• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai Akulturasi dalam Pondok Modern Darussalam Gontor

TINJAUAN PUSTAKA

4. Pengulangan dan Makna (Iterability and Meaning)

2.3. Studi Kasus

2.3.1. Studi Kasus pada Tema Akulturasi

2.3.1.1. Nilai Akulturasi dalam Pondok Modern Darussalam Gontor

Pondok Pesantren dalam melaksanakan fungsinya sebagai lembaga pendidikan keagamaan, merupakan sub sistem pendidikan nasional yang tercantum pada pasal 30 ayat (4), undang-undang sistem pendidikan nasinal nomor 20 tahun 2003, yang menyatakan, “pendidikan keagamaan berbentuk

pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis”. Berarti pendidikan pondok pesantren saat ini sama dan sejajar

dengan lembaga pendidikan formal lainnya. Adapun pesantren yang mengikuti aturan ini biasanya disebut sebagai pondok pesantren modern.

Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) adalah sebuah pondok pesantren di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Pondok ini mengkombinasikan pesantren dan metode pengajaran klasik berkurikulum seperti sekolah. Pondok Gontor didirikan pada 10 April 1926 di Ponorogo, Jawa Timur oleh tiga bersaudara putra Kiai Santoso Anom Besari. Tiga bersaudara ini adalah KH.

75

Ahmad Sahal, KH. Zainudin Fananie, dan KH. Imam Imam Zarkasy dan yang kemudian dikenal dengan istilah Trimurti, (http//wikipedia.org/pondok gontor).

Gambar 2.23. Pondok Modern Darussalam Gontor Sumber: http//wikipedia.org

Pada masa itu pesantren ditempatkan di luar garis modernisasi, dimana para santri pesantren oleh masyarakat dianggap pintar soal agama tetapi buta akan pengetahuan umum. Trimurti kemudian menerapkan format baru dan mendirikan Pondok Gontor dengan mempertahankan sebagian tradisi pesantren salaf dan mengubah metode pengajaran pesantren yang menggunakan sistem wetonan (massal) dan sorogan (individu) diganti dengan sistem klasik seperti sekolah umum. Pada awalnya Pondok Gontor hanya memiliki Tarbiyatul Atfhfal (setingkat taman kanak-kanak) lalu meningkat dengan didirikannya Kulliyatul Mu'alimin Al-Islamiah (KMI) yang setara dengan lulusan sekolah menengah. Pada tahun 1963 Pondok Gontor mendirikan Institut Studi Islam Darussalam (ISID).

Pesantren Gontor dikelola oleh Badan Wakaf yang beranggotakan tokoh-tokoh alumni pesantren dan tokoh-tokoh yang peduli Islam sebagai penentu Kebijakan Pesantren dan untuk pelaksanaannya dijalankan oleh tiga orang pengasuh (Kyai) yaitu KH Hasan Abdullah Sahal (Putra KH Ahmad Sahal). KH Sukri Zarkasy

76

(putra KH Imam Zarkasy)dan KH Syamsul Hadi Abdan. Tradisi pengelolaan oleh tiga pengasuh ini, melanjutkan pola Trimurti (Pendiri).

Pondok Modern Gontor terletak di sebuah desa kecil yang bernama Gontor yang berada di wilayah Kecamatan Mlarak, Kabupaten Daerah Tingkat II Ponorogo Jawa Timur. Pada tanggal 9 Oktober 1926, Pondok Darussalam Gontor didirikan oleh tiga orang bersaudara yaitu, KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani dan KH Imam Zarkasyi. (Basyir, 1999:53).

Pondok Modern Gontor berkembang sangat pesat, dan sekarang jumlah santrinya sudah sesuai kapasitas maksimal, yaitu 3,200 santri putra. Para santri tersebut berasal dari seluruh Indonesia bahkan dari luar negeri, antara lain Somali, Malaysia dan Singapura. Dibangun di atas tanah seluas 8,5 hektar berdiri mesjid utama Pondok Modern Gontor yang menampung sekitar 4.000 jamaah. Selain fasilitas tersebut, Pondok Modern Gontor juga memiliki berderet bangunan gedung sekolah, asrama, perpustakaan, aula dan perkantoran yang minimal dua lantai dan usaha pertanian di atas tanah wakaf seluas lebih dari 250 hektar. Pondok Modern Gontor juga memiliki pondok khusus santri putri yang terletak di Mantingan, Kabupaten Ngawi dengan 1,280 santri putri. Tetapi perkembangan pondok bukan hanya dalam hal fisik. Hadirnya lebih dari 135 pondok alumni dan pondok cabang yang dikembangkan oleh sebagian dari sekitar 18.000 alumni.

