BAB III METODE PENELITIAN
3.7 Metode Analisis
Di dalam penelitian ini, untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan dan diseleksi digunakan teknik analisis data menurut Miles dan Hubermen dalam Suyanto (2008), diterapkan melalui 3 alur sebagai berikut:
a. Reduksi Data Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan pemerhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data
kasar yang diperoleh dari catatan lapangan. Cara mereduksinya dengan meringkas, mengkode, menelusur tema, membuat gugus-gugus, dan menulis memo sehingga kesimpulan akhir dapat dilakukan.
b. Penyajian Data Penyajian data dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam bentuk yang padu dan mudah diraih, misalnya dituangkan dalam berbagai jenis matriks, grafik, jaringan, dan bagan. Kesemuanya itu dirancang guna merakit informasi secara teratur supaya mudah dilihat dan dimengerti dalam bentuk yang kompak.
c. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi Penarikan kesimpulan adalah kegiatan mencari arti, mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin alur sebab akibat, dan proposisi. Kesimpulan juga diverifikasi, yaitu pemikiran kembali yang melintas dalam pikiran penganalis selama penyimpulan, tinjauan ulang pada catatan lapangan atau meminta respon atau komentar kepada responden yang telah dijaring datanya untuk membaca kesimpulan yang telah disimpulkan peneliti, kekokohannya, dan kecocokannya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum
4.1.1 Kota Jayapura
Gambaran umum mengenai Kota Jayapura dijelaskan melalui aspek geografi dan demografi. Aspek geografi mengambarkan mengenai lokasi dan wilayah. Sedangkan gambaran kondisi demografi, antara lain mencakup komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan dan masyarakat tertentu pada Kota Jayapura.
a. Karateristik lokasi dan wilayah
1. Luas dan batas wilayah administrasi
Kota Jayapura mempunyai luas 940 Km2 (0.23 % dari luas daratan Provinsi Papua), terletak di tepian Teluk Humbolt atau Yos Sudarso pada ketinggian 0 - <700 m di atas permukaan laut (dpl). Kota Jayapura secara administrasi berbatasan dengan: Sebelah Utara : Lautan Pasifik
Sebelah Selatan : Kabupaten Keerom Sebelah Timur : Negara Papua New Guinea
Sebelah Barat : Distrik Depapre Kabupaten Jayapura 2. Letak dan kondisi geografis
Kota Jayapura berada pada posisi equatorial antara 130o-141o
Bujur Timur dan 1o27’ - 3o49’ Lintang Selatan. Dengan kondisi atau kawasan meliputi, daerah pesisir, daratan rendah, perbukitan dan daerah pegunungan.
3. Topografi
Kota Jayapura memiliki topografi yang relatif bervariasi, di mana terdapat sejumlah dataran rendah dan pantai, juga terdapat perbukitan dan gununggunung, di mana terdapat 40 persen di antaranya tidak layak huni karena merupakan daerah perbukitan yang terjal dengan tingkat kemiringan 40 derajat, berawa-rawa dengan statistik konservasi (hutan lindung). Kondisi lahan di Kota Jayapura, dibedakan menjadi 3 bagian yaitu daerah limitasi, daerah kendala dan daerah Potensi. Daerah Limitasi adalah daerah yang sama sekali tidak dapat dikembangkan atau diolah karena keterbatasan fisik alami, daerah ini memiliki kriteria: kemiringan lereng > 40 persen, keasaman
tanah pH < 5 atau pH > 7, ketinggian tempat >1500 m dpl, curah hujan >5000 mm/tahun, daerah ini tergenang terus. Daerah Kendala adalah daerah yang sulit dikembangkan karena batasan fisik alami namun mengembangkannya diperlukan biaya besar dan teknologi yang maju, dengan kriteria: Kemiringan lereng 15 – 40 persen, keasaman tanah pH 5,1 - 7, daerah ini tergenang secara periodik. Sementara itu, daerah potensi adalah daerah yang dapat dikembangkan tanpa ada hambatan kondisi fisik alami, dengan kriteria: Kemiringan lereng <15 persen, keasaman tanah pH netral, curah hujan 2.000-2.500 mm/tahun, daerah ini tidak tergenang.
