• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

3.3. SaranadanPrasarana

3.3.2. SaranaKesehatan

Program pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta kualitas kehidupan dan usia harapan hidup serta mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Peningkatan fasilitas kesehatan di Kabupaten Nias Barat terus diupayakan dengan tujuan untuk memudahkan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan, disamping itu tersedian puskesmas dan puskesmas pembantu di setiap kecamatan di Kabupaten Nias Barat (BPS, 2014: 66-67).

Tingkat kesehatan masyarakat merupakan slaah satu faktor yang sangat mempengaruhi tercapai atau tidaknya pembangunan di suatu wilayah. Semakin tinggi derajat kesehatan masyarakat suatu daerah, maka semakin baik sumber daya manusia yang dimiliki. Tinggi angka kematian ibu dan bayi serta banyaknya masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan, mencerminkan rendahnya derajat kesehatan suatu daerah.

Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya derajat kesehatan masyarakat adalah kurangnya sarana kesehatan, sanitas, dan lingkungan yang tidak sehat, serta rendahnya konsumsi makanan bergizi. Untuk itu pemerintah daerah Kabupaten Nias Barat senantiasa berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup sehat melalui penyuluhan kesehatan serta program pemberian imunisasi dan suntikan bagi ibu hamil.

Tenaga kesehatan khususnya dokter umum terdapat tiga orang, perawat sebanyak 144 orang, bidan sebanyak 42 orang dan tenaga farmasi sebanyak 3 orang yang tersebar di seluruh puskesmas yang berada di Kabupaten Nias Barat.

Pada tahun 2013 jumlah sarana kesehatan pemerintah di Kabupaten Nias Barat yang terdiri dari 27 puskesmas/pustu, posyandu sebanyak 129, polindes sebanyak dan poskesdes sebanyak 31 buah. Jumlah pasangan usia subur (PUS) di Kabupaten Nias Barat tahun 2013 adalah 11.128. Angka tersebut menurun dari tahun sebelumnya yaitu sebnayak 12,291. Jumlah untuk melayani masyarakat beserta program keluarga berencana di Kabupaten Nias Barat tersedia sebanyak 29 klinik keluarga berencana (KB).

Tabel. 1.5

Bayaknya Fasilitas Kesehatan di Kabupaten Nias Barat 2011-2013

No Fasilitas 2011 2012 2013

1 Rumah sakit - - -

2 Rumah Bersalin - 21 6

3 PUskesmas 29 29 27

4 Posyandu 128 129 129

5 Klinik - - -

6 Polindes 2 2 1

7 Poskendes 23 24 31

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Barat, 2014 3.3.3. Sarana Peribadatan

Agama yang dianut oleh masyarakat Kabupaten Nias Barat adalah Islam, Protestan dan Katolik dengan jumlah umat Islam sebanyak 2.289, Protestan sebanyak 113.089, dan Katolik sebanyak 20.624, sedangkan untuk penganut agama Hindu, Budha, Konghucu dan keperacayaan lainnya tidak ada. Jumlah rumah ibadat di Kabupaten Nias Barat yang tersebar di seluruh kecamatan. Pada tahun 2013 adalah sebanyak 314 unit, Gereja Katolik 72 unit, dan terdapat 1 unit Wihara yang terletak di Kecamatan Sirombu, namun belum terdaftar pada Kementerian Agama Kabupaten Nias. Berikut akan dipaparkan dalam tabel di bawah ini sebagai berikut.

Tabel 1.6

Banyaknya tempat Peribadatan Menurut Kecamatan di Kabupaten Nias Barat 2013

No Kecamatan Mesjid Gereja Protestan Gereja Katolik

1 Sirombu 8 36 4

2 Lahomi - 10 8

3 Ulu Moro’o - 13 5

4 Lolofitu Moi - 61 10

5 Mandrehe Utara 1 13 11

6 Mandrehe - 60 15

7 Mandrehe Barat - 30 7

8 Moro’o - 10 12

Jumlah 9 233 72

Sumber: Kementerian Agama Kabupaten Nias, 2014 3.4. Sistem Kepemerintahan

Secara administratif pemerintah kabupaten Nias barat terdiri dari 8 wwilayah kecamatan dengan jumlah desa sebanyak 110 desa dan jumlah dusun di Kabupaten Nias Barat ada sebanyak 322. Kecamatan Sirombu merupakan kecamatan yang memiliki desa terbanyak 25 desa, sementara yang paling sedikit adalah Kecamatan Ulu Moro’o yaitu sebanyak 5 desa dengan totak jumlah dusun di Kabupaten Nias Barat sebanyak 322 dusun.

