Al-Shabuni dalam menafsirkan Al-Qur’an menggunakan metode analisis (tahlili)215 yang dijabarkan dengan sepuluh langkah seperti dalam tafsirnya terdahulu, tafsir Rawaih al-Bayan.216 Namun dalam Shafwah al-Tafasir ini ia menggunakan sistematika yang lebih simpel, dengan memilih tujuh sistematika yang dianggapnya urgen. Sistematika tersebut seperti yang dijelaskan Al-Shabuni dalam muqaddimah tafsirnya sebagai berikut.217
a. Menjelaskan makna global,
Al-Shabuni sebagai seorang ahli Al-Qur’an mengawali tafsirnya pada suatu surat dengan penjelasan isi secara global pada surat yang akan ia bahas. Dengan
214 Muẖammad Ali Al-Shâbûnî, Shafwah al-Tafâsîr Op.Cit. hlm 14
215 Metode Tahlili adalah menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dengan meneliti aspeknya dan menyingkap seluruh maksudnya, mulai dari uraian makna kosakata, makna kalimat, maksud setiap ungkapan, kaitan antar pemisah (munasabah), hingga sisi keterkaitan antar pemisah itu (wajh al-munasabah), dengan bantuan asbab an-nuzul, riwayat-riwayat yang berasal dari Nabi SAW., sahabat dan tabiin, dengan melihat susunan mushaf, ayat perayat, serta surat per surat. Lihat Rosihon Anwar,
Ilmu Tafsir (Bandung: Pustaka Setia, 2005), hlm., 154.
216 Ash-Shabuni, Rawâih al-Bayân Tafsir Ayat Al-Ahkam Min
Al-Qur’an, (Jakarta: Dâr Al-Kitab Al-Islamiyah, 2001) hlm 8.
217 Muẖammad Ali Al-Shâbûnî, Shafwah al-Tafâsîr , Op.Cit. hlm 15.
Badruzzaman M. Yunus & Sofyana Jamil
menjelaskan surat tersebut masuk dalam makiyah atau madaniyah, dan menjelaskan pokok pembahasan dalam surat tersebut. Bahasa yang dipakai yaitu baina Yadai al-Surah. Pada Baina Yadai al-Surah terdapat dua aspek pembahasan, pertama menjelaskan surat tersebut masuk dalam surat makiyah atau madaniyah. Kedua, menjelaskan isi dalam surat tersebut secara global. Berikut interpretasi Al-Shabuni dalam surat al-fatihah.
Al-fatihah termasuk dalam surat Makiyah, menurut consensus surat ini mempunyai tujuh ayat. Dinamakan al-Fatihah karena sebagai pembuka dalam Al-Qur’an, juga berdasarkan susunan surat yang berada pada permulaan walaupun bukan permulaan turunnya surat dalam Al-Qur’an. Surat Al-Fatihah telah mencakup pembahasaan yang ada dalam Al-Qur’an, di dalamnya terkandung ushuluddin dan cabangnya, aqidah, ibadah dan tasyri’, iman kepada sifat Allah, keimanan kepada hari kiamat, isti’anah (pertolongan), doa, hidayah, jalan yang lurus dan masih banyak lagi kandungan surat di dalamnya, karena kandungan makna yang begitu luas maka tidak heran disebut juga ummul kitab.218 Setelah pembahasan Baina Yadai al-Surah terdapat pembahasan keutamaan surat dan alasan penamaan surat.219 b. Munasabah ayat dengan ayat
Setiap penafsirannya Al-Shabuni memperhatikan munasabah ayat dengan ayat lainnya. Ia menginterpretasi
218 Muẖammad Ali Al-Shâbûnî, Shafwah al-Tafâsîr Op.Cit. juz 1, hlm 18.
219 Muẖammad Ali Al-Shâbûnî, Shafwah al-Tafâsîr Op.Cit. juz 1, hlm 18, 23, dan 155.
Badruzzaman M. Yunus & Sofyana Jamil
ayat dengan melihat ayat lain yang mempunyai korelasi. Munasabah merupakan keterkaitan satu ayat dengan ayat lain atau surat dengna surat yang lainnya. Seperti contoh penafsirannya dalam menjelaskan alaqah (hubungan) antar ayat pada surat Ali-Imran: 95-103.
Allah menceritakan keadaan orang-orang kafir dan hartanya di akhirat. Sesungguhnya apabila mereka memenuhi bumi dengan emas dan perak maka semua itu tidak bermanfaat. Karena yang dibutuhkan adalah ridha Allah sehingga mendapatkan kebahagiaan di surga.220
c. Menjelaskan makna bahasa
Setelah menjelaskan munasabah ayat, langkah selanjutnya dengan menjelaskan makna bahasa. Bahasa yang menjadi perhatian Al-Shabuni bukan semua bahasa, melainkan bahasa yang menurutnya sulit. Terkadang Ia menjelaskan bahasa yang sulit dengan melihat syair-syair.
Sebagaimana penjelasan makna bahasa yang digunakan oleh Al-Shabuni pada surat al-An’am/6: 111.
