• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.7 Metode Analisis Data

Tahapan analisis data meliputi:

1. Analisis univariat yaitu analisis yang menitik beratkan kepada penggambaran atau deskripsi data yang diperoleh, mengambarkan distribusi frekuensi dari masing-masing variabel independen dan dependen.

2. Analisis bivariat yaitu untuk melihat hubungan variabel independen dengan variabel dependen menggunakan uji chi square, dengan pertimbangan variabel penelitian dikelompokkan atau dikategorikan.

3. Analisis multivariat merupakan analisis lanjutan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan yang paling dominan antara variabel independen dengan variabel dependen secara bersama-sama. Variabel yang masuk dalam uji multivariat adalah variabel dalam analisis bivariat mempunyai nilai p<0,25.

Analisis multivariat yang digunakan adalah dengan analisis regresi logistik berganda

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Kecamatan Kualuh Selatan

Kualuh Selatan memiliki area seluas 344,51 Km2 yang terdiri dari 11 desa dan 1 kelurahan. Dari 12 desa/ kelurahan yang terdapat di Kecamatan Kualuh Selatan, yang memiliki wilayah terluas adalah Desa Siamporik dan yang terkecil adalah desa Gunung Melayu dan Gunting Saga, adapun batas-batas wilayahnya antara lain:

Sebelah Utara : Kecamatan Kualuh Hulu Sebelah Timur : Kecamatan Kualuh Hilir Sebelah Selatan : Kecamatan Aek Natas Sebelah Barat : Kabupaten Tapanuli Utara

4.2 Karakteristik Ibu

Pada penelitian ini, karakteristik ibu yang dilihat meliputi umur, paritas, pendidikan dan pekerjaan berjumlah 137 orang ibu menikah usia dini. Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukkan bahwa berdasarkan umur, proporsi umur ibu lebih banyak pada umur 19 tahun sebesar 39,4% dan diperoleh ibu yang menikah usia dini sebesar 86,9%. Jumlah anak lebih banyak 1 orang sebesar 93,4%. Proporsi pendidikan tamat SMA sebesar 46,0%, sedangkan pekerjaan paling banyak yaitu sebagai ibu rumah tangga sebesar 82,5%.

Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Ibu Menikah Usia Dini di Kecamatan Kualuh

Usia Menikah Dini

<19 tahun 119 86,9

Distribusi motivasi keluarga tentang ASI eksklusif didapatkan ibu menikah usia dini yang tidak ada motivasi sebanyak 69 orang (50,4%) dan yang ada motivasi sebanyak 68 orang (49,6%).

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Motivasi pada Ibu Menikah Usia Dini tentang

Motivasi tentang ASI eksklusif menunjukkan ibu sangat setuju jika keluarga meyakinkan ibu dapat memberikan ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan (pernyataan nomor 9) sebanyak 38 orang (27,7%), ibu setuju jika keluarga (suami) mau membelikan makanan tambahan/suplemen/susu untuk ibu selama ibu menyusu (pernyatan nomor 7) sebanyak 61 orang (44,5%), ibu tidak setuju jika keluarga (suami) tidak memperhatikan jenis dan jumlah makanan ibu selama menyusui (pernyataan nomor 6) sebanyak 62 orang (45,3%), serta ibu sangat tidak setuju jika keluarga menyediakan asupan gizi yang cukup kepada ibu selama menyusui (pernyataan nomor 3) sebanyak 50 orang (36,5%).

