• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.6 Metode Analisis Data

Beberapa tahapan dalam pengumpulan data : 1. Editing

Tahap pertama yaitu memeriksa kelengkapan data rekam medis dengan memperhatikan kriteria inklusi dan ekslusi.

2. Coding

Data yang telah terkumpul dan sudah diperiksa kelengkapannya diberi kode oleh peneliti secara manual sebelum diolah dengan komputer.

3. Entring

Data yang telah diberi kode selanjutnya dimasukkan ke dalam program pengolahan data.

4. Cleaning Data

Pemeriksaan semua data yang telah dimasukkan ke dalam program pengolahan data.

5. Saving

Penyimpanan data untuk dianalisis.

Uji statistik yang digunakan adalah “Uji Pearson Chi Square” untuk menganalisis hubungan dan mengukur kuatnya hubungan antar variabel. Data diolah dan dianalisis menggunakan program pengolahan data. Selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel dan dideskripsikan.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PENELITIAN

Proses pengambilan data untuk penelitian telah dilakukan pada bulan Sepetember 2019 di RSUP H. Adam Malik Medan dengan subjek penelitian sebanyak 100 sampel. Hasil Penelitian akan dipaparkan sesuai dengan hasil pengumpulan dan analisis data.

4.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Pusat Haji Adam Malik yang beralamat di Jalan Bunga Lau No. 17, Kemenangan Tani, Medan Tuntungan, Medan, Sumatera Utara. Rumah sakit ini merupakan Rumah sakit kelas A berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.335/KEMENKES/VII/1990.

Selain itu, RSUP H. Adam Malik juga merupakan Rumah sakit rujukan kesehatan bagi wilayah pembangunan A yang meliputi Provinsi Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat dan Riau. Oleh karena itu banyak dijumpai pasien dengan latar belakang yang berbeda. Seluruh data rekam medis pasien yang dilayani di Rumah sakit ini disimpan di Instalasi rekam medis RSUP sH. Adam Malik. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data rekam medis yang disimpan di instalasi tersebut.

4.1.2 Karakteristik Sampel

Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 100 sampel. Deskripsi karakteristik sampel dalam penelitian ini terdiri dari jenis kelamin dan usia.

Tabel 4.1

Karakteristik Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia

No Variabel Jumlah Persentase

1 Jenis Kelamin

Perempuan 25 25.0

Laki-laki 75 75.0

2 Umur

<20 tahun 4 4.0

20-30 tahun 14 14.0

31-40 tahun 16 16.0

41-50 tahun 25 25.0

51-60 tahun 41 41.0

Jumlah 100 100.0

Sumber : Hasil penelitian 2019 (data diolah)

Ditinjau dari jenis kelamin, hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 100 sampel penelitian, 25 orang (25.0%) adalah perempuan dan 75 orang (75.0%) adalah laki-laki. Dengan demikian, mayoritas sampel adalah laki-laki yakni sebanyak 75 orang (75.0%).

Ditinjau dari faktor usia, hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 100 sampel penelitian, 4 orang (4.0%) berumur dibawah 20 tahun, 14 orang (14.0%) berumur antara 20-30 tahun, 16 orang (16.0%) berumur antara 31-40 tahun, 25 orang (25.0%) berumur antara 41-50 tahun dan 41 orang (41.0%) berumur antara 51-60 tahun. Dengan demikian, mayoritas sampel berumur antara 51-60 tahun yakni sebanyak 41 orang (41.0%).