b. Demografi
Berdasarkan sensus penduduk Tahun 2010 penduduk Kota Jayapura berjumlah menjadi 256.705 jiwa. Laju pertumbuhan selama 5 tahun terakhir sebesar 2,44% per tahun, dengan tingkat
pertumbuhan tertinggi pada tahun 2010 yaitu 10,71%. Bila dihitung selama 10 tahun terakhir, ditemukan angka yang lebih tinggi, yakni 4,16%. Pertumbuhan penduduk tertinggi di Distrik Muara Tami, yakni 5,1% dan terendah di Jayapura Selatan hanya 1,2%.
Tingginya laju pertumbuhan itu lebih disebabkan oleh meningkatnya arus migrasi masuk. Adapun tingkat kepadatan penduduk Kota Jayapura pada tahun 2010 adalah 278 jiwa per km2, dengan tingkat kepadatan terendah di Distrik Muara Tami, yaitu 18 jiwa per km2, sedangkan tingkat kepadatan tertinggi di distrik Jayapura Selatan, yaitu 1,542 jiwa per km2. Menurut data hasil sensus tahun 2010, sex ratio penduduk Kota Jayapura sebesar 114, yang berarti bahwa penduduk laki-laki 14 % lebih banyak dibanding penduduk perempuan.Adapun ratarata banyaknya rumah tangga yang menempati satu rumah tangga (2010) adalah 4 orang. Pendataan demografi berbasis kampung tahun 2008 yang tujuan untuk mengetahui penduduk Papua secara keseluruhan sekaligus jumlah penduduk yang etnis papua dan non papua dengan menggunakan beberapa indikator yang terukur dan akurat, dari hasil pendataan tersebut didapatkan hasil bahwa penduduk Papua secara keseluruhan berjumlah 106.568 jiwa, atau sekitar 43% dan non Papua 134.992 jiwa atau 57 % dari jumlah penduduk Kota Jayapura 236.456 jiwa dengan laju pertumbuhan 2,44%. Untuk data lebih detail ditampilkan sebagai berikut.
4.1.2 Pemerintah Kota Jayapura
Tabel 1. Pertumbuhan, Kepadatan Penduduk dan Rerata Rumah Tangga di Kota Jayapura per Distrik Tahun 2008-2010
Wilayah administratif Kota Jayapura terbagi dalam 5 (lima) distrik dengan rincian sebanyak 14 kampung dan 25 kelurahan. Distrik Abepura
memiliki jumlah kampung/kelurahan terbanyak (11 kampung/kelurahan)
dan Distrik Heram memilliki jumlah kampung/kelurahan paling sedikit (5 kampung/kelurahan).
Tabel 2. Nama Distrik, Ibukota Distrik dan Nama Kelurahan/Kampung Di Kota Jayapura, 2016
Distrik Ibu Kota
Distrik Kelurahan Kampung Abepura Kotabaru 8 3 Jayapura Selatan Entrop 5 2
Jayapura Utara Tanjung Ria 7 1
Muara Tami Skouw Mabo 2 6
Heram Waena 3 2
Jumlah/Total 25 14
Sumber: BAPPEDA Kota Jayapura (2016)
Kemudian Pemerintah Kota Jayapura memiliki visi dan misi sebagai berikut.
a. Visi
“Terwujudnya Kota Jayapura yang Beriman, Bersatu, Sejahtera, Mandiri, dan Modern berbasis kearifan lokal”.