Seluruh desa di Kabupaten Nias Barat tergolong dalam klasifikasi desa swadaya. Klasifikasi ini merupakan ukuran kemajuan yang dicapai suatu desa dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan ketertiban, sossial budaya, dan kedaulatan politik masyarakatnya. Dikatakan desa swadaya apabila tingkat kemajuan indikator tersebut di atas di bawah tingkat kemajuan kota dan nasional, desa swakarya apabila tingkat kemajuan di kabupaten/kota tetapi lebih rendah dibandingkan dengan nasional, dan desa swasembada apabila tingkat

kemajuna indikator tersebut di atas sama atau lebih besar bila dibandingkan dengan kemajuan tingkat nasional.

Tabel 1.7

Banyaknya Desa, Kelurahan, Dusun Menurut Kecamatan di Kabupaten Nias Barat 2013

No Kecamatan Desa Kelurahan Dusun

1 Sirombu 25 - 55

2 Lahomi 11 - 37

3 Ulu Moro’o 5 - 18

4 Lolofitu Moi 13 - 39

5 Mandrehe Utara 12 - 36

6 Mandrehe 20 - 62

7 Mandrehe Barat 14 - 39

8 Moro’o 10 - 36

Jumlah 110 - 322

Sumber: BPS Kabupaten Nias, 2014

3.5. Sistem Kekerabatan

Kelompok kekerabatan di Nias Barat sangat berperan penting dalam menyukseskan adat perkawinan. Jika fungsi relasi kekerabatan keluarga berjalan baik, maka pihak mempelai laki-laki sangat terbantu untuk menyangguupi materi böwö perkawinan (Gulö, 2015:102).

Masyarakat Nias mengikuti garis keturunan patrilinial, yaitu menghitung hubungan kekerabatan melalui laki-laki. Apabila anak laki-laki menikah, biasanya tinggal di rumah orangtuanya dalam waktu tertentu. Bahkan kalau tidak bisa membuat rumah sendiri, mereka bisa tinggal bersama orangtua selamanya. Orang yang berasal dari keturunan disebut sisambua mado (satu marga). Mereka diikat hubungan darah yang dihuitung melalui pihak laki-laki (Soo, 2000:41).

Adanya perkawinan dalam masyarakat Nias terbentuk kelompok kekerabatan yang disebut ngambatö (suami isteri). Dari hasil perkawinan inilah

akan lahir anak-anak maka lengkaplah ngambatö ini menjadi suatu kelompok kekerabatan yang terkecil yang biasa disebut keluarga batih. Dengan terbentuknya ngambatö ini, keluarga dari pihak suami dan isteri menjadi berfungsi terutama dalam upacara adat dalam lingkungan hidup mereka.

Dalam adat kekerabatan sopan santun di Nias, semua anggota keluarga dan kerabat saling menyapa. Dalam cara menyapa, dibedakan antara yang lebih muda dengan yang lebih tua. Kepada yang lebih tua harus lebih menghormati daripada yang lebih mudah umurnya. Antara mertua dan menantu terjalin hubungan yang eratnya sama dengan hubungan antara anak dengan orangtuanya sendiri. Dengan demikian hubungan anatara menantu dengan mertua tidak ada kesungkanan.

Pergaulan antara isteri dan anak-naka lebih banyak disekitar kerabat suami, sehingga pergaulan kerabat sendiri sekali-sekali. Akibatnya lama-kelamaan kerabat dari pihak isteri kurang dikenal, apalagi kalau sudah beberapa generasi.

