• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL PADA UPACARA ADAT MATIPUL ULU DI DESA SIMANGARONSANG DOLOK SANGGUL HUMBANG HASUNDUTAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL PADA UPACARA ADAT MATIPUL ULU DI DESA SIMANGARONSANG DOLOK SANGGUL HUMBANG HASUNDUTAN"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL PADA UPACARA ADAT MATIPUL ULU DI DESA SIMANGARONSANG DOLOK

SANGGUL HUMBANG HASUNDUTAN

SKRIPSI OLEH :

HESTY ADELINA PURBA 150703047

PROGRAM STUDI SASTRA BATAK FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(2)
(3)

ABSTRAK

Hesty, 2020. Skripsi ini berjudul “NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL PADA UPACARA ADAT MATIPUL ULU DI DESA SIMANGARONSANG DOLOK SANGGUL HUMBANG HASUNDUTAN”. Dalam penelitian skripsi ini penulis membahas tentang kearifan lokal pada upacara Matipul Ulu di Desa Simangaronsang Dolok Sanggul Humbang Hasundutan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tahapan-tahapan upacara Matipul Ulu, fungsi dan makna pada upacara Matipul Ulu, dan jenis-jenis kearifan lokal. Metode yang digunakan dalam menganalisis masalah penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik penelitian lapangan . Teori yang digunakan penulis pada penelitian ini yaitu teori kearifan lokal. Adapun kearifan lokal yang terdapat pada Upacara Matipul Ulu di Desa Simangaronsang Dolok Sanggul Humbang Hasundutan meliputi: Nilai Kesopansantunan, Kejujuran, Kesetiakawanan Sosial, Kerukunan dan Penyelesaian konflik, Komitmen, Pikiran positif, Rasa Syukur, Kerja Keras, Disiplin, Pendidikan, Kesehatan, Gotong Royong, Pengelolaan Gender, Pelestarian dan Kreativitas Budaya, Peduli Lingkungan.

Kata Kunci : Kearifan Lokal, Upacara Adat Matipul Ulu, Masyarakat Batak

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi di Prodi Sastra Batak di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Adapun skripsi ini berjudul “ Nilai-nilai Kearifan Lokal Pada Upacara Adat Matipul Ulu Di Desa Simangaronsang Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan”.

Penulis berharap skripsi ini dapat berguna bagi semua pembaca, agar mempermudah pemahaman tentang skripsi ini. Penulis memaparkan rincian skripsi yaitu: Bab I merupakan pendahuluan, yang mencakup latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. Bab II merupakan tinjauan pustaka, yang mencakup kepustakaan yang relevan dan teori yang digunakan. Bab III merupakan metode penelitian, yang terdiri atas: metode dasar, lokasi penelitian, sumber data penelitian, instrumen penelitian, metode pengumpulan data, dan metode analisis data. Bab IV merupakan pembahasan yang sesuai dengan rumusan masalah. Bab V berisi kesimpulan dan saran.

Penulis menyadari bahwa, skripsi ini tidak luput dari berbagai kekurangan.

Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca, dan terutama bagi penulis.

(5)

Medan, September 2020

Penulis,

Hesty Adelina Purba

NIM: 150703047

(6)

HATA PATUJOLO

Mauliate ma dipasahat tu Amanta pardenggan basa di siala asi dohot holong ni roha-Na, jala panurat boi pasaehon skripsi di Prodi Sastra Batak di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Adong pe skripsi on na marjudul “Nilai-nilai Kearifan Lokal Pada Upacara Adat Matipul Ulu Di Desa Simangaronsang Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan.

Disangkapan roha ni panurat do nian skripsi on sai anggiat marlapatan tu sude panjaha, asa boi adong pangantusion taringot tu skripsi on. Panurat pe mapatidahon bindu-bindu skripsi ima: Bab I ima patujolo na patorangkon latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dohot manfaat penelitian. Bindu paduahon, ima tinjauan pustaka na patorangkon kepustakaan na relevan dohot teori nan i pangke.

Bindu patoluhon, patorangkon metode penelitian na di bagas bindu on ima metode dasar, inganan penelitian, sumber data penelitian, instrumen penelitian, metode papunguhon data dohot metode analisis data. Bindu paopathon, ima pembahasan, di bagas bindu on dipatorang ma sude angka masalah na adong di rumusan masalah.

Bindu palimahon, ima panimpuli dohot angka poda.

Tangkas do diboto panurat na godang dope hurang di skripsi on. Disiala i, panurat paimahon angka poda dohot pangajarion na marbangko paturehon sian sude pihak lao paulihon skripsi on. Anggiat skripsi on boi marlapatan tu sude panjaha, sumurung tu panurat.

(7)

Medan, September 2020 Panurat,

Hesty Adelina Purba

NIM : 150703047

(8)

ht pTjolo

mUliatemdipsht\Tamn\tpr\deee^gn\bsdisialasid ohot\holo^nirohnjlboIpNrt\boIpsaehon\s\k\ri p\sidip\rodiss\t\rbtk\dipKl\ts\Il\MBdyUni ver\sits\SmterUtrado^pes\k\rip\siano\nmr\JdL

\nilInilIkearipn\lokl\pdUpsradt\mtipL\UL didessim^<ro^so^dolko\s^gL\hM\b^hsN\Dtn\dis^kpn\

rohnipNrt\donian\s\k\rip\siano\sIa^giat\mr

\lptn\TSdepn\jhasboIado^p<n\Tsiano\tri<to\

Ts\k\rpi\siano\pNrt\pemptidhno\bni\Dbni\Ds\

k\rpi\siImbb\sdImpTjolonptor^kno\ltr\belk^

mslh\RMsn\mslh\TJan\penelitian\dohto\mn\p at\penelitian\bni\DpDahno\Imtni\jUan\pS\tk nptor^kno\kpS\tkan\nrelepn\dohto\teaorindip^ke bni\DptoLhno\ptor^kno\metodepenelitian\ndibgs\

bni\Dano\Immetodedsr\I^<nn\penelitian\sM\bre\d tpenelitian\ani\s\t\Rmne\penelitian\metodepP<hn o\dtdohto\metodeanlissi\dtbinDpaopt\hno\Imp me\bhsn\dibgs\bni\Dano\diptor^mSdea^kmslh\n ado^diRMsn\mslh\bni\Dplimhno\Impnmi\Plidoh to\a^kpodt^ks\dodibotopNrt\ngod^dopenHr^dis\k\

rpi\siano\disialIpNrt\pImhno\a^kpoddohto\p

(9)

<jriano\nmr\b^kopTrehno\sian\Sdepihk\lhopUl ihno\s\k\rpi\siano\a^giat\s\k\rpi\siano\boIm r\lptn\TSdepn\jhSMR^TpNrt\

medn\spe\tme\bre\ 2020

pNrt\

hse\tiadelinpR\b nim\ : 150703047

(10)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan nikmat dan hidayatNya serta kekuatan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Nilai-nilai Kearifan Lokal Pada Upacara Adat Matipul Ulu Di Desa Simangaronsang Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan”.

Dalam kesempatan kali ini penulis banyak mendapat bimbingan, saran, dukungan, dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, dengan segala kerendahan hati, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, beserta jajarannya.

2. Bapak Drs. Warisman Sinaga, M.Hum., selaku Ketua Program Studi Sastra Batak, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Drs. Flansius Tampubolon, M.Hum., selaku Sekretaris Program Studi Sastra Batak, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Drs. Ramlan Damanik, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing I penulis yang telah memberikan banyak arahan ilmu, pemikiran, saran, motivasi dan juga meluangkan waktu kepada penulis selama menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak Drs. Jamorlan Siahaan, M.Hum., selaku pembimbing II penulis yang telah memberikan arahan, saran dan motivasi serta mengorbankan waktu dan tenaga bagi penulis dalam penulisan skripsi ini.

(11)

6. Bapak/Ibu Dosen Program Studi Sastra Batak tanpa terkucil, Bapak/Ibu Dosen dilingkungan Fakultas Ilmu Budaya yang memberikan pengajaran dan bimbingan kepada penulis mulai dari awal sampai akhir perkuliahan.