b. Misi
1) Meningkatkan kualitas hidup umat beragama
2) Melanjutkan Penataan kepemerintahan yang baik dengan dukungan kapasitas birokrasi yang profesional
3) Membangun kota yang bersih, indah, aman, dan nyaman 4) Peningkatan kualitas sumberdaya masyarakat
5) Mengembangkan potensi ekonomi kota sebagai kota jasa dan perdagangan serta utilitas perkotaan berwawasan lingkungan 6) Meningkatkan kualitas hukum dan demokrasi
7) Memperkuat hak-hak adat dan memberdayakan masyarakat kampung
Selanjutnya pemerintahan yang baik tentunya ditunjang oleh kuantitas serta kualitas pegawai yang terdapat didalamnya. Pada tahun 2016, terdapat sebanyak 5.625 orang pegawai negeri sipil (PNS) otonom di lingkungan Pemerintah Daerah Kota Jayapura. Di tahun 2016, sebagian besar PNS otonom ini merupakan lulusan Strata 1 (S1) yang mencapai hingga 2.721 orang. Jika ditinjau berdasarkan golongannya, separuh PNS otonom di Kota Jayapura berada pada golongan III (47,82 persen).
4.2 Penyajian Data
Berikut adalah data yang diperoleh dari beberapa sumber melalui studi literatur terkait peran pemerintah daerah dalam pemeliharaan kerukunan antar umat beragama di Kota Jayapura.
Di kota-kota yang plural seperti Jayapura yang menjadi lokus pembahasan, persoalan krisis identitas pemicu konflik adalah wajar terjadi di tengah perubahan sosial dan persaingan ekonomi, politik dan budaya yang tinggi.
Dimulai pada Tahun 2013, jumlah tempat peribadatan yang ada di Kota Jayapura didominasi oleh tempat peribadatan Protestan yang tercatat sebanyak 297 unit. Sedangkan jumlah tempat peribadatan Katolik mencapai 58 unit, tempat peribadatan Islam mencapai 125 unit, tempat peribadatan Hindu sebanyak 1 unit dan tempat peribadatan Budha hanya ada 3 unit. Pada tahun 2013, jumlah penduduk Kota Jayapura yang memeluk agama Protestan tercatat 146.843 orang atau 41,76 persen dari total penduduk Kota Jayapura. Sementara pemeluk agama Islam dan Katolik mencapai 33,54 persen dan 23,54 persen, sedangkan sisanya merupakan pemeluk agama Hindu dan Budha. Jumlah jemaah haji yang berasal dari Kota Jayapura pada tahun 2013 mencapai 277 orang.
Sumber : Jayapura dalam angka, 2014.
Tabel 3. Jumlah Penduduk Menurut Distrik dan Agama yang Dianut di Kota Jayapura, 2013
Data pada tabel tersebut diatas kemudian dibandingkan dengan data yang diperoleh pada tahun 2016 sebagai berikut. Pada tahun 2016, jumlah penduduk Kota Jayapura yang memeluk agama Protestan tercatat 283.493 orang atau 45,25 persen dari total penduduk Kota Jayapura. Sementara pemeluk agama Islam dan Katolik mencapai 40,56 persen dan 13,48 persen, sedangkan sisanya merupakan pemeluk agama Hindu dan Budha.
Tahun 2016, jumlah tempat peribadatan paling banyak yang ada di Kota Jayapura adalah tempat peribadatan umat Protestan yang tercatat sebanyak 301 unit. Sedangkan jumlah tempat peribadatan Katolik mencapai 65 unit, tempat peribadatan Islam mencapai 193 unit, tempat peribadatan Hindu sebanyak 5 unit dan tempat peribadatan Budha hanya ada 6 unit. Jumlah jemaah haji yang berasal dari Kota Jayapura pada tahun 2016 mencapai 338 orang.
Tabel 4. Jumlah Penduduk Menurut Distrik dan Agama yang Dianut di Kota Jayapura, 2016
Distrik Islam Protestan Katolik Hindu Budha Jumlah Muara Tami
Abepura
11.419 7.095 3.763 70 10 22.357
Heram Jayapura Selatan Jayapura Utara 31.700 52.671 10.235 486 242 95.324 72.760 68.457 23.010 467 824 165.518 61.020 73.308 25.216 601 805 160.950 Jumlah 201 6 254.080 283.193 84.474 2.100 2.371 626.518 201 5 254.100 283.493 84.474 2.097 2.370 626.534 201 4 120.004 145.412 84.220 1.912 2.232 357.780 Sumber : Jayapura dalam angka, 2017.
