• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELTAN

G. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan ataua menggambarkan objek penelitian melalui data yang diperoleh selanjutnya akan diuraikan secara sistematis dan terperinci kemudian disusun kedalam format yang mudah dipahami.

Kegiatan analisis data penelitian kualitaif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus dan sampai tuntas. Adapun beberapa langkah kegiatan sistematis yaitu sebagai berikut:

1. Pengumpulan data/ informasi, merupakan kegiatan yang digunakan untuk mengumpulkan data yang ada dilapangan,baik dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap narasumber, maupun data yang diperoleh dari hasil pencatatan dokumentasi.

2. Mereduksi data, dalam hal ini peneliti akan melakukan penyederhanaan terhadap informasi/data yang diperoleh dilapangan selama proses penelitian informasi tersebut diteliti oleh peneliti.

3. Penyajian data, bertujuan untuk memudahkan peneliti dalam menarik sutu kesimpulan, hal ini peneliti akan menyatukan kembali data yang telah dikategorisasikan untuk menemukan kategori utama dengan permasalahan penelitian.

4. Penarikan kesimpulan, dalam hal ini data yang telah dihimpun kemudian ditelaah oleh peneliti. Hasilnya akan dibandingkan dengan teori yang telah dikemukakan pada kajian teori. Selanjutnya berdasarkan hasil perbandingan data yang diperoleh di lapangan dengan kajian teori ditarik suatu kesimpulan tentang sistem pengendalian intern belanja modal pada BPKD Bantaeng.

28 BAB IV

HASIL DAN PEBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Sejarah singkat Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Bantaeng

Berdirinya organisasi pemerintah daerah Badan Pengelolah Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Bantaeng, pada mulanya adalah bernama Dinas Pendapatan Daerah (DISPENDA) dengan tugas melakukan pemungutan, penghimpunan serta pengelolaan dibidang pendapatan daerah untuk keperluan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Bantaeng. Pada tahun 2008 berubah menjadi Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) dengan dasar pembentukan/berdirinya yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah dan Peraturan Daerah Kabupaten Bantaeng Nomor 26 Tahun 2007 tentang Pembentukan Organisasi, Kedudukan, Tugas dan Fungsi Dinas-Dinas Daerah Kabupaten Bantaeng sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bantaeng Nomor 2 Tahun 2009.

Badan Pengelola Keuangan Daerah merupakan nomenklatur yang dipilih dan ditetapkan serta digunakan oleh pemerintah Kabupaten Bantaeng. Dasar pertimbangan utama yang digunakan adalah Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang

Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah.

2. Visi dan Misi Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Bantaeng 1. Visi

Adapun visi dari Badasn Pengelolaan Keuangan Daerah kabupaten adalah: Peningkatan kualitas pengelolaan keuangan dan aset daerah yang andal dan peningkatan pendapatan untuk mendukung terciptanya pemerintahan yang baik.

2. Misi

Untuk mewujudkan visi diatas, maka Bada Pengelola Keuangan Daerah merumuskan misi strategis dalam mencapai visi tersebut sebagai berikut:

1. Peningkatan kualitas pengelolaan keuangan dan aset daerah yang tertib, taat, efesien, ekonomi, responsif, transparan dan akuntabel.

2. Pemantapan sisem dan penerapan teknologi informasi dalam pengelolaan keuangan dan aset daerah.

3. Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara signifikan (nyata) dan berkesinambungan.

4. Peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia

30

pengelola keuangan dan aset daerah.

5. Peningkatan pelayanan dan penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan keuangan dan aset daerah.

6. Peningkatan integritas pengelolaan keuangan dan aset desa/kelurahan untuk mendorong tercapainya kepemerintahan yang baik (good governance).

Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bantaeng Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Banteng yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah. BPKD Kabupaten Bantaeng menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :

a. Perumusan kebijakan teknis bidang pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset daerah.

b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum bidang pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset.

c. Pembinaan dan pelaksanaan bidang pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset.

d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

3. Struktur Organisasi dan Job Descripton

a. struktur organisasi Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Bantaeng Sebagai Berikut :

G a m b a r

4.1 Struktur Organisasi BPKD Bantaeng Bantaeng b. Job Describtion

Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bantaeng Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Banteng yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah. BPKD Kabupaten Bantaeng menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :

1. Perumusan kebijakan teknis bidang pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset daerah.

2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum bidang pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset.

