Analisis data merupakan tahapan penting dalam proses penelitian sehingga tujuan penyampaian informasi untuk memecahkan masalah dapat dipenuhi (Kuncoro, 2009). Analisis data yang digunakan untuk menjawab penelitian adalah analisis statistik deskriptif berupa analisis persentase dan tabulasi silang.
1. Analisis tabulasi deskriptif
Analisis tabulasi deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi dan menggambarkan keberadaan ketersediaan media pembelajaran geografi SMA Negeri Palangkaraya. Data yang sama kemudian dikelompokan dan dipersentasekan. Persentase terbesar merupakan jawaban yang dominan dari masing-masing karakter yang dikumpulkan.
= 100%
Dimana:
DP : deskriptif persentase (%)
n : skor empirik atau skor yang diperoleh N : Skor ideal/jumlah total nilai
Tabel 3. Klasifikasi kelengkapan media pembelajaran geografi.
Skor Presentase (%) Kriteria
4 76–100 Sangat lengkap
3 51–75 Lengkap
2 26–50 Kurang lengkap
1 0–25 Tidak lengkap
Sumber: Ali (1993) yang dikutip oleh Awaludin (2007). Tabel 4. Klasifikasi penentuan kualitas.
Skor Interval Kriteria
2 ≥ ̅ + Bagus
1 < ̅ + Kurang bagus
Kelengkapan media pembelajaran geografi diklasifikasikan menjadi empat kelas dengan interval kelas sebesar 25% (Tabel 3). Klasifikasi penentuan kualitas UN SLTP, tingkat persaingan, prestasi akademik di bidang geografi, dan sekolah digunakan pengklasifikasian metode purata (Tabel 4). Penentuan kualitas sekolah didasarkan pada purata nilai UN minimum untuk diterima di SMA Negeri bersangkutan dan tingkat persaingan (daya tampung dibagi dengan jumlah peminat), dan prestasi akademik di bidang geografi selama lima tahun terakhir. 2. Tabulasi silang
Analisis tabulasi silang digunakan untuk menggambarkan kualitas media pembelajaran geografi. Tabulasi silang (Crosstabs) adalah metode mentabulasi beberapa peubah yang berbeda ke dalam suatu matriks yang hasilnya disajikan dalam suatu tabel dengan peubah yang tersusun dalam baris dan kolom (Indratno & Irwinsyah, 1998). Tabel silang atau tabulasi silang memperlihatkan hubungan antar dua atau lebih peubah secara bersamaan. Tabel silang memadukan distribusi frekuensi dari dua atau lebih peubah dalam satu tabel (Indratno & Irwinsyah, 1998; Sumarwan, 2012). Analisis tabulasi silang yang digunakan dalam penelitian ini adalah Crosstabs-chi square untuk menguji hubungan antar peubah data ordinal. Prosedur analisis tabulasi silang merujuk pada Indratno dan Irwinsyah (1998); Sumarwan (2012) dengan bantuan perangkat lunak SPSS 18.0 (SPSS, 2009) dengan panduan yang dikembangkan oleh Abdullah & Sutanto (2015).
20
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sigi (survey) atau rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bermaksud mendeskripsikan dan mengakumulasikan situasi-situasi atau kejadian-kejadian yang diambil sebagai data. Penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk mencari hubungan, menguji hipotesis, membuat ramalan, atau mendapatkan makna atau implikasi. Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan atau memecahkan masalah secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu (Rianse dan Abdi, 2009).
Pendekatan penelitian kuantitatif mendasarkan pada data berupa angka yang diperoleh dari hasil pengukuran peubah yang telah dioperasionalkan. Data yang diperoleh dari instrumen atau skala penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas baik. Instrumen penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data dapat berupa angket dan tes (Rianse dan Abdi, 2009).
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri se-Kota Palangka Raya. Waktu pelaksanaan penelitian selama sembilan bulan dari Bulan Mei-Desember 2015. Pemilihan SMA Negeri dalam penelitian ini ditentukan secara sengaja (convenince sampling). SMA Negeri dipilih sebagai obyek penelitian ini dengan pertimbangan kualitas pembelajaran dan manajemen sekolah telah berjalan dengan baik disamping aksesibilitas.
