• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN

C. Penelitian yang Relevan

4. Metafora Sinaestetik

2. Penyajian data

Penyajian data merupakan pendeskripsian sekumpulan informasi tersususn yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan. Dari data-data yang telah dikelompokkan berdasarkan referennya, peneliti menganalisis data-data tersebut berdasarkan teori yang digunakan.

3. Penarikan kesimpulan

Pada tahapan ini, peneliti menyimpulkan hasil penelitian yang telah dilakukan. Kesimpulan umum dari hasil analisis sementara pada bahasa

terkait perubahan arti metaforis yang digunakan oleh Dewi Lestari dalam kumpulan cerpen Filosofi Kopi menunjukkan bahwa penggunaan metafora antropomorfis lebih dominan dari pada metafora yang lain. Hal ini ditunjukkan dari hasil temuan yang peneliti dapatkan sebanyak 19 buah. Selain metafora antropomorfis, pengarang juga banyak menggunakan metafora sinaestetik, yakni sebanyak 13 buah. Sedangkan metafora binatang dan metafora konkret ke abstrak berjumlah 9 dan 3 buah perubahan.

12 BAB II KAJIAN TEORI A.Cerpen

1. Sejarah Cerpen

Berbagai bentuk cerita telah lama dituturkan dalam bentuk tulis, tetapi prinsip-prinsip cerita pendek modern baru dikristalkan pada abad kesembilan belas menyusul kemunculan Edgar Allan Poe. Dia menetapkan batas panjangnya, yaitu bahwa cerita tersebut harus cukup panjang untuk dibaca selama kurang lebih satu setengah sampai dua jam. Dia juga menetapkan gaya (style) plotnya, dengan serangkaian peristiwa yang muncul menuju klimaks, dan suspen menjadi sentral. Penulis Amerika lain, O. Henry, menambahkan “surprise ending” sebagai ciri lain dari cerpen. Penulis-penulis terdahulu ini menekankan plot dan mengorbankan kecermatan penggarapan klimaks. Bentuk cerita yang konvensional ini-dramatis, bergerak cepat, dan menyukai akhir cerita yang mengejutkan-sejak dulu sangat popular di kalangan pembaca, bahkan hingga kini. Sekalipun demikian, jenis cerita yang lebih realistis, yang lebih berkonsentrasi pada karakter dan suasana, telah dikembangkan oleh aliran Rusia. Aliran ini membiarkan plot berkembang tanpa dipaksakan mengikuti pola konvensional. Tchkov adalah bapaknya aliran “slice of ice” ini.1

2. Pengertian Cerpen

Cerpen (cerita pendek sebagai genre fiksi) adalah rangkaian peristiwa yang terjalin menjadi satu yang di dalamnya terjadi konflik antartokoh atau dalam diri tokoh itu sendiri dalam latar dan alur.2 Edgar Alan Poe dalam Jassin mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita

1

Furqonul Aziez dan Abdul Hasim, Menganalisis Fiksi Sebuah Pengantar, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), cet. 1, h. 34.

2

Heru Kurniawan Sutardi, Penulisan Sastra Kreatif, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), cet. 1, h. 59.

yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam—suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk sebuah novel.3 Ellery Sedgwick dalam Notosusanto mengatakan, “cerita pendek adalah penyajian suatu keadaan tersendiri atau suatu kelompok keadaan yang memberikan kesan yang tunggal pada jiwa pembaca. Cerita pendek tidak boleh dipenuhi dengan hal-hal yang tidak perlu atau “a short-story must not be cluttered up with irrelevance” ”.4

Dapat disimpulkan bahwa cerpen adalah cerita bergenre fiksi yang di dalamnya memuat rangkaian peristiwa yang memunculkan konflik antar tokoh atau diri tokoh, dimana cerita tersebut memunculkan kesan bagi pembacanya dan habis terbaca dalam sekali duduk, yakni sekitar satu sampai dua jam.