3. Pembinaan dan pelaksanaan bidang pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset.

4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

32

Uraian struktur organisasi serta tugas dan fungsi pada BPKD Kabupaten Bantaeng berdasarkan Peraturan Bupati Bantaeng Nomor 69 Tahun 2016 tentang Pembentukan, Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi Dinas-Dinas Daerah Kabupaten Bantaeng adalah sebagai berikut:

1. Kepala Dinas, menyelenggarakan sebagaian tugas pemerintahan dan pembangunan dalam bidang pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset daerah.

2. Sekretaris, memberikan pelayanan teknis dan administrasi kepada semua satuan organisasi dalam lingkungan BPKD, mengelola dan mengkoordinasikan pelaksanaan tugas umum dan kepegawaian, program dan pelaporan, mengkoordinir penyampaian laporan hasil pelaksanaan tugas dinas.

Sekretariat membawahi tiga Sub Bagian dengan tugas pokok yaitu:

a. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian

Menyiapkan bahan penyusunan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan tugas umum dan kepegawaian yang meliputi pengelolaan rumah tangga, surat menyurat, kearsipan, protokol, perjalanan dinas, tatalaksana, perlengkapan dan aset, serta mengevaluasi dan melaporkan tugas dibidang administrasi umum.

b. Sub Bagian Program dan Pelaporan

Menyiapkan bahan penyusunan kebijakan teknis pembinaan dan pelaksanaan tugas program dan

pelaporan yaitu penyusunan program dan kegiatan, jadwal pelaksanaan program dan kegiatan, penyusunan laporan dan tugas pelaporan lainnya, serta mengevaluasi dan melaporkan pelaksanaan tugas bidang administrasi program dan pelaporan.

c. Sub Bagian Keuangan

Menyiapkan bahan penyusunan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan tugas keuangan meliputi penyusunan anggaran, verifikasi, perbendaharaan, pembukuan dan pelaporan anggaran, dan tugas keuangan lainnya dalam rangka pelaksanaan APBD, mengevaluasi dan pelaksanaan kegiatan administrasi keuangan dalam rangka pelaksanaan APBD, serta melaporkan dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan administrasi keuangan.

3. Bidang Pendapatan

Merencanakan pelaksanaan, pembinaan, pengawasan dan perumusan kebijakan teknis pelaksanaan pengelolaan pajak dan retribusi, dana perimbangan serta pendapatan lain-lain yang sah, melakukan koordinasi intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan asli daerah. Bidang Pendapatan membawahi:

a. Sub Bidang Pengolahan Data dan Informasi b. Sub Bidang Penagihan dan Pelaporan c. Sub Bidang Pelayanan

34

4. Bidang Anggaran

Merencanakan operasional rencana kerja sesuai tugas pokok dan fungsinya, merumuskan penjabaran kebijakan teknis di Bidang Anggaran, penyusunan kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD, rancangan APBD dan Perubahan APBD, menyiapkan bahan pengesahan DPA dan DPPA, menyiapkan bahan perumusan kebijakan pengelolaan belanja dan pembiayaan daerah, merumuskan kebijakan hubungan keuangan antara pemerintah daerah dan desa, serta menyiapkan bahan penyusunan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Bidang anggaran membawahi:

a. Sub Bidang Perencanaan Penyusunan APBD b. Sub Bidang Pengendalian dan Evaluasi c. Sub Bidang Administrasi Anggaran 5. Bidang Perbendaharaan

Melaksanakan tugas dibidang perumusan kebijakan teknis pelaksanaan penerimaan, pengeluaran kas daerah, penempatan uang daerah serta pengujian kelengkapan dan keabsahan dokumen pembayaran atas beban anggaran daerah yang meliputi verifikasi atas pertanggungjawab penggunaan dana SKPD, pengelolaan gaji dan tunjangan pegawai serta pendanaan kegiatan-kegiatan SKPD yang tertuang dalam APBD. Bidang Administrasi Keuangan membawahi :

a. Sub Bidang Verfikasi dan Pertanggungjawaban

b. Sub Bidang Pengelolaan Gaji dan Tunjangan c. Sub Bidang Pendanaan Kegiatan SKPD 6. Bidang Aset Daerah