A. Luas Lesi

Luas lesi dalam penelitian ini dikategorikan kedalam 2 kategori yakni minimal dan luas dengan distribusi frekuensi sebagai berikut:

Tabel 4.2 Kategori Luas Lesi

No Kategori Luas Lesi Jumlah Persentase (%)

1 Minimal 45 45.0

2 Luas 55 55.0

Jumlah 100 100.0

Sumber : Hasil penelitian 2019 (data diolah)

Tabel 4.2 memperlihatkan bahwa dari 100 sampel, 45 orang (45.0%) memiliki lesi minimal dan 55 orang (55.0%) memiliki lesi luas. Dengan demikian, mayoritas sampel memiliki memiliki lesi luas yakni sebanyak 55 orang (55.0%)

B. Hasil Pemeriksaan Sputum BTA

Pemeriksaan Sputum BTA dalam penelitian ini dikategorikan kedalam 4 kategori yakni (-), (1+), (2+) dan (3+) dengan distribusi frekuensi sebagai berikut:

Tabel 4.3

Kategori Hasil Pemeriksaan Sputum BTA No Kategori Hasil Pemeriksaan

BTA

Jumlah Persentase (%)

1 - 42 42.0

2 1+ 36 36.0

3 2+ 14 14.0

4 3+ 8 8.0

Jumlah 100 100.0

Sumber : Hasil penelitian 2019 (data diolah)

Tabel 4.3 memperlihatkan bahwa dari 100 sampel, 42 orang (42.0%) memiliki sputum BTA negatif (-), 36 orang (36.0%) sputum BTA 1+, 14 orang (14.0%) sputum BTA 2+ dan 8 orang (8.0%) dengan sputum BTA 3+. Dengan demikian, mayoritas sampel penelitian memiliki sputum BTA negatif (-) yakni sebanyak 42 orang (42.0%).

4.1.3 Analisis Statistik

Analisis statistik dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan antara luas lesi pada gambaran foto toraks dengan hasil pemeriksaan sputum BTA dengan uji chi-square pada tingkat kepercayaan 95% dan signifikansi 0.05.

Tabel 4.4

Tabulasi Silang Antara Luas Lesi dengan Kepositivan Sputum BTA

Luas Lesi

Kepositivan Sputum BTA Total

t-hitung Sumber : Hasil penelitian 2019 (data diolah)

Hasil tabulasi silang pada tabel 4.4 memperlihatkan bahwa dari 45 sampel dengan lesi minimal, 28 orang (62.2%) memiliki sputum BTA negatif, 10 orang (22.2%) dengan sputum BTA 1+, 4 orang (8.9%) dengan sputum BTA 2+, dan 3 orang (6.7%) dengan sputum BTA 3+. Selanjutnya, dari 55 sampel dengan lesi luas, 14 orang (25.5%) memiliki sputum BTA (-), 26 orang (47.3%) dengan sputum BTA 1+, 10 orang (18.2%) dengan sputum BTA 2+ dan 5 orang (9.2% ) dengan sputum BTA 3+. Dengan demikian, mayoritas sampel yang memiliki lesi luas, memiliki sputum BTA 1+ yakni sebanyak 26 orang (47.3%).

Hasil uji chi-square menunjukan bahwa nilait-hitung= 3.989 dan p-value = 0.003, lebih kecil dari 0.05, sehingga dapat disimpulkan bahwa luas lesi memiliki hubungan signifikan dengan hasil pemeriksaan sputum BTA.

4.2 PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini besar sampel yang digunakan adalah sebanyak 100 sampel yang didapat dari data rekam medis RSUP H. Adam Malik untuk semua kasus TB paru periode 2016-2018. Persentase tertinggi sampel penelitian berdasarkan jenis kelamin didapatkan pada jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 75 pasien (75%), sedangkan pada jenis kelamin perempuan sebanyak 25 pasien

(25%). Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak yang menderita TB paru dibandingkan perempuan. Hasil prevalensi ini sesuai dengan hasil Laporan Subdit TB Depkes RI (2010) yang menyatakan bahwa sampai dengan tahun 2010 triwulan 1 kejadian TB terbesar adalah pasien berjenis kelamin laki-laki. Dan berdasarkan Survei Prevalensi Tuberkulosis prevalensi pada laki-laki 3 kali lebih tinggi dibandingkan pada perempuan. Begitu juga terjadi di negara-negara lain.

Hal ini terjadi kemungkinan karena laki-laki lebih terpapar pada faktor risiko TB misalnya merokok dan kurangnya kepatuhan minum obat (Kemenkes, 2016).

