BAB III METODE PENELITIAN
3.5 Metode Analisis Data
Adapun tahap-tahap analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yakni: 1. Membaca novel.
2. Mencermati novel Hata Batak Si Tumoing Manggorga Ari Sogot karya Saut Poltak Tambunan yang didalamnya terdapat alih kode dan campur kode. 3. Menandai bahasa yang termasuk alih kode dan campur kode.
4. Mengklarifikasikan data alih kode dan campur kode pada novel tersebut. 5. Menganalisis data.
6. Memberikan kesimpulan tentang alih kode dan campur kode pada novel Hata Batak Si Tumoing Manggorga Ari Sogot karya Saut Poltak Tambunan.
BAB IV
HASIL ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Pada bab IV ini akan membahas tentang pertama, bagaimana alih kode dan campur kode dalam Novel Hata Batak Si Tumoing Manggorga Ari Sogot. Kedua, faktor-faktor yang menyebabkan alih kode dan campur kode dalam Novel Hata Batak Si Tumoing Manggorga Ari Sogot.
Berikut ini adalah alih kode dalam Novel Hata Batak Si Tumoing Manggorga Ari Sogot .
(1) Halaman 18
Marisa (P.BT) : “Inong, aku pergi dulu, ya?” (‘Ibu aku pergi dulu ya?’)
Ibu Marisa (P.BT) : “Bah, tudia ho muse? Nunga digosok ho baju ni Bapa i ?”
(‘Loh, kamu mau kemana lagi?Apa sudah kamu setrika baju ayah itu?’)
Marisa (P.BT) : “Entarlah“
Ibu Marisa (P.BT) : “Bah, aha lapatan ni entar-entar on? Unang pangke mangkuk ni Bapa i!”
(‘Loh, apanya maksud entar-entar ini?Jangan kamu pakai gelas ayah itu!’)
Marisa (P.BT) : ”Daag!”
Peristiwa di atas adalah peristiwa alih kode bentuk dialog yang dilakukan oleh tokoh Marisa.Alih kode yang digunakan yaitu,bahasa Indonesia hal ini dapat dilihat dari kalimat yang bercetak tebal di atas. Faktor penyebab terjadinya alih kode disini yakni penutur yaitu, tokoh Marisa yang cenderung lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan bahasa Batak Toba.
(2) Halaman 19
Deni (P.BT) : “Hai, catik kali kau!”
Marisa (P.BT) : “Ah, kamu”
Deni (P.BT) : “Cemana jadinya sama si Tumoing?”
Marisa (P.BT) : “Tak usalah ingat-ingat dia itu! Namanya saja si Tumoing!
Parhutahuta (‘orang kampung’) kali pun!”
Deni (P.BT) : “Tapi baik kan? ”
Marisa (P.BT) : “Baik, sih. Tapi gitulah, kampungan.Kau sendiri yang bilang dia tu bukan anak main.Di ajak kemana-mana takut. Dua tahun aku Marhallet (‘Pacaran’) sama dia, mana pernah jalan-jalan kayak gini? KeHauma(‘ladang’) -nya aku dibawa-bawa.
Ditunjukkannya sawah samaPorlak (‘Kebun’) Bapaknya. Terus, Mangarabar Sotul (‘Menumbuk sotul’) sama adek-adeknya, sampe Rojanon Butuhangku (‘Sakit perut ku’)”.
Deni (P.BT) : “Hahaha…. !hari gini Mangarabar(‘Menumbuk’) ?” Marisa (P.BT) : “Gitulah. Paling banter makan mi gomak”.
Deni (P.BT) : “Apa aku bilang ? dari dulu aku juga heran ngapai kau mau
Marhallet(‘Pacaran’) sama dia. Tak mecinglah!”
Marisa (P.BT) : “Sudah, dong. Itukan dulu. Sudah lewat! Sekarang hanya ada kita! You and me (‘Kamu dan aku’)!”
