BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
4.5 Debt To Equity Ratio
Debt to Equity Ratio merupakan indikator struktur modal dan risiko finansial, yang merupakan perbandingan antara hutang dan modal sendiri. Menurut Purwanto dan Haryanto (2004), “Bertambah besarnya Debt to Equity Ratio suatu perusahaan menunjukkan risiko distribusi laba usaha perusahaan akan semakin besar terserap untuk melunasi kewajiban perusahaan”.
Debt to Equity Ratio adalah rasio yang menunjukkan persentase penyedia dana oleh pemegang saham terhadap pemberi pinjaman. Semakin tinggi rasio, semakin rendah pendanaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham. Dari perspektif kemampuan membayar kewajiban jangka panjang, semakin rendah rasio akan semakin baik kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya.
Secara matematis Debt to Equity ratio dapat dirumuskan sebagai berikut :
��� = ���������
Debt to Equity Ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menutup sebagian atau seluruh hutang-hutangnya baik jangka panjang maupun jangka pendek dengan dana yang berasal dari total modal dibandingkan besarnya hutang. Oleh karena itu, semakin rendah DER akan semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya. Semakin besar proporsi hutang yang digunakan untuk struktur modal suatu perusahaan, maka akan semakin besar pula jumlah kewajibannya. semakin tinggi DER menunjukan tingginya ketergantungan permodalan perusahaan terhadap pihak luar sehingga beban perusahaan juga semakin berat, tentunya hal ini akan mengurangi hak pemegang saham dalam bentuk deviden. Sehingga investor kurang tertarik terhadap perusahaan yang memiliki nilai DER yang tinggi yang mengakibatkan turunnya penawaran investor dan turunnya harga saham perusahaan tersebut.
2.2 Penelitian Terdahulu
Ringkasan tinjauan penelitian terdahulu : Nama Peneliti Judul
Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian Juventus 2008 Pengaruh Rasio Profitabilitas dan Leverage terhadap Harga Saham Perbankan di Bursa Efek Jakarta Independen: ROA, ROE, DER, dan DAR. Dependen: Harga Saham.
Secara simultan, ROE, DER, dan DAR
berpengaruh terhadap harga saham. Secara parsial, hanya rasio ROE dan DAR yang memiliki pengaruh positif terhadap harga saham. Efendi 2009 Pengaruh Rasio Profitabilitas, Rasio Solvabilitas, dan Risiko Sistematis terhadap Harga Saham Properti di Bursa Efek Jakarta Independen: ROA, ROE, DER, dan BETA. Dependen: Harga Saham Secara parsial, ROA, DER, dan BETA mempunyai pengaruh positif terhadap harga saham. Lenny Kielsan 2010 Pengaruh Debt to Equity Ratio, Net Profit margin, Return on Asset, dan Return on Equity terhadap Harga Saham Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Independen: DER, NPM, ROA, dan ROE . Dependen: Harga Saham Secara simultan, semua variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham. Secara parsial, semua variabel yang diteliti tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
2.3 Kerangka Konseptual
Berdasarkan uraian diatas kerangka yang menjadi dasar penelitian ini adalah sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Pengaruh EPS, PER, ROA, NPM dan DER terhadap Harga Saham Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
Hipotesis adalah proposisi yang dirumuskan dengan maksud untuk diuji secara empiris. Proposisi merupakan ungkapan atau pernyataan yang dapat dipercaya, disangkal atau diuji kebenarannya mengenai konsep atau konstruk yang menjelaskan atau memprediksi fenomena-fenomena. Dengan demikian, hipotesis merupakan penjelasan sementara tentang
Harga Saham
(Y) Earning Per share (EPS)
X1
Price Earnings Ratio (PER)
X2
Net Profit Margin (NPM) X4
Debt to Equity Rasio (DER) X5
Return On Asset (ROA) X3 H1 H2 H3 H4 H5 H6
perilaku, fenomena atau keadaan tertentu yang telah terjadi atau akan terjadi.
2.4 Pengembangan Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
H1 Earning Per Share (EPS) berpengaruh positif terhadap harga saham perusahaan perbankan.
H2 Price Earning Ratio (PER) berpengaruh positif terhadap harga saham perusahaan perbankan.
H3 Return On Asset (ROA) berpengaruh positif terhadap harga saham perusahaan perbankan.
H4 Net Profit Margin (NPM) berpengaruh positif terhadap harga saham perusahaan perbankan.
