BAB III METODE PENELITIAN
3.8. Metode Analisis Data
Pada penelitian ini, data akan di analisis secara kuantitatif dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Hadi (2000) menyatakan bahwa penelitian deskriptif menganalisa dan menyajikan fakta secara sistematis sehingga dapat lebih mudah dipahami dan disimpulkan. Data yang akan diolah yaitu untuk
menentukan skor minimum, skor maksimum, mean, dan standar deviasi dari Penyesuaian Diri. Data tersebut akan mengkategorisasikan penyesuaian diri pada tingkat kecenderungan rendah, sedang dan tinggi. Selanjutnya, data juga akan digunakan untuk mendeskripsikan penyesuaian diri pada Santri baru Pondok Pesantren Uswatun Hasanah.
BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diuraikan mengenai hasil penelitian berupa gambaran umum subjek penelitian, hasil penelitian utama dan hasil tambahan serta pembahasan.
4.1. GAMBARAN UMUM SUBJEK PENELITIAN
Subjek dalam penilitian ini adalah santri baru di pondok pesantren Uswatun Hasanah berjumlah 150 orang. Sebelum melakukan analisis data, peneliti akan menguraikan gambaran subjek penelitian berdasarkan usia, jenis kelamin, lingkungan, kondisi fisik, suku dan budaya
4.1.1. Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Usia
Jika dilihat berdasarkan usia, maka penyebaran subjek penelitian dapat digambarkan seperti tabel berikut:
Tabel 4. Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Usia
Usia N Persentaase
12 Tahun 73 49 %
13 Tahun 77 51%
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa subjek penelitian paling banyak pada usia 13 tahun yaitu berjumlah 77 orang (51%), Usia 12 tahun berjumlah 73orang (49%).
4.1.2. Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin
Jika dilihat berdasarkan Jenis kelamin, maka penyebaran subjek penelitian dapat digambarkan seperti tabel berikut:
Tabel 5. Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin N Persentase
Laki-Laki 102 68 %
Perempuan 48 32 %
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa subjek penelitian yang paling banyak adalah berjenis kelamin laki - laki yaitu berjumlah 102 orang (68%) dan berjenis kelamin perempuan berjumlah 48 orang (32%).
4.1.3. Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Suku
Jika dilihat berdasarkan suku, maka penyebaran subjek penelitian dapat digambarkan seperti tabel berikut:
Tabel 6. Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Suku
Suku N Persentaase
Batak 89 59,3 %
Bugis 1 0,6 %
Jawa 56 37,3 %
Melayu 4 2,6 %
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa subjek penelitian yang paling banyak adalah suku Batak yaitu berjumlah 89 orang (59,3%), suku Jawa berjumlah 56 orang (37,3%), suku Melayu berjumlah 4 orang (2,6%), dan suku Bugis berjumlah 1 orang (0,6).
4.2. Hasil Utama Penelitian
Hasil utama dalam penelitian ini akan menggambarkan Penyesuaian diri secara umum pada santri baru Pondok Pesantren Uswatun Hasanah
4.2.1 Gambaran Penyesuaian Diri Subjek Penelitian Secara Umum
Gambaran penyesuaian diri pada santri Pondok Pesantren Uswatun Hasanah secara umum dapat dilihat dari skor mean, standar deviasi, nilai minimum serta nilai maksimum dari skor skala penyesuaian diri. Berikut ini merupakan tabel yang menggambarkan nilai empirik dan nilai teoritik pada subjek penelitian.
Tabel 7. Skor Empirik Dan Skor Teoritik Penyesuaian Diri
Variabel Empirik Teoritik
Penyesuaian Diri
Min Maks Mean SD Min Maks Mean SD
86 137 114,92 9,774 29 145 87 19,3
Dari tabel tersebut, dapat diketahui bahwa skor minimum Penyesuaian Diri dari 150 subjek adalah sebesar 86 minimum dan skor maksimum sebesar 137.
Data pada tabel juga menggambarkan bahwa mean empirik dari penyesuaian diri sebesar 114.92 dengan standar deviasi sebesar 9,774, sedangkan mean teoritik
sebesar 87 dengan standar deviasi sebesar 19,3. Selanjutnya, subjek akan digolongkan ke dalam tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi.
