BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.2 Metoda Penentuan Variabel
Variabel diperoleh melalui interpretasi tinjauan pustaka yang berlandaskan rumusan masalah. Fungsi variabel akan digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian dan menjadi basis dalam metoda pengumpulan data dapat dilihat pada tabel 3.1
Tabel 3.1 Metode Penentuan Variabel
Masalah Penelitian Landasan Teori Variabel Faktor-faktor yang suatu proses panjang secara terus-menerus pada suatu tempat fungsional dengan didasari oleh pola aktivitas manusia baik yang disebabkan pengaruh keadaan fisik dan non fisik (Rapoport, 2016).
Keadaan fisik dan non fisik mempengaruhi pola aktivitas manusia
Bentuk permukiman yang telah berkembang akan membentuk didasarkan oleh beberapa aspek seperti tingkat keamanan, saling membutuhkan, hubungan antar kelompok, politik, agama, ideologi, budaya dan bentuk
fisik alam (Abdullah, 2000).
Aspek keamanan, saling membutuhkan, komunitas, agama, ideologi, budaya dan bentuk fisik alam
membentuk pola
permukiman.
Menurut Suprijanto (2002), awalnya pengembangan permukiman di tepi air bermula dari keberadaan sekelompok etnis yang menetap di tepi air dan berkembang secara alami
dari generasi ke generasi.
Perkembangan
permukiman di tepi air melalui generasi sekelompok etnis.
Menurut Foruzanmehr dan Vellinga (2011), budaya
Nilai sejarah dalam membentuk budaya
Masalah Penelitian Landasan Teori Variabel bermukim merupakan salah satu
kehidupan pada suatu kawasan yang menghasilkan nilai-nilai bersejarah sebagai bentuk fisik dari kegiatan yang telah
dilakukan.
bermukim.
Menurut Utomo (2000), keberadaan permukiman tradisional yang terdiri dari bangunan arsitektur tradisional juga dipengaruhi oleh hubungan kekeluargaan dalam kemasyarakatan, seperti hubungan pertalian darah, dan bangunan tradisional yang dipengaruhi oleh iklim.
Bangunan arsitektur tradisional dipengaruhi permukiman yang tumbuh secara kebetulan dan dihasilkan tanpa peran perencana dan atau seorang perancang, tetapi melalui ruang waktu yang dilewati oleh tata letak tanah dan kehidupan sehari-hari Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2016, kawasan sarana dan prasarana dalam perencanaan permukiman.
Masalah Penelitian Landasan Teori Variabel (1) Peningkatan sumber daya
perkotaan atau perdesaan; (2) Tanggap terhadap bencana; (3) Menyediakan sarana dan
prasarana serta utilitas umum.
Peraturan Menteri Pekerjaan Karakteristik lokasi dalam Umum Nomor 41/PRT/M/2007, merancang permukiman kawasan perencanaan yang aman dan nyaman.
permukiman perlu
memperhatikan karakteristik lokasi dan kesesuaian lahan: (1) Topografi datar sampai bergelombang (kelerengan lahan 0 - 25%); (2) Tersedia sumber air, baik air tanah maupun air yang diolah oleh penyelenggara seperti PDAM yang dapat menyuplai air antara 60 liter/org/hari - 100 liter/org/hari;
(3) Tidak terletak pada daerah rawan bencana (longsor, banjir, erosi, abrasi); (4) Drainase yang baik sampai sedang; (5) Tidak bertempat pada sempadan sungai/pantai/waduk/danau/mata air/saluran pengairan/rel kereta api dan daerah aman penerbangan; (6) Tidak berada pada kawasan lindung; (7) Tidak berkawasan budi daya pertanian/penyangga; (8)
Masalah Penelitian Landasan Teori Variabel Menghindari daerah irigasi
sawah.
Menurut Keputusan presiden RI Nomor 32 tahun 1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, garis sempadan pantai minimum 100m diukur dari titik pasang tertinggi ke arah darat.
Jarak garis sempadan tepi air dari titik pasang tertinggi ke arah darat.
