BAB II KAJIAN TEORI
4. Metode dalam Memprediksi Kebangkrutan
Metode Altman Z-Score merupakan metode yang dikembangkan oleh seorang peneliti berkebangsaan Amerika Serikat bernama Edward I. Altman pada tahun 1968. Dalam studinya, setelah menyeleksi 22 rasio keuangan, Altman menemukan 5 rasio yang dapat dikombinasikan untuk
melihat perbedaan antara perusahaan yang bangkrut dan tidak bangkrut. (Rudianto, 2013:254)
Model prediksi kebangkrutan sudah dikembangkan ke beberapa negara. Altman (1983-1984) melakukan survei model-model yang dikembangkan di Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Swis, Brazil, Australia, Inggris, Irlandia, Kanada, Belanda, dan Perancis. Salah satu masalah yang bisa dibahas apakah ada kesamaan rasio keuangan yang bisa dipakai untuk prediksi kebangkrutan untuk semua negara, ataukah mempunyai kekhususan. (Hanafi dan Halim, 2007:274)
Rumus diskriminan Z-Score Altman (Rudianto, 2013:255) adalah sebagai berikut:
Z = 0,717X1 + 0,847X2 + 3,107X3 + 0,420X4 + 0,988X5 Dimana:
Z = Overal Index
X1 =Working Capital / Total Assets X2 = Retained Earnings / Total Assets X3 = EBIT / Total Assets
X4 = Market Value Equity / Book Value of Total Debt X5 = Sales / Total Assets
Hasil indeks diskriminan Z-Score mengkategorikan perusahaan ke dalam zona yang ditentukan, yaitu:
1) Perusahaan yang mempunyai skor Z > 2,675 diklasifikasikan sebagai perusahaan sehat.
2) Perusahaan yang mempunyai skor Z < 1,81 diklasifikasikan sebagai perusahaan potensial bangkrut.
3) Perusahaan yang mempunyai skor 1,81 ≤ Z ≤ 2,675 diklasifikasikan sebagai perusahaan pada grey area atau daerah kelabu.
b. Model Zmijewski Score
Mark Zmijewski juga melakukan penelitian untuk memprediksi keberlangsungan hidup sebuah badan usaha. Dari hasil penelitian Zmijewski menghasilkan rumus yang dapat digunakan untuk
memprediksi potensi kebangkrutan perusahaan yang disebut sebagai Zmijewski Score. Model ini dihasilkan oleh Zmijewski pada tahun 1984 sebagai pengembangan dari berbagai model yang telah ada sebelumnya. Zmijewski Score adalah model rasio yang menggunakan multiple
discriminate analysis (MDA). Dalam metode MDA ini diperlukan lebih
dari satu rasio keuangan yang berkaitan dengan kebangkrutan perusahaan untuk membentuk model yang baik. (Rudianto, 2013:264).
Zmijewski menggunakan analisis rasio yang mengukur kinerja, leverage, dan likuiditas perusahaan untuk model prediksi kebangkrutan yang dibangunnya. Model ini menekankan pada jumlah utang sebagai komponen yang paling berpengaruh terhadap kebangkrutan.
Hasil penelitian tersebut menghasilkan rumus Zmijewski Score untuk berbagai jenis perusahaan, seperti berikut ini: (Rudianto, 2013:264) Keterangan: Z = Indeks Kebangkrutan
-4,3 -4,5 5,7 dan -0,004 = Konstanta yang telah ditetapkan Mark Zmijewski
Kriteria yang digunakan dalam metode ini adalah semakin besar hasil yang didapat dengan rumus tersebut berarti semakin besar pula potensi kebangkrutan perusahaan bersangkutan dan semakin kecil hasil yang didapat dengan rumus tersebut maka kecil pula potensi kebangkrutan perusahaan.
