• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. APLIKASI BAGAN KENDALI PROSES

1. Metode Analisis Chloramphenicol

Teknik sampling merupakan cara yang digunakan dalam

pengambilan sampel untuk dianalisis dari sekumpulan populasi. Untuk

mendapatkan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan haruslah

ditempuh dengan cara-cara pengambilan sampel yang benar dalam

setiap langkah mulai dari jenis sampel hingga ukuran dari sampel

tersebut (Sudjana, 1996).

Terdapat dua syarat yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan

menjadi sampel yang baik yaitu representatif dan memadai (Sudjana,

1996). Suatu sampel dikatakan representatif apabila ciri-ciri sampel

Residu

chloramphenicol

melebihi standar Pekerja pabrik Metode analisis

Bahan Baku Teknik kehomogenan ukuran Analisis Ketepatan Alat-alat Disiplin Pendidikan Pengetahuan pengalaman Motivasi Kebiasaan Daging rajungan Kondisi suplier Kontaminasi dari pekerja Disiplin Kebiasaan

Kontaminasi dari air laut Bahan

yang berkaitan dengan tujuan analisis sama atau hampir sama dengan

ciri-ciri populasinya. Suatu sampel dikatakan memadai apabila ukuran

sampelnya cukup untuk meyakinkan kestabilan ciri-cirinya.

Menurut Muhandri dan Kadarisman (2005), pengambilan

contoh atau sampling merupakan bagian dari kegiatan suatu inspeksi

untuk dapat mengurangi biaya yang besar namun masih dapat

menjamin atau mewakili suatu kelompok uniform tertentu untuk

diambil suatu keputusan regulasi bisnis dan lain-lain. Hal ini

disebabkan dengan inspeksi 100% cross check dalam industri pangan

selain mahal, dapat mengakibatkan rusaknya produk dan menghambat

proses produksi.

Terdapat beberapa metode sampling yang sering digunakan

dalam sistem sampling dan inspeksi, antara lain: 100% cross check,

sampling berdasarkan teori statistik, dan sampling tidak berdasarkan

statistik. Pada metode pertama, pada umumnya mahal dan tidak selalu

berhasil secara keseluruhan. Terdapat banyak bahaya yang cenderung

terjadi, yaitu kecenderungan terjadi pelaporan yang hanya “lip

service” bahwa dilakukan 100% inspeksi, karena hal ini

membutuhkan biaya yang sangat mahal, waktu dan ketersediaan

personil.

Metode kedua, sampling berdasarkan teori statistik

mempunyai kekurangan dibanding dengan inspeksi 100%, yaitu

bahwa beberapa bagian tidak terinspeksi. Terdapat kelebihan metode

ini, yaitu menempatkan tanggung jawab terhadap mutu secara fair dan

jujur pada produsen. Metode ini biasanya memberikan kelebihan dapat

mengurangi kerja inspeksi, menurunkan biaya dan menghasilkan mutu

yang baik bagi konsumen.

Metode ketiga, sampling tidak berdasarkan statistik biasanya

tidak direkomendasikan karena tidak terdeteksinya resiko dari

sampling dan membawa fluktuasi yang tinggi serta keluar dari batas

mutu yang dipersyaratkan. Lebih jauh lagi, tidak ada dasar yang logis

untuk keputusan penerimaan atau penolakan suatu produk.

Di PT. Mina Global Mandiri, sampel diambil sebanyak satu

kaleng dari beratus-ratus kaleng setiap satu line produksi.

Penarikan

sampel yang hanya mengambil satu kaleng dari setiap line produksi

dapat memungkinkan tidak terdeteksinya residu chloramphenicol pada

kaleng lain. Sehingga jika mengambil daging untuk dianalisis dan

tidak terdeteksi, ada kemungkinan di daging yang lain terdeteksi.

Senyawa chloramphenicol hanya terakumulasi pada bagian daging

tertentu dan tidak terserap ke seluruh daging. Hal ini dilakukan

perusahaan mengingat biaya untuk analisis chloramphenicol sangat

mahal sehingga meminimalisasikan jumlah sampel dan diasumsikan

satu kaleng telah mewakili populasi yang ada.

Penentuan sampel yang dilakukan PT. Mina Global Mandiri

menggunakan metode sampling yang tidak berdasarkan metode

statistik. Metode ini memiliki kekurangan seperti yang telah diuraikan

di atas yaitu tidak terdeteksinya chloramphenicol pada kaleng yang

lain. Menurut John (1990), salah satu cara yang dapat digunakan oleh

perusahaan adalah dengan metode sampling statistik. Untuk

menentukan ukuran sampel dari populasi yang ada dengan

menggunakan statistik, pertama-tama dilakukan penetapan standar

deviasi (σ) yang nantinya akan digunakan untuk menentukan ukuran

sampel. Sebagai contoh, diambil data residu chloramphenicol pada

produk Super Lump yang terdapat pada Lampiran 7. Data yang

diperoleh terdiri dari 42 sampel yang diambil dari tanggal 16 Maret

2006 hingga 30 Mei 2006. Nilai rata-rata dari data tersebut sebesar

0,0429 ppb serta ditetapkan nilai standar deviasinya sebesar 0,0485

ppb. Diasumsikan bahwa perusahaan memproduksi 1000 kaleng

dalam satu kali produksi dan memiliki selang kepercayaan 95%.