H5 Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif terhadap harga saham perusahaan perbankan.
H6 Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Return On Asset (ROA), Net Profit Margin (NPM) dan Debt to Equity Ratio
(DER) secara bersama-sama berpengaruh terhadap harga saham perusahaan perbankan.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat comfirmation research yang bertujuan untuk menjelaskan hubungan kasual antar variabel melalui pengujian hipotesis. Dimana data/variabel di teliti terlebih dahulu kemudian di jelaskan hubungannya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yang menggunakan tabel dan grafik serta bersifat kuantitatif.
3.2 Batasan Operasional
Atas pertimbangan efisiensi, minat, keterbatasan waktu, serta pengetahuan peneliti, maka peneliti melakukan beberapa batasan konsep terhadap penelitian yang akan diteliti, yang diantaranya :
1. Penelitian ini membatasi sampel hanya pada perusahaan perbankan yang terdaftardi Bursa Efek Indonesia (BEI)
2. Penelitian ini hanya dibatasi hanya selama 4 tahun yaitu dari tahun 2008 – 2011 dengan melihat dari beberapa rasio yang dianggap dapat memberikan penilaian terhadap sebuah perusahaan, rasio tersebut adalah Earning Per Share (EPS),Price Earnings Ratio (PER), Return On Aset (ROA), Net Profit Margin (NPM), dan Debt To Equity Ratio
3.3 Variabel Penelitian 3.3.1 Variabel terikat
Pada penelitian ini sebagai variabel terikat adalah Harga Saham pada Perusahaan Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
3.3.2 Variabel bebas
Pada penelitian ini ada lima variabel bebas yang dipergunakan, yaitu Earning Per Share (EPS),Price Earnings Ratio (PER), Return On Aset (ROA), Net Profit Margin (NPM), dan Debt To Equity Ratio (DER).
3.4 Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel penelitian ini terdiri dari 5 (lima) variabel bebas (independen) dan 1 (satu) variabel terikat (dependen) yang akan dijelaskan berikut ini:
3.4.1 Earning Per Share (EPS)
Earning Per Share (EPS) merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan per lembar saham pemilik. Earning Per Share (EPS) mencerminkan jumlah uang yang diperoleh untuk setiap lembar saham perusahaan. Earning Per Share (EPS) merupakan perbandingan antara laba bersih
setelah pajak dengan jumlah saham yang diterbitkan. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
���= ���������ℎ
�����ℎ��ℎ�������������
3.4.2 Price Earning Ratio (PER)
Rasio ini menunjukkan seberapa tinggi suatu saham dibeli oleh investor dibandingkan dengan laba per lembar saham. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
���= �������ℎ��
���������������ℎ��
3.4.3 Return On Asset (ROA)
Return On Asset (ROA) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimiliki perusahaan dan dapat dihitung dengan membagi Net Income After Tax terhadap total aktiva (Total Assets). Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
������������� = ���������ℎ
3.4.4 Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin (NPM) merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dibandingkan penjualan yang dicapai. Net Profit Margin (NPM) dihitung dengan cara membagi keuntungan bersih dengan total penjualan. Rasio ini menunjukkan keuntungan bersih dengan total penjualan yang diperoleh dari setiap penjualan. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
��������������� = ���������ℎ
��������� × 100%
3.4.5 Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio yang menunjukkan persentase penyediaan dana oleh pemegang saham terhadap pemberi pinjaman. Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio perbandingan antara total hutang dengan total modal sendiri. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
��� = ���������
3.4.6 Harga Saham
Harga saham adalah harga per lembar saham yang berlaku di pasar modal. Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2006), “Harga saham di pasar modal terdiri atas tiga kategori, yaitu harga tertinggi (high price), harga terendah (low price) dan harga penutupan (close price)”. Harga tertinggi atau terendah merupakan harga yang paling tinggi atau paling rendah yang terjadi pada satu hari bursa. Harga penutupan merupakan harga yang terjadi terakhir pada saat akhir jam bursa. Berdasarkan ketiga kategori tersebut dapat dilihat bahwa perubahan harga saham yang terjadi, seperti masing-masing investor sering mempunyai persepsi yang berbeda, sehingga kerapkali salah dalam mengambil keputusan investasi. Dampaknya investor sering tergesa-gesa untuk menjual sahamnya tanpa terlebih dahulu memperhitungkan apakah saham tersebut memiliki prospek yang bagus atau.