Menurut Ditjen Cipta Karya (2000): (1) Garis sempadan tepi air landai dengan kemiringan 0°-15° minimum 20 meter diukur dari titik pasang tertinggi ke arah darat; (2) Garis sempadan tepi air curam dengan kemiringan 15°-40° minimum 35 meter diukur dari titik pasang tertinggi ke arah darat; (3) Garis sempadan tepi air curam dengan kemiringan di atas 40° minimum 100 meter diukur dari titik pasang tertinggi ke arah darat.
Keterkaitan kemiringan tanah di sempadan tepi air terhadap jarak garis sempadan.
Diukur dari segi akses penataan permukiman tepi air, menurut Ditjen Cipta Karya (2000) akses harus memperhatikan: (1) Akses jalur kendaraan harus terletak di batas terluar dari sempadan tepi air dengan area bangunan; (2)
Penataan permukiman tepi air berupa akses pada permukiman di tepi air.
Masalah Penelitian Landasan Teori Variabel Jarak antara akses masuk menuju
tepi air dari jalan raya sekunder atau tersier minimum
300 meter; (3) Jaringan jalan tidak boleh digunakan untuk parkir kendaraan roda empat; (4) Lebar minimum pedestrian di sepanjang tepi air adalah 3 meter.
Penerapan regulasi Penataan dalam hal peruntukan Pemanfaatan dan pembangunan atau tata guna lahan menurut pembagian tata guna lahan permukiman pada Ditjen Cipta Karya (2000) pada permukiman di tepi area tepi air di sebagai berikut: (1) Penggunaan air.
Pangururan lahan sebagai bangunan Kabupaten Samosir diutamakan atas penggunaan lahan yang bergantung dengan air (water-dependent uses), penggunaan lahan yang bergantung dengan adanya air (water-related uses) dan penggunaan lahan tanpa berhubungan dengan air (Independent and unrelated to water uses); (2) Untuk pengembangan area publik, kemiringan lahan lebih dianjurkan 0-15 %. Sedangkan kemiringan lahan yang lebih dari 15 % perlu penangan tambahan; (3) Jarak fasilitas umum yang satu dengan fasilitas
Masalah Penelitian Landasan Teori Variabel umum lainnya maksimum 2
Km.
Sedangkan untuk mendirikan Penataan kepadatan sebuah bangunan, menurut bangunan pada Ditjen Cipta Karya (2000) harus permukiman di tepi air.
memperhatikan: (1) Kepadatan bangunan di kawasan tepi air maksimum 25 %; (2) Tinggi bangunan maksimum 15 meter dihitung dari permukaan tanah;
(3) Arah dari Orientasi bangunan mempertimbangkan posisi matahari dan arah angin;
(4) Bangunan-bangunan yang dapat dikembangkan pada kawasan sepadan tepi air berupa ruang terbuka seperti taman atau ruang rekreasi sebagai fasilitas umum, tempat duduk dan sarana olah raga; (5) Bangunan yang diperbolehkan berdiri di kawasan sempadan tepi air berupa tempat ibadah, bangunan penjaga pantai, bangunan fasilitas umum, serta bangunan tanpa dinding dengan luas maksimum 50 m2/unit.
Menurut Peraturan Presiden RI Tata ruang kawasan Danau Nomor 81 Tahun 2014 Tentang Toba dalam mewujudkan Rencana Tata Ruang Kawasan permukiman yang Danau Toba dan Sekitarnya, memiliki potensi kawasan
Masalah Penelitian Landasan Teori Variabel ruang kawasan Danau Toba
perlu ditata agar dapat mewujudkan: (1) Air kehidupan (Aek Natio) masyarakat melalui Pelestarian Kawasan Danau Toba, ekosistem, lingkungan dan kawasan kampung masyarakat adat Batak; (2) Pengembangan
kawasan pariwisata berskala internasional melalui pengendalian kawasan budi daya dan tanggap terhadap bencana alam.
pariwisata.
