METODE PENELITIAN
3.2 Metode Pengumpulan Data
3.2 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data didapatkan dari tiga proses, yaitu observasi partisipasi, wawancara dan dokumen.
3.2.1 Observasi Partisipasi
Dalam penelitian ini, observasi yang digunakan adalah observasi partisipasi yaitu peneliti menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan serta terlibat dalam aktivitas informan. Peneliti terjun langsung ke Kecamatan Turi, Sleman, Yogyakarta untuk melihat proses penjagaan kualitas yang dilakukan oleh asosiasi petani. Peneliti juga melakukan pengelompokan buah berdasarkan ukurannya (grading) secara langsung untuk mengetahui lebih jauh proses pengelompokan yang selama ini dilakukan petani. Melalui pengamatan dan praktek, peneliti menulis faktor apa saja yang membuat Salak Pondoh menjadi gagal ekspor walaupun sudah menerapkan GAP.
Lokasi dalam melakukan observasi terbagi menjadi tiga, yaitu:
3.2.1.1 Observasi pada lahan produksi yang dilakukan pada pagi dan siang hari. Tujuan observasi ini adalah untuk mendapatkan data mengenai penanaman (jika ada), pemeliharaan, pemetikan buah dan pengemasan awal yang dilakukan oleh petani.
3.2.1.2 Observasi pada gudang yang dilakukan pada pukul 10.00 WIB di Asosiasi Prima Sembada untuk mendapatkan data penanganan pasca panen sampai dengan dikirim ke eksportir. Alasan memilih Asosiasi Pirma Sembada sebagai asosiasi yang diobservasi karena asosiasi tersebut merupakan Asosiasi petani Salak Pondoh terbesar di Kabupaten Sleman yang
34
mencakup semua kegiatan dari petani. Observasi yang dilakukan di Asosiasi Prima Sembada dilakukan untuk mendapatkan data mengenai sortasi lanjutan sampai dengan pemasukan keranjang buah ke truk buah dan dikirim ke Tangerang.
3.2.1.3 Tempat rapat bulanan yaitu bisa dimana saja, namun lebih sering dilakukan di rumah Ketua Asosiasi. Rapat bulanan dilakukan setiap Jumat Legi setiap bulan pukul 14.00 WIB untuk Asosiasi Prima Sembada. Obsesrvasi pada rapat ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai evaluasi kinerja selama sebulan, menampung kritik dan saran dari petani, dan merumuskan kegiatan selanjutnya yang perlu dilakukan dan/atau diperbaiki.
3.2.2 Wawancara
Peneliti melakukan wawancara dengan petani dan pedagang pengumpul yang ada di Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Selain itu peneliti juga melakukan wawancara dengan ketua kelompok tani, ketua kelompok asosiasi petani, petugas penyuluh lapangan, petugas Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, serta pihak-pihak lain yang terkait dalam penelitian ini. Hal ini bertujuan untuk memperolah informasi dan data secara luas dan menyeluruh langsung dari pihak-pihak yang benar-benar mengerti tentang penerapan dan perkembangan GAP dan GHP untuk Salak Pondoh. Adapun pedoman wawancara dalam penelitian ini adalah:
3.2.2.1 Wawancara mendalam dengan petani dan pedagang pengumpul untuk mendapatkan data awal mengenai permasalahan dasar gagal ekspor Salak
35
Pondoh. Peneliti mengharapkan petani dapat mengemukakan pendapat dan kesulitan mereka dalam menerapkan GAP dan GHP agar permasalahan tersebut dapat ditelusuri penyebab awalnya.
3.3.2.2 Wawancara mendalam dengan ketua kelompok tani, ketua asosiasi dan petugas penyuluh lapangan mengenai pelaksanaan pasca panen Salak Pondoh. Wawancara ini lebih fokus kepada tata cara perlakuan terhadap Salak Pondoh pasca panen atau mengenai penerapan GHP. Pertanyaaan akan mengarah pada kegiatan yang dilakukan petani setelah pemetikan, dibawa ke packing house kemudian siap di ekspor. Dari wawancara ini diharapkan peneliti dapat mengetahui kendala petani dan pihak terkait dalam memenuhi standar GHP. Langkah selanjutnya yaitu mencocokkan informasi awal yang di dapat dari petani, ketua kelompok tani, ketua asosiasi, dan petugas Dinas Pertanian Kabupaten Sleman mengenai permasalahan yang sering ditemui yang menjadi penyebab gagal ekspor serta menampung saran mereka tentang perbaikan ke depannya.
