BAB III METODOLOGI PENELITIAN
B. Hasil Temuan Metode Pendidikan Karakter Surat Al A’raf
1. Metode Cerita
Terkait metode ini setelah penulis telusuri bahwa pada ayat 35 Surat al-A’raf terdapat potongan ayat mengandung metode cerita, yaitu
. Dalam tafsir ath-Thabari potongan ayat tersebut dijelaskan
bahwa Dia berfirman: “Membancakanmu ayat-ayat dari kitab-Ku dan memberitahukanmu dalil-dalil sserta tanda-tanda kebenaran yang mereka bawa kepadamu dari sisi-Ku, hakikat dari apa yang mereka dakwahkan kepadamu, yaitu pengesaan terhadap-Ku”.21 Jadi, Sebagaimana yang diuraikan, jika diaplikasikan pada pendidikan, bahwa ayat ini menunjukkan sebuah adanya metode pembelajaran yakni metode cerita. Berikut ini akan penulis paparkan beberapa definisi tentang metode cerita, sebagai berikut:
Cerita merupakan salah satu bentuk sastra yang memiliki keindahan dan kenikmatan tersendiri. Akan menyenangkan bagi anak-anak maupun
20Muhammad Fadhillah, Desain Pembelajaran, (Jogyakarta: Ae-Ruzz media, 2012), h. 61
21Abu ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari, Terj. Abdul Somad,
43
orang dewasa, jika pengarang, pendongeng dan menyimaknya sama-sama baik. Cerita salah satu bentuk sastra yang bisa dibaca atau hanya didengar oleh orang yang tidak membaca.22
Metode cerita atau kisah adalah mendidik dengan cara menyampaikan kisah agar pendengar dan pembaca meniru yang baik dan meninggalkan yang buruk, serta agar pembaca beriman dan beramal saleh.23
Lebih lanjut Abuddin Nata menjelaskan bahwa kisah atau cerita sebagai suatu metode pendidikan ternyata mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan. Islam menyadari sifat ilmiah manusia untuk menyenangi cerita itu, dan menyadari pengaruhnya yang besar terhadap perasaan. Oleh karena itu, Islam mengeksploitasikan cerita itu untuk dijadikan salah satu teknik pendidikan.24
Sedangkan menurut Muhammad Utsman Najati menjelaskan bahwa cerita adalah sarana penting yang digunakan al-Qur’an untuk membangkitkan motivasi belajar. Ia mempunyai pengaruh yang bersifat mendidik, karena sejak dulu para pendidik mempergunakannya sebagai sarana untuk mengajarkan akhlak baik, nilai agama, dan etika dengan cara yang ringan dan menyenangkan, sehingga akal dan jiwa bisa mendapatkan hikmah, nasihat, pelajaran serta keteladanan.25
Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa bercerita merupakan penyampaian materi pelajaran dengan cara menceritakan kronologis terjadinya sebuah peristiwa baik benar atau fiktif semata serta memberikan efek positif pada perubahan sikap dan perbaikan niat atau motivasi seseorang.
Kisah merupakan sarana yang mudah untuk mendidik manusia. Model ini sangat banyak dijumpai dalam al-Qur’an. Bahkan kisah-kisah dalam al-
Qur’an sudah menjadi kisah-kisah popular dalam dunia pendidikan. Kisah
22Abdul Aziz, Abdul Majid, Mendidik Dengan Cerita, (Bandung: PT Remaja RosdaKarya,
2008), h. 8
23Departemen Agama RI, Op. cit., h. 109
24Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), Cet. I, h. 149
yang diungkapkan dalam al-Qur’an ini mengiringi berbagai aspek pendidikan yang dibutuhkan manusia. Diantaranya adalah aspek akhlak. Al-Qur’an menegaskan pentingnya metode kisah ini dalam Surat Yusuf ayat 111, “sesungguhnya pada kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal”. Al-Thabari menafsirkan ayat ini yang berkenaan dengan kisah Nabi Yusuf, bahwa terdapat pelajaran („Ibrah), dalam kisah Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang mempunyai akal sekaligus sebagai nasihat bagi mereka.26
Ahmad Tafsir, dalam bukunya yang berjudul “Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam” mengatakan bahwa cerita merupakan metode amat penting, alasannya sebagai berikut:27
1) Kisah selalu memikat karena mengandung pembaca atau pendengar untuk mengikuti peristiwanya, merenungkan maknanya.