Bidang Aset Daerah mempunyai tugas menginvetarisasi dan merencanakan kebutuhan pengadaan dan/atau pemeliharaan barang milik daerah, mengadministrasikan barang milik daerah serta menyiapkan data mutasi dan penghapusan barang milik daerah. Bidang Aset membawahi : a. Sub Bidang Perencanaan Kebutuhan Barang Milik Daerah b. Sub Bidang Penatausahaan Barang Milik Daerah

c. Sub Bidang Mutasi/Penghapusan Barang Milik Daerah 7. Bidang Akuntansi

Bidang Akuntansi mempunyai tugas melakukan analisis terhadap transaksi-transaksi keuangan maupun non keuangan, penjurnalan, posting dan koreksi atas pencatatan transaksi, menyusun laporan realisasi berkala dalam rangka memenuhi kebutuhan data realisasi pelaksanaan anggaran bulanan, triwulan dan semesteran, dan menyusun nota keuangan dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) dalam rangka penyajian laporan keuangan daerah yang transparan dan akuntabel. Bidang akuntansi membawahi :

a. Sub Bidang Analisa Transaksi

b. Sub Bidang Penyusunan Laporan Berkala c. Sub Bidang Penyusunan LKPD

8. Kelompok Jabatan Fungsional

36

Kelompok jabatan fungsional mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Kepala Badan sesuai dengan keahlian dan kebutuhan.

B. Hasil Penelitian

1. Prosedur Belanja Modal pada Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Bantaeng

Pemerintah daerah kabupaten Bantaeng tidak memiliki prosedur belanja modal hal ini di jelaskan oleh Bapak Abd. Rakhman Kasir selaku Bendahara Pengeluaran Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Bantaeng.

“Dalam Proses Belanja Modal di Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Bantaeng tidak memiliki Prosedur yang tertulis, jadi semua proses belanja modal itu dikerjakan sesuai dengan kebutuhan yang menjadi kebiasaan para pegawai”

Hal ini diperkuat oleh bapak Eril selaku Sekretaris bidang Aset Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Bantaeng

“Benar, Prosedur belanja Modal yang diterapkan di BPKD Bantaeng itu hanya kebiasaan yang dilakukan, jadi ketika ada yang meneliti ditempat ini menanyakan Prosedur barulah dibuatkan SOP yang tertulis”

Penjelasan yang diberikan oleh Bapak Abd. Rakhman Kasir selaku Bendahara Pengeluaran terkait prosedur belanja modal yang menjadi kebiasaan yang sering dilakukan oleh Badan Pengelola Keuangan Daerah dijelaskan sebagai berikut :

Bagan 4.1 Sistem Belanja Modal BPKD Bantaeng Keterangan bagan :

1. SKPD mennyusun Rencana Kerja Anggaran (RKA).

2. Rencana kerja yang telah dibuat, diberikan kepada pemerintah kota untuk disetujui. Kemudian apabila telah disetujui akan dikeluarkan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA), sehingga rencana kerja dan anggaran

Nama Simbol Keterangan

SPM = Surat perintah membayar

SPD = Surat Penyediaan Dana

SP2D = Surat perintah Pencairan Dana

Faktur

=

Dokumen yang berisi perincian pengiriman barang yang mencatat daftar barang, harga, dan hal-hal lain yang biasanya terkait dengan

penagihan untuk pembayaran yang dikeluarkan penjual kepada pembeli

38

untuk Belanja Modal pemerintah dapat dilaksanakan dalam jangka waktu pelaksanaan yang telah ditetapkan. Kemudian setelah DPA telah diotorisasi oleh BUD, maka PPKD menerbitkan SPD yang ditujukan kepada pengguna anggaran.

3. Untuk melakukan belanja modal pengadaan barang/jasa pemerintah, SKPD membentuk panitia pelaksana barang, agar dapat menyeleksi barang-barang apa saja yang dibutuhkan oleh SKPD.