Persentase tertinggi sampel penelitian menurut umur terdapat pada umur 51-60 tahun sebanyak 41 pasien (41%). Sedangkan persentase terendah adalah pada umur <20 tahun yaitu 4 pasien (4%). Umur yang paling banyak menderita TB paru adalah berumur 51-60 tahun. Hasil ini sesuai dengan survei TB nasional tahun 2018 yang menemukan jumlah penderita TB terbanyak pada kelompok umur diatas 45 tahun. Kejadian TB paru paling banyak pada lansia kemungkinan disebabkan karena pada usia ini sudah mulai terjadi penurunan daya tahan tubuh dan kondisi ini lebih rentan untuk terkena penyakit terutama penyakit infeksi, salah satunya adalah penyakit tuberculosis (Kemenkes, 2018).

Terdapat perbedaan epidemiologi TB dari negara-negara berkembang dan industri. Di negara-negara dimana standar hidup rendah dan sumber daya kesehatan yang buruk, risiko infeksi TB paru 80% terjadi pada usia produktif (15-59 tahun). Di negara-negara ekonomi maju dimana sudah terjadi penurunan insidensi TB, mayoritas muncul akibat dari reaktivasi endogen TB. Hal ini menyebabkan tingkat penyakit tertinggi terjadi pada lansia (Kemenkes, 2018).

Distribusi pasien menurut gambaran radiologi toraks menunjukkan bahwa hasil pembacaan foto toraks pada 100 sampel pasien TB ditemukan persentase tertinggi dengan gambaran lesi luas sebanyak 55 pasien atau 55% dari seluruh sampel yang diambil, sedangkan pada lesi minimal hanya ditemukan sebanyak 45 pasien atau 45%. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasbullah Kasim mengenai hubungan luas lesi pada gambaran radiologi toraks dengan kepositivan pemeriksaan pemeriksaan sputum BTA pada pasien tuberkulosis paru dewasa kasus baru di BBKPM Surakarta yang menemukan hasil mayoritas pasien

TB memiliki gambaran radiologi lesi luas sebanyak 51 pasien (70.83%) sedangkan lesi minimal hanya 21 pasien (29.17%) dari total sampel sebanyak 72 sampel (Kasim, 2012).

Diagnosis radiografi TB primer dapat menunjukan adanya gambaran infiltrat kecil homogen, pembesaran limfonodi hilus serta paratrakea dan ateletaksis segmen. Efusi pleura dapat juga terjadi terutama pada penderita dewasa. Kompleks Ghon (fokus klasifikasi primer) dan Ranke (fokus klasifikasi primer dan klasifikasi limfonodi hilus) dapat menunjukan bukti sisa penyembuhan tuberkulosis primer. Pada tuberkulosis yang mengalami reaktivasi, pada pemeriksaan radiografi dapat menunjukan gambaran fibrokavitasi apeks, nodul dan infiltrat pneumonia. Sarang primer ini dapat timbul di bagian mana saja dalam paru, berbeda dengan sarang reaktivasi. Kompleks pimer ini akan sembuh dengan tidak meninggalkan cacat namun akan meninggalkan sedikit bekas antara lain garis fibrotik dan sarang perkapuran di hilus (Rejeki, 2011).

Distribusi pasien menurut pemeriksaan sputum BTA menunjukkan bahwa sebagian besar sampel pada pemeriksaan sputum BTA menunjukan hasil negatif yaitu 42 pasien (42%) sedangkan dengan hasil 1+ sebanyak 36 pasien (36%) dan 2+ sebanyak 14 pasien (14%) dan pada hasil 3+ sebanyak 8 pasien (8%). Hal ini menunjukan bahwa pasien yang terdiagnosis TB paru lebih banyak dengan sputum BTA negatif. Hasil ini hampir sama dengan hasil penelitian yang dilakukan Suganda dan Majdawanti (2013) dimana 52.94% kasus sputum BTA negatif dan 47.06% kasus sputum BTA positif. Hal ini menunjukan bahwa pada pemeriksaan sputum BTA pada pasien TB paru masih dijumpai hasil BTA negatif, maka dari itu perlu dilakukan penegakan diagnosis TB paru dengan pemeriksaan penunjang seperti foto toraks untuk hasil diagnosis yang lebih efektif.