Pada dialog percakapan di atas terdapat alih kode dan campur kode yang digunakan oleh tokoh Marisa dan Deni. Alih kode yang terdapat pada peristiwa di atas yakni alih kode intern yaitu bahasa Indonesia dan ektern yaitu bahasa Inggris. Penyebab alih kode intern di sini yaitu penutur, saat tokoh Deni mengunakan bahasa Indonesia tokoh Marisa pun menjawab dengan menggunakan bahasa Indonesia.Di sini juga terdapat alih kode dalam bentuk ekstern yaitu dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris yang dilakukan tokoh Marisa ini dapat kita lihat pada kalimat ‘You and me’ .Penyebab alih kode ekstern tersebut yaitu perubahan topik pembicaraan di mana dalam cerita tersebut tokoh Marisa ingin mengganti topik pembicaran menjadi lebih pribadi dengan tokoh Deni.Pada peristiwa di atas terdapat pula campur kode dalam bentuk dialog yang dilakukan oleh tokoh Marisa dan Deni.Campur kode yang digunakan yaitu campur kode ke dalam yaitu dari bahasa Batak Toba.Hal ini dapat
kita lihat dari kata-kata yang bercetak miring dan tebal di atas. Penyebab campur kode yaitu faktor penutur di mana tokoh Marisa dan Deni merupakan penutur Batak Toba.
(3) Halaman 20
Marisa (P.BT) : “Senang kali kau nengok aku putus sama dia.”
Deni (P.BT) : “Senang? Ha ha ha, ngeri-ngeri sedaplah. Soalnya dia kan kawan aku juga tapi cemmanalah, membayangkan nama kalian saja aku sudah ketawa aku. Kalau nama kitakan masih enak didengar : Deni. Disingkat Made coba kalau Marisa-Tumoing : Martuing (‘Bertinju’)….! Amangoi
Marisa (P.BT) : “Hahaha, Martuing(‘Bertinju’) itu kan Martumbuk (‘Bertinju’)?”
(‘Oh Tuhan’)! Sakit kali!”
Deni (P.BT) : “Ialah, bisa
Martumbuk(‘Bertinju)Martongkari(‘Bertengkar’) kalian
saban hari !”
Peristiwa di atas ialah peristiwa alih kode dan campur kode.Peristiwa alih kode pada dialog di atas dilakukan oleh tokoh Marisa dan Deni yaitu dari bahasa Batak Toba ke bahasa Indonesia.Hal ini dapat kita lihat pada percakapan dialog di atas di mana tokoh Marisa dan Deni merupakan penutur Batak Toba namun mereka
menggunakan bahasa Indonesia. Faktor penyebab alih kode dalam dialog di atas yakni penutur. Dalam percakapan di atas terdapat pula peristiwa campur kode yang dilakukan oleh tokoh Marisa dan juga Deni. Di sini mereka menggunakan bahasa Indonesia namun mereka bercampur kode dengan bahasa Batak Toba. Hal ini dapat dilihat dari kata yang bercetak miring dan tebal di atas.Penyebab terjadinya campur kode di atas yaitu faktor penutur di mana tokoh Marisa dan Deni merupakan penutur Batak Toba.
(4) Halaman 27
Deni (P.BT) : “Olo, Ompung. Pintor ro pe ahu !” (‘Baik, Nek. Aku akan segera datang’ ) Marisa (P.BT) : “Apa? Kok Ompung, sih ?ini Deni kan?”.
Deni (P.BT) : “I do, ahu do on”. ( ‘Ia benar ini aku’ )
Marisa (P.BT) : “Masa manggil akuOmpung? Icha sayang , gitu dong. Lama kali kau pun datang. Aku sudah tunggu dari tadi”.
Deni (P.BT) : “Olo, Ompung unang pintor muruk ho. Nunga sae be mandabu aek. Pintor mulak pe ahu, asa hupataru ho humatop tu ruma sakit”.(‘Baik, Nek jangan langsung marah.Sudah selesai mengalirkan air. Aku akan segera pulang, supaya lebih cepat ku antar kerumah sakit’)
Marisa (P.BT) : “Heh, siapa yang sakit ?maksudmu aku?”
Deni (P.BT) : “Bukan, bukan. Bah, maksudkuminum ma jolo ubatmi (‘Minumlah obatmu dulu’)..!”
