• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Teori Perubahan (Adopsi) Perilaku

Perubahan atau adopsi perilaku baru adalah suatu proses yang kompleks dan memerlukan waktu yang relatif lama. Secara teori perubahan perilaku seseorang menerima atau mengadopsi perilaku baru dalam kehidupannya melalui tiga tahap (Notoatmodjo, 2012).

1. Perubahan Pengetahuan

Sebelum seseorang mengadopsi perilaku (berperilaku baru) ia harus tahu terlebih dahulu apa arti atau manfaat perilaku tersebut bagi dirinya atau keluarganya.

Indikator-indikatornya apa yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan atau kesadaran terhadap kesehatan, dapat dikelompokkan menjadi : a) pengetahuan tentang sakit dan penyakit yang meliputi : penyebab penyakit, gejala atau tanda penyakit, bagaimana cara pengobatan, cara penularannya dan cara pencegahannya. B) pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat, meliputi : jenis-jenis makanan yang bergizi, manfaat makan yang bergizi bagi kesehatannya, pentingnya olahraga bagi kesehatan, penyakit-penyakit atau bahaya merokok. 3) pengetahuann tentang kesehatan lingkungan, meliputi : manfaat air bersih, cara-cara pembuangan limbah yang sehat, manfaat pencahayaan dan penerangan (Notoatmodjo, 2012).

Pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perihal yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses pengetahuan, kesadaran daris ikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng. Sebaliknya apabila perilaku tidak didasari pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo, 2012).

2. Sikap

Sikap adalah penilaia (bisa berupa pendapat) seseorang terhadap stimulus atau objek. Setelah seseorang mengetahui stimulus, proses selanjutnya akan menilai atau bersikap terhadap stimulus atau onjek kesehatan tersebut. Oleh sebab itu idnikator untuk sikap kesehatan juga sejalan dengan pengetahuan kesehatan seperti di atas, yakni: a) sikap terhadap sakit dan penyakit, b) sikap cara pemeliharaan dan cara hidup sehat, 3) sikap terhadap kesehatan lingkungan (Notoatmodjo, 2012).

3. Tindakan

Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktikkan apa yang diketahui atau disikapinya. Inilah yang disebut praktik kesehatan, atau dapat juga dikatakan perilaku kesehatan. Oleh sebab itu indikator praktik kesehatan ini juga mencakup hal-hal tersebut di atas, yakni: a) tindakan sehubungan dengan penyakit, b) tindakan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, c) tindakan kesehatan lingkungan (Notoatmodjo, 2012).

2.5 Landasan Teori

Kerangka konseptual hasil modifikasi yang dikemukakan oleh Teori Scnehandu B.Kar yang dikutip dalam Notoatmodjo (2012) mengidentifikasikan adanya 5 determinan perilaku yaitu: 1) Adanya niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan objek atau stimulus di luar dirinya. 2) Adanya dukungan dari msyarakat sekitarnya di masyarakat sekitarnya. 3) Terjangkauan informasi, adalah tersedianya informasi-informasi terkait dengan tindakan yang akan diambil oleh seseorang. 4) Adanya otonomi atau kebebasan pribadi untuk mengambil keputusan.

5) Adanya kondisi dan situasi yang memungkinkan.

Perilaku kesehatan seseorang atau masyarakat ditentukan oleh niat orang (behavior intention) terhadap objek kesehatan, ada atau tidaknya dukungan masyarakat (social support), ada atau tidaknya informasi kesehatan (acceessebility of information), kebebasan dari individu untuk mengambil keputusan/bertindak

(persona autonomy), dan situasi yang memungkinkan ia berperilaku atau tidak berperilaku (action situation) (Notoatmodjo, 2012).

Selanjutnya, menurut teori WHO dalam Notoatmodjo (2012) merumuskan determinan perilaku ini sangat sederhana. Mereka mengatakan bahwa mengapa seseorang berperilaku, karena adanya alasan pokok (determinan), yaitu: 1) Pemikiran dan perasaan, 2) Adanya acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang dipercayai. 3) sumber daya yang tersedia merupakan pendukung untuk terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. 4) Sosio budaya setempat biasanya sangat berpengaruh terhadap terbentuknya perilaku seseorang.