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Jawaban Motivasi pada Ibu Menikah Usia Dini tentang Pemberian ASI Eksklusif

No Keterangan

Sangat

Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak setuju

n % n % n % n %

1 Keluarga memotivasi ibu untuk memberikan ASI Ekslusif kepada bayi

29 21,2 51 37,2 48 35,0 9 6,6

2 Keluarga ibu berusaha

menyenangkan hati atau perasaan ibu selama masa menyusui

22 16,1 49 35,8 40 29,2 26 19,0

3 Keluarga menyediakan asupan gizi yang cukup kepada ibu selama menyusui

2 1,5 44 32,1 41 29,9 50 36,5

4 Keluarga ikut membantu

pekerjaan rumah yang biasanya dilakukan oleh ibu selama masa menyusui

24 17,5 49 35,8 54 39,4 10 7,3

Tabel 4.3 (Lanjutan)

5 Keluarga (suami) mau

mendampingi ibu saat menyusui walaupun tengah malam

5 3,6 31 22,6 52 38,0 49 35,8

6 Keluarga (suami) tidak

memperhatikan jenis dan jumlah makanan ibu selama menyusui

10 7,3 36 26,3 62 45,3 29 21,2

7 Keluarga (suami) mau

membelikan makanan tambahan/suplemen/susu untuk ibu selama ibu menyusu

6 4,4 61 44,5 59 43,1 11 8,0

8 Keluarga memberikan pujian

kepada ibu saat menyusui 33 24,1 55 40,1 41 29,9 8 5,8

9 Keluarga meyakinkan ibu bahwa ibu dapat memberikan ASI ekslusif kepada bayi sampai bayi berusia 6 bulan

38 27,7 54 39,4 40 29,2 5 3,6

10 Keluarga memberikan informasi bahwa bayi usia 0-6 bulan hanya diberikan ASI saja tanpa boleh makanan lain seperti pisang, susu botol, atau nasi lembik

23 16,8 55 40,1 51 37,2 8 5,8

4.4 Pengetahuan

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu berpengetahuan tidak baik sebanyak 109 orang (79,6%) dan yang berpengetahuan baik sebanyak 28 orang (20,4%).

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Pengetahaun pada Ibu Menikah Usia Dini tentang Pemberian ASI Eksklusif Tahun 2015

Pengetahuan n %

Baik 28 20,4

Tidak Baik 109 79,6

Jumlah 137 100,0

Hasil pengetahuan menunjukkan bahwa ibu tahu tentang manfaat pemberian ASI Eksklusif adalah menambah panjang kembalinya masa kesuburan pasca melahirkan sehingga dapat menunda kehamilan (pernyataan nomor 8) sebanyak 99

orang (72,3%), persiapan yang dilakukan untuk menyusui adalah persiapan gizi yang cukup pada masa hamil dan cegah jangan terjadi stres selama hamil (pernyataan nomor 6) sebanyak 85 orang (62,0%), manfaat ASI bagi bayi adalah dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi sehingga bayi tidak mudah sakit (pernyataan nomor 7) sebanyak 81 orang (59,1%) dan ibu juga tahu tentang kondisi ibu saat memberikan ASI ekskluisf adalah semua ibu dalam masa menyusui (pernyataan nomor 9) sebanyak 80 orang (58,4%). Namun, yang tidak diketahui ibu adalah usia yang tepat pemberian makanan tambahan adalah setelah usia 6 bulan (pernyataan nomor 2) sebanyak 60 orang (75,9%), ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan sesegera mungkin setelah bayi lahir sampai usia 6 bulan tanpa memberikan minuman/makanan lain kecuali obat dan vitamin, serta manfaat kolostrum adalah membantu pembentukan bakteri yang bagus untuk pencernaan (pernyataan nomor 1 dan 5) sebanyak 93 orang (67,9%), ibu tidak tahu tentang kandungan ASI (pernyataan nomor 4) sebanyak 77 orang (56,2%) dan juga pemberian ASI pertama segerav setelah bayi lahir atau maksimal 1 jam setelah lahir (pernyataan nomor 3) sebanyak 74 orang (54,0%).

