• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV METODE BIMBINGAN DAN PENYULUHAN M.A ISLAM

A. Temuan

3. Metode Bimbingan dan Penyuluhan SMAIT al-Madinah, Bogor

Seorang siswa/i dikategorikan sebagai anak yang bermasalah apabila ia

menunjukkan gejala-gejala penyimpangan dari perilaku yang lazim dilakukan oleh

anak-anak pada umumnya. Bentuk penyimpangan ini ada yang bentuknya sederhana

(misal: mengantuk di kelas, terlambat datang kesekolah, suka menyendiri), dan ada

50

juga yang ekstrim (misal: bolos sekolah, membawa narkoba ke sekolah, tidak sopan

kepada guru dan temannya).

Bentuk-bentuk masalah yang dihadirkan oleh siswa/i dapat dibagi menjadi dua

sifat, yaitu regresif dan agresif. Bentuk-bentuk yang bersifat regresif antara lain; suka

menyendiri, pemalu, penakut, mengantuk, dan semacamnya. Sedangkan yang bersifat

agresif antara lain; berbohong, membuat onar di kelas, memeras teman, beringas, dan

berperilaku yang tidak sesuai dengan peraturan sekolah.

Perilaku yang bersifat regresif biasanya ditunjukkan oleh anak-anak dengan

kepribadian introvert (tertutup) dan yang bersifat agresif biasanya ditunjukkan oleh anak-anak yang berkepribadian extrovert (terbuka). Meskipun demikian, ini tak bisa dijadikan patokan yang final. Apabila kita sinkronkan antara bentuk-bentuk kenakalan

dan faktor-faktor penyebabnya, maka kita akan dapati bahwa ada hubungan yang

kolektif antara keduanya. Pemahaman terhadap keduanya akan membuat penanganan

terhadap masalahnya menjadi semakin mudah.

Sebagai suatu contoh ada seorang siswa/i yang suka melanggar peraturan

sekolah. Untuk menangani masalah ini seorang wali kelas atau petugas BP terlebih

dahulu harus melihat sebab dari siswa/i tersebut. Membolos misalnya, bukan pada

hukuman apa yang pantas diberikan kepada siswa/i tersebut, tetapi apa penyebabnya.

Karena seorang siswa/i membolos pasti ada beberapa faktor kemungkinan, apakah dia

tidak suka kepada cara guru mengajar, tidak suka terhadap sikap guru yang terlalu

keras, atau yang lainnya. Pemahaman terhadap faktor-faktor penyebab akan

memudahkan seorang wali kelas atau guru BP dalam penyelesaian masalah.51 Metode

ini merupakan nalar kausalitas, sebab-akibat. Maka untuk mencari penyelesaian atau

51

Dalam memberikan hukuman (punishment) kepada siswa bermasalah, biasanya pihak sekolah memberlakukan skorsing dan di keluarkan. Selain itu, pihak sekolah juga kadang menggunakan tindakan represif kepada siswa/i yang bermasalah. Wawancara pribadi dengan Bapak Heru Dayatullah, S. Fil. I, Bogor, Rabu, 04 Mei 2008.

solusinya, seorang wali kelas atau petugas BP harus melacak sebab apa seorang

siswa/i sampai bisa melakukan hal demikian.

Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa urgensinya meliputi ada pemahaman

secara lebih menyeluruh dan mendalam tentang perbedaan-perbedaan individual,

pengenalan diri apabila ada kecenderungan penyimpangan perilaku di antara para

siswa/i serta keuntungan lain bagi seorang guru, terutama guru BP, untuk mengetahui

teknik-teknik menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi.

Hal ini juga dianjurkan oleh Drs. Dalyono dalam menangani siswa/i

bermasalah sebagai berikut:52

a) Memanggil dan menerima anak yang bermasalah dengan penuh kasih sayang.

b) Dengan wawancara yang dialogis diusahakan dapat ditemukannya

sebab-sebab utama yang menimbulkan masalah.

c) Memahami keberadaan anak dengan sedalam-dalamnya.

d) Menunjukkan cara penyelesaian masalah yang tepat untuk direnungkan oleh

anak kemudian untuk dikerjakannya.

e) Menemukan segi-segi kelebihan anak agar kelebihan itu diaktualisir guru

untuk mengatasi kekurangannya.

f) Menanamkan nilai-nilai spiritual yang benar.