Peran laboratorium dalam memantau terapi TB salah satunya dengan memeriksa sputum BTA secara mikroskopis. Pemeriksaan apusan sputum BTA dengan mikroskop cahaya merupakan pemeriksaan penunjang diagnostik utama di negara berkembang karena pemeriksaan dengan sarana tersebut paling efisien, mudah, murah dan cepat. Adanya BTA dalam sputum mempunyai arti yang

sangat penting untuk menegakkan diagnosis TB paru, namun untuk menemukan BTA tersebut tidak mudah karena terdapat faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan mikroskopis BTA, diantaranya adalah pengambilan sputum yang tidak adekuat sehingga mengakibatkan terlalu sedikit kuman yang ditemukan, cara dan pemeriksaan yang tidak adekuat dan pengaruh pengobatan dengan pemberian obat anti TB.

Untuk sampel dengan hasil pemeriksaan sputum BTA dapat digolongkan menjadi (-), (1+), (2+) dan (3+) untuk hasil BTA tersebut apabila dihubungkan dengan gambaran foto toraks maka didapatkan hasil dari 100 sampel dengan BTA (-) terdapat 28 (62.2%)dengan hasil ronsen lesi minimal dan 14 (25.5%) dengan ronsen lesi luas. Untuk sampel dengan BTA (1+) terdapat 10 (22.2%) dengan hasil ronsen lesi minimal dan 26 (47.3%) dengan ronsen lesi luas. Untuk sampel dengan BTA (2+) terdapat 4 (8.9%) dengan hasil ronsen lesi minimal dan 10 dengan lesi terbanyak terdapat pada lesi minimal.

Hasil analisis data terhadap 100 sampel pasien TB paru menggunakan ujiPearson Chi-Square. Pengambilan kesimpulan pada uji Pearson Chi-Square yakni dengan mambandingkan antara nilai signifikansi dengan koefisien (<0.05), dimana dikatakan bila nilai p value <0.05 maka H₁ diterima. Pada penelitian ini didapatkan nilai p value sebesar 0.003 menyatakan bahwa p value<0.05 (α) maka Hо ditolak dan H₁ diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubunganantara variabel yang diteliti yakni adanya hubungan antara luas lesi pada gambaran foto toraks dengan hasil pemeriksaan sputum BTA.

Pemeriksaan radiologi dapat menunjukan bahwa transmisi kuman TB pada pasien menyebabkan beberapa kelainan spesifik, tetapi gambaran radiologi tidak

dapat menilai dengan pasti apakah proses aktif atau tidak, sehingga dalam menilai suatu kasus yang dicurigai TB paru perlu kombinasi antara pemeriksaan sputum BTA, pemeriksaan radiologi dan pemeriksaan lainnya.

Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara luas lesi pada gambaran foto toraks dengan hasil pemeriksaan sputum BTA pada pasien TB paru. Hal ini menunjukan bahwa pemeriksaan Mycobacterium tuberculosis (BTA) ataupun pemeriksaan foto toraks sama efektifnya untuk mendiagnosis TB.

Walaupun pada hasil sampel didapatkan adanya 28 sampel dengan BTA negatif namun ronsen positif, hal itu kemungkinan dikarenakan oleh beberapa faktor terkait. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya hal tersebut adalah dikarenakan kesalahan pada pemeriksaan BTA yang dipengaruhi oleh cara pengambilan sputum, pembuatan apusan dan pemeriksaan mikroskopis BTA itu sendiri. Faktor lain juga dapat diakibatkan oleh karena lesi TB paru lama yang belum sembuh dan masih meninggalkan cacat sarang, dimana proses penyembuhan dengan penyebukan jaringan fibrosis belum terjadi.