Teori Scnehandu B. Kar dan WHO

Gambar 2.1 Modifikasi Teori Scnehandu; Teori WHO dalam Notoatmodjo (2012)

2.6 Kerangka Konsep Penelitian

Variabel yang tergambar pada kerangka konsep mengambil variabel yang sudah diuraikan dalam teori Kar, Green dan WHO. Variabel yang diteliti meliputi variabel dependen dan independen seperti yang tergambar pada Gambar 2.5 berikut :

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian Determinan :

1. Motivasi 2. Pengetahuan 3. Sikap

4. Sumber informasi 5. Budaya 3. Kebebasan individu.

4. Pengetahuan

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian survei analitik dengan desain cross sectional yang dimaksudkan untuk menganalisis determinan pemberian ASI eksklusif

pada ibu menikah usia dini, dimana pengukuran atau pengamatan dilakukan pada saat bersamaan pada data variabel independen dan dependen (sekali waktu).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Kualuh Selatan Kabupaten Labuhanbatu Utara. Adapun alasan pemilihan lokasi ini karena kecamatan ini sudah mempunyai bidan desa dengan cakupan ASI eksklusif masih rendah dan banyaknya wanita usia subur yang menikah <20 tahun.

Waktu penelitian ini berlangsung dari bulan Januari sampai Agustus 2015.

Tahapan dilaksanakan mulai pra survei, pembuatan, pengumpulan data, analisis data, serta pembuatan laporan.

3.3 Populasi dan Sampel

Populasi adalah seluruh ibu yang menikah usia dini (usia <20 tahun) yang memiliki bayi berusia 7-24 bulan berjumlah 137 orang dari 12 desa yang ada di Kecamatan Kualuh Selatan tahun 2014. Seluruh populasi dijadikan sampel penelitian.

3.4 Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini berdasarkan jenis data yang dikumpulkan yaitu:

3.4.1 Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dengan kuesioner terstruktur yang berisi motivasi, pengetahuan, sikap, sumber informasi dan budaya yang diisi sendiri oleh responden dan didampingi bidan desa dan yang terlebih dahulu dilatih, instrumen penelitian terstruktur disusun dalam bentuk kuesioner yang telah disiapkan mencakup variabel yang memengaruhi determinan pemberian ASI eksklusif pada ibu menikah usia dini dimana terlebih dahulu akan dilakukan uji validitas dan reliabilitas.

3.4.2 Data Sekunder

Data Sekunder diperoleh dari laporan data Kantor Camat Kualuh Selatan, Puskesmas Kualuh Selatan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu Utara berupa data tentang cakupan ASI eksklusif dan pasangan usia subur (PUS) yang menikah dini.

3.4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas

Uji validitas dan reliabilitas dilakukan di Desa Damuli Pekan Kecamatan Kualuh Selatan terhadap 30 orang ibu PUS. Kelayakan dalam menggunakan instrumen yang akan dipakai untuk penelitian diperlukan uji validitas dan reliabilitas.

Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kemaknaan suatu alat ukur dalam mengukur suatu pertanyaan, bahwa instumen dikatakan valid, apabila instumen tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya

diukur. Demikian juga kuesioner sebagai alat ukur harus mengukur apa yang akan diukur. Uji validitas suatu instumen (dalam kuesioner) dilakukan dengan cara melakukan korelasi antar skor variabel atau item dengan skor total variabel (Corrected Item Total Correlation), jika nilai Corrected item total Correlation > nilai r tabel

(0,361) pada α 5% dan df= 28, maka dinyatakan valid dan sebaliknya apabila Corrected item total Correlation < r tabel maka dinyatakan tidak valid (Hidayat, 2010).

Uji reliabilitas dilakukan setelah semua data dinyatakan valid, analisis dilanjutkan dengan uji reliabilitas. Reliabilitas data merupakan indeks yang menunjukkan sejauhmana suatu alat ukur dapat dipercaya dengan tepat dengan menggunakan metode Cronbach’s Alpha dengan ketentuan jika nilai r- alpha > 0,60 maka pernyataan dikatakan reliabel.

Tabel 3.1 Hasil Uji Validitas Variabel Motivasi

Variabel Motivasi

Sub Variabel Nilai Corrected Item-Total Keterangan

1 0,902 Valid

Cronbach alpha 0,949 Reliabel

Pada Tabel 3.1 di atas diperoleh bahwa dari seluruh variabel motivasi terlihat nilai Corrected item-Total correlation lebih besar dari nilai tabel (rtabel = 0,361),

artinya seluruh item pertanyaan yang digunakan untuk mengukur variabel motivasi semuanya valid dan reliabel.