3.5 Populasi dan Sampel Penelitian
Menurut Sugiono 2006:90), ”Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek /subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulanya. Sample adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”.
Adapun teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling
berdasarkan kriteria:
1. Perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2008, 2009, 2010, 2011
2. Perusahaan yang tidak delisting dari BEI selama periode pengamatan (tahun 2008-2011)
3. Perusahaan sampel memiliki semua data yang diperlukan secara lengkap dari variabel yang diteliti
Dari pembatasan data (sampel yang digunakan), diperoleh hasil sebanyak 20 data perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini dengan populasi sebanyak 34 emiten. Sesuai penarikan sampel yang telah dilakukan terdapat 20 data perusahaan perbankan (20 x 4 = 80 sampel). Daftar perusahaan yang dijadikan populasi dan sampel dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 3.1
Daftar Perusahaan perbankan yang Menjadi Sampel
NO. Nama Perusahaan
Kriteria Penentuan
Sampel Sampel
1 2 3
1. Bank Agroniaga Tbk Sampel 1
2. Bank Artha Graha Internasional Tbk
Sampel 2
3. Bank Bukopin Tbk Sampel 3
4. Bank Bumi Arta Tbk X
5. Bank Bumiputera Indonesia Tbk X
6. Bank Capital Indonesia Tbk Sampel 4
7. Bank Central Asia Tbk Sampel 5
8. Bank Century Tbk X
9. Bank CIMB Niaga Tbk Sampel 6
10. Bank Danamon Indonesia Tbk Sampel 7
11. Bank Ekonomi Raharja Tbk Sampel 8
12. Bank Eksekutif Internasional Tbk X
13. Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk
Sampel 9
14. Bank Int' l Indonesia Tbk X
16. Bank Mandiri (Persero) Tbk Sampel 10 17. Bank Mayapada Internasional Tbk Sampel 11
18. Bank MEGA Tbk Sampel 12
19. Bank Negara Indonesia Tbk Sampel 13
20. Bank OCBC NISP Tbk Sampel 14
21. Bank Nusantara Parahyangan Tbk Sampel 15
22. Bank Pan Indonesia Tbk Sampel 16
23. Bank Permata Tbk Sampel 17
24. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Sampel 18
25. Bank Swadesi Tbk X
26. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk
Sampel 19
27. Bank Victoria International Tbk Sampel 20 28. Bank Windu Kentjana
International Tbk
X
29. Bank Mutiara Tbk X
30. Bank Tabungan Negara Tbk X
31. Bank Pundi Indonesia Tbk X
32. Bank Jawa Barat dan Banten Tbk X
33. Bank Sinamas Tbk X
Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, diperoleh 20 perusahaan perbankan yang memenuhi kriteria dan dijadikan sampel penelitian ini dan diamati selama periode 2008-2011.
3.6 Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari laporan Bursa Efek Indonesia. Dalam penelitian ini sumber data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dengan cara dokumentasi, dimana data yang diperoleh tidak diperoleh secara langsung dari objek yang diteliti. Penelitian ini data-data
diperoleh melalui websit
berhubungan dengan masalah yang diteliti.
3.7 Metode Analisis Data
Peneliti menggunakan analisis regresi berganda dan menggunakan alat bantu SPSS 17 (Stastical Product and Services Solution). Analisis regresi dapat digunakan untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai hubungan antara variabel dependen dan independen secara menyeluruh baik secara simultan atau secara parsial. Menurut Ghozali, (2001), “Sebelum melakukan uji regresi linier berganda, metode ini mensyaratkan untuk melakukan uji asumsi klasik guna mendapatkan hasil terbaik”. Dalam penggunaan regresi berganda, pengujian hipotesis harus menghindari adanya kemungkinan penyimpangan asumsi-asumsi klasik.
Tujuan pemenuhan asumsi klasik ini dimaksud agar variabel independen sebagai estimator atas variabel dependen tidak mengalami bias.
3.7.1 Pengujian asumsi klasik
Uji asumsi klasik digunakan untuk mengetahui apakah hasil analisis regresi linier berganda yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini terbebas dari penyimpangan asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, multikolinieritas, heteroskedastisitas dan autokorelasi. Adapun masing-masing pengujian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
3.7.1.1 Uji Normalitas
Menurut Ghozali (2006), “Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linier variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak”. Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Alat analisis yang digunakan dalam uji ini adalah uji Kolmogorov – Smimov satu arah atau analisis grafis.
