• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5. Metode Analisis Data

Metode analisis data adalah metode atau cara peneliti dalam mengolah data mentah sehingga menjadi data akurat dan ilmiah. Pada dasarnya, menganalisis data dapat diperlukan imajinasi dan kreativitas sehingga diuji kemampuan peneliti dalam menalar sesuatu. Untuk menganalisis data pnelitian ini, penulis menggunakan teori tradisi lisan.

Dalam metode teori kearifan lokal penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Mengumpulkan data tentang Matipul Ulu

b. Menerjemahkan data dari Bahasa Batak ke dalam Bahasa Indonesia

c. Membuat transkip hasil wawancara dengan memutar kembali rekaman dengan informan.

d. Data yang diperoleh disederhanakan menjadi bahasa yang baik.

e. Setelah data disederhanakan kemudian diklasifikasikan sesuai dengan upacara Matipul Ulu etnik Toba.

f. Setelah diklasifikasikan, data-data dianalisis sesuai dengan kajian kearifan lokal.

g. Membuat kesimpulan dan saran.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Tahapan-tahapan Pada Upacara Adat Matipul Ulu Etnik Batak Toba Dalam suatu kehidupan berbudaya, manusia selalu berkeinginan dan berharap agar dapat menikmati isi dunia dalam jangka waktu yang lama. Namun, semuanya di luar jangkauan manusia dikarenakan kemampuan, keterbatasan dan akal pikiran yang dimiliki manusia. Oleh karena itu, manusia sudah mempunyai jalan kehidupannya masing-masing yang telah ditentukan oleh Tuhan. Dan batas akhir kehidupan manusia ini (kematian) dapat terjadi dikarenakan penyakit yang diderita dan tidak dapat disembuhkan lagi, kecelakaan atau bisa jadi sebab-sebab lain yang tidak dapat diketahui secara pasti.

Upacara Matipul Ulu merupakan suatu upacara kematian dalam adat Batak toba dimana suami atau yang disebut sebagai kepala keluarga telah meninggal dunia dengan memiliki anak yang masih kecil-kecil. Dalam upacara adat ini ada berbagai tahapan yang harus dilakukan mulai dari hari pertama meninggal sampai hari penguburannya yang terakhir dan hubungan antar keluarga haruslah kokoh dan saling menghormati. Upacara ini merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada leluhurnya dan dapat dianggap penting untuk dilaksanakan agar bisa mendapat berkat, kesehatan, dan juga supaya tidak terulang lagi hal yg serupa dalam keluarga tersebut. Pada pelaksanaan upacara adat ini, dapat dilakukan oleh keluarga yang bersangkutan seperti “hula-hula : paman, dongan satubuha/hahaanggi : teman

semarga / saudara, dan boru : pihak penerima anak perempuan”. Hula-hula adalah pihak yang tertinggi dari partuturan atau kelompok orang-orang yang posisinya sangat dihormati keluarga marga dari pihak istri atau ibu. Dongan sabutuha merupakan orang-orang yang memiliki marga yang sama dengan kita. Boru yaitu hela (suami dari boru kita) dan bere (anak saudara perempuan kita yang dipandang oleh orang Batak masuk unsur boru mengikuti ibunya).

Pada proses pelaksanaan upacara Matipul Ulu ini, perlu dilakukan beberapa tahapan agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik. Pelaksaan upacara adat ini didalamnya terdapat peran “Dalihan Na Tolu” yaitu somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru dimana mereka akan mendapat tugas masing-masing dalam upacara adat tersebut. Adapun tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam upacara adat Matipul Ulu adalah sebagai berikut:

4.1.1 Acara Sebelum Upacara di Mulai

Pada masyarakat Batak Toba, bila kepala keluarga/orangtua laki-laki telah meninggal, maka dari keturunannya beserta sanak famili biasanya melakukan acara adat kematian (Matipul Ulu) khusus bagi keluarga yang meninggal. Sebelum dilaksanakan acara adat tersebut, maka mulai dari anak yang meninggal sampai keluarga terdekat dari orang yang telah meninggal lebih dahulu harus mengadakan musyawarah (Marpai/Marapot) untuk membahas persiapan apa saja yang akan dibicarakan dalam musyawarah umum (Marhata Raja) nantinya. Dari musyawarah keluarga tersebut akan diperoleh hasil-hasil dari setiap apa yang dibicarakan dan

hasilnya akan dicatat oleh para suhut (tuan rumah/ penyelenggara pesta). Hasil-hasil yang dicatat oleh para suhut kemudian dipersiapkan ke musyawarah umum . Selesai dari musyawarah keluarga, musyawarah umum pun dilaksanakan dengan mengundang pihak hula-hula, boru, dongan tubu, raja adat, parsuhuton. Adapun beberapa point penting yang di sepakati dalam Marhata Raja tersebut sbb:

1) Ulaon Partutano/Partuatna (acara adat kematian) dimulai pada pagi hari pukul 10.00 wib. Dalam acara ini yang dapat terlibat dalamnya ialah Raja adat (kepala adat), Hula-hula (tulang), Dongan sahuta/tubu (teman sekampung), Parsuhuton (tuan rumah/penyelenggara pesta), dan Boru (pihak penerima anak perempuan). Fungsinya adalah membantu roh almarhum melalui doa para warga masyarakat agar sampai ke alam baka di Sorga.

2) Bentuk Ulaon Mardalan Na Bolon (meminta doa- Matipul Ulu). Yang dapat terlibat dalam acara ini yaitu Raja adat (kepala adat), Hula-hula (tulang), Dongan sahuta/tubu (teman sekampung), Parsuhuton (tuan rumah/penyelenggara pesta), dan Boru (pihak penerima anak perempuan).

Fungsi dari acara ini agar segala amal dan ibadah almarhum selama hidupnya dapat diterima Tuhan Yang Maha Esa.

3) Ulos Saput dari Tulang yang meninggal (bapak/kepala keluarga yang meninggal). Pada acara ini yang terlibat didalamnya ialah Hula-hula (tulang), Parsuhuton (tuan rumah/penyelenggara pesta). Fungsi dari acara tersebut

agar dapat memberikan kenangan terakhir pada almarum yaitu berupa ulos saput sebagai tanda perpisahan.

4) Ulos Tujung dari Hula-hula diberikan setelah ulos saput di sampaiakan (hanya kedua ulos diatas yang akan diserahkan kerabat/keluarga (horong) Tulang dan Hula-hula). Pihak yang terlibat dalam acara ini yaitu Hula-hula (tulang), Parsuhuton (tuan rumah/penyelenggara pesta). Fungsi dari acara ini yaitu agar istri yang ditinggal suami (almarhum) tidak larut dalam kesedihan dan supaya dapat berjuang hidup bagi anak-anaknya yang masih kecil.

5) Acara Gereja (Paroki) biasanya pukul 15.00 wib. Dalam acara gereja (paroki) pihak yang dapat terlibat didalamnya pengurus gereja (pendeta), Raja adat (kepala adat), Hula-hula (tulang), Dongan tubu/sahuta (teman sekampung), Parsuhuton (tuan rumah/penyelenggara pesta), dan boru (pihak penerima anak perempuan). Fungsinya ialah sama-sama mendoakan agar almarhum dapat diterima di sisi Yang Maha Kuasa.

6) Pemakaman (Udean). Pihak yang terlibat dalam acara pemakaman yaitu pengurus gereja (pendeta), Raja adat (kepala adat), Hula-hula (tulang), Dongan tubu/sahuta (teman sekampung), Parsuhuton (tuan rumah/penyelenggara pesta), dan boru (pihak penerima anak perempuan).

Fungsinya ialah mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatan yang terakhir.

