• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.3 Metoda Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan berdasarkan permasalahan penelitian terkait tujuan penelitian.

Tabel 3.2 Metode Pengumpulan Data

Variabel Data yang Diperlukan Metoda Keadaan fisik dan non fisik

yang mempengaruhi pola aktivitas manusia.

topografi,

keadaan geografi.

Observasi

tingkat keamanan, Wawancara

Variabel Data yang Diperlukan Metoda

Peta keadaan geografis di tepi air Pangururan

Menggambar ulang dengan CAD

Perkembangan permukiman di tepi air melalui generasi sekelompok etnis.

Identifikasi etnis yang tersebar di tepi air incremental sebagai awal pengembangan

permukiman.

Peta pertumbuhan permukiman di tepi air Pangururan. yang aman dan nyaman.

Kebijakan perancangan permukiman.

Studi dokumen.

Jarak garis sempadan tepi air dari titik pasang tertinggi ke arah darat.

Kebijakan penataan kawasan tepi air.

Observasi dan studi dokumen.

Variabel Data yang Diperlukan Metoda Keterkaitan kemiringan

tanah di sempadan tepi air terhadap jarak garis

sempadan.

Kebijakan sempadan danau kawasan tepi air.

Observasi dan studi dokumen.

Penataan permukiman tepi air berupa akses pada permukiman di tepi air.

Kebijakan penataan akses kawasan tepi air.

Observasi dan studi dokumen.

Pemanfaatan dan pembagian tata guna lahan permukiman di tepi air.

Kebijakan tata guna lahan kawasan tepi air.

Observasi dan pada area tepi air.

Observasi dan studi dokumen.

Tata ruang kawasan Danau Toba dalam mewujudkan permukiman yang memiliki potensi kawasan pariwisata.

Kebijakan tata ruang kawasan Danau Toba. Daerah Kabupaten Samosir dalam membentuk permukiman di tepi air.

Identifikasi data sekunder

Pengembangan

permukiman di kawasan Danau Toba dalam mewujudkan kawasan wisata unggul.

Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Samosir dalam membentuk permukiman wisata.

Identifikasi data sekunder

Kepemilikkan dan Kebijakan kepemilikkan Identifikasi data sekunder

Variabel Data yang Diperlukan Metoda Daerah Kabupaten Samosir terhadap permukiman organik

Identifikasi data sekunder dan wawancara.

Munculnya permukiman organik di Indonesia selalu berawal dari suatu kampung atauu suatu desa.

Teori permukiman organik

Identifikasi data sekunder dan wawancara.

Berkaitan dengan rumusan masalah penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pembangunan permukiman di tepi air Pangururan Kabupaten Samosir, maka pertanyaan yang dikemukakan dalam wawancara adalah sebagai berikut:

1. Mengapa Bapak/Ibu dapat tinggal di tepi danau ini?

2. Sejak kapan Bapak/Ibu tinggal di tepi danau ini?

3. Menurut Bapak/Ibu, bagaimana rumah-rumah disini dapat terbangun pada area tepi air seperti ini?

4. Menurut Bapak/Ibu, adakah syarat-syarat yang berlaku untuk mendirikan bangunan pada area tepi air ini?

5. Apa aktivitas Bapak/Ibu sehari-hari? Apakah aktivitas tersebut mempengaruhi posisi rumah-rumah disekitar sini?

6. Adakah hubungan tinggal di tepi danau ini dengan mata pencaharian?

7. Apakah tanah tempat tinggal Bapak/Ibu sekarang adalah milik sendiri?

8. Bentuk surat kepemilikkan tanah seperti apa yang Bapak/Ibu miliki sekarang?

9. Apakah ada yang mengatur Bapak/Ibu dalam mendirikan bangunan?

10. Apakah Bapak/Ibu mengetahui fungsi apa yang diperbolehkan untuk dibangun pada area tepi danau ini?

11. Apakah Bapak/Ibu mengetahui peraturan pembangunan daerah tepi danau di Pangururan ini?

12. Pernahkah ada sosialisasi peraturan pembangunan perumahan untuk daerah tepi danau di Pangururan ini?

13. Ketika bangunan rumah tinggal ini didirikan, pernahkah Bapak/Ibu ditegur Pemerintah Pangururan Kabupaten Samosir?

14. Apakah Bapak/Ibu mempercayai adanya hubungan religi dan kepercayaan dalam proses membangun rumah?

15. Menurut Bapak/Ibu, dalam membangun rumah, apakah ada pengaruh dari pemikiran atau pandangan penduduk di sini?

16. Menurut Bapak/Ibu, apakah ada hubungan keturunan suku terhadap perkembangan rumah-rumah di sini?

17. Apakah Bapak/Ibu mengetahui adanya kalimat-kalimat leluhur yang diterapkan dalam membangun rumah?

Berkaitan dengan rumusan masalah penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pembangunan permukiman di tepi air Pangururan

Kabupaten Samosir, maka pertanyaan yang dikemukakan dalam wawancara kepada pemerintah daerah adalah sebagai berikut:

1. Menurut Bapak, bagaimana masyarakat dapat memiliki tanah di tepi danau Pangururan?

2. Pernahkah ada sosialisasi peraturan pembangunan untuk daerah tepi danau di Pangururan ini?

3. Apakah Pemerintah memberitahukan masyarakat apabila ada yang membangun dan melanggar peraturan pembangunan daerah tepi danau di Pangururan ini?

4. Apakah pemerintah pernah menindak masyarakat apabila melanggar peraturan pembangunan tepi danau yang berlaku di Pangururan?

5. Apakah ada masyarakat yang membangun daerah tepi danau sesuai peraturan yang berlaku, padahal mereka belum mengetahui kebijakan pembangunan tepi air yang berlaku di Pangururan?

6. Bagaimana cara mengatasi pembangunan dengan fungsi kepemerintahan di tanah yang status kepemilikkannya merupakan milik masyarakat namun tidak memiliki bukti kepemilikkan?

Metoda dalam menentukan responden yang akan diwawancarai adalah sebagai berikut:

1. Narasumber merupakan masyarakat yang bertempat tinggal di Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir.

2. Narasumber merupakan seorang tokoh yang memahami budaya Batak.

3. Narasumber merupakan seorang tokoh yang memahami regulasi di Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir.

3.4. Metoda Analisia Data

Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pembangunan permukiman di tepi air Pangururan Kabupaten Samosir, maka metoda penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut (Gambar 3.1):

DATA

Observasi

Hasil wawancara

Dokumentasi

Faktor-faktor fisik

Faktor-faktor non fisik

Data etnis

Bentuk bangunan tradisional

KAJIAN

Faktor-faktor fisik berupa lingkungan yang dihuni dan topografi, sedangkan faktor non fisik berupa nilai-nilai dalam membentuk permukiman, seperti tingkat keamanan, hubungan antar kelompok, politik, agama, ideologi, religi, budaya dan kepercayaan.

Kawasan yang berada di tepi air lebih sering ditemukan pola permukiman yang cenderung tidak teratura, cluster dan tumbuh secara alami.

Masyarakat yang bermukim di tepi air merupakan masyarakat yang homogen, tertutup dan mengembangkan tradisi serta nilai atau norma yang berlaku.

Keadaan iklim di Indonesia membuat bangunan harus dapat tanggap terhadap iklim melalui susuanan massa, orientasi bangunan, bentuk atap, bahan bangunan dan aspek lainnya.

PENEMUAN

Faktor Topografi, memberikan pengaruh terhadap bentuk permukiman karena mengikuti kontur dari tanah.

Faktor kepercayaan terhadap leluhur, membawa pengaruh terhadap susunan kampung yang berorientasi terhadap Pusuk Buhit.

Faktor terhadap matahari, masyarakat cenderung mendirikan tempat tinggal dengan orientasi matahari, karena kepercayaan bahwa matahari merupakan sumber kehidupan.

Faktor Agama, dalam kehidupannya, masyarakat Batak sangat menghormati leluhur.

Faktor Budaya, membawa pengaruh terhadap permukiman kampung.

Faktor pola permukiman, menggambarkan bentuk permukiman pada suatu desa dan pemanfaatan tanah dalam kehidupan sehari-hari.