Fiksi berasal dari kata “Fiction” yang dalam kamus Hornby berarti rekaan, khayalan, cabang sastra yang mencakupi cerita pendek (cerpen), novel, roman. Fiksi dalam bahasa Indonesia disebut “cerkan” (cerita rekaan). Cerkan adalah sebuah tulisan naratif yang timbul dari imajinasi pengarang dan tidak mementingkan segi fakta sejarah. H.G. Tarigan, mengemukakan, “fiksi adalah sesuatu yang dibuat, sesuatu yang dibentuk, sesuatu yang diciptakan, sesuatu yang diimajinasikan.”5

Sedangkan fiksi menurut Atar Semi, “cerita dalam prosa hasil olahan pengarang berdasarkan pandangan, tapisan, dan penilaiannya tentang peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi ataupun tentang pengolahan tentang peristiwa-peristiwa yang hanya berlangsung dalam khayalan.”6

Dapat kita ketahui bahwa cerpen termasuk cerita yang bergenre fiktif. Fiksi adalah karangan naratif yang bersifat rekaan ataupun imajinasi pengarang tentang peristiwa-peristiwa tertentu yang terjadi ataupun tidak dalam kehidupan nyata.

3

Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2010), cet. 8, h. 10.

4

Henry Guntur Tarigan, Prinsip-prinsip Dasar Sastra, (Bandung: Angkasa, 1984), h. 179.

5

Widjojoko dan Endang Hidayat, Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: UPI Press, 2006), cet. 1, h. 33.

6 Ibid.

3. Ciri-ciri Cerpen

Ciri-ciri cerita pendek menurut Widjojoko dan Endang Hidayat dalam buku berjudul Teori dan Sejarah Sastra Indonesia terdiri dari:

a. Penyampaian cerita secara singkat dan padat

b. Jalinan jiwa dan kejadian jiwa bulat dan padu, dan di dalamnya mengandung unsur pertikaian yang akhirnya mencapai klimak dan diakhiri dengan penyelesaian masalah

c. Tema cerita tentang nilai kemanusiaan, moral, dan etika

d. Membicarakan masalah tunggal dan dapat dibaca dalam waktu singkat e. Memusatkan perhatian pada tokoh protagonis

f. Unsur utama yang terdapat dalam cerpen adalah adegan, tokoh, dan gerak

g. Adanya kebulatan kisah (cerita)

h. Bahasa yang digunakan dalam cerpen tajam, sugestif dan menarik perhatian

i. Sebuah cerita pendek mengandung interpretasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan baik secara langsung maupun tidak langsung

j. Dalam cerita pendek terdapat satu kejadian atau persoalan yang menguasai jalan cerita7

4. Pembagian Cerpen

Dilihat dari perkembangannya cerita pendek dibagi dua, yaitu:

a. Cerita pendek sastra (cerita serius) yaitu cerpen yang mengandung nilai sastra (moral, etika dan estetika)

b. Cerita pendek hiburan (cerpen pop) yaitu cerita pendek yang umumnya untuk menghibur yang mengutamakan selera pembaca dan kurang memperhatikan unsur didaktis, moral, etika.

Henry Guntur Tarigan dalam bukunya berjudul Prinsip-prinsip Dasar Sastra, mengadakan pembagian atau klasifikasi terhadap cerita pendek dari berbagai sudut pandangan; yang umumnya yaitu:

a. Berdasarkan jumlah kata, dan b. Berdasarkan nilai

Berikut ini akan dibicarakan satu per satu secara ringkas.

7

Widjojoko dan Endang Hidayat, Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: UPI Press, 2006), cet. 1, h. 37.

a. Berdasarkan jumlah kata

Menurut Brooks dalam Tarigan, berdasarkan jumlah kata yang dikandung oleh cerita pendek, dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu:

1) Cerpen yang pendek (short short story) adalah cerita pendek yang jumlah kata-katanya pada umumnya di bawah 5.000 kata, maksimum 5.000 kata, atau kira-kira 16 halaman kuarto spasi rangkap, yang dapat dibaca dalam waktu kira-kira seperempat jam.

2) Cerpen yang panjang (long short story) adalah cerita pendek yang jumlah kata-katanya diantara 5000 sampai 10.000 kata; minimal 5.000 kata dan maksimal 10.000 kata, atau kira-kira 33 halaman kuarto spasi rangkap, yang dapat dibaca kira-kira setengah jam.8 b. Berdasarkan nilai sastra

Notosusanto dalam Tarigan mengklasifikasikan cerpen berdasarkan nilai sastra sebagai berikut:

1) Cerpen sastra 2) Cerpen hiburan

Memang sulit membuat batas yang tegas antara cerpen sastra dengan cerpen hiburan, karena cerpen sastra pun mungkin juga mengandung hiburan, dan cerpen hiburan bernilai sastra. Dari buku atau majalah yang memuat cerpen itu dapat kita ketahui termasuk ke dalam jenis mana suatu cerpen. Di Indonesia misalnya: Indonesia, Mimbar Indonesia, Zenith, Sastra, Cerita Pendek, Horison, Budaya Jaya, adalah cerpen sastra, dan yang dimuat dalam majalah Terang Bulan dan sejenisnya, adalah cerpen hiburan.9

8

Henry Guntur Tarigan, Prinsip-prinsip Dasar Sastra, (Bandung: Angkasa, 2011), h. 181-182.