7) Ungkap Tujung setelah kembali dari pemakaman. Dalam acara mangungkap tujung ini, pihak yang terlibat yaitu Hula-hula (tulang), Parsuhuton (tuan rumah/penyelenggara pesta), Dongan tubu/sahuta (teman sekampung).

Fungsinya ialah agar dapat mengangkat beban berat yang diterima janda (namabalu) tersebut saat meninggalnya pasangan yang dicintainya dan agar tidak larut dalam masa perkabungannya.

Gambar 1 : Marhata Raja

Pada acara ini juga ditentukanlah orang-orang yang akan bertanggung jawab pada setiap bidang kerja yang sudah diberikan kepada masing-maing bidang, misalnya:

a) Menentukan tanggal penguburan (bila masih akan menunggu keluarga inti yang akan hadir).

b) Menentukan orang yang membicarakan riwayat hidup yang meninggal.

c) Mengurus peti mayat.

d) Menyebarkan undangan kepada pihak tertentu. Pihak tertentu yaitu: hula-hula, hula-hula ni hahaanggi, hula-hula naposo, tulang, tulang rorobot.

Hula-hula adalah pihak yang tertinggi dari partuturan atau kelompok orang-orang yang posisinya sangat dihormati keluarga marga dari pihak istri atau ibu. Hula-hula ni hahaanggi adalah keluarga masing-masing istri dari abang dan adik kita. Hula-hula naposo adalah keluarga marga dari pihak istri yang masih muda. Tulang adalah tulang atau ito orang tua perempuan kita. Tulang rorobot adalah tulang dari orang tua perempuan (ibu).

e) Menunjuk orang untuk dapat menyebarkan undangan kepada dongan tubu (teman/saudara semarga), dongan sahuta (teman sekampung), dongan saulaon (rekan sekerja/teman sejawat).

f) Menentukan orang yang bertugas menyiapkan makanan untuk keluarga dan pihak paradaton (pelaksanaan adat) Matipul Ulu,

g) Menentukan orang khusus untuk pemberian ulos (piso-piso ni ulos),

h) Membeli dan mempersiapkan beberapa ekor ternak sebagai makanan pesta atau untuk disembelih/dipotong sebagai “simbol” pencapaian puncak kebahagiaan bagi almarhum.

Khusus bagi tamu yang akan hadir di acara tersebut, pihak “Hula-hula” akan disambut layaknya seorang Raja, Hula-hula adalah sebutan kaum lelaki (kakak, adik) dari keluarga inti istri. Sementara itu pihak “Boru” adalah kakak atau adik wanita dan anak wanita dari almarhum, mereka ini berperan sangat penting saat berlangsungnya upacara tersebut, tidak heran jika mereka dianggap pihak yang paling sibuk karena telah mulai bekerja sejak persiapan, saat acara, hingga selesainya upacara ini.

Sebelum upacara dimulai semua pihak yang berperan menyiapkan makanan akan berkumpul untuk di jamu oleh pihak keluarga yang berduka, tujuannya agar mereka berkenan membantu keluarga yang berduka memasak hidangan bagi tamu undangan yang akan hadir. Susunan acara akan ditampilkan pada selembar papan pengumuman dan diletakkan di pintu masuk tempat akan diadakannya upacara, agar semua yang hadir mengetahui urutan proses upacara. Setelah keperluan upacara selesai dipersiapkan barulah upacara kematian Matipul Ulu ini dapat dimulai.