Faktor kepadatan penduduk, masyarakat Batak cenderung akan mendirikan kampung baru apabila terjadi pernikahan.

Faktor arah pertumbuhan permukiman di tepi air, masyarakat cenderung mendirikan bangunan-bangunan baru LANDASAN TEORI

Permukiman terbentuk melalui suatu proses yang panjang secara terus-menerus pada suatu tempat yang fungsional dengan didasari oleh pola aktivitas manusia baik yang disebabkan pengaruh keadaan fisik dan non fisik (Rapoport, 2016)

Bentuk permukiman yang telah berkembang akan membentuk pola-pola permukiman melalui penyebaran tempat tinggal dikarenakan kondisi keadaan geografi (Yusran, 2006)

Suatu pola permukiman didasarkan oleh beberapa aspek seperti tingkat keamanan, saling

membutuhkan, hubungan antar kelompok, politik, agama, ideologi, budaya dan bentuk fisik alam.

(Abdullah, 2000)

Menurut Suprijanto (2002), awalnya pengembangan permukiman di tepi air bermula dari keberadaan sekelompok etnis yang menetap di tepi air dan berkembang secara alami dari generasi ke generasi.

Menurut Foruzanmehr dan Vellinga (2011), budaya bermukim merupakan salah satu kehidupan pada suatu kawasan yang menghasilkan nilai-nilai bersejarah sebagai bentuk fisik dari kegiatan yang telah dilakukan.

Menurut Utomo (2000), keveradaan permukiman tradisional yang terdiri dari bangunan arsitektur tradisional juga dipengaruhi oleh hubungan kekeluargaan dalam kemasyarakatan, seperti hubungan pertalian darah, dan bangunan tradisional dyang dipengaruhi oleh iklim.

PENEMUAN Menetapkan kawasan di tepi air menjadi kawasan lindung

Untuk mendirikan kawasan lingkungan hidup, perlu memerhatikan sumber air tanah, wilayah rawan bencana, tidak pada daerah rel kereta api, daerah aman penerbangan dan kawasan lindung.

Memperhatikan kepadatan bangunan di kawasan tepi air yakni maksimum 25%.

Mendirikan bangunan di tepi air tidak lebih tinggi dari 15 meter.

LANDASAN TEORI

Menurut Kostof (2005), permukiman organik merupakan permukiman yang tumbuh secara kebetulan dan dihasilkan tanpa peran perencana melalui ruang waktu.

Kawasan permukiman yang terencana harus memenuhi peningkatan sumber daya perkotaan, tanggap terhadap bencana dan menyediakan sarana prasarana serta utilitas umum. (Peraturan Pemerintah RI Nomor 14 Tahun 2016)

Kawasan perencanaan permukiman juga perlu memperhatikan karakteristik lahan, sumber air, drainase yang baik, dan tidak berada pada daerah rawan bencana, sempadan air, serta menghindari kawasan budi daya dan irigasi. (Peraturan Menteri PU Nomor 41/PRT/M/2007)

Untuk mengkaji regulasi pembangunan permukiman area tepi air di Indonesia, maka metoda penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut (Gambar 3.2):

Gambar 3.2 Metode Analisa Data

DATA

Peta pertumbuhan permukiman di tepi air Pangururan

Kebijakan perancangan permukiman

Kebijakan penataan kawasan tepi

air Kebijakan sempadan danau

Kebijakan penataan akses kawasan tepi air

Kebijakan tata guna lahan kawasan tepi air.

Kepadatan permukiman pada area tepi air.

KAJIAN

Hasil dari pengembangan bentuk yang tidak teratur dan alami menyebabkan terbentuknya jalan yang melengkung, terputus dan berujung pada ruang terbuka.

Untuk menciptakan lingkungan yang terencana, pembangunan permukiman harus terarah dan dilandasi dengan penelitian terlebih dahulu agar menghasilkan permukiman formal yang layak.

Terdapat jarak pengukuran minimum yang diupayakan agar melestarikan pantai dan membuat bangunan tidak dalam kondisi berbahaya.

DATA

Kebijakan tata guna lahan kawasan tepi air.