C. Definisi Operasional dan Pengukuran Peubah
Definisi operasional merupakan unsur penelitian berupa petunjuk bagaimana suatu peubah diukur (Singarimbun & Effendi, 2008). Tujuan definisi operasional adalah untuk membantu peneliti dalam menggunakan peubah dan mengetahui bagaimana cara pengukuran peubah tersebut. Definisi operasional yang dikembangkan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Kelengkapan media pembelajaran geografi adalah keberadaan media pembelajar geografi di sekolah yang mendukung materi pembelajaran geografi di SMA. Klasifikasi kelengkapan media belajar geografi dikelompokan menjadi sangat lengkap (4; jika 75% < deskriptif presentase (DP)≤ 100%), lengkap (3; jika 50% < DP≤ 75%), kurang lengkap (2; jika 25% < DP≤ 50%), dan tidak lengkap (1; jika 0% < DP ≤ 25%);
2. Kualitas sekolah adalah ukuran sekolah berdasarkan purata nilai minimum ujian nasional (UN) SMP untuk diterima di SMA tersebut dan tingkat persaingan untuk masuk di SMA Negeri tersebut dan nilai prestasi akademik di bidang geografi. Klasifikasi kualitas sekolah dikelompokan menjadi berkualitas (nilai 2, jika ≥ ̅ + ) dan kurang berkualitas (nilai 1; jika < ̅ + );
3. Tahun berdiri adalah tahun awal sekolah tersebut mulai beroperasi;
4. Jumlah keseluruhan guru adalah jumlah keseluruhan guru yang mengajar di sekolah baik guru tetap maupun guru honorer (orang);
5. Jumlah murid adalah jumlah siswa yang terdaftar sebagai peserta didik di sekolah dan aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar (orang);
6. Nilai UN SMA adalah nilai total hasil UN SMA sebagai syarat kelulusan siswa;
7. Nilai UN SMP adalah nilai total hasil UN SMP sebagai syarat kelulusan siswa dan syarat untuk masuk SMA;
8. Tingkat persaingan yaitu nilai atau indeks yang menunjukan tingkat persaingan untuk diterima di SMA yang merupakan perbandingan antara daya tampung dengan jumlah pendaftar.
D. Populasi dan Sampel
Populasi adalah seluruh obyek penelitian (Rianse & Abdi, 2009). Populasi target dari penelitian adalah seluruh SMA Negeri yang ada di Kota Palangka Raya. Jumlah SMA Negeri di Kota Palangka Raya sebanyak sepuluh SMA. Sedangkan sampel menurut (Rianse & Abdi, 2009) mendefinisikan sebagai bagian yang diambil dari populasi yang dianggap mewakili karakter populasi dan diambil dengan teknik tertentu.
Teknik pengambil sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pengambilan sampel sensus. Metode sensus digunakan dalam penelitian ini karena jumlah anggota populasi dalam penelitian ini < 50. Rianse & Abdi (2009) menjelaskan bahwa pengambilan sampel secara sensus dilakukan apabila jumlah populasi < 50 unit. Oleh karena itu seluruh populasi diambil sebagai sampel, yaitu sebanyak sepuluh SMA Negeri di Kota Palangka Raya. Namun, hanya delapan SMA Negeri di Kota Palangka Raya dipilih sebagai sampel dalam penelitian ini karena keterbatasan waktu dan akses ke lokasi SMA Negeri yang ada. Metode sensus dilakukan agar diperoleh informasi lengkap tentang kelengkapan media pembelajaran geografi dan gambaran yang lengkap serta terpercaya tentang media pembelajaran geografi di lokasi penelitian.
E. Teknik Pengumpulan Data
Data adalah sekumpulan informasi yang diperoleh dari mengukur nilai suatu peubah (Kuncoro, 2009). Pengumpulan data adalah cara yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Pengumpulan data dalam penelitian dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan, keterangan, kenyataan-kenyataan, dan informasi yang dapat dipercaya. Ada tiga aspek utama yang harus disajikan dalam teknik pengumpulan data yaitu: jenis data yang digunakan, cara pengumpulan data, dan sumber data (Rianse & Abdi, 2009).
Data primer meliputi keberadaan (data nominal) dan jumlah media pembelajaran geografi (data rasio) bersumber dari sekolah. Angket atau kuesioner digunakan sebagai teknik pengumpulan data primer dalam penelitian ini. Rianse & Abdi (2009) mendeskripsikan angket sebagai suatu daftar yang berisikan rangkaian pertanyaan mengenai sesuatu masalah atau bidang yang akan diteliti. Angket yang digunakan dalam penelitian berdasarkan angket yang disusun oleh Awaludin (2007) dengan beberapa perubahan. Teknik dokumentasi dengan menggunakan alat bantu mekanis berupa kamera digital dan wawancara terstruktur dilakukan untuk melengkapi data primer yang dikumpulkan. Angket dan panduan wawancara terstruktur disajikan pada lampiran 1. Sedangkan, data sekunder berupa karateristik SMA Negeri sekolah diperoleh dengan mengumpulkan dan mengoleksi data-data (dokumen) yang berhubungan dengan
penelitian yang diperoleh dari sekolah dan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palangka Raya dan laman http://arsip-arsip-ppdb.com/kotapalangkaraya.