Pengelompokan Penyesuaian diri subjek penelitian dilakukan dengan pengkategorian sebagaimana yang tertera pada tabel berikut:
Tabel 8. Kategori Norma Nilai penyesuaian Diri
Variabel Rentang Nilai Kategori
Penyesuaian Diri
X < (µ - 1,0ϭ) Rendah (µ - 1,0ϭ) ≤ X ≤ (µ + 1,0ϭ) Sedang X > (µ + 1,0ϭ) Tinggi
Keterangan: µ = Mean hipotetik skala penyesuaian diri, ϭ = Standar deviasi
Berdasarkan kategorisasi norma penyesuaian diri pada tabel di atas, yang juga terdapat skor mean dan standar deviasi, maka diperoleh pengelompokkan penyesuaian diri seperti yang dijelaskan pada table berikut:
Tabel 9. Pengelompokkan Penyesuaian Diri Subjek
Rentang Skor Kategorisasi Frekuensi Persentase
X <87 Rendah 0 0 %
87 ≤ X ≤ 106 Sedang 26 17 %
X >106 Tinggi 124 83 %
0
Berdasarkan penggolongan penyesuaian diri pada tabel di atas, maka penyebaran subjek pada setiap kategori dapat dilihat pada grafik berikut:
Grafik 1. Kategorisasi Penyesuaian Diri Subjek
Dari hasil tersebut, dapat diketahui bahwa dari 150 orang subjek penelitian sebanyak 124 (83%) santri memiliki penyesuaian diri tinggi, 24 (17%) santri memiliki penyesuaian diri sedang, dan 0 (0%) siswa memiliki penyesuaian diri rendah.
4.3 HASIL TAMBAHAN
4.3.1 Gambaran Penyesuaian Diri Berdasarkan Kondisi fisik (cacat fisik) Jika dilihat berdasarkan kondisi fisik, maka penyebaran subjek penelitian dapat digambarkan seperti tabel berikut:
Tabel 10. Gambaran Penyesuaian Diri Subjek Berdasarkan Kondisi Fisik Kondisi Fisik
Rabun jauh 1
- 1 - 0,5 %
Cacat Kaki 1
- - 1 0,5 %
Berdasarkan tabel di atas, dijelaskan bahwa subjek penelitian bahwasannya keadalan fisik merupakan penentu dari penyesuaian diri keadaan fisik subjek yang normal berjumlah 145 (97%) subjek dengan penyesuaian diri rendah berjumlah tidak ada atau 0, sedang 24 orang dan tinggi 121 orang. Kondisi fisik telingan yang tidak normal berjumlah 3 (2%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah berjumlah tidak ada atau 0, sedang 1 orang dan tinggi berjumlah 2 orang. Kondisi fisik rabun jauh berjumlah 1 (0,5%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah tidak ada, sedang 1 orang dan tinggi tidak ada.
Sedangkan subjek dengan kondisi fisik kaki yang tidak normal berjumlah 1 (0,5%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah tidak ada, sedang berjumlah 1 orang dan tinggi 0 atau tidak ada.
Tabel 11. Gambaran Penyesuaian Diri Subjek Berdasarkan Kondisi Fisik (Penyakit Berat atau kambuhan)
Paru-Paru 3
- 1 2 2 %
Lain-Lain 4
- 2 2 3 %
Berdasarkan tabel di atas, dijelaskan bahwa subjek penelitian bahwasannya keadalan fisik penyakit berat yang pernah diderita subjek yang normal berjumlah 121 (81%) subjek dengan penyesuaian diri rendah berjumlah tidak ada atau 0, sedang 21 orang dan tinggi 100 orang. Cacar berjumlah 9 (6%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah berjumlah tidak ada atau 0, sedang 2 orang dan tinggi berjumlah 7 orang. DBD berjumlah 6 (4%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah tidak ada dan tinggi 6.Gatal – gatal berjumlah 2 (1%) subjek subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah berjumlah tidak ada atau 0, sedang 0 orang dan tinggi berjumlah 2 orang. Lambung berjumlah 5 (3%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah berjumlah tidak ada atau 0, sedang 0 orang dan tinggi berjumlah 5 orang. Paru- Paru berjumlah 3 (2%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah berjumlah tidak ada atau 0, sedang 1 orang dan tinggi berjumlah 2 orang. Lain – lain berjumlah 4 (3%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah berjumlah tidak ada atau 0, sedang 2 orang dan tinggi berjumlah 2 orang.