Cara pengadaan Belanja

Modal barang/jasa pemerintah pada Badan Pengelola Keuangan Daerah berupa pengadaan langsung, seleksi umum, dan lelang umum.

Setelah itu panitia membuat nota pesanan yang diserahkan kepada pihak ketiga untuk mendapatkan barang. Pihak ketiga sebagai penyedia barang membuat tagihan atas pesanan yang telah dipesan kepada panitia.

1) Pengadaan Langsung

Pengadaan Langsung adalah pengadaan Barang/Jasa langsung kepada Penyedia Barang/Jasa tanpa melalui Pelelangan / Seleksi / Penunjukan Langsung, Pengadaan langsung dilaksanakan pada pekerjaan/ kegiatan < Rp. 200.000.000,00

2) Seleksi umum

Seleksi Umum adalah metode pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi untuk pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua penyedia Jasa Konsultansi yang memenuhi syarat seperti Penyusunan Rencana Detail Belanja Jasa Konsultansi Perencanaan dengan nilai > Rp 100.000.000.

3) Lelang Umum

Lelang Umum adalah metode pemilihan penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti semua Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang memenuhi syarat dengan nilai > Rp 200.000.000.

4. Langkah selanjutnya, bendahara pengeluaran membuat SPM (Surat Perintah Membayar) kepada kuasa BUD agar menerbitkan SP2D kepada Dinas. Namun, pembayaran belanja ini menggunakan mekanisme langsung kepada pihak ketiga atau penyedia Belanja Modal barang/jasa pemerintah sehingga SP2D tersebut langsung ditujukan ke rekening pihak ketiga.

Dokumen SPI belum secara efektif digunakan untuk menangani transaksi Belanja Modal. Hal ini di jelaskan bapak Eril selaku sekretaris bidang Aset Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Bantaeng.

“Hal ini belum sesuai dengan SPI karena SKPD itu berdasarkan dengan perencana kebutuhan barang milik daerah setiap tahunnya. Dalam penilaian resiko masih belum menetapkan strategi operasional”

Hal ini diperkuat oleh penjelasan bapak Abd. Rakhman Kasir selaku Bendahara Pengeluaran Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Bantaeng

“Dalam penanganan transaksi belanja modal. Penilaian resiko masih lemah karena tidak adanya prosedur belanja yang tertulis sesuai dengan peraturan perundang-undangan dimana prosedur tersebut menjadi kebiasaan yang dapat menimbulkan kecurangan”

40

Dari Hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa Badan pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Bantaeng menjalankan Sistem Pengendalian Intern belum cukup baik dalam penanganan transaksi belanja modal penilaian resiko belum menetapkan tujuan pada tingkat kegiatan dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan dan menetapkan strategi operasional serta strategi manajemen dan penilaian resiko. Setelah mengenali resiko dari faktor internal dan eksternal dan menilai faktor lain yang dapat meningkatkan resiko, hal ini belum menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menentukan tingkat resiko.

Dokumen yang digunakan dalam sistem akuntansi pembelian telah melibatkan seluruh fungsi dalam penggaran hingga Sp2d. Hal ini diperkuat oleh penjelasan bapak eril selaku bidang aset Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Bantaeng

“Iya, hal ini melibatkan fungsi mulai dari surat permintaan pembelian dimana dokumen tersebut berisi formulir gudang dan pemakai barang untuk pembelian barang, yang kedua surat permintaan penawaran harga dokumen ini digunakan untuk meminta penawaran harga barang, yang ketiga surat order pembelian yang digunakan untuk pemesanan barang pemasok, Keempat Laporan penerimaan barang untuk fungsi penerimaan barang yang diterima dalam surat order pembelian, ke lima surat perubahan order itu dibuat dengan jumlah lembar tebusan dan dibagikan kepihak yang menerima surat order pembelian dan yang terakhir itu ada bukti kas keluar untuk pencatatan transaksi pembelian”.

