• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

5. Upaya Mempertahankan Bangunan

Pemerintah menyadari bahwa pemukim di bantaran dapat mengakibatkan kerusakan pada lingkungan, oleh karena itu upaya pemindahan pemukim dari bantaran terus dilakukan. Hanya saja pendekatan pemerintah melalui pendekatan konflik hanya membuat para pemukim semakin resisten dengan upaya pemindahan tersebut. Kretser et al (2008) mengatakan bahwa kepadatan penduduk disuatu tempat yang berkaitan dengan lingkungan tidak dapat dilakukan pendekatan konflik, hal tersebut karena dapat menyebabkan frekuensi dan pertahanan para pemukim yang semakin kuat. Sejumlah keuntungan yang berada di pemahaman pemukim merupakan faktor yang seharusnya dirubah terlebih dahulu oleh para pemukim di bantaran, dengan begitu interaksi antrara manusia dan lingkungan dapat berdampak secara positif bagi pembangunan. Lebih jauh lagi penelitian Kretser dkk tersebut dapat diaplikasikan kedalam perencanan tata kota hanya saja pendekatan konflik seperti relokasi harus ditiadakan dan lebih mementingkan cara negosiasi dan pendidikan pada pemahaman pemukim.

Hubungan Karakteristik Pemukim dengan Persepsi Mereka Tentang Bermukim di Bantaran Sungai

Persepsi merupakan proses mengetahui, mengenali objek dan kejadian secara objektif dengan bantuan pengideraan, serta kesadaran dari proses organis pada indera dengan penambahan arti yang berasal dari pengalaman masa lalu. Dalam hal ini variabel yang menghalangi atau ikut campur tangan diidentifikasi berasal dari kemampuan individu untuk melakukan perbedaan diantara perangsang. Hal tersebut juga termasuk kesadaran intuitif mengenai keyakinan

tentang sesuatu. (Chaplin 2006). Sedangkan menurut Walgito dalam definisinya persepsi adalah proses pengorganisasian, pengintrepetasian pada stimulus yang diterima oleh indvidu sehingga dapat bermakna bagi dirinya sendiri.

Kedua pendapat diatas merupakan tolak ukur dalam mengetahui komponen yang dapat mempengaruhi persepsi bagi individu. Menurut Sarwono (2002) faktor faktor yang dapat mempengaruhi persepsi dibagi menjadi dua jenis yaitu, (1) diri sendiri dan (2) diluar diri sendiri. Kedua jenis tersebut memperlihatkan persepsi sebagai proses pencarian informasi, adapun alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah penginderaan sedangkan alat untuk memahaminya adalah kesadaran atau kognisi. Persepsi yang dipengaruhi diluar dari pribadi dikatakan oleh Walgito (2003) sebagai non-social perception, things perception atau jika objek adalah manusia maka dinamakan persepsi sosial. Persepsi dalam hal ini dapat disimpulkan secara psikologis dipengaruhi oleh, pengalaman, perasaan, kemampuan berpikir, kerangka acuan, dan motivasi. Melalui hal tersebut diketahui masing masing komponen yang mempengaruhi persepsi pemukim tentang bermukim di bantaran sungai.

Umur seseorang berhubungan pada persepsi melalui tahapan perkembangan yang harus dijalani seseorang dalam hidupnya proses inilah yang dapat mengubah persepsi seseorang pada suatu objek, menurut Erikson dalam Boeree (2006) setiap tahapan memiliki tugas yang berbeda karena itu kemampuan seseorang akan bertambah secara alamiah sesuai dengan tahapan tersebut. Perkembangan tersebut meliputi perkembangan wawasan, psikologis, intelektual, dan tanggung jawab. Melalui komponen tersebut umur berpengaruh pada persepsi.

