TINJAUAN PUSTAKA
1. Merencanakan Pemukiman Di Bantaran Sungai
Perilaku bermukim merupakan manifestasi dari upaya pemukim dalam merencanakan hingga menghuni bantaran sungai. Aspek perencanaan ini berkaitan dengan kebutuhan pemukim dalam bertempat tinggal, yang diantaranya adalah: mendapatkan fasilitas yang dapat diakses guna meningkatkan pendapatan mereka walaupun memiliki resiko yang besar, perencanaan untuk bermukim menurut ESCAP dan UNHABITAT (2008) telah dipertimbangkan secara matang oleh pemukim. Adapun yang termasuk dalam aspek perencanaan pemukim ialah, (1) pemilihan lokasi (2) jarak antara bangunan dengan sungai (3) biaya terjangkau
Pemilihan lokasi dapat dikategorikan kedalam variabel penghubung diantara keinginan seorang pemukim untuk berdekatan dengan lokasi pekerjaan atau aktivitas bisnisnya Harihanto (2001) atau kondisi yang kedua adalah: pemilihan dilakukan berdasarkan lahan atau sumber daya yang tersedia, dengan begitu pemilihan lokasi bermukim menjadi aspek yang didasari oleh persepsi dari pemukim berkaitan dengan kondisi finansial pemukim. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh ESCAP dan UNHABITAT (2008) kedekatan dengan tempat kerja dan kesempatan mendapatkan pekerjaan menjadi alasan kuat dalam perencanaan pemukim. Hal tersebut yang berusaha diimplementasikan oleh pemukim. Pertimbangan memilih tempat tinggal umumnya akan mencantumkan alasan kuat pemukim seperti, kedekatan dengan pasar, pabrik, daerah usaha, jaringan transportasi dan lokasi konstruksi, hal tersebut berpengaruh pada harapan untuk dapat mendapatkan penghasilan yang lebih besar, kesempatan kerja yang lebih baik, dan biaya transportasi yang lebih rendah. Terungkap alasan para pemukim mengenai perencanaan bermukim mereka yang tidak menempatkan
program perumahan pemerintah sebagai prioritas, selain karena pesimisme pemukim mengenai kondisi dan fasilitas juga harga, rumah dari program perumahan pemerintah umumnya dibangun terlalu jauh dari pusat kota, area industri, sekolah, klinik, dan pusat pelayanan sosial. Hal tersebut yang menyebabkan pemukiman di bantaran sungai tetap memilih bermukim di bantaran sungai meski seberapapun kumuhnya.
Keputusan Presiden Republik Indonesia No 9 Tahun 1999 (http://air.bappenas.go.id) mengatakan tentang pentingnya kelestarian DAS maupun bantaran sungai. melalui Kepres tersebut diketahui jarak yang sesuai untuk bertempat tinggal dari bantaran sungai adalah: 20-25 meter menjauhi bantaran sungai. akan tetapi, bangunan yang berada dibantaran sungai berada di bagian badan sungai hal tersebut membahayakan tidak hanya bagi pemukim tapi juga tanah bantaran akan lebih rapuh dan menyebabkan kelongsoran pada bantaran sungai serta menyempitnya sungai. Pemilihan jarak antara bangunan dengan sungai merupakan perilaku pemukim yang dikondisikan dalam keadaan terpaksa. Hal tersebut diungkapkan oleh Sengupta dan Sharma (2009) sebagai security situation yang tidak terpikirkan lagi karena pada faktanya seorang pemukim yang memiliki keuangan yang lebih baik akan memilih bertempat tinggal yang menjauhi sungai. Hal senada diungkapkan oleh Marx dalam Giddens (2007) bahwa pemukim yang sedang dalam bentuk terasing dan membahayakan akan tetap merasa nyaman karena adanya unsur alamiah yang tersedia bebas untuk digunakan sebagai tempat berlindung.
Ahli keuangan di bidang perumahan mengasumsikan 25-30% dari penghasilan rumah tangga dialokasikan untuk pembayaran sewa rumah ESCAP dan UNHABITAT (2008). Hal tersebut berlaku hanya untuk pemukim dalam golongan kelas menengah untuk pemukim, di bantaran sungai sebagian besar penghasilan digunakan untuk kebutuhan dasar seperti makanan, biaya kesehatan transportasi dan kebutuhan darurat lainnya. Program rumah yang ditawarkan oleh pemerintah bagi pemukim tidak terjangkau dalam artian, sulit untuk pemukim mengalokasikan anggaran guna pembayaran cicilan dari penghasilan para pemukim.