Kepadatan permukiman pada area tepi air

Kebijakan tata ruang kawasan Danau Toba

Kebijakan perancangan permukiman.

KAJIAN

Pemanfaatan dan pembagian tata guna lahan pada permukiman di tepi air telah ditetapkan berdasarkan kebutuhan masing-masing wilayah, bukan berdasarkan individu tertentu.

Penataan kepadatan bangunan pada permukiman di tepi air menunjukkan seberapa banyak kawasan yang

diperbolehkan untuk di bangun dalam menjaga kelestarian alam.

Tata ruang kawasan Danau Toba dalam mewujudkan permukiman yang memiliki potensi kawasan pariwisata.

Sistem permukiman terpusat dalam menjangkau pelayanan fasilitas umum dalam menciptakan permukiman yang sesuai dengan regulasi

Untuk mengkaji regulasi pembangunan permukiman area tepi air Pangururan Kabupaten Samosir, maka metoda analisa penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut (Gambar 3.3):

PENEMUAN Pembangunan permukiman didasarkan atas siasat dari kepala suku.

Menetapkan sempadan danau dengan jarak 50 meter sampai 100 meter dihitung dari titik air pasang tertinggi Menerapkan sistem permukiman terpusat.

Melestarikan kawasan kampung adat Batak menjadi kawasan wisata budaya Menjalankan RPJMD hingga tahap III.

Pembebasan lahan

LANDASAN TEORI

Penataan dalam hal peruntukkan dan tata guna lahan seperti penggunaan lahan yang disesuaikan dengan ketersediaan air dalam membangun bangunan, kemiringan dalam pengembangan area publik dan jarak antar fasilitas umum (Ditjen Cipta Karya, 2000)

Untuk mendirikan bangunan di tepi air, kepadatan bangunan maksimum 25% dengan tinggi bangunan maksimum 15 meter. Sedangkan arah dari orientasi bangunan harus mempertimbangkan posisi matahari dan angin. Bangunan yang dapat dibangun seperti ruang terbuka, tempat ibadah, dan fasilitas umum.

(Ditjen Cipta Karya (2000).

Menurut Peraturan Presiden RI Nomor 81 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Toba dan sekitarnya, Danau Toba perlu ditata agar mewujudkan Air Kehidupan masyarakat melalui pelestarian kawasan dan pengembangan kawasan pariwisata.

Menurut Pasal 9 Ayat 2 pada Peraturan Presiden RI Nomor 81 Tahun 2014, penataan permukiman melalui sistem permukiman yang terpusat bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan fungsi dan jangkauan fasilitas.

DATA

Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Samosir dalam membentuk permukiman di tepi air.

Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Samosir dalam membentuk permukiman wisata.

KAJIAN

Persyaratan dalam penataan sempadan danau harus sesuai dengan regulasi yang berlaku. Wilayah sempadan tepian danau juga disesuaikan dengan proporsi bentuk dan kondisik fisik danau.

Arah pembangunan permukiman oleh pemerintah melalui regulasi Kabupaten Samosir sebagai acuan dasar dalam mewujudkan permukiman yang sesuai regulasi.

Pengembangan permukiman di kawasan Danau Toba dilakukan melalui pelestarian kawasan agar selain mewujudkan kehidupan yang baik, tetapi juga menjadi tujuan wisata nasional.

Untuk mengetahui potensi yang dapat mendukung regulasi dalam rangka pembangunan permukiman area tepi air Pangururan Kabupaten Samosir, maka metoda analisa penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut (Gambar 3.4):

PENEMUAN

Kawasan Danau Toba menjadi Kawasan Strategis Nasional yang menjamin pelestarian Kawasan Danau Toba dalam perkembangan permukiman.

Pengembangan permukiman selalu diperhatikan oleh pemerintah karena Danau Toba ditetapkan menjadi Heritage World (Harta Warisan Dunia).

Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan di Provinsi Sumatera Utara Filososi kerarifan lokal dalam pembangunan

LANDASAN TEORI

Menurut Peraturan Presiden RI Nomor 81 Tahun 2014, sempadan danau ditetapkan dengan jarak 50 meter sampai 100 meter dari titik pasang air danau tertinggi.