Motivasi mempengaruhi persepsi melalui respon pada objek yang dilihat dan diproses di benak seseorang menimbulkan dorongan kemudian membangkitkan motif untuk berperilaku. Keadaan ini sama seperti yang diungkapkan oleh Freud dalam Boeree (2006) persepsi termasuk kedalam bagian alam sadar seperti, penginderaan langsung, ingatan, pemikiran, fantasi, hingga perasaan yang dimiliki. Terkait erat dengan alam sadar adalah alam pra-sadar kemudian alam bawah sadar yang menjadi dorongan bagi seseorang untuk melakukan sesuatu dari yang sederhana seperti makan hingga dorongan untuk

berkreasi atau mencipta. Pengaruh motivasi pemukim untuk dapat bertahan hidup diketahui merupakan motivasi dasar yang dimulai dari persepsi mengenai tempat tinggal dan dapat memberikan kehidupan seperti bantaran sungai.

Pendidikan formal mempengaruhi persepsi melalui, melalui pemahaman yang dikembangkan berdasarkan adanya proses berpikir seseorang mengenai objek yang dilihatnya. Bloom (2008) membagi peningkatan aktivitas belajar kedalam ketiga kategori yang salah satunya adalah aspek kognitif yang merupakan wilayah persepsi. Meningkatnya jenjang pendidikan yang didapat menyebabkan seseorang dapat meningkatkan pemahamannya pada suatu objek, dalam hal ini rendahnya tingkat pendidikan formal seorang pemukim mempengaruhi pada keputusan dirinya untuk menempati bantaran sungai, mendirikan bangunan dan merusak bantaran sungai.

Pekerjaan dapat mempengaruhi persepsi pemukim tentang bermukim di bantaran sungai. Hal tersebut karena, terkait dengan karakteristik pekerjaan yang dibutuhkan secara spesifik. Ranah pedesaan misalkan memperlihatkan suasana kerja/aktivitas ekonomi yang memiliki ciri, berada di udara terbuka, berhubungan dengan tanah, air, tanaman, binatang, dan produksi berbasis pada sumber daya alam. Hal yang berbeda pada aktivitas ekonomi di perkotaan, suasana pekerjaan cenderung tertutup, jauh dari alam, berhubungan dengan perdagangan, industri, pabrikasi, dan perkantoran, Lestari dalam (Papilaya, 2006:19). Dengan pemahaman seorang pemukim pada jenis pekerjaan dan lingkungannya pemukim memiliki alasan kuat untuk memilih tempat bermukim yang sesuai dengan pekerjaanya atau dengan kegiatan yang dapat dikerjakan dan berpengaruh pada persepsinya.

Pendapatan mempengaruhi persepsi pemukim melalui tekanan perekonomian pada masyarakat yang semakin berat dan menghasilkan alasan perpindahan penduduk dari desa ke kota. Perpindahan dari daerah yang kurang menguntungkan ke daerah yang memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik (Sukamdi 2004) hal ini yang dilakukan oleh pemukim di bantaran sungai karena Jakarta dipersepsikan sebagai pusat kegiatan ekonomi yang dapat menghasilkan pendapatan yang meningkatkan kesejahteraan bagi pemukim. Persepsi pemukim yang salah mengenai bantaran sungai telah berusaha untuk ditanggulangi oleh

pihak pemerintah dengan cara merelokasi pemukim melalui penggusuran setelah itu, menyediakan rumah susun. Hal tersebut menyebabkan pemukim tidak terpenuhi kebutuhan hidupnya, dengan kepindahan dari bantaran sungai. Dalam hal ini persepsi pemukim dipengaruhi oleh pemindahan secara paksa dan perilaku bermukim kembali (resettlement behavior). Hal ini dikemukakan oleh Bolay (2006) bahwa pemukiman kumuh bukan hanya sebagai kesalahan pengelolaan dalam perencanaan perkotaan akan tetapi sudah menjadi sebuah elemen yang tidak dapat dipisahkan lagi dalam pembangunan perkotaan. Pemukiman di bantaran sungai tidak dipandang mereka sebagai sebuah cara berbahaya untuk hidup sehingga para pemukim akan selalu kembali pada tempat yang memberikan memenuhi tujuan awal mereka.