Hasil penelitian ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasbullah (2012) dimana hasilnya terdapat hubungan antara hasil foto toraks dengan hasil pemeriksaan sputum BTA dengan nilai p value 0.038 (<0.05).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Bedasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan pada penelitian ini, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Penelitian pada pasien TB paru di RSUP H. Adam Malik Medan periode 2016-2018 didapatkan adanya hubungan signifikan antara luas lesi dengan hasil pemeriksaan sputum BTA pasien TB paru

2. Pada distribusi frekuensi pasien TB paru berdasarkan jenis kelamin di RSUP H. Adam Malik periode 2016-2018 terbanyak pada pasien dengan jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 75 pasien dengan persentase 75 %.

3. Pada distribusi frekuensi pasien TB paru berdasarkan usia di RSUP H.

Adam Malik periode 2016-2018 terbanyak didapatkan pada usia 51-60 tahun sebanyak 41 pasien dengan persentase 41 %.

4. Pada distribusi frekuensi pasien TB paru berdasarkan kategori luas lesi di RSUP H. Adam Malik periode 2016-2018 terbanyak didapatkan pada lesi luas sebanyak 55 pasien dengan persentase 55% dan berdasarkan hasil pemeriksaan sputum BTA terbanyak pada pasien dengan hasil negatif sebanyak 42 pasien dengan persentae 42%.

5. Didapatkan mayoritas sampel pada lesi minimal memiliki hasil sputum BTA negatif sebanyak 28 sampel dengan persentase 62.2% dan mayoritas sampel pada lesi luas memiliki sputum BTA 1+ sebanyak 26 orang dengan persentase 47.3%.

5.2 SARAN

Dari seluruh proses penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka dapat diungkapkan beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Adapun saran tersebut yaitu :

1. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan mengenai perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut pada pasien TB paru terutama penelitian tentang pemeriksaan sputum BTA menurut skala IUALTD dengan luas lesi radiologi toraks untuk mendapatkan hubungan yang lebih rinci antara keduanya.

2. Perlu dilakukan pengkajian ulang mengenai penegakan diagnosis TB paru berdasarkan luas lesi Radiologi Toraks dengan pemeriksaan sputum BTA.

3. Perlu dilakukan penyuluhan kepada pasien yang diduga menderita TB mengenai pentingnya melakukan pemeriksaan Radiologi foto toraks dengan pemeriksaan sputum BTA.

DAFTAR PUSTAKA

Guyton, A.C. & Elias, J. E., 2014, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, 9th Ed, EGC, Jakarta.

Hermayudi & Ariani, A. P., 2017, Pulmonologi, pp. 93 – 99, Nuha Medika, Yogyakarta.

Kasim, H., 2012, Hubungan Luas Lesi Pada Gambaran Radiologi Toraks Dengan Kepositivan Pemeriksaan Sputum BTA (Basil Tahan Asam) Pada Pasien Tuberkulosis Paru DewasaKasus Baru Di BBKPM Surakarta, diakses 10 April 2019, tersedia di www.neliti.com

.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia 2016, Pusat Data dan Informasi Tuberkulosis, diakses 15 April 2019, tersedia di www.bphn.go.id.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia 2018, Pusat Data dan Informasi Tuberkulosis, diakses 20 April 2019, tersedia di:

www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatintuberkulosis 2018.

Muchtar, N, H., Herman, D. & Yulistini, 2018, Gambaran Faktor Risiko Timbulnya Tuberkulosis Paru Pada Pasien Yang Berkunjung ke Unit DOTS RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2015, diakses 17 April 2019, tersedia di http://jurnal.fk.unand.ac.id.

Netter, Frank H., 2013, Atlas Of Human Anatomy 5th Ed, EGC, Jakarta.

Notoatmodjo, S., 2010, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.