4.1.2 Acara Pelaksanaan Upacara Kematian Matipul Ulu

Pelaksanaan upacara adat kematian Matipul Ulu dilakukan dilakukan di dalam rumah (Jabu). Pada saat upacara di jabu akan dimulai, mayat yang meninggal dibaringkan di ruang tamu (jabu bona). Letaknya berhadapan dengan kamar anak-anaknya. Istri yang ditinggalkan duduk disebelah kanan tepat di samping muka suaminya yang meninggal dan kemudian di ikuti oleh anak-anaknya yang paling besar sampai anak yang paling kecil. Setelah rombongan Tulang dan Hula-hula telah lengkap hadir maka dapat di mulai acara adat sebagai berikut:

1) Menerima Kedatangan Para Tulang Menyampaikan Ulos Saput (Manjalo haroro ni Tulang pasahat Ulos Saput)

 Protokol Raja Parhata/ Paidua ni Suhut

“Loloan na marhabot ni roha tarlumobi ma dihamu horong ni Tulang dohot Hula-hula nami, mardomu tu panghataionta na bodari, ala nunga dapot tingkina jala nunga mangarade hami parboruon mu manjalo haroro muna, molo nunga mangarade Rajai asa masuk ma hamu Tulang nunga rade hami manjalo haroro mu, botima, sidopoti hami Rajanami”.

Artinya:

 Protokol Raja Parhata

Hadirin yang berdukacita terlebihlah kepada golongan Tulang ‘saudara kandung laki-laki dari ibu’ dan Hula-hula ‘pihak yang tertinggi dari partuturan’ kami, berhubung dengan pembicaraan kita yang semalam, karena sudah tiba waktunya dan kami parboru telah siap menyambut kedatangan kalian, kalau Raja itu sudah bersiap-siap supaya masuklah kalian Tulang sudah siap kami menerima kedatangan kalian, kami sampaikan demikian.

 Protokol Sian Tulang na Monding

“Mauliate ma. Di hita Tulang Raja … ‘sebut marga tulang na monding’, nunga tangkas ta bege naung mangarade parboruonta Raja … ‘sebut marga na monding’ jala ala naung singkop do sude hita dison asa masuk ma hita.

Dung i masuk ma Tulang ‘tulang ni na monding’ dohot akka paniaranna na manghunti tandok na marisi parbue pir ‘parbue tungkir”.

Diuduti protokol ma muse: tarsongon on ma acara sipatupaon nami Amangboru di na pasahat Ulos Saput hami tu lae nami on;

1. Marende

2. Martangiang

3. Mandok Hata (meneguhkan keluarga yang berduka)

4. Pasahat Ulos

5. Marende

6. Martangiang

Artinya:

 Protokol dari Tulang yang Meninggal

“Terima kasih. Di kita Tulang Raja… ‘sebut marga tulang yang meninggal’, sudah jelas kita dengar sudah siap parboru kita Raja… ‘sebut marga yang meninggal’ karena sudah lengkapnya semua kita di sini supaya masuklah kita.

Setelah itu masuklah Tulang ‘tulang yang meninggal’ dan para istri-istri semarga yang menjunjung sumpit yang berisi beras/ buah”.

Sambil di ikuti protokol/pembicaralah: seperti inilah acara yang kami persiapkan Amangboru ‘suami dari adik atau kakak perempuan bapak’ pada saat memberikan Ulos Saput kami kepada lae ‘orang yang meninggal’ kami ini;

1. Bernyanyi

2. Berdoa

3. Memberikan sepatah kata (meneguhkan keluarga yang berduka)

4. Memberikan Ulos

5. Bernyanyi

6. Berdoa

Gambar 2 : Menerima Kedatangan Tulang

Jongjong ma Tulang sipasahat Ulos Saput dohot rombonganna di sabola ni namondingi (tong do mamereng partonding/parpeakni bangke ni namate i), jala andorang so dipasahat Ulos Saput, Marende, Martangiang, didok ma hatana:

Artinya:

Berdirilah Tulang yang memberikan Ulos Saput dengan rombongannya di sebelah kanan yang meninggal itu (dengan tetap melihat meninggalnya/berbaringnya mayat yang meninggal itu), dan sebelum disampaikan Ulos Saput, bernyanyi, berdoa, disampaikanlah kata-katanya:

Sepatah Kata Para Tulang yang Meninggal di Saat Menyampaikan Ulos Saput (Hata ni Tulang ni namonding tingki Pasahat Ulos Saput)

“Di hamu parboruon nami Raja … ‘sebut marga na monding’, tarlubomi ma di Ibotongku ‘namabalu’ dohot di hamu berenami na marhaha maranggi, suang songoni di sude hamu namardongan tubu, na dohot do hami Tulangmuna, Nantulangmuna dohot Ompungmuna, sude hami na pungu on marhabot ni roha diparmonding ni lae nami, ima Ama na ta haholongi on.

