BAB II PENELAAHAN PUSTAKA
C. Metabolit Sekunder pada Tanaman
Senyawa fenolik merupakan suatu senyawa yang setidaknya memiliki satu gugus aromatis yang terikat setidaknya satu gugus hidroksil, bebas, ataupun terikat dengan gugus yang lain. Beberapa fenol dapat dilihat secara kasat mata, atau dapat dilihat dibawah sinar UV ataupun dengan reaksi warna. Senyawa fenolik biasanya berada dalam ekstrak etanolik suatu tumbuhan (Bruneton, 1999). Cara klasik untuk mendeteksi senyawa fenol sederhana ialah dengan menambahkan larutan besi (III) klorida 1 % dalam air atau etanol kepada larutan cuplikan, yang menimbulkan warna hijau, merah, ungu, biru, atau hitam yang kuat (Harborne, 1984).
O H
Gambar 2. Struktur fenol
Secara umum, fenol larut dalam pelarut organik polar, larut di natrium hidroksida, dan larutan karbonat. Asam fenolat larut dengan bikarbonat dan dapat diekstraksi dengan pelarut organik dengan kondisi sedikit asam. Glikosida dari komponen fenolik, umumnya larut di air. Semua senyawa fenolik tidak stabil. Semua fenol dapat dengan segera teroksidasi khususnya pada kondisi basa (Bruneton, 1999). a.Flavonoid. Flavonoid hampir selalu larut dalam air. Flavonoid adalah senyawa yang bertanggung jawab pada pembentukkan warna pada tanaman. Flavonoid yang tidak berwarna berkontribusi pada warna tanaman sebagai kopigment: sebagai contoh kopigmen flavon dan flavonol yang tidak berwarna melindungi antosianin. Dalam beberapa kasus, molekul menyerap daerah spektrum dekat UV, yang berfungsi sebagai atraktan pada beberapa jenis serangga (Bruneton, 1999). .
O
O
Secara umum glikosida larut di air dan alkohol, hanya beberapa senyawa yang sukar larut dalam air (rutin dan hesperidin). Aglikonnya kebanyakan larut di pelarut nonpolar, ketika terdapat setidaknya satu gugus fenolik bebas, yang larut dalam larutan alkali hidroksida (Bruneton, 1999).
Flavonoid lipofil dari jaringan “superficial leaf” secara langsung terekstrasi dengan pelarut dengan polaritas medium (seperti diklormetan); kemudian harus dipisahkan dari lilin dan lemak yang diekstraksi secara berkelanjutan (dapat dicuci heksana) (Bruneton, 1999). .
Glikosida dapat terekstraksi, sering pada suhu tinggi dengan aseton atau alkohol (etanol, metanol) yang dicampur dengan air (20 – 50 %). Petroleum eter dengan ekstraksi cair-cair dapat menghilangkan klorofil dan lipid. Dietil eter akan mengekstrak aglikon bebas, dan etil asetat dapat melarutkan sebagian besar glikosida. Sakarida bebas tertinggal dalam fase air dengan glikosida yang sangat polar sedikit terikut didalamnya (Bruneton, 1999).
Ada beberapa reaksi warna untuk mengidentifikasi flavonoid dalam bentuk glikosida maupun aglikonnya.
i. Reaksi Cyanidin, dengan serbuk magnesium (untuk flavanon dan dihidroflavanol) atau dengan zink, dengan adanya asam hidroklorida.
ii. Dengan dilihat dibawah sinar UV sebelumnya dan disemprot dengan ammonium klorida dan setelah diuapi ammonia (perubahan warna maupun fluorosent yang terjadi menunjukan tipe flavonoid) (Bruneton, 1999).
