• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : Metode Penelitian

H. Prosedur Pelaksanaan Eksperimen

I. Metode Analisis Data

Treatment dalam test ini terdiri dari 4 gambar peringatan merokok, dicetak pada kertas ukuran 5x2 cm dan 5x7 cm sesuai dengan bungkus rokok dan di tempel di bungkus rokok. Treatment berisi gambar bertema seram dan unik.

Subjek diberikan semua gambar secara bergantian, satu gambar diberikan waktu 20 detik untuk dilihat dan diberikan tanggapan mengenai gambar tersebut.

Kemudian, subjek diminta untuk menjawab pertanyaan yang tertera di kertas kuesioner yang telah disediakan. Skoring dilakukan dengan menghitung bagaimana persepsi subjek apakah positif atau negatif terhadap peringatan visual merokok.

Metode analisis data yang digunakan peneliti adalah uji Repeated Measures ANOVA dengan menggunakan bantuan program aplikasi komputer SPSS 16.0 for windows evaluation version. Tujuan dari penggunaan metode analisis data ini adalah untuk menentukan apakah terdapat perbedaan signifikan persepsi subjek terhadap masing-masing gambar yang diberikan secara statistik

antara dua kelompok atau lebih pada variabel independent terhadap variabel dependent dengan data ordinal.

Taraf kepecayaan dalam penelitian ini adalah sebesar 95%. Jadi alpha yang digunakan adalah 0.05. Jika signifikansi yang didapat dari hasil uji statistika bernilai lebih kecil dari nilai alpha, maka hipotesis peneliti diterima. Sebaliknya, jika signifikansi lebih besar dari alpha maka hipotesis peneliti ditolak.

BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN

Bab ini akan menguraikan keseluruhan hasil penelitian yang diawali dengan menyajikan gambaran umum subjek penelitian, kemudian akan dilanjutkan dengan analisa data, interpretasi, dan pembahasan hasil penelitian.

A. Analisis Data Penelitian

1. Gambaran Umum Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini berjumlah 300 orang konsumen rokok di kota Medan yang merupakan perokok aktif. Berdasarkan angket yang disebarkan, maka diperoleh gambaran umum subjek berdasarkan pendidikan, usia, dan lama merokok.

a. Berdasarkan Pendidikan Subjek

Karakteristik subjek berdasarkan pendidikan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1 berikut :

Tabel 1. Penyebaran Subjek Berdasarkan Pendidikan

Pendidikan N Persentase

SMA dan sederajat 103 34,3 %

DII 16 5,3 %

DIII 13 4,3 %

S1 168 56 %

Total 300 100 %

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa subjek yang digunakan dalam penelitian ini mayoritas berpendidikan S1 yaitu sebanyak 168 orang (56 %), lalu subjek yang berpendidikan SMA sederajat sebanyak 103 orang (34,3 %), selanjutnya subjek yang berpendidikan DII sebanyak 16 orang (5,3 %), dan yang terakhir subjek DIII sebanyak 13 orang (4,3 %).

b. Berdasarkan Lama Merokok Subjek

Karakteristik subjek berdasarkan lama merokok dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3 berikut :

Tabel 2. Penyebaran Subjek Berdasarkan Lama Merokok

Lama Merokok N Presentase

1 Tahun 107 35,6 %

1,5 Tahun 15 17 %

2 Tahun 108 36 %

2,5 Tahun 3 1 %

≥ 3 Tahun 31 10,3 %

Total 300 100%

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa subjek penelitian mayoritas adalah yang merokok 2 tahun yaitu sebanyak 108 orang (36 %), kemudian lama merokok 1 tahun yaitu sebanyak 107 orang (35,6 %), lama merokok 1,5 tahun sebanyak 51 orang (17 %), lalu lama merokok sama dengan atau lebih dari 3 tahun sebanyak 31 orang

(10,3 %), dan terakhir lama merokok 2,5 tahun sebanyak 3 orang (1 %).