Berdasar dua pemaparan tabel diatas dalam jangka waktu lima tahun jumlah penganut agama Islam, Protestan, Katolik, Hundu, dan Budha terus mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Kota Jayapura bersama masyarakat telah mampu memelihara kerukunan antar umat beragama. Walau pernah terjadi angka konflik identitas tinggi yang salah satunya karena agama pada tahun 2014. Berikut dipaparkan peran pemerintah Kota Jayapura dalam memelihara kerukunan antar umat beragama.
1. Fungsi Regulator
Otonomi daerah merupakan salah satu dasar kebijakan bahwa pemerintah daerah Provinsi, Kabupaten/ Kota dapat menjalankan kebijakannya masing-masing didaerah tersebut. Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah provinsi, Kabupaten/ Kota harus sesuai dengan peraturan yang ada. Seperti dalam pengelolaan keberagaman umat beragama pemerintah provinsi dan pemerintah Kabupaten/ Kota diberikan mandat sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 09 dan Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerahdalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat bahwa “pemeliharaan kerukunan umat beragama
menjaditanggung jawab bersama
umat beragama,pemerintahan daerah dan Pemerintah”. Ditingkat Provinsi yang bertanggungjawab dalam menjaga kerukunan umat beragama yakni Gubernur, sedangkan ditingkat Kabupaten/ Kota yang mempunyai peranan dan tanggungjawab yakni Pemerintah Kabupaten/ Kota yang diwakili oleh Bupati/ Walikota.
Ditingkat Kabupaten/ Kota seperti yang terdapat dipasal 6 ayat (1) Peraturan Bersama Menteri Agama dan Dalam Negeri Nomor 9 dan 8 tahun 2006 mempunyai tugas dan kewajiban sebagai berikut:
a. Memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama di kabupaten/kota; b. Mengoordinasikan kegiatan instansi vertikal di kabupaten/kota dalam
pemeliharaan kerukunan umat beragama;
c. Menumbuhkembangkan keharmonisan, saling pengertian, saling menghormati, dan saling percaya di antara umat beragama;
d. Membina dan mengoordinasikan camat, lurah, atau kepala desa dalam penyelenggaraan kerukunan umat beragama;
e. Pemerintahan daerah di bidang ketenteraman dan ketertiban masyarakat dalam kehidupan beragama;
f. Menerbitkan IMB rumah ibadat. Tugas dan Kewajiban baik itu ditingkat Provinsi, Kabupaten/ Kota harus terus dilaksanakan agar toleransi yang ada tetap terjaga sehingga kerukunan dalam masyarakat.
Sebagai bentuk peran pemerintah Kota Jayapura dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan umat beragama, Pemerintah Kota Jayapura melalui Keputusan Walikota Jayapura Nomor : 28 Tahun 2007 tentang Pembentukan Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Jayapura. Masyarakat telah dengan penuh kesadaran membangun toleransi dan kerukunan kehidupan beragama, baik dalam kerangka hubungan secara internal sesuai keyakinan masing-masing, maupun dalam hubungan yang bersifat lintas agama, serta dalam konteks hubungannya dengan pemerintah.Wujud konkritnya dapat dilihat dari perilaku positif yang ditunjukkan oleh masyarakat pada perayaan hari-hari raya besar masing-masing, dengan saling menghormati dan bahkan saling berkunjung dan bersilahturami antar sesama. 2) Fungsi Dinamisator
Dengan menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam memelihara kerukunan umat beragama pemerintah Kota Jayapura melaksanakan kegiatan keagamaan yang berjalan beriringan. Melalui kegiatan tersebut masyarkat diupayakan menghargai dan menghormati agama satu sama lain.