2) Kisah Qurani dan Nabawi dapat menyentuh hati menusia karena kisah itu menampilkan tokoh dalam konteksnya yang menyeluruh.
3) Kisah Qurani mendidik perasaan keimanan dengan cara: membangkitkan berbagai perasaan seperti khauf, rida, dan cinta. Metode cerita atau kisah diisyaratkan dalam al-Qur’an Surat Yusuf ayat 111:
“Sesungguhnya di dakam kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum beriman”. (QS. Yusuf:111).28
26Jejen Musfah, “Metode Pendidikan dalam Perspektif Islam”, TAHDZIB Jurnal Pendidikan
Agama Islam, Vol.3, 2009, h. 109
27 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2010), Cet. I, h. 109
45
“Sesungguhnya di dalam kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal”.
Qassa al-khabara berarti menyampaikan berita dalam bentuk yang sebenarnya. Kata ini diambil dari perkataan qassa al-asara wa iqtasahu yang berarti menuturkan cerita secara lengkap dan benar-benar mengetahuinya.
Dalam kisah Yusuf as beserta kedua orangtua dan saudara-saudaranya, terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal benar dan berpikiran tajam, karena merekalah orang-orang yang oleh pendahulunya. Sedang orang-orang yang terpedaya dan lengah, tidak mempergunakan akalnya untuk mencari dalil-dalil, sehingga nasehat-nasehat tidak berguna bagi mereka.
Letak pengambilan pelajaran dari kisah ini ialah: Allah telah kuasa untuk menyelamatkan Yusuf setelah dilemparkan ke dalam sumur, mengangkat kedudukannya setelah dipenjarakan, menjadikannya berkuasa di Mesir setelah dijual dengan harga yang sangat murah, mengokohkan kedudukannya di muka bumi setelah lama ditawan, memenangkannya atas saudara-saudaranya yang berbuat jabat terhadapnya, menyatukan kekuatannya dengan mengumpulkan kedua orang tua dan saudara- saudaranya setelah perpisahan yang sekian lama, dan mendatangkan mereka dari belahan bumi yang sangat jauh. Sesungguhnya Allah yang telah kuasa untuk melakukan itu terhadap Yusuf, kuasa pula untuk menjayakan Muhammad saw meninggikan kalimat-Nya, dan menampakkan agama-Nya. Maka, Dia mengeluarkan dari tengah-tengah kalian, mengokohkannya di dalam negeri, dan menguatkannya dengan bala tentara, dan para pembesar, pengikut serta penolong, meski dia melalui
berbagai rintangan dan peristiwa berat.”
Kisah-kisah yang disampaikan al-Qur’an memiliki ciri tersendiri, yaitu diungkapkan dengan bahasa yang indah, fasih penjelasannya dan
ringkas ungkapannya sehingga menyentuh perasaan dan emosi serta lebih dekat pada pemuasan akal dan pembenaran hati.29
Adapun kegiatan bercerita merupakan salah satu cara yang ditempuh untuk memberikan pengalaman belajar agar siswa memperoleh penguasaan isi cerita yang disampaikan lebih bak. Melalui cerita siswa dapat menyerap pesan-pesan yang dituturkan melalui kegiatan bercerita. Penuturan cerita yang sarat informasi atau nilai-nilai itu dihayati siswa dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.30
Dalam mengaplikasikan metode ini pada proses belajar mengajar, metode kisah merupakan salah satu metode pendidikan yang manshur dan terbaik, sebab kisah itu mampu menyentuh jiwa jika didasari oleh ketulusan hati yang mendalam. Kemashuran dan kebaikan metode ini dapat dilihat dari perkembangan penggunaannya oleh para pujangga India, Persia dan Yunani sejak zaman dulu.31
Metode ini sangat efektif digunakan dalam menyampaikan ajaran- ajaran tentang karakter atau akhlak dan keimanan. Penggunaan metode kisah sangat penting diajarkan pada peserta didik. Karena kisah-kisah tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar. Misalnya saja tentang kisah Nabi Yusuf as, dari situ bisa diambil tentang sifat-sifat Nabi Yusuf as yang patut diteladani dan dicontoh dalam kehidupan sehari-hari.
