Hadir pula dalam acara tersebut Deputi Bidang SDM Kementerian Koperasi dan UKM Arif Rahman Hakim, Bupati Garut Rudy Gunawan, dan Kebiro Sekda Jawa Barat Benny Bachtiar, Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (LPDB – KUMKM).
Teten menjelaskan, pelatihan yang dilakukan oleh KemenkopUKM secara masif di berbagai daerah diharapkan menjadi pemantik bagi pelaku usaha untuk bisa lebih meningkatkan branding produknya melalui ,inovasi, dan juga disambungkan dengan media digital. Pasalnya, saat ini UMKM yang bisa bertahan dari hantaman krisis rata–rata adalah mereka yang mau melakukan penyesuaian produk dengan permintaan pasar, dan juga yang mau mendigitalisasi usahanya.
"Saat ini UMKM yang terhubung dengan marketplace baru sekitar 13 persen atau 8 juta pelaku usaha; kita diminta meningkatkan agar menjadi 10 juta, kita harap bisa melampaui.
Makanya saat ini kita sedang siapkan infrastrukturnya dan pelatihan bagi UMKM agar banyak yang menguasai market digital. Keuntungan digitalisasi bukan sekedar akses pasar yang lebih besar, tapi juga akses ke pembiayaan akan lebih mudah ke depannya,"
sambung Teten.
Teten berharap agar pemerintah daerah Kabupaten Garut dapat mengidentifikasi potensi di wilayahnya, kemudian dipetakan agar bisa dilakukan pengembangan bersama dengan pemerintah pusat. Dia memahami bahwa di masa pandemi saat ini, untuk bisa
meningkatkan pasar produk UMKM cukup sulit. Namun dengan melakukan kerja sama dan kolaborasi, diyakini akan mampu membawa perubahan yang lebih baik bagi perekonomian di Garut, Jawa Barat.
"Saat ini ada 18 Kementerian dan 40 lembaga yang menangani UMKM. Kita sedang susun sistem one gate policy, yang nanti akan jadi acuan bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menentukan arah pembangunan ekonomi. Ini kita siapkan kita harap dinas di daerah juga melakukan yang sama, dengan mengidentifikasi potensi di daerahnya masing–masing," pungkas Teten.
Di tempat yang sama, Bupati Garut Rudy Gunawan menambahkan bahwa pihaknya siap melakukan kolaborasi untuk mendorong peningkatan SDM para pelaku UMKM di wilayah Garut. Dijelaskannya bahwa potensi di wilayah Kabupaten Garut adalah hasil bumi seperti kopi, rempah–rempah, dan lainnya. Saat ini hasil produksi dari para petani di wilayahnya sebagian besar telah dikirim ke .
Dia berharap dukungan dari pemerintah pusat untuk pelaku usaha di Kabupaten Garut semakin ditingkatkan, karena saat ini kehidupan ekonomi, setelah terpuruk di awal–awal pandemi, sudah mulai bangkit kembali. Dia menyampaikan terima kasih atas dukungan dari pemerintah pusat dan juga lembaga pembiayaan yang telah intens memberikan bantuan kepada pelaku usaha di wilayah pemerintahan Kabupaten Garut.
E-Kliping LPDB-KUMKM 2020 48
"Pelaku usaha di sini sudah banyak yang mendapatkan dorongan dari bank BRI, bank BJB, Mandiri, bank BNI, dan lainnya. Kami berterima kasih atas dorongan ke UMKM kami, termasuk di antaranya pelatihan peningkatan SDM bagi pelaku usaha; insyaallah anak muda di Garut sini inovatif dan pinter–pinter," tutur Rudy.
Sementara itu Direktur PT Tama Cokelat Indonesia (Chocodot) Kiki Gumelar
mengatakan, kunci sukses usaha yang digelutinya adalah inovasi produk. Diceritakannya bahwa awal mula mendirikan usaha cokelat isi dodol diawali dari ketidaksengajaan, lantaran dodol yang akan dimakannya terjatuh ke dalam cokelat. Saat itu, Kiki terinspirasi membuat dodol isi cokelat.
Walaupun di awal–awal usahanya sempat ditolak lantaran dianggap aneh, namun berkat inovasi dan kemasan yang menarik, saat ini Chocodot menjadi produk buah tangan terkenal dari Kabupaten Garut. Inovasi lain yang dilakukannya, seperti merehabilitasi gerai miliknya dengan menampilkan sejarah dan potensi wisata di Kabupaten Garut membuat gerainya tidak pernah sepi dari pembeli.
"Jadi kita jual experience juga pada pembeli, mereka bisa mengenal sejarah cokelat di sini dan juga bisa tahu potensi wisata di Kabupaten Garut. Untuk membantu UKM lain kita juga bekerja sama dengan pengrajin dodol dan besek yang jumlahnya hingga puluhan, untuk kita jadikan paket Chocodot yang siap jual," kata Kiki
Sumber: https://www.merdeka.com/uang/bangkitkan-ekonomi-di-tengah-pandemi-teten-masduki-dampingi-pelaku-umkm-di-garut.html
Penjelasan UUD 1945 pasal 33 ayat 1 yang berbunyi, ”Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan", menempatkan kedudukan koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional, dan sebagai bagian integral tata
perekonomian nasional.
Kedudukan koperasi sebagai soko guru ekonomi mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi rakyat, serta mewujudkan demokrasi ekonomi sebagai sifat kebersamaan dan gotong royong dalam perekonomian.
Kebijakan pembangunan koperasi diarahkan untuk memantapkan posisi dan peranan koperasi yang seimbang dengan usaha nasional lainnya sehingga mampu menjadi guru perekonomian nasional dalam sistem perekonomian.
Seperti dikutip dari UU Nomor 25 Tahun 1992 Pasal 3, tujuan koperasi adalah untuk menyejahterakan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Melalui Kementerian Koperasi dan UKM, pemerintah ingin lebih mengembangkan
koperasi. Ke depannya, koperasi diharapkan menjadi benteng perekonomian masyarakat, terutama ketika menghadapi krisis akibat pandemi virus corona (COVID–19).
Terkait hal tersebut, Kemenkop UKM menyiapkan strategi tiga fase untuk mempercepat pemulihan ekonomi, yang dimulai pertama dengan Fase Tanggap Bencana (Induksi).
Dalam fase ini, seluruh aktivitas ekonomi terhambat akibat diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sehingga langkah yang diambil adalah dengan
memberikan restrukturisasi pinjaman/pembiayaan kepada koperasi mitra LPDB–KUMKM maksimal selama 12 bulan.
Kedua, Fase Pemulihan Ekonomi. Kemenkop UKM telah menyiapkan dana sebesar Rp1 triliun untuk pinjaman/pembiayaan kepada sektor usaha simpan pinjam, dengan bunga 3 persen menurun, atau sekitar 1,5 persen flat per tahun.