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Jawaban Pengetahuan pada Ibu Menikah Usia Dini tentang Pemberian ASI Eksklusif

No Pengetahuan Benar Salah

n % n %

1 ASI Eksklusi adalah ASI yang diberikan sesegera mungkin setelah bayi lahir sampai usia 6 bulan tanpa memberikan minuman/ makanan lain kecuali obat dan vitamin

44 32,1 93 67,9

Tabel 4.5 (Lanjutan) 2 Usia yang tepat pemberian makanan

tambahan adalah setelah usia 6 bulan 28 20,4 109 79,6 3 Pemberian ASI pertama Segera

setelah bayi lahir atau maksimal 1 jam setelah lahir

63 46,0 74 54,0 4 ASI mengandung zat anti infeksi 60 43,8 77 56,2 5 Manfaat Kolostrum adalah membantu

pembentukan bakteri yang bagus untuk pencernaan

44 32,1 93 67,9 6 Persiapan yang dilakukan untuk

menyusui adalah persiapan gizi yang cukup pada masa hamil dan cegah jangan terjadi stres selama hamil

85 62,0 52 38,0 7 Manfaat ASI bagi adalah dapat

meningkatkan daya tahan tubuh bayi sehingga bayi tidak mudah sakit

81 59,1 56 40,9 8 Manfaat pemberian ASI Eksklusif

adalah menambah panjang kembalinya masa kesuburan pasca melahirkan sehingga dapat menunda kehamilan

99 72,3 38 27,7

9 Kondisi ibu saat memberikan ASI eksklusif adalah semua ibu dalam masa menyusui

80 58,4 57 41,6

4.5 Sikap

Distribusi sikap tentang ASI eksklusif didapatkan sebagian besar ibu bersikap baik yaitu 125 orang (91,2%) dan bersikap tidak baik sebanyak 12 orang (8,8%).

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Sikap pada Ibu Menikah Usia Dini tentang Pemberian ASI Eksklusif Tahun 2015

Sikap n %

Baik 125 91,2

Tidak baik 12 8,8

Jumlah 137 100,0

Sikap tentang ASI eksklusif menunjukkan bahwa ibu sangat setuju jika langsung memberikan ASI pada bayi mulai sejak lahir atau satu jam setelah lahir (pernyataan nomor 1) sebanyak 78 orang (56,9%), ibu setuju jika memberikan ASI eksklusif dan melanjutkan menyusui sampai usia 1 tahun (pernyataan nomor 9) sebanyak 77 orang (56,2%), ibu tidak setuju jika tidak memberikan ASI pada bayi karena akan merusak payudara (pernyataan nomor 6) sebanyak 63 orang (46,0%) dan ibu sangat tidak setuju jika memberikan susu formula atau cairan lain pada bayi yang baru lahir karena ASI belum keluar dan tidak memberikan ASI pada bayi karena akan merusak payudara (pernyataan nomor 4 dan 6) sebanyak 15 orang (10,9%).

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Jawaban Sikap pada Ibu Menikah Usia Dini tentang Pemberian ASI Eksklusif

No Sikap

Sangat

Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak setuju

n % n % n % n %

1 Saya akan langsung memberikan ASI pada bayi mulai sejak lahir atau

satu jam setelah lahir 78 56,9 44 32,1 14 10,2 1 0,7

2 Saya ingin memberikan hanya ASI

saja pada bayi saya selama 6 bulan 51 37,2 46 33,6 40 29,2 0 0,0 3 Saya akan memberikan makanan

tambahan atau cairan lain sebelum

bayi saya berusia 6 bulan 19 13,9 76 55,5 33 24,1 9 6,6

4 Saya akan memberikan susu formula atau cairan lain pada bayi saya yang baru lahir karena ASI belum keluar

18 13,1 43 31,4 61 44,5 15 10,9

5 Saya memberikan ASI eksklusif

kepada bayi saya tanpa jadwal 35 25,5 75 54,7 26 19,0 1 ,7 6 Saya tidak akan memberikan ASI

pada bayi saya karena akan

merusak payudara 13 9,5 46 33,6 63 46,0 15 10,9

7 Saya membutuhkan makanan yang bergizi pada masa hamil untuk persiapan menyusui nanti setelah melahirkan

34 24,8 58 42,3 37 27,0 8 5,8

8 Saya tidak akan memberikan ASI secara eksklusif pada bayi saya

karena saya wanita bekerja 70 51,1 54 39,4 11 8,0 2 1,5

Tabel 4.7 (Lanjutan)