Menurut Perda Nomor 3 Kabupaten Samosir Tahun 2011, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Samosir bermaksud agar memberikan arah bagi pemerintah dan masyarakat.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomo 26 Tahun 2008, tentang RTRW Nasional, kawasan Danau Toba ditetapkan menjadi salah satu kawasan Nasional di Indonesia dengan jaminan pelestarian agar taraf masyarakat dapat mengalami peningkatan dan menjadi kawasan tujuan wisata nasional.

DATA

Kebijakan kepemilikkan dan pemanfaatan tanah Pemerintah Daerah Kabupaten Samosir.

Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Samosir terhadap permukiman organik

Teori permukiman organik.

PENEMUAN

Regulasi disesuaikan perkembangannya terhadap filosofi-filosofi yang dipercayai masyarakat Batak.

Memasukkan faktor-faktor non-fisik dalam pengembangan permukiman.

Melestarikan kebudayaan dan kearifan lokal agar menjadi kawasan yang memiliki roh atau jiwa dan menghadirkan Genius Loci.

Mendirikan bangunan-bangunan di tepi jalan dengan mempertahankan ornamen-ornament gorga ataupun bentuk miniatur dari bangunan adat Batak.

Menghadirkan landmark-landmark berbasis budaya dan adat yang mudah ditemui di persimpangan ataupun ruang terbuka agar mudah diingat.

KAJIAN

Perencanaan pembangunan permukiman di Pangururan Kabupaten Samosir memiliki arah yang terencana berdasarkan Perda yang berlaku dalam mewujudkan permukiman terencana dari pemerintah.

Kepemilikkan dan pemanfaatan tanah sangat berpengaruh dalam perencanaan permukiman, sehingga perlu dikaji ulang dengan kebijakan pemerintah

Munculnya permukiman organik di Indonesia selalu berawal dari permukiman kecil atau suatu desa.

Untuk menghasilkan konsep regulasi untuk pembangunan permukiman area tepi air Pangururan Kabupaten Samosir, maka metoda analisa penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut (Gambar 3.5):

LANDASAN TEORI

Menurut Perda Nomor 3 Kabupaten Samosir Tahun 2011, arah kebijakan pembangunan dalam

mewujudkan pembangunan permukiman melalui pemberdayaan masyarakat, pembangunan terpadu yang menyeluruh, dan menciptakan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat.

Salah satu syarat dalam merencanakan pengembangan suatu permukiman harus mengidentifikasi kepemilikkan dan pemanfaatan tanah (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2016)

Menurut Marpaung (2017), masyarakat di

permukiman organik memiliki lahan yang diperoleh secara turun-temurun untuk meningkatkan dan melestarikan sosial budaya dan digunakan untuk membangun permukiman yang dapat disesuaikan dengan rencana pemerintah.

Pertumbuhan permukiman organik di Indonesia selalu dimulai keberadaannya melalui sebuah desa (Marpaung, 2017).

BAB IV

DESKRIPSI KAWASAN PENELITIAN

4.1. Lokasi Penelitan

Kecamatan Pangururan merupakan bagian dari Kabupaten Samosir, Sumatera Utara Indonesia. Kecamatan Pangururan yang menjadi ibu kota Kabupaten Samosir ini terdiri atas 28 desa yang tersebar baik di tepi air ataupun perbukitan. Pada tahun 2018, wilayah ini tercatat memiliki luas kurang lebih 121,43 km2 dengan jumlah penduduk mencapai kurang lebih 30.000 jiwa.