Beberapa pertanyaan inti yang akan ditanyakan ketika wawancara nanti adalah:
1. Apakah kepemilikan lahan memiliki status yang jelas?
2. Apakah lahan tanaman Salak Pondoh bisa tercemari melalui irigasi dari rumah warga?
3. Jenis bibit apa yang digunakan petani di Asosiasi Prima Sembada?
4. Apakah penanggulangan hama dan penyakit untuk Salak Pondoh masih menggunakan bahan-bahan kimia?
36
5. Apakah petani telah memahami teknik budidaya Salak Pondoh menggunakan metode GAP?
6. Apakah proses pasca panen yaitu pembersihan, penyortiran, penimbangan, dan pengemasan dilakukan sesuai dengan GHP?
7. Apa saja yang telah dilakukan asosiasi dan pihak Dinas Pertanian dalam melatih petani untuk dapat menanam dan memanen buah dengan cara yang benar?
8. Apa saja tindakan dari dinas setempat untuk membina petani agar menghasilkan buah dengan kualitas tinggi dan berkelanjutan?
9. Apa kendala terberat dalam melaksanakan setiap proses kegiatan tersebut? 10. Apakah petani melakukan pencatatan di setiah proses kegiatan?
11. Bagaimana antusias petani terhadap penerapan GAP dan GHP yang telah menjadi persyaratan dalam ekspor buah?
12. Apa keluhan terbanyak dari petani mengenai pelaksanaan GAP dan GHP di lapangan?
13. Apa pengaruh yang dirasakan petani ketika sebelum dan sesudah menerapkan GAP dan GHP? Bagaimana perbedaannya?
14. Apa pengaruh penerapan GAP dan GHP untuk mengurangi gagal ekspor yang terjadi di Turi ini?
15. Apa saja solusi atau keinginan petani ke depannya agar penerapan GAP dan GHP ini semakin membaik untuk dapat mengurangi gagal ekspor? 3.2.2.3 Target hasil wawancara ini adalah peneliti mendapatkan informasi
37
siap untuk di ekspor ke Tiongkok. Tahapan-tahapan yang diceritakan petani tersebut di analisis untuk mengetahui di bagian tahap mana petani mendapat kesulitan dalam penerapannya. Peneliti akan membandingkan hasil panen buah yang dapat di ekspor pada saat tidak diterapkannya GAP dan GHP dengan setelah penerapan sistem ini. Analisis wawancara ini diharapkan dapat membantu peneliti dalam mengetahui pengaruh penerapan GAP dan GHP, mengetahui faktor-faktor utama penyebab gagal ekspor dan merumuskan tahapan selanjutnya untuk mengurangi gagal ekspor tersebut. Peneliti akan mencocokkan keluhan petani dengan solusi yang dapat diberikan ke depannya.
3.2.3 Dokumen
Adapun sumber data dokumen yang diperoleh adalah pencatatan perkembangan buah Salak Pondoh yang dimiliki asosiasi petani dan data file yang dimiliki oleh Dinas Pertanian Kabupaten Sleman yang berhubungan dengan fokus penelitian. Data yang dibutuhkan antara lain adalah data produksi salak, luas area, kegiatan-kegiatan penanganan pascapanen, penyimpangan mutu, data salak yang
reject, serta permasalahan yang terjadi dalam penerapan GAP dan GHP sehingga
menyebabkan mutu salak menjadi menurun. Data produksi salak dan luas area dibutuhkan agar peneliti mengetahui jumlah salak yang diproduksi dalam setahun dan melihat perkembangan salak. Pencatatan yang telah dilakukan petani akan menjadi panduan peneliti untuk mengetahui lebih dalam mengenai permasalahan yang sering terjadi selama ini.