Peristiwa di atas adalah peristiwa alih kode dialog yang dilakukan Tokoh Marisa yaitu berupa alih kode Intern dari bahasa Batak Toba ke bahasa Indonesia. Penyebab alih kode ini yaitu penutur . Di sini juga terdapat campur kode intern yaitu bahasa Indonesia yang dilakukan oleh tokoh Deni hal ini dapat dilihat pada kata yang bercetak tebal di atas. Faktor penyebab campur kode ini yakni faktor penutur.
(5) Halaman 28
Marisa (P.BT) :” Bah, na dirimpu ho do naung rintik ahu ?”
( ‘Loh, yang kamu pikir aku gila’ )
Deni (P.BT) : “Bah, daong !ndang songon I, na hudok.” (‘Loh, bukan! Bukan seperti itu, yang ku bilang’)
Marisa (P.BT) : “Matami ma !tanggiling! Jampurut!”
(‘Mata kau lah! Berubah-berubah !kurangajar’)
Deni (P.BT) : “Bah, jangan …jangan begitu..! Unang jo saonari, bah di johu Ompungku ahu, marsahit”. (‘Jangan dulu sekarang ya, aku sudah dipanggil Nenekku sedang sakit‘).
Tumoing (P.BT) : “Bah, naeng dope gabusanmu ahu? Sadihari adong HPni Ompung mu, bagudung? Telepon sian si Marisa do I, kan?” (‘Yah, apa sekarang kamu mau membohongi aku?Sejak kapan Nenekmu punya HP kurangajar?Itu telepon dari Marisa, kan?’) Deni (P.BT) : “Daong”. (‘Bukan’)
Tuimoing (P.BT) : “Unang margabus ho”. ( ‘Kau jangan berbohong’ )
Peristiwa di atas termasuk peristiwa alih kode dialog yang dilakukan tokoh Deni . Alih kode yang digunakan berupa alih kode intern di mana tokoh Deni beralih kode dari bahasa Batak Toba ke bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat pada kalimat yang bercetak tebal di atas.Penyebab alih kode ini yaitu perubahaan situasi dari situasi santai berubah menjadi situasi yang menegangkan.Pada peristiwa ini juga terdapat campur kode yang dilakukan oleh tokoh Tumoing campur kode yang digunakan yaitu campur kode ke dalam yaitu dari bahasa Indonesia.Hal ini dapat dilihat pada kata yang bercetak tebal di atas.Penyebab campur kode tersebut yaitu faktor bahasa.
(6) Halaman 30
Deni (P.BT) : “Maafin aku Icha ,toho do margabus ahu, hudok Ompung tu hotingki martelepon. Tapi alana kepepet do ahu. Pajumpang ahu dohot Tulang Sintua Pardede, dimuruhi ahu ala ndang hupasidung na marguru malua i”. (‘Benar aku berbohong, aku bilang Nenek kepada mu ketika di
telepon.Karena aku terdesak. Aku jumpa dengan Tulang Sintua Pardede, aku dimarahi karena tidak menyelesaikan naik sidi ku’)
Marisa (P.BT) : “Kenapa kau tak mau?”
Deni (P.BT) : “Bah, soal kecillah itu. SudahAma-Ama (‘Bapak-bapak’) pun banyak yangMarguru Malua (‘Belajar sidi’) sekarang ini!”
Peristiwa di atas adalah peristiwa alih kode dialog yang dilakukan oleh tokoh Deni dan Marisa. Alih kode yang dilakukan oleh tokoh Deni yaitu dari bahasa Batak Toba ke bahasa Indonesia namun beralih kode lagi ke bahasa Batak Toba hal ini dapat dilihat pada kalimat yang bercetak tebal di atas. Penyebab alih kode yang dilakukan oleh tokoh Deni yaitu perubahan situasi. Tokoh Deni juga melakukan campur kode bahasa Batak Toba pada saat menggunakan bahasa Indonesia hal ini dapat dilihat pada kata yang bercetak miring dan tebal di atas. Penyebab campur kode di sini yakni faktor peran di mana Deni merupakan suku Batak Toba. Pada tokoh Marisa alih kode yang digunakan adalah alih kode intern yaitu bahasa Indonesia. Tokoh Marisa merupakan penutur bahasa Batak Toba namun menggunakan bahasa Indonesia.Faktor penyebab alih kode tersebut yakni penutur.