Diketahui bahwa dalam masyarakat khususnya Kota Jayapura hubungan/interaksi sosial pada masyarakat sederhana tidak terlepas dari sistem kekerabatan yang dianutnya. Hubungan-hubungan yang terjadi dalam
kelompok masyarakat asli pada awalnya ketat diatur dalam struktur sosial yang dianutnya. Adat istiadat yang dianut mengatur hubungan sosial mereka, terutama (a) hubungan antar anggota dalam satu marga/keret (klen), (b) hubungan antar keret/marga (klen) dengan keret (klen), (c) hubungan antara susu-suku asli di wilayah Jayapura, dan (d) hubungan antara penduduk asli dengan penduduk luar Kota Jayapura (orang luar Papua dan orang Papua bukan asli Kota Jayapura). Hubungan-hubungan sosialnya terlihat dalam aktivitas hidup mereka setiap hari, termasuk kegiatan upacara adat maupun kegiatan
sosial lainnya. Kondisi sosial sekarang yang masyarakatnya heterogen berpengaruh pada struktur yang dulunya ketat menjadi longgar.
Hubungan sosial yang dulunya terbatas pada kegiatan adat dalam suku dan klen asli mengalami perubahan dimana kondisi sosial saat ini tercipta hubungan-hubungan sosial baru karena kepentingan ekonomi, politik, agama dan sosial-budaya lainnya. Keterbukaan dan sifat bersahabat penduduk asli terhadap orang lain yang bukan orang asli Kota Jayapura terlihat dalam pergaulan mereka di kantor pemerintah/swasta, hari-hari besar keagamaan seperti Hari Natal dan Hari Lebaran mereka saling bersalaman dari rumah ke rumah. Selain itu, kerja sama dalam kegiatan-kegiatan pembangunan di kampung/kelurahan atau distrik.
Salah satu contoh kecil yang dapat dilihat, yakni pelaksanaan kegiatan keagamaan yang berjalan beriringan, seperti Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawai) dan (Musabaqah Tilawatil Quran) MTQ di Kota Jayapura yang berlangsung secara bersamaan (lintaspapua.com, 2017).
Hal tersebut menjadi salah satu contoh kecil yang sudah diwujudkan dalam toleransi dan kerukunan umat beragama di Kota Jayapura. Dengan berhasil menjaga toleransi umat beragama dapat memotivasi peningkatan kerukunan antar umat beragama di Kota Jayapura.
3) Fungsi Fasilitator
Pemerintah Kota Jayapura sebagai fasilitator memiliki pengaruh besar terhadap kerukunan umat beragama dimasyarakat. Kehidupan umat beragama di Kota Jayapura menunjukkan derajat kualitasnya yang semakin baik guna mendukung terciptaya tanah damai.Seperti diketahui bahwa dilihat dari anutan agama masing-masing, maka umat beragama sesuai dengan
keyakinannya
masing-masing mengalami pertambahan dari tahun ke tahun yang menggembirakan. Pertambahan tersebut bergerak simetris dengan pertumbuhan penduduk, baik karena pengaruh migrasi maupun kelahiran.Tampak bahwa hingga tahun 2008, terjadi peningkatan jumlah penganut agama dengan persentase pertambahan tertinggi (75.75% penganut agama Budha). Tetapi jika dilihat dari angka nominal, maka pertambahan tertinggi adalah penganut agama protestan. Peningkatan tersebut diikuti dengan bertambahnya sarana peribadatan dengan persentase tertinggi pada gereja protestan, disertai dengan makin banyaknya rohaniawan yang dibina. Secara kualitatif analisis tentang kualitas kehidupan beragama dalam menciptakan Kota Jayapura sebagai tanah damai dan meningkatkan kerukunan hidup beragama dapat dibuktikan secara konkrit.
Berbagai kegiatan yang dilakukan telah menyentuh kebutuhan masyarakat penganut agama masingmasing. Pembinaan, prasarana dan sarana gedung Gereja, Masjid, Kuil, Vihara serta kelengkapan sarana pendukung keagamaan,
kegiatan keagamaan, dan kehidupan keagamaan berjalan secara baik selama lima tahun terakhir ini. Dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan umat beragama, Pemerintah Kota Jayapura memfasilitasi berbagai program dan kegiatan penting, termasuk di antaranya adalah menyelenggarakan kegiatan pertemuan tokoh-tokoh agama guna membangun kehidupan harmonis antar umat beragama.