F. Metode Analisis Data
Analisis data merupakan tahapan penting dalam proses penelitian sehingga tujuan penyampaian informasi untuk memecahkan masalah dapat dipenuhi (Kuncoro, 2009). Analisis data yang digunakan untuk menjawab penelitian adalah analisis statistik deskriptif berupa analisis persentase dan tabulasi silang.
1. Analisis tabulasi deskriptif
Analisis tabulasi deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi dan menggambarkan keberadaan ketersediaan media pembelajaran geografi SMA Negeri Palangka Raya. Data yang sama kemudian dikelompokan dan dipersentasekan. Persentase terbesar merupakan jawaban yang dominan dari masing-masing karakter yang dikumpulkan.
= 100%
Dimana:
DP : deskriptif persentase (%)
n : skor empirik atau skor yang diperoleh N : Skor ideal/jumlah total nilai
Tabel 3. Klasifikasi kelengkapan media pembelajaran geografi.
Skor Presentase (%) Kriteria
4 76–100 Sangat lengkap
3 51–75 Lengkap
2 26–50 Kurang lengkap
1 0–25 Tidak lengkap
Sumber: Ali (1993) yang dikutip oleh Awaludin (2007). Tabel 4. Klasifikasi penentuan kualitas.
Skor Interval Kriteria
2 ≥ ̅ + Bagus
1 < ̅ + Kurang bagus
Kelengkapan media pembelajaran geografi diklasifikasikan menjadi empat kelas dengan interval kelas sebesar 25% (Tabel 3). Klasifikasi penentuan kualitas UN SLTP, tingkat persaingan, prestasi akademik di bidang geografi, dan sekolah digunakan pengklasifikasian metode purata (Tabel 4). Penentuan kualitas sekolah didasarkan pada purata nilai UN minimum untuk diterima di SMA Negeri bersangkutan dan tingkat persaingan (daya tampung dibagi dengan jumlah peminat), dan prestasi akademik di bidang geografi selama lima tahun terakhir. 2. Tabulasi silang
Analisis tabulasi silang digunakan untuk menggambarkan kualitas media pembelajaran geografi. Tabulasi silang (Crosstabs) adalah metode mentabulasi beberapa peubah yang berbeda ke dalam suatu matriks yang hasilnya disajikan dalam suatu tabel dengan peubah yang tersusun dalam baris dan kolom (Indratno & Irwinsyah, 1998). Tabel silang atau tabulasi silang memperlihatkan hubungan antar dua atau lebih peubah secara bersamaan. Tabel silang memadukan distribusi frekuensi dari dua atau lebih peubah dalam satu tabel (Indratno & Irwinsyah, 1998; Sumarwan, 2012). Analisis tabulasi silang yang digunakan dalam penelitian ini adalah Crosstabs-chi square untuk menguji hubungan antar peubah data ordinal. Prosedur analisis tabulasi silang merujuk pada Indratno dan Irwinsyah (1998); Sumarwan (2012) dengan bantuan perangkat lunak SPSS 18.0 (SPSS, 2009) dengan panduan yang dikembangkan oleh Abdullah & Sutanto (2015).
25
Delapan SMA Negeri di Kota Palangka Raya disigi dari Bulan Agustus sampai September 2015. Rentang usia sekolah berkisar dari 1 – 56 tahun. SMA Negeri 1 merupakan SMA tertua di Kota Palangka Raya sekaligus sekolah terbesar di Kota Palangka Raya (jumlah guru dan jumlah siswa). SMA-SMA Negeri yang telah berusia > 20 tahun memiliki guru > 50 orang (Tabel 3). Sedangkan SMA Negeri 8 adalah SMA dengan jumlah guru paling sedikit. Adapun jumlah guru mata pelajaran geografi yang memenuhi syarat minimal di sekolah adalah SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 3 (Tabel 3). Sisanya jumlah gurunya < 3. Empat SMA Negeri di Kota Palangka Raya memiliki jumlah siswa hampir 1.000 siswa dan memiliki jurusan yang paling lengkap. Ada dua SMA Negeri di Kota Palangka Raya yang jumlah siswanya < 100 siswa, yaitu SMA Negeri 8 dan SMA Negeri 10. Ringkasan karakteristik SMA Negeri contoh disajikan pada Tabel 5. Adapun data selengkapnya disajikan pada Lampiran 2.