7. Abangda Risdo Saragih, S.S., selaku alumni dan staf pegawai administrasi yang telah membantu dan memperlancar urusan administrasi selama penulis kuliah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

8. Kepada Informan-informan yang sangat baik yang telah meluangkan waktu dan memberikan informasi kepada penulis.

9. Teristimewa kepada Kedua Orang Tua penulis H. Purba dan S. T. Tambunan terima kasih banyak atas kasih sayang dan pengorbanan selama ini dari kecil hingga sampai saat ini selalu memberikan limpahan kasihnya, dukungan, dan motivasi. Orang tua penulis dalah sosok pahlawan yang sangat hebat dan kuat serta sebagai penyemangat hidup bagi penulis. Terima kasih juga atas doa yang tak henti selalu memberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

10. Saudara-saudara penulis (Hotmaria Ayu Rusyanti Purba, S.Pd; Rimhot Parulian Purba, S.Kep,Ns; Hery Cindy Purba; Ferdy Surya Purba) sebagai orang-orang yang sangat penulis sayangi, penulis mengucapkan terima kasih atas doa, dukungan dan yang senantiasa memberikan semangat buat penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

11. Saudara-saudara Sepupu penulis, sebagai orang-orang yang sangat penulis sayangi, penulis mengucapkan terima kasih atas dukungan dan semangat buat penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

(12)

12. Terima kasih kepada Adetio Reski Saputra Panjaitan, S.T sebagai teman yang selalu ada dalam suka maupun duka dan mendukung serta mendengarkan keluh kesah penulis dalam mengerjakan skripsi ini. Dan terima kasih juga atas motivasi dan dukungan yang selalu diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

13. Terima kasih kepada teman-teman seperjuangan Eva Sahni Berutu, Retnovela Situmorang, Fitri Mega Simbolon, Ariska Yanti Sihotang, S.S, Maysaroh Tanjung, S.S, Fernando Manalu, S.S, yang telah memberikan motivasi dan dukungan buat penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

14. Terima kasih kepada seluruh teman-teman seperjuangan stambuk 2015 yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas waktu kebersamaannya selama perkuliahan dan juga doa dan dukungan kepeduliaannya kepada penulis.

15. Terima kasih kepada kakak abang senior penulis 2012, 2013, 2014, dan juga adik-adik junior penulis 2016, 2017, 2018, terima kasih atas dukungan dan doanya yang diberikan kepada penulis.

16. Terima kasih kepada seluruh keluarga besar penulis atas dukungan baik berupa materiil maupun motivasi yang diberikan kepada penulis.

(13)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ……….. i

KATA PENGANTAR ... ii

HATA PATUJOLO ……….. iv

htpTjol……….. vi

UCAPAN TERIMA KASIH ………... viii

DAFTAR ISI ………. ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 4

1.3. Tujuan Penelitian ... 5

1.4. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………... 7

2.1. Kepustakaan yang Relevan ... 7

2.2. Teori Yang Digunakan ... 8

2.3. Pengertian Matipul Ulu ... 12

BAB III METODE PENELITIAN ... 16

3.1. Metode Dasar ………16

3.2. Lokasi dan Sumber Data Penelitian ... 17

3.3. Instrumen Penelitian ... 18

(14)

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 19

3.5. Metode Analisis Data ... 21

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……… 22

4.1 Tahapan-tahapan Pada Upacara Adat Matipul Uu ……… 22

4.1.1 Acara Sebelum Upacara di Mulai ……….. 23

4.1.2 Acara Pelaksanaan Upacara Kematian Matipul Ulu ……….. 28

4.1.3 Acara Sesudah Upacara Kematian Matipul Ulu ……… 53

4.2 Makna dan Fungsi yang Terdapat Pada Upacara Adat Matipul Ulu ……… 58

4.2.1 Makna Pada Upacara Matipul Ulu ……… 58

4.2.2 Fungsi Pada Upacara Matipul Ulu ……… 60

4.3 Nilai-nilai Kearifan Lokal Pada Upacara Adat Matipul Ulu ……….... 61

4.3.1 Kedamaian ………... 61

4.3.1.1 Kesopansantunan ………. 61

4.3.1.2 Kejujuran ………. 62

4.3.1.3 Kesetiakawanan Siaial ………. 62

4.3.1.4 Kerukunan dan Penyelesaian Konflik ………. 63

4.3.1.5 Komitmen ……… 64

4.3.1.6 Pikiran Positif ……….. 64

4.3.1.7 Rasa Syukur ……… 65

4.3.2 Kesejahteraan ………..65

4.3.2.1 Kerja Keras ……….. 65

4.3.2.2 Disiplin ……….66

4.3.2.3 Pendidikan ………67

(15)

4.3.2.4 Kesehatan ……… 68

4.3.2.5 Gotong Royong ……….. 68

4.3.2.6 Pengelolaan Gender ……… 69

4.3.2.7 Pelestarian dan Kreativitas Budaya ……… 70

4.3.2.8 Peduli Lingkungan ………. 70

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ……….. 72

5.1 Kesimpulan ……….. 72

5.2 Saran ……… 74

DAFTAR PUSTAKA ……….. 75

LAMPIRAN 1: Daftar Informan Penelitian……… 77

LAMPIRAN 2: Surat Keterangan Penelitian ………... 80

(16)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Bangsa Indonesia memiliki beberapa etnik, salah satunya di Sumatera Utara yaitu etnik Batak. Etnik Batak ini terbagi atas lima sub-etnik, yaitu Batak Toba, Batak Angkola Mandailing, Batak Simalungun, Batak Pak-pak, dan Batak Simalungun.

Keistimewaan di etnik Batak ini terletak pada berbagai adat-istiadat dan kebudayaan.

Dan setiap etnik tersebut memiliki perbedaan satu sama lain yang dapat terlihat dari segi bahasa, pakaian adat, tarian, musik tradisional, dan beberapa bentuk upacara adat lainnya. Etnik Batak ini memiliki beberapa bentuk upacara, yakni: upacara kelahiran, perkawinan, dan kematian. Namun, pada skripsi ini penulis hanya fokus terhadap pelaksanaan upacara adat Matipul Ulu yang ada pada etnik Batak Toba.

Upacara Matipul Ulu (MU) merupakan suatu peristiwa keluarnya roh dari jasad manusia serta merupakan proses penceraian antara tubuh dan jiwa sehingga menjadi pengalaman fundamental bagi manusia, sehingga hubungan antara yang hidup dan yang mati sangat berakar pada jiwa manusia yang menimbulkan perasaan emosional tersendiri bagi keluarga dan kerabat yang ditinggalkan. Agama manapun menganjurkan untuk menyelenggarakan kegiatan penghormatan terakhir atau melakukan upacara yang diyakini untuk memuluskan perjalanan orang yang meninggal menuju surga dengan mendoakan jenazah tersebut agar dihapuskan segala kesalahan yang pernah dilakukan di dunia. Upacara kematian pada etnik Toba

(17)

merupakan pengakuan bahwa masih ada kehidupan lain dibalik kehidupan di dunia ini. Adapun maksud dan tujuan masyarakat etnik Toba untuk mengadakan upacara kematian itu tentunya berlatar belakang kepercayaan tentang kehidupan.

Pada masyarakat Batak Toba ada beberapa tingkatan kematian, yaitu Mate di Bortian (sebutan bagi anak yang meninggal dalam kandungan ibunya), Mate Poso- poso (meninggal saat masih bayi), Mate Dakdanak (meninggal saat kanak-kanak), Mate Bulung (meninggal saat remaja), Mate Pupur/Mate Ponggol (meninggal dewasa tapi belum menikah), Mate Punu Mate di Paralang-alangan (meninggal sesudah menikah, tapi belum/tidak punya anak), Mate Mangkar (meninggal dengan meninggalkan anak yang masih kecil-kecil) yang terbagi atas dua bagian yaitu matompas tataring (istri yang mati dengan meninggalkan suami dan anak yang masih kecil-kecil) dan matipul ulu (suami yang mati dengan meninggalkan istri dan anak yang masih kecil-kecil), Mate Hatungganeon (meninggal ketika telah memiliki anak- anak yang sudah dewasa, bahkan sudah ada yang menikah, namun belum bercucu), Mate Sarimatua (mati dengan meninggalkan anak-anak, baik yang telah menikah dan memiliki keturunan maupun yang belum menikah sama sekali), Mate Saurmatua (meninggal setelah semua anak menikah dan mempunyai cucu), Mate Mauli Bulung (meninggal ketika semua anak-anaknya telah berumah tangga, dan telah memberikan tidak hanya cucu, bahkan cicit dari anaknya laki-laki dan dari anaknya perempuan).

Dari beberapa tingkatan upacara kematian diatas, penulis membahas tentang kematian “Matipul Ulu” (MU). Pada etnik Batak Toba apabila ada seorang perempuan yang sudah berumah tangga dan sudah memiliki anak yang masih kecil

(18)

namun suami atau ayah dari anak-anaknya telah meninggal dunia maka disebut dengan kematian Matipul Ulu. Jenis Matipul ulu ini sangat tidak diinginkan dan tidak didambakan oleh semua orang. Dimana seseorang yang berstatus Ayah disebut sebagai seorang kepala rumah tangga yang harus bertanggung jawab terhadap keluarga yang telah dibentuk sejak lama.

Dalam pelaksanaan upacara kematian Matipul Ulu di Desa Simangaronsang Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan dilaksanakan dengan penuh hikmat dan sakral dimana keluarga yang ditinggalkan wajib melepas kepergian suami yang telah meninggal dunia agar arwahnya bisa tenang menurut adat setempat. Tradisi ini merupakan sebuah penghormatan kepada pihak yang meninggal dan keluarga yang ditinggalkan oleh pihak yang meninggal dunia.