4.3 Anlisis Data
1) Fungsi Regulator
Sebagai regulator pemerintah menjalankan perannya dalam memberikan ijin Mendirikan Bangunan Rumah Ibadah. Ketentuan tersebut tertuang sesuai dengan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006. Proses penerbitan surat Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) rumah ibadah cukup panjang. Penerbitan IMB rumah ibadah dilakukan setelah mendapat rekomendasi dari FKUB. Pada tahun 2015-2016 FKUB Kota
Jayapura dalam memberikan rekomendasi yakni 6 surat. Sedangkan pemberian ijin mendirikan bangunan rumah ibadah yang diterbitkan oleh pemerintah Kota Jayapura tahun 2013- 2016 berjumlah 9 IMB rumah ibadah.
Kemudian pemerintah Kota Jayapura telah membuat regulasi yang tertuang pada Keputusan Walikota Jayapura Nomor : 28 Tahun 2007 tentang Pembentukan Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Jayapura. Perihal fungsi pemerintah sebagai regulator, pemerintah Kota Jayapura memiliki kekurangan perihal anggaran.
Minimnya distribusi anggaran untuk Forum Kerukunan Umat Beragama merupakan masalah kompleks dalam rangka menciptakan suasana kerukunan di Kota Jayapura. Anggaran pemerintah daerah masih difokuskan program lain yang merupakan program-program prioritas kebijakan pemerintah daerah Kota. Anggaran FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) yang minim memang diakui oleh Wakil Ketua Forum kerukunan Umat Beragama, distribusi anggaran dari tahun ketahun masih terbatas. Program-program yang dirangcang Forum Kerukunan Umat Beragama saat ini tergantung dari distribusi anggaran pemerintah.
2) Fungsi Dinamisator
Pemerintah sebagai dinamisator mengadakan koordinasi antar lapisan masyarakat sebagai upaya menmelihara kerukunan umat beragama. Koordinasi Pemerintah Kota dengan instansi pemerintah dan masyarakat merupakan suatu keharusan. Terciptanya tujuan pemerintah dalam tata kelola pemerintahan tentunya merupakan hasil dari koordinasi yang baik antar lembaga/ mitra pemerintahan. Berikut ini peranan pemerintah sebagai koordinator dalam memelihara kerukunan umat beragama.
a) Memberikan arahan pada rapat Forum Kerukunan Umat Beragama Melalui berbagai forum Kepala Kantor Kesatuan Bangsa bahkan Walikota Jayapura selalu memberikan arahan terkait kebijakan pemerintah daerah. Hal itu terlihat dalam Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Daerah, kesatuan bangsa Kota Jayapura bahwa Walikota Jayapur bersama Kepala Kantor Kesatuan Bangsa memberikan arahan terkait kebijakan pemerintah dalam acara seminar, pemantapan
rasa
cinta tanah air di Balai Kota Jayapura dan Outbound bersama tokoh lintas agama. Materi yang disampaikan berkenaan dengan potensi konflik yang berbasis wilayah.
b) Pengkoordinasikan Kegiatan Instansi Vertikal dan menumbuhkembangkan Keharmonisan diantara Umat beragama. Sebagai upaya menjaga kondisi Jayapura yang tetap aman dan damai. Pemerintah Daerah melakukan koordinasi dikegiatan dengan instansi vertikal sebagai langkah efektif guna mencegah terjadi konflik sosial keagamaan dimasyarakat. Koordinasi dilakukan Pemerintah Kota dengan instansi terkait seperti dengan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Jayapura dan Kepolisian Resort Kota Jayapura. Rapat koordinasi merupakan program tahunan dari kantor kesatuan bangsa kota Jayapura dengan Polres Kota Jayapura dan Kementerian Agama Kota Jayapura dilakukan 6 kali pada tahun 2016.
Namun pemerintah Kota Jayapura menaydari pula kurangnya tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga stabilitas keamanan dan meminimalisir terjadinya konflik sosial yang ditimbulkan karena kesenjangan sosial dan isu dimasyarakat. Pemerintah Kota Jayapura menilai bahwa tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga stabilitas keamanan masih kurang. hal itu didapat diketahui bahwa masih banyak masyarakat yang mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berkembang dimasyarakat. Isu-isu tersebut membawa dampak negatif terhadap kehidupan sosial.