9 Saya akan memberikan ASI eksklusif dan melanjutkan

menyusui sampai usia 1 tahun 46 33,6 77 56,2 14 10,2 0 0,0 10 Saya tidak membutuhkan dukungan

keluarga untuk mencapai pemberian

ASI eksklusif 38 27,7 68 49,6 30 21,9 1 0,7

4.6 Sumber Informasi

Ibu menikah usia dini yang tidak terpapar sumber informasi sebanyak 95 orang (69,3%) dan terpapar sumber informasi sebanyak 42 orang (30,7%).

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Sumber Informasi pada Ibu Menikah Usia Dini tentang Pemberian ASI Eksklusif Tahun 2015

Sumber Informasi n %

Terpapar 42 30,7

Tidak Terpapar 95 69,3

Jumlah 137 100,0

Hasil pernyataan sumber informasi yang diperoleh dari ibu adalah ibu mengetahui tentang pemberian ASI eksklusif dari majalah dan koran (pernyataan nomor 2) sebanyak 93 orang (67,9%), ibu pernah menonton berita tentang pemberian ASI eksklusif (pernyataan nomor 3) sebanyak 83 orang (60,6%), ibu mengetahui tentang pemberian ASI eksklusif dari tenaga kesehatan sewaktu persalinan (pernyataan nomor 1) sebanyak 76 orang (55,5%) dan keluarga (ibu kandung, ibu mertua, kakak, adik) ibu pernah bercerita tentang pemberian ASI eksklusif (pernyataan nomor 4) sebanyak 75 orang (54,7%). Namun, ibu tidak mendapat sumber informasi dari suami ibu tentang pemberian ASI eksklusif (pernyataan nomor 5) sebanyak 70 orang (51,1%).

Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Jawaban Sumber Informasi pada Ibu Menikah Usia Dini tentang Pemberian ASI Eksklusif

No Sumber Informasi Ya Tidak

n % n %

1 Ibu mengetahui tentang pemberian ASI eksklusif dari tenaga kesehatan sewaktu persalinan.

76 55,5 61 44,5

2 Ibu mengetahui tentang pemberian

ASI eksklusif dari majalah dan koran. 93 67,9 44 32,1 3 Ibu pernah menonton berita tentang

pemberain ASI eksklusif 83 60,6 54 39,4

4 Keluarga (ibu kandung, ibu mertua, kakak, adik) ibu pernah bercerita tentang pemberian ASI eksklusif

75 54,7 62 45,3 5 Suami ibu pernah bercerita tentang

pemberian ASI eksklusif 67 48,9 70 51,1

4.7 Budaya

Tabel 4.12 diperoleh ibu masih memiliki budaya yang baik sebanyak 97 orang (70,8%) dan budaya tidak baik sebanyak 40 orang (29,2%).

Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Budaya pada Ibu Menikah Usia Dini tentang Pemberian ASI Eksklusif Tahun 2015

Budaya n %

Tidak baik 40 29,2

Baik 97 70,8

Jumlah 137 100,0

Budaya tentang ASI eksklusif menunjukkan bahwa sebagian besar ibu masih memberikan pisang pada bayi saat berusia 0-6 bulan dapat membuat kenyang (pernyataan nomor 2) sebanyak 70 orang (51,1%), sedangkan sebagian besar lagi ibu tidak memberikan air tajin untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi saat berusia 0-6 bulan (pernyataan nomor 1) sebanyak 80 orang (58,4%).

Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Jawaban Budaya pada Ibu Menikah Usia Dini tentang Pemberian ASI Eksklusif

No Budaya Ya Tidak

n % n %

1 Apakah menurut Ibu pemberian air tajin baik untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi saat berusia 0-6 bulan

57 41,6 80 58,4

2 Apakah menurut Ibu memberikan pisang pada bayi saat berusia 0-6 bulan dapat membuat kenyang

70 51,1 67 48,9

3 Apakah ada kebiasaan dalam budaya ibu yang terkait pemberian ASI pada bayi sampai usia 6 bulan

59 43,1 78 56,9 4 Apakah menurut Ibu pemberian ASI

saja sampai usia 6 bulan menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan bayi Ibu terganggu

58 42,3 79 57,7 5 Pemberian madu pada bayi akan

meningkatkan daya tahan tubuh bayi 67 48,9 70 51,1

4.8 ASI Eksklusif

Distribusi pemberian ASI eksklusif didapatkan ibu menikah usia dini yang ASI ekslusif gagal sebanyak 128 orang (93,4%) dan berhasil sebanyak 9 orang (6,6%).

Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi ASI Eksklusif pada Ibu Menikah Usia Dini tentang Pemberian ASI Eksklusif

ASI Eksklusif n %

Berhasil 9 6,6

Gagal 128 93,4

Jumlah 137 100,0

4.9 Hubungan Motivasi dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Menikah Usia Dini

Pemberian ASI eksklusif menunjukkan bahwa 68 orang yang mendapatkan motivasi terdapat 8 orang (11,8%) yang berhasil memberikan ASI eksklusif dan 69 orang yang tidak mendapatkan motivasi terdapat 1 orang (1,4%) yang u berhasil memberikan ASI eksklusif. Hasil uji chi square diperoleh nilai p=0,015, dengan demikian terdapat hubungan antara motivasi dengan pemberian ASI eksklusif.

Tabel 4.13 Hubungan Motivasi dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Menikah Usia Dini di Kecamatan Kualuh Selatan Tahun 2015

Motivasi

ASI Eksklusif Total

Berhasil Gagal p.

n % n % n %

Ada 8 11,8 60 88,2 68 100,0 0,015

Tidak ada 1 1,4 68 98.,6 69 100,0

4.10 Hubungan Pengetahuan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Menikah Usia Dini

Hasil uji chi square diperoleh nilai p=0,0001, dengan demikian terdapat hubungan antara pengetahuan dengan pemberian ASI eksklusif. Pemberian ASI eksklusif menunjukkan bahwa 28 orang yang pengetahuan baik terdapat 6 orang (21,4%) yang berhasil memberikan ASI eksklusif dan 109 orang yang tidak baik terdapat 3 orang (2,8%) yang berhasil memberikan ASI eksklusif.

Tabel 4.14 Hubungan Pengetahuan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Menikah Usia Dini di Kecamatan Kualuh Selatan Tahun 2015

Pengetahuan

ASI Eksklusif Total

Berhasil Gagal p.

n % n % n %

Baik 6 21,4 22 78,6 28 100,0 0,0001

Tidak baik 3 2,8 106 97,2 109 100,0

4.11 Hubungan Sikap dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Menikah Usia Dini

Pemberian ASI eksklusif menunjukkan bahwa 125 orang yang sikap baik terdapat 9 orang (7,2%) yang berhasil memberikan ASI eksklusif dan 12 orang yang sikap tidak baik tidak terdapat yang berhasil memberikan ASI eksklusif. Hasil uji chi square diperoleh nilai p=0,336, dengan demikian terdapat hubungan antara sikap

dengan pemberian ASI eksklusif

Tabel 4.15 Hubungan Sikap dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Menikah Usia Dini di Kecamatan Kualuh Selatan Tahun 2015

Sikap

ASI Eksklusif Total

Berhasil Gagal p.

n % n % n %

Baik 9 7,2 116 92,8 125 100,0 0,336

Tidak baik 0 0,0 12 100,0 12 100,0

4.12 Hubungan Sumber Informasi dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Menikah Usia Dini

Hasil uji chi square diperoleh nilai p=0,015, dengan demikian terdapat hubungan antara sumber informasi dengan pemberian ASI eksklusif. Pemberian ASI

eksklusif menunjukkan bahwa 42 orang yang terpapar terdapat 6 orang (14,3%) yang berhasil memberikan ASI eksklusif dan 95 orang yang tidak terpapar terdapat 3 orang (3,2%) yang berhasil memberikan ASI eksklusif.