Tabel 3.2 Hasil Uji Validitas Variabel Pengetahuan

Variabel Pengetahuan

Sub Variabel Nilai Corrected Item-Total Keterangan

1 0,506 Valid

2 0,520 Valid

3 0,847 Valid

4 0,688 Valid

5 0,770 Valid

6 0,754 Valid

7 0,616 Valid

8 0,716 Valid

9 0,767 Valid

10 0,357 Tidak Valid

Cronbach alpha 0,901

Pada Tabel 3.2 di atas diperoleh bahwa dari seluruh variabel pengetahuan terlihat nilai Corrected item-Total correlation lebih besar dari nilai tabel (rtabel = 0,361), artinya seluruh item pertanyaan yang digunakan untuk mengukur variabel pengetahuan semuanya valid dan reliabel.

Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Variabel Sikap

Variabel Sikap

Sub Variabel Nilai Corrected Item-Total Keterangan

1 0,698 Valid

Pada Tabel 3.3 di atas diperoleh bahwa dari seluruh variabel sikap terlihat nilai Corrected item-Total correlation lebih besar dari nilai tabel (rtabel = 0,361), artinya seluruh item pertanyaan yang digunakan untuk mengukur variabel sikap semuanya valid dan reliabel.

Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Variabel Sumber Informasi

Variabel Sumber Informasi

Sub Variabel Nilai Corrected Item-Total Keterangan

1 0,876 Valid

Pada Tabel 3.4 di atas diperoleh bahwa dari seluruh variabel sumber informasi terlihat nilai Corrected item-Total correlation lebih besar dari nilai tabel (rtabel = 0,361), artinya seluruh item pertanyaan yang digunakan untuk mengukur variabel sumber informasi semuanya valid dan reliabel.

Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Variabel Budaya

Variabel Budaya

Sub Variabel Nilai Corrected Item-Total Keterangan

1 0,364 Valid

2 0,448 Valid

3 0,509 Valid

4 0,731 Valid

5 0,674 Valid

Cronbach alpha 0,902

Pada Tabel 3.4 di atas diperoleh bahwa dari seluruh variabel Budaya terlihat nilai Corrected item-Total correlation lebih besar dari nilai tabel (rtabel = 0,361), artinya seluruh item pertanyaan yang digunakan untuk mengukur variabel budaya semuanya valid dan reliabel.

3.5 Variabel dan Definisi Operasional

Variabel dan definisi operasional dalam penelitian adalah : 3.5.1 Variabel Penelitian

a. Variabel terikat (dependent variable), yaitu pemberian ASI eksklusif pada ibu menikah usia dini.

b. Variabel bebas (independent variable), yaitu motivasi, pengetahuan, sikap, sumber informasi dan budaya.

3.5.2 Definisi Operasional a. Variabel Independen

Variabel independen dalam penelitian ini adalah determinan motivasi, pengetahuan, sikap, sumber informasi dan budaya. Berikut definisi operasional yang terdiri dari :

1. Motivasi adalah dukungan yang diberikan pada ibu PUS menikah dini tentang pemberian ASI eksklusif.

2. Pengetahuan adalah pemahaman ibu PUS menikah dini tentang ASI eksklusif, tujuan dan manfaatnya, serta kaitan ASI dan menikah dini.

3. Sikap adalah respon ibu PUS menikah dini dalam pemberian ASI eksklusif.

4. Sumber informasi adalah pesan-pesan diperoleh ibu PUS tentang pemberian ASI eksklusif berupa media cetak, media elektronik, petugas kesehatan, tetangga dan keluarga.

5. Budaya adalah tindakan yang berkaitan dengan pemberian ASI eksklusif dan menikah dini yang menjadi suatu kebiasaan yang diikuti turun temurun.

b. Variabel Dependen

Pemberian ASI eksklusif pada ibu menikah dini adalah tindakan ibu memberikan ASI saja tanpa makanan lain kepada bayi sampai 6 bulan pada ibu menikah dini.