Lembaga pendidikan ini berbentuk “Pondok” atau “Pesantren” dengan suatu komplek tempat-tempat kediaman para siswa dan pengasuh-pengasuhnya, tempat belajar dan beribadah, tempat-tempat berekreasi, berolah raga dan sebagainya, beserta segala alat perlengkapannya.

77

Nama “pondok modern” adalah nama pemberian dari masyarakat. Adapun nama asli yang diberikan oleh pendirinya sendiri (didirikan pada tahun 1926) ialah “Darussalam”. Proses Islamisasi di Jawa telah melahirkan peradaban santri (santri

civilization), yang besar pengaruhnya terhadap kehidupan agama, masyarakat dan

politik. Sementara Clifford Geertz memandang kehadiran Islam di Jawa telah menyebabkan terbentuknya varian sosio-kultural masyarakat Islam di Jawa yang disebut santri, yang berbeda dengan tradisi sosio-kultural lainnya, yaitu Abangan dan Priyayi.

Tradisi sosio kultural santri ditandai dengan wujud perilaku ketaatan para pendukungnya dalam menjalankan ibadah agama Islam yang sesuai dengan ajaran syari'at agama, sementara tradisi Abangan, ditandai dengan orientasi kehidupan sosio-kultural yang berakar pada tradisi mistisisme pra-Hindu, dan tradisi Priyayi lebih ditandai dengan orientasi kehidupan yang berakar pada tradisi aristokrasi Hindu-Jawa.

Mungkin sebagian kalangan bertanya-tanya: Apa sesungguhnya sumbangsih dunia pesantren dalam menyemai budaya damai atau lebih jauh, mengapa pesantren diklaim sebagai institusi yang signifikan dalam pendidikan perdamaian di republik yang multikultural seperti Indonesia. Ada beberapa sebab, yakni antara lain;

Pertama, pesantren di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah

masuknya Islam di Indonesia pada abad ke-13. Para ulama dari negeri-negeri muslim menggunakan jalan kooperatif, pendekatan tradisi, dan berdasarkan moralitas akhlak ketimbang jalan kekerasan. Hal itu dapat dibaca dari tradisi wali sembilan (Wali Songo) yang menggunakan wayang sebagai media dakwah.

78

Pesantren merupakan salah satu produk akulturasi dari budaya lokal dan pengajaran Islam.

Kedua, komunitas pesantren di era kontemporer saat ini sangat plural.

Apalagi di pesantren modern seperti Gontor, anda dapat menemukan santri dari berbagai latar belakang suku, bahasa asal, dan tradisi serta perilaku yang berbeda. Dari kondisi puspaplural ini, masyarakat pesantren jadi kian belajar apa arti perbedaan. Dan, yang lebih penting, para kyai/guru/ustadz di sana lebih menekankan pentingnya meningkatkan ilmu dan barokah dalam pergaulan sehari-hari ketimbang melihat perbedaan-perbedaan itu sebagai alat perpecahan. Pendidikan pada santri (khususnya di pesantren modern seperti di Gontor) diupayakan untuk mencetak ulama’ intelek yang profesional dan intelek profesional yang ulama’.

Ketiga, umumnya kurikulum pesantren, baik pesantren modern maupun

tradisional, mengusung konsep moderat yang dibuktikan dengan dominannya kitab-kitab kelompok ulama pendukung budaya damai seperti Ghazali, al-Syafii, dan lain sebagainya. Memang dalam soal fikih, beberapa kitab dinilai kurang mengakomodasi pandangan kaum feminis, seperti sering dicontohkan kitab Uqudulujain. Namun sesungguhnya, persoalan perbedaan tata cara dalam fikih (biasanya disebut persoalan furu’) tidak serta merta dianggap sebagai finalitas. Akan tetapi di dalamnya menjanjikan ruang diskusi yang amat menarik.

Dari paparan diatas maka dapat diambil beberapa kesimpulan terkait dengan nilai-nilai, sistem pendidikan yang terdapat pada Pondok Modern Darussalam Gontor terkait dengan tema akulturasi antara lain:

79

1. Pengkombinasian pesantren dan metode pengajaran klasik berkurikulum seperti sekolah. Dalam arti tetap mempertahankan tradisi-tradisi lama dan merubahnya dengan pola yang baru.

2. Mempertahankan sebagian tradisi pesantren salaf dan mengubah metode pengajaran pesantren yang menggunakan sistem wetonan (massal) dan

sorogan (individu) diganti dengan sistem klasik seperti sekolah umum.

3. Pendidikan di Pondok Modern mengutamakan pembinaan akhlaq, pembentukan mental/karakter (character-building). Pelajarannya diselenggarakan menurut sistem sekolah yang modern, dengan menggunakan metodik dan didaktik modern, serta senantiasa memperhatikan perkembangan dalam sistem pendidikan dan pengajarannya.

4. Mempersatukan perbedaan tanpa melihat perbedaan-perbedaan itu sebagai alat perpecahan.

Dokumen terkait