Adat viriokal adalah adat menetap kawin umum, tetapi ada juga kekecualiannya yaitu apabila isteri tidak mempunyai saudara laki-laki, maka suami mengikuti isteri dan tinggal di tempat orangtua isterinya. Dalam hal ini suami menjadi ono yomo atau diambil anak oleh orangtua isteri. Dengan demikina berlaku adat uxorilokal atau matriokal. Kadang-kadang adat uxorilokal bisa juga terjadi apabila pihak laki-laki tidak sanggup membayar jujuran. Jadi sebagai imbalannya dia harus tinggal di rumah orangtua isteri mengerjakan pekerjaan orangtua (Soo, 2000:41).

3.6. Sistem Kemasyarakatan

Struktur masyarakat Nias dapat diamati dari dua aspek yaitu kampung dan kelompok kampung. Pertama, kampung merupakan satuan sosial tertinggi dalam

masyarakat Nias. Dalam terminologi Nias, kampung disebut banua. Ruang gerak sosial dalam masyarakat dibatasi oleh norma-norma yang berlaku dalam banua dan ditetapkan dalam fondrakö. Segala hal yang ditetapkan dalam banua, yang disebut nifakhoi mbanua, menjadi acuan bagi semua anggota masyarakat.

Singkatnya, semua yang digariskan oleh banua menjadi sebuah peraturan penuh yang berlaku dalam masyarakat setempat (Laiya, 1980:15-16)

Paham banua bukan hanya berarti kampung dalam arti lokal maupun komuniter, melainkan juga dunia atau langit (Suzuki, 1959:56). Banua yang ada di bumi merupakan representasi dunia kosmos dan tampak dalam hubungan sosial dan stratifikasi sosial masyarakat Nias (Beatty, 1992:19). Menurut Laiya (1980:

26), masyarakat Nias mengikuti pola hidup sakti (supernatura) dalam mengatur masyarakat. Seseorang harus mempelajari cara bertindak sopan dan mengikuti secara teliti segala ketentuan dan adat kebiasaan dalam keluarga dan masyarakat.

Apabila seseorang melanggar ketentuan-ketentuan tersebut berarti ia telah melanggar ketentuan alam sakti.

.

Ketentuan-ketentuan dalam banua dapat diuraikan dalam sistem kekerabatan masyarakat Nias. Sistem kekerabatan masyarakat Nias yang terkecil adalah sangambatö, yaitu keluarga inti (nuclear family) yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak. Sebaliknya, sistem kekerabatan yang terbesar adalah sangambatö sebua, yakni keluarga luas verilokal (verilokal extended family), yang terdiri dari keluarga batih senior. Dalam keluarga batih, semua putra tinggal serumah, sehingga berupa suatu rumah tangga (household), dan suatu kesatuan ekonomis. Berbeda dengan sisambua banua sebagai penghuni kampung yang

hidup dalam suatu wilayah tertentu, entah dari satu marga atau beberapa marga (Koejaraningrat, 1984:46).

Dalam masyarakat Nias Selatan kelompok organisasi sosial yang terkecil disebut gana. Kelompok organisasi tradisional ini terdiri dari beberapa keluarga batih dari satu marga atau beberapa marga. Setiap kelompok gana terdapat seorang pemimpin yang tugasnya tampak pada upacara adat saja. Kumpulan dari beberapa gana disebut nafulu. Kumpulan dari beberapa nafulu disebut banua, yang dapat diidentikan dengan desa yang dipimpin oleh salawa atau si’ulu (Wiradnyana, 2010:162).

Pemahaman masyarakat Nias tentang banua sebagai representasi kosmos berpengaruh dalam stratifikasi sosial. Banua sebagai simbol representasi kosmos, sedangkan sifat dan fungsi dewa-dewa itu didelegasikan kepada manusia.

Misalnya, Lowalangi sebagai yang menciptakan dan memerintah didelegasikan kepada bangsawan (si’ulu). Lature Danö adalah dewa bawah yang memelihara dan menjaga kosmos, didelegasikan kepada rakyat kebanyakan (sato). Silewe Nazara berfungsi sebagai penghubung antara Lowalangi dan Lature Danö, didelegasikan kepada ere.