3.6 Metode Pengukuran

Teknik pengukuran dalam penelitian ini adalah dengan mengukur nilai kuesioner yang menyangkut masing-masing di dalam variabel independen dan dependen. Berikut teknik pengukuran dari masing-masing variabel :

a. Variabel Independen 1) Motivasi

Untuk mengukur determinan motivasi dengan menyatakan 10 buah pernyataan menggunakan Skala Likert. Untuk pernyataan jawaban sangat tidak setuju diberi skor 1, tidak setuju diberi skor 2, setuju diberi skor 3 dan sangat setuju diberi skor 4. Kategori pengukuran motivasi adalah sebagai berikut:

0 = Baik, jika responden memperoleh skor > 50%

1 = Tidak baik, jika responden memperoleh skor ≤ 50%

Skala ukur : Ordinal 2) Pengetahuan

Untuk mengukur determinan pengetahuan dengan menyatakan 10 buah pernyataan dengan pilihan berganda dengan alternatif jawaban “benar” dan “salah”.

Untuk jawaban pertanyaan “benar” diberi skor 1 dan untuk jawaban “salah” diberi skor 0, sesuai dengan kunci jawaban. Dengan kategori :

0 = Baik, jika responden memperoleh skor > 50%

1 = Tidak baik, jika responden memperoleh skor ≤ 50%

Skala ukur : Ordinal

3) Sikap

Untuk mengukur determinan sikap dengan menyatakan 10 buah pernyataan menggunakan Skala Likert. Untuk pernyataan positif (nomor 1,2,4,7, dan 9) jawaban sangat tidak setuju diberi skor 1, tidak setuju diberi skor 2, setuju diberi skor 3 dan sangat setuju diberi skor 4, sedangkan untuk pernyataan negatif (nomor 3,5,6,8, dan 10) maka jawaban sangat tidak setuju diberi skor 4, tidak setuju diberi skor 3, setuju diberi skor 2 dan sangat setuju diberi skor 1. Kategori pengukuran sikap adalah sebagai berikut:

0 = Baik, jika responden memperoleh skor > 50%

1 = Tidak baik, jika responden memperoleh skor ≤ 50%

Skala ukur : Ordinal 4) Sumber Informasi

Untuk mengukur variabel determinan sumber informasi dengan menayakan 5 buah pernyataan dengan pilihan “ya” dan “tidak”. Untuk jawaban “ya” diberi skor 1 dan jawaban “tidak” diberi skor 0, dengan kategori:

0 = Terpapar jika responden menjawab “ya” pada satu saja pertanyaan 1 = Tidak terpapar jika responden menjawab “tidak” pada seluruh pertanyaan Skala ukur : Ordinal

5) Budaya

Untuk mengukur determinan budaya dengan menyatakan 5 buah pernyataan dengan pilihan jawaban “ya” dan “tidak”. Untuk jawaban pertanyaan “ya” diberi skor 1 dan untuk jawaban “tidak” diberi skor 0. Dengan kategori :

0 = Tidak baik, jika responden memperoleh skor > 50%

1 = Baik, jika responden memperoleh skor ≤ 50%

Skala ukur : Ordinal b. Variabel Dependen 1) Pemberian ASI Eksklusif

Untuk mengukur pemberian ASI Eksklusif dengan menyatakan satu item pernyataan dengan pilihan jawaban “ya” dan “tidak”, dikelompokkan menjadi 2 yaitu:

0 = Berhasil, apabila responden memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan.

1 = Gagal, apabila responden tidak memberikan ASI eksklusif kurang dari 6 bulan

Skala ukur : Ordinal

3.7 Metode Analisis Data

Tahapan analisis data meliputi:

1. Analisis univariat yaitu analisis yang menitik beratkan kepada penggambaran atau deskripsi data yang diperoleh, mengambarkan distribusi frekuensi dari masing-masing variabel independen dan dependen.

2. Analisis bivariat yaitu untuk melihat hubungan variabel independen dengan variabel dependen menggunakan uji chi square, dengan pertimbangan variabel penelitian dikelompokkan atau dikategorikan.

3. Analisis multivariat merupakan analisis lanjutan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan yang paling dominan antara variabel independen dengan variabel dependen secara bersama-sama. Variabel yang masuk dalam uji multivariat adalah variabel dalam analisis bivariat mempunyai nilai p<0,25.