Tabel 4.16 Hubungan Sumber Informasi dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Menikah Usia Dini di Kecamatan Kualuh Selatan Tahun 2015

Sumber Informasi

ASI Eksklusif Total

Berhasil Gagal p.

n % n % n %

Terpapar 6 14,3 36 85,7 42 100,0 0,015

Tidak terpapar 3 3,2 92 96,8 95 100,0

4.13 Hubungan Budaya dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Menikah Usia Dini

Pemberian ASI eksklusif menunjukkan bahwa 40 orang yang budaya tidak baik terdapat 6 orang (15,0%) yang berhasil memberikan ASI eksklusif dan 97 orang yang budaya baik terdapat 3 orang (3,1%) yang berhasil memberikan ASI eksklusif.

Hasil uji chi square diperoleh nilai p=0,011 < 0,05, dengan demikian terdapat hubungan antara budaya dengan pemberian ASI eksklusif.

Tabel 4.17 Hubungan Budaya Informasi dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Menikah Usia Dini di Kecamatan Kualuh Selatan Tahun 2015

Budaya

ASI Eksklusif Total

Berhasil Gagal p.

n % n % n %

Tidak Baik 6 15,0 34 85,0 40 100,0 0,011

Baik 3 3,1 94 96,9 97 100,0

4.6 Analisis Determinan Pemberian ASI Ekslusif terhadap Ibu Menikah Usia Dini

Analisis multivariat dalam penelitian ini menggunakan uji regresi logistik ganda yaitu salah satu pendekatan model matematis untuk menganalisis pengaruh beberapa variabel independen terhadap variabel dependen kategorik yang bersifat dikotomi atau binary. Variabel yang dimasukkan dalam model prediksi regresi logistik ganda metode backward adalah variabel yang mempunyai nilai p<0,25 yaitu motivasi, pengetahuan, sumber informasi dan budaya pada analisis bivariatnya, berikut hasilnya:

Tabel 4.18 Hasil Analisis yang Memenuhi Asumsi Multivariat (Kandidat)

Variabel p

Pengetahuan 0,0001*

Sikap 0,336

Motivasi 0,015*

Sumer Informasi 0,015*

Budaya 0,011*

Keterangan : * variabel yang memenuhi syarat

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kolinearitas antar semua variabel independen yang masuk dalam kandidat model multivariat. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan antara motivasi dengan pengetahuan, sumber informasi dengan pengetahuan dan budaya dengan motivasi, sehingga variabel-variabel tersebut tidak boleh dalam satu model, oleh karena itu alternatif model yang dapat dibentuk dapat dilihat pada Tabel 4.20 berikut :

Tabel 4.19 Alternatif Model Regresi Logistik

Karena nilai χ2 lebih besar pada model 3, maka sebagai model analisis multivariat dipilih model 1 dimana ASI = f (pengetahuan, budaya). Selanjutnya dilakukan analisis regresi logistik ganda dengan metode backward LR, yaitu memasukkan semua variabel independen ke dalam model dan variabel yang tidak berpengaruh secara otomatis akan keluar dari model.

Kemudian dilakukan pemeriksaan interaksi pada alternatif model yang terpilih. Ternyata tidak ada interaksi antar pengetahuan dan budaya dilihat dari nilai p variabel interaksi semua > 0,05.

Model akhir dari analisis multivariat yang dapat dilihat pada Tabel 4.21 berikut :

Tabel 4.20 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Menikah Usia Dini di Kecamatan Kualuh Selatan Tahun 2015

Variabel B Exp (B) p.

