• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III BIOGRAFI IBN JARĪR AL-ṬABARĪ DAN WAHBAH

A. Biografi Ibn Jarīr al-Ṭabarī

3. Metode, Corak dan Sumber Tafsir al-Ṭabarī

Adapun metode penafsiran yang digunakan dalam kitab tafsir al-Ṭabarī ialah metode tafsir taḥlīlī, karena dalam penafsirannya menafsirkan ayat al-Qur’an dari berbagai aspeknya, selain itu sistematika dalam penulisan tafsir al-Ṭabarī mengikuti tartīb muṣḥafī.9 Sedangkan corak yang menonjol dalam penafsirannya ialah corak lughawī dan adab al-Ijtimā’ī karena jika dilihat dari sisi linguistik al-Ṭabarī bertumpu pada syair-syair Arab kuno dalam menjelaskan kosa kata, acuh terhadap aliran-aliran ilmu gramatika bahasa dan penggunaan bahasa Arab yang telah dikenal secara luas di kalangan masyarakat. 10

Tafsir al-Ṭabarī, dikenal sebagai tafsir bi al-ma'ṡūr, yang mendasarkan penafsirannya pada riwayat-riwayat yang bersumber dari Nabi, para sahabatnya, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in Ibn Jarīr dalam tafsirnya telah mengompromikan antara riwayat dan dirayat.11

8 Syaikh Ahmad Farid, 60 Biografi Ulama Salaf, cet. I (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006), 621.

9 Mannā' Khalīl al-Qaṭṭān, Mabāhiṡ fī ‘Ulūm al-Qur’an (Beirut: Mansyurat al-Ashr al-Hadits,1973), 363.

10 Mannā' Khalīl al-Qaṭṭān, Mabahits fī ‘Ulūm al-Qur’an, 363.

11 Shidqy al-‘Athar, Muqaddimah Tafsir Ibn Jarīr al-Ṭabarī (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), 3.

31 B. Biografi Wahbah al-Zuḥaylī

1. Riwayat Hidup

Nama lengkap Wahbah Zuḥaylī adalah Wahbah Musthafa al-Zuḥaylī. Ia lahir di Desa Dir ‘Athiyyah, yang berada di daerah Qalmun, Damaskus, Suriah pada tanggal 6 bulam Maret tahun 1932 M/ 1351 H.12 Ia adalah seorang guru besar di Syiria dalam bidang keislaman, dan juga merupakan seorang Ulama Fiqih kontemporer peringkat dunia yang sangat dikenal banyak orang.13 Wahbah al-Zuḥaylī wafat pada waktu sore di hari Sabtu, tepatnya pada tanggal 8 Agustus tahun 2015 di Suriah, pada saat itu usianya 83 tahun.

Ayahnya bernama Musthafa al-Zuḥaylī, ayahnya juga seorang yang sangat terkenal yakni dengan ketakwaan dan kesalehannya. Selain itu Musthafa al-Zuḥaylī juga seorang hafiz al-Qur’an, ia bekerja sebagai petani.

Ibunya bernama Fatimah binti Musthafa Sa’adah, ia dikenal dengan sosok yang berpegang teguh terhadap ajaran agamanya.14

Pendidikan diawali dengan sekolah di Madrasah Ibtida’iyyah yang berada di daerah kampung halamannya, di samping itu ia juga mempelajari al-Qur’an di sana. Pada tahu 1946 ia melanjutkan jenjang pendidikannya dibangku perkuliahan Syari ’ah di Damaskus dan selesai pada tahun 1952.

Kecintaan dan semangatnya dalam mencari Ilmu membuatnya mengikuti beberapa perkuliahan di waktu yang sama yakni di Fakultas Syari’ah, Universitas ‘Ain Shams dan Fakultas Bahasa Arab di Universitas al-Azhar.15

12 Wahbah al-Zuḥailī, al-Tafsir al-Munīr fi al-‘Aqidat wa al-Syari’at wa al-Manhaj, juz XV (Damaskus: Dar al-fikr, 2005), 888.

