• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEREMPUAN DAN KEMISKINAN AKIBAT BOWO PERKAWINAN

5.2. Implikasi Böwö dalam Kemiskinan

5.2.4 Merantau

Akibat jujuran adat perkawinan yang cukup besar, kedua belah pihak akan menanggung utang yang akan membawa kepada kemiskinan. Apalagi Perempuan jarang, bahkan tidak sama sekali dilibatkan dalam pembicaraan-pembicaraan adat perkawinan. Ridho mengaku bahwa ia tidak setuju terhadap praktek jujuran yang cukup besar di Nias Barat. Alasannya, kalau kita orang Nias sudah mengenal Sabda Allah tentang kasih. Ia juga menegaskan bahwa pergeseran adat perkawinan sudah masuk dalam pesta pora.

Praktek Jujuran Adat perkawinan di Nias Barat seharusnya disadari kembali dampak dikemudian hari. Menurut Ridho, sebenarnya dalam hidup ini, ada beberapa langkah yang harus diperhatikan, ketika mendapatkan pekerjaan, berarti ia sudah melangkahkan kaki satu langkah, ketika menikah, berarti ia sudah melangkahkan kaki dua langkah. Persoalannya sering sekali orang sudah menikah, tapi masih berjalan di tempat, karena jujuran besar. Intinya, Orang sudah selesai menikah, tetapi utang belum selesai. Orang yang sudah menikah seharusnya melangkahkan kaki ke langkah ketiga, tetapi malah berjalan di tempat.

“... Pernah saya ketemu dengan salah seorang pasangan mudah di sebeuah pulau di Nias ketika saya bekerja di kapal pesiar. Saya tanya kepada orang di situ tentang pasangan mudah itu, mereka mengatakan bahwa pasangan mudah itu berasal dari Lahewa. Karena terbebani utang waktu pernikahan dengan jujuran 80 juta, selesai menikah langsung pergi ke pulau ini untuk mencari uang. Menurut saya, seharusnya mereka melangkahkan kaki untuk selanjutnya, tetatpi malah mereka berjalan di tempat setelah menikah. Pesan saya ke depan bahwa pernikahan itu bukan pesta pora, tetapi sakramen,

bukan transaksi industri uang dan lain sebagainya” (Wawancara dengan Ridho, 27 Mei 2015).

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa pergeseran penentuan jujuran pernikahan di Kabupaten Nias Barat, khususnya Ori Lahomi sudah mengalami terjadi. Bahkan pergeseran itu sudah berubah ke nilai komersial dan gengsi orangtua yang justru mendatangkan utang piutang turun-temurun.

Ditambah lagi dengan paman yang meminta cukup besar, akhirnya terjadi tawar menawar. Seharusnya orang yang menikah harus bisa merancang bahtera keluarga ke depan, justru sebaliknya tinggal dalam utang.

Penelitian (Purwanto, dkk, 2011:7), Migrasi pekerja Nias di perkebunan Riau juga disebabkan alasan adat yaitu tingginya mahar atau uang “jujuran” untuk perkawinan yang harus diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Tidak jarang untuk memperoleh uang jujuran ini calon pengantin laki-laki harus menghutang pada pihak lain seperti kerabat, teman ataupun atasan. Karena di Nias lapangan pekerjaan terbatas dan sulit mendapatkan orang yang bisa memberikan pinjaman, maka uan mereg untuk mendpaatkan uang jujuran tersebut mereka merantau ke luar daeraha untuk mengumpulkan uang.

Ketika diperantauan juga sulit untuk mengumpulkan uang makan cara yang mereka lakukan adalah dengan meminjam uang kepada pihak lain yang bisa dimintai pertolongan. Dengan bekerja di Perkebunan Riau kemungkinan memperoleh uang pinjaman untuk jujuran lebih besar dibandingkan dengan bekerja di Nias sendiri. Mereka bisa meminjam uang jujuran pada kepala rombongan atau kontraktor yang kemudian dibayar dengan mengabdikan tenaga kerjanya pada Kepala Rombongan dan Kontraktor tersebut (Purwanto, dkk, 2011:7).

5.2.5. Kawin Lari atau Nikah di Catatan Sipil

Niar yang berasal dari Ori Moro’ö sehari-hari bekerja sebagai bidan swasta di salah satu puskesmas di Kecamatan Mandrehe. Ia berumur 24 tahun dan menikah di desa Hayo Kecamatan Mandrehe. Pernikahan mereka adalah pernikahan di catatan sipil (kawin lari), dengan seorang laki-laki tamatan SMA karena adat jujuran adat perkawinan yang dimintakan oleh kedua pihak orangtua.