4.3.2. Gambaran Penyesuaian Diri Subjek Berdasarkan Suku & Budaya Tabel 12. Gambaran Penyesuaian Diri Subjek Berdasarkan Suku dan
Budaya
Suku & Budaya N
Penyesuaian Diri
Persentase Rendah Sedang Tinggi
Batak 89 - 15 74 59,3 %
Bugis 1 - - 1 0,6 %
Jawa 56 - 11 45 37,3 %
Melayu 4 - - 4 2,6 %
Berdasarkan tabel di atas, dijelaskan bahwa penyesuaian diri subjek penelitian berdasarkan suku dan budaya yaitu budaya Batak berjumlah 89 (59,3%) subjek dengan penyesuaian diri rendah tidak ada atau 0, sedang 15 orang dan tinggi 74 orang. Penyesuaian diri pada subjek Suku Bugis berjumlah 1 (0,6%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah berjumlah tidak ada atau 0, sedang 0 orang dan tinggi berjumlah 1 orang. Penyesuaian diri pada subjek Suku Jawa berjumlah 56 (37,3%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah tidak ada, sedang 11 orang dan tinggi 45 orang. Sedangkan Penyesuaian diri pada subjek Suku berjumlah 4 (2,6%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah tidak ada, sedang tidak ada orang dan tinggi 4 orang.
4.3.3 Gambaran Penyesuaian Diri Subjek Berdasarkan Penilaian terhadap lingkungan Asrama
Tabel 13. Gambaran Penyesuaian Diri Subjek Berdasarkan Penilaian terhadap lingkungan Asrama Berdasarkan tabel di atas, dijelaskan bahwa subjek penelitian berdasarkan penilaian terhadap asrama yang menyatakan baik berjumlah 102 (68%) subjek dengan penyesuaian diri rendah berjumlah tidak ada atau 0, sedang 11 orang dan tinggi 91 orang. Yang menyetakan biasa biasa saja berjumlah 44 (29%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah berjumlah tidak ada atau 0, sedang 12 orang dan tinggi berjumlah 32 orang. Dan yang menyetakan tidak baik berjumlah 4 (3%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah tidak ada, sedang 3 orang dan tinggi 1 orang.
4.3.4 Gambaran Penyesuaian Diri Subjek Berdasarkan Asal Daerah
Tabel 14. Gambaran Penyesuaian Diri Subjek BerdasarkanAsal Daerah
Asal daerah N
Berdasarkan tabel di atas, dijelaskan bahwa penyesuaian diri subjek penelitianberdasarkan asal daerah. Labuhan Batu berjumlah 58 (42%) subjek dengan penyesuaian diri rendah berdasarkan asal daerahtidak ada atau 0, sedang 11 orang dan tinggi 47 orang. Penyesuaian diri asal daerah Labuhan Batu Selatan berjumlah 49 (39%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah berjumlah tidak ada atau 0, sedang 9 orang dan tinggi berjumlah 40 orang. Penyesuaian diri pada subjek asal daerah Labuhan Batu Utara berjumlah 17 (7%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah tidak ada, sedang 1 orang dan tinggi 16 orang.
Penyesuaian diri asal daerah Riau berjumlah 6 (3%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah tidak ada, sedang tidak ada orang dan tinggi 6 orang.
Penyesuaian diri asal daerah Nias berjumlah 3 (1,5%) subjek dengan penyesuaian diri rendah tidak ada sedang 1 dan tinggi 2 orang. Penyesuaian diri asal daerah Kisaran berjumlah 8 (4%) subjek dengan penyesuaian diri rendah tidak ada sedang 1 dan tinggi 7 orang. Penyesuaian diri asal daerah Bagan Batu berjumlah 8 (4%) subjek dengan penyesuaian diri rendah tidak ada sedang 2 dan tinggi 6 orang. Dan penyesuaian diri asal daerah Medan berjumlah 1 (0,5%) subjek dengan penyesuaian diri rendah tidak ada sedang tidak ada dan tinggi 1 orang.
4.3.5 Gambaran Penyesuaian Diri Subjek Berdasarkan Penilaian terhadap Pengurus Pondok Pesantren
Tabel 15. Gambaran Penyesuaian Diri Subjek Berdasarkan Penilaian terhadapPengurus Pondok Pesantren
Berdasarkan tabel di atas, dijelaskan bahwa subjek penelitian berdasarkan penilaian terhadap pengurus pondok yang menyatakan baik berjumlah 117 (78%) subjek dengan penyesuaian diri rendah berjumlah tidak ada atau 0, sedang 16 orang dan tinggi 101 orang. Yang menyetakan biasa biasa saja berjumlah 31 (21%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah berjumlah tidak ada atau 0, sedang 9 orang dan tinggi berjumlah 22 orang. Dan yang menyetakan tidak baik
berjumlah 2 (1%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah tidak ada, sedang 1 orang dan tinggi 1 orang.