Dasar pengambilan keputusan normal atau tidaknya data yang diolah adalah sebagai berikut:
a. Jika nilai Z hitung > Z tabel, maka distribusi sampel normal.
b. Jika nilai Z hitung < Z tabel, maka distribusi sampel tidak normal.
3.7.1.2 Uji Multikolinieritas
Menurut Ghozali (2006), “Uji Multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen)”. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebas. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinieritas dalam model regresi ini adalah dengan menganalisis matrik korelasi variabel-variabel bebas dan apabila korelasinya signifikan antar variabel bebas tersebut maka terjadi multikolinieritas.
Seperti yang dijelaskan oleh Ghozali (2011) sebagai berikut :
a. Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel independen banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen.
b. Menganalisis matriks korelasi variabel-variabel independen. Jika antar variabel independen terjadi korelasi yang cukup tinggi (umumnya > 0,90), maka indikasi terjadi multikolinearitas. Tidak adanya nilai korelasi yang tinggi antar variabel independen tidak berarti bebas dan multikolinieritas. Multikolinieritas dapat terjadi karena kombinasi dua atau lebih variabel independen.
c. Multikolinieritas dapat dilihat dari nilai tolerance dan lawannya yaitu variance inflactor factor (VIF). Kedua variabel ini menunjukkan setiap variabel independen
manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan VIF yang tinggi. Batasan umum yang digunakan untuk mengukur multikolinieritas adalah tolerance < 0,1 dan nilai VIF > 10 maka terjadi multikolinieritas.
3.7.1.3 Uji Heteroskedastisitas
Menurut Ghozali (2006), ”Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain”. Jika varians dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedositas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Dan jika varians berbeda maka disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedasitas .
Menurut Ghozali (2006), “ Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y’ adalah Y yang diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y prediksi-Y sesungguhnya) yang telah di studentized”. Selain dengan menggunakan analisis grafik, pengujian heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan Uji Glejser. Uji ini mengusulkan
untuk meregresi nilai absolut residual terhadap variabel independen. Jika variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka ada indikasi terjadi heteroskedastisitas. Menurut Ghozali (2006), “Jika probabilitas signifikansinya di atas tingkat kepercayaan 5%, maka dapat disimpulkan model regresi tidak mengandung heteroskedastisitas”.
3.7.1.4 Uji Autokorelasi
Menurut Ghozali (2006), ”Uji Autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah dalam suatu model regresi linier terdapat korelasi antara pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya)”. Alat analisis yang digunakan adalah uji Durbin – Watson Statistic. Untuk mengetahui terjadi atau tidak autokorelasi dilakukan dengan membandingkan nilai statistik hitung Durbin Watson pada perhitungan regresi dengan statistik tabel Durbin Watson pada tabel.
Dasar pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi adalah sebagai berikut :
a. Bila nilai DW terletak diantara batas atas atau upper bound (du) dan (4–du) maka koefisien autokorelasi = 0, berari tidak ada autokorelasi.
b. Bila nilai DW lebih rendah daripada batas bawah atau
lower bound (dl) maka koefisien autokorelasi > 0, berarti ada autokorelasi positif.
c. Bila nilai DW lebih besar dari (4-dl) maka koefisien autokorelasi < 0, berarti ada autokorelasi negatif.
d. Bila nilai DW terletak antara du dan dl atau DW terletak antara (4-du) dan (4-dl), maka hasilnya tidak dapat disimpulkan.
3.7.2 Analisis Regresi Berganda
Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda. Analisis regresi berganda adalah teknik statistik melalui koefisien parameter untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian terhadap hipotesis baik secara parsial maupun simultan dilakukan setelah model regresi yang digunakan bebas dari pelanggaran asumsi klasik. Tujuannya adalah agar hasil penelitian dapat diinterpretasikan secara tepat dan efisien. Persamaan regresi tersebut adalah sebagai berikut :
Keterangan : Y = Return saham
α = konstanta e = error
� = koefisien regresi
�1= Earning Per Share (EPS)
�2= Price Earnings Ratio (PER)
�3= Return On Asset (ROA)
�4= Net Profit Margin (NPM)
�5 = Debt to Equity Ratio (DER)
3.7.3 Pengujian Hipotesis
Menurut Ghozali (2006), “ketepatan fungsi regresi dalam mengestimasi nilai aktual dapat diukur dari Goodness of Fit-nya”. Secara statistik dapat diukur dari nilai statistik t, nilai statistik f dan koefisien determinasinya. Suatu perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai uji yang dikehendaki statistiknya berada dalam daerah kritis (daerah dimana Ho ditolak). Ho yang menyatakan bahwa variabel independen tidak berpengaruh secara parsial maupun simultan terhadap variabel dependen. Sebaliknya disebut tidak signifikan apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah dimana Ho diterima.