Karakteristik pemukim selanjutnya mempengaruhi persepsi melalui aspek pengalaman pada pemukim. Jarak daerah asal pemukim, masa bermukim, perilaku bermukim kembali dan jumlah pemukim dalam satu rumah, mempengaruhi persepsi dengan cara mengaktifkan fungsi evaluasi pada aspek kognitif pemukim yang dimunculkan melalui analisa mereka pada pengalaman tentang bermukim di bantaran sungai. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya kemampuan pemukim untuk membandingkan tujuan mereka ketika bermukim di bantaran sungai, dengan kondisi awal mereka pada saat belum bermukim di bantaran sungai.

Hubungan Karakteristik Pemukim dengan Sikap Mereka Tentang Bermukim di Bantaran Sungai

Secara psikologis sikap merupakan pendirian atau kecenderungan yang relatif stabil dan berlangsung terus menerus untuk bertingkah laku atau untuk mereaksi dengan satu cara tertentu pada pribadi lain, objek, lembaga atau persoalan tertentu, secara positif maupun negatif. Sikap juga merupakan cara seseorang untuk mengadakan klasifikasi, kategorisasi (Chaplin 2006). Sedangkan menurut ahli sosiologi sikap memiliki arti yang lebih besar karena dapat menerangkan perubahan sosial dan kebudayaan, ditambahkan juga oleh Ahmadi (2007) bahwa sikap memiliki dinamika, yang diantaranya adalah ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain terdapat kesadaran mengenai perbuatan yang akan dilakukan berikut dengan dampaknya. Kesadaran ini yang menentukan perbuatan secara nyata dan kecenderungan pada perilaku.

Melalui kedua perbandingan tersebut sikap pemukim tentang bermukim di bantaran sungai dapat diartikan sebagai sebuah pendirian yang dilandasi dengan keyakinan dan ditunjukan pada kecenderungan mereka dalam berperilaku pada bantaran sungai. Sikap pemukim pada bantaran sungai dipengaruhi dengan adanya karakteristik pemukim. Salah satu dari karakteristik tersebut adalah umur. Umur seseorang memberikan pengaruh pada sikap melalui adanya kematangan secara psikis dan berdampak pada perkembangan dari sisi wawasan maupun intelektual, hal tersebut dapat dilihat melalui pengolahan informasi mengenai bermukim di bantaran sungai yang menghasilkan keyakinan dan harapan dapat meningkatkan taraf hidup pemukim (kognitif), sedangkan pada hal yang berbeda pemukim juga memiliki rasa ketidaksukaan maupun rasa suka, simpati dan antipati (afektif) pada bantaran sungai terkait dengan cara bermukim mereka yang dapat merugikan atau melestarikan bantaran sungai (konatif). Seluruh komponen sikap tersebut dipengaruhi dengan adanya komponen umur. Seperti yang diungkapkan oleh Zhang et al (2006) pada kasus perpindahan penduduk berikut dengan perilaku bermukim mereka, alasan yang menjadi perpindahan tersebut adalah umur. Ketiga komponen sikap tidak hanya dipengaruhi oleh satu karakteristik pemukim seperti umur. Karakteristik pemukim yang berikutnya adalah motivasi. Motivasi dihubungkan dengan dorongan untuk melakukan sesuatu berdasarkan kebutuhan. Kebutuhan pemukim seperti yang diungkapkan oleh Abrams (1966) adalah kebutuhan untuk bertahan hidup, dengan kondisi yang memaksa mereka seperti kehilangan aset pribadi dan pendapatan yang tidak lagi mencukupi. Menurut Maslow dalam Zainun (1989) manusia memiliki prioritas dari kebutuhan yang harus dipenuhi dan bersifat sistematis, dalam artian tahap kebutuhan tersebut akan berpindah pada tahap yang lain jika telah terpenuhi. Hal tersebut yang mempengaruhi sikap pemukim, dan dapat dilihat pada perencanaan lokasi bermukim mereka yang berorientasi pada kemampuan finansial mereka dan juga letak pemilihan bangunan yang didirikan berdasarkan keuntungan yang memudahkan mereka tanpa memikirkan dampak yang dihasilkan pada bantaran sungai.