Metode cerita sangat bermanfaat sekali guna memberikan saran atau ajakan untuk berbuat kebaikan. Metode kisah ini juga mengajarkan peserta didik untuk meneladani dan meniru segara perbuatan terpuji yang dimiliki oleh tokoh-tokoh Islami yang menjadi peraturan. Dengan mempraktikkannya dan sehingga dapat membina sebuah karakter atau akhlak. Memberikan contoh yang baik kepada peserta didik, bisa juga melalui profil atau sikap dan tingkah laku pendidik yang baik diharapkan
29Ibid, h. 155
30 Moeslichatoen, Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak, (Jakarta: PT Rineka Cipta,
2004), h. 170
31Armai Arif, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002),
47
peserta didik menirunya, tanpa pendidik memberikan contoh pembinaan karakter, maka akan sulit sekali dicapai.
b. Teknik dan Jenis Cerita
Teknik yang dilakukan dengan cara bercerita, mengungkapkan peristiwa-peristiwa bersejarah yang mengandung nilai pendidikan moral, rohani dan sosial bagi seluruh umat manusia di segala tempat dan zaman. Baik yang mengenai kisah yang bersifat kebaikan, maupun kezaliman atas juga ketimpangannya jasmani dan rohani, material dan spiritual yang dapat melumpuhkan semangat umat manusia.
Teknik ini sangat efektif sekali, terutama untuk materi sejarah (siroh), kultur Islam dan terlebih lagi sasarannya untuk anak didik yang masih
dalam perkembangan “fantastis”. Dengan mendengarkan suatu kisah, kepekaan jiwa dan perasaan anak didik dapat tergugah, meniru figur yang baik yang berguna bagi kemashlahatan umat, dan membenci terhadap seseorang yang zalim. Jadi, dengan memberikan stimulasi kepada anak didik dengan cerita itu, secara otomatis mendorong anak didik untuk berbuat kebajiakan dan dapat membentuk karakter atau akhlak yang mulia, serta dapat membina rohani.32
Ada beberapa macam teknik bercerita yang dapat dipergunakan antara lain:
1) Membaca langsung dari buku cerita
2) Bercerita dengan menggunakan ilustrasi gambar dari buku 3) Menceritakan dongeng
4) Bercerita dengan menggunakan papan flanel 5) Bercerita dengan menggunakan boneka 6) Bercerita sambil memainkan jari-jari tangan
32Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda Karya,
Adapun jenis carita menurut materi yang disampaikan kepada siswadapat dikategorikan dalam beberapa macam, di antaranya:
a) Cerita para Nabi
Materi cerita berisi kisah-kisah 25 Nabi utusan Allah, mulai dari kelahiran, perjuangan dalan tugas, sampai wafatnya. Materi cerita ini hendaknya menjadi materi utama yang disampaikan kepada siswa. Dalam cerita ini, pembawa cerita dapat sekaligus mengajarkan nilai- nilai akidah dan akhlakul karimah kepada siswa.
Misalnya, kisah tentang dua anak Adam yang saling bermusuhan dan mendengki di antara yang dikisahkan dalam Surat al-Maidah, sedang salah seorang dari mereka ada yang berwatak luas dada dan kasih sayang, jelas dimaksudkan dalam contoh teladan tentang perlunya pembinaan akhlak dan mampu hidup bergotong royong dalam masyarakat.33
Firman Allah tentang hal ini adalah sebagai berikut:
“Ceritakanlah kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam (Habil dan Qobil) menurut yang sebenarnya maka keduanya mempersekutukan kurban, maka diterima salah seorang dari mereka
berdua (Habil) dan diterima dari yang lain (Qobil): “Aku pasti akan membunuhmu.” Habil berkata: “Sesungguhnya Allah menerima
(kurban) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah:27) b) Cerita para sahabat, ulama, dan orang-orang saleh
Materi cerita berisi kisah-kisah para sahabat, ulama, dan orang- orang saleh yang dapat dijadikan suri tauladan untuk lebih meningkatkan ketakwaan dan keimanan serta akhlakul karimah. Seperti: cerita Khulafaur Rasyidin dan Walisongo.
33M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan
49
Tertib merupakan prasyarat tercapainya tujuan bercerita. Suasana tertib harus diciptakan sebelum dan selama anak-anak mendengarkan cerita. Tata tertib cerita, sebelum bercerita pendidik menyampaikan atauran selama mendengarkan cerita, misalnya: tidak boleh berjalan-jalan, tidak boleh menebak/komentari cerita, tidak boleh ngobrol dan mengganggu kawannya dengan berteriak dan memukul meja. Hal ini dilakukan untuk mencegah anak-anak agar tidak melakukan aktifitas yang mengganggu jalannya cerita.