Dalam disiplin psikologi banyak seklai aliran-aliran pemikiran yang bisa kita

jadikan obat dalam menangani penyakit-penyakit jiwa seorang siswa/i bermasalah.

Dalam konteks SMAIT Al-Madinah, Bogor metode bimbingan yang mereka gunakan

untuk menangani masalah ini adalah psikoanalisa dan transpersonal.

Seperti yang penulis bahas pada sub bab terdahulu bahwa persoalan kenakalan

siswa/i di SMAIT Al-Madinah, Bogor yang terjadi adalah masalah pubertas, seperti

52

pacaran, ketakutan, ragu-ragu, manja, emosional yang keseluruhannya kemudian

mempengaruhi prestasi dan perilaku perserta didik. Untuk menangani semua masalah

ini, SMAIT Al-Madinah, Bogor menerapkan bimbingan dan penyuluhan ala

psikoanalisa dan transpersonal.53 Metode bimbingan dan penyuluhan ini merupakan

bagian dari aliran-aliran dalam ilmu psikologi yang berkembang di abad 19.

Psikoanalisa dipelopori pertama kali oleh Sigmund Freud (1856-1939),

seorang psikolog dari Austria. Secara sistematis dan empiris Freud telah menunjukkan

bahwa pergolakan jiwa manusia itu tidak hanya melibatkan

kelangsungan-kelangsungan yang sadar bagi diri orang yang bersangkutan, tetapi juga melibatkan

pergolakan yang tidak sadar atau bawah sadar pada diri orang tersebut.54

Teori psikoanalisa Freud yang sangat terkenal adalah pembagian mind ke

dalam consciousness, preconsciousness dan unconsciousness. Freud mengembangkan konsep struktur mind di atas dengan mengembangkan ‘mind apparatus’, yaitu yang dikenal dengan struktur kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting,

yaitu id, ego dan super ego.55

Ego selalu menghadapi ketegangan antara tuntutan id dan superego. Apabila

tuntutan ini tidak berhasil diatasi dengan baik, maka ego terancam dan muncullah

kecemasan (anxiety). Dalam rangka menyelamatkan diri dari ancaman, ego

melakukan reaksi defensif /pertahanan diri. Hal ini dikenal sebagai defense mecahnism yang jenisnya bisa bermacam-macam, all repression.

53

Dalam menerapkan metode psikoanalisa dan transpersonal, guru BP menggunakan pendekatan psiko-sosial dan budaya. Wawancara pribadi dengan Bapak Heru Dayatullah, S. Fil. I, Bogor, Rabu, 04 Mei 2008.

54

Lihat W. A. Gerungan, Dipl. Psych, “Psikologi Sosial,” (Bandung: PT. Refika Aditama, 2004), Cet. Ke-1, h 16.

55

Isbandi Rukminto Adi, MPH, “Psikologi, Pekerjaan Sosial, dan Ilmu Kesejahteraan Sosial; Dasar-dasar Pemikiran,” (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994), Cet. Ke-1, h. 211-214.

Dalam pandangan Psikoanalisa Freud agama bukan merupakan inti perilaku

manusia, melainkan merupakan salah satu cara manusia dalam menyesuaikan diri

pada lingkungannya atau dalam istilah psikologi dinamakan coping behavior.56 Pengalaman spritual dalam psikonalisa dianggap sebagai pengalaman masa kecil yang

traumatis, terutama pengaruh ibu yang menderita kecemasan. Orang dikatakan gila

karena represi pengalaman traumatis tersebut dalam alam tak sadarnya. Sehingga

beberapa pelopor gerakan ”New Age”, menolak pendekatan psikonalisa dan pendekatan lain yang memandang rendah dan negatif pengalaman-pengalaman

spiritual, sebagai akibat perubahan kondisi kesadaran (Altered States of Consciousness). Mereka mendesak diakuinya angkatan keempat dalam bidang psikologi, yakni transpersonal.

Istilah transpersonal sendiri pertama kalinya dipakai oleh Carl Gustav Jung

dalam bahasa Jerman, yakni “uberpersnolich” (transpersonal) yang artinya kurang lebih sama dengan collective unconscious. Yakni bentuk ketidaksadaran kolektif yang

dimiliki oleh semua orang dari berbagai ras yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam ketidaksadaran kolektif terdapat ribuan arketif, seperti ide tentang Tuhan,

anima, animus, arketif diri, yang beberapa di antaranya berkaitan dengan

pengalaman-pengalaman spiritual.