2. Hasil Penelitian

a. Hasil Utama Penelitian

1. Gambaran Umum Persepsi Konsumen

Dalam variabel persepsi konsumen, data yang didapat dari responden dapat dilihat pada tabel 4 dan 5 berikut :

Tabel 3. Jumlah Pemilih Peringatan Merokok yang Bertema Seram dengan Ukuran Berbeda

TSSedang

Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Suka 50 16.7 16.7 16.7

Biasa Saja 174 58.0 58.0 74.7

Tidak Suka 76 25.3 25.3 100.0

Total 300 100.0 100.0

Berdasarkan tabel 3 tersebut, dapat dilihat bahwa mayoritas responden penelitian yang memilih biasa saja pada peringatan merokok bertema seram dengan ukuran sedang yaitu sebanyak 174 (58%), kemudian responden yang memilih tidak suka sebanyak 76 (25,3%) dan jumlah responden yang memilih suka sebanyak 50 (16,7%).

Pada gambar bertema seram dengan ukuran besar terlihat bahwa mayoritas responden penelitian yang memilih tidak suka yaitu sebanyak 219 (73%), kemudian responden yang memilih biasa saja sebanyak 57 (19%) dan jumlah responden yang memilih suka sebanyak 24 (8%).

Kemudian pada gambar bertema seram dengan ukuran kecil terlihat bahwa mayoritas responden penelitian yang memilih biasa saja yaitu sebanyak 177 (59%), kemudian responden yang memilih suka sebanyak 77 (25,7%) dan jumlah responden yang memilih tidak suka sebanyak 46 (15,3%).

Tabel 4. Jumlah Pemilih Peringatan Merokok yang Bertema Lucu dengan Ukuran Berbeda

TLSedang

Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Suka 142 47.3 47.3 47.3

Biasa Saja 138 46.0 46.0 93.3

Tidak Suka 20 6.7 6.7 100.0

Total 300 100.0 100.0

Berdasarkan tabel 4 tersebut, dapat dilihat bahwa mayoritas responden penelitian yang memilih suka pada peringatan merokok bertema lucu dengan ukuran sedang yaitu sebanyak 142 (47,3%), kemudian responden yang memilih biasa saja sebanyak 138 (46%) dan jumlah responden yang memilih tidak suka sebanyak 20 (6,7%).

TLBesar

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Suka 171 57.0 57.0 57.0

Biasa Saja 103 34.3 34.3 91.3

Tidak Suka 26 8.7 8.7 100.0

Total 300 100.0 100.0

TLKecil

Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Suka 128 42.7 42.7 42.7

Tidak Suka 152 50.7 50.7 93.3

Biasa Saja 20 6.7 6.7 100.0

Total 300 100.0 100.0

Pada gambar bertema lucu dengan ukuran besar terlihat bahwa mayoritas responden penelitian yang memilih suka yaitu sebanyak 171 (57%), kemudian responden yang memilih biasa saja sebanyak 103 (34,3%) dan jumlah responden yang memilih tidak suka sebanyak 26 (8,7%).

Selanjutnya pada gambar bertema lucu dengan ukuran kecil terlihat bahwa mayoritas responden penelitian yang memilih tidak suka yaitu sebanyak 152 (50,7%), kemudian responden yang memilih suka sebanyak 128 (42,7%) dan jumlah responden yang memilih biasa saja sebanyak 20 (6,7%).

b. Uji Hipotesis Penelitian

1. Stimulus gambar peringatan merokok yang bertema seram dengan ukuran lebih besar akan menimbulkan persepsi negatif konsumen rokok

Pengujian hipotesis pertama pada penelitian ini yaitu melihat perbedaan persepsi konsumen terhadap peringatan merokok yang telah diubah ukuran gambarnya, menggunakan analisis uji Repeated Measures ANOVA. Dengan hasil sebagai berikut :

Tabel 5. Hasil Analisis Repeated Measures ANOVA.