(7) Halaman 31
Marisa (P.BT) : “Ndang na dibalbali si Tumoing ho nian?” (‘Bukan dipukuli si Tumoing kau?‘)
Deni (P.BT) : “Dibalbali (dipukuli)? Ha ha ha ,pamudar manuk i (‘Si lemah itu’) ? mana berani dia? Kau lihat aku pakek apa? Ini tintin baganding tua (‘Cincin berisi kekuatan’), pusaho Ompung (‘Pusaka Ompung’) dikasih ke aku”.
Marisa (P.BT) : “Tintin (‘Cincin’) apa itu? Mas pun tidak.”
Deni (P.BT) : “Bah, jangan anggap enteng kau. Ndang hea dibege ho hasaktion ni tintin bagading tua(‘Apa kamu tidak pernah mendengar kesaktian cincin baganding tua’) ?Bahannya memang bukan mas, hanya tembaga , perak, kuningan dan sibora. Tapi bukan hanya hiasan jari. Ini jimat, Icha.Rongit(‘Nyamuk’) pun tak berani menyentuh aku kalau aku pakai ini”.
Marisa (P.BT) : “Banyak cakap kau !aku gak butuh tintin begu (‘Cincin hantu’) kayak gitu! Aku perlu pulsa. Habis pulsaku menelepon kau terus, kau beraninya CumaMis call ”.
Deni (P.BT) : “Ah, pulsa itu soal kecil, sayang. Aku bilangpaima
Marisa (P.BT) : “Mendung apa? Panas terik begitu”.
Deni (P.BT) : “Bah, maksud hu ndang i (bukan begitu). Bahat hian panjomur nangkin di losung (‘Banyak kali tadi yang mau menjemur di tempat penggilingan’). Ingkon (harus) antri”. Peristiwa di atas peristiwa alih kode yang dilakukan oleh tokoh Deni dan Marisa. Alih kode yang digunakan adalah alih kode intern yaitu dari bahasa Batak Toba beralih kode ke bahasa Indonesia dan beralih lagi dari bahasa Indonesia ke bahasa Batak Toba. Penyebab alih kode di sini yakni perubahan topik pembicaraan di mana dari pembicaraan yang satu ke pembicaraan yang lain. Di sini juga terdapat campur kode ke dalam dan campur kode ke luar. Campur kode ke dalam yaitu bahasa Batak Toba pada saat tokoh Marisa dan Deni menggunakan bahasa Indonesia hal ini dapat dilihat pada kata yang bercetak miring dan tebal di atas. Factor penyebab campur kode ke dalam yaitu faktor penutur.Campur kode ke luar pada dialog di atas yaitu pada kata yang bercetak miring dan tebal di atas dari bahasa Inggris. Faktor penyebab campur kode ini yakni faktor bahasa.
(8) Halaman 36
Deni (P.BT) : “Cocok kaliomonganmu menjawab lagunya itu. Ha ha ha. Balos ma antong marende muse (‘Balaslah bernyanyi lagi’) …!”
Deni (P.BT) : “Ha ha ha ,aku punya, Rondang ni bulan “. (‘Bulan purnama’)
Marisa (P.BT) : “Ha ha ha, magigi ahu“. (’Jijik aku’)
Peristiwa di atas adalah peristiwa alih kode dialog yang dilakukan oleh tokoh Deni dan Marisa. Alih kode yang digunakan berupa alih kode intern yaitu bahasa Indonesia di mana tokoh Deni dan Marisa merupakan penutur Batak Toba namun menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat pada kata yang bercetak tebal di atas.Faktor penyebab alih kode ini yaitu penutur.
(9) Halaman 40
Encik Mente (P.BT) : ”Heiss,si Bleki ! So nice! Beautiful dog.I love it.
(‘Bleki ! Begitu bagus! Anjing yang cantik. Aku suka’) baba ni (Mulut mu)…!Eh, eh,sorry(‘Maaf’)
Tumoing (P.BT) : “Bleki, unang” (‘Jangan’) !Maaf Encik”.