Najolo diparsorang ni lae nami on, dipasahat Tulangna do Ulos Parompa ima songon lampin ni Berenami on. Nuaeng nunga monding ibana, ro ma hami Tulangna pasahat Ulos Saputna. Asa dohononnami ma tu hamu ito borunghu ‘na mabalu’ dohot tu sude hamu bere dohot ibebereku: Hupasahat hami ma Ulos Saput on tu laenami naung monding on, dohot pangidoan di tangiangnami tu Amanta Debata Parasi Roha i, asa manaputi Parhorason,

Panggabean sian pasu-pasu ni Tuhanta di hamu sude na tinadingkon ni laenami on.

Borhat ma ho laengku mandapothon Tuhan Jesus Kristus di surgo hasonangan i”. (Laos diampehon ma Ulos Saputi tu na mondingi)

Gambar 3 : Menyampaikan Ulos Saput

Ulos Saput

Artinya:

“Untuk kalian boru kami Raja … ‘sebut marga yang meninggal’, terlebih kepada saudari saya ‘janda’ dan juga kepada bere ‘keponakan laki-laki’ kami yang kakak beradik, begitu juga kepada kalian yang bersaudara, yang ikut sertanya kami tulang ‘paman’ kalian, nantulang ‘bibi’, dengan ompung

‘kakek’ kalian, semua kami yang berkumpul ini berdukacita atas meninggalnya lae kami itulah Bapak yang kita sayangi ini.

Dulu dikelahiran lae ‘ipar’ kami ini, disampaikan Tulangnya Ulos Parompa

‘gendongan’ itulah seperti kain alas bayi untuk bere ‘pihak penerima laki-laki’

kami ini. Sekarang dia sudah meninggal, datangnya kami Tulangnya ‘paman’

menyampaikan/memberikan Ulos Saputnya ‘ulos perpisahan’. Supaya kami sampaikan kepada kalian ito boru ku ‘janda’ begitu juga kepada kalian bere

‘pihak penerima perempuan’ dan ibereku ‘pihak penerima laki-laki’ : Kami sampaikan lah Ulos Saput ini kepada lae ‘ipar’ kami yang telah meninggal ini, dengan doa permintaan kami kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, supaya membawa berkah kemakmuran/kesenangan, kesuksesan dari berkat karunia Tuhan bagi kalian semua keluarga yang ditinggalkan lae kami ini.

Pergilah engkau lae ‘ipar’ ku bersama Tuhan Yesus Kristus di Surga”. (sambil diletakkanlah Ulos Saput itu kepada yang meninggal)

Kemudian di tutup Tulang dengan doa (Amen) langsung di sambut :

Sepatah Kata dari Paidua ni Suhut Terkait Setelah Pemberian Ulos Saput

Paidua ni suhut ialah keluarga terdekat suhut yang memang telah disepakati dalam musyawarah untuk menjadi berperan sebagai paidua ni suhut. Paidua ni suhut lah yang menjadi koordinator lapangan pelaksanaan acara (ulaon). Jadi sepatah kata dari Paidua ni suhut setelah pemberian Ulos Saput adalah sebagai berikut:

“Rajanami, mauliate ma di hamu, nunga tangkas di pasahat hamu Ulos Saput ni beremu ima Ama na hu haholongi hami naung bostang di jolonta on, sahali nari dohonon nami mauliate godang ma di hamu Tulangnami. Rajanami, ala huboto hami tibu do nasogot Raja i borhat sian bagasni Raja i ido umbahen nahupatupa hami sipanganon asa mardaun pogu ma jo Raja i andorang so ta uduti tu ulaon namangihut, Boru nami.. hobasi hamu daun pogu ni Tulangta”.