3.7.3.1 Uji statistik t
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui secara parsial variabel bebas berpengaruh secara signifikan atau tidak terhadap variabel terikat. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan uji dua arah dengan hipotesis sebagai berikut:
1. Ho = b1 = 0, artinya tidak ada pengaruh secara signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat.
2. Ho = b1 ≠ 0, artinya ada pengaruh secara signifikan dari
variabel bebas terhadap variabel terikat.
Kriteria pengujian yang digunakan sebagai berikut : 1. Ho diterima dan Ha ditolak apabila t hitung < t tabel.
Artinya variabel bebas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat.
2. Ho diterima dan Ha ditolak apabila t hitung > t tabel. Artinya variabel bebas berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat.
3.7.3.2 Uji Statistik F
Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara simultan terhadap variabel terikat.. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan uji dua arah dengan hipotesis sebagai berikut :
1. Ho : b1 = b2 = b3 = b4 = b5 = b6 = b7 = 0, artinya tidak ada pengaruh secara signifikan dari variabel bebas secara bersama-sama.
2. Ho : b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ b4 ≠ b5 ≠ b6 ≠ b7 ≠ 0, artinya ada
pengaruh secara signifikan dari variabel bebas secara bersama-sama.
Kriteria pengujian yang digunakan sebagai berikut :
1. Ho diterima dan Ha ditolak apabila F hitung < F tabel. Artinya variabel bebas secara bersama-sama tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat.
2. Ho diterima dan Ha ditolak apabila F hitung > F tabel. Artinya variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat.
3.7.3.3 Koefisien Determinasi
Menurut Ghozali (2006), “Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen, Besarnya koefisien determinasi ini adalah 0 sampai dengan 1”. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel-variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Penelitian
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis stastik yang menggunakan persamaan regresi linear berganda. Analisis data dimulai dengan mengolah data berupa laporan keuangan perusahaan
perbankan yang diperoleh dari
asumsi klasik.
Penelitian ini menggunakan perusahaan yang bergerak pada sektor perbankan. Adapun perusahaan yang dipilih sebagai sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang memiliki laporan keuangan dan data yang lengkap yang diperlukan dalam penelitian ini selama tahun 2008 – 2011.
Kriteria penentuan sampel dalam penelitian ini adalah :
4. Perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2008, 2009, 2010, 2011
5. Perusahaan yang tidak delisting dari BEI selama periode pengamatan (tahun 2008-2011)
6. Perusahaan sampel memiliki semua data yang diperlukan secara lengkap dari variabel yang diteliti
Setelah melakukan pengelolaan terhadap data laporan keuangan perusahaan perbankan pada periode 2008-2012 yang terkumpul di dapat data untuk setiap variabel sebagai berikut:
4.1 Earning Per Share (EPS)
NO. Nama Perusahaan
Tahun
2008 2009 2010 2011
1. Bank Agroniaga Tbk 0,29 1 4 12
2. Bank Artha Graha Internasional Tbk 4 5 10 12
3. Bank Bukopin Tbk 65 63 80 94
4. Bank Capital Indonesia Tbk 8 5 5 14
5. Bank Central Asia Tbk 234 276 344 437
6. Bank CIMB Niaga Tbk 28 66 106 129
7. Bank Danamon Indonesia Tbk 303 183 343 352