Arti ere adalah imam tradisional yang memimpin ritual keagamaan kuno, baik yang bersifat upacara pribadi maupun massa. Imam agama kuno ini memiliki kuasa, pengetahuan istimewa, dan kebijaksanaan yang melebihi orang-orang biasa. Fungsi dan statusnya memperlihatkan dimensi transedental, yang dihubungkan dengan Silewe Nazara, yaitu dewa penghubung antara dewa atas dengan dewa bawah. Pengetahuan dan kuasanya tidak berasal dari dirinya sendiri,

melainkan pemberian Silewe Nazara Ere yang mengurus kegiatan sakral tak pernah mendapatkan kursus formil.

Biasanya, imam yang mengurus kegiatan-kegiatan sakral ialah laki-laki.

Imam ini bertindak sebagai mediator antara ilah dan manusia, pengantar persembahan, pemberian berkat dan kutuk, dan juga peramal (Laiya, 1980:28-29).

Posisi ere dianggap sebagai kelompok manusia yang berbakat, sehingga dihormati oleh kaum bangsawan dan rakyat kebanyakan bila sedang melaksanakan tugasnya. Ia diperlakukan sebagai rakyat kebanyakan ketika tidak bertugas.

Fungsi dan status kosmos analog dengan fungsi dan status dalam masyarakat Nias. Seorang si’ulu yang dianalogikan dengan sifat-sifat Lowalangi harus tampak dalam kepemimpinannya, yaitu kemampuan menyatukan seluruh rakyat yang dipimpin. Si’ulu harus memiliki wibawa, kharisma, dan kemampuan mengenali seluruh aspek kehidupan rakyat. Ia juga harus menjunjung tinggi nilai-nilai yang berlaku meliputi keadilan, kebenaran, dan penghargaan terhadap orang lain.

Menurut Laiya (1980:33), rakyat biasa (sato) mempunyai fungsi dan status yang analog dengan fungsi dan status Lature Danö. Sifat Lature Danö harus dimiliki oleh sato: memelihara dan menjaga banua. Sato harus memiliki keberanian untuk mempertahankan keamanan banua dari ancaman musuh dan memperhatikan kebersihan kampung. Ia juga harus taat terhadap pemimpin sebagai wujud ketaatan kepada Lowalangi. Tujuannya, menjaga harmoni antarsesama manusia dan antarmanusia dengan Yang Adikodrati.

Kedua, kelompok kampung. Masyarakat Nias terbagi dalam kesatuan setempat yang otonom disebut öri (negeri) sebelum kedatangan orang Belanda.

Öri merupakan gabungan dari beberapa banua dan tiap banua dihuni oleh bagian-bagian dari beberapa mado (marga). Öri dikepalai oleh seorang tuhenöri (kepala öri) dan tiap banua dipimpin oleh salawa (Nias Utara, Tengah, dan Barat) atau si’ulu (Nias Selatan). Salawa atau si’ulu mempunyai tanggung jawab sebagai penasehat tuhenöri.

Pada masa penjajahan Belanda, öri di seluruh Nias dan pulau-pulau di sekitarnya dipersatukan menjadi Afdeeling Nias di bawah seorang assistent resident. Para tuhenöri masih tetap dipertahankan oleh Belanda untuk mengurus öri-öri. Setelah Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda, Afdeeling Nias menjadi satu kabupaten, yaitu kabupaten Nias (Zebua, 1996:97-98).

Penelitian Gulö (2015:141), sistem pelapisan masyarakat pada umumnya di Nias ada empat bagian, yakni: Pertama, Tuhenöri Hada. Kedudukan adat ini ada kaitanya dengan sistem kepemimpinan turun-temurun (ascribed leadeship).

Syarat seseorang diakui sebagai Tuhenöri Hada, yakini (1) anak sulung berdasarkan sistem keturunan; (2) telah melakukan semua ritual pencapaian bosi;

(3) sudah melakukan empat macam pesta, yakni fanunu manu, famatö öri, folau tome dan owasa; (4) sudah bergelar balugu; dan (5) sudah pernah diarak dengan ditandu dan pernah didudukkan di kepalanya bari yang dipenuhi daging babi (la’osa’o).