4.3.6 Gambaran Penyesuaian Diri Subjek Berdasarkan Penilaian terhadap Guru
Tabel 16. Gambaran Penyesuaian Diri Subjek Berdasarkan Penilaian terhadap Guru
Berdasarkan tabel di atas, dijelaskan bahwa subjek penelitian berdasarkan penilaian terhadap asrama yang menyatakan baik berjumlah 125 (85%) subjek dengan penyesuaian diri rendah berjumlah tidak ada atau 0, sedang 18 orang dan tinggi 107 orang. Yang menyetakan biasa biasa saja berjumlah 23 (14%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah berjumlah tidak ada atau 0, sedang 7 orang dan tinggi berjumlah 16 orang. Dan yang menyetakan tidak baik berjumlah 2 (1%) subjek dengan tingkat penyesuaian diri rendah tidak ada, sedang 1 orang dan tinggi 1 orang.
4.4. PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyesuaian diri pada santri baru pondok pesantren Uswatun Hasanah. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 150 Santri baru di pondok pesantren Uswatun Hasannah yang melakukan
aktifitas penyesuaian diri yang baik terhadap lingkungan pondok pesantren, diketahui bahwa sebanyak 124 (83%) siswa santri baru di pondok pesantren Uswatun Hasanah memiliki penyesuaian diri pada kategori tinggi, terdapat 26 (17%) siswa santri baru di pondok pesantren Uswatun Hasanah memiliki tingkat menyesuaian diri sedang, dan terdapat 0 (0%) siswa santri baru pondok pesantren Uswatun Hasanah yang memiliki tingkat penyesuaian diri pada kategori rendah.
Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat penyesuaian diri yang baik pada santri baru pondok pesantren Uswatun Hasanah pada kategori tinggi yaitu sebanyak 124 (83%) siswa santri baru.
Penyesuaian diri yang baik pada 83% siswa santri baru dipengaruhi oleh banyak hal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pritaningrum &
Hendriani (2013), diketahui bahwa pada lingkungan pesantren, para santri akan mendapat dukungan yang lebih besar dari para pengajar maupun orang yang terlibat di pesantren. Hal ini disebabkan oleh adanya kebijakan yang sudah mengakar di berbagai pesantren untuk membimbing penyesuaian para santri, dengan mengingat bahwa banyaknya para santri yang berasal dari sekolah umum.
Sehingga hal-hal dasar yang berhubungan dengan ilmu agama masih sangat minim. Hal inilah yang menjadi fokus para guru maupun para pengurus untuk membimbing dan memberi arahan agar para santri baru dapat mengikuti proses pembelajaran dengan kemampuan yang setara dan menghindari adanya perilaku menarik diri dari kelompok karena merasa dirinya tidak secerdas santri yang lain.
Selain dukungan dari para guru, penelitian lain menunjukkan bahwa pembekalan menjadi faktor yang tidak kalah penting untuk membantu para santri
baru dalam menyesuaikan diri dengan baik (Arifin, 1993). Pembekalan ini berupa nasihat yang diberikan oleh para orangtua kepada anaknya mengenai adanya perbedaan aturan antara pesantren dan rumah, selain itu pesan-pesan untuk mampu menumbuhkan kemandirian dalam berbagai aspek, serta cara melakukan coping pada saat mengalami homesick. Pembekalan semacam ini paling tidak memberikan gambaran mengenai apa yang akan dihadapi oleh santri di lingkungan barunya. Sehingga, pada saat berada di situasi yang sebenarnya para santri baru dapat lebih cepat dan mudah untuk menyesuaikan dirinya.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Maghfiroh (2011) menunjukkan bahwa secara umum santri memandang pesantren dalam pandangan yang positif, bahwa pesantren merupakan lingkungan yang menyenangkan, penuh rasa kekeluargaan, dan mampu mendidik santri menjadi mandiri. Hal-hal tersebut mampu menjelaskan mengapa secara umum para santri baru dapat menyesuaikan diri dengan baik di pesantren Uswatun Hasanah.
Berdasarkan kondisi fisik (cacat fisik), subjek dengan kondisi normal memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 121 orang dan sedang 24 orang.