Teknik dalam penyampaian cerita dengan membacakan secara langsung akan sangat bagus jika guru mempunyai prosa yang sesuai untuk dibacakan, sehingga pesan-pesan yang disampaikan mudah ditangkap oleh peserta didik. Kemudian ilustrasi yang dituturkan sehingga dapat menarik perhatian peserta didik. Sehingga metode kisah atau cerita dapat menjadikan sebuah media dalam pembentukan karakter anak.
Dalam hal ini, mendidik dan mengajar siswa dengan memberi contoh, lebih efektif dari pada menasihatinya. Secara tidak langsung metode kisah atau cerita adalah wujud pengajaran yang memberikan contoh nyata kepada siswa melalui tokoh cerita. Tokoh-tokoh dalam cerita dapat memberikan teladan bagi siswa. Siswa-siswi akan dengan mudah memahami sifat-sifat, figur-figur, dan perbuatan-perbuatan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan cerita, seorang pendidik dapat memperkenalkan akhlak atau karakter dan figur seorang muslim yang baik dan pantas diteladani. Dengan demikian bercerita dapat berperan dalam proses pembentukan akhlak atau karakter kepada peserta didik.
c. Manfaat Metode Cerita
Begitu pentingnya cerita bagi siswa, tidak salah bila metode bercerita ini sebisa mungkin diaplikasikan dalam sebuah proses pembelajaran. Selain untuk memudahkan siswa dalam memahami materi yang diberikan, juga untuk memberikan daya imajinatif dan fantasi, serta menambahkan
wawasannya terhadap nilai-nilai kebaikan. Diantara manfaat-manfaat cerita bagi siswa, sebagai berikut:
1) Membangun kontak batin, antara anak dengan anak dengan orang tuanya maupun anak dengan gurunya.
2) Media penyampaian pesan terhadap anak. 3) Pendidikan imajinasi atau fantasi anak. 4) Dapat melatih emosi atau perasaan anak. 5) Membantu proses identifikasi diri (sikap).
6) Dapat sebagai hiburan dan menarik perhatian anak.
Dalam hal yang sama, menurut Moeslichatoen bercerita mempunyai arti penting bagi perkembangan anak-anak. Karena melalui cerita kita dapat: a) mengkomunikasikan nilai-nilai budaya, b) mengkomunikasikan nilai-nilai sosial, c) mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan, d) menanamkan etos kerja, etos waktu serta etos alam, e) membantu mengembangkan fantasi anak, f) membantu mengembangkan dimensi kognitif anak, g) membantu mengembangkan dimensi bahasa anak.34 Sesuai dengan manfaat di atas, bercerita mempunyai tujuan untuk memberikan informasi, menanamkan nilai-nilai sosial, nilai keagamaan, pemberian informasi tentang lingkungan fisik dan lingkungan sosial.
d. Kelebihan dan Kekurangan Metode Cerita35 Kelebihan metode cerita sebagai berikut:
1) Cerita dapat mengaktifkan dan membangkitkan semangat siswa. Karena setiap siswa akan senantiasa merenungkan makna dan mengikuti berbagai situasi kisah, sehingga anak didik terpengaruh oleh tokoh dan topik kisah tersebut.
2) Mengarahkan semua emosi hnga menyatu pada satu kesimpulan yang menjadi akhir cerita.
34 Moeslichatoen, Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak, (Jakarta: PT Rineka Cipta,
2004), h. 183
35Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press,
51
3) Cerita selalu memikat, karena mengandung pendengaran untuk mengikuti peristiwanya dan merenungkan maknanya.
4) Dapat mempengaruhi emosi, seperti takut, perasaan diawasi, rela, senang, sungkan, atau dibenci sehingga bergelora dalam lipatan cerita.
Kekurangan
1) Pemahaman siswa menjadi sulit ketika kisah itu telah terakumulasi oleh masalah lain.
2) Bersifat menolong dan dapat menjenuhkan siswa.
3) Sering terjadi ketidakselarasan isi cerita dengan konteks yang dimaksud sehingga pencapaian tujuan sulit diwujudkan.