Denis Edward dalam bab terakhir bukunya Ecology at the Heart of Faith mengaitkan isu lingkungan hidup dengan praktik hidup beriman dan liturgi.
Pertobatan ekologis selain mewujud dalam tindakan nyata menyelamatkan lingkungan juga harus mewujud dalam praksis umat berliturgi. Pertobatan berarti perubahan. Apa yang berubah? Etos dan cara bertindak, itulah yang perlu berubah. Ia menegaskan bahwa ekaristi merupakan ungkapan iman yang dapat menjadi medan bagi umat beriman untuk mengekspresikan pertobatan dan perhatian akan lingkungan hidup. Di sana memang tidak serta merta ditemukan jawaban praktis. Tetapi di sana paling tidak dapat ditemukan pendorong bagi sebuah etos ekologis yang dibutuhkan demi sebuah pertobatan ekologis.
Ekaristi, sebagai puncak dan sumber hidup beriman kristiani. mempunyai beberapa unsur yang terkait dengan lingkungan hidup, karena dalam ekaristi umat beriman [1] mempersembahkan seluruh ciptaan kepada Allah, [2] sekaligus merupakan kenangan yang hidup akan penciptaan dan penyelamatan, [3] sebagai sakramen Kristus kosmis, [4] sebagai tindakan partisipasi dalam komunio Allah Tritunggal, [5] sebagai belarasa (solidarity) terhadap korban perubahan iklim dan aneka krisis lingkungan yang terjadi177.
177 Denis Edwards, Ecology at the Heart of Faith, 99.
4.5.1 Ekaristi sebagai Persembahan Hasil Bumi menjadi Roti Kehidupan
Ekaristi merupakan tindakan Gereja. Edwards mengutip pemikiran David Power yang menegaskan bahwa tanda utama dalam ekaristi adalah persekutuan dari anggota-anggota Gereja yang beraneka ragam dalam unsur roti dan anggur, bersama-sama mengelilingi meja perjamuan, saling berbagi hasil dari bumi ini178. Dalam Roh Kudus kita merasakan dan mencicipik persekutuan eskatologis bersama Allah Tritunggal. Dalm Roh Kudus pula, kesatuan itu disatukan oleh Kristus sendiri dalam persekutuan dalam Tuhan yang tidak memiliki batas tetapi menjangkau seluruh makhluk ciptaan. Setiap ekaristi memanggil setiap umat beriman kepada pertobatan ekologis dan bertindak dalam aksi nyata.
Ada empat tingkatan tindakan simbolik yang dapat dijabarkan dalam setiap ekaristi. Ekaristi merupakan tindakan simbolik. Di sana [1] roti dan anggur yang dibagikan dalam meja perjamuan [2] terkait dengan permasalahan sosial, ekonomi, dan budaya [3] yang dirayakan oleh persekutuan pelayanan yang mengatasi perbedaan sosial [4] sebagai tindakan pemakluman dan pengenangan kembali akan kematian Kristus yang menyelamatkan dan kehadiranNya di tengah umat.
4.5.2 Ekatisti sebagai Tindakan Anamnesis
Ekaristi merupakan tindakan pengenangan (anamnesis) akan karya keselamatan Allah bagi manusia. Sejalan dengan pemikiran Louis Bouyer, Edwards menyebutkan bahwa tindakan pengenangan itu merangkum dalam sebuah kesatuan
178 David N. Power, “Eucharistic Justice”, Theological Studies 67 (2000), 860, dalam Denis Edwards,
“Eucharist and Ecology: Keeping Memorial of Creation”, Worship 82 (May 2008), 195.
apa yang dikerjakan Allah bagi manusia179. Dalam perayaan ekaristi umat mengenangkan karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus yang hadir kini dan di sini. Hal yang sering terlupakan adalah bahwa dalam perayaan ekaristi karya penciptaan alam raya juga turut dikenangkan. Di dalam ekaristi juga ada tindakan pengenangan dan syukur akan Allah yang bekerja dalam penciptaan sebagaimana yang Ia kerjakan dalam penebusan melalui salib. Pengenangan itu tidak hanya mengingat apa yang telah Allah kerjakan namun juga kepenuhan janji Allah yang akan mentransformasi segala sesuatu dalam Kristus yang akan mencapai kepenuhannya di akhir jaman nanti.
Edwards menjabarkan lebih lanjut dengan memaparkan pandangan Bapa Gereja salah satunya Yustinus Martir. Dalam Dialog dengan Trypho, Yustinus Martir menyatakan bahwa ekaristi bukan hanya pengenangan akan sengsara melainkan juga syukur akan penciptaan Allah.
Persembahan tepung halus, yang diperintahkan untuk dipersembahkan atas nama mereka yang sedang dibersihkan dari penyakit kusta, adalah sebuah tindakan Ekaristi. Karena Yesus Kristus Tuhan kita memerintahkan kita untuk mengenangkan penderitaan yang dideritaNya atas nama mereka yang sedang dibersihkan jiwanya dari segala kejahatan. Seluruh tindakan ini muncul dari kurban sajian Perjanjian Lama, yang dianggap sebagai pendahulu dari Ekaristi. Sama seperti penderita kusta, dibersihkan dari penyakit, mempersembahkan syukur, orang kristiani dibersihkan dari kekotoran dosa, mempersembahkan roti ekaristi sebagai ucapan syukur kepada Tuhan karena telah menciptakan dunia dan semua yang di dalamnya demi manusia, dan juga karena membebaskan kita dari kejahatan180.