13 Muhammad Khoiruddin, Kumpulan Biografi Ulama Kontemporer (Bandung:

Pustaka Ilmu, 2003), 102.

14 Muhammad Khoiruddin, Kumpulan Biografi Ulama Kontemporer, 102.

15 Syaiful Amin Ghofur, Mozaik Mufasir al-Qur’an (Yogyakarta: Kaukaba Dipantara, 2013), 136-137.

32

Wahbah al-Zuḥaylī tumbuh dewasa di lingkungan para ulama yang bermazhab Hanafi, sehingga membentuk pemikirannya kedalam mazhab Fiqih. Akan tetapi walaupun bermazhab Hanafi, beliau tidak fanatik terhadap paham yang dianutnya dan senantiasa menghargai pendapat-pendapat dari pada mazhab lain. hal ini dapat dilihat dari bentuk penafsirannya ketika beliau menafsirkan ayat-ayat yang berkaitan dengan pembahasan Fiqih.16

Pada tahun 1963, ia diangkat menjadi dosen di Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus dan menjadi wakil dekan secara berturut-turut, kemudian menjadi Dekan, dan menjadi ketua jurusan Fiqh al-Islāmī wa Mażāhabih di Fakultas yang sama. Ia mengabdi selama lebih dari tujuh tahun, dan menjadi profesor pada tahun 1975. Ia dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang Fiqih, Tafsir dan Dirasah Islamiyyah.17

2. Karya-Karyanya

Wahbah al-Zuḥaylī aktif dalam belajar dan mengajarkan berbagai disiplin ilmu, baik dalam perkuliahan, ceramah di pengajian, diskusi, termasuk juga melalui media massa. Sebagai hasil aktivitas akademisnya yang produktif, tidak kurang dari 48 buku dan karya ensiklopedi (mausu’ah) dalam berbagai disipilin ilmu Islam telah ditulisnya.18 Banyak dari karyanya meliputi bidang fiqih dan tafsir, diantara karya-karyanya sebagai berikut:

a. Al-Fiqh al-Islāmi wa ‘Adillatuhu, (1997) dalam 9 jilid tebal. Kitab ini merupakan karya fiqihnya yang sangat terkenal.

b. Uṣūl al-Fiqh al-Islāmī, dalam 2 jilid.

c. Al-Wāsiṭ fi Uṣūl al-Fiqh, Damaskus, 1966.

16 Muhammad Khoiruddin, Kumpulan Biografi Ulama Kontemporer, 102.

17 Wahbah Zuḥailī, Tafsir Munīr fī ‘Aqīdah wa Sharī’ah wa al-Manhaj (Damaskus: Dār al-Fikr, 1998), 34.

18 Muhsin Mahfudz, “Konstruksi Tafsir Abad 20 M/14 H: Kasus Tafsir al-Munīr Karya Wahbah al-Zuḥailī”. Jurnal al-Fikr, vol. 14, no. 1, (2010): 34.

33 d. Al-Fiqh al-Islāmi fī Uṣlūb al-Jadīd, Damaskus, 1967.

e. Fiqh al-Mawāriṡ fī al-Syari’āt al-Islāmiyyah, Damaskus, 1987.

f. Al-Qur’ān Karīm; Bunyātuhu Tasyri’iyyah au Khaṣā’isuhu al-Hasāriyah, Damaskus, 1993.

g. Al-Asas wa al-Maṣadir al-Ijtihād al-Musytarikah Bayna al-Sunnah wa al-Syi’ah, Damaskus,1996.

h. Tafsir al-Munīr fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, 16 jilid Damaskus, 1991.

i. Tafsir al-Wājiz merupakan ringkasan dari Tafsir al-Munīr.

j. Tafsir al-Wāsiṭ dalam 3 jilid tebal, dan karya-karya lainnya.19 3. Metode, Corak dan Sumber Tafsir al-Munīr

Adapun metode yang digunakan Wahbah al-Zuḥaylī dalam kitab Tafsir Munīr ialah metode tafsir taḥlīlī, dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dalam kitab tafsirnya. Meski demikian, sebagian kecil di beberapa tempat terkadang ia menggunakan metode tafsir tematik (maudhu’i).