Artinya :

“Raja kami, terima kasihlah kepada kalian, sudah jelas kalian sampaikan Ulos Saput untuk beremu itulah Bapak yang kami sayangi yang sudah terbaring/telentang kaku di hadapan kita ini, sekali lagi kami ucapkan terima kasih banyak di kalian Tulang kami. Raja kami, karena kami tahunya cepat tadi pagi Raja itu berangkat dari rumah Raja karena itulah kami persiapkan makanan supaya makan sekedarnyalah dulu Raja sebelum kita laksanakan kegiatan berikutnya, Boru kami… bereskan kalian makanannya Tulang kita”.

Dalam sepatah kata Paidua ni suhut ini, tak perlu di jawab paranak kata-kata yang disampaikan oleh Tulang dan Hula-hula karena yang meninggal ini Matipul Ulu ,

jadi Tulang dan Hula-hula pun harus memaklumi di situ. Karena masih memiliki anak yang kecil-kecil dan masih memiliki goresan sedikit yang mengerumit.

2) Menerima Kedatangan Para Hula-hula Menyampaikan Ulos Tujung (Manjalo haroro ni Hula-hula pasahat Ulos Tujung) Setelah Menyampaikan Ulos Saput

 Protokol Sian Tondong na Samarga ni na Monding

“Mauliatema. Di hamu nahuparsangapi hami Hula-hula nami Raja … (sebut marga Hula-hula) nunga mangarade hami Rajanami manjalo haroromuna laho pasahathon Ulos Tujung ni Ina nami”.

Artinya :

Terimakasih. Kalian yang kami hormati Hula-hula kami Raja… (sebut marga Hula-hula) sudah siap kami Raja kami menerima kedatangan kalian untuk memberikan Ulos Tujungnya Ibu kami.

 Protokol Sian Hula-hula

“Mauliatema amangboru. Di hita Hula-hula Raja… (sebut marga hula-hula), nunga tangkas ta bege naung mangarade parboruonta, ala naung singkop do sude hita dison asa masuk ma hita. Dung i masuk ma Hula-hula rap udur dohot Tulang Rorobot dohot angka paniaran na manghunti tandok na marisi parbue pir (parbue tungkir)”.

Diuduti protokol ma muse: Di parnangkok ni mataniari on rodo hami Hula-hula muna lao pasahathon Ulos Tujung ni boru nami songon naung ta hatai nabodari, tarsongon on ma acara sipatupaon nami amangboru:

1. Marende

2. Martangiang Pambuhai

3. Pasahat Ulos Tujung

4. Mandok Hata (meneguhkan keluarga yang berduka)

5. Marende

6. Martangiang

Artinya :

Terima kasih amangboru ‘panggilan terhadap suami dari saudari ayah kita’.

Bagi kita Hula-hula Raja… (sebut marga Hula-hula), sudah jelas kita dengar sudah siap parboru, karena sudah berkumpul kita di sini agar kita mulai acara kita. Setelah itu masuklah Hula-hula yang di ikuti Tulang Rorobot ‘saudara laki-laki dari ibu mertua perempuan kita’ dengan para menantu perempuan yang menjunjung tandok ‘tempat beras’ yang berisi hasil buah/beras yang utuh”.

Dan kemudian di ikuti protokol: Di pagi hari ini datangnya kami Hula-hula kalian untuk memberikan Ulos Tujungnya boru kami seperti sudah kita sepakati semalam, seperti inilah acara yang akan kita laksanakan amangboru:

1. Bernyanyi

2. Doa pembukaan

3. Pemberihan Ulos Tujung

4. Menyampaikan Sepatah kata (meneguhkan keluarga yang berduka)

5. Bernyanyi

6. Berdoa

Gambar 4 : Sepatah Kata Hula-hula saat Menyampaikan Ulos Tujung Namabalu/

janda

Hula-hula

Ulos Tujung merupakan pemberian dari Hula-hula kepada orang yang ditinggalkan (janda) disertai isak tangis baik dari suhut maupun Hula-hula sendiri.