Peristiwa di atas adalah peristiwa alih kode yang dilakukan oleh tokoh Encik Mente dan Tumoing. Alih kode yang dilakukan oleh tokoh Encik Mente yaitu alih kode ekstern di mana Ia menggunakan bahasa Inggris. Penyebab alih kode di sini yakni penutur yang merupakan guru bahasa Inggris dan menguasai 3 bahasa.Pada tokoh Tumoing alih kode yang dilakukan adalah alih kode intern yaitu bahasa Indonesia.Penyebab alih kode ini yakni lawan tutur.Dalam peristiwa ini terdapat pula campur kode ke dalam yaitu bahasa Batak Toba yang dilakukan oleh Encik Mente ini
dapat dilihat pada kata yang bercetak miring di atas.Penyebab campur kode ini ialah peran.
(10) Halaman 41
Encik Mente (P.BT) : ” He he, no problem. Dog is a dog indeed”. (‘Tidak masalah. Anjing adalah Anjing memang’)
Tumoing (P.BT) : “Baru mulak mangajar Encik ?” (‘Baru pulang mengajar Encik?’)
Encik Mente (P.BT) : “Ia, terusshopping(‘Berbelanja’) di masyuruphanstore (‘Toko’). Where are you going? (‘Kamu mau kemana?’)
Tumoing (P.BT) : “ He he he , I do Encik si Tumoing do ahu”. ( ‘Ia Encik aku memang Tumoing’)
Encik Mente (P.BT) : “ Ah, kau ini. Maksud Encik, kau mau kemana? Katanya kau sudah end(‘Selesai’) dengan maenhu(‘Keponakan ku’) si Marisa, right(‘Benar’)? ”
Tumoing (P.BT) : “He he he”.
Encik Mente (P.BT) : “Unang pangilngil mengkel. Toho do? “ ( ‘Jangan hanya senyum. Benarnya?’)
Tumoing (P.BT) : “Tu si Marisa ma sungkun Encik”.
(‘Tanyakan saja pada Marisa Encik’)
Peristiwa di atas merupakan peristiwa alih kode dialog yang dilakukan oleh tokoh Encik Mente . Alih kode yang digunakan adalah alih kode ekstern dan intern yaitu bahasa Inggris dan beralih kode lagi ke bahasa Indonesia dan beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Batak Toba. Pada awalnya Encik Mente menggunakan bahasa Inggris namun, beralih kode ke bahasa Indonesia ini dapat kita lihat pada kalimat yang bercetak tebal di atas, dan setelah Ia beralih kode dari bahasa Indonesia Ia beralih kode lagi ke bahasa Inggris, hal ini dapat kita lihat pada kalimat yang bercetak miring dan tebal di atas.
Kemudian Ia beralih kode lagi dari bahasa Inggris beralih kode ke bahasa Indonesia. Ia kembali lagi beralih kode ke bahasa Batak Toba ini dapat kita lihat pada kalimat yang bercetak miring . Penyebab alih kode ini yaitu lawan tutur di mana tokoh Tumoing tidak mengerti bahasa Inggris dan hanya menggunakan bahasa Batak Toba oleh sebab itu Encik Mente beralih kode.
Pada dialog ini juga terdapat campur kode ke dalam dan campur kode keluar. Campur kode ke dalam yaitu bahasa Batak Toba dan campur kode ke luar yaitu bahasa Inggris.Hal ini dapat dilihat pada kata yang bercetak miring dan tebal di atas.Penyebab campur kode bahasa Batak Toba yaitu faktor peran, sedangkan penyebab campur kode keluar yaitu faktor penutur.
(11) Halaman 42
Encik mente (P.BT) : “Ya, sudah. You look so hurry. Daag!” (‘Kamu terlihat begitu cepat’)
Peristiwa di atas adalah peristiwa alih kode intern dan ekstern yang dilakukan oleh tokoh Encik Mente yaitu dari bahasa Indonesia dan bahasa Inggris hal ini dapat dilihat dari kalimat yang bercetak tebal dan bercetak miring dan tebal di atas. Penyebab alih kode ini yaitu penutur.Penutur merupakan seorang guru bahasa Inggris oleh sebab itu dia sering menggunakan bahasa Inggris pada saat berkomunikasi.
(12) Halaman 44
Maringan (P.BT) : “Hoi, ngapain kau ?”