Tabel I. Warna flavonoid dengan sinar tampak dan sinar ultraviolet (Harborne, 1984)
Warna Warna dengan UV Petunjuk
Sendiri Dengan amonia Jingga
Merah Merah muda
Jingga redup, merah
atau merah muda Biru
Antosianidin-3-glikosida Jingga Merah Merah muda Fluoresensi merah, kuning, atau merah jambu Biru Kebanyakan Antosianidin-3-glikosida Kuning redup
Coklat tua atau hitam
Coklat tua atau hitam
6-hidroksi flavonol dan flavon; beberapa khalkon glikosida Merah tua atau
jingga redup Kebanyakan kalkon Kuning redup atau
hijau kuning
Jingga redup atau
merah Auron
Kuning pucat Coklat tua Kuning redup atau coklat kuning Kebanyakan glikosida flavonol Kuning cerah-hijau, coklat tua Kebanyakan glikosida flavon, biflavonil. Tak berwarna Merah tua Coklat pudar
Kebanyakan isoflavon dan flavanonol Biru lemah Biru kuat
5-deoksiisoflavon dan 7,8-dihidrokdi flavanon
Merah tua Kuning pucat atau hijau kuning
Flavanon dan flavanonol 7-glikosida
b.Tanin. Tanin merupakan bahan polimer dari tumbuhan yang merupakan senyawa polifenol. Secara kimia terdapat 2 jenis tanin, yaitu tanin terkondensasi (seperti protosianidin) dan tanin yang terhidrolisiskan (seperti asam galat dan asam elagat). Penentuan struktur kimia tanin sukar dilakukan karena tingkat kerumitan yang cukup tinggi (Harborne, 1984).
Dalam pengujiannya, tanin direaksikan dengan FeCl3 dan larutan gelatin. Perubahan warna menjadi hijau kehitaman pada reaksi dengan FeCl3 menunjukkan adanya tanin terhidrolisa, jika menjadi hijau kecoklatan menunjukkan adanya tanin terkondensasi. Jika terbentuk endapan dengan larutan gelatin maka larutan uji positif mengandung tanin (Levita, Musfiroh, Mustarichie, 2011).
2. Alkaloid
Penemu alkaloid, W. Meisner memperkenalkan senyawa alam yang bereaksi seperti basa. Pada awalnya alkaloid didefinisikan sebagai senyawa yang mengandung nitrogen. Karena berasal dari alam dan distribusinya yang terbatas, alkaloid memiliki struktur yang kompleks (Bruneton, 1999).
Alkaloid memiliki range berat molekul dari 100 hingga 900. Dimana kebanyakan basa tidak mengandung atom oksigen dalam bentuk cair, sedangkan yang mengandung atom oksigen terdapat dalam bentuk kristal padat. Hampir semua kristal basa memiliki rotasi optis, dan memiliki titik leleh yang tajam, tanpa terdekomposisi, pada suhu dibawah 200°C. Secara umum alkaloid tidak larut atau sukar larut dalam air, larut dalam nonpolar atau hanya sedikit yang larut dalam pelarut organik polar, dan larut pada larutan asam hidroalkoholik encer (Bruneton, 1999).
Karakter umum alkaloid dalam tanaman berada dalam bentuk garam dengan asam mineral (hidroklorit, sulfat, nitrat) atau asam organik (tartrat, sulfamat, maleat). Garam alkaloid secara umum larut di air dan larutan alkohol, dan tidak larut dalam pelarut organik (Bruneton, 1999).
Metode deteksi yang paling umum digunakan adalah dengan reaksi pengendapan dengan menggunakan reagen umum untuk alakaloid. Reaksi pengendapan dengan membentuk kombinasi alkaloid dengan metal dan metalloid: bismuth, merkuri, tungsten, dan iodine. Dalam prakteknya, reagen yang biasa digunakan adalah larutan yang mengandung iodine dan iodide, atau larutan yang mengandung kalium iodide dan merkuri klorida (reagen Mayer), atau reagen yang mengandung bismuth nitrat dan kalium iodide (reagen Dragendorff). Untuk pereaksi semprot alkaloid pada KLT, digunakan reagen Dragendorff, larutan iodine-iodida, kalium iodoplatinat, cerium dan ammonium sulfat (Bruneton, 1999).