Analisis multivariat yang digunakan adalah dengan analisis regresi logistik berganda

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Kecamatan Kualuh Selatan

Kualuh Selatan memiliki area seluas 344,51 Km2 yang terdiri dari 11 desa dan 1 kelurahan. Dari 12 desa/ kelurahan yang terdapat di Kecamatan Kualuh Selatan, yang memiliki wilayah terluas adalah Desa Siamporik dan yang terkecil adalah desa Gunung Melayu dan Gunting Saga, adapun batas-batas wilayahnya antara lain:

Sebelah Utara : Kecamatan Kualuh Hulu Sebelah Timur : Kecamatan Kualuh Hilir Sebelah Selatan : Kecamatan Aek Natas Sebelah Barat : Kabupaten Tapanuli Utara

4.2 Karakteristik Ibu

Pada penelitian ini, karakteristik ibu yang dilihat meliputi umur, paritas, pendidikan dan pekerjaan berjumlah 137 orang ibu menikah usia dini. Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukkan bahwa berdasarkan umur, proporsi umur ibu lebih banyak pada umur 19 tahun sebesar 39,4% dan diperoleh ibu yang menikah usia dini sebesar 86,9%. Jumlah anak lebih banyak 1 orang sebesar 93,4%. Proporsi pendidikan tamat SMA sebesar 46,0%, sedangkan pekerjaan paling banyak yaitu sebagai ibu rumah tangga sebesar 82,5%.

Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Ibu Menikah Usia Dini di Kecamatan Kualuh

Usia Menikah Dini

<19 tahun 119 86,9

Distribusi motivasi keluarga tentang ASI eksklusif didapatkan ibu menikah usia dini yang tidak ada motivasi sebanyak 69 orang (50,4%) dan yang ada motivasi sebanyak 68 orang (49,6%).

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Motivasi pada Ibu Menikah Usia Dini tentang

Motivasi tentang ASI eksklusif menunjukkan ibu sangat setuju jika keluarga meyakinkan ibu dapat memberikan ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan (pernyataan nomor 9) sebanyak 38 orang (27,7%), ibu setuju jika keluarga (suami) mau membelikan makanan tambahan/suplemen/susu untuk ibu selama ibu menyusu (pernyatan nomor 7) sebanyak 61 orang (44,5%), ibu tidak setuju jika keluarga (suami) tidak memperhatikan jenis dan jumlah makanan ibu selama menyusui (pernyataan nomor 6) sebanyak 62 orang (45,3%), serta ibu sangat tidak setuju jika keluarga menyediakan asupan gizi yang cukup kepada ibu selama menyusui (pernyataan nomor 3) sebanyak 50 orang (36,5%).

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Jawaban Motivasi pada Ibu Menikah Usia Dini tentang Pemberian ASI Eksklusif

No Keterangan

Sangat

Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak setuju

n % n % n % n %

1 Keluarga memotivasi ibu untuk memberikan ASI Ekslusif kepada bayi

29 21,2 51 37,2 48 35,0 9 6,6

2 Keluarga ibu berusaha

menyenangkan hati atau perasaan ibu selama masa menyusui

22 16,1 49 35,8 40 29,2 26 19,0

3 Keluarga menyediakan asupan gizi yang cukup kepada ibu selama menyusui

2 1,5 44 32,1 41 29,9 50 36,5

4 Keluarga ikut membantu

pekerjaan rumah yang biasanya dilakukan oleh ibu selama masa menyusui

24 17,5 49 35,8 54 39,4 10 7,3

Tabel 4.3 (Lanjutan)

5 Keluarga (suami) mau

mendampingi ibu saat menyusui walaupun tengah malam

5 3,6 31 22,6 52 38,0 49 35,8

6 Keluarga (suami) tidak

memperhatikan jenis dan jumlah makanan ibu selama menyusui

10 7,3 36 26,3 62 45,3 29 21,2

7 Keluarga (suami) mau

membelikan makanan tambahan/suplemen/susu untuk ibu selama ibu menyusu

6 4,4 61 44,5 59 43,1 11 8,0

8 Keluarga memberikan pujian

kepada ibu saat menyusui 33 24,1 55 40,1 41 29,9 8 5,8

9 Keluarga meyakinkan ibu bahwa ibu dapat memberikan ASI ekslusif kepada bayi sampai bayi berusia 6 bulan

38 27,7 54 39,4 40 29,2 5 3,6

10 Keluarga memberikan informasi bahwa bayi usia 0-6 bulan hanya diberikan ASI saja tanpa boleh makanan lain seperti pisang, susu botol, atau nasi lembik

23 16,8 55 40,1 51 37,2 8 5,8

4.4 Pengetahuan

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu berpengetahuan tidak baik sebanyak 109 orang (79,6%) dan yang berpengetahuan baik sebanyak 28 orang (20,4%).