9 Ibid.

5. Unsur Intrinsik Cerpen

Sebuah fiksi cerita pendek memiliki unsur-unsur intrinsik seperti: tokoh, latar, titik pandang/sudut pandang, gaya bahasa, alur dan tema.

a. Tokoh

Tokoh dalam cerita ini merujuk pada “orang” atau “individu” yang hadir sebagai pelaku dalam sebuah cerita, yaitu orang atau individu yang akan mengaktualisasikan ide-ide penulis. Lewat tokoh inilah penulis menyampaikan gagasan-gagasannya. Sudjiman menyatakan bahwa, “Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita.”10

Sedangkan menurut Aminuddin, “Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita, sedangkan cara sastrawan menampilkan tokoh disebut penokohan.”11

Dapat disimpulkan bahwa tokoh adalah orang ataupun pemeran yang mengemban suatu peristiwa dalam cerita. Jumlah tokoh cerita yang terlibat dalam novel dan cerpen terbatas, apalagi yang berstatus tokoh utama. Dibandingkan dengan novel, tokoh-tokoh cerita pendek lebih lagi terbatas, baik yang menyangkut jumlah maupun data-data jati diri tokoh, khususnya yang berkaitan dengan perwatakan.

Ditinjau dari perkembangan kepribadian tokoh, Aminuddin membagi tokoh atas tokoh dinamis dan tokoh statis. Tokoh dinamis adalah tokoh yang kepribadiannya mengalami perkembangan. Tokoh statis adalah tokoh yang tidak mengalami perkembangan kepribadian, atau bisa disebut kepribadiannya tetap dari awal sampai akhir cerita.

10

Melani Budianta, dkk; Membaca Sastra (Pengantar Memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi), (Magelang: Indonesia Tera, 2003), Cet. 2, h. 86.

11

b. Latar Cerita (Setting)

Menurut Stanton, “latar cerita adalah lingkungan, yaitu dunia cerita sebagai tempat terjadinya peristiwa.”12

Abrams mengemukakan, “latar cerita adalah tempat umum (general locale), waktu kesejarahan (historical time), dan kebiasaan masyarakat (social circumtances) dalam setiap episode atau bagian-bagian tempat.13 Setting/latar adalah lingkungan tempat peristiwa terjadi. Termasuk di dalam latar ini ialah tempat atau ruang yang dapat diamati termasuk di dalamnya adalah waktu.14 Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa latar adalah tempat terjadinya peristiwa dalam sebuah cerita. Latar yang ada, tidak hanya terpaut dengan tempat terjadinya peristiwa saja, tetapi lebih luas dari itu yakni waktu dan kebiasaan masyarakat setempat.

Latar dalam cerpen biasanya mempunyai dua tipe, pertama, latar yang diceritakan secara detail, ini biasanya terjadi jika cerpen fokus pada persoalan latar. Kedua, latar yang tidak menjadi fokus utama atau masalah, biasanya latar hanya disebut sebagai background saja sebagai tempat terjadinya peristiwa, tidak dideskripsikan secara detail.15

Pelukisan latar cerita untuk novel dan cerpen dilihat secara kuantitatif terdapat perbedaan yang menonjol. Cerpen tidak memerlukan detail-detail khusus tentang keadaan latar, misalnya yang menyangkut keadaan tempat dan sosial. Cerpen hanya memerlukan pelukisan secara garis besar saja, atau bahkan hanya secara implisit, asal telah mampu memberikan suasana tertentu yang dimaksudkan. Novel, sebaliknya, dapat saja melukiskan keadaan latar secara rinci

12

Heru Kurniawan Sutardi, Penulisan Sastra Kreatif, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), cet. 1,h. 66.

13

Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori Sastra, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), h. 149.

14

Widjojoko dan Endang Hidayat, Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: UPI Press, 2006), cet. 1, h. 47.