Informan mengaku bahwa dalam penetuan jujuran tergantung orangtua dan saya sendiri dengan ketidak cocokan jujuran, karena tidak setuju orangtua, makanya terjadi perkawinannya tidak sesuai adat, karena kebahagiaan saya dan keluarga saya. Contohnya sendiri, dengan tidak ada kesetujuan orangtua dengan jujuran, terjadilah hal-hal yang tidak diharapkan. Saya sendiri pun memang pernikahan saya tidak bagus sekali, tetapi dengan niat dan tekad, saya akhirnya mengambil keputusan. Ya udahlah itu pilihan saya bahagia atau tidak bahagia itu pilihan saya. Yang menikah adalah saya, bukan orang lain. Memang di Nias Barat ini pengetahuan orangtua sangatlah minim tentang jujuran”.

Informan mengaku bahwa di Nias Barat jujuran sangat tinggi, sebelum menikah di catatan sipil pernah ada laki-laki yang hendak melamar informan, tetapi karena orangtua meminta uang jujuran Rp 100 Juta di luar kebutuhan yang lain. Akhirnya, Pihak laki-laki tidak bisa menyanggupi uang dan lamaran tersebut tidak dilanjutkan, karena terkendala dengan jujuran. Ia mengatakan bahwa orangtua meminta jujuran yang terlalu tinggi karena:

Inilah alasan Informan memutuskan untuk nikah di catatan Sipil Kabupaten Nias Barat. Ia mengaku sebagai berikut:

“... Saya memilih karena capek. Saya katakan ini dan itu tapi tidak bisa. Sebenarnya saya tidak mau itu, tapi akhinrya saya

memilih tekad untuk memilih itu. Akhirnya kami datang ke catatan sipil dan kami membayar 6 juta rupiah. Waktu itu kami tinggal di rumah saudara. Memang saya sudah sampaikan saya memilih ini karena jujuran yang begitu besar, tetapi mereka marah. Akhirnya saya minta berapa yang bisa kami bawa ke rumah, mereka meminta uang tujuh puluh juta. Tetapi kami katakan uang kami hanya dua puluh juta yang selebihnya kami cicil kemudian, akhirnya mereka ia kan untuk membawa uang itu ke rumah orangtua. Uang itu kami pinjam dari oranglain” (Wawancara dengan Niar Darmawati Waruwu, 13 Juni 2015).

Pengalaman Informan tersebut menjadi konsekuensi dari jujuran adat perkawinan yang membebankan. Memang informan menyadari bahwa tindakan nikah di Catatan Sipil kuranglah bagus karena bertentangan dengan adat Nias, tapi itulah solusi terakhir. Ia berharap agar tidak ada pernikahan di Catatan Sipil di kemudian hari, kecuali kalau tidak ada cara lain. Sebenarnya, informan tidak setuju dengan jujuran yang tinggi dan hal ini pernah disampaikan kepada orangtua, tetapi tidak bisa karena sorotan dari pihak paman. Oleh sebab itu ke depan seharusnya jujuran dalam adat perkawinan di Nias ditentukan oleh orangtua bersama dengan anak perempuan yang dinikahkan.

BAB VI PENUTUP

6.1. Kesimpulan

Perubahan sosial “nilai” dan stratifikasi sosial yang ada di Nias terutama perkawinan sudah mengalami pergeseran. Dahulu perkawinan terlaksana bagi memiliki status (bosi) yang sama dan sementara nilai material böwö pun cukup tinggi. Ini tidak menjadi persoalan karena pihak yang datang atau pihak laki-laki (tome) merupakan orang yang berkeadaan. Realitas sistem yang ada dalam budaya Nias, memang berada dalam bosi yang tinggi adalah orang-orang yang berkeadaan, memiliki kepandaian/wibawa, dan yang telah melalui tingkatan-tingkatan yang telah ditetapkan dalam adat.

Persoalan sekarang adalah sistem pelapisan tempaan dulu sudah banyak bergeser, termasuk emas jujuran ini dituntut sesuai dengan taraf pendidikan baik perempuan maupun laki-laki yang ingin menikah. Biasanya bagi yang tergolong tingkat pendidikan tinggi dituntut dengan harga yang relatif mahal. Berdasarkan keterangan di atas, fenomena perubahan sosial serta implikasi pergeseran penetapan jujuran perkawinan dalam masyarakat Kabupaten Nias Barat akan dianalisis dalam berbagai dua aspek besar.

