• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Telaah Pustaka

3. Metode Analisis Data

Metode analisis framing Robert N. Entman digunakan untuk menganalisis konten-konten yang masuk dalam kategori kontra radikalisme agama. Dengan metode analisis ini kita dapat mengetahui secara mendalam terkait peristiwa apa yang sesungguhnya terjadi dan aspek apa yang ditonjolkan dalam konten yang dimuat. Berikut penjelasan yang lebih mendalam terkait analisis faraming Robert N. Etman.

a. Teori Framing

Framing merupakan cara untuk melihat bagaimana realitas itu dibentuk dan dikonstruksikan ataupun disajikan oleh media. Hasilnya adalah adanya suatu bagian dari realitas yang lebih menonjol dan lebih dikenal, karena media khusus menampilkan hal tersebut. Pembaca lebih mudah mengingat hal khusus yang ada di dalam informasi yang diberikan media, ketimbang permasalahan yang sesungguhnya.25

Analisis framing merupakan metode analisis yang digunakan untuk melihat bagaimana media membingkai suatu peristiwa atau realitas dan dengan cara apa bingkai atau konstruksi itu dibentuk. Sebagai suatu bagian dalam analisis wacana, framing

25

Eriyanto, 2002, Analisis Framing: Konstruksi, ideologi, dan Politik Media, Yogyakarta: LKIS, hlm. 77.

dilakukan untuk menemukan perspektif media dalam wacana yang mereka munculkan. Dalam perspektifnya, media meengambil suatu fakta, menentukan bagian mana yang akan ditonjolkan ataupun dihilangkan, serta menentukan aran informasi tersebut disampaikan.26

Analisis framing berusaha untuk menentukan kunci-kunci tema dalam sebuah teks dan menunjukkan bahwa latar belakang budaya membentuk pemahaman terhadap suatu peristiwa. Dalam mempelakjari media, analisis ini menunjukan bagaimanan aspek-aspek struktur dan bahasa dalam penulisan berita akan mempengaruhi aspek-aspek yang lainnya. Sederhananya, analisis framing mencoba untuk membangung sebuah komunikasi (bahasa, visual, dan perilaku) dan menyampaikan kepada pihak lain atau menginterpretasikan dan mengklarifikasikan informasi baru. Melalui analisis ini, suatu pesan akan diartikan sehingga dapat diinterpretasikan secara efisien dalam hubungannya dengan ide penulis.27

26

Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, ideologi, dan Politik Media, hlm. 43.

27

Jumroni dan Salami, 2006, Metode-metode Penelitian Komunikasi, Jakarta: UIN Jakarta Press, hlm. 92.

Ada dua aspek utama dalam framing media massa. Pertama, pemilihan fakta atau realitas. Proses memilih fakta didasarkan pada asumsi bahwa wartawan tidak mungkin melihat peristiwa tanpa perspektif. Dalam pemilihan fakta selalu terdapat dua kemungkinan, yaitu apa yang dipilih (included) dan apa yang dibuang (excluded). Peristiwa dilihat dari sudut pandang tertentu, sehingga mengakibatkan pemahaman dan konstruksi atas suatu peristiwa bisa berbeda antara satu media dengan lainnya.

Ke-dua, menuliskan fakta. Dalam menuliskan fakta, dilihat bagaimana cara media menyajikan fakta tersebut pada khalayak. Penyusunan fakta berkaitan dengan penonjolan informasi tertentu, pemilihan kata-kata yang digunakan, judul, urutan penulisan fakta, dan sebagaimanya.28

Sesuai penjelasan di atas, ada tiga faktor yang dapat menentukan jurnalis dalam melakukan framing29:

a) Nilai-nilai sosial yang ada di dalam dirinya sendiri, nilai-nilai sosial yang dimiliki oleh jurnalis ikut membentuk sudut pandang

28

Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, ideologi, dan Politik Media, hlm. 70.