Pengetahuan 2,358 10,568 0,003

Budaya 1,821 6,181 0,020

Constant -0,266

Berdasarkan hasil analisis multivariat pada Tabel 4.20 di atas diketahui bahwa variabel pengetahuan dan budaya berpengaruh terhadap pemberian ASI Eksklusif

pada ibu menikah usia dini di Kecamatan Kualuh Selatan. Berdasarkan hasil uji regresi logistik pengaruh pengetahuan terhadap pemberian ASI Eksklusif pada ibu menikah usia dini diperoleh nilai signifikasi (p=0,003), dengan Exp (B) 10,568 artinya ibu yang berpengetahuan kurang mempunyai peluang pemberian ASI Eksklusif Dini gagal 10,568 lebih besar dibanding ibu yang berpengetahuan baik.

Pengaruh budaya terhadap pemberian ASI Eksklusif pada ibu menikah usia dini diperoleh nilai signifikasi (p=0,020), dengan Exp (B) 6,181 artinya ibu yang memiliki budaya baik mempunyai peluang pemberian ASI Eksklusif Dini gagal sebesar 6,181 lebih besar dibanding ibu yang memiliki budaya tidak baik.

Hasil dari model menunjukkan hasil bahwa variabel pengetahuan dan budaya berpengaruh secara signifikan terhadap pemberian ASI Eksklusif pada ibu menikah usia dini dengan nilai Percentage Correct diperoleh sebesar 88,3% yang artinya variabel pengetahuan, sikap, budaya dan pergaulan remaja bisa menjelaskan pengaruhnya terhadap usia perkawinan ≤ 20 tahun sebesar 93,4 %, sedangkan sisanya sebesar 6,6% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Berdasarkan hasil uji regresi logistik tersebut, maka dapat dibuat model persamaan regresi untuk mengidentifikasi probabilitas pemberian ASI Eksklusif pada ibu menikah usia dini sebagai berikut:

1

p : Probabilitas pemberian ASI Eksklusif pada ibu menikah usia dini X1 : Pengetahuan, koefisien regresi 2,358

X2 : Budaya, koefisien regresi 1,821 a : Ketetapan 0,266

e : Bilangan alamiah 2,71828

Persamaan di atas diketahui bahwa ibu yang memiliki pengetahuan kurang dan budaya baik kemungkinan ASI eksklusif gagal sebesar 98%. Bila ibu memiliki pengetahuan baik dan budaya tidak baik kemungkinan ASI eksklusif gagal sebesar 43%.

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1 Determinan Pengetahuan pada Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Menikah Usi Dini di Kecamatan Kualuh Selatan Tahun 2015

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu menikah usia dini masih ditemukan yang tidak berpengetahuan baik sebesar 79,6%. Ibu menikah usia dini kurang mengetahui tentang pengertian ASI eksklusif, usia yang tepat dalam pemberian makanan tambahan, waktu pemberian ASI pertama, kandungan ASI dan manfaat kolostrum. Hasil uji chi square diperoleh terdapat hubungan antara pengetahuan dengan pemberian ASI eksklusif.

Hasil uji regresi logistik pengetahuan berpengaruh terhadap pemberian ASI Eksklusif pada ibu menikah usia dini. Pengetahuan ibu yang kurang mempunyai peluang pemberian ASI Eksklusif dini gagal 10,568 lebih besar dibanding yang pengetahuannya baik. Rendahnya pengetahuan ibu diduga disebabkan antara lain kurangnya informasi, kurang jelasnya informasi, dan kurangnya kemampuan ibu untuk memahami informasi yang diterima.