Hal ini diperkuat oleh penjelasan bapak Abd. Rakhman Kasir selaku Bendahara Pengeluaran Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Bantaeng

“Iya melibatkan semua mulai dari penganggaran spm sampai sp2d”

Dari Hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa Badan pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Bantaeng telah menggunakan fungsi yang terkait dalam Sistem akuntansi pembelian dengan baik dalam penanganan transaksi belanja modal. Adapun fungsi yang terkait yaitu:

1. Fungsi gudang

Bertanggung jawab untuk mengajukan permintaan pembelian sesuai dengan posisi persediaan yang ada di gudang dan untuk menyimpan barang yang telah diterima oleh fungsi penerimaan.

2. Fungsi pembelian

Bertanggung jawab untuk memperoleh informasi mengenai harga barang, menentukan pemasok yang dipilih dalam pengadaan barang, dan mengeluarkan order pembelian kepada pemasok yang dipilih.

3. Fungsi penerimaan

Bertanggung jawab untuk melakukan pemeriksaan terhadap jenis, mutu dan kuantitas barang yang diterima dari pemasok guna menentukan dapat atau tidaknya barang tersebut diterima oleh perusahaan.

4. Fungsi akuntansi

Bertanggung jawab untuk mencatat transaksi pembelian ke dalam register bukti kas keluar dan untuk menyelenggarakan arsip dokumen sumber yang berfungsi sebagai catatan utang atau menyelenggarakan

42

Dokumen transaksi sudah dikerjakan berdasarkan struktur organisasi. Hal ini diperkuat oleh penjelasan bapak Eril selaku bidang aset Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Bantaeng.

“Iya, semua dokumen fungsi mulai dari penggaran terkait perencanaanya seperti apa, terkait dengan relasasinya, terkait dengan pembayarannya seperti apa. Adapun perencanaannya berkaitan dengan bidang aset dimana rencana belanja. Baik belanja persediaan maupun belanja modal. Adapun usulan masuk dalam bidang anggaran dalam hal ini apa yang SKPD ingin belanjakan ditahun pengadaan tersebut dan yang ketiga berdasarkan permintaan pembayaran baik segi SPM dan SP2D dalam bidangan kebendaharaan dan yang terakhir pelaporan dimana pembiayaan dalam bidang akuntansi.

Dalam hal ini semuanya merangkul dari satu bidang ke bidang yang lain”.

Hal ini diperkuat oleh penjelasan bapak Abd. Rakhman Kasir selaku Bendahara Pengeluaran Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Bantaeng

“Iya, proses transaksi itu sudah dikerjakan berdasakan struktur organisasi, dimana setiap bidang mempunyai tugas masing-masing dan setiap bidang juga berhubungan mulai dari Bidang aset sampai ke Bidang Akuntansi yang mencatat laporan keuagannya”

Dari Hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa Badan pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Bantaeng menjalankan transaksi belanja modal sudah sesuai dengan struktur organisasi mulai dari Sistem otorisasi dan prosedur pencatatan, serta berbagai cara yang diciptakan untuk mendorong praktik yang baik dan terus memiliki karyawan yang kompeten dan jujur.

C. Pembahasan

Berdasarkan Hasil analisis pada sistem pengendalian intern belanja modal Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Bantaeng maka ditemukan beberapa hal berikut ini:

1. Unsur Sitem Pengendalian Intern terhadap kinerja Badan Pengelola keuangan Daerah (BPKD) Banteng

1) Lingkungan Pengendalian

Pengendalian intern yang diterapkan Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Bntaeng sudah dijalankan dengan baik.

Para pimpinan dan para pegawai menjunjung tinggi integritas dan nilai etika, hal ini dibuktikan dengan adanya sanksi bagi pegawai yang melanggar aturan yang ditetapkan dengan cara mendapat teguran lisan maupun tulisan. Hal tersebut dapat menekan terjadinya penyimpangan di Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD). Para pegawai juga ditempatkan sesuai dengan bidang dan keahlian masing-masing juga dilakukan pengembangan sumber daya manusia seperti diklat dan pelatihan demi menunjang kinerja pegawai. Pemisahan fungsi tugas sudah jelas sehingga para pegawai bekerja dan ditempatkan di bagian yang sesuai dengan latar belakang pengalaman dan pendidikannya. Dengan demikian dapat dikatakan lingkungan pengendalian memiliki peranan penting dalam menunjang kinerja para pegawai Badan Pengelola Keuangan Derah Bantaeng.