Subjek dengan kondisi telinga tidak normal memiliki penyesuan diri yang tinggi sebayak 2 orang dan sedang 1 orang. Subjek dengan kondisi rabun jauh memiliki penyesuaian diri yang sedang sebanyak 1 orang. Subjek dengan keadaan jari kaki tidak normal memiliki penyesuaian diri yang sedang sebanyak 1 orang).
Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa para santri yang memiliki kondisi fisik yang tidak normal tetap mampu melakukan penyesuaian diri dengan
baik. Hal ini dapat dilihat dari nihilnya jumlah santri yang memiliki penyesuaian diri yang rendah.
Umumnya, kondisi fisik yang tidak normal akan memiliki hubungan yang kuat dengan kepercayaan diri (Piran dkk, 2017). Individu yang memiliki kondisi fisik tidak normal akan merasa bahwa dirinya berbeda dari orang lain. Selain itu, hal yang semakin mempersulit kemampuan penyesuaian diri individu dengan kondisi fisik tidak normal adalah munculnya tindakan pelecehan terhadap individu, seperti penghinaan secara verbal, dijadikan lelucon, bullying, serta perampasan hak-hak yang dilakukan oleh individu yang lebih kuat (Novalia, 2016).
Namun, dalam penelitian ternyata ditemukan bahwa penyesuaian diri baik oleh santri baru dengan kondisi fisik normal maupun kondisi fisik tidak normal, ternyata sama-sama berada pada kategori tinggi dan sedang. Hal ini dapat dijelaskan melalui konsep penalaran moral dan pembentukan karakter.
Sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, pesantren memiliki sebuah konsep yang dikenal sebagai penalaran moral (Basyiruddin, 2010). Penalaran moral merupakan sebuah gagasan dalam konsep pendidikan yang bertujuan untuk membekali para santri dengan pengetahuan agar mampu menjalankan tugas-tugasnya sesuai dengan aturan dan tuntunan yang terdapat pada nilai-nilai agama.
Penalaran moral yang baik akan memunculkan rasa syukur kepada Tuhan YME, serta mampu menghargai makhluk lain yang hidup saling berdampingan.
Pendidikan pesantren mengutamakan akhlakul karimah (akhlak yang baik) sebagai karakter para santri (Anis, 2013). Perwujudannya dapat terlihat dari
keseharian para santri seperti bertutur kata yang baik, ringan dalam menolong sesama, serta berperilaku dengan berlandaskan pada dalil dan ajaran agama.
Lewat penalaran moral dan pembentukan karakter akhlakul karimah, para santri akan memandang kekurangan fisik dari orang lain sebagai tanda-tanda kebesaran Allah swt yang tidak boleh dipandang rendah bahkan dicela. Santri akan cenderung untuk menolong sesama yang mengalami kesulitan. Oleh sebab itu, tindak pelecehan ataupun bullying terhadap santri di pesanten terbukti memiliki tingkat yang lebih rendah dibanding dengan institusi pendidikan yang setara (Arofa dkk, 2008).
Berdasarkan Kondisi fisik penyakit berat, subjek dengan penyakit cacar memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 7 orang dan sedang 2 orang.
Subjek dengan penyakit DBD memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 6 orang. Subjek dengan penyakit gatal-gatal memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 2 orang.Subjek dengan penyakit lambung memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 5 orang. Subjek dengan penyakit paru-paru memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 2 orang dan sedang 1 orang.
Kondisi individu yang mengidap penyakit tertentu secara umum akan membatasinya untuk melakukan berbagai aktivitas layaknya orang normal (Pranowo & Sugiyatma, 2004). Meskipun demikian, untuk kondisi sakit yang bersifat kambuhan seperti lambung, asma atau alergi tidak akan berdampak signifikan pada aktivitas individu selama terdapat penanganan yang tepat serta pengendalian diri yang baik dari individu. Untuk penyakit yang disebabkan oleh
virus atau bakteri seperti cacar dan DBD maka harus dilakukan penanganan medis yang tepat untuk memberi kesembuhan pada individu.
