• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3.5 Metode Analisis Data

Dalam penelitian ini digunakan tiga metode analisis data pada tiga tahap penelitian sehingga sampel yang digunakan berbeda-beda sesuai dengan tujuan penelitian. Tahap penelitian secara rinci dapat dilihat pada gambar berikut ini:

41

Gambar 3.1 Tahap Penelitian dengan Tiga Alat Analisis Sumber: Diolah Penulis 2016

3.5.1 Analisis penerapan GAP dan GHP

Penentuan sampel petani pada analisis penerapan GAP dan GHP dilakukan dengan rumus Slovin. Petani yang dijadikan sampel merupakan anggota Asosiasi Prima Sembada yang terdiri dari 34 kelompok tani dan Asosiasi Mitra Turindo memiliki 10 kelompok tani. Dalam hal ini peneliti mengambil sampel sebanyak 312 petani (seperti perhitungan di atas).

Tahap awal penelitian ini yaitu melakukan analisis dalam penerapan GAP dan GHP berdasarkan hasil analisis kuesioner skala Likert. Kuesioner ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar penerapan GAP dan GHP Salak

Analisis Penerapan GAP dan GHP Kuesioner Skala

Likert

Pareto Diagram Analisis Mutu Salak

Gagal Ekspor

Fishbone Diagram

Rekomendasi Perbaikan Mutu Akar Permasalahan

Utama Mutu Salak Gagal Ekspor

Penyebab permasalahan mutu

42

Pondoh yang telah dilakukan di Kabupaten Sleman. Kuesioner ini diberikan kepada 312 petani,di kelompok tani. Responden yang berjumlah 312 orang tersebut terdiri dari petani, ketua kelompok tani dan ketua asosiasi. Karena sebagian petani juga berperan dalam proses pasca panen seperti ketua kelompok tani dan ketua asosiasi. Data yang telah diperoleh ditabulasi lalu dihasilkan tabel penerapan GAP dan GHP dari 312 responden, kemudian dilakukan analisis untuk ditentukan besarnya presentase perlakuan tiap-tiap tahapan sehingga dapat diketahui kesimpulannya. Analisis dilakukan pada semua tahapan sehingga peneliti dapat mengetahui bagaimana penerapan GAP dan GHP yang telah dilakukan petani, kelompok tani dan asosiasi Salak Pondoh Kabupaten Sleman serta permasalahan-permasalahan yang terjadi selama proses penanganan penjagaan mutu Salak Pondoh.

Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner skala Likert. Skala likert menggunakan beberapa butir pernyataan untuk mengukur perilaku individu dengan merespon 5 titik pilihan pada setiap butir pernyataan, sangat setuju, setuju, tidak memutuskan, tidak setuju, dan sangat tidak setuju (Likert, 1932 dalam Budiaji, 2013). Kuesioner yang dibuat berpedoman pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 48/Permentan/OT.140/2009 tentang tata pelaksanaan GAP dan GHP dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 61/Permentan/OT.160/2006. Kuesioner ini berupa sejumlah pertanyaan dengan pilihan jawaban Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Netral (N), Setuju (S), Sangat Setuju (SS) atau jawaban dengan jenis skala yaitu skala 1 (tidak pernah), 2 (pernah), 3 (kadang-kadang), 4 (sering), 5 (sangat sering). Kuesioner skala Likert ini berguna untuk

43

mengetahui sejauh mana keefektifan pelaksanaan GAP dan GHP yang dilakukan oleh petani. Data yang telah diperoleh ditabulasi berdasarkan skor yang diberikan pada pilihan jawaban yaitu:

1. Sangat Tidak Setuju (STS)/tidak pernah diberi skor 1 2. Tidak Setuju (TS)/pernah diberi skor 2

3. Netral (N)/kadang-kadang diberi skor 3 4. Setuju (S)/sering diberi skor 4

5. Sangat Setuju (SS)/sangat sering diberi skor 5

Interval (jarak) dan interpretasi persen untuk mengetahui penilaian dengan metode Interval skor persen (I) adalah:

I = 100/Jumlah skor (likert) Maka I = 100/5

= 20 (ini adalah interval dari jarak terendah 0% hingga tertinggi 100%) Berikut kriteria interpretasi skor berdasarkan interval:

1. Angka 0% - 19.99% = sangat tidak setuju 2. Angka 20% - 39.99% = tidak setuju 3. Angka 40% - 59.99% = cukup/netral 4. Angka 60% - 79.99% = setuju 5. Angka 80% - 100% = sangat setuju

Setelah responden menjawab pertanyaan pada kuesioner, langkah selanjutnya yaitu menentukan jumlah skor yang di dapat pada setiap pertanyaan dengan rumus:

44

T x Pn T = Total jumlah responden yang memilih Pn = Pilihan angka skor likert

Langkah selanjutnya yaitu menentukan hasil interpretasi, dengan mengetahui skor tertinggi (X) dan angka terendah (Y) dengan rumus sebagai berikut:

Y = Skor tertinggi x jumlah responden X = Skor terendah x jumlah responden Index % = Total skor/Y x 100

Setelah mendapatkan indeks % dari hasil jawaban responden, maka langkah selanjutnya yaitu menentukan kriteria interpretasi skor berdasarkan interval seperti yang telah tercantum diatas. Proses dengan indeks skor yang berada pada interval cukup, dianggap perlu perhatian secara serius. Interval cukup artinya cukup banyak pula responden yang tidak dapat mengadopsi setiap proses GAP dan GHP dengan baik.

Langkah terakhir yaitu melakukan analisis berdasarkan besarnya presentase perlakuan tiap-tiap tahapan sehingga dapat diketahui kesimpulannya. Analisis dilakukan pada semua tahapan panen dan pasca panen, sehingga peneliti dapat mengetahui bagaimana penerapan GAP dan GHP yang telah dilakukan petani, serta permasalahan-permasalahan mengenai pelaksanaannya. Contoh kuesioner yang akan disebar dapat dilihat pada Lampiran I.

Pengamatan penerapan GAP dan GHP dengan kuesioner skala Likert hanya dilakukan di tingkat petani untuk mengetahui sejauh mana petani

45

menerapkan sistem GAP dan GHP, apa saja kendala mereka, dan pelanggaran-pelanggaran yang biasa mereka lakukan.

3.5.2 Analisis mutu salak gagal ekspor

Penentuan sampel Salak Pondoh untuk analisis pareto dilakukan dengan metode sensus. Sampel yang diambil adalah buah Salak Pondoh yang berada di asosiasi dan telah mengalami perlakuan pascapanen di tingkat asosiasi namun gagal untuk diekspor (reject). Semua buah salak gagal ekspor diteliti, kemudian dianalisis dengan menggunakan metode Pareto untuk mengetahui penyebab salak tersebut tidak memenuhi persyaratan pengiriman.

Diagram Pareto digunakan untuk menentukan penyebab masalah pada Salak Pondoh Kabupaten Sleman setelah melalui tahapan GAP dan GHP. Dengan menggunakan diagram Pareto akan diperoleh urutan permasalahan mutu salak yang ditemukan di tingkat petani dan asosiasi, misalnya buah gagal didistribusikan atau buah dikembalikan oleh eksportir kepada asosiasi. Selanjutnya dari urutan-urutan tersebut akan diketahui penyebab dominan yang menyebabkan permasalahan tersebut. Penyebab dominan tersebut akan menjadi prioritas penanganan untuk mendapatkan peningkatan mutu sebesar 80% dengan meyelesaikan 20% masalah yang ada, sesuai dengan prinsip Pareto. Pengambilan sampel salak untuk analisa menggunakan diagram pareto akan dilakukan di tingkat asosiasi yaitu pada tahapan akhir setelah penerapan GHP (pada saat salak siap dipasarkan). Salak yang mengalami masalah untuk dikirim atau sesudah dikirim akan dianalisis lebih lanjut.

46

3.5.3 Analisis pakar salak

Penentuan pakar untuk analisis fishbone dilakukan dengan memilih orang-orang yang telah ahli dalam menangani agribisnis salak Pondoh Kabupaten Sleman, khususnya di bidang pascapanen buah. Dalam penelitian ini pakar yang digunakan meliputi Petugas Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Petugas Penyuluh Lapangan serta pelaku usaha Salak Pondoh Kabupaten Sleman (ketua Kelompok Tani, ketua Asosiasi dan kepala Packing House).

Diagram Fishbone digunakan untuk mengidentifikasi akar permasalahan utama pada Salak Pondoh di Kabupaten Sleman setelah melalui tahapan GAP dan GHP. Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya mutu Salak Pondoh akan dianalisis menggunakan diagram fishbone untuk dicari akar penyebabnya. Analisis dilakukan dengan menggunakan teknik brainstorming dengan pakar yaitu pihak-pihak yang terlibat dan mengetahui dengan baik penerapan penanganan pascapanen Salak Pondoh di Kabupaten Sleman, yaitu petani, kelompok tani dan asosiasi, serta petugas dari Dinas Pertanian Sleman. Setelah mengetahui penyebab penyimpangan mutu Salak Pondoh, rekomendasi perbaikan mutu dapat disusun berdasarkan hasil penelitian dan diskusi dengan pihak yang terlibat dalam penerapan GAP dan GHP Salak Pondoh.

Dokumen terkait