179 Louis Bouyer, Life and Liturgy, Sheed and Ward, London, 1956, 116, dalam Denis Edwards,
“Eucharist and Ecology: Keeping Memorial of Creation”, Worship 82 (May 2008), 199.
180 The offering of fine flour, which was ordered to be offered on behalf of those who were being cleansed from leprosy, was a type of the bread of the Eucharist. For Jesus Christ our Lord ordered us to do this in remembrance of the suffering which he suffered on behalf of those who are being purged in soul from all iniquity.' The whole thought of this passage moves in the realm of the Old Testament meal offering, which is regarded as the forerunner of the Eucharist. Just as the leper, cleansed from
Yustinus Martir merangkum tiga hal pokok yang dikenangkan dalam Ekaristi: syukur atas penciptaan, penebusan dosa, dan penebusan seluruh alam semesta181.
Konsep ekaristi sebagai sebuah tindakan pengenangan ini begitu relevan bagi dunia masa sekarang mengingat apa yang terjadi terhadap alam semesta ini, dengan kerusakan yang dideritanya. Pengenangan akan karya penciptaan Allah di sini memuat sebuah sikap kritis. Dengan pengenangan akan sengsara Kristus dalam ekaristi umat juga mengenangkan penderitaan yang dialami oleh seluruh makhluk ciptaan. Umat mengingat kelemahan dan kerusakan yang dialami oleh komunitas kehidupan di bumi ini dan membawanya ke hadapan Allah. Umat dipanggil ke dalam sebuah solidaritas yang meliputi semua korban kerusakan lingkungan, termasuk binatang dan tumbuhan yang rusak dan terancam. Ekaristi mengajak umat berdoa dalam semangat solidaritas bagi komunitas global, sehingga tercipta damai dan persatuan (communion) dengan Allah, sehingga „berkat kurban yang mendamaikan ini, damai sejahtera dan keselamatan semakin dirasakan di seluruh dunia‟ (Doa Syukur Agung III).
4.5.3 Ekaristi sebagai Perayaan Ekologis dan Perayaan Keselamatan
Ekaristi merupakan sarana mengenangkan karya keselamatan Allah sejak penciptaan sampai kebangkitan Kristus dan kedatanganNya kembali. Ekaristi
his disease, offered this `sacrifice of thanksgiving', so the Christian, cleansed from the defilement of sin, offers the bread of the Eucharist `as a thanksgiving to God for having created the world and all that is in it for man's sake, and also for having set us free from evil. Yustinus Martir, Dialog dengan Trypho, http://www.abcog.org/green2.htm diunduh pada 22 Jui 2011 pkl. 9.45.
181 Denis Edwards, “Eucharist and Ecology: Keeping Memorial of Creation”, Worship 82 (May 2008), 203.
merupakan perayaan yang berdimensi ekologis karena di dalamnya seluruh alam semesta dikenangkan. Doa Syukur Agung IV menggambarkan dimensi ekologis ekaristi itu. “Engkau menciptakan manusia seturut citraMu dan menyerahkan kepadanya tugas untuk memelihara alam semesta supaya ia berkuasa atas segala ciptaan dan berbakti kepadaMu, Pencipta alam semesta182”. Kisah Allah sebagaimana didoakan dalam Doa Syukur Agung IV menunjukkan cara keselamatan Allah itu dikenangkan dan dihadirkan kembali, agar kehadiran Allah sungguh nyata dan menggerakkan umat untuk menantikan keselamatan dalam harapan akan kepenuhan seluruh ciptaan, bersatu mesra dengan Allah Pencipta.
Apakah untuk menyadari anugerah alam dan bahwa manusia telah menyia-nyiakannya, orang harus berbondong-bondong kembali ke alam? Bagaimana dengan umat beriman yang tinggal di daerah perkotaan yang sudah susah menemukan lahan hijau? Apakah perlu ada ritual baru sehingga orang di kota sadar dan tergerak?
Ekaristi lebih daripada tanda dan gerak liturgis. Dalam ekaristi, di manapun dilangsungkan, umat disadarkan bahwa subyeknya adalah Allah sendiri dan di dalamnya umat mengenang dan menghadirkan kembali karya keselamatan Allah itu183. Dari ekaristi umat bisa menimba sumber iman sehingga mereka tergerak untuk mewujudkan iman itu dan secara khusus menimba etos ekologis bagi kehidupan bersama di bumi ini.
Ekaristi adalah perayaan kehidupan. Ekaristi tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Itulah kesadaran pertama yang perlu ada dalam diri umat beriman. Ekaristi
182 KWI, Tata Perayaan Ekaristi, bagian Doa Syukur Agung IV, KWI, Jakarta, 2005.
183 Sacrosanctum Concilium, art. 7.
merangkum seluruh tindakan manusiawi untuk dibawa ke hadapan Allah. Dari sana umat menimba kekuatan untuk hidup sehari-hari. Tindakan dan usaha sehari-hari umat dipersatukan dengan karya keselamatan Allah yang dikerjakan dalam diri Yesus Kristus sendiri. Memang benar, ekaristi adalah sebuah tindakan liturgis. Namun pengalaman murid di Emaus yang mengenali Tuhan setelah memecah roti (ekaristi) hendaknya menjadi teladan bagi umat beriman dalam ber-ekaristi. Kedua murid Emaus itu kembali ke Yerusalem untuk mewartakan warta kebangkitan setelah mengenali Tuhan yang hadir dalam Ekaristi. Itulah bagian penting yang tidak dapat dilupakan dari perayaan ekaristi, pengutusan sebagai murid yang menjadi saksi kebangkitan.