Pendidikan formal menurut definisi Combs dan Ahmed (1985) merupakan sistem pendidikan yang sangat dilembagakan. Bertahap kronologis dan bertata tingkat, mulai dari sekolah dasar sampai pada tingkatan tertinggi pendidikan universitas. Berdasarkan definisi tersebut pendidikan formal dapat mempengaruhi sikap melalui tahap-tahap yang dibangun pada diri seseorang. Pembentukan nilai, penanaman budi pakerti, pemahaman pada suatu permasalahan diajarkan melalui tahap dalam pendidikan formal. Rata-rata tingkat pendidikan pemukim yang mendirikan bangunan di bantaran sungai berpendidikan rendah, dengan begitu dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan seseorang mempengaruhi keputusan seseorang untuk bermukim di bantaran sungai. Tidak hanya sikap yang dipengaruhi pendidikan formal, pekerjaan, pendapatan dan masa bermukim juga dipengaruhi oleh pendidikan pemukim. Hal tersebut dapat dilihat pada jenis profesi pemukim yang rata-rata berada di sektor informal dan memiliki pendapatan rendah. Pendapatan pemukim yang rendah mempengaruhi sikap pemukim sejak keputusannya untuk berpindah tempat dari desa ke kota. Hal ini diungkapkan oleh Sukamdi (2004) bahwa perpindahan penduduk dari daerah yang tidak menguntungkan ke daerah yang memiliki kondisi ekonomi yang baik merupakan sikap pemukim dalam bertahan hidup. Dengan kondisi tersebut dapat diketahui dua hal yaitu, pemukim hanya mampu membeli atau menyewa pemukiman di bantaran sungai. Dampak dari sikap pemukim tersebut dipengaruhi juga dengan penggusuran atau pemindahan secara paksa dari pemerintah. Hal tersebut karena pemukiman di bantaran sungai dipandang oleh pemerintah sebagai pengerusakan lingkungan, tapi bagi pemukim di bantaran rumah bagi mereka memiliki fungsi ekonomi, sosial dan spiritual. Hal tersebut diungkapkan oleh Bolay (2006) sehingga dapat berdampak pada sikap pemukim untuk tetap kembali bermukim di bantaran sungai.

Hubungan Karakteristik Pemukim dengan Perilaku Bermukim di Bantaran Sungai

Sebagai sebuah upaya untuk bertahan hidup di perkotaan perilaku bermukim memiliki komponen yang diantaranya, merencanakan pemukiman, mendirikan bangunan, menyewa hunian dan aktivitas pemukim di bantaran