1. Pergeseran Penetapan Bowo perkawinan di Nias Barat: Berdasarkan wawancara dengan semua informan, pada umumnya mengakui bahwa penentuan jujuran adat perkawinan adat Öri Lahömi dan Öri Moro’ö sudah mengalami pergeseran signifikan. Informan dari Öri Lahömi, antara lain Ridho Maruhara (PNS Puskemas Plus Sirombu), Yarman Daeli alias ama Yari Daeli (tukang kayu), Simesono Daeli (mantan kepala Desa Hiliadulu,

Kecamatan Lahömi), Yason Hia (PNS sebagai kepala Dinas kependudukan Kabupaten Nias Barat), dan Sarota Daeli (Tokoh adat Öri Lahömi).

Ridho mengakui bahwa nilai adat perkawinan kurang diperhatikan dalam pelaksanaan pesta perkawinan, bahkan bergeser menjadi faktor gengsi.

Aturannya paman dan kepala adat yang diundang justru instansi kepemerintahan. Selain itu, penentuan jujuran sering ditemukan tawar menawar dengan pihak paman perempuan. Adakalanya paman meminta bagian yang sangat besar sehingga jujuran pun makin tinggi.

2. Perempuan dan kemiskinan akibat Bowo perkawinan masa kini: penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan masih belum mendapatkan kesamaan kedudukan dalam ruang publik. Perempuan masih dianggap nomor dua dalam keluarga itu terbukti dari jujuran yang dimintakan oleh orangtua. Selain itu, jujuran yang besar mengakibatkan pasangan suami isteri berutang turun temurun, dan bahkan tak jarang ada pernikahan di catatan sipil atau kawin lari yang merupakan fenomena baru dalam masyarakat Nias.

6.2. Saran

1. Perhatian tentang jujuran adat perkawinan mendapat sorotan ialah biaya adat perkawinan yang terlalu tinggi. Berbagai usaha telah dilakukan untuk menyederhanakan biaya adat perkawinan, salah satunya oleh pihak Gereja Katolik Keuskupan Sibolga. Di antaranya, mengadakan lokakarya tentang jujuran dalam perkawinan sebagai tindak lanjut Pascasinode I Keuskupan Sibolga. Sinode itu menemukan bahwa faktor kemiskinan di Nias turut dipengaruhi oleh biaya adat yang membebankan. Gereja juga membuat film Nias berjudul “Lua-Lua böwö Sebua” (gara-gara jujuran besar) bekerjasama

dengan Ponti Gea sebagai produsen. Akan tetapi, usaha yang terpenting ialah kesadaran masyarakat Nias untuk semakin kritis terhadap nilai-nilai adat.

Oleh sebab itu perlu disederhanakan jujuran tersebut agar tidak mengakibatkan kemiskinan turun temurun.

2. Perhatian Bowo yang besar berdampak pada posisi perempuan dan kemiskinan menjadi keprihatinan bersama masyarakat Nias. Oleh sebab itu, pemerintah bersama tokoh agama harus mengadakan sosialisasi tentang jujuran adat perkawinan sebagai faktor kemiskinan secara terus menerus.

Dalam hal ini bahwa budaya adat perkawinan Nias tidak perlu dihilangkan, tetapi disederhanakan nilai material bowo yang ada dalam pesta pernikahan.