Psikologi transpersonal sebagai kekuatan atau mazhab keempat dalam bidang

psikologi itu sendiri dideklarasikan oleh Abraham Maslow.57 Di tahun 1968, ia

mengatakan,

”Saya melihat, psikologi humanistik sebagai angkatan ketiga psikologi sedang mengalami

56

Sarlito Wirawan Sarwono, “Psikologi Sosial; Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan,” h. 242-243.

57

Pada paham psikologi humanisme, Abraham Maslow melihat bahwa manusia adalah suatu keutuhan yang lebih menyeluruh yang mempunyai kebutuhan berjenjang lima. Yaitu, (i) kebutuhan fisiologis tubuh, (ii) kebutuhan akan keamanan, (iii) kebutuhan akan kebersamaan, (iv) kebutuhan akan penghargaan dan yang terakhir adalah (v) kebutuhan akan aktualisasi diri.

transisi, sedang mengalami persiapan menuju psikologi angakatan keempat yang lebih tinggi, transpersonal, transhuman, yang lebih berpusat kepada kosmos dari pada terhadap kebutuhan manusia, melewati kemanusiaan, identitas, aktualisasi diri dan semacamnya.”

Maslow menemukan bahwa aktualisasi diri pada beberapa orang memiliki

frekuensi puncak atau transendensi, dan pada beberapa orang lagi tidak. Ini

menegaskan suatu perbedaaan antara aktualisasi diri dan transendensi diri. Inilah

alasaan mengapa ada suatu pergerakan dari psikologi humanistik ke psikologi

transpersonal. Ada dua buku Maslow yang membahas masalah ini, yakni “Toward a Psychologhy of Being” (1968) dan “The Farther Reaches of Human Nature” (1971). Gagasan dasar dari psikologi transpersonal adalah dengan mencoba melihat

manusia selaras pandangan religius, yakni sebagai makhluk yang memiliki potensi

spiritual. Jika psikoanalisis melihat manusia sebagai sosok negatif yang dijejali oleh

pengalaman traumatis masa kecil, behaviorisme melihat manusia layaknya binatang,

humanistik bepijak atas pandangan manusia yang sehat secara mental, maka psikologi

transpersonal melihat semua manusia memiliki aspek spiritual,

yang bersifat ketuhanan.

Ada sekian banyak definisi yang diajukan untuk psikologi transpersonal ini.

Secara etimologi, transpersonal sendiri berakar dari kata trans dan personal. Trans

artinya di atas (beyond, over) dan personal adalah diri (self). Sehingga dapatlah dikatakan bahwa transpersonal membahas atau mengkaji pengalaman di luar atau

batas diri, seperti halnya pengalaman-pengalaman spiritual. Di tahun 1992, setelah

melakukan penelaahan atas kurang lebih 40 definisi, maka Lajoie dan Saphiro, dua

orang pionir utama psikologi transpersonal, merangkum dan merumuskan pengertian

psikologi transpersonal yang lebih sesuai untuk kondisi saat ini:

”Transpersonal psychology is concerned with the study of humanity’s highest potential, and with the recognition, understanding, and realization of unitive, spiritual, and transcendent states of consciousness”.( Psikologi transpersonal mempunyai perhatian terhadap studi potensial tertinggi umat manusia dan dengan pengakuan, pemahaman dan perealisasian

keadaan-keadaan kesadaran yang mempersatukan spiritual dan transenden).

Transformasi kesadaran merupakan tinjauan pokok dari psikologi

transpersonal, yakni studi mengenai pengalaman-pengalaman yang mendalam,

perasaan keterhubungan dengan pusat kesadaran semesta, dan penyatuan dengan

alam. Ada kesepakatan umum dari para tokoh cabang psikologi ini, untuk tidak

mengidentikkan mazhab ini dengan keagamaan secara formal. Psikologi transpersonal

bukanlah agama, bukan ideologi, bukan juga metafisika dan bahkan bukan New Age

(seperti praktik aura, crsytal, aromatherapy, kajian UFO, dll) meskipun ada sedikit

irisan dengannya.58

4. Faktor Pendukung dan Penghambat Metode Bimbingan dan Penyuluhan

Dokumen terkait