Tests of Within-Subjects Contrasts Measure:MEASURE_1

Source factor1

Type III Sum

of Squares Df Mean Square F Sig.

factor1 Linear 5.415 1 5.415 15.555 .000

Quadratic 86.681 1 86.681 215.108 .000 Error(factor1) Linear 104.085 299 .348

Quadratic 120.486 299 .403

Untuk hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini, berdasarkan tabel hasil uji Repeated Measures ANOVA diatas dapat dilihat bahwa nilai sig (0,000) < 0.05 maka H0 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Stimulus gambar peringatan merokok yang lebih besar akan menimbulkan persepsi negatif konsumen rokok terhadap peringatan visual merokok di kota Medan.

Descriptive Statistics

Mean

Std.

Deviation N TSSedang 2.0867 .64333 300 TSBesar 2.6500 .62354 300 TSKecil 1.8967 .63298 300

Pada tabel descriptive statistics dapat dilihat bahwa gambar dengan ukuran besar memiliki mean tertinggi, sehingga dapat disimpulkan bahwa gambar dengan ukuran besar lebih menimbulkan persepsi negatif pada konsumen rokok di kota Medan.

2. Stimulus gambar peringatan merokok yang bertema lucu dengan ukuran lebih besar akan menimbulkan perepsi negatif pada konsumen rokok.

Untuk menguji hipotesis penelitian ini yaitu melihat perbedaan persepsi konsumen terhadap peringatan merokok yang telah diubah ukuran gambarnya, menggunakan analisis uji Repeated Measures ANOVA dengan hasil sebagai berikut :

Tabel 6. Hasil Analisis Repeated Measures ANOVA

Descriptive Statistics

Mean

Std.

Deviation N TLSedang 1.5933 .61309 300 TLBesar 1.5167 .65151 300 TLKecil 1.6400 .60411 300

Tests of Within-Subjects Contrasts Measure:MEASURE_1

Source factor1

Type III Sum

of Squares Df Mean Square F Sig.

factor1 Linear .327 1 .327 1.167 .281

Quadratic 2.000 1 2.000 7.800 .006

Error(factor1) Linear 83.673 299 .280

Quadratic 76.667 299 .256

Uji hipotesis dengan menggunakan teknik analisis Repeated Measures ANOVA, H0 akan diterima bila nilai probabilitas > 0.05, dan jika nilai probabilitas < 0.05 maka H0 akan ditolak. Berdasarkan tabel hasil uji Repeated Measures ANOVA diatas dapat dilihat bahwa nilai sig (0,281) > 0.05 maka H0 diterima.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Stimulus gambar peringatan merokok yang bertema lucu dengan ukuran besar tidak menimbulkan persepsi negatif konsumen rokok terhadap peringatan visual merokok di kota Medan. Pada tabel descriptive statistics dapat dilihat bahwa gambar dengan ukuran kecil memiliki mean tertinggi, sehingga dapat disimpulkan bahwa gambar dengan ukuran kecil lebih menimbulkan persepsi positif pada konsumen rokok di kota Medan.

B. Pembahasan

1. Persepsi Konsumen Rokok Terhadap Rokok di Kota Medan Ditinjau dari Ukuran Gambar dengan Tema Seram Iklan Peringatan Merokok.

Peringatan merokok yang dicantumkan pada kemasan rokok bertujuan untuk memberikan himbauan dan peringatan mengenai dampak apa saja yang dapat terjadi pada tubuh jika mengkonsumsi rokok. Sehingga peraturan untuk mencantumkan peringatan merokok disetiap kemasan rokok diatur oleh Dinas Kesehatan Republik Indonesia. Dari keseluruhan subjek penelitian yang berjumlah 300 orang konsumen rokok di kota Medan, terlihat bahwa kebanyakan frekuensi jawaban responden menyatakan tidak suka pada gambar peringatan merokok bertema seram yang ukurannya diubah menjadi lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa responden mempersepsikan bahwa gambar peringatan merokok yang bertema seram dan diubah ukuran gambarnya sebagai suatu hal yang negatif dan memaknai stimulus gambar tersebut menjadi sesuatu hal yang tidak disukai.