Gareta (P.BT) : “Ini, Ingan, aku disuruhNamborupanggilBang Tumoing, adanya di rumah?”
Maringan (P.BT) : “Sebentar kutengok dulu. Tadi tidur dia”.
Ibu Tumoing (P.BT) : “Laho marhua Namborumi manjou anakku?” ( Untuk apa Namboru manggil anak ku)
Gareta (P.BT) : “Gak taulahNamboru, aku cuma disuruhpanggil”.
Maringan (P.BT) : “Kata Bang Tumoing , nanti ke sana. Kau pulang saja.Mau aku antarmarlereng(‘Bersepeda’)?”
Ibu Tumoing (P.BT) : “Aha do nimmu? Pataru marlereng ? Naung dohot do ho maoto?“ (‘Apa katamu? Kau antar naik sepeda?Yang ikut kau jadi bodoh?’)
Maringan (P.BT) : “Bah, beha haroha?Ai dongan sakalashu do i, Inang”. (“Loh, kenapa rupanya? Kawan satu kelasku itu bu’)
Peristiwa di atas adalah peristiwa alih kode dialog intern yang dilakukan oleh tokoh Maringan dan Gareta yaitu dari bahasa Batak Toba ke bahasa Indonesia. Penyebab alih kode ini yakni penutur. Tokoh Maringan beralih kode lagi dari bahasa Indonesia ke bahasa Batak Toba ketika Ibunya datang. Penyebab alih kode di sini yakni kehadiran orang ketiga ini dapat dilihat dari kalimat yang bercetak miring di atas.
(13) Halaman 45
Tumoing (P.BT) : “Horas, Encik”.
Encik mente (P.BT) : Come in!” (‘Ayo kemari!’)
Peristiwa di atas adalah peristiwa adalah peristiwa campur kode ke luar yaitu dari bahasa Inggris.Ini dapat dilihat dari kata yang bercetak miring dan tebal di atas. Penyebab campur kode ini yaitu faktor penutur di mana Encik Mente merupakan guru bahasa Inggris maka Ia sudah terbiasa atau kesantaiannya dalam bahasa Inggris.
(14) Halaman 47
Encik mente (P.BT) : “Pardonganan mu dohot si Marisa nunga boha? Hubege songon na so denggan hamu na dua. What’t wrong,
guy?”(‘Pertemananmu dengan Marisa sudah bagaimana?Ku
dengar seperti tidak baik kalian berdua.Apa yang terjadi teman?’)
Tumoing (P.BT) : “ Ndang songon be, Encik. Nunga ponggol magotap”. (‘Tidak seperti itu lagi Encik. Sudah benar-benar patah’)
Peristiwa di atas adalah peristiwa alih kode ekstern yang dilakukan oleh tokoh Encik Mente yaitu, dari bahasa Batak Toba ke bahasa Inggris. Faktor penyebab alih kode ini yaitu faktor perubahan situasi di mana dalam dialog tersebut Ia sedang menanyakan kepada tokoh Tumoing dan untuk mencairkan suasana Ia mengunakan bahasa Inggris.
(15) Halaman 49
Encik Mente (P.BT) : “Ya, sudah, that’s all. Everything has gone away! Ai na laho salpu do sude portibion, right?”.(‘Itu saja. Semuanya telah berlalu! Semua yang didunia ini juga akan berlalu, benar?’)
Peristiwa di atas adalah peristiwa alih kode intern dan ekstern yang dilakukan oleh tokoh Encik Mente yaitu bahasa Indonesia ke bahasa Inggris ini dapat dilihat dari kalimat yang bercetak miring dan tebal di atas. Dalam dialog ini juga Encik mente beralih kode dari bahasa Inggris ke bahasa Batak Toba ini dapat dilihat dari kalimat yang bercetak miring di atas .Penyebab alih kode ini yaitu faktor penutur yaitu Encik Mente yang menguasai lebih dari dua bahasa. Dengan maksud tertentu Ia beralih kode.
(17) Halaman 51
Encik mente (P.BT) : “ Hepeng on do”. ( ‘Ini uang’) Tumoing (P.BT) : “Unang pola Encik…!”
(‘Tidak usah Encik..!’)
