E-Kliping LPDB-KUMKM 2020 40
Maka dengan demikian, dapat dikatakan LPDB ini menjadi lembaga khusus pembiayaan koperasi. Ini merupakan idaman gerajan koperasi sejak belasan bahkan puluhan tahun yang lalu.
“Peraturan Menteri Koperasi dan UKM Nomor 4 Tahun 2020 ini merupakan legacy Menteri Koperasi Teten Masduki yang pada awal jabatannya segera mengubah Visi Misi LPDB untuk BLU yang 100% pembiayaannya diarahkan kepada koperasi dan UKM komoditi yang melakukan usaha di sektor ekonomi prioritas,” ucap Rully.
Perubahan mendasar lain dalam Permenkop ini bahwa penyaluran pinjaman atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang semula proses penilaian pembiayaannya sangat rigid seperti pola pembiayaan perbankan, antara lain dengan menetapkan persyaratan neraca surplus 2 tahun berturut–turut, sekarang berubah drastis dengan mengedepankan risiko (risk based), yaitu legalitas dan kelembagaan, kelayakan usaha dan kondisi keuangan dan jaminan untuk memastikan kemampuan mengembalikan.
“Dengan deminian secara karakter LPDB berubah total operasionalnya dari model
"banking approach" menjadi "venture capital approach" yang bisa memberi pembiayaan tanpa harus menunggu calon mitranya BEP dan surplus dua kali, tapi lebih mendasarkan kepada cashflow dan repayment capacity,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa Permenkop yang baru ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa dana LPDB bisa digulirkan kepada koperasi lain. Oleh karena itu di dalam Permenkop ini juga diatur mengenai kewajiban LPDB untuk merencanakan dan melaksanakan proses pendampingan terhadap mitra dan inkubator bisnis. Proses inkubasi bisnis diberikan kepada KUKM potensial tapi belum dapat memenuhi persyaratan LPDB.
Sumber: https://www.teras.id/news/pat-2/248845/hadiah-hut-ke-73-koperasi-kembali-miliki-lembaga-pembiayaan-khusus
Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) berkomitmen untuk mendorong kebangkitan ekonomi Kabupaten Garut, Jawa Barat, di tengah pandemi Covid–19 yang masih terjadi di Indonesia. Diakui bahwa pandemi tersebut telah mengakibatkan banyak sektor usaha lumpuh, termasuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Garut.
Berdasarkan data OECD (Organisation for Economic Co–operation and Development), setelah September 2020 diperkirakan separuh dari pelaku UMKM di Indonesia akan gulung tikar akibat pandemi tersebut. Sementara jumlah UMKM pada tahun 2019 mencapai 64,1 juta unit usaha, atau 99,8 persen dari jumlah dunia usaha yang ada di Indonesia.
Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, menjelaskan agar tidak terjadi gelombang kemiskinan dan juga pengangguran yang kian melebar, maka diperlukan upaya reaktivasi kegiatan ekonomi, sosial dan budaya, dengan tetap menerapkan standar protokoler kesehatan sesuai. Hal itu penting dilakukan agar mata rantai virus Covid–19 bisa diputuskan, berbarengan dengan upaya pemulihan ekonomi nasional (PEN).
Untuk itulah KemenkopUKM hadir dengan terus melakukan pendampingan dan pelatihan bagi pelaku UMKM di Indonesia, termasuk di Kabupaten Garut. Bentuk pendampingan seperti kemudahan perizinan dan juga sertifikat hak cipta, pendampingan bagi pelaku UMKM mendapatkan akses pembiayaan hingga pelatihan peningkatan SDM agar lebih inovatif dan bisa bersaing dengan dunia global.
“Di tengah pandemi Covid–19 kita harap bisa reaktivasi kegiatan kantor, kegiatan usaha, industri dan pariwisata, supaya kita segera kembali pulih ekonominya, karena situasi ini tidak mudah. Presiden memberikan arahan kepada kami agar kita keluar dari zona nyaman, makanya kita perlu cari terobosan dan cara yang lebih tepat untuk menghadapi krisis panjang yang dialami dunia, bukan hanya Indonesia,” ujar Teten dalam membuka pelatihan peningkatan SDM di Hotel Harmoni, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (11/7/2020).
Bangkitkan Ekonomi Di Tengah Pandemi, Teten Masduki Aktif Dampingi Pelaku UMKM Di
Kabupaten Garut
globalnews.id Online Senin, 13 Juli 2020
E-Kliping LPDB-KUMKM 2020 42
Hadir pula dalam acara tersebut Deputi Bidang SDM Kementerian Koperasi dan UKM Arif Rahman Hakim, Bupati Garut Rudy Gunawan, dan Kebiro Sekda Jawa Barat Benny Bachtiar, Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (LPDB – KUMKM).
Teten menjelaskan, pelatihan yang dilakukan oleh KemenkopUKM secara masif di berbagai daerah diharapkan menjadi pemantik bagi pelaku usaha untuk bisa lebih meningkatkan branding produknya melalui ,inovasi, dan juga disambungkan dengan media digital. Pasalnya, saat ini UMKM yang bisa bertahan dari hantaman krisis rata–rata adalah mereka yang mau melakukan penyesuaian produk dengan permintaan pasar, dan juga yang mau mendigitalisasi usahanya.
“Saat ini UMKM yang terhubung dengan marketplace baru sekitar 13 persen atau 8 juta pelaku usaha; kita diminta meningkatkan agar menjadi 10 juta, kita harap bisa melampaui.
Makanya saat ini kita sedang siapkan infrastrukturnya dan pelatihan bagi UMKM agar banyak yang menguasai market digital. Keuntungan digitalisasi bukan sekedar akses pasar yang lebih besar, tapi juga akses ke pembiayaan akan lebih mudah ke depannya,”
sambung Teten.