Metode taḥlīlī lebih dominan karena metode inilah yang hampir semua digunakannya dalam kitab tafsirnya. 20

Dengan melihat dari penafsiran yang digunakan oleh al-Zuḥaylī dalam kitab tafsirnya ini, bisa dikatakan bahwa corak tafsir yang digunakan adalah corak kesastraan (adabi) dan sosial kemasyarakatan (al-Ijtima’i) serta adanya nuansa yurisprudensial (fiqh). Hal ini terutama ditunjukan dengan adanya penjelaskan fiqih kehidupan (fiqh al-hayat) atau hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Hal ini dapat dilihat karena memang al-Zuḥaylī sendiri sangat terkenal keahliannya dalam bidang fiqh dengan karya monumentalnya al-Fiqh al-Islāmi wa Adillatuhu. Sehingga, bisa

19 Baihaki, “Studi Kitab Tafsir al-Munīr Karya Wahbah al-Zuḥailī dan Contoh Penafsirannya Tentang Pernikahan Beda Agama”. Analisis, vol. 16, no. 1, (Juni, 2016):

127.

20 Baihaki, “Studi Kitab Tafsir al-Munīr, 136.

34

dikatakan corak penafsiran Tafsir al-Munīr adalah keselarasan antara Adabi Ijtimā’i dan nuansa fiqhnya atau penekanan Ijtima’i nya lebih ke nuansa fiqh.21

Di antara sumber-sumber referensi yang digunakan al-Zuḥaylī dalam Tafsir al-Munīr adalah sebagai berikut. Terkait bidang akidah, akhlak, dan penjelasan keagungan Allah di alam semesta, merujuk kepada: Tafsir al-Kābir karya Fakhruddin al-Razi, Tafsir al-Bahr al-Muḥīṭ karya Abu Hayyan al-Andalusi, Rūh al-Ma’āni karya al-Alusi. Dalam penjelasan kisah-kisah Qur’an dan sejarah, ia merujuk Tafsir Khazin dan al-Baghawi. Tafsir terkait penjelasan hukum-hukum fiqh, ia merujuk kepada beberapa literature seperti al-Jāmi’ fī Aḥkam al-Qur’an, karya al-Qurṭubi, Aḥkam al-Qur’an karya Ibn al-‘Arabi, Aḥkam al-Qur’an, karya al-Jassās, Tafsir al-Qur’an al-‘Aẓīm, karya Ibn Katsir. Dalam bidang kebahasaan merujuk pada tafsir al-Kassyāf karya al-Zamakhsyari. Materi qira’at, dirujuk dari Tafsir al-Nasāfi, sedangkan dalam bidang sains dan teori-teori ilmu alam, ia merujuk pada tafsir al-Jawāhir karya Tantawi Jauhari, dan masih banyak lagi yang lainnya.22

21 Baihaki, “Studi Kitab Tafsir al-Munīr, 138.

22 Wahbah al-Zuḥailī, al-Tafsir al-Munīr, terj. al-Kattani dkk, juz I (Jakarta: Gema Insani, 2013), 19.

35 BAB IV

PENAFSIRAN QS. AL-ḤUJURĀT [49]: 6 DALAM TAFSIR AṬ-ṬABARĪ DAN TAFSIR AL-MUNĪR

A. Penafsiran QS. al-Ḥujurāt [49]: 6 dalam Tafsir al-Ṭabarī

ٍةَلاَهَِبِ اًمْوَ ق اوُبيِصُت نَأ اوُنَّ يَ بَ تَ ف ٍإَبَ نِب قِساَف ْمُكَءاَج نِإ اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّ يَأَيَ

َينِمِدَنَ ْمُتْلَعَ ف اَم ىَلَع اوُحِبْصُتَ ف

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. al-Ḥujurāt/49: 6).