PEDOMAN WAWANCARA

Nama Informan : ………..………

Status Informan : ………..…

A. Wawancara untuk kedua orangtua belah pihak keluarga yang baru saja melaksanakan pernikahan.

1. Bagaimana penentuan adat perkawinan pada zaman dulu dibandingkan dengan zaman sekarang?

2. Apa yang mendasari Anda dalam menentukan adat jujuran perkawinan putri bapak/ibu?

3. Apakah pendidikan dan kekayaan mempengaruhi tingkatan jujuran dalam perkawinan? Mengapa?

4. Berapa yang Anda minta sebagai biaya jujuran perkawinan yang baru saja dilangsungkan?

5. Mengapa anda meminta jujuran perkawinan dengan biaya yang sangat besar/kecil?

6. Apa saran bapak/ibu dalam penentuan adat perkawinan di Nias zaman sekarang?

B. Wawancara untuk-tokoh adat yang ada di wilayah kabupaten Nias Barat.

1. Bagaimana menurut Anda dengan pelaksaan adat perkawinan di Nias Barat?

2. Apakah Anda merasakan ada pergeseran dalam menentukan jujuran adat perkawinan? Dalam hal apa?

3. Apakah pendidikan atau pekerjaan mempengaruhi penentuan tingkat jujuran perempuan di Nias?

4. Bagaimana langkah-langkah penetuan jujuran adat perkawinan di Nias Barat?

5. Apakah ada setuju dengan penentuan jujuran adat perkawinan di Nias Barat saat ini? Mengapa?

6. Apa saran bapak/ibu dalam penentuan adat perkawinan di Nias

C. Wawancara untuk tokoh-tokoh agama (Katolik dan Protestan) di Kabupaten Nias Barat.

1. Bagaimana pendapat Anda tentang praktek pelaksanaan jujuran Perkawinan di Nias Barat?

2. Menurut Anda, apakah ada pergeseran penetapan jujuran dalam adat perkawinan di Nias dan dalam hal apa?

3. Apa saja yang mulai mengalami pergeseran dalam penentuan adat perkawinan di Nias Barat?

4. Bagaimana pendapat Anda dengan jujuran perkawinan di Nias?

5. Apa saja langkah-langkah yang telah dilakukan oleh tokoh agama dalam menyadarkan masyarakat tentang biaya adat perkawinan yang tinggi di Nias Barat?

6. Apa saran bapak/ibu dalam penentuan jujuran adat perkawinan di Nias

D. Wawancara untuk beberapa keluarga di berbagai kecamatan di Kabupaten Nias Barat.

1. Bagaimana menurut anda penetuan jujuran perkawinan zaman sekarang dibandingkan dengan zaman dulu?

2. Bagaimana cara penentuan jujuran adat perkawinan dalam masyarakat Nias?

3. Apakah ada pergeseran penentuan jujuran perkawinan zaman sekarang dibandingkan dengan zaman dulu? Dalam hal apa?

4. Apakah faktor pendidikan dan kekayaan menentukan tingkatan jujuran dalam hal perkawinan? Mengapa?

5. Bagaimana menurut bapak/ibu praktek penentuan jujuran adat perkawinan dalam masyarakat Nias zaman sekarang?

6. Apa saran bapak/ibu dalam penentuan jujuran adat perkawinan di Nias?

LAMPIRAN

HASIL WAWANCARA INFORMAN DI KABUPATEN NIAS BARAT Narasumber I

Nama : Ridho Maruhara Umur : 37 Tahun Jenis K : Laki-laki

Pekerjaan : PNS di Puskesmas Sirombu

Alamat : Pulau Hinako (asal) dan Tinggal 4 tahun di Sirombu, Status : Menikah (Teluk Dalam-Nisel, keluarga Tionghoa) Ori : Lahomi

A : Menurut bapak bagaimana penetapan jujuran perkawinan pada Nias Barat ini? Apakah mengalami pergeseran pada saat ini?

B : Jujuran perkawinan saat ini mengalami pergeseran, kita ketahui dulu ada beberapa point adat perkawinan. Sekarang sudah jauh berbeda karena patokannya sekarang pekerjaannya apa, jabatannya apa. Sebenarnya pergeseran itu sudah lebih kepada gengsi. Dari Yang seharusnya biayanya kecil. Namun karena gengsi tadi, mungkin karena jabatan yang membuat suatu pergeseran yang sekarang telah menjadi tolak ukur pada sebuah pernikahan. Jadi, dari segi efektivitasnya sebenarnya itu tadi yang membuat pergeserannya adalah faktor gengsi, dan itu semua hampir menjadi tolak ukur kalau seorang pria menikahi perempuan yang ada pada jabatan, atau yang sudah berpendidikan tinggi.

A : Berarti bisa katakan ini semua mempengaruhi dalam hal prastise, yang diminta oleh pihak keluarga perempuan. Maka dalam Nilai jujurannya itu sudahn pasti besar. Lalu dalam hal ini, pergeseran jujuran sudah mulai besar, kira-kira apa dasar ketika jujurannya ini sangat tinggi?

B : Sebenarnya banyak yang mengatakan bahwa jujuran lima puluh juta itu sangat mahal, atau seratus juta itu mahal. Tapi sebenarnya itu tergantung orangnya. Waktu saya menikah di Teluk Dalam dari keluarga Tionghoa, saya diminta semuanya lima puluh juta semua-semuanya. Saya mendengar dari mertua bahwa mereka minus setelah dihitung pasca pesta pernikahan.