Teten berharap agar pemerintah daerah Kabupaten Garut dapat mengidentifikasi potensi di wilayahnya, kemudian dipetakan agar bisa dilakukan pengembangan bersama dengan pemerintah pusat. Dia memahami bahwa di masa pandemi saat ini, untuk bisa
meningkatkan pasar produk UMKM cukup sulit. Namun dengan melakukan kerja sama dan kolaborasi, diyakini akan mampu membawa perubahan yang lebih baik bagi perekonomian di Garut, Jawa Barat.
“Saat ini ada 18 Kementerian dan 40 lembaga yang menangani UMKM. Kita sedang susun sistem one gate policy, yang nanti akan jadi acuan bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menentukan arah pembangunan ekonomi. Ini kita siapka; kita harap dinas di daerah juga melakukan yang sama, dengan mengidentifikasi potensi di daerahnya masing–masing,” pungkas Teten.
Di tempat yang sama, Bupati Garut Rudy Gunawan menambahkan bahwa pihaknya siap melakukan kolaborasi untuk mendorong peningkatan SDM para pelaku UMKM di wilayah Garut. Dijelaskannya bahwa potensi di wilayah Kabupaten Garut adalah hasil bumi seperti kopi, rempah–rempah, dan lainnya. Saat ini hasil produksi dari para petani di wilayahnya sebagian besar telah dikirim ke Jakarta.
Dia berharap dukungan dari pemerintah pusat untuk pelaku usaha di Kabupaten Garut semakin ditingkatkan, karena saat ini kehidupan ekonomi, setelah terpuruk di awal–awal pandemi, sudah mulai bangkit kembali. Dia menyampaikan terima kasih atas dukungan dari pemerintah pusat dan juga lembaga pembiayaan yang telah intens memberikan bantuan kepada pelaku usaha di wilayah pemerintahan Kabupaten Garut.
“Pelaku usaha di sini sudah banyak yang mendapatkan dorongan dari bank BRI, bank BJB, Mandiri, bank BNI, dan lainnya. Kami berterima kasih atas dorongan ke UMKM kami, termasuk di antaranya pelatihan peningkatan SDM bagi pelaku usaha; insyaallah anak muda di Garut sini inovatif dan pinter–pinter,” tutur Rudy.
Sementara itu Direktur PT Tama Cokelat Indonesia (Chocodot) Kiki Gumelar
mengatakan, kunci sukses usaha yang digelutinya adalah inovasi produk. Diceritakannya bahwa awal mula mendirikan usaha cokelat isi dodol diawali dari ketidaksengajaan, lantaran dodol yang akan dimakannya terjatuh ke dalam cokelat. Saat itu, Kiki terinspirasi membuat dodol isi cokelat.
Walaupun di awal–awal usahanya sempat ditolak lantaran dianggap aneh, namun berkat inovasi dan kemasan yang menarik, saat ini Chocodot menjadi produk buah tangan terkenal dari Kabupaten Garut. Inovasi lain yang dilakukanya, seperti merehabilitasi gerai miliknya dengan menampilkan sejarah dan potensi wisata di Kabupaten Garut membuat gerainya tidak pernah sepi dari pembeli.
“Jadi kita jual experience juga pada pembeli, mereka bisa mengenal sejarah cokelat di sini dan juga bisa tahu potensi wisata di Kabupaten Garut. Untuk membantu UKM lain kita juga bekerja sama dengan pengrajin dodol dan besek yang jumlahnya hingga puluhan, untuk kita jadikan paket Chocodot yang siap jual,” kata Kiki.
Sumber: http://globalnews.id/bangkitkan-ekonomi-di-tengah-pandemi-teten-masduki-aktif-dampingi-pelaku-umkm-di-kabupaten-garut/
E-Kliping LPDB-KUMKM 2020 44
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menerbitkan Peraturan Menteri Koperasi dan UKM Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penyaluran Pinjaman atau Pembiayaan Dana Bergulir oleh Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB–KUMKM).
Permenkop tersebut telah diundangkan dalam Berita Negara Tahun 2020 nomor 673, untuk menggantikan Permenkop Nomor 8 Tahun 2018 sebagaimana telah diubah dengan Permenkop Nomor 6 Tahun 2019.
Salah satu perubahan penting dalam Permenkop yang baru terkait dengan syarat mendapatkan pinjaman/pembiayaan dana bergulir dari LPDB–KUMKM. Dalam
Permenkop sebelumnya disebutkan bahwa proses penilaian kelayakan usaha calon mitra sampai dengan pencairan pinjaman/pembiayaan membutuhkan 16 syarat. Sedangkan dalam Permenkop yang baru syarat tersebut telah dipangkas menjadi hanya 3 syarat.
“Proses penilaian kelayakan usaha calon mitra sampai dengan pencairan
pinjaman/pembiayaan berubah drastis dari 16 proses yang rigid menjadi hanya 3 proses saja yaitu penilaian legalitas, repayment capacity dan pengikatan jaminan, serta
pencairan dana,” kata Sekretaris KemenkopUKM Prof Rully Indrawan, di Jakarta, Jumat (10/7).
Prof Rully mengatakan Permenkop ini merupakan Permenkop transformasi Badan Layanan Umum (BLU) pertama yang langsung merespons situasi pandemi Covid–19 dalam upaya Pemulihan Ekonomi Nasional. “Khusus dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi dalam kondisi wabah Covid–19, MenKopUKM dapat mengupayakan subsidi bunga, subsidi penjaminan, subsidi asuransi, dan/atau bantuan pemerintah lainnya melalui Kementerian Keuangan,” terang Rully.