2) Penilaian Resiko

Pimpinan instansi pemerintah menetapkan tujuan instansi

44

pemerintah dan tujuan pada tingkat kegiatan dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan dan dikomunikasikan kepada seluruh pegawai. Untuk menyeiati hal itu, penetapan tujuan Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) juga didalamnya ada bagian keuangan dilakukan bersama agar sesuai dan mencapai sasaran yang diinginkan. Namun dalam proses Belanja Modal tidak memiliki prosedur yang tetap hal ini dilakukan secara kebiasaan dimana kebiasaan tersebut bisa menjadi kecurangan. Dari penjelasan diatas dapat dinilai bahwa penilaian risiko belum dilaksanakan dengan baik oleh Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD).

3) Kegiatan pengendalian

Kegiatan Pengendalian sangat penting untuk menyakinkan bahwa tindakan yang diperlukan dalam mencapai tujuan dan menghadapi resiko telah dilaksanakan dengan baik. Kegiatan pengendalian terhadap kinerja Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) telah berjalan dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan adanya pembagian 12 bidang fungsi yang berbeda.

Dalam proses penyusunan laporan keuangan pun terdapat bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran yang berbeda demi meminimalisir kecurangan yang dapat terjadi.

Kinerja para pegawainya juga dinilai secara berkala demi mencapai visi misi dinas. Namun pada jam kantor masih ada para pegawai yang masih sering terlambat ke kantor begitupun dengan jam istirahat yang begitu lama hal ini dapat menimbulkan

keterlambatan dalam aktivitas kantor tersebut.

4) Informasi dan Komunikasi

Pembinaan sumber daya manusia juga dilakukan secara berkala dan dilakukan pengendalian pengelolaan sistem informasi.

Informasi dan komunikasi yang diterapkan dinas telah dilakukan dengan baik dimana informasi tentang tujuan dinas dikomunikasikan dengan baik dari atasan hingga bawahannya sehingga informasi yang dibutuhkan tersedia tepat waktu agar dapat dilaksanakan pemantauan maupun kegiatan pencegahan dan risiko yang dapat ditimbulkan dari kinerja para karyawan.

5) Pemantauan

Pemantauan adalah proses yang menentukan kualitas kinerja pengendalian intern sepanjang waktu. Mewujudkan pemantauan yang baik dilakukan dengan pemantauan terus menerus, pemantauan proses kegiatan sehari-hari, evaluasi berkala, kelemahan diteliti lebih lanjut, prosedur tindak lanjut temuan, dan temuan dievaluasi, ditanggapi, dilaksanakan.

Dalam Badan Pengelola Keuangan sudah terjadi pemantauan yang sesuai dengan PP nomor 60 tahun 2008 yang menyatakan pimpinan instansi pemerintah wajib melakukan pemantauan SPI.

Pemantauan SPI dilaksanakan melalui pemantauan berkelanjutan, evaluasi terpisah, dan tindak lanjut rekomendasi hasil audit dan reviu lainnya.

46 BAB V PENTUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Sistem Pengendalian intern pada Belanja Modal Badan Pengelola Keuangan Daeah (BPKD) tidak efektif. Dilihat dari penilaian resiko dimana dalam Prosedur Belanja Modal Badan Pengelola Keuangan Daerah tidak memiliki SOP yang tertulis hal yang dilakukan hanya menjadi kebiasaan dimana kebiasaan tersebut bisa menimbulkan kecurangan dalam proses Belanja Modal dan untuk kegiatan Pengendalian para pegawai masih sering terlambat yang dapat memperlambat aktivitas pekerjaan. sedangkan untuk Lingkungan Pengendalian, informasi dan komunikasi dan pemantauan sudah efektif. Hal ini sudah sesuai dengan teori yang ada dengan tujuan dan unsur-unsur sistem pengendalian intern.

B. Saran

1. Diharapkan kepada Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Bantaeng agar membuat SOP Pembelian Belanja Modal agar dapat memudahkan dalam mencari informasi yang terkait prosedur belanja modal

2. Diharapkan untuk para Pegawai Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Bantaeng agar datang lebih tepat waktu

2. Diharapkan untuk para Pegawai Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Bantaeng agar datang lebih tepat waktu

Dokumen terkait