Namun, upacara kematian Matipul ulu pada etnik Batak Toba saat ini sudah mulai sedikit berubah. Penyebabnya karena adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi, orang cenderung bertindak praktis dan rasional yang menyebabkan nilai-nilai lama yang terkandung dalam pranata sosial milik masyarakat yang semula tradisional menjadi pudar.

Oleh karena itu, upacara Matipul Ulu saat ini sudah mulai berubah dapat dilihat dari acara adatnya di saat acara mangungkap tujung (melepas ulos dari kepala). Di zaman dulu acara Mangungkap Tujung (melepas ulos dari kepala) dapat dilakukan setelah beberapa hari sampai kesedihan/kemalangan janda (namabalu) dapat hilang atau terobati. Namun, saat kini acara mangungkap tujung sudah dapat

(19)

dilakukan setelah pulang dari acara penguburan. Hal inilah yang mendorong penulis ingin mendokumentasikan dalam bentuk tulisan agar upacara ini diketahui oleh banyak orang dan tidak merubah sedikit pun keberadaannya. Kemudian karena tradisi ini mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang dapat menata kehidupan sosial dalam kekeluargaan maupun masyarakat. Untuk itu penulis melakukan penelitian yang berjudul “Nilai-nilai Kearifan Lokal Pada Upacara Adat Matipul Ulu di Desa Simangaronsang Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan”. Walaupun sudah semakin berubah tapi sampai saat ini masih dijalankan upacara adat atau tradisi kematian Matipul Ulu secara tradisional di daerah ini.

1.2 Rumusan Masalah

Perumusan masalah biasanya berupa kalimat pertanyaan atau pernyataan yang dapat menarik atau menggugah perhatian. Adapun rumusan masalah yang dibahas adalah :

1. Apa saja tahapan upacara kematian Matipul Ulu pada etnik Batak Toba di Desa Simangaronsang Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan?

2. Apa saja makna yang terdapat pada upacara Matipul Ulu pada etnik Batak Toba Desa Simangaronsang Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan?

3. Apa saja fungsi yang terdapat pada upacara Matipul Ulu pada etnik Batak Toba Desa Simangaronsang Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan?

(20)

4. Nilai-nilai kearifan lokal apa saja yang terdapat pada upacara kematian Matipul Ulu pada etnik Batak Toba di Desa Simangaronsang Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan tahap-tahapan upacara adat kematian Matipul Ulu pada etnik Batak Toba di Desa Simangaronsang Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan.

2. Mendeskripsikan makna upacara adat kematian Matipul Ulu pada etnik Batak Toba di Desa Simangaronsang Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan.

3. Mendeskripsikan fungsi upacara adat kematian Matipul Ulu pada etnik Batak Toba di Desa Simangaronsang Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan.

4. Mendeskripsikan nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat pada upacara adat kematian Matipul Ulu pada etnik Batak Toba di Desa Simangaronsang Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Menambah pengetahuan pembaca untuk mempelajari tradisi budaya yang diturunkan oleh para leluhur dan dapat memberikan kontribusi dalam memberikan informasi untuk melestarikan budaya.

2. Menambah wawasan tentang nilai-nilai budaya yang terdapat pada upacara adat kematian Matipul Ulu pada masyarakat Batak Toba.

(21)

3. Menjadi sumber informasi bagi peneliti lain yang ingin mengkaji tentang upacara adat kematian Matipul Ulu pada etnik Batak toba

4. Mengembangkan ilmu pengetahuan tentang tradisi upacara adat kematian Matipul Ulu pada etnik Batak Toba.

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kepustakaan yang Relevan

Dalam penulisan sebuah karya ilmiah ini diperlukan kajian pustaka. Kajian pustaka merupakan paparan atau konsep-konsep yang mendukung pemecahan masalah dalam suatu penelitian. Paparan atau konsep-konsep tersebut bersumber dari pendapat para ahli, empirisme (pengalaman penelitian), dekumentasi, dan nalar penelitian yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Kajian pustaka bertujuan untuk mengetahui keauntetikan sebuah karya ilmiah. Kajian yang dimaksud adalah penelaahan terhadap hasil penelitian lain yang relevan dengan skripsi ini.

Adapun penulisan skripsi ini tidak lepas dari buku-buku pendukung yang relevan, buku yang digunakan dalam pengkajian ini adalah sebagai berikut :

1) Sihombing, Iwan (2018) dalam skripsinya yang berjudul “Tradisi Maragat Etnik Batak Toba”. Skripsi ini menggunakan teori tentang Kearifan Lokal dengan temuan Ife,2002:101-102 dalam buku Sibarani:116 yang memaparkan tentang nilai-nilai budaya sehingga penulis lebih mudah memaparkan nilai- nilai dari Kearifan Lokal.

2) Junita, Eva S. (2016) dalam skripsinya berjudul “Upacara Kematian Saur Matua Pada Adat Masyarakat Batak Toba” menggunakan teori perubahan

(23)

sosial dengan temuan Kingsley Davis yang memaparkan perubahan yang terjadi dalam fungsi dan struktur masyarakat pada upacara adat kematian.

3) Jauhari, (2008) buku yang berjudul “Foklor” bahan kajian ilmu budaya, sastra dan sejarah. Buku ini berkontribusi memaparkan beberapa pengertian Kearifan Lokal.

4) Sipayung, Jon Hendrik (2018) dalam skripsinya yang berjudul “Tradisi Pasahat Demban (Menyampaikan Sirih) Pada Masyarakat Batak Toba. Skripsi ini berkontribusi, mendeskripsikan performasi, makna, dan fungsi serta kearifan lokal tradisi pasahat demban.

2.2 Teori Yang Digunakan

Istilah Kearifan Lokal (local wisdom) terdiri atas dua kata, yaitu kearifan (wisdom) yang berarti kebijaksanaan dan lokal (local) berarti setempat. Dengan demikian, Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai gagasan-gagasan dan pengetahuan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, dan berbudi luhur yang dimiliki, dipedomani, dan dilaksanakan oleh anggota masyarakatnya. Kearifan lokal adalah nilai budaya lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat secara arif dan bijaksana (Sibarani 2014:114-115).

Menurut Balitbangsos Depsos RI (2005:5-15), kearifan lokal merupakan kematangan masyarakat di tingkat komunitas lokal yang tercermin dalam sikap, perilaku, dan cara pandang masyarakat yang kondusif di dalam mengembangkan

(24)

potensi dan sumber lokal (material maupun nonmaterial) yang dapat dijadikan sebagai kekuatan di dalam mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik atau positif.

Istiawati (2016:5) berpandangan bahwa kearifan lokal merupakan cara orang bersikap dan bertindak dalam menggapai perubahan dalam lingkungan fisik dan budaya. Kearifan lokal atau local wisdom dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat local yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Selanjutnya diungkapkan oleh Alfian (2013:428) bahwa Kearifan lokal diartikan sebagai pandangan hidup dan pengetahuan serta sebagai strategi kehidupan yang berwujud aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam memenuhi kebutuhan mereka. Berdasarkan pendapat alfian dapat diartikan bahwa kearifan lokal merupakan adat dan kebiasaan yang telah mentradisi dilakukan oleh sekelompok masyarakat secara turun temurun yang hingga saat ini masih dipertahankan keberadaannya oleh masyarakat hukum adat tertentu di daerah tertentu.

Berdasarkan beberapa pendapat, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa kearifan lokal merupakan gagasan dan pengetahuan yang berkembang secara turun menurun di dalam kehidupan sosial masyarakat berupa adat istiadat, tata aturan/

norma, budaya, kepercayaan, dan kebiasaan sehari-hari. Pengertian dari kearifan lokal ini perlu dipahami agar dapat gali dari tradisi sebagai warisan budaya leluhur dan apat dimanfaatkan untuk menata kehidupan sosial pada generasi muda sekarang ini.

(25)

Teori kearifan lokal yang digunakan penulis ialah buku Sibarani (2014:180) yang menyatakan bahwa kearifan lokal adalah kebijaksanaan dan pengetahuan asli suatu masyarakat yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat. dalam hal ini kearifan lokal bukan hanya nilai budaya, tetapi nilai budaya yang dapat dimanfaatkan untuk menata kehidupan masyarakat, mencapai kesejahteraan dan pembentukan kedamaian.

Perlu dipahami bahwa kearifan lokal merupakan nilai budaya positif yang belum tentu semuanya positif pada komunitas masa lalu dan belum tentu semuanya positif pada komunitas masa sekarang ini. Oleh sebab itu, kearifan lokal bersumber dari nilai budaya yang masih dapat diterapkan dan dimanfaatkan secara arif untuk menata kehidpan masyarakat. Tatanan kehidupan berkenaan dengan interaksi manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan interaksi dalam masyarakat.

Perspektif kultural lebih menekankan pada konteks kearifan lokal sebagai nilai yang diciptakan, dikembangkan dan dipertahankan dari masyarakat sendiri dank arena kemampuannya mampu bertahan dan menjadi pedoman hidup masyarakat. Di dalam kearifan lokal tercakup berbagai mekanisme dan cara untuk bersikap, berperilaku, dan bertindak dan dituangkan dalam suatu tata sosial. Pada dasarnya ada lima dimensi kultural tentang kearifan lokal, yaitu pengetahuan lokal, budaya lokal, keterampilan lokal, sumber daya lokal, dan proses sosial lokal (Ife, 2002:101-102).