Dalam tafsir al-Ṭabarī disebutkan bahwa maksud ayat ini ialah, “hai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita,

اوُنَّ يَ بَ تَ ف

“Maka periksalah dengan teliti”. Ahli qira’at berbeda pendapat dalam membaca firman Allah,

اوُنَّ يَ بَ تَ ف

“Maka periksalah dengan teliti.” Sedangkan Ahli qira’at Madinah umumnya membacanya fataṡabbatū, dengan huruf ṡa’. Disebutkan bahwa ini termaktūb dalam Muṣḥaf ‘Abdullah. 1

Sebagian ahli qira’at lainnya membacanya ,

اوُنَّ يَ بَ تَ ف

dengan huruf ya’.

Maknanya yaitu, “tunggulah hingga kalian mengetahui kebenarannya.

Jangan terburu-buru menerimanya”. Begitu juga makna lafadz

اوُتَّ بَ ثَ تَ ف

“fataṡabbatū”. Pendapat yang benar tentang hal ini adalah, kedua-duanya merupakan qira’at yang sudah dikenal, dan maknanya pun tidak jauh berbeda. Oleh karena itu, dengan qira’at mana saja yang digunakan, telah dianggap benar.

1 Abu Ja’far Muhammad bin Jarīr al-Ṭabarī, Tafsir al-Ṭabarī, jilid 23 (Jakarta:

Pustaka Azzam, 2007), 715.

36

Selanjutnya maksud dari lafaz

ٍةَلاَهَِبِ اًمْوَ ق اوُبيِصُت نَأ

“agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya” ialah, maka periksalah dengan teliti, agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum yang tidak bersalah karena ketidaktahuan kalian akan keadaan mereka.2 Dan maksud dari lafaz

اوُحِبْص ُتَ ف

َينِمِدَنَ ْمُتْلَعَ ف اَم ىَلَع

“yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu

itu” adalah yang menyebabkan kalian menyesal karena kalian menimpakan musibah tersebut kepada mereka.3

Dalam tafsir al-Ṭabarī dijelaskan bahwa ayat ini turun pada Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith. Salah satu riwayat yang mendasari pernyataan ini adalah:

“Abu Kuraib menceritakan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Aun menceritakan kepada kami dari Musa bin Ubaidah, dari Tsabit (maula Ummu Salamah), dari Ummu Salamah, dia berkata, “Rasulullah mengutus seorang laki-laki untuk mengambil sedekah bani Musthaliq setelah peperangan. Mendengar hal ini, warga bani Musthaliq berniat menyambut laki-laki tersebut, sebagai bentuk penghormatan terhadap perintah Rasulullah. Namun syetan membisikkan ke dalam pikiran laki-laki tersebut bahwa mereka hendak membunuhnya, maka laki-laki tersebut kembali kepada Rasulullah dan berkata, ‘Sesungguhnya bani Musthaliq tidak mau menyerahkan sedekah mereka’. Rasulullah pun marah, begitu juga kaum muslim.

Sementara itu, warga bani Musthaliq yang mengetahui kembalinya laki-laki tersebut, segera mendatangi Rasulullah. Mereka tiba ketika Rasulullah sedang melakukan salat Zhuhur, maka mereka ikut salat bersama

2 Abu Ja’far Muhammad bin Jarīr al-Ṭabarī, Tafsir al-Ṭabarī, jilid 23, 716.

3 Abu Ja’far Muhammad bin Jarīr al-Ṭabarī, Tafsir al-Ṭabarī, jilid 23, 723.

37 beliau. Selesai salat, mereka berkata, ‘Kami berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah dan kemarahan Rasul-Nya. Engkau telah mengutus seseorang yang benar kepada kami, maka kami senang dengan hal itu dan sangat gembira, namun di tengah perjalanan dia kembali kepada engkau.