Aparat pemerintah seperti salawa (kepala desa) seringkali dikaitkan dengan kepemimpinan turun-temurun ini. Tidak heran jika di Öri Moro’ö zaman dahulu, mereka yang menjadi kepala desa bisa dari kalangan rakyat biasa. Hal ini terjadi karena tuntutan pendidikan. Pada zama ini, seorang kepala desa sebaiknya

berpendidikan sehingga ia mampu mengelolah warga desanya sesuai dengan perkembangan zaman sekaligus mampu menyeelesaikan administrasi desanya.

Kedua, Tuha Si’ila. Jika kita mencermati dalam ritual bosi, maka mereka yang layak disebut Tuha Si’ila adalah mereka yang telah mencapai bosi si -10.

Dalam tradisi Öri Moro’ö Nias Barat, seseorang diangkat menjadi tetua adat bukan hanya karena kemampuannya mengadakan ritual bosi, melainkan ia juga memiliki kebijaksanaan. Ketiga, Si’ila Nitanöi Gokhöta (pemimpin yang berharta melimpah), seorang keluarga yang memiliki harta melimpah (mo’okhöta) biasanya disegani oleh rakyat. Oleh karena itu, itulah yang diangkat menjadi seorang pemimpin. Keempat, Niha Fagolo (rakyat biasa) yang memiliki bosi si 8.

BAB IV

PERGESERAN PENETAPAN BOWO PERKAWINAN DI KABUPATEN NIAS BARAT

4.1. Nias: Upacara Selingkaran Hidup

Dalam masyarakat Nias dikenal beberapa tahapan selingkaran hidup manusia dengan berbagai tradisi adat yang harus dilaksanakan. Tradisi tersebut mencerminkan bahwa masyarakat Nias mempunyai perbedaan mencolok antara satu dengan yang lain. Maka pada bagian ini, peneliti akan memaparkan bertolak pemahaman upacara selingkaran hidup masa lampau dan kini sebagai masyarakat Nias harus melewati beberapa tahap.

4.1.1. Kelahiran

Kelahiran yang dipahami sebagai ciptaan baru dalam keluarga dan masyarakat Nias. Bahkan kelahiran seorang anak dipahami sebagai penerus keturunan kedua orangtua, sehingga muncul istilah dalam masyarakat Nias untuk laki-laki sebagai ono famatohu na’ötö (anak penyambung keturunan), sedangkan untuk anak perempuan dikatakan sebagai ono famakhai mbabatö (anak pemerluas lingkaran kekeluargaan), maka perlu sebuah upacara untuk sebagai bentuk syukuran (Laiya, 1980:36).

4.1.2. Menikah

Menurut Wiradnyana (2010:154), perkawinan merupakan selingkaran hidup yang harus dilewati oleh orang Nias sebagai syarat untuk mendapatkan hak dan kewajiban yang penuh dalam kelompok kerabat. Selain itu, perkawinan menjadi langkah awal sebuah keluarga baru untuk melanjutkan tahapan hidup

selanjutnya, bukan berjalan di tempat karena beban utang pesta perkawinan. Salah satu informan dari Kabupaten Nias Barat dari Adat Öri Lahömi menyatakan:

“...Sebenarnya dalam hidup ini, ada beberapa langkah yang harus diperhatikan, ketika mendapatkan pekerjaan, berarti ia sudah melangkahkan kaki satu langkah, ketika menikah, berarti ia sudah melangkahkan kaki dua langkah. Persoalannya sering sekali orang sudah menikah, tapi masih berjalan di tempat, karena jujuran besar.

Intinya, Orang sudah selesai menikah, tetapi utang belum selesai.

Orang yang sudah menikah seharusnya melangkahkan kaki ke langkah ketiga, tetapi malah berjalan di tempat” (Wawancara dengan Ridho, 27 Mei 2015).

Keterangan dari informan di atas, merupakan fakta keluarga baru di Nias Barat setelah mengadakan pesta perkawinan. Rangkaian adat dan biaya yang sangat besar menjadi beban bagi pengantin baru. Bahkan tidak jarang keluarga baru terpaksa meminjam uang berbunga atau rentenir sekitar 10-15 persen perbulan. Menurut Gulö (2015:164-165), pematokan nilai material böwö dalam perkawinan adat Nias telah mengakibatkan banyak pasutri (pasangan suami isteri) yang memiliki utang. Utang böwö justru membuat pasutri kesulitan menggapai kesejahteraan hidup dalam membangun keluarga. Tidak hanya itu, böwö mengganggu perekomonian keluarga baru.

