• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Biaya Tahunan Ekivalen (The Equivalent Annual Cost Method)

METODE-METODE PERBANDINGAN EKONOMI

5.1 Metode Biaya Tahunan Ekivalen (The Equivalent Annual Cost Method)

Metode ini merupakan salah satu dari metode-metode yang ada dalam perbandingan ekonomi rekayasa. Perbandingan-perbandingan ekonomi rekayasa

dibuat dengan suatu pandangan untuk membantu membuat keputusan seperti alternatif mana yang akan dipilih untuk diinvestasikan atau apakah investasi akan jadi dilaksanakan atau ditolak. Keputusan apakah invesatasi dalam proyek akan diadakan seluruhnya, memerlukan suatu pengetahuan mengenai sifat pentingnya dari proyek atau tingkat pengembalian yang dapat diperoleh dengan menginvestasikan modal ditempat lain.

Adalah tidak hanya beralasan bahwa investasi akan mendatangkan tingkat pengembalian yang sama dengan yang diperoleh dilain tempat, tetapi adalah diinginkan bahwa sesuatu ekstra akan diperoleh untuk suatu resiko yang diambil atau suatu keuntungan yang telah musnah. Investasi dapat diadakan dengan sedikit atau tanpa resiko yang dilekatkan, misalnya dengan tingkat bunga 5% atau 6%. Uang juga dapat digunakan untuk menghasilkan sesuatu dengan tingkat bunga 10% atau 11% atau lebili dalam kondisi mengandung resiko yang lebih besar. Dalam membuat perbandingan-perbandingan ekonomi suatu. tingkat bunga digunakan untuk mewujudkan suatu kewajaran atau suatu tingkat pengembalian yang cukup menarik bagi investor.

Dalam menggunakan metode perbandingan biaya tahunan, diperhitungkan baik modal maupun investasi ulangan yang diadakan selama periode penaksiran. Pengeluaran semacam gaji, biaya pemeliharaan, dan sebagainya, dibebankan dalam studi atas dasar beban tahunan. Walaupun pengeluaran-pengeluaran dikumpulkan dalam kenyataan tiap hari sepanjang tahun, namun dipergunakan suatu persetujuan akhir tahunan (end-of-year convention). Semua pembayaran ulangan dianggap tetap pada akhir tahun, dan tidak ada kesulitan yang. Timbul akibat anggapan ini. Dalam hal mengubah kepada biaya tahunan untuk tujuan perbandingan, semua pembayaran dan penerimaan tanpa melihat perbedaan dalam jumlah, dirubah menjadi biaya-biaya tahunan seragam ekivalen (equivalent

uniform annual cost).

* Pehitungan secara pendekatan

Untuk aset yang mempunyai nilai semula P sebesar Rp 120 juta dan nilai jual lagi yang diharapkan S sebesar Rp 40 juta sesudah 4 tahun masa pemilikan,

maka rugi tahunan dalam nilai dengan menggunakan penyusutan garis lurus adalah sama dengan :

(120 – 40) juta

Biaya penyusutan tahunan = --- = Rp 20 juta / tahun 4

Jika “i” adalah tingkat suku bunga untuk modal, maka biaya modal tahun pertama adalah Pi atau sama halnya dengan (P – S) i + Si, sebab bunga diharapkan atas harga pembelian penuh.

Biaya modal sepanjang tahun pemilikan akhir adalah : P - S

= --- i + Si n

dimana : n = tahun-tahun pemilikan dan biaya modal rata-rata adalah :

P – S = ½(P – S) i + Si + --- i + Si n i n + 1 = (P – S) --- --- + Si 2 n

Maka biaya pemilikan, tidak termasuk biaya-biaya usaha adalah jumlah dari biaya penyusutan untuk memperoleh kembali modal yang diinvestasikan ditambah biaya bunga untuk membayar penggunaan dari modal.

Jadi biaya tahunan untuk penyusutan linear ditambah bunga rata-rata adalah : P – S i n + 1

--- + (P – S) --- --- + Si

n 2 n

Pada tabel 5.1 menunjukkan bagaimana penyusutan linear ditambah bunga rata-rata diterapkan, untuk memperoleh kembali modal yang diinvestasikan dalam asset (tingkat bunga ditentukan 10 %).