Dalam penelitian terhadap tradisi budaya atau tradisi lisan terdapat berbagai nilai dan norma budaya sebagai warisan leluhur yang menurut fungsinya dalam

(26)

menata kehidupan sosial masyarakatnya dapat diklasifikasikan sebagai kearifan lokal.

Kearifan lokal yang dimiliki manusia bersumber dari nilai budayanya sendiri dengan menggunakan segenap akal budi, pikiran, hati, dan pengetahuannya untuk bertindak dan bersikap terhadap lingkungan alam dan lingkungan sosialnya. Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam suatu sistem sosial masyarakat, dapat dihayati, dipraktikan, diajarkan dan diwariskan dari sat generasi ke generasi lainnya yang sekaligus membentuk dan menuntun pola perilaku manusia sehari-hari terhadap alam.

Kearifan lokal mungkin akan bertambah jika dilakukan penelitian pada semua tradisi lisan di Indonesia dan dalam satu kearifan lokal tersebut mungkin terdapat beberapa nilai budaya. Semua kearifan lokal tersebut dapat diklasifikasikan pada 2 jenis kearifan lokal inti, yaitu kearifan lokal untuk :

(1) kesejahteraan atau kemakmuran, dan

(2) kedamaian atau keadilan.

Kearifan lokal yang bersumber dari nilai budaya dimanfaatkan untuk menata kehidupan komunitas. Tatanan kehidupan berkenaan dengan interaksi manusia dengan Tuhan, interaksi dengan alam, dan interaksi dalam masyarakat.

(27)

Jenis Kearifan Lokal

Sumber : Sibarani (2014:137)

2.3 Pengertian Upacara Adat Matipul Ulu

Upacara adalah sistem aktivitas atau rangkaian atau tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa tetap yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan (Koentjaranigrat, 1980:140).

Jenis upacara dalam kehidupan masyarakat antara lain: upacara kelahiran, upacara perkawinan, upacara kematian, dan sebagainya. Upacara pada umumnya memiliki nilai sakral oleh masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. Upacara adat adalah satu upacara yang secara turun-temurun dilakukan oleh pendukungnya disuatu

KEARIFAN LOKAL

KEDAMAIAN KESEJAHTERAAN

 Kesopansantunan

 Kejujuran

 Kesetiakawanan Sosial

 Kerukunan &

Penyelesaian Konflik

 Komitmen

 Pikiran Positif

 Rasa Syukur

 Kerja Keras

 Disiplin

 Pendidikan

 Kesehatan

 Gotong royong

 Pengelolaan gender

 Pelestarian dan kreativitas budaya

 Peduli lingkungan

(28)

daerah.Dengan demikian setiap daerah memilki upacara adat sendiri-sendiri seperti upacara adat perkawinan, kelahiran dan kematian. Upacara adat yang dilakukan memilki berbagai unsur: Menurut Koentjaraningrat (1980) ada beberapa unsur yang terkait dalam pelaksanaan upacara adat diantaranya adalah:

1. Tempat berlangsungnya upacara

Tempat yang digunakan untuk melakukan suatu upacara biasanya adalah tempat kramat atau bersifat sacral/suci, tidak setiap orang dapat mengunjungi tempat tersebut.tempat tersebut hanya dikunjungi oleh orang-orang yang berkepentingan, dalam hal ini adalah orang yang terlibat dalam pelaksanaan upacara seperti pemimpin upacara.

2. Saat berlangsungnya upacara/waktu pelaksanaan

Waktu pelaksanaan upacara adalah saat-saat tertentu yang dirasakan tepat untuk melangsungkan upacara.

3. Benda-benda atau alat upacara

Benda-benda atau alat upacara adat adalah mereka yang bertindak sebagai pemimpin jalannya upacara dan beberapa orang yang paham dalam ritual upacara adat (Koentjaranigrat 1980:241)

Upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat salah satunya bertujuan untuk keselamatan diri dan juga keluarga. Menurut (Notosudirjo,1990) fungsi sosial upacara adat dapat dilihat dalam kehidupan sosial masyarakat yaitu adanya pengendalian sosial, sosial media, norma sosial serta pengelompokan sosial.

(29)

Menurut Ev H Simanjuntak (http://fransciscopanjaitan.blogspot.com) upacara adat Matipul ulu adalah upacara adat kematian dimana suami telah meninggal dunia lebih dulu dari istri dengan meninggalkan anak yang masih kecil-kecil. Mengacu kepada definisi tersebut, seseorang tidak bisa dinobatkan/ dialihkan statusnya seperti dari Matipul Ulu berubah menjadi Sari Matua, karena diantara anaknya sudah ada yang berumah tangga namun belum dikarunai cucu. Ulos tujung adalah ulos yang ditaruh diatas kepala kepada mereka yang menghabaluon (suami atau istri yang ditinggalkan almarhum). Jika yang meninggal adalah suami, maka penerima tujung adalah istri yang diberikan hula-hulanya (pihak yang tertinggi dari partuturan/silsilah keluarga). Sebaliknya jika yang meninggal adalah istri, penerima tujung adalah suami yang diberikan tulangnya atau hula-hulanya. Tujung diberikan kepada perempuan na mabalu (janda) karena “Matipul Ulu” atau Sari Matua, sebagai simbol duka cita maka jenis ulos yang dipakai adalah ulos sibolang.

Dahulu, tujung itu tetap dipakai kemana saja pergi selama hari berkabung yang biasanya seminggu dan sesudahnya baru dilaksanakan “ungkap tujung”

(melepas ulos dari kepala). Tetapi sekarang hal itu sudah tidak ada lagi, sebab tujung tersebut langsung dibuka (diungkap) oleh tulang ataupun hula-hula sepulang dari kuburan (udean). Secara ratio, agar kedukaan itu akan lebih cepat sirna, dan suami atau istri yang ditinggal almarhum dalam waktu relatif singkat sudah dapat kembali beraktivitas mencari nafkah. Jika tujung masih melekat di kepala, kemungkinan yang bersagkutan masih larut dalam duka (margudompong) yang aksesnya bisa negatif yakni semakin jauh dari Tuhan atau pesimis.

(30)

Jadi, kesimpulan yang penulis ambil dari pengertian Matipul Ulu adalah seorang perempuan yang ditinggal mati oleh suami yang memiliki anak yang masih kecil-kecil dan perempuan tersebut dapat disebut sebagai janda.

(31)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Dasar

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan bersifat deskriptif yang cenderung menggunakan analisis, hanya dapat memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu teori.

Penelitian kualitatif bersifat penjelajahan terbuka yang diwawancarai secara mendalam dan memilki jumlah relatif kelompok kecil. Penelitian ini lebih subjektif dari pada kuantitatif dan menggunakan metode yang sangat berbeda dari pengumpulan informasi, terutama individu, dalam menggunakan wawancara dan grup fokus.

Metode kualitatif berusaha menggali, menemukan, mengungkapkan, dan menjelaskan “meaning” (makna) dan “patterns” (pola) objek peneliti yang diteliti secara holasik (Sibarani dkk, 2014:25). Penelitian kualitatif ini mengikuti langkah- langkah Miles dan Huberman (Sibarani, 2014:24-27) yakni :

a) Data collection (pengumpulan data), yakni mengumpulkan data berupa kata- kata dengan cara wawancara, pengamatan, intisari dokumen, perekaman, dan pencatatan.

(32)

b) Data reduction (reduksi data), yakni merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan

“menyisihkan” yang tidak perlu.

c) Data display (penyajian data), yakni memperlihatkan data, mengklasifikasikan data, menyajikannyadalam bentuk teks yang bersifat naratif atau bagan.

d) Conclusion drawing/verification (penarikan kesimpulan/verifikasi), yakni penarikan kesimpulan dan verifikasi sehingga dapat merumuskan temuan- temuan peneliti.

Dalam penelitian kualitatif, informasi yang disampaikan, identitas dan peran informan menjadi hal yang sangat berharga sehingga peneliti harus memiliki tanggung jawab untuk dapat memperlakukan informasi yang disampaikan. Dalam pengambilan data penelitian kualitatif, harus mendapat persetujuan secara tertulis ataupun lisan supaya peneliti tidak melanggar norma-norma yang dianut oleh informan.

3.2 Lokasi dan Sumber Data

a) Lokasi

Lokasi penelitian berada di Desa Simangaronsang Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Alasan penulis untuk memilih lokasi penelitian ini adalah karena penduduknya asli etnik Batak Toba dan juga masih memiliki tradisi yang kuat dan kental terhadap upacara-upacara dan juga dapat memperkecil biaya penelitian karena dekat dengan kampung orang tua. Di desa ini

(33)

penulis dapat memperoleh keterangan bagaimana tradisi Upacara Adat Kematian Matipul Ulu.

b) Sumber Data

sumber data penelitian ini terdiri dari :

a) Data primer adalah data yang langsung diperoleh dari objek peneliti melalaui wawancara langsung dan observasi.

b) Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai tulisan mulai buku, jurnal,tesis, dan sumber-sumber lain yang dapat memperkuat hasil analisa.