Pada zaman dulu, perkawinan dalam masyarakat Nias bersifat monogami, sekalipun poligami diijinkan, hanya pada umumnya dilakukan oleh kelompok bangsawan tertentu (Wiradnyana, 2010:154). Perkawinan dari garis keturunan patrilineal dapat dilakukan jika pasangan tersebut paling tidak sudah dapat tingkatan 9 (sembilan) generasi. Ada perbedaan di wilayah Nias Selatan (Teluk Dalam sekitarnya) bahwa perkawinan dengan anak paman sangat dianjurkan, sementara di Nias Barat, Nias Utara, dan Nias Tengah dianjurkan supaya tidak

menikah dengan anak paman. Bahkan Gereja sangat melarang pernikahan dengan anak paman dengan alasan yang fundamental secara biologis dan teologis.

4.1.3. Upacara Owasa (Penaikan Status)

Orang Nias yang sudah menikah, harus memikirkan selingkaran hidup selanjutnya, yakni fangowasa. Upacara owasa merupakan rangkaian upacara yang berkaitan dengan struktur sosial atau pembentukan struktur sosial masyarakat yang mengandung legitimasi nilai dan kekuasaan (Wiradnyana, 2010:156). Pesta ini memerlukan biasanya yang besar dengan tingkat-tingkat tertentu, dengan menjamu dan memotong ratusan ekor babi. Masyarakat Nias yang melakukan owasa akan mendapat status adat dengan gelar dan nama kebesaran, misalnya balugu (gelar bangsawan).

Gelar bangsawan di atas mempunyai pengaruh dalam penentuan jujuran adat perkawinan di Nias. Penentuan pada masa dulu dan masih dipraktekan sampai sekarang, adalah didasarkan pada bosi (derajat) yang diperoleh pada waktu melaksanakan owasa. Bosi orangtua perempuan merupakan salah satu ketetapan untuk menentukan jujuran dalam adat perkawinan. Artinya, bosi (status) dan jujuran adat perkawinan mempunyai pengaruh satu sama lain (Laiya, 1998:92).

Kini penentuan jujuran adat perkawinan bergeser ke satus pendidikan dan kekayaaan keluarga pihak perempuan dalam masyarakat Nias, khususnya Nias Barat.

4.1.4. Kematian

Uapacara terakhir bagi seorang sepanjang dan selingkaran hidupnya adalah kematian. Jika seorang mati apakah dia itu bangsawan dari golongan bangsawan atau rakyat kebanyakan, kaum kerabat dan tetangganya datang ke rumah untuk

turut berduka cita. Penghuni desa, istimewa kaum kerabat akan datang dan melihat mayat. Bahkan peristiwa kematian sering menjelma menjadi pesta besar.

Beberapa ekor babi disembelih dan nasi di masak untuk menjamu orang banyak, bahkan kadang sampai berutang (Laiya, 1998:55)

Pada zaman dulu ada beberapa tradisi yang sudah dihilangkan zaman sekarang seiring masuknya ajaran kristen. Misalnya tradisi mengayau kepala manusia untuk dijadikan tumbal orang yang meninggal, apalagi kalau itu berasal dari golongan bangsawa. Masyarakat Nias sudah menguburkan orang mati sesuai ajaran yang dianut.

4.2. Adat Perkawinan Masyarakat Nias Barat

Perkawinan masyarakat adat Öri Lahömi dan Öri Moro’ö Kabupaten Nias Barat mempunyai dinamika sosial yang menarik untuk diteliti lebih mendalam berdasarkan status sosial. Kajian sosiologi memahami dinamika sosial ini sebagai perubahan sosial dalam budaya yang dipengaruhi oleh berbagai aspek. Menurut Kingsley Davis (dalam Soekanto, 2006:256), perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Perubahan-perubahan tersebut terjadi dalam kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difungsi atau penemuan baru dalam masyarakat.