Tabel 5.1. Penyusutan Linear Ditambah Bunga Rata-Rata Akhir Tahun Modal yang belum kembali akhir tahun

Bunga atas modal yang belum

kembali

Biaya penyusutan linear (P-S)/n

Bunga atas nilai jual lagi

(Rp 40 jt) (0,1) 0 1 2 3 4 Rp 80 juta Rp 60 juta Rp 40 juta Rp 20 juta Rp 0 juta Rp 8 juta Rp 6 juta Rp 4 juta Rp 2 juta Rp 20 juta Rp 20 juta Rp 20 juta Rp 20 juta Rp 4 juta Rp 4 juta Rp 4 juta Rp 4 juta

Jumlah Rp 20 juta Rp 80 juta Rp 16 juta

Dipersamakan pembayaran-pembayaran seragam (dari tabel) : Rp (80 + 20) juta Rp 16 juta

--- + --- = Rp 25 juta + Rp 4 juta = Rp 29 juta

4 4

Penyusutan linear ditambah bunga rata-rata : Rp (120 + 40) juta 0,1 4 + 1

--- Rp (120 – 40) ---- --- juta + Rp (40) (0,1) juta

4 2 4

= Rp 20 juta + Rp 80 (0,05)(1,25) juta + Rp 4 juta = Rp 20 juta + Rp 5 juta + Rp 4 juta = Rp 29 juta Jumlah bunga yang dibayarkan selama usia asset adalah : = Rp 20 juta + Rp 16 juta

= Rp 36 juta

* Perhitungan secara eksak

Bunga tahunan yang dibayar atas nilai jual lagi adalah tetap sama dengan Si, karena S dianggap sebagai suatu jumlah tetap dari modal yang tidak diperoleh kembali sepanjang periode studi. Oleh sebab itu, dapat pula digunakan faktor pemulihan modal :

Formula ini adalah dasar dari perhitungan nilai tahunan. Jadi perhitungan di atas dapat dicari dengan menggunakan rumus ini.

Biaya tahunan = biaya pemulihan modal tahunan + bunga atas nilai jual lagi = (P – S) (A/P,i,n) + Si

= Rp (120 – 40) (0,31547) juta + Rp (40) (0,1) juta = Rp 25.238.000 + Rp 4.000.000

= Rp 29.238.000,00

Nilai-nilai dapat dilihat pada tabel 5.2. (Dikalikan 1000)

Tabel 5.2. Biaya Tahunan Berdasarkan Faktor Pemulihan Modal Akhir Tahun Modal tidak kembali pada akhir tahun Bunga atas modal yang tidak kembali Jumlah modal yang kembali Biaya pemulihan modal tahunan Bunga atas nilai jual lagi Rp(40)(0,1) juta 0 1 2 3 4 Rp 80.000 Rp 62.762 Rp 43.800 Rp 22.924 Rp 0 Rp 8.000 Rp 6.276 Rp 4.380 Rp 2.294 Rp 17.238 Rp 18.962 Rp 20.858 Rp 22.944 Rp 25.238 Rp 25.238 Rp 25.238 Rp 25.238 Rp 4.000 Rp 4.000 Rp 4.000 Rp 4.000 Jumlah Rp 20.952 Rp 80.002 Rp 100.952 Rp 16.000

Jumlah biaya bunga = Rp 20.952.000 + Rp 16.000.000 = Rp

36.952.000,-Contoh 5.1.

Dua metode dipertimbangkan untuk mengangkat batu ke dalam mesin pemecah batu. Diharapkan mesin pemecah batu akan beroperasi selama 6 tahun. Biaya-biaya untuk kedua metode itu diperkirakan sebagai berikut :

Metode A Metode B

Harga awal $ 4.200 $ 2.800

Nilai sisa setelah 6 tahun $ 600 $ 1.000

Biaya bahan bakar per tahun $ 200 $ 450

Biaya pemeliharaan per tahun $ 130 $ 300

Biaya pajak ekstra $ 60

-Bandingkan ongkos tahunan kedua alat pengangkut itu dengan menggunakan i = 12 % setelah pajak.