Untuk menguji hipotesis pertama yaitu, Stimulus gambar peringatan merokok yang lebih besar akan menimbulkan persepsi negatif konsumen rokok terhadap peringatan visual merokok di kota Medan. Nilai koefisien pada uji Repeated Measures ANOVA menunjukkan hasil yang lebih kecil (0,000) dari nilai koefisien (0,05) sehingga hipotesis ini diterima, artinya dari keseluruhan subjek penelitian yang terdiri dari konsumen rokok yang ada di kota Medan

menunjukkan persepsi negatif pada gambar peringatan merokok yang telah diubah ukurannya menjadi lebih besar.

Hasil yang didapat dari penelitian ini selaras dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Bouffard (2004), serta Dreze dan Hussherr (2002) yang membuktikan bahwa faktor ukuran gambar yang besar dapat mempengaruhi persepsi konsumen. Berdasarkan teori, ada tiga tahap dalam menciptakan persepsi menurut Hawkins, Mothersbaugh & Best (2007), yaitu pemaparan, perhatian, dan penafsiran. Pada hasil penelitian ini membuktikan bahwa ukuran gambar yang lebih besar dapat mempengaruhi persepsi konsumen terhadap gambar peringatan merokok dan memberikan persepsi negatif. Hal tersebut dikarenakan gambar peringatan merokok yang lebih besar akan memunculkan perhatian lebih pada konsumen sehingga dapat mempengaruhi bagaimana persepsi konsumen terhadap gambar peringatan merokok karena stimulus menjadi lebih mudah ditangkap oleh indera sebelum dipersepsikan.

Perasaan suka atau tidak suka yang ditunjukkan responden pada stimulus yang telah diberikan yaitu berupa gambar peringatan merokok berkaitan dengan emosi responden. Emosi bersifat kuat, dapat dikatakan sebagai perasaan yang tidak terkontrol yang mempengaruhi perilaku (Hawkins, Mothersbaugh & Best, 2007) emosi dapat diartikan sebagai perasaan yang spesifik, dapat diidentifikasi, dan perasaan mengenai aspek suka atau tidak suka dari perasaan yang spesifik tersebut. Berdasarkan penelitian ini, secara

frekuensi responden menunjukkan perasaan tidak suka lebih banyak dibandingkan suka terhadap stimulus berupa gambar peringatan merokok yang telah diubah gambarnya menjadi besar. Artinya, responden menunjukkan emosi negatif pada gambar peringatan merokok yang diubah ukuran gambarnya menjadi lebih besar.

Gambar peringatan merokok dengan tema seram yang ukurannya dibesarkan menarik perhatian responden untuk melihatnya lebih dalam lagi, dan pada akhirnya responden menunjukkan persepsinya terhadap stimulus yang diterimanya. Dan dari hasil wawancara personal peneliti dengan beberapa responden menunjukkan persepsi responden sebagai berikut:

“aku nggak pala suka nengok gambar paru-paru ini dari pertama keluar bang, kadang kukupas gambarnya dari bungkus rokoknya, ini dibesarkan pulak makin jijik lah aku nengoknya”

(Responden 3 (DII), komunikasi personal, 13 April 2017)

Responden kedua yang diwawancarai oleh peneliti berpendapat bahwa:

“yang kayak biasa-biasa aja lah bang nggak usah dibesarin kekgini, seram” (Responden 15 (SMA), komunikasi personal, 13 April 2017)

Selanjutnya, bagi responden yang mengaku biasa saja saat melihat gambar peringatan merokok yang diperbesar berpendapat:

“gimana bilangnya ya bang, awak ni perokok, kalo udah perokok sejati mau dibuat besar kecil pun nggak ngefek, karena pun udah tau aku resikonya bang, makanya biasa aja liatnya jadinya, kadang pun bukan diliat-liat langsung hisap aja rokoknya” (Responden 21 (S1), komunikasi personal, 13 April 2017).