Nurjana, M.A., 2015, Faktor Risiko Terjadinya Tuberkulosis Paru Usia Produktif (15 – 45 Tahun) Di Indonesia, diakses 11 April 2019, tersedia di www.neliti.com.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia 2017, Pedoman Diagnosis &

Penatalaksanaan Tuberkulosisdi Indonesia, Jakarta.

Rezeki, H., 2011, Pengalaman Menajalani Pengobatan TB Kategori II Di Wilayah Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah, diakses 20 April 2019,

tersedia di

http://www.journal.stikesmuh-pkj.ac.id/journal/index.php/jik/article/view/10.

Riele, J. B. T., Bluster, V., Calligaro, G., Esmail, A., Theron, G., Lesosky, M., Dheda, K., 2018, Relationship Between Chest Radiographic Characteristics Sputum Bacterial Load And Treatment Outcomes In Patients With Extensively Drug - Resistent Tuberculosis, International Journal Of Infectious Diseases, diakses 11 April 2019, tersedia di http://scholar.google.co.id.

Sastroasmoro, S.& Ismael, S., 2016, Dasar - Dasar Metodologi Penelitian Klinis, Sagung Seto. Jakarta.

Sherwood, L., 2014, Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem, 8th, Ed, EGC, Jakarta.

Sirait, M., 2010, Hubungan Karakteristik Pekerja Dengan Faal Paru Di Kilang Padi Kecamatan Porsea Tahun 2010, diakses 11 April 2019, tersedia di http://scholar.google.co.id.

Suganda, H. P & Majdawati, A., 2013, Hubungan Gambaran Foto Toraks DenganHasil Pemeriksaan Sputum BTA Pada Pasien Dengan Klinis Tuberkulosis, diakses 15 April 2019, tersedia di www.neliti.com.

Wibowo, AT., 2016, Karakteristik TB Paru Dewasa di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta Tahun 2015, diakses 15 April 2019, tersedia di http://eprint.ums.ac.id/.

World Health Organization 2010, Global Tuberculosis Control, diakses 7 April 2019, tersedia di www.who.int/tb.

World Health Organization 2014, Global Tuberculosis Programme, diakses 19 Desember 2019, tersedia di www.who.int/tb.

World Health Organization 2017, Global Tuberculosis Report, , diakses 5 April 2019, tersedia di www.who.int/tb.

LAMPIRAN A

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Hayatul Karimah

NIM : 160100060

Tempat/Tanggal Lahir : Sidodadi A, Pangkatan / 16 Maret 1998

Agama : Islam

Nama Ayah : Sutarman

Nama Ibu : Komariah

Alamat : DSN Sidodadi A, Kec. Pangkatan, Kab.

Labuhan Batu Riwayat Pendidikan

1. TK Ummilia Pangkatan (2002 - 2004) 2. SDN 112195 Pangkatan (2004 - 2010)

3. SMP Dyah Gaih Agung Pesantren Darul Arafah Raya (2010 - 2013) 4. SMA Dyah Galih Agung Pesantren Darul Arafah Raya(2013 - 2016) 5. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (2016 - Sekarang)

Riwayat Pelatihan

1. Kursus Mahir Dasar (KMD) Gugus Depan Pramuka Darul Arafah Raya Tahun 2014

2. Pelatihan Outbound Darul Arafah Raya Tahun 2015

3. Motivational Seminar of Brainmaster-Miracle-Wealth Tahun 2015

4. Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) FK USU Tahun 2016

5. Manajemen Mahasiswa Baru (MMB) FK USU Tahun 2016

6. Konsolidasi Ukhwah Mahasiswa Islam Foskami FK USU Tahun 2016 7. Mencari Dekapan Islam Foskami FK USU Tahun 2016Latihan

8. Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Lokal FK USU Tahun 2016

9. Pelatihan Seminar Proposal Standing Committee on Research Exchange(SCORE) PEMA FK USU Tahun 2019

Riwayat Organisasi

1. Pengurus Organisasi Pelajar Dyah Galih Agung (OPDYGA) Periode 2015-2016

2. Anggota Ikatan Alumni Darul Arafah Raya (IKAPDA) USU Tahun 2016-Sekarang

3. Sekretaris Departemen Kerohanian PEMA FK USU Periode 2019-2020

Riwayat Kepanitiaan

1. Anggota Panitia Folk SongLagu Religi Tahun 2013 2. Anggota Panitia Lomba Tari Melayu 2013

3. Penanggung JawabLomba Fashion ShowBusana Muslimah Tahun 2014

4. Anggota Lomba Panitia Kaligrafi Tahun 2015 5. Anggota Panitia Senam Sehat Tahun 2015

6. Anggota Panitia Pekan Olahraga Tahunan Darul Arafah (Arafah Cup) Tahun 2015

7. Anggota Panitia Lomba Pidato 3 Bahasa (LP3B) Tahun 2015

8. Anggota Seksi Konsumsi Pengabdian Masyarakat PEMA FK USU 2017

9. Member ofLiasion OfficerIndonesianInternational Medical Olympiad (IMO) Tahun 2017.

LAMPIRAN C

SURAT PERMOHONAN IZIN SURVEI AWAL

LAMPIRAN D

SURAT PERSETUJUAN KOMISI ETIK

LAMPIRAN E

SURAT PERMOHONAN IZIN PENELITIAN

LAMPIRAN F

SURAT IZIN PENELITIAN

LAMPIRAN G

Sampel Nama Kelamin Usia

Sampel Nama Kelamin Usia

Sampel Nama Kelamin Usia

HASIL

BTA RADIIOLOGI

84 Agustin lk 21 1+ minimal

85 Suriadi lk 40 - minimal

86 Gurky M lk 21 1+ luas

87 Agus T lk 31 1+ luas

88 Gusnar lk 40 2+ luas

89 Marihot lk 56 1+ luas

90 Zulfiqar lk 51 2+ luas

91 Eko Pra lk 39 3+ luas

92 Yusran lk 30 1+ minimal

93 Fransiskus lk 24 2+ minimal

94 Firman S lk 33 2+ luas

95 Sugito lk 30 - minimal

96 Donar S lk 59 2+ minimal

97 Syafril lk 57 3+ luas

98 Rumince Pr 57 1+ minimal

99 Tasjid lk 57 2+ luas

100 Samidi lk 55 - minimal

LAMPIRAN H

HASIL STATISTIK Descriptive Statistics

Frequency Table

Jenis Kelamin

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Perempuan 25 25.0 25.0 25.0

Laki-laki 75 75.0 75.0 100.0

Total 100 100.0 100.0

Usia

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid <20 tahun 4 4.0 4.0 4.0

20-30 tahun 14 14.0 14.0 18.0

31-40 tahun 16 16.0 16.0 34.0

41-50 tahun 25 25.0 25.0 59.0

51-60 tahun 41 41.0 41.0 100.0

Total 100 100.0 100.0

Frequency Table

Luas Lesi

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Luas 55 55.0 55.0 55.0

Minimal 45 45.0 45.0 100.0

Total 100 100.0 100.0

Kepositivan BTA

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid 3+ 8 8.0 8.0 8.0

2+ 14 14.0 14.0 22.0

1+ 36 36.0 36.0 58.0

- 42 42.0 42.0 100.0

Total 100 100.0 100.0

Luas Lesi * Kepositivan BTA Crosstabulation

Kepositivan BTA

Total

- 1+ 2+ 3+

Luas Lesi Luas Count 14 26 10 5 55

% within Luas Lesi 25.5% 47.3% 18.2% 9.1% 100.0%

Minimal Count 28 10 4 3 45

% within Luas Lesi 62.2% 22.2% 8.9% 6.7% 100.0%

Total Count 42 36 14 8 100

% within Luas Lesi 42.0% 36.0% 14.0% 8.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df

Asymp. Sig. (2-sided)

Pearson Chi-Square 13.989a 3 .003

Likelihood Ratio 14.283 3 .003

Linear-by-Linear Association 7.336 1 .007

N of Valid Cases 100

a. 2 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.60.

Dokumen terkait