Penyelesaian : Metode A

Diagram Cash Flow S = $ 600

0 1 2 3 4 5 6 tahun

A = $ 390 A1= ? P = $ 4200

Pemulihan modal = (P – S) (A/P,i,n) + Si

= ($ 4200 - $ 600) (A/P,12,6) + $ 600 (0,12) = ($ 3600) (0,24323) + $ 72

= $ 875.628 + $ 72 = $ 947.628

Biaya tahunan untuk bahan bakar = $ 200.000

Biaya pemeliharaan tahunan = $ 130.000

Biaya pajak ekstra tahunan = $ 60.000

Metode B

Diagram Cash Flow S = $ 1000

0 1 2 3 4 5 6 tahun

A = $ 7500 A2= ? P = $ 2800

Pemulihan modal = (P – S) (A/P,i,n) + Si

= ($ 2800 - $ 1000) (A/P,12,6) + $ 1000 (0,12) = ($ 1800) (0,24323) + $ 120

= $ 437.814 + $ 120 = $ 557.814

Biaya tahunan untuk bahan bakar = $ 450.000

Biaya pemeliharaan tahunan = $ 300.000

Jumlah biaya tahunan ekivalen = $ 1307.814 Dari kedua metode yang ditawarkan maka metode B lebih dapat dipertimbangkan daripada metode A.

Contoh 5. 2.

Biaya awal sebuah traktor adalah Rp 120 jt. Data telah dikumpulkan mengenai ongkos perawatan yang hampir uniform dari tahun ke tahun. Terdapat kecenderungan ongkos perawatan berbagai traktor akan naik jika umur bertambah, meskipun ongkos perawatan berbagai traktor berbeda dari tahun ke tahun. Analisa menunjukkan bahwa ongkos tahunan perawatan traktor rata-rata Rp 16 jt untuk tahun pertama, Rp 19,3 jt tahun kedua, Rp 22,6 jt tahun ketiga dan akan naik dengan Rp 3,3 per tahun jika umur bertambah sehingga umur traktor rata-rata 7 tahun.

Bandingkanlah ongkos tahunan ekivalen antara kedua traktor, jika perkiraan nilai sisa untuk traktor pertama adalah Rp 40 jt dan traktor kedua Rp 28 jt dengan biaya awal Rp 140 jt dan ongkos perawatan ditahun pertama adalah Rp 15 jt dan terus naik Rp 3,5 jt setiap tahunnya. Diasumsikan ongkos-ongkos lainnya kecuali

ongkos perawatan tidak perlu diperhatikan di dalam membandingkan karena dianggap sama. Tingkat suku bunga adalah 8 %. Pajak dianggap kecil sehingga tidak perlu dimasukkan dalam analisa.

Penyelesaian :

Traktor I

Diagram Cash Flow S = Rp 40 jt

0 1 2 3 4 5 6 7 tahun

A = Rp 16 jt

G = Rp 3,3 jt A1= ? P = Rp 120 jt

Pemulihan modal = (P – S) (A/P,i,n) + Si

= (Rp 120 jt - Rp 40 jt) (A/P,8,7) + Rp 40 jt (0,08) = (Rp 80 jt) (0,19207) + Rp 3,2 jt

= Rp 15,3656 jt + Rp 3,2 jt = Rp 18,5656 jt Biaya perawatan tahunan dari traktor :

= A + G (A/G,i,n)

= Rp 16 jt + Rp 3,3 jt (A/G,8,7)

= Rp 16 jt + Rp 3,3 jt ( 2,69 ) = Rp 24,8770 jt Total biaya tahunan ekivalen = Rp 43,4426 jt

Traktor II

Diagram Cash Flow S = Rp 28 jt

0 1 2 3 4 5 6 7 tahun

A = Rp 16 jt

G = Rp 3,5 jt P = Rp 140 jt A2= ?

Pemulihan modal = (P – S) (A/P,i,n) + Si

= (Rp 140 jt - Rp 28 jt) (A/P,8,7) + Rp 28 jt (0,08) = (Rp 112 jt) (0,19207) + Rp 2,24 jt = Rp 23,7518 jt Biaya perawatan tahunan dari traktor :

= A + G (A/G,i,n)

= Rp 15 jt + Rp 3,5 jt (A/G,8,7)

= Rp 15 jt + Rp 3,5 jt ( 2,69) = Rp 24,4250 jt Total biaya tahunan ekivalen = Rp 48,1768 jt Jadi dari kedua traktor yang ditawarkan sebaiknya dipilih traktor yang pertama.

Dokumen terkait