Gambar 4.1 Peta Indonesia Sumber: emadeus.devianart.com

Gambar 4.2 Kabupaten Samosir Gambar 4.3 Kecamatan Pangururan

Kecamatan Pangururan di kelilingi oleh empat kecamatan lain di Kabupaten Samosir sebagai berikut (Tabel 4.1):

Tabel 4.1 Batas Kecamatan

Batasan Kecamatan

Arah Utara Kecamatan Simanindo

Arah Timur Kecamatan Ronggur Nihuta Arah Selatan Kecamatan Palipi

Arah Barat Kecamatan Sianjur Mulamula

Kawasan Permukiman di tepi air Kecamatan Pangururan terdiri atas tujuh belas desa seperti berikut (Gambar 4.4):

1

2

Tabel 4.2 Batas Desa

3

Gambar 4.4 Desa/Kelurahan di Kecamatan Pangururan No. Desa/Kelurahan

1. Desa Sialanguan 2. Desa Situngkir 3. Desa Huta Bolon 4. Desa Siopat Sosor

5. Desa Lumban Suhi-suhi Toruan 6. Desa Sitolu Huta

7. Desa Panampangan 8. Desa Pardogul 9. Desa Parlondut 10. Desa Sianting-anting 11. Desa Sait Nihuta 12. Desa Parsaroan

13. Kelurahan Pasar Pangururan 14. Desa Pardomuan 1

15. Kelurahan Pintu Sona 16. Desa Huta Namora 17. Desa Rianiate

4.2. Permukiman di Tepi Air Pangururan Kabupaten Samosir

Meskipun Kecamatan Pangururan merupakan salah satu Kecamatan yang terletak di tepi air, banyak masyarakat yang masih bekerja sebagai seorang petani. Hal ini terlihat dari luasnya lahan yang digunakan untuk bercocok tanam. Selain itu masyarakat juga berpenghasilan melalui budi daya hewan ternak dan ikan. Hanya sebagian kecil masyarakat mengelola permukiman berbasis wisata. Kawasan ini akan dibagimenjadi 3 segmen oleh peneliti.

Segmen 1

Segmen 2

Segmen 3

BAB V

ANALISA DAN PEMBAHASAN

5.1. Pertumbuhan Pembangunan Permukiman di Tepi Air Pangururan Kabupaten Samosir

Bermula dari suku Batak yang mendarat di Muara Sungai Sorkam, kemudian masyarakat Batak memutuskan untuk mendirikan kampung di kaki bukit Pusuk Buhit yang lebih dikenal dengan sebutan Sianjur Sagala Limbong Mulana. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Batak mulai mendominasi wilayah Danau Toba hingga ke Pulau Samosir. Permukiman masyarakat Batak terbentuk secara incremental atas kebutuhan sosial dan budaya. Bentuk perkembangannya juga dipengaruhi kepercayaan akan nenek moyang. Masyarakat Batak berpandangan bahwa arah orientasi rumah harus mengarah pada matahari terbit dan memiliki acuan utama yaitu Pusuk Buhit. Hal ini dikarenakan masyarakat Batak menghormati leluhurnya yang bermula dari Sianjur Mula-mula yang terletak di Pusuk Buhit. Sehingga Pusuk Buhit dianggap sangat sakral dalam membangun tempat tinggal. Sedangkan matahari dianggap sebagai sumber kehidupan, sehingga sangat diusahakan agar tempat tinggal tidak membelakangi matahari untuk menghindari kesulitan (gambar 5.1).

Barat Pusuk Buhit

Gambar 5.1 Pusuk Buhit dan Matahari Sumber: Dokumentasi pribadi

Timur

Perkembangan permukiman kampung yang menyebar ke seluruh wilayah Pulau Samosir sangat pesat. Bahkan perkembangannya dari pelosok hingga ke tepi danau. Kabupaten Samosir terbagi menjadi sembilan kecamatan, yaitu Kecmatan Pangururan, Kecamatan Simanindo, Kecamatan Ronggur Nihuta, Kecamatan Palipi, Kecamatan Nainggolan, Kecamatan Onanrunggu, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kecamatan Harian dan Kecamatan Sitio-tio. Kecamatan Pangururan Pangururan merupakan yang paling padat penduduknya, hal ini dikarenakan Kecamatan Pangururan merupakan Ibu Kota Kabupaten sehingga menjadi pusat perdagangan, pemerintahan, ekonomi dan sarana prasarana pendidikan. Kecamatan Pangururan dibagi menjadi 28 desa, namun desa yang terletak di Tepi Air Pangururan terdiri atas 17 desa (tabel 5.1). Desa-desa di Pangururan berkembang hingga ke tepi jalan utama yang sekarang dikelola negara sebagai jalan nasional (gambar 5.2).