15

Heru Kurniawan dan Sutardi, Penulisan Sastra Kreatif, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), cet. 1, h. 55-67.

sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas, konkret, dan pasti.16

c. Titik Pandang/Sudut Pandang

Titik pandang/sudut pandang adalah tempat sastrawan memandang ceritanya. Dari tempat itulah sastrawan bercerita tentang tokoh, peristiwa, tempat, waktu dengan gayanya sendiri.17 Harry Shaw dalam Sudjiman menyatakan, “Titik pandang terdiri atas: (1) sudut pandang fisik, yaitu posisi dalam waktu dan ruang yang digunakan pengarang dalam pendekatan materi cerita, (2) sudut pandang mental, yaitu perasaan dan sikap pengarang terhadap masalah dalam cerita, dan (3) sudut pandang pribadi, yaitu hubungan yang dipilih pengarang dalam membawa cerita; sebagai orang pertama, kedua, atau ketiga.”18

Abrams menyatakan, “sudut pandang, point of view, menyaran pada sebuah cerita dikisahkan. Ia merupakan cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca”19

. Dari beberapa teori di atas, dapat disimpulkan bahwa titik pandang/sudut pandang adalah teknik sastrawan dalam mengemukakan ceritanya mencakup tokoh, perasaan atau sikap pengarang, peristiwa, tempat, waktu yang dipaparkan berdasarkan karakter ataupun gaya berceritanya.

Sudut pandang/pusat pengisahan menerangkan “siapa yang bercerita”. Pusat pengisahan ini penting untuk memperoleh gambaran tentang kesatuan cerita. Dalam kesusastraan Indonesia menurut Widjojoko dan Endang Hidayat memaparkan bahwa ada lima macam “pencerita”, yaitu:

a) Tokoh utama menceritakan ceritanya sendiri;

16

Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2010), cet. 8, h. 13.

17

Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori sastra, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), h. 151.

18

Ibid., h. 152.

19

Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2010), cet. 8, h. 248.

b) Tokoh bawahan menuturkan cerita tokoh utama;

c) Pengarang pengamat, yang menuturkan cerita dari luar sebagai seorang observer;

d) Pengarang analitik, yang menuturkan cerita tidak hanya sebagai seorang pengamat, tetapi berusaha juga menyelam kedalamnya; e) Campuran antara poin (a) dan (d) yaitu, cara melaksanakan cakapan

batin.20

d. Gaya Bahasa

Aminuddin menyatakan, “Gaya adalah cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca.”21

Disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah pemilihan bahasa yang digunakan oleh pengarang dalam menciptakan karya sastra, sehingga mampu mengantarkan suasana yang mampu menyentuh emosi dan daya pikir pembaca.

Aminuddin memaparkan, “Dari segi katanya, karya sastra menggunakan pilihan kata yang mengandung makna padat, reflektif, asosiatif, dan bersifat konotatif, sedangkan kalimat-kalimatnya menunjukan adanya variasi dan harmoni sehingga mampu menuansakan keindahan dan bukan nuansa makna tertentu saja. Alat gaya melibatkan masalah kiasan dan majas: majas kata, majas kalimat, majas pikiran, majas bunyi”.22 Berhasil atau tidaknya seorang pengarang fiksi, tergantung dari kecakapannya mempergunakan gaya yang serasi dalam karyanya. Seperti juga tidak ada dua orang yang sama betul, maka dalam penggunaan gaya atau majas pun tidak terdapat dua pengarang yang sama. Penggunaan majas ini sedikit banyak tergantung pada usia, pendidikan, pengalaman, temperamen, keterampilan, serta kecakapan pelaku yang secara tidak langsung menuturkan cerita itu.

20

Widjojoko dan Endang Hidayat, Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: UPI Press, 2006), cet. 1, h. 47.

21

Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori sastra, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), h. 158-159.

22

e. Alur

Stanton mengungkapkan, “Alur adalah keseluruhan sekuen (bagian) peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam cerita, yaitu rangkaian peristiwa yang terbentuk karena proses sebab akibat (kausal) dari peristiwa-peristiwa lainnya.”23

Abrams menyatakan, “Alur (Plot), rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin sebuah cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita.”24

Sudjiman mengartikan, “Alur sebagai jalinan peritiwa di dalam karya sastra untuk mencapai efek tertentu, jalinannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab akibat).”25

Dari beberapa teori di atas, dapat disimpulkan bahwa alur (plot) adalah jalinan peristiwa yang terdapat dalam cerita, yang terdiri dari beberapa tahapan cerita yang satu sama lain saling berkaitan sehingga menjalin satu kesatuan cerita utuh yang dihadirkan oleh tokoh yang terdapat di dalamnya.