8. Bank Ekonomi Raharja Tbk 98 124 111 71
9. Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk 25 24 26 43
10. Bank Mandiri (Persero) Tbk 254 341 439 535
11. Bank Mayapada Internasional Tbk 16 6 25 58
12. Bank MEGA Tbk 309 169 299 277
13. Bank Negara Indonesia Tbk 80 163 220 321
14. Bank OCBC NISP Tbk 55 75 55 107
15. Bank Nusantara Parahyangan Tbk 95 93 114 164
16. Bank Pan Indonesia Tbk 35 38 52 93
17. Bank Permata Tbk 58 62 110 131
18. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 483 592 930 620 19. Bank Tabungan Pensiunan Nasional 401 75 739 247
Tbk
4.2 Price earnings Ratio NO. Nama Perusahaan
Tahun
2008 2009 2010 2011
1. Bank Agroniaga Tbk 807,37 219,18 41,09 9,46
2. Bank Artha Graha Internasional Tbk 13,44 15,57 10,97 8,24
3. Bank Bukopin Tbk 3,10 5,93 8,12 6,17
4. Bank Capital Indonesia Tbk 12,61 19,71 19,87 11,12
5. Bank Central Asia Tbk 13,87 17,57 18,61 18,31
6. Bank CIMB Niaga Tbk 17,47 10,84 17,94 9,45
7. Bank Danamon Indonesia Tbk 10,22 24,91 16,64 11,65 8. Bank Ekonomi Raharja Tbk 22,69 21,74 22,55 28,74 9. Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk 1,99 11,78 11,21 5,13 10. Bank Mandiri (Persero) Tbk 7,97 13,77 14,81 12,62 11. Bank Mayapada Internasional Tbk 105,04 104,69 53,44 24,54
12. Bank MEGA Tbk 11,34 13,61 10,61 12,63
13. Bank Negara Indonesia Tbk 8,50 12,17 17,62 11,83
14. Bank OCBC NISP Tbk 12,84 13,34 30,80 10,10
15. Bank Nusantara Parahyangan Tbk 15,96 14,00 10,79 7,95
16. Bank Pan Indonesia Tbk 16,78 19,99 21,82 8,41
17. Bank Permata Tbk 8,39 12,90 16,22 10,34
18. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 9,47 12,91 11,29 10,89 19. Bank Tabungan Pensiunan Nasional 2,99 8,76 17,87 13,75
Tbk
4.3 Return On Asset (ROA) (%) dalam persen
NO. Nama Perusahaan
Tahun
2008 2009 2010 2011
1. Bank Agroniaga Tbk 0,04 0,07 0,46 1,29
2. Bank Artha Graha Internasional Tbk 0,17 0,27 0,49 0,52
3. Bank Bukopin Tbk 1,13 0,97 1,04 1,31
4. Bank Capital Indonesia Tbk 0,70 0,64 0,52 1,38
5. Bank Central Asia Tbk 2,35 2,41 2,61 2,82
6. Bank CIMB Niaga Tbk 0,66 1,46 1,77 1,94
7. Bank Danamon Indonesia Tbk 1,43 1,55 2,44 2,38
8. Bank Ekonomi Raharja Tbk 1,44 1,54 1,38 0,85
9. Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk 1,92 1,50 1,85 1,95 10. Bank Mandiri (Persero) Tbk 1,48 1,81 2,05 2,26 11. Bank Mayapada Internasional Tbk 0,74 0,54 0,76 1,39
12. Bank MEGA Tbk 1,44 1,35 1,85 1,63
13. Bank Negara Indonesia Tbk 0,61 1,09 1,65 2,00
14. Bank OCBC NISP Tbk 0,93 1,18 0,72 1,26
15. Bank Nusantara Parahyangan Tbk 0,81 0,74 0,89 1,03
16. Bank Pan Indonesia Tbk 1,09 1,18 1,15 1,79
17. Bank Permata Tbk 0,84 0,86 1,35 1,17
18. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 2,42 2,31 2,84 3,26 19. Bank Tabungan Pensiunan Nasional 2,77 1,89 2,42 3,00
Tbk
4.4 Net Profit Margin (NPM) (%) dalam persen NO. Nama Perusahaan
Tahun
2008 2009 2010 2011
1. Bank Agroniaga Tbk 0,27 0,52 3,76 12,61
2. Bank Artha Graha Internasional Tbk 1,74 2,51 5,33 5,80
3. Bank Bukopin Tbk 10,02 8,78 11,33 14,22
4. Bank Capital Indonesia Tbk 7,06 9,09 6,55 15,29
5. Bank Central Asia Tbk 24,92 249,43 30,26 33,89
6. Bank CIMB Niaga Tbk 5,90 12,22 18,44 19,02
7. Bank Danamon Indonesia Tbk 8,76 8,26 16,01 15,65 8. Bank Ekonomi Raharja Tbk 16,01 18,31 18,02 16,54 9. Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk 12,22 10,11 12,90 16,05 10. Bank Mandiri (Persero) Tbk 16,61 18,79 21,48 24,32