Encik mente(P.BT) : “Take it easy, nunga hudok unang pola haduk roham”. (‘Buat santai saja, sudah ku katakan kau tak perlu segan’)
Peristiwa di atas merupakan peristiwa campur kode ke luar yang dilakukan oleh tokoh Encik Mente ini dapat dilihat pada kata yang bercetak miring dan tebal di atas yaitu campur kode bahasa Inggris. Faktor penyebab campur kode ini yaitu, faktor peran yaitu tokoh Encik Mente merupakan seorang guru bahasa Inggris.
Encik Mente (P.BT) : ”Catat nomorteleponna on, na burju do i pintor telepon ma ibana, manangSMS .” (‘Telepon ini, dia orangnya baik langsung telepon saja dia atau tidak SMS’) Kau itu, Gold?He he he, benar, iniNantulang Mente.Kau baik-baik saja?puji Tuhan. Kau ingat Tumoing?Ah, ho pe da (‘Ah, kau pun’). Anak ni nan Tumoing ma antong (‘Anaknya mamak
Tumoinglah kau pun’) He he he, naeng tu Jakarta ibana (‘Dia mau ke Jakarta’). Nantulang kasih nomor teleponmu ke dia ya, ini dia disini, ngomonglah sendiri…!”
Tumoing (P.BT) : “Goldu, si Tumoing do ahu…! (‘Goldu ini aku Tumoing….!’) Olo,olo hu sms pe molo saut ahu borhat (‘Ia, ia nnati akan ku sms kalau aku berangkat’). Hu sms muse dung mandok sahat ahu tu Jakarta, ateh! Mauliate, kedan”.(‘Ku sms lagi kalau aku sudah mau sampai Jakarta, ya! Trimaksih teman’)
Encik Mente (P.BT) : “It’s ok.Pabulus ma roham, patulus langkam”.
(‘Tidak apa-apa. Tenangkanlah hati mu, dan berjalanlah terus)
Peristiwa di atas adalah peristiwa alih kode intern yang dilakukan oleh tokoh Encik Mente yaitu dari bahasa Batak Toba beralih kode ke bahasa Indonesia.Ini dapat dilihat dari kalimat yang berceta tebal di atas. Dalam dialog ini juga terdapat Campur kode ke luar yaitu bahasa Inggris pada kata yang bercetak miring dan tebal di atas.
Penyebab alih kode di atas yaitu kehadiran orang ketiga.Sedangkan faktor penyebab campur kode di sini yakni faktor penutur.
(19) Halaman 74
Tumoing (P.BT) : “ Nunga tonu ho, kedan”. (‘Kamu sudah basah, teman’ )
Goldu (P.BT) : “Ndang pola beha i, nah, marisap ma jolo ho”. (‘Tidak apa-apa, ini , merokok dulu kita’ )
Tumoing (P.BT) : “Nunga leleng ndang marisap be, bah”. (‘Sudah lama aku tidak merokok’ )
Goldu (P.BT) : “Hebat !ada anak muda Batak di huta takmarisap (‘Merokok’ )! Ha ha ha, antong minum kopi ma jolo hita ateh”.(‘Kalau begitu minum kopi dulu kita ya’).
Peristiwa di atas dalah peritiwa alih kode dialog yang dilakukan oleh tokoh Goldu. Alih kode yang digunakan yaitu alih kode intern yaitu dari bahasa Batak Toba ke bahasa Indonesia hal ini dapat kita lihat pada kalimat yang bercetak tebal di atas. Penyebab alih kode di atas yakni perubahan situasi yakni pada awalnya Ia menggunakan bahasa Batak Toba namun Goldu terkejut mendengar jawaban tokoh
Tumoing Ia beralih kode ke bahasa Indonesia dan kembali lagi beralih kode ke bahasa Batak Toba.
(20) Halaman 85
Polisi (P.I) : “Buka baju, cepat! Cepat! Celana juga, semua! Cepat!” Tumoing (P.BT) : “Bah, celana boha do?”
(‘Loh, celana bagaimana?’)
Polisi (P.I) : “Apa bah-buh? Cepat !” Tumoing (P.BT) : “Olo( ‘Baik’) , eh iya Pak”.
Peristiwa di atas merupakan peristiwa alih kode intern yaitu dari bahasa Batak