Alur atau plot cerpen umumnya tunggal, hanya terdiri dari satu urutan peristiwa yang diikuti sampai cerita berakhir (bukan selesai, sebab banyak cerpen, juga novel, yang tidak berisi penyelesaian yang jelas, penyelesaian diserahkan kepada interpretasi pembaca). Urutan peristiwa dapat dimulai dari mana saja, misalnya dari konflik yang telah meningkat, tidak harus bermula dari tahap perkenalan tokoh dan latar, biasanya tak berkepanjangan. Berhubung berplot tunggal, konflik yang dibangun dan klimaks yang akan diperoleh pun, biasanya, bersifat tunggal pula.26

Aminuddin membedakan tahapan-tahapan peristiwa atas pengenalan, konflik, komplikasi, klimaks, peleraian, dan penyelesaian. a) Pengenalan adalah tahap peristiwa dalam suatu cerita rekaan atau

drama yang memperkenalkan tokoh-tokoh atau latar cerita. Yang

23

Heru Kurniawan Sutardi, Penulisan Sastra Kreatif, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), h. 69.

24

Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori sastra, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), h. 159.

25 Ibid.

26

Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2010), cet. 8, h. 12.

dikenalkan dari tokoh ini, misalnya nama, asal, ciri fisik, dan sifatnya.

b) Konflik atau tikaian adalah ketegangan atau pertentangan antara dua kepentingan atau kekuatan di dalam cerita rekaan atau drama. Pertentangan ini dapat terjadi dalam diri satu tokoh, antara dua tokoh, antara tokoh dan masyarakat atau lingkungannya, antara tokoh dan alam, serta antara tokoh dan Tuhan. Ada konflik lahir dan konflik batin.

c) Komplikasi atau rumitan adalah bagian tengah alur cerita rekaan atau drama yang mengembangkan tikaian. Dalam tahap ini, konflik yang terjadi semakin tajam karena berbagai sebab dan berbagai kepentingan yang berbeda dari setiap tokoh.

d) Klimaks adalah bagian alur cerita rekaan atau drama yang melukiskan puncak ketegangan, terutama dipandang dari segi tanggapan emosional pembaca. Klimaks merupakan puncak rumitan, yang diikuti oleh krisis atau titik balik.

e) Krisis adalah bagian alur yang mengawali penyelesaian. Saat dalam alur yang ditandai oleh perubahan alur cerita menuju selesainya cerita. Karena setiap klimaks diikuti krisis, keduanya sering disamakan.

f) Leraian adalah bagian struktur alur sesudah tercapai klimaks. Pada tahap ini peristiwa-peristiwa yang terjadi menunjukkan perkembangan lakuan kearah selesaian.

g) Selesaian adalah tahap akhir suatu cerita rekaan atau drama. Dalam tahap ini semua masalah dapat diuraikan, kesalahpahaman dapat dijelaskan, rahasia dibuka. Ada dua macam selesaian: tertutup dan terbuka. Selesaian tertutup adalah bentuk penyelesaian cerita yang diberikan oleh sastrawan. Selesaian terbuka adalah bentuk penyelesaian cerita yang diserahkan kepada pembaca.27

f. Tema

Brooks dan Warren mengatakan bahwa, “tema adalah dasar atau makna suatu cerita.” Sementara Brooks, Purser, dan Warren dalam buku lain mengatakan bahwa, “tema adalah pandangan hidup tertentu atau perasaan tertentu mengenai kehidupan atau rangkaian nilai-nilai tertentu yang membentuk atau membangun dasar atau gagasan utama dari suatu karya sastra”28

Aminuddin memaparkan bahwa, “tema adalah ide yang mendasari suatu cerita. Tema berperan sebagai pangkal otak

27

Siswanto, op. cit., h. 159 – 160.

28

pengarang dalam memaparkan karya rekaan yang diciptakannya. Tema merupakan kaitan hubungan antara makna dengan tujuan pemaparan prosa rekaan oleh pengarangnya.”29

Dari beberapa teori di atas, dapat disimpulkan bahwa tema adalah gagasan dasar suatu cerita yang dipaparkan pengarang dalam karya sastra. Tema biasanya berupa pandangan hidup, perasaan, maupun nilai-nilai terkait kehidupan pengarang.

