pijakan awalnya. Karena jaman dan masa pembangunannya berbeda, wajarlah bila tampilannya ikut berbeda. Sementara itu karena jaman memiliki kebudayaan sendiri-sendiri, tampilan itu pun merupakan cerminan dari kebudayaan yang berbeda sebab di situ karya-karya tersebut diletakkan dalam kerangka kebudayaan, (Josef Prijotomo, 2008:13).

Sehingga tema akulturasi dekonstruktif melahirkan berbagai macam perspektif terkait dengan rancangan Pesantren Budaya, dimana tahapan akulturasi

Construc/code

(kondisi awal sesuatu) Tahap 1

Islam (Pendatang) Nusantara

(Setempat)

Reconstruc/encode

(menata kembali, transformasi, modifikasi dari apa yang akan didekonstruksi) Unsur ragawi setempat Unsur ragawi pendatang

Unsur tanragawi setempat Unsur tanragawi pendatang

Tahap 3

Hasil (Akulturasi Dekonstruktif)

De-construc/decode

(pengambilan/pembongkaran unsur-unsur yang didekonstruksi) Unsur ragawi setempat Unsur ragawi pendatang Unsur tanragawi setempat Unsur tanragawi pendatang

73

Pesantren Budaya

Bentuk bangunan Budaya lokal Budaya jawa

Fungsi bangunan Pesantren Budaya santri

Budaya santri Akulturasi Budaya Lokal

Akulturasi Dekonstruktif Akulturasi Unsur Ragawi & Tan-ragawi Paradoks/kontradiksi Dekonstruksi Transformasi Hasil akhir Tradisi Lokal (Subordinat) Bentuk Baru (Dominan)

merupakan proses dari budaya yang ada (budaya santri dan lokal). Sedangkan pada dekonstruktif merupakan alat baca akulturasi sehingga nanti akan mempengaruhi bentuk, fungsi bangunan, fungsi ruang, dll. Selain itu, akulturasi dan dekonstruksi berpengaruh pada unsur-unsur ragawi dan tan-ragawi sebagai garis instruktif dalam perkembangan Pesantren Budaya. Akulturasi mengacu pada tradisi lokal (subordinat), sedangkan dekonstruksi nantinya mengacu pada bentukan kekinian/kontemporer. Bisa dilihat pada skema dibawah ini.

Gambar 2.22. Skema Proses Integrasi Sumber: Hasil Analisis (2010)

74

Dokumen terkait