Kalau saya menyimpulkan lima puluh juta itu, itu sudah murah zaman

sekarang. Karena transportasi, biaya makan, dan sewa gedung. Yang mendasari jujurannya sangat tinggi adalah gengsi itu. Mungkin kalau di Nias Barat ini, masih belum ada sewa-sewa gedung, tapi kalau di Gununsitoli mungkin ada, namun factor gengsi inilah yang mendasari besarnya jujuran tersebut. Apa lagi yang dinikahi ini adalah anak tunggal, anak yang cukup terpandang. Aturanya yang diundang adalah dulu adalah paman, kepala adat, tetapi yang diundang adalah para ketua adat, instansi pemerintah, sehingga masing dapat bagian satu ekor babi. Nah, ini yang memicu mau tidak mau, bukan karena soal orangtua perempuan mengambil keuntungan, tapi tidak mungkin dia yang megeluarkan semua uang unutk biaya itu, makanya ini nanti yang dibebankan kepada si mempelai pria. Dan kemudian pemberian pada perempuan itu seperti emas yang harus di berikan kepadanya, atau tidak tergantung kepada keluarga perempuan.

Kesimpulannya gengsi inilah yang membuat jujuran itu sangat mahal, gengsi ini timbul karena di Nias ini pekerjaanya kan pegawai dan di tambah lagi gaya hidup, sehingga yang dulu hanya seberapa dengan kasur, tapi sekarang spring bad dengan harga Rp 8 Jt. Apalagi sekarang Jumlah pegawai Negeri di Nias Barat sudah banyak, mungkin karena otonomi daerah, maka sering sekali gengsi itu sering terjadi.

A : Dengan seperti itu, akan ada isitlah gogoila atau tawar-menawar, seakan-akan pernikahan perempuan itu industrialisasi, bagaimana menurut saudara?

B : ini lah yang selalu disalah pahami oleh orang lain bahwa ada tawar menawar dalam menentukan jujuran perkawinan dengan paman. Timbulnya soal tawar-menawar ini sebenarnya karena kita di adat Nias ini ada yang dimaksud dengan hak paman dalam penentuan jujuran pernikahan tersebut.

Kalo pun orangtua sudah memaklumkan keadaan, namun desakan dari paman dan sauadara-saudara yang lain inilah nanti yang membuat suasana tawar-menawar, artinya antara paman perempuan dan pihak laki-laki belum sepakat, maka akan terjadi tawar-menawar. Walau pun orangtua perempuan sudah memaklumkan keadaan menantunya, tapi desakan paman akan menimbulkan tawar menawar. Ini terjadi sama paman yang suka meminta.

A : Dengan begitu, tingginya jujuran pernikahan ini maka pasti akan membebankan kedua belah pihak, bisa aja memiskinkan kedua belah pihak yang menikah, bagaimana menurut saudara?

B : Sudah pasti kedua belah pihak akan menanggung utang dan benar akan memiskinkan mereka.

A : Kita lihat dalam perskpektif gender, apakah perempuan saat penentuan jujuran dilibatkan atau tidak?

B : Perempuan sama sekali tidak tidak dilibatkan dalam pembicaraan-pembicaraan adat. Sekarang dengan pergeseran faktor ekonomi dan pengaruh gender mungkin bisa di libatkan, tapi semua mungkin pada saat itu. Sepuluh tahun sebelumnya, perempuan tidak dilibatkan untuk menentukan, tapi tidak semua. Itu terjadi, perempuan ini PNS dan orangtua ekonomi lemah, dialah yang menentukan. Tapi kebanyakan kasus mungkin hanya 10 persen.

A : Apakah bapak setuju dengan tiingkat pendidikan yang sangat tinggi, bapak setuju dengan tingkat jujuran yang sangat tinggi dikarenakan tingkat pendidikan nya yang tinggi?

B : Kalau masalah setuju, saya tidak setuju, soalnya ada banyak factor, kalau kita orang nias yang sudah mengenal firman tuhan, karena firman tuhan mengatakan itu adalah kasih. Kalau kita mau disederhanakan, ya sama kita.

Kedua, faktor efektivitas, mau banya orang atau tidak, perkawinan itu sah, pemerintah, Dan juga factor efektivitas nya, ada keluarga, ada instansi pemerintah, sehingga pergeseran itu dari adat menjadi pesta pora.. resepsi dua puluh lima juta, setelah di hitung kado hanya 8 juta.

A : Apakah bapak setuju setelah menyekolahkan anaknya, setelah selesai, maka akan meminta jujuran anaknya saat pernikahan? Lalu pesan saudara apa?