Kami khawatir hal ini merupakan pertanda murka Allah dan Rasul-Nya.

Mereka terus berbicara dengan Rasulullah hingga Bilal datang dan mengumandangkan azan Ashar.4 Lalu turunlah firman Allah,

اوُبيِصُت نَأ اوُنَّ يَ بَ تَ ف ٍإَبَ نِب قِساَف ْمُكَءاَج نِإ اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّ يَأَيَ

اوُحِبْصُتَ ف ٍةَلاَهَِبِ اًمْوَ ق

َينِمِدَنَ ْمُتْلَعَ ف اَم ىَلَع

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. al-Ḥujurāt/49: 6).

Penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa menurut Ibn Jarīr al-Ṭabarī jika ada orang fasik yang membawa sebuah berita ataupun informasi janganlah langsung diterima, periksalah dengan teliti berita tersebut, tunggulah terlebih dahulu mengenai kebenarannya. Tujuannya ialah menghindari suatu musibah kepada orang yang tidak bersalah, di samping itu melindungi seseorang dari sebuah penyesalan karena melakukan sesuatu kepada orang lain tanpa mereka tahu bagaimana keadaan sebenarnya orang tersebut. Bertabayyun juga penting diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari karena dapat menjauhkan seseorang dari prasangka-prasangka buruk terhadap orang lain, sebagaimana hadis yang dikeluarkan oleh Bukhari pada Kitab ke-78, Kitab Adab bab ke-85, yakni:

4 Abu Ja’far Muhammad bin Jarīr al-Ṭabarī, Tafsir al-Ṭabarī, jilid 23, 716-717.

38

ْمُكَّيَِإ :َلاَق َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص الله َلوُسَر نَأ ُهْنَع ُالله َيِضَر َةَرْ يَرُه ِبَأ ُثْيِدَح وُسَّسََتَ َلََو .ُثْيِدَْلحا ُبَذْكَأ َّنَّظلا َّنِإَف َّنَّظلاَو َلََو اوُشَج اَنَ ت َلََو اوُسَّسََتَ َلََو ا

.ًنَاَوْخِإ الله َداَبِع اوُنوُكَو .اوُرَ باَدَت َلََو اوُضُغ اَبَ ت َلََو اوُدَس اََتَ

“Abu Hurairah berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Waspadalah dari berprasangka, sebab berprasangka adalah perkataan yang paling dusta dan janganlah kalian mendengarkan pembicaraan orang lain (secara sembunyi-sembunyi), jangan mencari-cari kesalahan orang lain, jangan najasy (berpura-pura menawar untuk menjerumuskan orang lain), jangan saling iri, jangan saling membenci, dan jangan saling bermusuhan, dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara”.5

B. Penafsiran QS. al-Ḥujurāt/49: 6 dalam Tafsir al-Munīr

ٍةَلاَهَِبِ اًمْوَ ق اوُبيِصُت نَأ اوُنَّ يَ بَ تَ ف ٍإَبَ نِب قِساَف ْمُكَءاَج نِإ اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّ يَأَيَ

اَم ىَلَع اوُحِبْصُتَ ف َينِمِدَنَ ْمُتْلَعَ ف

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. al-Ḥujurāt/49]: 6).