Berdasarkan wawancara personal yang dilakukan peneliti kepada beberapa subjek penelitian, dapat dilihat bahwa subjek tidak menyukai gambar yang bertema seram jika dibesarkan karena jijik dan takut dengan gambar tersebut. Sementara bagi subjek yang mengatakan biasa saja, menganggap bahwa ketika perokok diberikan peringatan berupa gambar tidak memberi efek apapun karena merasa sudah tau resikonya dan terkadang gambar peringatan tersebut tidak dilihat lagi dan langsung menghisap rokoknya.

2. Persepsi Konsumen Rokok Terhadap Rokok di Kota Medan Ditinjau dari Ukuran Gambar dengan Tema Lucu Iklan Peringatan Merokok.

Berdasarkan penelitian ini, secara frekuensi responden menunjukkan perasaan suka lebih banyak dibandingkan tidak suka terhadap stimulus berupa gambar peringatan merokok yang telah diubah tema gambarnya menjadi lucu. Kemudian, yang paling menunjukkan perbedaan adalah gambar dengan ukuran paling kecil dibandingkan gambar lainnya jika dilihat dari mean yang diperoleh dari tabel descriptive statistics. Artinya, responden tidak menunjukkan persepsi negatif pada gambar peringatan merokok yang diubah tema gambarnya menjadi lucu dan gambar dengan tema lucu dapat dikatakan tidak mempengaruhi persepsi konsumen menjadi negatif namun malah disukai oleh konsumen.

Pada hipotesis kedua, H0 diterima. Hal tersebut dikarenakan hasil uji hipotesis menunjukkan nilai koefisien (0,281) lebih besar

daripada nilai koefisien (0,05) dan mengindikasikan bahwa Stimulus gambar peringatan merokok yang bertema lucu dengan ukuran besar tidak menimbulkan persepsi negatif konsumen rokok terhadap peringatan visual merokok di kota Medan. Artinya dari keseluruhan subjek, banyak yang menganggap bahwa iklan peringatan merokok yang diubah tema gambarnya menjadi lucu disukai dan menjadi tidak sesuai dengan konteks peringatan yang seharusnya bersifat tegas.

Peringatan merokok yang dicantumkan pada kemasan rokok bertujuan untuk memberikan himbauan dan peringatan mengenai dampak apa saja yang dapat terjadi pada tubuh jika mengkonsumsi rokok. Sehingga peraturan untuk mencantumkan peringatan merokok disetiap kemasan rokok diatur oleh Dinas Kesehatan Republik Indonesia. Namun berdasarkan penelitian ini, tema gambar peringatan merokok yang diubah menjadi lucu malah tidak sesuai dengan tujuan peringatan itu sendiri. Peringatan yang seharusnya bersifat tegas dan berisikan himbauan mengenai dampak merokok menjadi tidak efektif jika tema gambar peringatan merokok tersebut diubah menjadi lucu.

Peringatan dengan tema lucu malah disukai oleh konsumen rokok dan tidak memberikan persepsi negatif konsumen terhadap rokok itu sendiri.

Perasaan suka atau tidak suka yang ditunjukkan responden pada stimulus yang telah diberikan yaitu berupa gambar peringatan merokok berkaitan dengan emosi responden. Emosi bersifat kuat, dapat dikatakan sebagai perasaan yang tidak terkontrol yang

mempengaruhi perilaku (Hawkins, Mothersbaugh & Best, 2007) emosi dapat diartikan sebagai perasaan yang spesifik, dapat diidentifikasi, dan perasaan mengenai aspek suka atau tidak suka dari perasaan yang spesifik tersebut.