3.3 Instrumen Penelitian

Peneliti kualitatif adalah instrumen utama yang semestinya memiliki kapasitas intelektual yang tinggi terkait dengan kapasitas berfikir reflektif dan rasional yang digunakan saat perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan penelitian. (Djam’an Satori dan Aan Komariah, 2011:69).

Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas hasil penelitian, yaitu kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data (Sugiyono, 2011:305).

Instrumen atau alat penelitian dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan dari temuan di lapangan.

(34)

Dalam hal ini instrumen penelitian kualitatif, Sugiyono (2011:306) menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrumen penelitian utama.

Instrumen penelitian yang digunakan penulis berupa daftar pertanyaan yang diajukan penulis dalam melakukan wawancara dengan informan. Alat bantu yang digunakan adalah :

1) Alat rekam (tape recorder): dengan keterbatasan daya ingat, penulis tidak dapat menghasilkan data dengan sempurna dan lengkap. Oleh karena itu, seorang penulis harus membawa alat rekam untuk merekam apa yang telah penulis dapat dari informan.

2) Buku tulis dan pulpen: sebelum ke lapangan, penulis membutuhkan buku tulis dan pulpen untuk mencatat pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar penting, agar tidak lari dari topik yang diinginkan serta mencatat informasi-informasi yang didapat dari informasi.

3) Kamera : mengambil rekomendasi dari kegiatan yang dilakukan di lapangan atau dengan kata lain mengambil video atau gambar pada kegiatan penelitian.

3.4 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data ialah sebuah cara penelitian dalam mengkaji data baik dari tinjauan pustaka maupun penelitian lapangan. Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif adalah :

(35)

3.4.1 Observasi

Observasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden (wawancara) namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi seperti situasi dan kondisi. Metode ini diterapkan dan dilakukan untuk memperoleh keterangan lebih lengkap dan mendapatkan data untuk menjawab pertanyaan tentang tahap-tahap Upacara Adat Matipul Ulu di masyarakat Batak Toba di Desa Simangaronsang sebagai objek yang diteliti, sehingga data yang diperoleh lengkap dan jelas.

3.4.2 Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab antara si pengumpul data maupun peneliti terhadap narasumber ataupun informan. Umumnya, pada peenelitian kualitatif, wawancara dapat diterapkan sebagai teknik pengumpulan data dan dilakukan secara purporsive sampling kepada para informan terpilih.

3.4.3 Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi yaitu pengumpulan data dan informasi dari buku-buku, internet, dan skripsi yang berkaitan dengan penelitian.

3.4.4 Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan adalah kegiatan untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang menjadi objek penelitian. Informasi tersebut dapat diperoleh dari buku-buku, karya ilmiah, tesis, disertasi, ensiklopedia, internet, dan sumber-sumber lain. Dengan melakukan studi kepepustakaan, peneiti dapat

(36)

memanfaatkan semua informasi dan pemikiran-pemikiran yang relevan dengan penelitiannya.

3.5 Metode Analisis Data

Metode analisis data adalah metode atau cara peneliti dalam mengolah data mentah sehingga menjadi data akurat dan ilmiah. Pada dasarnya, menganalisis data dapat diperlukan imajinasi dan kreativitas sehingga diuji kemampuan peneliti dalam menalar sesuatu. Untuk menganalisis data pnelitian ini, penulis menggunakan teori tradisi lisan.

Dalam metode teori kearifan lokal penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Mengumpulkan data tentang Matipul Ulu

b. Menerjemahkan data dari Bahasa Batak ke dalam Bahasa Indonesia

c. Membuat transkip hasil wawancara dengan memutar kembali rekaman dengan informan.

d. Data yang diperoleh disederhanakan menjadi bahasa yang baik.

e. Setelah data disederhanakan kemudian diklasifikasikan sesuai dengan upacara Matipul Ulu etnik Toba.

f. Setelah diklasifikasikan, data-data dianalisis sesuai dengan kajian kearifan lokal.

g. Membuat kesimpulan dan saran.

(37)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Tahapan-tahapan Pada Upacara Adat Matipul Ulu Etnik Batak Toba Dalam suatu kehidupan berbudaya, manusia selalu berkeinginan dan berharap agar dapat menikmati isi dunia dalam jangka waktu yang lama. Namun, semuanya di luar jangkauan manusia dikarenakan kemampuan, keterbatasan dan akal pikiran yang dimiliki manusia. Oleh karena itu, manusia sudah mempunyai jalan kehidupannya masing-masing yang telah ditentukan oleh Tuhan. Dan batas akhir kehidupan manusia ini (kematian) dapat terjadi dikarenakan penyakit yang diderita dan tidak dapat disembuhkan lagi, kecelakaan atau bisa jadi sebab-sebab lain yang tidak dapat diketahui secara pasti.

Upacara Matipul Ulu merupakan suatu upacara kematian dalam adat Batak toba dimana suami atau yang disebut sebagai kepala keluarga telah meninggal dunia dengan memiliki anak yang masih kecil-kecil. Dalam upacara adat ini ada berbagai tahapan yang harus dilakukan mulai dari hari pertama meninggal sampai hari penguburannya yang terakhir dan hubungan antar keluarga haruslah kokoh dan saling menghormati. Upacara ini merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada leluhurnya dan dapat dianggap penting untuk dilaksanakan agar bisa mendapat berkat, kesehatan, dan juga supaya tidak terulang lagi hal yg serupa dalam keluarga tersebut. Pada pelaksanaan upacara adat ini, dapat dilakukan oleh keluarga yang bersangkutan seperti “hula-hula : paman, dongan satubuha/hahaanggi : teman

(38)

semarga / saudara, dan boru : pihak penerima anak perempuan”. Hula-hula adalah pihak yang tertinggi dari partuturan atau kelompok orang-orang yang posisinya sangat dihormati keluarga marga dari pihak istri atau ibu. Dongan sabutuha merupakan orang-orang yang memiliki marga yang sama dengan kita. Boru yaitu hela (suami dari boru kita) dan bere (anak saudara perempuan kita yang dipandang oleh orang Batak masuk unsur boru mengikuti ibunya).

Pada proses pelaksanaan upacara Matipul Ulu ini, perlu dilakukan beberapa tahapan agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik. Pelaksaan upacara adat ini didalamnya terdapat peran “Dalihan Na Tolu” yaitu somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru dimana mereka akan mendapat tugas masing-masing dalam upacara adat tersebut. Adapun tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam upacara adat Matipul Ulu adalah sebagai berikut:

4.1.1 Acara Sebelum Upacara di Mulai

Pada masyarakat Batak Toba, bila kepala keluarga/orangtua laki-laki telah meninggal, maka dari keturunannya beserta sanak famili biasanya melakukan acara adat kematian (Matipul Ulu) khusus bagi keluarga yang meninggal. Sebelum dilaksanakan acara adat tersebut, maka mulai dari anak yang meninggal sampai keluarga terdekat dari orang yang telah meninggal lebih dahulu harus mengadakan musyawarah (Marpai/Marapot) untuk membahas persiapan apa saja yang akan dibicarakan dalam musyawarah umum (Marhata Raja) nantinya. Dari musyawarah keluarga tersebut akan diperoleh hasil-hasil dari setiap apa yang dibicarakan dan

(39)

hasilnya akan dicatat oleh para suhut (tuan rumah/ penyelenggara pesta). Hasil-hasil yang dicatat oleh para suhut kemudian dipersiapkan ke musyawarah umum . Selesai dari musyawarah keluarga, musyawarah umum pun dilaksanakan dengan mengundang pihak hula-hula, boru, dongan tubu, raja adat, parsuhuton. Adapun beberapa point penting yang di sepakati dalam Marhata Raja tersebut sbb:

1) Ulaon Partutano/Partuatna (acara adat kematian) dimulai pada pagi hari pukul 10.00 wib. Dalam acara ini yang dapat terlibat dalamnya ialah Raja adat (kepala adat), Hula-hula (tulang), Dongan sahuta/tubu (teman sekampung), Parsuhuton (tuan rumah/penyelenggara pesta), dan Boru (pihak penerima anak perempuan). Fungsinya adalah membantu roh almarhum melalui doa para warga masyarakat agar sampai ke alam baka di Sorga.

2) Bentuk Ulaon Mardalan Na Bolon (meminta doa- Matipul Ulu). Yang dapat terlibat dalam acara ini yaitu Raja adat (kepala adat), Hula-hula (tulang), Dongan sahuta/tubu (teman sekampung), Parsuhuton (tuan rumah/penyelenggara pesta), dan Boru (pihak penerima anak perempuan).

Fungsi dari acara ini agar segala amal dan ibadah almarhum selama hidupnya dapat diterima Tuhan Yang Maha Esa.