29

Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, ideologi, dan Politik Media, hlm. 254.

dalam melaporkan fakta, karena jurnalis merupakan bagian dari masyarakat.

b) Nilai-nilai yang dominan di masyarakat, merupakan pertimbangan dengan asumsi jurnalis sadar bahwa dia sedang menulis kepada masyarakat. Kesadaran tersebut membuat jurnalis ikut mempertimbangkan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat agar beritanya menjadi dapat diterima.

c) Etika profesi, standar kerja jurnalistik, Kesadaran etika dan standar kerja jurnalistik juga mempengaruhi bagaimana jurnalis dalam melaporkan fakta.

b. Analisis Framing Robert N. Entman

Konsep framing menurut Robert N. Entman digunakan untuk menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari suatu realitas oleh media. Framing dipandang sebagai penempatan informaasi dalam konteks yang khas, sehingga isu tertentu mendapatkan bagian atau penekanan lebih besar daripada isu yang lain. Robert N. Entman mendefinisikan framing sebagai proses seleksi dari berbagai aspek realitas, sehingga bagian tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol dari pada aspek lain. Ia

juga menyertakan penempatan informasi-isnformasi dalam konteks yang khas, sehingga sisi tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada sisi yang lain.

Penekanan merupakan proses yang membuat informasi menjadi lebih bermakana, lebih menarik, berarti, ataupun lebih dapat diingat oleh penerimanaya. Realitas yang ditampilkan lebih menonjol mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan perhatian dan mempengaruhi khalayak dalam realitas tertentu. Framing ini diterapkan untuk mengetahui bagaimana perspektif yang digunakan oleh wartawan saat menyeleksi isu dan menuliskannya.30

Frame pemberitaan sendiri timbul dalam dua level. Pertama, konsepsi mental yang digunakan untuk memproses informasi dan sebagai karakteristik dari teks berita. Ke-dua, perangkat spesifik dari suatu narasi yang digunakan untuk membangun pengertian mengenai peristiwa.31

30

Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, ideologi, dan Politik Media, hlm. 221.

31

Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, ideologi, dan Politik Media, hlm. 224.

Tabel 1.0

Perangkat Framing Robert N. Entman32 Seleksi Isu Pemilihan isu

berhubungan dengan pemilihan fakta, dari realitasnya, kompleks dan keberagaman isu, dipilih mana yang akan ditampilkan. Dalam hal ini, dilihat aspek masa saja yang diseleksi untuk ditampilkan, ada bagian berita yang dimasukkan, namun ada pula bagian berita yang dikeluarkan. Tidak semua aspek dapat ditampilkan. Penonjolan Aspek Penonjolan aspek

berhubungan dengan penulisan fakta. Dilihat dari bagaimana suatu

32

Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, ideologi, dan Politik Media, hlm. 187.

aspek dituliskan atau ditampilkan. Ini berkaitan dengan pemakaian kata, kalimat, gambar, dan citra tertentu untuk ditampilkan pada media

Tabel 1.1

Konsep Framing Robert N. Entman33 Define Problem

(Pendefinisian Masalah)

Bagaimana suatu peristiwa atau isu dilihat? Sebagai apa? Sebagai permasalahan apa?

Diagnose Causes (Memperkirakan Masalah atau Sumber Masalah)

Suatu peristiwa dilihat dan disebabkan oleh apa? Apa yang dianggap sebagai penyebab suatu masalah? Siapa (aktor) yang dianggap sebagai

33

Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, ideologi, dan Politik Media, hlm. 188-189.

penyebab masalah? Make Moral Judgement

(Membuat Keputusan Moral)

Nilai moral apa yang dijelaskan untuk menjelaskan masalah? Nilai moral apa yang dipakai untuk melegitimasis suatu tindakan? Threatment Recomendation (Menekankan Penyelesaian)

Penyelesaian apa yang ditawarkan untuk megatasi masalah atau isu? Jalan apa yang ditawarkan dan harus ditempuh untuk mengatasi masalah?