Dalam kitab tafsirnya Wahbah al-Zuḥaylī menjelaskan penafsirannya melalui i’rab dan mufradat. Adapun penjelasan i’rabnya yakni (

َنيِذَّلا اَهُّ يَأَيَ

نَأ اوُنَّ يَ بَ تَ ف ٍإَبَ نِب قِساَف ْمُكَءاَج نِإ اوُنَمآ ةَلاَهَِبِ اًمْوَ ق اوُبيِصُت

َ ٌ )Kalimat (

اوُبيِصُت نَأ

) memiliki

dua versi perkiraan. Pertama, (

اوُبْ يِصُت ْنَأ ةَيِهارَك

) (karena tidak ingin menimpakan sesuatu yang tidak baik). Kedua, (

اوُبْ يِصُت َّلََئِل

) (agar kalian tidak menimpakan sesuatu yang tidak baik). Kata (

ٍةَلاَهَِبِ

) hāl dari fā’il yang terdapat pada (

اوُنَّ يَ بَ تَ ف

) yakni, (

ْينِلِهاَج

) (sedang kalian tidak mengetahui keadaan sebenarnya).

5 Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Hadits Shahih Bukhari Muslim, terj. Abu Firly Bassam Taqiy (Depok: Fathan Prima Media, 2013), 726.

39

Dan mengenai penjelasan penafsirannya melalui mufradat lughawiyyah sebagai berikut; (

قِساَف

)َorang yang keluar dari batasan agama atau syari’at. Kata ini diambil dari, (

بَطُّرلا َقَسَف

) (buah kurma keluar dari kulitnya). (

قْوُسُفْلا

) keluar dan terkelupas dari sesuatu. (

ٍإَبَ نِب

) berita. (

اوُنَّ يَ بَ تَ ف

)

lakukanlah verifikasi untuk mencari kebenarannya, apakah benar atau bohong. Ada yang membacanya (اوُتُ بْ ثَ تَ ف), dari akar kata (

اوُبيِصُت نَأ( .)تاَبَّ ثلا)

khawatir jangan sampai kalian menimpakan suatu hal yang tidak diinginkan atas suatu kaum. (

اوُحِبْصُتَ ف

) sehingga kalian menjadi.(َ)

ْمُتْلَعَ ف اَم ىَلَع

kekeliruan yang kalian lakukan terhadap kaum tersebut. (

َينِمِدَنَ

) bersedih, menyesal dan mengharapkan andai itu tiak terjadi.6

Di dalam tafsir al-Munīr disebutkan bahwa, “wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, apabila datang kepada kalian seorang pendusta yang tidak melihat konsekuensi kedustaannya (fasik) dengan membawa berita yang merugikan seseorang, maka telitilah terlebih dahulu, lakukanlah verifikasi terhadap kasusnya, jangan kalian terburu-buru mengambil kesimpulan sampai kalian benar-benar menyelidiki kasusnya dan memverifikasi kabar berita yang ada secara seksama, supaya kebenarannya terlihat jelas. Dikhawatirkan kalian akan menimpakan musibah kepada suatu kaum dan menimpakan kemudharatan yang tidak semestinya menimpa mereka, sedang kalian tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Sehingga, karena hal tersebut, kalian merasa menyesal, bersalah, bersedih hati dan mengharapkan andai saja semua itu tidak terjadi”.7

6 Wahbah al-Zuḥailī, Tafsir al-Munīr, jilid 13 (Jakarta: Gema Insani, 2016), 456.

7 Wahbah al-Zuḥailī, Tafsir al-Munīr, jilid 13, 458.

40

Kata َ إ ب ن بَ

قِساَف

di sini disebutkan dalam bentuk nakirah. Hal ini menunjukkan pengertian umum mencakup semua orang fasik dan semua bentuk berita. Seakan-akan disini dikatakan, “jika ada orang fasik siapa pun itu yang datang kepada kalian dengan membawa berita, teliti dan selidikilah terlebih dahulu kebenarannya secara seksama, jangan kalian percayai begitu saja perkataan orang fasik.” Sebab, orang yang tidak memelihara dirinya dari kebohongan yang masih satu bentuk dari kefasikan. Ayat ini menunjukkan bahwa berita yang dibawa satu orang adil (memiliki integritas keagamaan dan moral) adalah hujjah dan kesaksian orang fasik tidak diterima.8