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Pengetahaun pada Ibu Menikah Usia Dini tentang Pemberian ASI Eksklusif Tahun 2015

Pengetahuan n %

Baik 28 20,4

Tidak Baik 109 79,6

Jumlah 137 100,0

Hasil pengetahuan menunjukkan bahwa ibu tahu tentang manfaat pemberian ASI Eksklusif adalah menambah panjang kembalinya masa kesuburan pasca melahirkan sehingga dapat menunda kehamilan (pernyataan nomor 8) sebanyak 99

orang (72,3%), persiapan yang dilakukan untuk menyusui adalah persiapan gizi yang cukup pada masa hamil dan cegah jangan terjadi stres selama hamil (pernyataan nomor 6) sebanyak 85 orang (62,0%), manfaat ASI bagi bayi adalah dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi sehingga bayi tidak mudah sakit (pernyataan nomor 7) sebanyak 81 orang (59,1%) dan ibu juga tahu tentang kondisi ibu saat memberikan ASI ekskluisf adalah semua ibu dalam masa menyusui (pernyataan nomor 9) sebanyak 80 orang (58,4%). Namun, yang tidak diketahui ibu adalah usia yang tepat pemberian makanan tambahan adalah setelah usia 6 bulan (pernyataan nomor 2) sebanyak 60 orang (75,9%), ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan sesegera mungkin setelah bayi lahir sampai usia 6 bulan tanpa memberikan minuman/makanan lain kecuali obat dan vitamin, serta manfaat kolostrum adalah membantu pembentukan bakteri yang bagus untuk pencernaan (pernyataan nomor 1 dan 5) sebanyak 93 orang (67,9%), ibu tidak tahu tentang kandungan ASI (pernyataan nomor 4) sebanyak 77 orang (56,2%) dan juga pemberian ASI pertama segerav setelah bayi lahir atau maksimal 1 jam setelah lahir (pernyataan nomor 3) sebanyak 74 orang (54,0%).

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Jawaban Pengetahuan pada Ibu Menikah Usia Dini tentang Pemberian ASI Eksklusif

No Pengetahuan Benar Salah

n % n %

1 ASI Eksklusi adalah ASI yang diberikan sesegera mungkin setelah bayi lahir sampai usia 6 bulan tanpa memberikan minuman/ makanan lain kecuali obat dan vitamin

44 32,1 93 67,9

Tabel 4.5 (Lanjutan) 2 Usia yang tepat pemberian makanan

tambahan adalah setelah usia 6 bulan 28 20,4 109 79,6 3 Pemberian ASI pertama Segera

setelah bayi lahir atau maksimal 1 jam setelah lahir

63 46,0 74 54,0 4 ASI mengandung zat anti infeksi 60 43,8 77 56,2 5 Manfaat Kolostrum adalah membantu

pembentukan bakteri yang bagus untuk pencernaan

44 32,1 93 67,9 6 Persiapan yang dilakukan untuk

menyusui adalah persiapan gizi yang cukup pada masa hamil dan cegah jangan terjadi stres selama hamil

85 62,0 52 38,0 7 Manfaat ASI bagi adalah dapat

meningkatkan daya tahan tubuh bayi sehingga bayi tidak mudah sakit

81 59,1 56 40,9 8 Manfaat pemberian ASI Eksklusif

adalah menambah panjang kembalinya masa kesuburan pasca melahirkan sehingga dapat menunda kehamilan

99 72,3 38 27,7

9 Kondisi ibu saat memberikan ASI eksklusif adalah semua ibu dalam masa menyusui

80 58,4 57 41,6

4.5 Sikap

Distribusi sikap tentang ASI eksklusif didapatkan sebagian besar ibu bersikap baik yaitu 125 orang (91,2%) dan bersikap tidak baik sebanyak 12 orang (8,8%).