sungai. Melalui definisi tersebut karakteristik pemukim memiliki pengaruh pada perilaku bermukim. Faktor umur pada perilaku bermukim dipengaruhi melalui, kedewasaan dan tanggung jawab yang harus di tanggung dirinya. Erikson dalam Boeree (2006) mengungkapkan bahwa seseorang pada umur tertentu memiliki tanggung jawab yang berbeda hal itu dapat dilakukan melalui berkelana atau menetap di tempat lain. Pendapat tersebut memiliki keterkaitan dengan motivasi pemukim untuk merencanakan bangunan dengan cara memilih lokasi atau mendirikan dan menghuni pemukiman di bantaran sungai yang mengakibatkan kerusakan pada bantaran sungai. Hal tersebut senada dengan yang dikatakan Zhang (2006) mengenai keputusan seseorang untuk berpindah tempat disebabkan keinginan dirinya untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Motivasi sendiri berdampak pada pemilihan pekerjaan yang secara langsung mempengaruhi pada tingkat pendapatan pemukim dan masa bermukim. Masa bermukim merupakan dampak keterbatasan pemukim untuk mengakses fasilitas pemukiman contoh yang diacu menurut World Resources Institute dalam (Sukamdi 2009) bahwa, terdapat hubungan negatif antara akses sanitasi dengan tingkat pendapatan pemukim. Hal tersebut menyebabkan pemukim di bantaran sungai tidak memiliki pilihan lain selain tetap bermukim di bantaran sungai. Walaupun pilihan bermukim di bantaran sungai memiliki resiko tersendiri, tapi keuntungan yang diberikan dengan bermukim di bantaran sungai tidak membuat pemukim takut, hal ini menyebabkan sulitnya proses pemindahan para pemukim dan tetap memunculkan perilaku bermukim kembali. Dengan begitu dapat diketahui bahwa perilaku bermukim dipengaruhi oleh karakteristik pemukim di bantaran sungai.

Hubungan Karakteristik Pemukim dengan, Persepsi, Sikap dan Perilaku Bermukim di Bantaran Sungai

Pengaruh karakteristik pada persepsi, sikap pemukim dapat diketahui melalui komponen persepsi maupun sikap itu sendiri. Ahmadi (2006) menjelaskan komponen di dalam sikap dipengaruhi oleh persepsi. (1) komponen kognitif yang berhubungan dengan kerja pikiran, hal ini diwujudkan dalam pengalaman pada seseorang yang berdampak pada munculnya keyakinan pada suatu objek yang diamati oleh individu. (2) komponen kognitif: berhubungan pada proses yang

menampakan perasaan pada suatu objek, hal tersebut diperlihatkan pada rasa suka, maupun tidak suka pada objek. (3) komponen konatif berhubungan pada kecenderungan bertindak pada suatu objek yang diamati. Ketiga komponen persepsi tersebut memiliki peranan penting. Pengaruh komponen kognitif persepsi pada sikap pemukim ditunjukan oleh para pendatang melalui pendapat bahwa bantaran sungai sebagai tempat bermukim dapat memberikan keuntungan. Persepsi berperan dalam hal ini sebagai pengelolaan pengetahuan di benak pemukim yang dirubah menjadi pemahaman yang dapat membawa pendatang menjadi pemukim di bantaran. Begitu juga dengan kondisi keterpaksaan yang menyebabkan pengaruh persepsi pada sikap terutama pada komponen afektif. Hal ini dilihat pada lahan yang ditempati dan bangunan yang didirikan maupun disewa, dipilih berdasarkan rasa suka maupun tidak suka yang telah disesuaikan dengan kondisi pemukim seperti kedekatan dengan tempat kerja atau mampu menunjang aktivitas ekonomi pemukim.

Setelah mengetahui banyaknya pemukim yang bertempat tinggal di bantaran maka pemahaman untuk bertempat tinggal di lokasi yang sama diaplikasikan oleh pemukim dengan cara mendirikan, menyewa dan beraktivitas di bantaran hal ini dicontohkan pada aspek konsumsi air minum dan perilaku membuang sampah. Pengalaman yang diketahui pemukim, sungai dapat menghanyutkan sampah yang dibuang dan konsumsi air sungai lebih baik dari pada mengkonsumsi air sumur. Pengalaman dalam hal ini merupakan elemen persepsi yang mengkordinir sikap pemukim pada bantaran sungai. Pengalaman pemukim bertempat tinggal di daerah asal juga turut mempengaruhi persepsi pada sikap secara keseluruhan.