Perhitungannya adalah sebagai berikut:

μ

σ

=

N

0015

,

0

10000

0485

,

0

=

Sehingga untuk menentukan ukuran sampel adalah:

μ

σ

n

.hit

t

0015

,

0

0485

,

0

96

,

1

⎟⎟

⎜⎜

n

8

9607

,

7

3733

,

63

0015

,

0

0485

,

0

96

,

1

=

n

n

Dari ukuran sampel yang dibutuhkan dari 1000 kaleng yang

diproduksi, maka minimal sampel yang dapat diambil sebanyak 8

sampel kaleng.

b.

Analisis

Analisis chloramphenicol dengan teknik ELISA digunakan

untuk mengetahui tingkat residu chloramphenicol

pada daging

rajungan di PT. Mina Global Mandiri. Keakuratan dan ketelitian

dalam pengerjaannya harus diperhatikan terutama dari laboran,

peralatan yang digunakan dan perlakuan pada bahan pereaksi.

Keakuratan laboran dalam mengukur banyaknya bahan-bahan

yang digunakan untuk analisis harus dipertimbangkan. Laboran harus

dapat dengan sabar dan hati-hati dalam menakar bahan-bahan reaksi

untuk analisis karena bahan-bahan reaksi tersebut pada umumnya

digunakan dengan volume kecil. Volume yang lazim digunakan pada

teknik ELISA berkisar antara 50-100 μL/sumur. Sangat penting jika

laboran sepenuhnya mengetahui tentang teknik pipeting yang baik dan

benar serta mengerti hubungan dari gram, miligram, microgram,

nanogram dengan padanan dari volume seperti liter, mililiter,

microliter dan seterusnya. Panduan dalam teknik pipeting dapat dilihat

pada Lampiran 8.

Tidak semua masalah dalam analisis semuanya disebabkan

karena laboran. Bahan-bahan pereaksi juga harus diperhatikan. Bahan-

bahan pereaksi harus disimpan dan tidak boleh terkontaminasi oleh

lingkungan sekitar. Bahan-bahan pereaksi juga tidak boleh melebihi

masa kadaluarsanya. Sedangkan tips yang sudah terpakai tidak boleh

digunakan lagi. Penggunaan tips berulang kali akan mengakibatkan

bahan-bahan pereaksi terkontaminasi.

Air untuk analisis dapat juga menjadi sumber kontaminasi. Air

digunakan untuk membilas dan membuang senyawa yang tidak

membentuk ikatan dengan antigen. Air dapat mengandung pengotor

yang dapat mempengaruhi hasil analisis. Pengotor-pengotor tersebut

dapat membuat larutan menjadi pekat sehingga pembacaan absorbansi

menjadi terganggu. Air yang digunakan direkomendasikan

menggunakan air tri-destilata yang telah mengalami tiga kali proses

destilasi sehingga cukup terjamin kemurniannya.

Alat-alat gelas yang digunakan untuk analisis juga dapat

mempengaruhi hasil analisis. Alat-alat gelas yang digunakan harus

bersih dan kering serta dibilas dengan menggunakan air destilasi. Hal

ini untuk mencegah kontaminasi atau ketidakcocokan kondisi pH dari

pereaksi-pereaksi ELISA, terutama pada pengencer dari konjugat.

Micropipet

merupakan peralatan yang digunakan untuk

memipet sejumlah volume dari sampel dan bahan-bahan pereaksi.

Micropipet pada dasarnya sangat penting untuk masalah keakuratan

pada ELISA. Alat ini harus sering diperiksa untuk masalah

ketelitiannya dan ketepatan dalam membawa volume larutan.

Keterangan dalam mengkalibrasi tergantung pada jenis dan merek

yang digunakan. Keterangan dan panduan untuk mengkalibrasi

terdapat pada buku panduan dalam paket pembelian. Perawatan harus

dilakukan pada alat ini dengan cara mencegah larutan agar tidak

terhisap ke dalam pipet. Jika hal ini terjadi, maka harus segera

dibersihkan dan dikeringkan.

Suhu penyimpanan bahan perekasi harus diperhatikan. Semua

bahan pereaksi harus disimpan pada suhu 2-8

o

C dan tidak boleh

dalam keadaan beku. Jika bahan pereaksi akan digunakan maka

langsung dikeluarkan pada suhu ruangan (20-25

o

C) dan langsung

disimpan kembali jika sudah digunakan (r-Biopharm, 2006). Variasi

suhu dapat menjadi faktor terbesar yang menyebabkan kesalahan

analisis (Crowther, 1995). Hal ini dikarenakan bahan pereaksi sangat

peka terhadap perubahan suhu.

Keakuratan waktu dalam tahap inkubasi juga harus

diperhatikan. Untuk inkubasi 1 jam, maka toleransi waktu yang

diperbolehkan maksimal adalah 5 menit. Waktu inkubasi yang

berlebihan dapat menyebabkan terjadinya reaksi yang berlebih dan

menyebabkan kesalahan analisis. Setiap kit yang digunakan sudah

ditetapkan standar waktunya. Analisis yang baik adalah selalu

mengikuti

instruksi

untuk

memperoleh

hasil

yang

akurat

(Crowther, 1995).

Dokumen terkait