3) Fungsi Fasilitator
a) Mengesahkan Kepengurusan Forum Kerukunan Umat Beragama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) disahkan dengan keputusan Walikota Nomor : 28 Tahun 2007 tentang Pembentukan Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Jayapura. Sesuai namanya FKUB Kota ini merupakan forum/ organisasi yang dibentuk oleh masyarakat yang bertujuan untuk menciptakan kerukunan umat beragama sesuai dengan PeraturanBersama Menteri Dalam Negeri danMenteri Agama nomor 9 dan nomor 8tahun 2006.
b) Pemerintah Kota Memfasilitasi dan Menyelenggarakan Program Pemantapan Nasionalisme dan Cinta Tanah Air
Selain Kementerian Agama dan mitra kerja pemerintah kota, Kantor
Kesatuan Bangsa Kota Jayapura mempunyai program prioritas dalam merawat kebhinekaan dan mengendalikan konflik sosial yang timbul karena isu SARA. Program tersebut dikemas dengan program pemantapan nasionalisme dan cinta tanah air/ wawasan kebangsaan.Program Pemantapan nasionalisme dancinta tanah air ini diselenggarakan rutin oleh Kantor Kesatuan Bangsa Kota Jayapura di Balai Kota Jayapura dengan capaian program pengendaliankonflik berdasarkan isu SARA yangsemakin baik.
BAB V PENUTUP 4.1 Kesimpulan
Pemerintah Kota Jayapura telah cukup optimal dalam upaya pemeliharaan kerukunan umat beragama di wilayahnya. Peran itu ditunjukkan dengan sejumlah program bernuansa kerukunan, dan upaya harmonisasi masyarakat umat beragama. Dukungan anggaran bagi FKUB memang masih belum optimal dan perlu didorong terus, demikian pula sarana pra sarana pendukung kerja untuk kerukunan. Secara lebih rinci peran pemerintah Kota Jayapura dalam memelihara kerukunan umat beragama dapat diambil kesimpulan antara lain:
Pertama, sebagai fasilitator Pemerintah Kota Yogyakarta memfasilitasi dan memberdayakan Forum Kerukunan Umat Beragama
(FKUB) serta
menyelenggarakan dan memfasilitasi dalam program pemantapan nasionalisme dan cinta tanah air. Kedua, sebagai dinamisator, Pemerintah kota memberikan arahan FKUB dalam rapat koordinasi, dan pengkoordinasian kegiatan instansi vertikal, serta koordinasi dalam penyelesaian konflik. Ketiga, sebagai regulator yakni Pemerintah Kota
menerbitkan peraturan tentang pembentukan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta surat ijin mendirikan bangunan rumah ibadah. 4.2 Saran
Dari kesimpulan di atas dapat diusulkan saran sebagai berikut:
1. Pemerintah Kota Jayapura perlu memberikan dukungan anggaran yang lebih memadai bagi FKUB termasuk sarana pra sarana pendukung kerjanya.
2. Peran Pemerintah Kota Jayapura perlu lebih ditingkatkan. Melalui langkah-langkah proaktif dalam pemeliharaan kerukunan di daerah.
3. Anggaran untuk pemeliharaan kerukunan umat beragama perlu ditingkatkan, sehingga upaya sosialisasi dan pembinaan dapat lebih luas dan merata dilakukan.
4. Para pemuka agama dan pemerintah daerah bersama masyarakat perlu secara bersama-sama dan sinergis meningkatkan upaya-upaya pemeliharaan kerukunan umat beragama.
DAFTAR PUSTAKA
Fulthoni, et. al. 2009. Memahami Diskriminasi: Buku Saku Kebebasan Beragama. Jakarta: ILRC.
Liliweri, Alo. 2005. Prasangka & Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Mayarakat Multikultur. Jayapura: LkiS.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitaif, Kualitatif, dan R&D. Cet. 16. Bandung: Alfabeta.
Suyanto, Bagong, dan Sutinah. 2008. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Ed. 1. Cet. 4 Jakarta: Kencana.