Berdasarkan ayat di atas Wahbah al-Zuḥaylī memberikan penegasan bahwa apabila datang suatu berita dari golongan orang-orang yang sudah pasti tidak bisa dipercaya kesaksiannya, tidak memikirkan dampak negatif dari apa yang disebarkan, bahkan bisa saja merugikan orang lain. Ia menganjurkan untuk meneliti dahulu beritanya dengan cara mencari informasi dari sumber yang bisa dipercaya. Jangan langsung mempercayai berita yang beredar dengan mengambil kesimpulan secara terburu-buru. Hal ini bertujuan agar kebenaran suatu kabar berita terungkap jelas sehingga tidak menimbulkan permasalahan baru yang rumit atau bisa memperkeruh keadaan.

Banyak ulama tafsir yang menuturkan bahwa ayat ini turun terkait dengan Walid bin Uqbah. Ibn Jarīr, Ahmad, Ibn Abi Hatim, Thabrani, Ibn Abid Dunya, dan Ibn Murdawaih meriwayatkan dengan sanad jayyid dari Ibn Abbas, “Ayat ini turun berkaitan dengan Walid bin Uqbah bin Abi

8 Wahbah al-Zuḥailī, Tafsir al-Munīr, jilid 13, 459.

41 Mu’aith. Rasulullah mengutusnya kepada Bani Mushthaliq sebagai petugas pengumpul zakat. Saat itu hubungan antara Walid dengan Bani Mushthaliq saling membenci. Ketika Bani Mushthaliq mendengar bahwa Walid menuju tempat mereka, mereka pun bergegas menyambutnya. Ketika Walid mendengar bahwa Bani Mushthaliq berjalan menuju ke arahnya, ia pun takut dan memutuskan untuk kembali pulang. Ia berkata, “Bani Mushthaliq ingin membunuhku dan mereka tidak mau membayar zakat.” Mendengar laporan tersebut, Rasulullah berencana menyerang mereka. Dalam suasana seperti itu, datanglah delegasi Bani Mushthaliq dan berkata, “Wahai Rasulullah, kami mendengar kedatangan utusan anda, kami pun keluar menyambutnya dan menyerahkan zakat kami.” Beliau pun mencurigai mereka dan berkata, “Berhentilah dari perbuatan kalian itu atau sungguh akan kuutus kepada kalian seseorang yang bagiku ia seperti diriku sendiri, memerangi pasukan kalian dan menawan kaum perempuan dan anak-anak kalian.” Kemudian beliau menepuk bahu Ali bin Abi Thalib. Mereka pun berkata, “Kami berlindung kepada Allah dan murka-Nya dan murka Rasul-Nya.”

Ada yang mengatakan, Rasulullah mengutus Khalid bin Walid kepada mereka. Sesampainya di sana, ia mendapati mereka sedang menyerukan salat dan bertahajud. Lalu mereka menyerahkan zakat kepadanya, kemudian ia kembali pulang.

Tidak diperselisihkan lagi, orang yang membawa berita tersebut adalah Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith. Ayat ini meskipun dilatarbelakangi oleh sebab khusus, namun ayat ini bersifat umum menerangkan sikap verifikasi terhadap berita yang datang, tidak langsung memercayai perkataan orang fasik. Hasan al-Bashri mengatakan, “Demi

42

Allah, jika ayat ini secara khusus turun terkait dengan kaum tersebut, ayat ini akan tetap hingga hari Kiamat, tiada suatu apa pun yang menasakhnya.”

Al-Razi menguatkan hal di atas dengan menyatakan, “Menyematkan sebutan fasik terhadap Walid bin Uqbah adalah hal buruk dan terlalu jauh.

Sebab dalam kasus tersebut, dirinya berasumsi, lalu ternyata keliru. Orang yang keliru tanpa ada faktor kesengajaan tidak bisa disebut fasik. Apalagi sebutan fasik ada di banyak tempat. Maksud fasik adalah orang yang keluar dari tali iman.