Persepsi juga mempengaruhi perilaku bermukim atau komponen konatif. Hal ini dikatakan Susilo (2008) bahwa kerusakan lingkungan yang berasal dari perilaku manusia, terutama demi meningkatkan kualitas dan kenyamanan hidup. Hal ini bermula dari kerusakan daya dukung lingkungan pada bantaran sungai yang merupakan wilayah konservasi telah beralih fungsi menjadi lahan pemukiman, perilaku yang merusak dan berdasarkan faktor persepsi pada sikap pemukim dapat dirangkum sebagai berikut (1) Manusia memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi (2) Mampu beradaptasi dengan keadaan yang terbatas untuk

kemudian mendominasi dan (3) Bantaran dimarjinalkan secara fungsi karena mendahulukan kepentingan manusia

Melalui hal tersebut terlihat bahwa pengaruh persepsi pada sikap pemukim pada bantaran sungai adalah dapat mendatangkan keuntungan, persepsi sendiri dapat di kordinasikan menjadi persepsi yang selektif hal ini menurut Sears (1985) dapat dilakukan dengan cara memilih peristiwa yang diingat dan juga, prioritas pemahaman akan suatu objek. Mengenai hal tersebut dapat dilihat adanya kerusakan di bantaran sungai, sikap pemukim yang memilih untuk tetap bertahan karena keuntungan yang didapat dengan bertempat tinggal di bantaran sungai. Hal tersebut menyebabkan perilaku bermukim di bantaran sungai akan berlangsung selama persepsi pemukim pada bantaran sungai tidak dirubah.

Teori mengenai sikap menjelaskan bahwa terdapat beberapa komponen yang melatarbelakangi terbentuknya sikap. Definisi mengenai sikap dipaparkan oleh Triandis (1971) sebagai sebuah dugaan yang konsisten dari sebuah respon seseorang mengenai situasi sosial pada suatu objek. Melalui definisi tersebut penjelasan mengenai komponen pembentuk sikap dipaparkan sebagai berikut. (a) komponen kognitif yang dideskripsikan berdasarkan kategori subjektif individu berikut dengan hubungan antara kategori yang dimaksud, (b) komponen afektif di deskripsikan berdasarkan cara seseorang mengevaluasi objek yang termasuk di dalam kategori secara subjektif (c) komponen konatif direfleksikan melalui perilaku yang dikerjakan berkaitan dengan objek sosial yang dimaksud terkait dengan kategori subjektif yang diketahui. Komponen tersebut dapat dikaitkan pengaruhnya pada perilaku bermukim.

Pengaruh Komponen Kognitif Pada Perilaku Bermukim

Pemukim di bantaran sungai memiliki pengelompokan pengetahuan atau pengalaman pada bantaran sungai. pengelompokan tersebut untuk selanjutnya dapat dikatakan sebagai kategori. Informasi yang didapatkan oleh pemukim di bantaran sungai terkait dengan proses pengkategorian bantaran sungai sebagai objek sosial secara subjektif, informasi tersebut juga dapat berupa pengetahuan yang disampaikan melalui adanya kebudayaan dan bahasa yang dipahaminya. Lal

dalam (Subuki 2010) menjelaskan mengenai cara berkomunikasi manusia dan masyarakat melalui perspektif interaksionisme simbolik, berdasarkan bahasa yang dimengerti oleh individu. Komponen kognitif pemukim dalam hal ini memahami informasi yang disampaikan melalui informasi mengenai bantaran sungai. Adapun kategori yang dimaksud adalah: informasi mengenai bantaran sungai beserta penghubung pada informasi tersebut seperti, bertempat tinggal di Jakarta maka akan berhubungan pada kehidupan yang lebih baik dan pendapatan yang meningkat. Kemudian informasi mengenai bantaran sungai berada dalam kondisi optimal berhubungan dengan tempat pembuangan sampah pemukim dan air yang dapat dikonsumsi

Adanya pemahaman tersebut merupakan penyampaian informasi yang salah tetapi dipahami dengan baik oleh pemukim, dengan begitu proses pengkategorian pemukim pada bantaran hanya akan melingkupi elemen yang menyebutkan bahwa bermukim di Jakarta merupakan keuntungan tanpa kerugian tanpa memikirkan dampak buruk yang diakibatkan dari perilaku bermukim yang salah.