3. Terpenoid
Triterpenoid dan steroid terbentuk dari beberapa jumlah 5 atom karbon pada 2-metilbutadiena (unit isoprena). Terpenoid di alam terbagi menjadi beberapa golongan yaitu; monoterpen (minyak esensial, oleoresin, dan iridoid), monoterpen ireguler (pyrethrins), sesquiterpen (minyak esensial dan sesquiterpen lakton), diterpen, triterpen dan steroid (saponin, glikosida jantung, fitosterol, dan triterpen termodifikasi), karotenoid, serta poliisopren) (Bruneton, 1999).
Cara umum deteksi ialah dengan menyemprot dengan KMnO4 0,2 % dalam air, antimoni klorida dalam kloroform, H2SO4 pekat atau vanillin-H2SO4. Setelah disemprot, pelat dipanaskan pada 100-105°C sampai pembentukan warna sempurna (Harborne, 1984).
a.Triterpen dan steroid. Terdiri dari 30 atom karbon, yang berasal dari siklisasi epoksi-3S-2,3-epoksi-2,3-dihidro-squalena. Steroid, seperti fitosterol, saponin, ekdisteroid, glikosida jantung, dan steroidal alkamin memiliki kerangka struktur yang sama. Glikosida jantung dapat meningkatkan kontraksi jantung, likorisa sebagai pemanis rendah kalori, serta triterpen sebagai sitostatik, insektisida, antiinflamasi, analgesik, dan sebagainya (Bruneton, 1999).
Uji yang banyak digunakan adalah reaksi Liebermann-Burchard (anhidrida asetat-H2SO4 pekat) dengan kebanyakan triterpena dan sterol memberikan warna hijau biru. Pereaksi Liebermann-Burchard telah disesuaikan untuk KLT. Pelat disemprot dengan campuran H2SO4 pekat 1 mL, anhidrida asetat 20 mL, dan kloroform 50 mL lalu dipanaskan 85°-95°C selama 15 menit. Untuk mendeteksi steroid digunakan H2SO4 50 % lalu dipanaskan akan menghasilkan warna merah, dan dengan UV berfluoresensi hijau (Harborne, 1984).
b.Saponin. Saponin merupakan senyawa glikosida, yang memiliki karakteristik sebagai surfaktan. Secara structural, saponin dibagi menjadi 2, yaitu steroidal saponin dan triterpenoid saponin (Araliaceae, Caryophyllaceae, Cucurbitaceae, Fabales, Primulaceae, Ranunculaceae, Rosaceae, dan Sapindaceae) (Bruneton, 1999).
Saponin larut di air atau menggunakan alkohol ataupun larutan hidroalkoholik setelah partisi penghilangan lemak oleh petroleum eter. Pemisahan saponin dengan kromatografi (kromatografi kolom terbuka, HPLC, KLT, maupun
agen antiinflamasi, mengobati batuk, dermatologi, serta sebagai adaptogen (Bruneton, 1999). Uji saponin yang sederhana ialah dengan mengocok ekstrak dengan air. Bila terbentuk busa yang tahan lama pada permukaan cairan (Harborne, 1984).
c.Karotenoid. Merupakan tetraterpenoid dengan delapan unit isoprena, memiliki karakteristik kromofor yang menyebabkan warna kuning atau oranye yang sangat mudah teroksidasi, serta larut didalam lipid dalam tumbuhan. Banyak terdapat pada daun, bunga, akar (wortel), dan biji (jagung). Misalnya β-karoten yang merupakan pro-vitamin A. Karotenoid juga dapat melawan penyakit degeneratif, serta sebagai pewarna alami (Bruneton, 1999).
Spektrum karotenoid sangat khas antara 400-500 nm, dua puncak utama disekitar 450 nm dan biasanya ada dua puncak tambahan pada kedua sisi puncak utama (Harborne, 1984).