Namun mayoritas ulama tafsir berpandangan, Walid bin Uqbah dulunya adalah orang terpercaya di mata Rasulullah lalu ia fasik karena kebohongannya yang zahir, Walid disebut fasik, yang dimaksudkan bukanlah dalam pengertian yang sebenarnya, itu hanya bertujuan memberi efek jera supaya jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan dalam suatu urusan tanpa ada verifikasi. Karena dalam kasus tersebut, Walid termasuk orang yang melakukan interpretasi dan ijtihad. Jadi, pada hakikatnya ia tidaklah fasik.9

C. Analisa Perbandingan Penafsiran Ibn Jarīr al-Ṭabarī dan Wahbah al-Zuḥaylī

Berdasarkan penafsiran kedua mufasir mengenai QS. al-Ḥujurāt/49:

6, penulis menganalisasi bahwa terdapat kesamaan dan perbedaan di antara keduanya. Adapun kesamaan di antara keduanya yakni, mengenai perbedaan bacaan di kalangan ulama qira’at terhadap kata fatabayyanū dan fataṡabbatū, kedua mufasir sepakat bahwa kedua kata tersebut memiliki arti yang sama yakni meneliti ataupun mencari tahu kebenaran suatu berita.

Selain itu kedua mufasir sama-sama menegaskan pentingnya tabayyun

9 Wahbah al-Zuḥailī, Tafsir al-Munīr, jilid 13, 457-458.

43 (meneliti dan memverifikasi) berita dan informasi yang dibawa oleh orang-orang fasik. Dengan tujuan mengungkap suatu kebenaran berita tersebut. Di samping itu menghindari musibah bagi orang-orang yang tidak bersalah sekaligus menghindari penyesalan bagi orang-orang yang mengambil keputusan tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Perbedaan di antara kedua penafsirannya ialah, pertama dalam memaknai kata fatabayanū. Menurut al-Ṭabarī kata fatabayyanū dimaknai sebagai “periksalah dengan teliti”. Sedangkan Wahbah al-Zuḥaylī memaknai kata tersebut sebagai “lakukanlah verifikasi kebenarannya, apakah benar atau bohong.” Dengan demikian menurut penulis dalam hal ini Wahbah al-Zuḥaylī terlihat lebih spesifik dalam memaknai kata fatabayyanū dibandingkan Ibn Jarīr al-Ṭabarī, karena lebih menekankan pada kebenaran ataupun ketidak benaran suatu berita.

Perbedaan yang kedua terletak pada sistematika penafsiran, dalam sistematika tafsir al-Ṭabarī hanya terdiri dari penjelasan maksud dari potongan-potongan ayat dan penjelasan asbāb al-Nuzūl dengan menggunakan beberapa riwayat. Sedangkan sistematika dalam tafsir al-Munīr terlihat lebih rinci dalam penafsirannya, karena terdapat penjesalan mengenai maksud ayat, juga terdapat penjelasan mengenai sisi kebahasaan baik dari segi makna mufradat, i’rab dan balaghah. Selain itu terdapat asbāb an-Nuzūl meskipun tidak sebanyak riwayat yang digunakan dalam

Perbedaan yang kedua terletak pada sistematika penafsiran, dalam sistematika tafsir al-Ṭabarī hanya terdiri dari penjelasan maksud dari potongan-potongan ayat dan penjelasan asbāb al-Nuzūl dengan menggunakan beberapa riwayat. Sedangkan sistematika dalam tafsir al-Munīr terlihat lebih rinci dalam penafsirannya, karena terdapat penjesalan mengenai maksud ayat, juga terdapat penjelasan mengenai sisi kebahasaan baik dari segi makna mufradat, i’rab dan balaghah. Selain itu terdapat asbāb an-Nuzūl meskipun tidak sebanyak riwayat yang digunakan dalam