4.2.1. Bangsawan

Pada zaman dahulu, bosi menjadi penentu utama jumlah nilai material böwö dalam adat perkawinan di Nias. Semakin tinggi bosi seorang ayah, semakin tinggi pula lah böwö perkawinan jika ada yang menikahi putrinya. Pada zaman dulu, semua ritual uacara adat di Nias mesti dilalui jika seorang hendak mencapai

bosi tertentu. Misalnya seorang yang ingin melegitimasikan dirinya untuk menduduki bosi si-10, ia tentu sudah melakukan ritual-ritual adat yang menjadi persyaratan dari bosi si-1 hingga bosi si-9. Begitu pula sebelum seorang mencapai puncak bosi, yakni bosi si-12, ia mesti melaksanakan ritual dan pesta-pesta ada bosi si-1 hingga bosi si-11 (Gulö, 2015:141).

Kini bosi bangsawan sudah mengalami pergeseran dalam adat perkawinan di Kabupaten Nias Barat, dimana tidak lagi ditentukan oleh bosi, tetapi status pendidikan dan pekerjaan. Pergeseran ini seiring dikatakan oleh Max Weber mengenai proses perubahan sosial dalam masyarakat berkaitan dengan perkembangan rasionalitas manusia. Menurut Weber (dalam Martono, 2011:55), bentuk rasionalitas manusia meliputi mean (alat) yang menjadi sasaran utama serta ends (tujuan) yang meliputi aspek kultural, sehingga dapat dinyatakan bahwa pada dasarnya orang besar mampu hidup dengan pola pikir yang rasional yang ada pada seperangkat alat yang dimiliki dan kebudayaan yang mendukung kehidupannya. Orang yang rasionalitas akan memilih alat mana yang paling benar untuk mencapai tujuannya.

4.2.2 Rakyat Biasa

Adat perkawinan untuk masyarakat biasa tentu berbeda dengan masyarakat biasa umumnya. Perbedaan mencolok adalah masyarakat biasa menduduki bosi si 7. Bosi tersebut merupakan ukuran untuk meminta jujuran pernikahan apabila putrinya menikah dengan orang lain. Masalahnya sekarang, bosis itu sudah mengalami pergeseran dan sudah dipengaruhi oleh status pendidikan. Peneliti berasumsi bahwa status bangsawan atau masyarakat biasa

mempunyai kesamaan penentuan jujuran berdasarkan status pendidikan dan kekayaan.

Perubahan itu kini terjadi dalam masyarakat Nias sebagai masyarakat dinamis. Ada berbagai alasan peneliti mengungkapkan bahwa dalam masyarakat Nias Barat telah mengalami perubahan fungsi dalam paham status dibandingkan dengan zaman dulu. Pola perkawinan di Kabupaten Nias Barat menunjukkan bahwa ada perubahan sosial dalam pesta perkawinan, terutama standar penentuan jujuran. Peneliti menemukan bahwa perkawinan sudah mengalami pergeseran nilai adat menuju nilai gengsi sebagai gaya hidup masyarakat modern. Ini tampak dalam pengakuan Ridho bahwa pesta pernikahan telah bergeser ke nilai gengsi atau pesta pora.

Bahkan lebih tegas dikatakan oleh Yarman Daeli alias Ama Yari dari adat Öri Lahömi (Wawancara di Sirombu, 28 Mei 2015), ketika tetangganya menikahkan putrinya berprofesi bidan dan PNS (Pegawai Negeri Sipil), ia meminta jujuran kepada laki-laki: uang Rp. 100 Juta dan beberapa karung beras.

Pada saat pesta pernikahan ia memotong 40 ekor babi untuk undangan yang hadir dari pihak gereja, Dinas kepemerintahan, kampung, dan keluarga besar. Bila kita hitung 40 ekor babi dikali Rp. 600.000 per ekor maka sudah mencapai Rp 24.600.000. Ia juga memberi hadiah kepada putrinya emas seharga Rp.

Pada saat pesta pernikahan ia memotong 40 ekor babi untuk undangan yang hadir dari pihak gereja, Dinas kepemerintahan, kampung, dan keluarga besar. Bila kita hitung 40 ekor babi dikali Rp. 600.000 per ekor maka sudah mencapai Rp 24.600.000. Ia juga memberi hadiah kepada putrinya emas seharga Rp.