3) Ulos Saput dari Tulang yang meninggal (bapak/kepala keluarga yang meninggal). Pada acara ini yang terlibat didalamnya ialah Hula-hula (tulang), Parsuhuton (tuan rumah/penyelenggara pesta). Fungsi dari acara tersebut

(40)

agar dapat memberikan kenangan terakhir pada almarum yaitu berupa ulos saput sebagai tanda perpisahan.

4) Ulos Tujung dari Hula-hula diberikan setelah ulos saput di sampaiakan (hanya kedua ulos diatas yang akan diserahkan kerabat/keluarga (horong) Tulang dan Hula-hula). Pihak yang terlibat dalam acara ini yaitu Hula-hula (tulang), Parsuhuton (tuan rumah/penyelenggara pesta). Fungsi dari acara ini yaitu agar istri yang ditinggal suami (almarhum) tidak larut dalam kesedihan dan supaya dapat berjuang hidup bagi anak-anaknya yang masih kecil.

5) Acara Gereja (Paroki) biasanya pukul 15.00 wib. Dalam acara gereja (paroki) pihak yang dapat terlibat didalamnya pengurus gereja (pendeta), Raja adat (kepala adat), Hula-hula (tulang), Dongan tubu/sahuta (teman sekampung), Parsuhuton (tuan rumah/penyelenggara pesta), dan boru (pihak penerima anak perempuan). Fungsinya ialah sama-sama mendoakan agar almarhum dapat diterima di sisi Yang Maha Kuasa.

6) Pemakaman (Udean). Pihak yang terlibat dalam acara pemakaman yaitu pengurus gereja (pendeta), Raja adat (kepala adat), Hula-hula (tulang), Dongan tubu/sahuta (teman sekampung), Parsuhuton (tuan rumah/penyelenggara pesta), dan boru (pihak penerima anak perempuan).

Fungsinya ialah mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatan yang terakhir.

(41)

7) Ungkap Tujung setelah kembali dari pemakaman. Dalam acara mangungkap tujung ini, pihak yang terlibat yaitu Hula-hula (tulang), Parsuhuton (tuan rumah/penyelenggara pesta), Dongan tubu/sahuta (teman sekampung).

Fungsinya ialah agar dapat mengangkat beban berat yang diterima janda (namabalu) tersebut saat meninggalnya pasangan yang dicintainya dan agar tidak larut dalam masa perkabungannya.

Gambar 1 : Marhata Raja

Pada acara ini juga ditentukanlah orang-orang yang akan bertanggung jawab pada setiap bidang kerja yang sudah diberikan kepada masing-maing bidang, misalnya:

a) Menentukan tanggal penguburan (bila masih akan menunggu keluarga inti yang akan hadir).

(42)

b) Menentukan orang yang membicarakan riwayat hidup yang meninggal.

c) Mengurus peti mayat.

d) Menyebarkan undangan kepada pihak tertentu. Pihak tertentu yaitu: hula- hula, hula-hula ni hahaanggi, hula-hula naposo, tulang, tulang rorobot.

Hula-hula adalah pihak yang tertinggi dari partuturan atau kelompok orang- orang yang posisinya sangat dihormati keluarga marga dari pihak istri atau ibu. Hula-hula ni hahaanggi adalah keluarga masing-masing istri dari abang dan adik kita. Hula-hula naposo adalah keluarga marga dari pihak istri yang masih muda. Tulang adalah tulang atau ito orang tua perempuan kita. Tulang rorobot adalah tulang dari orang tua perempuan (ibu).

e) Menunjuk orang untuk dapat menyebarkan undangan kepada dongan tubu (teman/saudara semarga), dongan sahuta (teman sekampung), dongan saulaon (rekan sekerja/teman sejawat).

f) Menentukan orang yang bertugas menyiapkan makanan untuk keluarga dan pihak paradaton (pelaksanaan adat) Matipul Ulu,

g) Menentukan orang khusus untuk pemberian ulos (piso-piso ni ulos),

h) Membeli dan mempersiapkan beberapa ekor ternak sebagai makanan pesta atau untuk disembelih/dipotong sebagai “simbol” pencapaian puncak kebahagiaan bagi almarhum.

(43)

Khusus bagi tamu yang akan hadir di acara tersebut, pihak “Hula-hula” akan disambut layaknya seorang Raja, Hula-hula adalah sebutan kaum lelaki (kakak, adik) dari keluarga inti istri. Sementara itu pihak “Boru” adalah kakak atau adik wanita dan anak wanita dari almarhum, mereka ini berperan sangat penting saat berlangsungnya upacara tersebut, tidak heran jika mereka dianggap pihak yang paling sibuk karena telah mulai bekerja sejak persiapan, saat acara, hingga selesainya upacara ini.

Sebelum upacara dimulai semua pihak yang berperan menyiapkan makanan akan berkumpul untuk di jamu oleh pihak keluarga yang berduka, tujuannya agar mereka berkenan membantu keluarga yang berduka memasak hidangan bagi tamu undangan yang akan hadir. Susunan acara akan ditampilkan pada selembar papan pengumuman dan diletakkan di pintu masuk tempat akan diadakannya upacara, agar semua yang hadir mengetahui urutan proses upacara. Setelah keperluan upacara selesai dipersiapkan barulah upacara kematian Matipul Ulu ini dapat dimulai.

4.1.2 Acara Pelaksanaan Upacara Kematian Matipul Ulu

Pelaksanaan upacara adat kematian Matipul Ulu dilakukan dilakukan di dalam rumah (Jabu). Pada saat upacara di jabu akan dimulai, mayat yang meninggal dibaringkan di ruang tamu (jabu bona). Letaknya berhadapan dengan kamar anak- anaknya. Istri yang ditinggalkan duduk disebelah kanan tepat di samping muka suaminya yang meninggal dan kemudian di ikuti oleh anak-anaknya yang paling besar sampai anak yang paling kecil. Setelah rombongan Tulang dan Hula-hula telah lengkap hadir maka dapat di mulai acara adat sebagai berikut:

(44)

1) Menerima Kedatangan Para Tulang Menyampaikan Ulos Saput (Manjalo haroro ni Tulang pasahat Ulos Saput)

 Protokol Raja Parhata/ Paidua ni Suhut

“Loloan na marhabot ni roha tarlumobi ma dihamu horong ni Tulang dohot Hula-hula nami, mardomu tu panghataionta na bodari, ala nunga dapot tingkina jala nunga mangarade hami parboruon mu manjalo haroro muna, molo nunga mangarade Rajai asa masuk ma hamu Tulang nunga rade hami manjalo haroro mu, botima, sidopoti hami Rajanami”.

Artinya:

 Protokol Raja Parhata

Hadirin yang berdukacita terlebihlah kepada golongan Tulang ‘saudara kandung laki-laki dari ibu’ dan Hula-hula ‘pihak yang tertinggi dari partuturan’ kami, berhubung dengan pembicaraan kita yang semalam, karena sudah tiba waktunya dan kami parboru telah siap menyambut kedatangan kalian, kalau Raja itu sudah bersiap-siap supaya masuklah kalian Tulang sudah siap kami menerima kedatangan kalian, kami sampaikan demikian.

 Protokol Sian Tulang na Monding

“Mauliate ma. Di hita Tulang Raja … ‘sebut marga tulang na monding’, nunga tangkas ta bege naung mangarade parboruonta Raja … ‘sebut marga na monding’ jala ala naung singkop do sude hita dison asa masuk ma hita.

(45)

Dung i masuk ma Tulang ‘tulang ni na monding’ dohot akka paniaranna na manghunti tandok na marisi parbue pir ‘parbue tungkir”.

Diuduti protokol ma muse: tarsongon on ma acara sipatupaon nami Amangboru di na pasahat Ulos Saput hami tu lae nami on;

1. Marende

2. Martangiang

3. Mandok Hata (meneguhkan keluarga yang berduka)

4. Pasahat Ulos

5. Marende

6. Martangiang

Artinya:

 Protokol dari Tulang yang Meninggal

“Terima kasih. Di kita Tulang Raja… ‘sebut marga tulang yang meninggal’, sudah jelas kita dengar sudah siap parboru kita Raja… ‘sebut marga yang meninggal’ karena sudah lengkapnya semua kita di sini supaya masuklah kita.

Setelah itu masuklah Tulang ‘tulang yang meninggal’ dan para istri-istri semarga yang menjunjung sumpit yang berisi beras/ buah”.