Gambar peringatan merokok dengan tema lucu yang ukurannya dibesarkan memang menarik perhatian responden untuk melihatnya lebih dalam lagi, dan pada akhirnya responden menunjukkan persepsinya terhadap stimulus yang diterimanya. Jika kembali dilihat pada tabel frekuensi, dapat dilihat bahwa kebanyakan subjek menjawab suka. Kemudian ditambah lagi dengan dari hasil wawancara personal peneliti dengan beberapa responden menunjukkan persepsi responden sebagai berikut:

“aneh sih sebenarnya, peringatan kok malah nggak bikin takut”

(Responden 40 (S1), komunikasi personal, 3 Mei 2017)

Responden kedua yang diwawancarai oleh peneliti berpendapat bahwa:

“kalo ini aku suka bang, misalnya gambar cewek cantiknya beragam bisa untuk dikoleksi pun hahahaha” (Responden 32 (SMA), komunikasi personal, 1 Mei 2017)

Berdasarkan wawancara personal yang dilakukan peneliti kepada beberapa subjek penelitian, dapat dilihat bahwa subjek menyukai gambar yang bertema lucu jika dibesarkan karena enak dipandang bahkan ada yang berkeinginan untuk mengoleksi gambar tersebut. Hal ini semakin menunjukkan bahwa gambar peringatan merokok dengan tema lucu malah tidak efektif dengan konteks sebagai peringatan merokok.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan data yang diperoleh dan dari hasil analisis yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Terdapat perbedaan frekuensi jawaban pada gambar peringatan merokok yang diubah ukurannya dengan tema gambar seram, dan gambar peringatan merokok yang diubah ukurannya dengan tema gambar lucu. Pada gambar peringatan merokok yang diubah ukurannya dengan tema seram, frekuensi jawaban terbanyak adalah jawaban tidak suka dibandingkan jawaban suka dan biasa saja.

Sedangkan pada gambar peringatan merokok yang diubah ukurannya dengan tema gambar lucu memiliki frekuensi jawaban suka lebih banyak dibandingkan tidak suka dan biasa saja.

2. Gambar perigatan merokok yang diubah ukuran gambarnya menjadi besar dengan tema seram memberikan persepsi negatif pada konsumen rokok di kota Medan. Hal ini ditunjukkan dengan hasil analisis data Repeated Measures ANOVA bahwa nilai sig (0,000) < 0.05 maka H0 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Stimulus gambar peringatan merokok yang lebih besar dengan tema seram akan menimbulkan persepsi negatif konsumen rokok terhadap peringatan visual merokok di kota Medan.

3. Gambar perigatan merokok yang diubah tema gambarnya menjadi lucu dengan ukuran besar tidak memberikan persepsi negatif pada konsumen rokok di kota Medan. Hal ini ditunjukkan berdasarkan tabel hasil uji Repeated Measures ANOVA diatas dapat dilihat bahwa nilai sig (0,281) > 0.05 maka H0 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Stimulus gambar peringatan merokok yang bertema lucu dengan ukuran besar tidak menimbulkan persepsi negatif konsumen rokok terhadap peringatan visual merokok di kota Medan.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan di atas maka dapat diberikan beberapa saran berikut ini:

1. Bagi Dinas Kesehatan

Dinas Kesehatan diharapkan untuk melakukan desain gambar peringatan merokok yang baru dengan ukuran lebih besar dan bertema seram agar dapat memunculkan persepsi negatif pada konsumen rokok atau yang ingin mencoba mengkonsumsi rokok.

2. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini memberikan informasi bahwa faktor ukuran dan tema gambar memberikan pengaruh pada persepsi konsumen dalam mempersepsikan gambar peringatan merokok. Oleh karena itu, diharapkan peneliti selanjutnya untuk dapat meneliti bagaimana sikap atau meneliti alasan yang lebih dalam lagi mengenai mengapa konsumen masih meneruskan perilaku rokok atau ingin mencoba mengkonsumsi rokok.