Tema dapat digolongkan dalam beberapa kategori yang berbeda-beda tergantung dari segi mana penggolongan tersebut dilakukan. Penggolongan tema yang akan dikemukakan berikut dilakukan berdasarkan dua sudut pandang, yaitu penggolongan dikhotomis yang bersifat tradisional dan nontradisional dan penggolongan dilihat dari tingkat pengalaman jiwa Shipley.30

Pertama, tema tradisional dan nontradisional.

Menurut Meredith dan Fitzgerald, “Tema tradisional dimaksudkan sebagai tema yang menunjuk pada tema yang hanya “itu-itu” saja, dalam arti ia telah lama dipergunakan dan dapat ditemukan dalam berbagai cerita, termasuk cerita lama. Pernyataan-pernyataan tema yang dapat dipandang sebagai bersifat tradisional itu, misalnya, berbunyi: (i) kebenaran dan keadilan mengalahkan kejahatan, (ii) setelah menderita, orang baru teringat Tuhan, (iii) atau seperti (pepatah-pantun) berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian. Tema-tema tradisonal, walau banyak variasinya, boleh dikatan, selalu ada kaitannya dengan masalah kebenaran dan kejahatan”31

Selain hal-hal yang bersifat tradisional, tema sebuah karya mungkin saja mengangkat sesuatu yang tidak lazim, katakan sesuatu yang bersifat nontradisional. Karena sifatnya yang nontradisional, tema yang demikian, mungkin tidak sesuai dengan harapan pembaca, bersifat

29

Siswanto, op. cit., h. 161.

30

Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, Cet. 8, 2010), h. 77.

31 Ibid.

melawan arus, mengejutkan, bahkan boleh jadi mengesalkan, mengecewakan, atau berbagai reaksi afektif yang lain.32

Kedua, tingkatan tema menurut Shipley.

Shipley dalam dictionary of world literature mengartikan tema sebagai wacana, topik umum, atau masalah utama yang dituangkan ke dalam cerita. Shipley membedakan tema-tema karya sastra ke dalam tingkatan-tingkatan—semuanya ada lima tingkatan—berdasarkan tingkatan pengalaman jiwa, yang disusun dari tingkatan yang paling sederhana, tingkat tumbuhan dan makhluk hidup, ketingkat yang paling tinggi yang hanya dapat dicapai oleh manusia. Kelima tingkatan tema yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a) tema tingkat fisik, manusia sebagai (atau: dalam tingkat kejiwaan) molukel, man as molecul. Tema karya sastra pada tingkat ini lebih banyak menyaran dan atau ditunjukkan oleh banyaknya aktivitas fisik daripada kejiwaan. Ia lebih menekankan mobilitas fisik daripada konflik kejiwaan tokoh cerita yang bersangkutan.33 b) tema tingkat organik, manusia sebagai (atau: dalam tingkat

kejiwaan) protoplasma, man as protoplasm. Tema karya sastra tingkat ini lebih banyak menyangkut dan atau mempersoalkan masalah seksualitas—suatu aktivitas yang hanya dapat dilakukan oleh makhluk hidup. Berbagai persoalan kehidupan seksual manusia mendapat penekanan, khususnya kehidupan seksual yang bersifat menyimpang, misalnya berupa penyelewengan dan pengkhianatan suami-istri, atau skandal-skandal seksual yang lain.34

c) tema tingkat sosial, manusia sebagai makhluk sosial, man as socious. Kehidupan bermasyarakat, yang merupakan tempat aksi-interaksinya manusia dengan sesama dan dengan lingkungan

32 Ibid.

33

Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, Cet. 8, 2010), h. 80.

34 Ibid.

alam, mengandung banyak permasalahan, konflik dan lain-lain yang menjadi objek pencarian tema. Masalah-masalah sosial itu antara lain berupa masalah ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan, perjuangan, cinta kasih, propaganda, hubungan atasan-bawahan dan berbagai masalah hubungan sosial lainnya.35 d) tema tingkat egoik, manusia sebagai individu, man as

individualism. Disamping sebagai makhluk sosial, manusia sekaligus juga sebagai makhluk individu yang senantiasa “menuntut” pengakuan atas hak individualitasnya. Dalam kedudukannya sebagai makhluk individu, manusia pun mempunyai banyak permasalahan dan konflik, misalnya yang berwujud reaksi manusia terhadap masalah-masalah sosial yang dihadapinya. Masalah individualitas itu antara lain berupa masalah egoisitas, martabat, harga diri, atau sifat dan sikap tertentu manusia lainnya, yang pada umumnya lebih bersifat batin dan dirasakan oleh yang bersangkutan.36

Dokumen terkait