(46)

Sambil di ikuti protokol/pembicaralah: seperti inilah acara yang kami persiapkan Amangboru ‘suami dari adik atau kakak perempuan bapak’ pada saat memberikan Ulos Saput kami kepada lae ‘orang yang meninggal’ kami ini;

1. Bernyanyi

2. Berdoa

3. Memberikan sepatah kata (meneguhkan keluarga yang berduka)

4. Memberikan Ulos

5. Bernyanyi

6. Berdoa

Gambar 2 : Menerima Kedatangan Tulang

(47)

Jongjong ma Tulang sipasahat Ulos Saput dohot rombonganna di sabola ni namondingi (tong do mamereng partonding/parpeakni bangke ni namate i), jala andorang so dipasahat Ulos Saput, Marende, Martangiang, didok ma hatana:

Artinya:

Berdirilah Tulang yang memberikan Ulos Saput dengan rombongannya di sebelah kanan yang meninggal itu (dengan tetap melihat meninggalnya/berbaringnya mayat yang meninggal itu), dan sebelum disampaikan Ulos Saput, bernyanyi, berdoa, disampaikanlah kata-katanya:

Sepatah Kata Para Tulang yang Meninggal di Saat Menyampaikan Ulos Saput (Hata ni Tulang ni namonding tingki Pasahat Ulos Saput)

“Di hamu parboruon nami Raja … ‘sebut marga na monding’, tarlubomi ma di Ibotongku ‘namabalu’ dohot di hamu berenami na marhaha maranggi, suang songoni di sude hamu namardongan tubu, na dohot do hami Tulangmuna, Nantulangmuna dohot Ompungmuna, sude hami na pungu on marhabot ni roha diparmonding ni lae nami, ima Ama na ta haholongi on.

Najolo diparsorang ni lae nami on, dipasahat Tulangna do Ulos Parompa ima songon lampin ni Berenami on. Nuaeng nunga monding ibana, ro ma hami Tulangna pasahat Ulos Saputna. Asa dohononnami ma tu hamu ito borunghu ‘na mabalu’ dohot tu sude hamu bere dohot ibebereku: Hupasahat hami ma Ulos Saput on tu laenami naung monding on, dohot pangidoan di tangiangnami tu Amanta Debata Parasi Roha i, asa manaputi Parhorason,

(48)

Panggabean sian pasu-pasu ni Tuhanta di hamu sude na tinadingkon ni laenami on.

Borhat ma ho laengku mandapothon Tuhan Jesus Kristus di surgo hasonangan i”. (Laos diampehon ma Ulos Saputi tu na mondingi)

Gambar 3 : Menyampaikan Ulos Saput

Ulos Saput

(49)

Artinya:

“Untuk kalian boru kami Raja … ‘sebut marga yang meninggal’, terlebih kepada saudari saya ‘janda’ dan juga kepada bere ‘keponakan laki-laki’ kami yang kakak beradik, begitu juga kepada kalian yang bersaudara, yang ikut sertanya kami tulang ‘paman’ kalian, nantulang ‘bibi’, dengan ompung

‘kakek’ kalian, semua kami yang berkumpul ini berdukacita atas meninggalnya lae kami itulah Bapak yang kita sayangi ini.

Dulu dikelahiran lae ‘ipar’ kami ini, disampaikan Tulangnya Ulos Parompa

‘gendongan’ itulah seperti kain alas bayi untuk bere ‘pihak penerima laki-laki’

kami ini. Sekarang dia sudah meninggal, datangnya kami Tulangnya ‘paman’

menyampaikan/memberikan Ulos Saputnya ‘ulos perpisahan’. Supaya kami sampaikan kepada kalian ito boru ku ‘janda’ begitu juga kepada kalian bere

‘pihak penerima perempuan’ dan ibereku ‘pihak penerima laki-laki’ : Kami sampaikan lah Ulos Saput ini kepada lae ‘ipar’ kami yang telah meninggal ini, dengan doa permintaan kami kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, supaya membawa berkah kemakmuran/kesenangan, kesuksesan dari berkat karunia Tuhan bagi kalian semua keluarga yang ditinggalkan lae kami ini.

Pergilah engkau lae ‘ipar’ ku bersama Tuhan Yesus Kristus di Surga”. (sambil diletakkanlah Ulos Saput itu kepada yang meninggal)

Kemudian di tutup Tulang dengan doa (Amen) langsung di sambut :

(50)

Sepatah Kata dari Paidua ni Suhut Terkait Setelah Pemberian Ulos Saput

Paidua ni suhut ialah keluarga terdekat suhut yang memang telah disepakati dalam musyawarah untuk menjadi berperan sebagai paidua ni suhut. Paidua ni suhut lah yang menjadi koordinator lapangan pelaksanaan acara (ulaon). Jadi sepatah kata dari Paidua ni suhut setelah pemberian Ulos Saput adalah sebagai berikut:

“Rajanami, mauliate ma di hamu, nunga tangkas di pasahat hamu Ulos Saput ni beremu ima Ama na hu haholongi hami naung bostang di jolonta on, sahali nari dohonon nami mauliate godang ma di hamu Tulangnami. Rajanami, ala huboto hami tibu do nasogot Raja i borhat sian bagasni Raja i ido umbahen nahupatupa hami sipanganon asa mardaun pogu ma jo Raja i andorang so ta uduti tu ulaon namangihut, Boru nami.. hobasi hamu daun pogu ni Tulangta”.

Artinya :

“Raja kami, terima kasihlah kepada kalian, sudah jelas kalian sampaikan Ulos Saput untuk beremu itulah Bapak yang kami sayangi yang sudah terbaring/telentang kaku di hadapan kita ini, sekali lagi kami ucapkan terima kasih banyak di kalian Tulang kami. Raja kami, karena kami tahunya cepat tadi pagi Raja itu berangkat dari rumah Raja karena itulah kami persiapkan makanan supaya makan sekedarnyalah dulu Raja sebelum kita laksanakan kegiatan berikutnya, Boru kami… bereskan kalian makanannya Tulang kita”.

Dalam sepatah kata Paidua ni suhut ini, tak perlu di jawab paranak kata-kata yang disampaikan oleh Tulang dan Hula-hula karena yang meninggal ini Matipul Ulu ,

(51)

jadi Tulang dan Hula-hula pun harus memaklumi di situ. Karena masih memiliki anak yang kecil-kecil dan masih memiliki goresan sedikit yang mengerumit.

2) Menerima Kedatangan Para Hula-hula Menyampaikan Ulos Tujung (Manjalo haroro ni Hula-hula pasahat Ulos Tujung) Setelah Menyampaikan Ulos Saput

 Protokol Sian Tondong na Samarga ni na Monding

“Mauliatema. Di hamu nahuparsangapi hami Hula-hula nami Raja … (sebut marga Hula-hula) nunga mangarade hami Rajanami manjalo haroromuna laho pasahathon Ulos Tujung ni Ina nami”.

Artinya :

Terimakasih. Kalian yang kami hormati Hula-hula kami Raja… (sebut marga Hula-hula) sudah siap kami Raja kami menerima kedatangan kalian untuk memberikan Ulos Tujungnya Ibu kami.

 Protokol Sian Hula-hula

“Mauliatema amangboru. Di hita Hula-hula Raja… (sebut marga hula-hula), nunga tangkas ta bege naung mangarade parboruonta, ala naung singkop do sude hita dison asa masuk ma hita. Dung i masuk ma Hula-hula rap udur dohot Tulang Rorobot dohot angka paniaran na manghunti tandok na marisi parbue pir (parbue tungkir)”.

(52)

Diuduti protokol ma muse: Di parnangkok ni mataniari on rodo hami Hula- hula muna lao pasahathon Ulos Tujung ni boru nami songon naung ta hatai nabodari, tarsongon on ma acara sipatupaon nami amangboru:

1. Marende

2. Martangiang Pambuhai

3. Pasahat Ulos Tujung

4. Mandok Hata (meneguhkan keluarga yang berduka)

5. Marende

6. Martangiang

Artinya :

Terima kasih amangboru ‘panggilan terhadap suami dari saudari ayah kita’.

Bagi kita Hula-hula Raja… (sebut marga Hula-hula), sudah jelas kita dengar sudah siap parboru, karena sudah berkumpul kita di sini agar kita mulai acara kita. Setelah itu masuklah Hula-hula yang di ikuti Tulang Rorobot ‘saudara laki-laki dari ibu mertua perempuan kita’ dengan para menantu perempuan yang menjunjung tandok ‘tempat beras’ yang berisi hasil buah/beras yang utuh”.

(53)

Dan kemudian di ikuti protokol: Di pagi hari ini datangnya kami Hula-hula kalian untuk memberikan Ulos Tujungnya boru kami seperti sudah kita sepakati semalam, seperti inilah acara yang akan kita laksanakan amangboru:

1. Bernyanyi

2. Doa pembukaan

3. Pemberihan Ulos Tujung

4. Menyampaikan Sepatah kata (meneguhkan keluarga yang berduka)

5. Bernyanyi

6. Berdoa

Gambar 4 : Sepatah Kata Hula-hula saat Menyampaikan Ulos Tujung Namabalu/

janda

Hula- hula

(54)

Ulos Tujung merupakan pemberian dari Hula-hula kepada orang yang ditinggalkan (janda) disertai isak tangis baik dari suhut maupun Hula-hula sendiri.

Pemberian ulos bermakna suatu pengakuan resmi dari kedudukan seseorang yang telah menjadi janda dan berada dalam suatu keadaan duka yang terberat dalam hidup seseorang ditinggalkan oleh teman sehidup semati, sekaligus peryataan turut berduka cita yang sedalamdalamnya dari pihak Hula-hula. Dan ulos tersebut hanya diletakkan di atas bahu. Dan pada waktu pemberian ulos itu semua keturunanya yang meninggal berdiri di samping mayat tersebut. Kemudian berdirilah saudara dari istri yang meninggal/ janda (namabalu) tersebut lalu memberikan sepatah kata.