DAFTAR PUSTAKA

Aditama, T. Y. 1997. Rokok dan Kesehatan. Jakarta: UI Press

Al Bachri. 1991. Ada Apa dengan Rokok. http://sekolah indonesia.com. Diakses Tanggal 11 November 2016.

Arikunto, S. 1993. Manjemen Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo. Persada.

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta Armstrong sue, 2007. Pengaruh rokok terhadap kesehatan. Arcan, Jakarta.

Azwar, S. 2012. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Azwar, S. 2010. Sikap Manusia: teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Azwar, S. 2009. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Jakarta : Pustaka Pelajar.

Bustan, M. N. 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Cetakan 2 Rineka Cipta, Jakarta.

Dencheva, S. 2009. Effectiveness of Internet Advertising. 3rd Central European Conference in Regional Science.

Depkes. 2015. Inilah 4 Bahaya Merokok Bagi Kesehatan Tubuh. Dipetik Januari 19, 2017, dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

Depkes. 2014. Menkes: Tidak Ada Perpanjangan Waktu untuk PHW Semua Produk Tembakau yang Beredar di Indonesia Haru. Dipetik Januari 19, 2017, dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Feldman, R. S. 1999. Psychology, 7th-ed. McGraww-Hill Book Co. Boston-USA.

Frihartine, W. N. 2013. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pada siswa laki laki di sekolah menengah atas negeri 1. Skripsi. Stikes U’Budiyah Banda Aceh

Gerungan, W.A, 1996. Psikologi Sosial. Bandung. Eresco.

Ghozali, I. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang

Ginting, Rosnani. 2009. Keunikan produk. Graha Ilmu, Yogyakarta.

Hawkins, D. Mothersbaugh, D. & Best. R. 2007. Consument Behavior: Building Marketing Strategy. New York City: McGraw-Hill.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. [Online]. Tersedia di:

http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php. Diakses 24 Januari 2017.

Kementerian Kesehatan RI, 2010. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014. Jakarta.

Kuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa Sebuah Analisis Media Televisi.

Jakarta : Rhineka Cipta.

Latipun. 2011. Psikologi Eksperimen. Malang: UMM Press.

Levy, M.R. 2004. Life and Health. New York: Random House

Mahmudin. 2014. Persepsi Perokok Aktif Dalam Menanggapi Label Peringatan Bahaya Merokok. Skripsi. UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta.

Myers, A. & Christine, H. H. 2005. Experimental Psychology, 6th Edition. Wadsworth.

NS. 2016. Di Indonesia, Konsumsi Rokok Terus Meningkat. Dipetik Januari 19, 2017, dari Harian Analisa: http://news.analisadaily.com/read/di-indonesia-konsumsi-rokok-terus-meningkat/252882/2016/07/28

Perwitasari, R. 2006. Motivasi dan Perilaku Merokok Pada Mahasiswa Ditinjau Dari Locus of control dan External Locus of control. Skripsi. Universitas Negeri Semarang.

Riduwan. 2012. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan, dan Peneliti Pemula.

Bandung, Alfabeta

Sapnudin. 2016. Toko green world Indonesia. Dipetik September 14, 2016, dari Toko green world Indonesia: http://tokogreenworldindonesia.com/bahaya-merokok-bagi-kesehatan-tubuh/

Subanada. 2004. Rokok dan Kesehatan (Edisi Ketiga). Jakarta : UII Pres.

Tendra, H. 2003. Merokok dan Kesehatan. Diakses tanggal 10 Oktober 2016.

VOA. 2016. VOA Indonesia. Dipetik 14 Oktober 2016, dari VOA Indonesia:

http://www.voaindonesia.com/a/peringatan-merokok-tak-efektif-/3204375.html

Dokumen terkait