BAB III. METODE PENELITIAN
3.5. Metoda Analisis Data
3.5.1. Analisis Rantai Pasok Sawit
Kondisi umum dan model rantai pasok dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif, melalui berbagai literatur, pendapat pakar dan nara sumber. Output dari analisis ini adalah gambaran umum kondisi obyektif rantai pasok sawit. Dalam mengidentifikasi performa rantai pasok komoditas dan produk berbasis sawit perusahaan menggunakan metode deskriptif menggunakan pengembangan rantai pasokan komoditas dan komoditi erbasis kelapa sawit yang dicanangkan oleh Asian
Productivity Organization (APO), Jepang. Metode Pengembangan tersebut
mengikuti kerangka proses yang telah dimodifikasi oleh Van der Vorst, 2005 (Gambar 9).
a. Struktur Rantai (Network Structure)
i. Anggota Rantai dan Aliran Komoditas
Dijelaskan mengenai anggota atau pihak-pihak yang terlibat didalam rantai pasokan dan peranannya. Aliran komoditas terkait dengan mutu mulai dari hulu sampai hilir serta penyebarannya ke berbagai lokasi dijelaskan dan dikaitkan dengan keberadaan anggota rantai pasokan, serta bentuk kerjasama yang terjadi diantara berbagai pihak.
Gambar 9. Kerangka analisis manajemen rantai pasokan (Van der Vorst, 2005)
ii. Entitas Rantai Pasokan
Entitas rantai pasokan dijelaskan sebagai elemen-elemen didalam rantai pasokan yang mampu menstimulasi terjadinya berbagai proses bisnis. Elemen-elemen tersebut meliputi produk, pasar, stakeholderrantai pasokan dan situasi persaingan.
iii. Mitra – Petani
Dijelaskan mengenai hubungan kerjasama pada petani. Profil petani seperti kesepakatan mutu dalam kegiatan perawatan lahan pertanian, produktivitas pertanian, kegiatan pertanian, kegiatan pasca panen, juga disertakan dengan lengkap. Kegiatan pasca panen yang melibatkan petani dijelaskan dalam formulir seperti pada Tabel 9.
b. Sasaran Rantai (Chain Objectives)
i. Sasaran Pasar
Dijelaskan mengenai bagaimana model suatu rantai pasokan berlangsung terhadap produk yang dipasarkan. Tujuan pasar dideskripsikan dengan jelas, serta siapa pelanggannya, apa yang diinginkan dan yang dibutuhkan dari produk terkait dengan mutu.
Tujuan rantai Manajemen Mutu Rantai Proses Bisnis Rantai Performa rantai Struktur jaringan Siapa saja anggota rantai
dan apa peranannya Bagaimana konfigurasi
peraturannya
Siapa pelaku bisnis, dan proses apa dalam SCM? Bagaimana integrasi
dari setiap proses
Sumber daya
Manajemen struktur apa yang digunakan
Bagaimana ikatan kontraktualnya Peran pemerintah?
Sumber daya apa saja yang digunakan (ICT, SDM, Teknologi)
ii. Sasaran Pengembangan
Dijelaskan sbagai target atau objek dalam rantai pasokan yang hendak dikembangkan oleh beberapa pihak yang terlibat didalamnya.
iii. Pengembangan Kemitraan
Dijelaskan mengenai upaya yang dilakukan oleh anggota rantai pasokan untuk mengembangkan hubungan kerjasama kemitraan.
Tabel 9. Formulir kegiatan pasca panen mitra petani - perusahaan
Tanda √ jika dilakukan
pemeriksaan mutu
Dilakukan oleh Keterangan
Petani Koperasi Perusahaan
Pemanenan ... ... ... Transportasi ke industri pengolah ... ... ... Penerimaan dan Sortasi ... ... ... c. Manajemen Rantai i. Struktur Manajemen
Dijelaskan konfigurasi hubungan didalam rantai pasokan. Tujuannya adalah mengetahui pihak yang bertindak sebagai pengatur dan pelaku utama didalam rantai pasokan. Pihak yang menjadi pelaku utama adalah yang melakukan sebagian besar aktivitas didalam rantai pasokan.
Tabel 10. Formulir kegiatan proses didalam rantai pasok
Kriteria Kegiatan proses dan Pengendalian
Pemanenan ...
Transportasi ke industri
pengolah ...
Penerimaan dan Sortasi ... Pengolahan Kelapa
Sawit ...
ii. Pemilihan Mitra
Dijelaskan mengenai bagaimana proses kemitraan terjalin dan kriteria-kriteria yang digunakan dalam pemilihan mitra kerjasama melalui implementasi di lapangan.
iii. Kesepakatan Kontraktual
Dijelaskan mengenai bentuk kesepakatan kontraktual dalam menjalin kerjasama, yang menjadi faktor penentu adalah kinerja mitra dan mutu komoditas atau produk. Seluruh kegiatan kontraktual dievaluasi setiap akhir tahun untuk dipertimbangkan apakah kerjasama akan diteruskan atau dihentikan.
d. Sumber Daya Rantai
Melakukan penilaian potensi sumber daya yang dimiliki oleh anggota rantai pasokan untuk mengetahui potensi-potensi yang dapat mendukung upaya pengembangan rantai pasokan. Aspek pembahasan meliputi sumber daya fisik, teknologi, dan sumberdaya manusia.