Pengaruh Komponen Afektif Pada Perilaku Bermukim

Komponen afektif merupakan komponen yang melibatkan unsur perasaan atau emosi dari individu pada kategori maupun atribut yang telah diketahui. Dengan begitu seseorang yang telah memiliki pemahaman dan pengetahuan mengenai suatu objek akan dengan sengaja mempertahankan pemahaman tersebut. Hal ini dapat dilihat dari sikap pemukim di bantaran sungai melalui adanya perilaku bermukim yang dengan sengaja dipertahankan melalui adanya perilaku bermukim kembali. Hal ini karena pengetahuan maupun pengalamannya memberikan respon yang positif pada pemahaman mengenai bantaran sungai, yang tidak memiliki dampak buruk akibat perilaku bermukimnya, walaupun dalam beberapa studi literatur komponen kognitif dan afektif tidak selalu sejalan dengan komponen perilaku.

Pengaruh Komponen Konatif Pada Perilaku Bermukim

Keterkaitan secara konsisten antara komponen kognitif, afektif dan perilaku ditunjukan pada bentuk akhir dari komponen sikap tersebut yaitu komponen perilaku. Komponen pada sikap menjadi terbagi menjadi tiga bagian, yang pertama pada bagian komponen ini tercampur dengan emosi, pada bagian yang berbeda tercampur dengan hal-hal normatif yang berarti terdapat elemen mengenai ide untuk melakukan perilaku yang tepat pada objek yang dimaksud (Triandis 1971). Hal tersebut dapat digunakan untuk memetakan pengaruh sikap pada perilaku pemukim pada bantaran sungai. Pada bagian pertama. Informasi yang didapatkan mengenai bertempat tinggal di bantaran sungai tidak dapat merusak bantaran sungai, hal tersebut disebabkan kondisi sungai yang tidak berbahaya dan banjir merupakan peristiwa tahunan yang biasa terjadi di Jakarta dan tidak ada hubungannya dengan perilaku mereka. Pada bagian kedua adalah: perilaku bermukim, seperti menempati bantaran sungai tanpa berniat untuk pindah, mendirikan bangunan, pemilihan lokasi bermukim yang berbahaya, perilaku MCK, perilaku membuang sampah, dan perilaku bermukim kembali.

Beberapa kasus pemukim yang melakukan pelestarian bantaran sungai, memperlihatkan sikap yang mereka tunjukan adalah: mereka mengerti bahwa bertempat tinggal di bantaran sungai membahayakan keselamatan dan banjir serta wabah penyakit merupakan akibat dari perilaku bermukim yang salah pada bantaran sungai. Hal tersebut kemudian ditunjukan dengan perilaku para pemukim yang melestarikan bantaran sungai seperti pindah dari bantaran sungai atau menanami sungai dengan pepohonan dan tidak lagi membuang sampah di sungai. Walaupun pada beberapa kasus yang berbeda di bantaran sungai sikap tidak sejalan dengan perilaku yang ditunjukan oleh para pemukim, seperti menyadari perilaku bermukim yang salah dapat mengakibatkan banjir tapi tidak merubah perilaku tersebut.

Kerangka Pikir

Adanya permasalahan kemiskinan dan ketidakmerataan pendapatan antara desa dan kota berdampak pada perpindahan penduduk secara massif. Kondisi dalam keterpakasaan tersebut membuat sebagian warga pendatang berusaha untuk bertahan hidup. Pola dalam bertahan hidup yang umum dilakukan adalah: mencari terlebih dahulu tempat tinggal. Kondisi perkotaan pada umumnya mensyaratkan warga yang memiliki kemampuan yang berbasis pada teknologi, hal tersebut tidak sesuai dengan karakteristik para pendatang pada umumnya. Minimnya pendapatan serta kemampuan untuk mencari nafkah membuat pendatang sulit untuk mencari

Dokumen terkait