Melalui adanya kebutuhan tersebut manusia berusaha untuk mencari sumber daya yang dibutuhkan guna mendapatkan tempat tinggal. Berbagai tingkatan mengenai jenis bangunan perumahan disesuaikan dengan kemampuan pemukim, pembagian ini dipisahkan oleh Abrams (1964) menjadi beberapa kriteria, mendirikan bangunan yang bersifat permanent, semi permanent atau non permanent. Perilaku mendirikan tersebut dijelaskan juga dilakukan oleh pemukim sesuai dengan kemampuannya sendiri. dengan begitu pilihan untuk mendirikan bangunan dengan kondisi permanent dan semi permanent diputuskan oleh pemukim dengan mempertimbangkan kemampuan dari sumber daya yang dimiliki.
Menurut Chimhowu dan Hulme (2006) seorang pemukim akan berpindah menjadi pemukim tetap jika memiliki tingkat pendapatan atau kesejahteraan yang sesuai dengan yang di inginkan. Adapun lebih lanjut dipaparkan juga oleh Souza (2001) seorang pemukim yang berada dilahan yang menjadi tanah Negara dan menggunakan fasilitas publik, tetap memiliki status terhadap bangunan yang ditempatinya, yaitu sewa, membuat sendiri, dan membeli. Melalui penjelasan tersebut pemukim di bantaran sungai diasumsikan memiliki kondisi yang tidak sama pada status bangunan yang mereka miliki. Kondisi tersebut akan mempengaruhi pada perilaku bermukim yang ditampilkan, karena seorang pemukim yang menyewa rumah tidak akan bermukim secara penuh dan curahan waktu tinggal pemukim sewa tersebut menggambarkan perilaku bermukim yang intensitasnya terputus, berbeda halnya dengan pemukim yang menetap di bantaran, perilaku merusak bantaran sungai akan secara kontinu dilakukan.
Bangunan yang didirikan di bantaran sungai umumnya memiliki keragaman dari segi fungsi. Fungsi pertama sebagai bangunan yang didirikan sebagai rumah tinggal, kemudian sebagai bangunan dengan aktivitas ekonomi seperti rumah dengan toko kelontong dan pabrik. Hal ini menyebabkan perbedaan jenis biaya dalam pendirian bangunan. Sidik (2000) mengungkapkan lebih jauh perihal biaya-biaya yang harus dikeluarkan guna mendirikan suatu bangunan biaya tersebut diantara lain adalah:
1. Biaya utama komponen bangunan: yaitu biaya yang dikeluarkan untuk membayar seluruh unsur pekerjaan yang berkaitan dengan dengan pembuatan konstruksi utama bangunan
a. Biaya untuk pekerjaan persiapan (pemagaran proyek, pembersihan, direksi keet, barak kerja)
b. Biaya untuk pekerjaan pondasi (mulai dari galian pondasi hingga urugan tanah kembali)
c. Biaya untuk pekerjaan beton/beton bertulang (pembuatan lantai kerja, sloof, kolom, balok, dinding, beton baik di luar maupun di dalam, plat, lantai serta atap)
d. Biaya untuk pekerjaan pembuatan struktur rangka atap (kuda-kuda dan gording) baik dengan menggunakan baja atau kayu, termasuk
didalamnya pekerjaan pengawetan dengan pelapis cat atau sejenisnya. 2. Biaya komponen material bangunan: yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan
untuk membayar seluruh unsur-unsur pekerjaan yang berkaitan dengan elemen penyelesaian akhir bangunan yang dititikberatkan pada aspek arsitektural, yang meliputi.
a. Biaya untuk pekerjaan atap (meliputi pemasangan kaso, seng, alumunium foil dan tripleks)
b. Pekerjaan dinding luar (meliputi pembuatan rangka dinding hingga pemberian lapisan permukaan, baik dari cat maupun penyelesaian material lainnya)
c. Biaya untuk pekerjaan pintu dan jendela yang menempel pada dinding luar. Pintu dan jendela tersebut dapat terbuat dari kayu, alumunium, kaca, dan/atau jenis material lainnya
d. Pekerjaan dinding dalam. Biaya untuk pekerjaan dinding dalam meliputi, pembuatan rangka dinding hingga pemberian lapis permukaan, baik dari cat maupun penyelesaian material lainnya
e. Biaya untuk pekerjaan pintu dan jendela yang menempel pada dinding dalam. Pintu dan jendela tersebut dapat terbuat dari kayu, alumunium kaca, dan jenis material yang lain.
f. Biaya untuk pekerjaan langit-langit (meliputi pembuatan rangka plafon hingga pemberian lapisan permukaan, baik dari cat mapun penyelesaian material lainnya)
g. Biaya untuk pekerjaan lantai (meliputi pembuatan lantai kerja hingga pemberian lapisan permukaan)
Pembuatan bangunan di bantaran memiliki aspek relatif dalam hal penilaian harga. Hal tersebut karena keragaman jenis bangunan di bantaran. Dengan mengetahui biaya yang dikeluarkan pada komponen tersebut maka akan diketahui alasan dari pemukim untuk tetap bertempat tinggal di bantaran sungai.