Z < 0 Jika perusahaan bernilai negatif maka perusahaan tidak berpotensi bangkrut
Z >0 Jika perusahaan bernilai positif maka perusahaan berpotensi bangkrut
d. Metode Springate S-Score
Springate merumuskan model prediksi kebangkrutan pada tahun 1978. Dalam perumusannya, Springate menggunakan metode yang sama dengan Altman, yaitu Multiple Discriminant Analysis (MDA). Pada awalnya model S-Score terdiri dari 19 rasio keuangan yang populer. Setelah melalui uji yang sama dengan yang dilakukan Altman, Springate memilih menggunakan 4 rasio yang dipercaya bisa membedakan antara perusahaan yang mengalami kebangkrutan dan yang tidak mengalami kebangkrutan. Model yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
S-Score = 1,03X1 + 3,07X2 +0,66X3 +0,4X4
Keterangan :
X1 = Working capital / total asset
X2 = Net profit before interest and taxes / total asset X3 = Net profit before taxes / current liability X4 = Sales / total asset
Menurut Springate, perusahaan akan diklasifikasikan bangkrut jika memiliki skor kurang dari 0,862 (S < 0,862). Sebaliknya, jika hasil perhitungan S-Score melebihi atau sama dengan 0,862 (S ≥ 0,862), maka perusahaan termasuk dalam klasifikasi perusahaan yang sehat secara keuangan. (Rudianto, 2013:262)
e. Metode Grover Score
Model Grover merupakan model yang diciptakan dengan melakukan pendesainan dan penilaian ulang terhadap model altman Z-score. Jeffrey S. Grover menggunakan sampel sesuai dengan model
altman Z-score pada tahun 1968 dengan menambahkan 13 rasio keuangan baru. Sampel yang digunakan sebanyak 70 perusahaan dengan 35 perusahaan yang bangkrut dan 35 perusahaan yang tidak bangkrut pada tahun1982 sampai 1996. (Thanjaya, 2016: 4)
Model Grover Score tersusun atas komponen satu rasio likuiditas (Working capital/Total assets) dan dua rasio profitabilitas (Earnings
before interest and taxes/Total assets dan ROA). Model Grover Score
tidak menggunakan komponen rasio solvabilitas tetapi model Grover
Score ini lebih menitikberatkan komponen profitabilitas dengan
menggunakan dua rasio profitabilitas sekaligus. (Jayanti, 2015:103) Jeffrey S. Grover (dalam Desmawati, Kamaliah dan Wijaya 2016: 6) menggunakan rumus untuk menganalisis kebangkrutan adalah sebagai berikut:
Dimana :
G-Score = Overall Index
X1 = Working Capital/Total assets
X2 = Earnings Before Interest and Taxes/Total Assets ROA = Net Income/Total Assets
Standar Penilaian Kelangsungan Hidup Perusahaan menurut Grover yaitu:
1. Perusahaan yang mempunyai skor G ≤ -0,02 berarti perusahaan dalam keadaan bangkrut (mengalami kesulitan keuangan dan risiko yang tinggi)
2. Perusahaan yang mempunyai skor G ≥ 0,01 berarti perusahaan tidak bangkrut, dimana perusahaan dalam kondisi sehat sehingga kemungkinan kebangkrutan sangat kecil terjadi
Rasio-rasio di atas digunakan untuk menganalisis laporan keuangan yang kemudian dilakukan analisis lebih lanjut untuk memprediksi tingkat kebangkrutan sebuah perusahaan. Dalam
manajemen keuangan, rasio-rasio yang digunakan dalam metode Grover ini dapat dikategorikan dalam tiga kelompok besar yaitu:
1) X1
X1 adalah modal kerja terhadap total aset (Working Capital to
Total Asset) rumus ini merupakan rumus yang berada pada rasio
likuiditas. Menurut Samryn (2012:416) rasio likuiditas merupakan suatu perbandingan antara total aktiva lancar dengan total hutang lancar. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan menutupi utang-utang jangka pendeknya dengan aktiva lancar.
Semakin tinggi rasio likuiditas, maka semakin kecil kemungkinan perusahaan akan mengalami kebangkrutan, akan tetapi rasio likuiditas yang terlalu tinggi menunjukkan bahwa modal kerja perusahaan tidak produktif mengakibatkan munculnya biaya-biaya yang akan mengurangi laba perusahaan dan akan berpengaruh positif terhadap kebangkrutan.
Modal kerja terhadap total aset (Working Capital to Total Asset), X1 =
Nofrivul (2008:13) menyatakan rumus ini adalah untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Aset likuit bersih atau modal kerja didefinisikan sebagai aset lancar dikurangi total kewajiban lancar (aset lancer – utang lancar). Umumnya, bila perusahaan mengalami kesulitan keuangan, modal kerja akan turun lebih cepat dibandingkan dengan total aset sehingga menyebabkan rasio ini turun.
2) X2
X2 adalah laba sebelum pajak dan bunga terhadap total harta
(Earning Before Interest and Tax to Total Asset) rumus ini merupakan
rumus yang berada pada rasio profitabilitas. Rasio profitabilitas adalah mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Sehingga semakin tinggi perusahaan menghasilkan laba, maka
semakin kecil kemungkinan perusahaan akan mengalami kebangkrutan. Hanafi dan Halim (2007:165)
Laba sebelum pajak dan bunga terhadap total harta (Earning
Before Interest and Tax to Total Asset)
X2=
Rasio ini digunakan untuk mengukur produktivitas yang sebenarnya dari aktiva perusahaan. Menurut (Sudana, 2015:26) rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba sebelum bunga dan pajak dengan menggunakan total aktiva yang dimiliki perusahaan. Dengan kata lain rasio ini mencerminkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan seluruh investasi yang telah dilakukan perusahaan. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin efektif dan efisien pengelolaan seluruh aktiva yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan laba sebelum bunga dan pajak.
3) ROA (Return on Asset)
ROA adalah kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan total aset yang dimiliki perusahaan setelah disesuaikan dengan biaya-biaya untuk mendanai aset tersebut.
Sudana (2015:25) menyatakan ROA menunjukkan kemampuan perusahaan dengan menggunakan seluruh aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba setelah pajak atau laba bersih. Rasio ini penting untuk pihak manajemen untuk mengevaluasi efektivitas dan efisiensi manajemen perusahaan dalam mengelola seluruh aktiva perusahaan. Semakin besar ROA, berarti semakin efisien penggunaan aktiva perusahaan atau dengan kata lain dengan jumlah aktiva yang sama bisa dihasilkan laba yang lebih besar, dan sebaliknya.