Pemberian ulos bermakna suatu pengakuan resmi dari kedudukan seseorang yang telah menjadi janda dan berada dalam suatu keadaan duka yang terberat dalam hidup seseorang ditinggalkan oleh teman sehidup semati, sekaligus peryataan turut berduka cita yang sedalamdalamnya dari pihak Hula-hula. Dan ulos tersebut hanya diletakkan di atas bahu. Dan pada waktu pemberian ulos itu semua keturunanya yang meninggal berdiri di samping mayat tersebut. Kemudian berdirilah saudara dari istri yang meninggal/ janda (namabalu) tersebut lalu memberikan sepatah kata.

Sepatah Kata para Hula-hula Menyampaikan Ulos Tujung (Hata ni Hula-hula (Parboru) Pasahat Ulos Tujung/Ulos Sibolang) :

“Di ho Ibotonghu: di tingki on dipaporsanhon Tuhanta do tu ho sitaonon na mansai dok-dok, mansai borat do sitaonon on songon udan na so hasaongan, songon alogo na so hapudian. Dison ro do hami Hula-hulam mandapothon hamu, paboa na rap do hita marsitaonon di parmonding ni lae nami on. Ala naung parjolo monding lae nami on, dison ro do hami laho pasahat Ulos Tujung tu hamu na paboahon naung marsirang hamu di hangoluan on dohot lae nami naung monding on. Huampehon hami ma Ulos Tujung on tu simanjujungmu, napaboahon naung mabalu hamu, tanda naung holip sian parnidaanmuna lae nami naung monding on, jala marhite nahuampehon hami Tujung on tu hamu didongani tangiangnami tu Amanta Debata Parasi Roha i, asa tanganNa na sumurungi ma mangondingi hamu sian sude arsak ni roha

on, ditamparhon sian rohamu roha namandele, jala sai ditogu-togu Tuhanta ma hamu laho mandalani ngolumuna tu angka ari nanaeng ro”.

Artinya :

Di kamu saudariku: di saat ini diberikan Tuhan kepadamu beban yang yang terlalu berat, semakin beratnya penderitaan ini seperti hujan deras terhadap payung yang tidak dapat menolong/ permasalahan yang sulit, seperti masalah sulit diatasi. Di sini datangnya kami Hula-hula (pihak yang tertinggi dari partuturan) mu mendatangi kalian, menyampaikan yang samanya kita berdukacita di kematian lae kami ini. Karena sudah pertama meninggal lae kami ini, di sini datangnya kami mau memyampaikan Ulos Tujung kepada kamu yang memberitahukan sudah berpisah kalian di kehidupan ini dengan lae kami yang sudah meninggal ini. Kami letakkanlah Ulos Tujung ini ke kepalamu, yang memberitahukan yang sudah janda kamu, tanda sudah terhalang dari penglihatanmu lae kami yang sudah meninggal ini, melalui ini kami meletakkan penutup kepala (Tujung) ini ke kamu ditemani dengan doa kami kepada Bapa Yang di Sorga, supaya tangan-Nya yang sejahtera yang menemani kamu dari semua kesusahan/keluhan di hati ini, disingkirkan dari hatimu hati yang berputus asa, serta selalu dituntun Tuhanlah kalian dalam menjalani hidup kalian sampai ke hari-hari yang akan datang.

Gambar 5 : Menyampaikan Ulos Tujung

Sambil meletakkan Ulos Tujung dari kanan si janda tersebut, ke kepalanya

Sambil meletakkan Ulos Tujung dari kanan si janda tersebut, ke kepalanya

Dokumen terkait