Demikian hal yang terjadi di pesantren Uswatun Hasanah. Meskipun beberapa santri memiliki penyakit berat, namun pada kenyataannya kondisi tersebut bukanlah hal yang menghalangi para santri untuk bisa berbaur, belajar dan menyesuaikan diri dengan berbagai elemen yang ada di lingkungan. Pesantren uswatun hasanah sebelum menetapkan seorang calon santri untuk bisa bergabung ke dalam pesantren, sebelumnya dilakukan pengamatan terhadap kondisi fisik maupun kesehatan calon santri. Hal ini bertujuan untuk melihat potensi fisik calon santri maupun penyakit yang diderita calon santri sebelum mengikuti program di dalam pesantren. Bagi para santri yang terkena penyakit terjangkit virus/bakteri, maka pesantren akan melakukan tindakan terhadap santri agar bisa di tangani, selain itu komunikasi pihak pesantren dan keluarga santri juga dijalin dengan baik agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Penelitian yang dilakukan oleh Sutyaningtyas dan Abdullah, (2012) menjelaskan bahwa selama individu masih bisa menjalankan peran dan tugasnya dengan baik walaupun dalam kondisi sakit atau kurang sehat, maka hal tersebut tidak memberi pengaruh besar terhadap penyesuaian dirinya. Bahkan, bagi beberapa orang dengan penyakit berat yang mampu menjalankan tugas kehidupan sama seperti orang normal, umumnya akan mengembangkan kepercayaan diri dan konsep diri yang lebih positif melalui apresiasi orang-orang di sekelilingnya (Astuti, 2008).
Berdasarkan suku, subjek dengan suku batak memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 74 orang dan sedang 15 orang. Subjek dengan suku bugis memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 1 orang. Subjek dengan suku jawa memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 45 orang dan sedang 11 orang. Subjek dengan suku melayu memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 4 orang.
Berdasarkan asal daerah, subjek asal labuhan batu memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 47 orang dan sedang 11 orang. Subjek asal labuhan batu selatan memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 40 orang dan sedang 9 orang. Subjek asal labuhan batu utara memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 16 orang dan sedang 1 orang. Subjek asal Riau memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 6 orang. Subjek asal Nias memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 2 orang dan sedang 1 orang. Subjek dengan asal kisaran memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 7 orang dan sedang 1 orang.
Subjek asal bagan batu memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 6 orang dan sedang 2 orang.
Poin keempat dan kelima dapat dibahas melalui konsep yang sama.
Peneliti berfokus bahwa suku dan asal daerah sama-sama berpengaruh terhadap terbentuknya kebiasaan diri pada seorang individu, kebiasaan-kebiasaan inilah yang kemudian berdampak terhadap proses penyesuaian diri para santri.
Penelitian yang dilakukan Bahagia (2019) menyatakan bahwa penyesuaian diri juga dipengaruhi oleh latar belakang suku seorang individu. Hal ini
dikarenakan tiap-tiap suku di Indonesia memiliki tradisi dan aktivitas hidup yang berbeda dalam beberapa hal. Salah satu contohnya, cara berbicara dan mengekspresikan emosi antara orang Batak dan Jawa berbeda. Orang Batak akan cenderung terlihat lebih semangat dan orang jawa lebih memiliki kesan kalem (Kozok, 1999).
Namun, pada penelitian ini secara keseluruhan terlihat bahwa setiap santri baik dari suku batak, jawa, bugis maupun melayu maupun asal daerah yang berbeda-beda mendominasi tingkat penyesuaian diri pada kategori tinggi. Hal ini bisa dijelaskan melalui konsep sense of place. Konsep ini merupakan gagasan yang dikemukakan oleh Hashemnezhad (dalam Jatmiko, 2013) dimana manusia dapat merasakan tempat, mempersepsikan diri mereka dan memiliki keterikatan pada tempat dimana mereka berada. Hal ini dapat membentuk perilaku individu ketika berada pada satu daerah tertentu. Konsep ini mampu menjelaskan bahwa selain adaptasi, sense of place yang dialami para santri berbeda suku dan asal daerah mampu membetuk perilaku baru para santri untuk berkegiatan sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di daerah tersebut. Hal inilah yang mampu menjelaskan mengapa tingkat penyesuaian para santri yang berbeda daerah dan suku mayoritas berada pada kategori tinggi.
Berdasarkan penilaian terhadap lingkungan, subjek dengan penilaian baik memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 91 orang dan sedang 11 orang.
Subjek dengan penilaian biasa-biasa saja memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 32 orang dan sedang 12 orang. Subjek dengan penilaian tidak baik memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 1 orang dan sedang 3 orang.
Berdasarkan penilaian terhadap pengurus, subjek dengan penilaian baik memiliki penyesuaian diri yang tinggi sebanyak 101 orang dan sedang 16 orang.
Subjek dengan penilaian biasa-biasa saja memiliki penyesuaian diri yang tinggi
Subjek dengan penilaian biasa-biasa saja memiliki penyesuaian diri yang tinggi