SMA Negeri di Kota Palangka Raya pada umumnya memiliki akreditasi yang baik (Gambar 3). Bahkan lima SMA Negeri di Kota Palangka Raya memiliki peringkat akreditasi yang sangat baik atau A. Kelima SMA Negeri tersebut merupakan SMA Negeri Negeri tua yang telah lama berdiri (berdiri sebelum tahun 2000) dan memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang lengkap. Sedangkan, dua SMA Negeri contoh berikutnya memiliki peringkat akreditasi yang baik atau B. Hanya satu SMA Negeri di Kota Palangka Raya yang belum terakreditasi karena baru dibuka (2014) dan belum meluluskan peserta didiknya.
Penentuan kualitas sekolah didasarkan pada tiga kriteria, yaitu: 1) purata nilai ujian nasional (UN) SLTP; 2) tingkat persaingan yang menyatakan perbandingan antara daya tampung dengan jumlah pendaftar; dan 3) prestasi akademik di bidang mata pelajaran geografi. Perhitungan penentuan kualitas sekolah disajikan pada Lampiran 3. Kualitas SMA Negeri di Palangka Raya berdasarkan kriteria tersebut menunjukan bahwa sebagian besar SMA Negeri di Palangka Raya memiliki kualitas yang kurang bagus. Hanya tiga SMA negeri
yang dikategorikan sebagai sekolah yang berkualitas. Ketiga SMA Negeri itu adalah SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, dan SMA Negeri 5 (Gambar 4).
Tabel 3. Sebaran karakteristik SMA negeri di Palangka Raya1).
Nama Sekolah NPSN Tahun berdiri Jumlah guru Jumlah guru geografi Jumlah jurusan Jumlah siswa2) SMAN 1 30203479 1959 85 4 3 1.259 SMAN 2 30203478 1983 83 2 3 1.023 SMAN 3 30203477 1986 77 3 3 959 SMAN 4 30203488 1994 74 2 3 1.067 SMAN 5 30203489 1995 38 1 2 367 SMAN 6 30203500 2002 33 2 2 292 SMAN 8 30205406 2010 7 1 2 32 SMAN 10 69888826 2014 21 1 2 20
Keterangan: 1)arsip-arsip-ppdb.com/kotapalangkaraya;2)data sekolah tahun 2014.
Gambar 4. Sebaran status kualitas SMA negeri di Palangka Raya.
SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 2 merupakan SMA favorit dan senior di Palangka Raya. Sebagai sekolah favorit dan senior maka kedua sekolah tersebut menjadi tujuan utama siswa-siswa terbaik dari SLTP di Palangka Raya. Kedua SMA tersebut memiliki seleksi yang ketat dan tingkat persaingan yang tinggi (Tabel 4). Sedangkan, SMA Negeri 5 merupakan sekolah yang dikembangkan oleh Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) sebagai sekolah unggulan. SMA Negeri 5 merupakan salah satu sekolah berasrama di Palangka Raya dengan dukungan fasilitas dan pendanaan Provinsi Kalteng. Siswa-siwa yang terdaftar di sekolah ini merupakan siswa-siswa pilihan dengan seleksi yang ketat dan mensyaratkan nilai baku masuk yang tinggi (Tabel 4).
Proses seleksi dan sistem pendidikan yang berkualitas menghasilkan siswa-siswa dengan prestasi akademik yang tinggi. SMA Negeri 5 memiliki prestasi akademik siswa di bidang mata pelajaran geografi yang bagus. Siswa-siswa SMA negeri 5 sering memperoleh prestasi akademik yang bagus pada perlombaan baik tingkat daerah maupun provinsi. SMA negeri berikutnya yang memiliki prestasi akademik di bidang geografi adalah SMA Negeri 2, disusul oleh SMA Negeri 4, SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 3 (Tabel 4).
Tabel 4. Sebaran nilai peubah penentu kualitas SMA Negeri contoh.