B : Saya uda katakana sebelumnya kalau saya tidak setuju. Intinya pernikahan itu adalah sakramen, semua tergantung pada kesepakatan, karena pernikahan ini bukanlah industri. Yang pasti tidak ada unsur kesengajaan, dengan harapan bahwa yang melamar dia adalah orang yang berpendidikan.

Kesan: sebenarnya dalam hidup ini, ada beberapa langkah yang harus diperhatikan, ketika mendapatkan pekerjaan, berarti ia sudah melangkahkan

kaki satu langkah, ketika menikah, berarti ia sudah melangkahkan kaki dua langkah. Persoalannya sering sekali orang sudah menikah, tapi masih berjalan di tempat, karena jujuran besar. Intinya, Orang sudah selesai menikah, tetapi utang belum selesai. Orang yang sudah menikah seharusnya melangkahkan kaki ke langkah ketiga, tetapi malah berjalan di tempat.

Pernah saya ketemu dengan salah seorang pasangan mudah di sebeuah pulau di Nias ketika saya bekerja di kapal pesiar. Saya tanya kepada orang di situ tentang pasangan mudah itu, mereka mengatakan bahwa pasangan mudah itu berasal dari Lahewa. Karena terbebani utang waktu pernikahan dengan jujuran 80 jt, selesai menikah langsung pergi ke pulau ini untuk mencari uang. Menurut saya, seharusnya mereka melangkahkan kaki untuk selanjutnya, tetatpi malah mereka berjalan di tempat setelah menikah. Pesan saya ke depan bahwa pernikahan itu bukan pesta pora, tetapi sakramen, bukan transaksi industri uang dan lain sebagainya.

Narasumber II

Nama : Yarman Daeli (A Yari Daeli) Umur : 40 Tahun

Pekerjaan : Tukang Kayu dan UD. Kameri.

Status : Menikah Jenis Kel. : Laki-laki Alamat : Sirombu

Ori : Lahomi

A : Bagaiamana menurut bapak tentang bosi adat di nias barat ini? Bagaimana tata cara melakukan adatnya? Khususnya saat ini jika ada anak perempuan dari keluarga yang telah sekolah ke perguruan tinggi, terkadang jika uda seperti itu, maka kalau menikah jujurannya akan sangat tinggi.

B : Semua itu bergantung kesepakatan orang pertama dan kedua. Di Nias Barat Ada perbedaan Bowo ori Lahomi dan Moro’o. Ori Lahomi ada 51 era-era bowo sedangkan di Ori Moro’o ada 54 era-era bowo. Contoh, Putri saya ketika saya nikahkan yang kebetulan sama semarga Daeli dan ori lahomi.

Berdasarkan bowo lahomi yang 51 kali Rp. 600.000, Kira-kira Rp.

34.600.000. Tetapi kesepatakan nilai harga barang contoh beras 300-4000.

Saya minta 40 juta, 3 ekor babi dan 10 karung beras. Kalau kita ikuti berdasarkan adat, seandainya kita beli perak seharga Rp, 8.500.000. Maka Jujuran itu melebihi adat, namun semua itu tergantung pada kesepakatan.

A : Sebenarnya anak bapak apakah kuliah atau masih SMA?

B : Masih SMA

A : Ketika pengambilan keputusan dalam penentuan jujuran perkawinan, apakah sebelumnya telah di beritahukan kepada anak perempuan?

B : Contoh ada anak perempuan keluarga kami yang menikah di Alasa, kami meminta Rp. 40 Juta, tapi katanya Rp 30 juta, akhirnya kami ia kan, karena takut terjadi apa-apa. Akan tetapi, hadiah yang akan kami berikan kurang banyak, karena tergantung berapa yang mereka berikan. Intinya, berapa yang mereka berikan, tergantung berapa yang kami terima.

A : Apakah dalam tata cara adat pernikahan ini, apakah ada namanya bola nafo?

B : Pertama, ada pertemuan kedua belah pihak untuk mengambil kesepakatan, sesudah itu pemberian bola nafo: 1 ekor babi 4 alisi ke atas, beras, 1 juta utang. Selesai itu penentuan waktu. Satu malam sebelum pernikahan,...

besoknya ada bola nafo, gereja, undangan, dan lain-lain. Dalam memberikan bola tadi diberikan osi mbola yang diberikan cincin emas.

besoknya ada bola nafo, gereja, undangan, dan lain-lain. Dalam memberikan bola tadi diberikan osi mbola yang diberikan cincin emas.