Sepatah Kata para Hula-hula Menyampaikan Ulos Tujung (Hata ni Hula-hula (Parboru) Pasahat Ulos Tujung/Ulos Sibolang) :

“Di ho Ibotonghu: di tingki on dipaporsanhon Tuhanta do tu ho sitaonon na mansai dok-dok, mansai borat do sitaonon on songon udan na so hasaongan, songon alogo na so hapudian. Dison ro do hami Hula-hulam mandapothon hamu, paboa na rap do hita marsitaonon di parmonding ni lae nami on. Ala naung parjolo monding lae nami on, dison ro do hami laho pasahat Ulos Tujung tu hamu na paboahon naung marsirang hamu di hangoluan on dohot lae nami naung monding on. Huampehon hami ma Ulos Tujung on tu simanjujungmu, napaboahon naung mabalu hamu, tanda naung holip sian parnidaanmuna lae nami naung monding on, jala marhite nahuampehon hami Tujung on tu hamu didongani tangiangnami tu Amanta Debata Parasi Roha i, asa tanganNa na sumurungi ma mangondingi hamu sian sude arsak ni roha

(55)

on, ditamparhon sian rohamu roha namandele, jala sai ditogu-togu Tuhanta ma hamu laho mandalani ngolumuna tu angka ari nanaeng ro”.

Artinya :

Di kamu saudariku: di saat ini diberikan Tuhan kepadamu beban yang yang terlalu berat, semakin beratnya penderitaan ini seperti hujan deras terhadap payung yang tidak dapat menolong/ permasalahan yang sulit, seperti masalah sulit diatasi. Di sini datangnya kami Hula-hula (pihak yang tertinggi dari partuturan) mu mendatangi kalian, menyampaikan yang samanya kita berdukacita di kematian lae kami ini. Karena sudah pertama meninggal lae kami ini, di sini datangnya kami mau memyampaikan Ulos Tujung kepada kamu yang memberitahukan sudah berpisah kalian di kehidupan ini dengan lae kami yang sudah meninggal ini. Kami letakkanlah Ulos Tujung ini ke kepalamu, yang memberitahukan yang sudah janda kamu, tanda sudah terhalang dari penglihatanmu lae kami yang sudah meninggal ini, melalui ini kami meletakkan penutup kepala (Tujung) ini ke kamu ditemani dengan doa kami kepada Bapa Yang di Sorga, supaya tangan-Nya yang sejahtera yang menemani kamu dari semua kesusahan/keluhan di hati ini, disingkirkan dari hatimu hati yang berputus asa, serta selalu dituntun Tuhanlah kalian dalam menjalani hidup kalian sampai ke hari-hari yang akan datang.

(56)

Gambar 5 : Menyampaikan Ulos Tujung

Sambil meletakkan Ulos Tujung dari kanan si janda tersebut, ke kepalanya terus ke kiri, lalu harus setengah kening si istri yang meninggal (janda) ditutupi penutup kepala (tujung). Lalu di ikutilah yang memberikan sepatah kata mulai dari kumpulan (horong) boru/bere, di ikuti Tulang Rorobot, istri-istri semarga/ para menantu perempuan (paniaran), pengurus gabungan (punguan), pihak yang tertinggi dari partuturan (Hula-hula) jelas kemudian jadi pengayom. Selesai siap memberikan sepatah kata ditutup “Hula-hula” lah dengan doa. Setelah selesai doa penutup, langsung di jawab Paidua ni Suhut lah kata terima kasih, seperti inilah katanya:

Sepatah Kata Perwakilan Keluarga yang Mengucapkan Terima Kasih (Hata ni Paidua ni Suhut na Mandok Mauliate)

“Mauliate malambok pusu ma Rajanami di holong ni rohamuna i di hami pamoruonmuna on, lumobi ma di naung pinasahatmuna Ulos Tujung tu Inanami namabau on.

Ulos Tujung

(57)

Sai anggiat ma songon pangidoanmuna i, sai asi ma Roha ni Tuhanta, dao ma pandelean sian Ina naung mabalu on, sai tumibu ma tarapul rohana siala ni angka tangiangmuna hula-hulanami.

Rajanami, songon naung hutariashon hami “Marhata Raja” nabodari, di namulak sian udean annon rap ma hita mulak tu bagasnami on laho pasidunghon ulaonta ima: Ungkap Tujung jala laos di ulaon i ma Rajanami mangido tangiang hami sian hamu Hula-hula nami jala apuli hamu hami tarlumobi Ina naung mabalu on, Sahali nari dohononnami ma mauliate godang ma di hamu saluhutna Hula-hulanami dohot sude uduranmuna Rajanami.

Rajanami ala huboto hami tibu do nasogot Raja i borhat sian bagasni Raja i ido umbahen nahupatupa hami sipanganon asa mardaun pogu majo Raja i andorang so ta uduti tu ulaon namangihut, Boru nami… hobasi hamu daun pogu ni Hula-hulai tulang muna”.

Artinya :

Terima kasih yang sebesarnyalah kepada Raja kami atas kasih dan kemurahan hati kalian pada kami, terlebih atas yang telah kalian berikan kepada kami Ulos Tujung kepada Ibu kami yang janda ini. Semoga seperti harapan kita, semoga Tuhan mengasihi kita, dan menjauhlah penderitaan dari Ibu yang sudah ditinggalkan (janda), semoga cepat hilang kesedihan seperti doa kalian Hula-Hula kami.

(58)

Raja kami, seperti yang sudah disampaikan kami pada diskusi “Marhata Raja” semalam, pada saat pulang dari pemakaman supaya berkumpul kita dirumah kami untuk menyelesaikan kegiatan acara kita yaitu: Ungkap Tujung dan pada acara itu Raja kami meminta doa kami dari kalian Hula-hula kami dan belai/hiburlah kami terlebih Ibu kami yang sudah ditinggalkan/ janda, sekali lagi kami ucapkan terima kasih banyak untuk kalian semua Hula-hula kami dan semua perkumpulannya Raja kami.

Raja kami karena kami tahu cepatnya Raja kami berangkat dari rumah Raja dan itulah yang membuat kami persiapkan dan sediakan makanan “Mardaun Pogu” lah Raja itu sebelum kita masuki kegiatan yang akan kita laksanakan, Boru kami… persiapkan kalian makanan “Daun Pogu” untuk Hula-hula tulang kalian.

Sepatah kata dari Paidua ni Suhut ini tidak harus di dijawab karena itu merupakan Mate Matipul dan Tulang beserta Hula-hula sudah harus mengerti pada kondisi itu. Dan jangan ada perkataan dari Tulang dan Hula-hula kalau tidak disampaikan Suhut piso-piso (jawaban dari ulosnya) dikarenakan yg ditinggalkan masih mempunyai anak yang masih muda.

3) Acara Mandok Hata (Menyampaikan Sepatah Kata)

a. Pertama membacakan Riwayat Hidup (Jujur Ngolu) almarhum.

Gambar

Gambar 1 : Marhata Raja
Gambar 2 : Menerima Kedatangan Tulang
Gambar 3 : Menyampaikan Ulos Saput
Gambar 4 : Sepatah Kata Hula-hula saat Menyampaikan Ulos Tujung Namabalu/
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti mengambil judul penelitian “ Pelestarian Nilai-nilai Kearifan Lokal Upacara Adat Ngalaksa Dalam Upaya Membangun

NGARAS : SEBUAH KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK TENTANG NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM EKSIKON UPACARA ADAT DI KECAMATAN CILILIN KABUPATEN BANDUNG BARAT.. Universitas Pendidikan

Pada upacara adat mantenan tebu di Desa Pangka bentuk interaksi simboliknya menggambarkan bentuk komunikasi atau pemujaan kepada leluhur dan nenek moyang desa yang

Dalam mempertahankan upacara adat kelahiran ini didukung pula oleh nilai-nilai dari upacara adat kelahiran tersebut dan sistem kepercayaan masyarakat yang beranggapan bahwa

Pada upacara adat mantenan tebu di Desa Pangka bentuk interaksi simboliknya menggambarkan bentuk komunikasi atau pemujaan kepada leluhur dan nenek moyang desa yang

Masyarakat Batak khususnya masyarakat Batak Toba mengenal parjambaran sebagai bagian dari beberapa upacara adat yang masih dilaksanakan sampai saat ini, dan Parjambaran

Tujuannya yaitu, agar petani kemenyan lancar dalam melakukan kegiatan didalam hutan, tidak diganggu oleh mahluk halus (Mula Jadi Na Bolon), Pengolahan lahan

Universitas Muhammadiyah Pruworejo, Vol.. menyaksikan upacara tersebut, penulis baru bisa memberikan kesimpulan bahwa upacara tersebut adalah upacara adat pernikahan