Menurut pasal 9 ayat 2 pada Peraturan Presiden RI Nomor 81 Tahun 2014 penataan permukiman melalui sistem permukiman yang terpusat sebagai sistem pusat pelayanan kawasan yang bertujuan untuk
mengembangkan dan
pariwisata dengan skala dunia.
Sistem permukiman Danau Toba memiliki peraturan untuk melindungi lingkungan, seperti yang tertulis pada
Persyaratan dalam penataan sempadan danau sesuai dengan regulasi.
Masalah Penelitian Landasan Teori Variabel permukiman pada Peraturan Presiden RI Nomor 81
area tepi air Tahun 2014 mengenai Pangururan sempadan danau: (1) Wilayah Kabupaten Samosir daratan ditetapkan dengan jarak
50 (lima puluh) meter sampai dengan 100 (seratus) meter dari titik pasang air danau tertinggi sebagai sempadan danau; (2) Wilayah sempadan danau di sepanjang tepian danau lebarnya disesuaikan dengan proporsi bentuk dan kondisi fisik danau.
Menurut Perda Nomor 3 Arah pembangunan Kabupaten Samosir Tahun 2011, permukiman oleh Rencana Pembangunan Jangka pemerintah melalui Panjang Daerah (RPJPD) regulasi Kabupaten Kabupaten Samosir bermaksud Samosir.
agar memberikan arah bagi pemerintah dan masyarakat.
Berdasarkan Peraturan Pengembangan
Pemerintah Nomor 26 Tahun permukiman di kawasan 2008, tentang RTRW Nasional, Danau Toba dalam kawasan Danau Toba ditetapkan mewujudkan kawasan menjadi salah satu kawasan wisata unggul.
Nasional di Indonesia dengan jaminan pelestarian agar taraf hidup masyarakat dapat mengalami peningkatan.
Sedangkan dalam
Permenbudpar, Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Penetapan
Masalah Penelitian Landasan Teori Variabel Pariwisata Unggulan, kawasan
Danau Toba juga menjadi kawasan sebagai tujuan Wisata Nasional dan akan dikembangkan menjadi keunggulan Indonesia di dunia.
Konsep regulasi Menurut Perda Nomor 3 Arah perencanaan untuk pembangunan Kabupaten Samosir Tahun 2011, pembangunan permukiman permukiman pada arah kebijakan pembangunan di Pangururan Kabupaten area tepi air dalam mewujudkan Samosir.
Pangururan pembangunan permukiman Kabupaten Samosir adalah: (1) Memberdayakan masyarakat melalui tingkat kesehatan, ilmu pendidikan, berbudaya, beriman, sejahtera dan sadar akan lokasi wisata; (2) Melakukan pembangunan terpadu dan menyeluruh hingga terjadi keadilan yang merata pada kawasan pelestarian lingkungan; (3) Menciptakan rasa aman, nyaman dan damai dengan perlindungan kepada masyarakat dan wisatawan.
Ditinjau dari Peraturan Kepemilikkan dan Pemerintah Republik Indonesia pemanfaatan tanah dalam Nomor 14 Tahun 2016 salah perencanaan permukiman.
satu syarat dalam merencanakan pengembangan suatu
permukiman harus
mengidentifikasi kepemilikkan
Masalah Penelitian Landasan Teori Variabel dan pemanfaatan tanah
Menurut Marpaung (2017), Pembangunan kembali setelah melalui suatu periode permukiman organik harus waktu, masyarakat di terintegrasi dengan permukiman organik memiliki perkembangan kebijakan lahan yang diperoleh secara pemerintah.
turun-temurun untuk meningkatkan dan melestarikan sosial-budaya dan aspek ekonomi, kemudian membangun permukiman yang disesuaikan dengan permukiman yang terencana dari pemerintah.
Menurut Marpaung (2017), Munculnya permukiman Pertumbuhan permukiman organik di Indonesia selalu organik di Indonesia selalu berawal dari suatu dimulai keberadaanya melalui kampung atau suatu desa.
sebuah desa.