Tabel 5.1 Daftar Desa/Kelurahan di tepi air Kecamatan Pangururan

1 1. Desa Sialanguan

2. Desa Situngkir 3. Desa Huta Bolon 4. Desa Siopat Sosor

5. Desa Lumban Suhi-suhi Toruan 6. Desa Sitolu Huta

7. Desa Panampangan 8. Desa Pardogul 9. Desa Parlondut 10. Desa Sianting-anting 11. Desa Sait Nihuta 12. Desa Parsaroan

13. Kelurahan Pasar Pangururan 14. Desa Pardomuan 1

15. Kelurahan Pintu Sona 16. Desa Huta Namora 17. Desa Rianiate

Kelurahan Pasar Pangururan merupakan salah satu desa yang telah berkembang menjadi Kelurahan. Sehingga wilayah ini menjadi pusat perdagangan dan munculnya permukiman baru di tepi jalan. Masyarakat Batak yang tinggal di Pangururan menganggap wilayah ini adalah sebuah kota. Permukiman di Kelurahan Pasar Pangururan berkembang sangat pesat, sehingga terlihat lebih padat dari pada kelurahan atau desa lain. Perkembangan ini memberi dampak terhadap nilai jual tanah, sehingga harga tanah menjadi naik dan masyarakat yang tinggal di desa mencoba peruntungan untuk berdagang di Kelurahan Pasar Pangururan. Sedangkan di wilayah desa lain, masyarakat mencoba membangun jalan lingkungan dan akses tersendiri dari satu kampung menuju jalan utama. Disini menjadi potensi tumbuhnya permukiman baru di sepanjang jalan menuju jalan utama.

Keterangan gambar Jalan Arteri

Jalan Lingkungan

Gambar 5.3 Jalan Nasional atau Jalan Utama Sumber: Dokumentasi pribadi

Perumahan yang berjejer di sepanjang jalan lingkungan juga melakukan kegiatan perekonomian dengan berjualan ataupun memberi jasa. Sedangkan wilayah permukiman di tepi danau, di dominasi oleh kebun dan ladang. Hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan sebagai kawasan pariwisata. Masyarakat Batak di Kabupaten Pangururan memiliki ideologi Padme Jumah (Kaki Ladang) yang menetapkan tanah yang timbul karena turunnya air Danau Toba menjadi kaki ladang atau pertambahan ladang bagi pemiliknya. Padahal menurut pemerintah, tanah tersebut menjadi tanah komunal. Hal ini menyebabkan pemerintah kesulitan dalam mengelola tanah dan pembangunan permukiman di tepi air. Akibatnya Badan Pertanahan Nasional tidak akan memberikan sertifikat atas rumah yang dibangun pada sempadan danau.

Keterangan gambar:

Gambar 5.4 Ideologi Kaki Ladang Sumber: Dokumentasi pribadi

Kaki Ladang

Pohon

Danau

5.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Pembangunan

Lahan

Pembangunan permukiman di tepi air Pangururan Kabupaten Samosir tentunya tidak terlepas dari cara hidup dalam keseharian masyarakatnya. Masyarakat yang menempati tepi air berupaya memanfaatkannya sebagai irigasi sawah ataupun kegiatan lain dalam mengelola perekonomian. Sehingga masyarakat membuat jalan- jalan kecil dari tepi jalan raya menuju tepi air. Di sepanjang jalan kecil tersebut juga banyak dibangun rumah-rumah kontemporer dan meninggalkan corak-corak yang biasa ditemui pada rumah adat Batak.

Pembangunan permukiman di tepi air Pangururan Kabupaten Samosir tentunya tidak terlepas dari cara hidup dalam keseharian masyarakatnya. Masyarakat yang menempati tepi air berupaya memanfaatkannya sebagai irigasi sawah ataupun kegiatan lain dalam mengelola perekonomian. Sehingga masyarakat membuat jalan- jalan kecil dari tepi jalan raya menuju tepi air. Di sepanjang jalan kecil tersebut juga banyak dibangun rumah-rumah kontemporer dan meninggalkan corak-corak yang biasa ditemui pada rumah adat Batak.

Dokumen terkait