Pengetahuan yang rendah juga berdampak terhadap praktek pemberian prelaktal. Secara umum makanan dan minuman yang diberikan kepada bayi umur 0 – 6 adalah susu formula, air putih, dan madu. Susu formula dapat diberikan dengan alasan bahwa hanya itu yang bisa diberikan kepada bayi dan sudah mendekati gizi ASI. Air putih dinilai dapat diberikan karena menurut pengalaman ibu, ketika bayi

menangis dan diberi air putih, maka bayi tersebut langsung diam. Sedangkan madu dipercaya dapat menyebabkan bayi tidak mudah terserang penyakit. Di samping itu, pemberian ASI yang tidak sampai umur 6 bulan karena ASInya sedikit dan disebabkan pula oleh karena ibu bekerja membantu suami berkebun. Beberapa ibu memberikan susu formula sebagai prelaktal dilakukan dengan alasan karena ASI belum keluar dan bayi masih kesulitan menyusu sehingga bayi akan menangis bila dibiarkan saja. Kurangnya keyakinan terhadap kemampuan memproduksi ASI untuk memuaskan bayinya mendorong ibu untuk memberikan susu tambahan melalui botol. Pemberian prelaktal seperti susu formula menjadi salah satu penyebab ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Pemberian prelaktal tidak dapat menggantikan keuntungan yang diperoleh dari pemberian ASI saja. Kandungan gizi susu non-ASI tidak sesuai dengan kebutuhan bayi dan sulit diserap oleh pencernaan bayi. Selain itu, susu non-ASI tidak mengandung antibodi dan dapat menyebabkan alergi. Pemberian ASI Eksklusif dapat memberikan sistem kekebalan tubuh bayi dan menghindarkan bayi dari penyakit seperti emam, infeksi saluran napas, saluran pencernaan.

Sesuai dengan penelitian Fikawati dan Syafiq (2009) Pengetahuan ibu berperan penting dalam pelaksanaan ASI eksklusif, sehingga upaya meningkatkan pengetahuan harus dilaksanakan sebelum persalinan, jika dilakukan setelah persalinan sudah terlambat. Informasi ASI eksklusif paling baik diberikan ketika ANC yang meliputi materi pemberian kolostrum, larangan pemberian makanan pralaktal serta hak memperoleh IMD bagi bayi. Perlu digali lebih dalam motivasi,

sikap dan kepercayaan ASI eksklusif memiliki yang baik berbasis pengetahuan yang cukup bukan sekedar pernyataan verbal.

Pengetahuan ibu tentang manfaat ASI menjadi faktor terbesar yang menyebabkan ibu-ibu muda terpengaruh dan beralih kepada susu botol atau susu formula. Selain itu gencarnya promosi susu formula dan kebiasaan memberikan makanan/minuman secara dini pada sebagian masyarakat menjadi pemicu kurang berhasilnya pemberian ASI maupun ASI eksklusif.

Penelitian yang dilakukan Afifah (2007) menemukan bahwapengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif dapat diperoleh dari berbagai sumber informasi. Rendahnya pengetahuan para ibu tentang ASI Eksklusif, pada saatyang sama mereka memiliki pengetahuan budaya lokal berupa ideologi makanan untuk bayi. Pengetahuan budaya lokal ini dapat disebut penghambat bagi praktik pemberian ASI Eksklusif penelitian Wulandari, dkk (2009) di Kota Bandung yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel pengetahuan dengan variabel pemberian ASI Eksklusif.

5.2 Determinan Budaya pada Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Menikah Usi Dini di Kecamatan Kualuh Selatan Tahun 2015

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu menikah usia dini masih memiliki budaya yang tidak baik sebesar 70,8%. Ibu masih memberikan pisang pada bayi saat berusia 0-6 bulan dapat membuat kenyang. Ibu yang memiliki budaya baik terdapat 15,0% yang berhasil memberikan ASI eksklusif dan yang budaya tidak baik terdapat

3,1% yang berhasil memberikan ASI eksklusif. Hasil uji chi square diperoleh terdapat hubungan antara budaya dengan pemberian ASI eksklusif.

Pengaruh budaya terhadap pemberian ASI Eksklusif pada ibu menikah usia dini diperoleh nilai signifikasi (p=0,020), dengan Exp (B) 6,181 artinya ibu yang

Pengaruh budaya terhadap pemberian ASI Eksklusif pada ibu menikah usia dini diperoleh nilai signifikasi (p=0,020), dengan Exp (B) 6,181 artinya ibu yang

Dokumen terkait