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Sikap pada Ibu Menikah Usia Dini tentang Pemberian ASI Eksklusif Tahun 2015

Sikap n %

Baik 125 91,2

Tidak baik 12 8,8

Jumlah 137 100,0

Sikap tentang ASI eksklusif menunjukkan bahwa ibu sangat setuju jika langsung memberikan ASI pada bayi mulai sejak lahir atau satu jam setelah lahir (pernyataan nomor 1) sebanyak 78 orang (56,9%), ibu setuju jika memberikan ASI eksklusif dan melanjutkan menyusui sampai usia 1 tahun (pernyataan nomor 9) sebanyak 77 orang (56,2%), ibu tidak setuju jika tidak memberikan ASI pada bayi karena akan merusak payudara (pernyataan nomor 6) sebanyak 63 orang (46,0%) dan ibu sangat tidak setuju jika memberikan susu formula atau cairan lain pada bayi yang baru lahir karena ASI belum keluar dan tidak memberikan ASI pada bayi karena akan merusak payudara (pernyataan nomor 4 dan 6) sebanyak 15 orang (10,9%).

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Jawaban Sikap pada Ibu Menikah Usia Dini tentang Pemberian ASI Eksklusif

No Sikap

Sangat

Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak setuju

n % n % n % n %

1 Saya akan langsung memberikan ASI pada bayi mulai sejak lahir atau

satu jam setelah lahir 78 56,9 44 32,1 14 10,2 1 0,7

2 Saya ingin memberikan hanya ASI

saja pada bayi saya selama 6 bulan 51 37,2 46 33,6 40 29,2 0 0,0 3 Saya akan memberikan makanan

tambahan atau cairan lain sebelum

bayi saya berusia 6 bulan 19 13,9 76 55,5 33 24,1 9 6,6

4 Saya akan memberikan susu formula atau cairan lain pada bayi saya yang baru lahir karena ASI belum keluar

18 13,1 43 31,4 61 44,5 15 10,9

5 Saya memberikan ASI eksklusif

kepada bayi saya tanpa jadwal 35 25,5 75 54,7 26 19,0 1 ,7 6 Saya tidak akan memberikan ASI

pada bayi saya karena akan

merusak payudara 13 9,5 46 33,6 63 46,0 15 10,9

7 Saya membutuhkan makanan yang bergizi pada masa hamil untuk persiapan menyusui nanti setelah melahirkan

34 24,8 58 42,3 37 27,0 8 5,8

8 Saya tidak akan memberikan ASI secara eksklusif pada bayi saya

karena saya wanita bekerja 70 51,1 54 39,4 11 8,0 2 1,5

Tabel 4.7 (Lanjutan)

9 Saya akan memberikan ASI eksklusif dan melanjutkan

menyusui sampai usia 1 tahun 46 33,6 77 56,2 14 10,2 0 0,0 10 Saya tidak membutuhkan dukungan

keluarga untuk mencapai pemberian

ASI eksklusif 38 27,7 68 49,6 30 21,9 1 0,7

4.6 Sumber Informasi

Ibu menikah usia dini yang tidak terpapar sumber informasi sebanyak 95 orang (69,3%) dan terpapar sumber informasi sebanyak 42 orang (30,7%).

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Sumber Informasi pada Ibu Menikah Usia Dini tentang Pemberian ASI Eksklusif Tahun 2015

Sumber Informasi n %

Terpapar 42 30,7

Tidak Terpapar 95 69,3

Jumlah 137 100,0

Hasil pernyataan sumber informasi yang diperoleh dari ibu adalah ibu mengetahui tentang pemberian ASI eksklusif dari majalah dan koran (pernyataan nomor 2) sebanyak 93 orang (67,9%), ibu pernah menonton berita tentang pemberian ASI eksklusif (pernyataan nomor 3) sebanyak 83 orang (60,6%), ibu mengetahui tentang pemberian ASI eksklusif dari tenaga kesehatan sewaktu persalinan (pernyataan nomor 1) sebanyak 76 orang (55,5%) dan keluarga (ibu kandung, ibu mertua, kakak, adik) ibu pernah bercerita tentang pemberian ASI eksklusif (pernyataan nomor 4) sebanyak 75 orang (54,7%). Namun, ibu tidak mendapat sumber informasi dari suami ibu tentang pemberian ASI eksklusif (pernyataan nomor 5) sebanyak 70 orang (51,1%).

Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Jawaban Sumber Informasi pada Ibu Menikah

Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Jawaban Sumber Informasi pada Ibu Menikah

Dokumen terkait