3.5.2. Desain Model Peningkatan Mutu.
Tahap berikut adalah melakukan desain model peningkatan mutu komoditas dan produk berbasis sawit. Pendekatan yang dilakukan yaitu menggunakan metode QFD. Interpretasi dari QFD adalah House of Quality (HOQ). Langkah-langkah dalam membangun HOQ adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasikan semua kebutuhan dan keinginan pelanggan terhadap produk dan selanjutnya disebut sebagai karakteristik pelanggan/konsumen (WHATs). Kelompokkan karakteristik pelanggan yang diperoleh ke dalam kelompok primer, sekunder dan bila perlu tersier. Seluruh data diuraikan dan dicatat pada bagian kiri rumah mutu (HOQ), seperti terlihat pada Gambar 10.
Primery Secondary Mutu Tandan Buah Sawit
Mutu CPO
Mutu Minyak goreng
Gambar 10. Bentuk hierarki kebutuhan pelanggan (WHATs)
2. Mengidentifikasikan tingkat kepentingan pelanggan untuk masing-masing karakteristik pelanggan. Nilai-nilai kepentingan dimasukkan ke dalam kolom tingkat kepentingan (importance) pada rumah mutu (HOQ), seperti terlihat pada Gambar 11. Penilaian diberikan dengan angka 1 = kurang penting; 2 = agak penting; 3 = cukup penting; 4 = penting; 5 = sangat penting.
Primery Secondary Importance
Mutu Kelapa Sawit
Mutu CPO
Mutu Minyak goreng
Gambar 11. Bentuk hierarki kepentingan pelanggan
3. Menterjemahkan seluruh karakteristik pelanggan kedalam karakteristik desain/proses dengan menunjukkan perusahaan melakukan tahapan
proses untuk memenuhi permintaan pelanggan terhadap produk/jasanya, seperti terlihat pada Gambar 12.
PEMANENAN PENGOLAHAN MINYAK SAWIT PENGOLAHAN
MINYAK GORENG
Teknik Pemanenan Penyimpanan TBS Pengangkutan TBS ...
...
Penimbangan dan Sortasi TBS Pembongkaran TBS Perebusan Pelumatan Pengepresan Penyaringan Penyimpanan Sementara Pendistribusian CPO Penerimaan CPO ……… ……… ……… ………
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
Gambar 12. Karakteristik proses (HOWs)
4. Menetukan hubungan yang terjadi antara masing-masing karakteristik pelanggan (WHATs) dengan karakteristik proses (HOWs). Hubungan yang terjalin terbagi atas 3 (tiga) yaitu hubungan kuat (10), sedang (5) dan lemah (1). Hubungan tersebut digambarkan pada bagian tengah rumah mutu (HOQ), seperti terlihat pada Gambar 13.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Secondary Importance Mutu Kelapa Sawit Mutu CPO Minya goreng
5. Menetukan hubungan antar karakteristik Proses (HOWs dengan HOWs), seperti terlihat pada Gambar 14, dilakukan dengan membagi menjadi 4 tipe hubungan, yaitu :
3. Hubungan sangat positif (Strong Positive Correlation)
Korelasi yang terjadi jika perubahan suatu karakteristik teknis akan berpengaruh sangat positif terhadap karakteristik teknis lainnya. 4. Hubungan positif (Strong Correlation)
Korelasi yang terjadi jika perubahan suatu karakteristik teknis akan berpengaruh positif terhadap karakteristik lainnya.
5. Hubungan negatif (Negative Correlation)
Korelasi yang terjadi jika perubahan suatu karakteristik teknis akan berpengaruh negatif terhadap karakteristik lainnya.
6. Hubungan sangat negatif (Strong Negative Correlation)
Korelasi yang terjadi jika perubahan suatu karakteristik teknis akan berpengaruh sangat negatif terhadap karakteristik lainnya.
PEMANENAN PENGOLAHAN MINYAK SAWIT PENGOLAHAN
MINYAK GORENG
Teknik Pemanenan Penyimpanan TBS Pengangkutan TBS ...
....
Penimbangan dan Sortasi TBS Pembongkaran TBS Perebusan Pelumatan Pengepresan Penyaringan Penyimpanan Sementara Pendistribusian CPO Penerimaan CPO ……… ……… ……… ………
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
Kondisi umum dan model rantai pasok dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif, melalui berbagai literatur, pendapat pakar dan nara sumber. Output dari analisis ini adalah gambaran umum kondisi obyektif rantai pasok sawit khususnya di PT ASL – Jambi. Output yang diharapkan yaitu identifikasi dan karakteristik struktur mutu rantai pasok produk dan komoditas berbasis sawit.
3.5.3. Identifikasi Faktor-Faktor Dominan Berpengaruh Terhadap Mutu Rantai Pasok Komoditas dan Komoditi Berbasis Kelapa Sawit
Identifikasi terhadap faktor-faktor dominan yang berpengaruh terhadap mutu dan rantai pasok komoditas dan produk berbasis sawit dengan metode Fishbone. Identifikasi dilakukan dengan melakukan survey kepada kepala kebun, kepala pabrik pengolah kelapa sawit dan kepala produksi pabrik refinery terkait dengan faktor mutu komoditas dan produk sawit.
3.5.4. Perencanaan Mutu dan Strategi Peningkatan Mutu Sawit
Selanjutnya merencanakan mutu dan strategi peningkatan mutu sepanjang rantai pasok komoditas dan produk berbasis sawit menggunakan pendekatan penerapan sistem manajemen keamanan pangan (HACCP) Perencanaan dilakukan dengan menganalisis titik kritis yang dikendalikan pada setiap rantai, diawali dengan kebun sawit, pabrik pengolah kelapa sawit dan pabrik pengolah CPO (refinery). Dari setiap titik kritis dievaluasi untuk peningkatan mutu sepanjang rantai.