Sebelum membangun suatu bangunan terlebih dahulu seorang pemukim harus memiliki jumlah anggaran biaya secara teliti. Hal tersebut untuk menghindari hambatan-hambatan yang umumnya terjadi di wilayah pemukiman yang di tuju. Hambatan tersebut mencangkup perbedaan harga bahan dan upah pekerja di lokasi, hambatan lain ialah, iklim di suatu lokasi yang mempengaruhi waktu penyelesaian suatu pekerjaan dan mengakibatkan pertambahan biaya pada upah pekerja dan bahan. Menurut Mukomoko (1977) sebelum mendirikan bangunan maka seorang pemukim atau pemilik harus memiliki
1. Rencana pekerjaan 2. Daftar upah
3. Daftar harga barang 4. Daftar analisa
5. Daftar banyaknya tiap pekerjaan 6. Daftar susunan harga biaya
Akan tetapi apakah hal tersebut berpengaruh pada pemukim di bantaran sungai. keragaman bangunan di bantaran sungai Jakarta membuat keseluruhan aspek tersebut tidak diterapkan keseluruhan. Pada pembangunan rumah sewa, komponen tersebut kemungkinan digunakan oleh pemilik. Akan tetapi, bagi pemukim perumahan sangat sederhana tidak. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Sporn (1970) bahwa keseluruhan biaya bangunan pemukiman kumuh di bebankan pada pemukim itu sendiri. hal tersebut yang membuat pemukim mendirikan bangunan dengan material seadanya dengan kemampuan yang dimiliki. Senada dengan yang diungkapkan oleh Abrams (1964) bahwa
kesulitan tersebut akibat adanya ketimpangan jauh antara pendapatan para pemukim dengan biaya yang harus dikeluarkan ketika mendirikan bangunan. Hal tersebut memperlihatkan kaitan antara jenis pekerjaan pemukim dengan tingkat pendapatan dan juga pengaruhnya pada tipe bangunan pemukim itu sendiri.
Salah satu definisi Rosen (1985) mengenai perilaku bermukim adalah upaya seseorang dalam mencukupi kebutuhan akan hunian yang murah dan memiliki fasilitas-fasilitas pemukiman yang baik individu dan keluarganya. Komponen yang dipaparkan oleh Rosen merupakan upaya pemukim yang tidak memiliki kecukupan finansial sehingga usaha yang dilakukan adalah mencari rumah sewa yang sesuai dengan kondisi keuangan yang dimilikinya. Dalam aspek ini juga disebutkan mengenai seorang pemukim yang menjadi pemilik bangunan (landlords). Hal ini juga dikemukakan oleh Newman (2005) mengenai pemilik bangunan sewaan. Adapun komponen lain yang termasuk didalamnya adalah, kualitas dari rumah dan kualitas pemukim disekitarnya. Kualitas dari rumah sewaan dikaitkan oleh Abrams (1964) dengan upaya seseorang untuk beradaptasi dengan keadaan di rumah sewaan. Kondisi yang ada pada umumnya adalah, (1) berbagi ruangan (2) kekurangan fasilitas personal. Pendatang yang menyewa hunian di bantaran sungai seringkali datang secara berkelompok, mereka memiliki tujuan bekerja secara jangka pendek maupun jangka panjang hal lain adalah pendatang yang menumpang sementara dengan kerabat yang juga menyewa hunian. Cara ini dilakukan untuk menghemat dana yang mereka miliki maka diputuskan untuk membagi biaya yang harus dikeluarkan sesuai dengan jumlah penghuni didalamnya.
Dampak yang dihasilkan dari sewa rumah dengan jumlah penghuni yang melebihi kapasitasnya adalah, kekurangan fasilitas secara personal, fasilitas tersebut meliputi kebutuhan air bersih, jumlah ruangan dan biaya yang harus ditanggung seperti biaya pemakaian listrik. Air bersih merupakan kebutuhan yang mendasar bagi pemukim, dengan semakin banyaknya pemukim yang ada di suatu rumah maka kebutuhan akan air bersih akan semakin meningkat. Sedangkan jumlah ruangan berpengaruh pada kenyamanan seseorang di dalam suatu rumah. Ruangan yang diisi oleh banyak orang akan dapat menimbulkan permasalahan seperti timbulnya konflik diantara penghuni. Bolay (2006) dan Souza (2001)
menjelaskan hal tersebut sebagai kegagalan untuk memenuhi fungsi rumah sebagai aktivitas personal dan tempat untuk berkreasi secara sehat.