Nama
Sekolah Nilai UN masuk 1) Persaingan Prestasi akademik di bidang mapel geografi (nilai)2) SMAN 1 7,88 ± 0,11 (n=4)3) 1 : 4,33 11 SMAN 2 8,20 ± 0,10 (n=3) 1 : 2,45 17 SMAN 3 7,59 ± 0,17 (n=4) 1 : 3,74 TA SMAN 4 7,32 ± 0,12 (n=3) 1 : 3,28 17 SMAN 5 8,00 ± 0,24 (n=3) 1 : 2,48 47 SMAN 6 6,99 ± 0,41 (n=3) 1 : 0,93 1 SMAN 8 TA TA TA SMAN 10 TA TA TA
Keterangan: 1) nilai purata nilai UN untuk dapat masuk di SMAN tersebut;2) jumlah
piala yang diperoleh dalam perlombaan pada mata pelajaran (mapel)
geografi dalam empat tahun terakhir; 2) jumlah data tahunan yang
tersedia. TA = tidak ada data.
Gambar 5. Sebaran status kelengkapan media pembelajaran geogarfi sekolah contoh
Kelengkapan media pembelajaran geografi pada SMA-SMA negeri di Kota Palangka Raya secara umum menunjukan kriteria kurang lengkap. Hanya ada satu SMA negeri yang menunjukan media pembelajaran geografi yang lengkap. Sisanya atau mayoritas kelengkapan media pembelajaran geografi di SMA negeri
di Kota Palangka Raya dalam kondisi kurang lengkap (Gambar 5). SMA Negeri 2 Palangka Raya merupakan SMA negeri dengan kelengkapan media pembelajaran geografi yang paling bagus. SMA tersebut memiliki 29 jenis media pembelajaran geografi dari 55 total jenis media pembelajaran yang diperlukan untuk mendukung proses belajar mengajar mata pelajaran geografi (Tabel 5).
Meskipun secara umum kelengkapan medianya kurang lengkap. Namun demikian, beberapa SMA Negeri di Kota Palangka Raya yang memiliki jumlah media pembelajaran geografi >20 atau lebih dari sepertiga dari keseluruhan media pembelajaran geografi yang diperlukan. Kelengkapan media pembelajaran geografi di masing-masing SMA negeri adalah SMA Negeri 6 (26), SMA Negeri 2 (23), dan SMA Negeri 4 (21). SMA Negeri 10 merupakan SMA negeri dengan kepemilikan media pembelajaran geografi paling sedikit sehingga dikategorikan dalam kepemilikan media pembelajaran geografi yang tidak lengkap.
Media pembelajaran geografi untuk pendukung pembelajaran geografi materi 1 tentang konsep, pendekatan, prinsip dan aspek geografi berupa VCD tidak dimiliki oleh seluruh SMA Negeri di Palangka Raya. Secara umum media pembelajaran geografi berupa VCD ataupun perangkat lunak tidak dimiliki oleh SMA-SMA negeri di Palangka Raya, dan peralatan laboratorium (Lampiran 5). Tabel 5. Sebaran jumlah jenis media pembelajaran geografi SMA Negeri
contoh. Nama Sekolah Materi1) Total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 102) SMAN 1 0 (1) 1 (5) 3 (13) 1 (6) 1 (3) 2 (10) 1 (3) 2 (4) 2 (4) 6 (6) 19 (55) SMAN 2 0 (1) 1 (5) 0 (13) 5 (6) 3 (3) 7 (10) 1 (3) 2 (4) 4 (4) 6 (6) 29 (55) SMAN 3 0 (1) 1 (5) 5 (13) 4 (6) 2 (3) 3 (10) 1 (3) 1 (4) 2 (4) 4 (6) 23 (55) SMAN 4 0 (1) 2 (5) 5 (13) 0 (6) 1 (3) 1 (10) 0 (3) 3 (4) 3 (4) 5 (6) 21 (55) SMAN 5 0 (1) 2 (5) 0 (13) 2 (6) 1 (3) 3 (10) 1 (3) 2 (4) 0 (4) 5 (6) 16 (55) SMAN 6 0 (1) 3 (5) 5 (13) 1 (6) 2 (3) 5 (10) 1 (3) 2 (4) 1 (4) 5 (6) 26 (55) SMAN 8 0 (1) 0 (5) 5 (13) 1 (6) 0 (3) 0 (10) 1 (3) 1 (4) 1 (4) 5 (6) 14 (55) SMAN 10 0 (1) 0 (5) 1 (13) 1 (6) 1 (3) 0 (10) 0 (3) 0 (4) 0 (4) 2 (6) 5 (55) Keterangan: 1)
materi pembelajaran yang harus disampaikan dalam kurikulum 2010 (KTSP);
2)
media pembelajaran pendukung secara umum. Nilai dalam kurung menunjukan jumlah jenis minimal media pembelajaran yang harus tersedia dalam mendukung pembelajaran geografi untuk setiap materi.
B. Hubungan antara Akreditasi Sekolah dengan Kelengkapan Media