ْمِهْيَلَع اَن ْرَشَح َو ىَت ْوَمْلا ُمُهَمَّلَك َو َةَكِئ َلاَمْلا ُمِهْيَلِإ اَنْل َّزَن اَنَّنَأ ْوَل َو
ْمُه َرَثْكَأ َّنِكَل َو ُ َّاللَّ َءاَشَي ْنَأ َّلَِّإ اوُنِم ْؤُيِل اوُناَك اَم ًلاُبُق ٍءْيَش َّلُك
َنوُلَهْجَي
Artinya: ”Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman,
220 Muẖammad Ali Al-Shâbûnî, Shafwah al-Tafâsîr Op.Cit. juz 1, hlm 184.
Badruzzaman M. Yunus & Sofyana Jamil
kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. ( surat al-An’am/6: 111 ).221
Al-Shabuni menjelaskan makna bahasa term” ًلاُبُﻗ “ pada surat di atas, ia menjelaskan: ًلاُبُﻗ menurut bahasa berarti bertemu dan bermuajahah (bertatap muka) seperti perkataan: ا ًرُبُد َلا ًلاُبُﻗ َكُتْيَتَا "saya mendatangimu dari depan bukan dari belakang”. Makna yang dimaksud dari perkataan ini adalah datang dari arah depan yakni arah depan wajah. Lanjut Al-Shabuni menjelaskan makna term :اَن ْرَشَح َو
menurut bahasa bermakna kumpul dengan cara menggiring seperti ayat : َداَنَف َرَشَﺤَف.222
d. Mengemukakan asbab al-nuzul
Al-Shabuni menyertakan sebab turunnya ayat yang memang mempunyai latar belakang. Asbab al-nuzul dalam pemahaman Al-Qur’an sangat penting, dengan ilmu tersebut maksud Al-Qur’an bisa diketahui dengan memahami konteks dan historis ketika nas itu diturunkan.
Sebagaimana kitab tafsir pada umumnya, dalam Shafwah al-Tafasir juga terdapat asbab al-nuzul apabila ayat yang ditafsirkannya terdapat latar belakang, baik mempunyai sanad atau tidak. Namum biasanya sanad ( rentetan para perawi hadits ) yang dikemukakan hanya sampai pada tingkat sahabat saja.
Berikut paparan Al-Shabuni berkaitan dengan latar belakang surat Al-Kahfi/18: 29.
221 Al-Qur’an Dan Terjemahnya,Op.Cit. hlm.206.
222 Muẖammad Ali Al-Shâbûnî, Shafwah al-Tafâsîr Op.Cit. juz 1, hlm 351.
Badruzzaman M. Yunus & Sofyana Jamil
اَّنِإ ْرُفْكَيْلَف َءاَش ْنَم َو ْنِم ْؤُيْلَف َءاَش ْنَمَف ْمُكِ ب َر ْنِم ُّقَحْلا ِلُق َو
َتْسَي ْنِإ َو اَهُقِدا َرُس ْمِهِب َطاَحَأ ا ًراَن َنيِمِلاَّظلِل اَنْدَتْعَأ
اوُثاَغُي اوُثيِغ
اًقَفَت ْرُم ْتَءاَس َو ُبا َرَّشلا َسْئِب َهوُج ُوْلا يِوْشَي ِلْهُمْلاَك ٍءاَمِب
Artinya:” Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.223Al-Shabuni menjelaskan asbab al-nuzul surat ini yaitu: “berkenaan ketika pembesar-pembesar kaum Quraisy y berkumpul dengan Nabi, mereka mengatakan kepada Nabi Saw. :”apabila engkau (Nabi) menginginkan kami beriman kepadamu, maka usir kaum dhuafa yang mengikutimu” yang diisyaratkan kaum dhuafa yang dikatakan pembesar-pembesar Quraisy y seperti Bilal, Khabbab, Shuahib dan yang lainnya. Sesungguhnya kami tidak sudi berkumpul dengan mereka, atau sediakan waktu dan tempat untuk kami sehingga tidak berkumpul dengan mereka. Lalu turun surat Al-Kahfi/18:28.
Badruzzaman M. Yunus & Sofyana Jamil
ِ يِشَعْلا َو ِةاَدَغْلاِب ْمُهَّب َر َنوُعْدَي َنيِذَّلا َعَم َكَسْفَن ْرِبْصا َو
ْمُهْنَع َكاَنْيَع ُدْعَت َلَّ َو ُهَهْج َو َنوُدي ِرُي.
224Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka
e. Penafsiran ayat
Setelah Al-Shabuni menjelaskan secara global, makna bahasa, munasabah dan asbab al-nuzul, dilanjutkan dengan menafsirkan ayat secara ringkas. Ia mengumpulkan ayat yang mempunyai satu pembahasan, dengan sesuai urutan ayat seperti dalam Al-Qur’an.
Berikut contoh penafsiran ayat pada surat al-Insan/76 : 30.
اًميِكَح اًميِلَع َناَك َ َّاللَّ َّنِإ ُ َّاللَّ َءاَشَي ْنَأ َّلَِّإ َنوُءاَشَت اَم َو
“Artinya:”Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”225Firman Allah SWT.:
َُّاللَّ َءاَشَي ْنَأ َّلَِّإ َنوُءاَشَت ا َم َو
“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah”. Maksudnya manusia tidak mempunyai kekuasaan atas sesuatu perkara dari beberapa masalah. Kecuali dengan ketentuan Allah SWT., dan kehendak-Nya. Manusia tidak akan mendapatkan manfaat dari ketaatan dan224 Muẖammad Ali Al-Shâbûnî, Shafwah al-Tafâsîr Op.Cit. juz 2, hlm 668.
Badruzzaman M. Yunus & Sofyana Jamil
keistiqamahannya kecuali dengan izin dan kehendak-Nya, Ibnu Katsir berkata :”tidak ada seorangpun yang bisa menunjukan dirinya pada hidayah, dan membuat seseorang beriman serta memberikan kemanfaatan pada dirinya. Semua itu tidak akan bisa terjadi kecuali dengan kehendak Allah SWT..226
Firman Allah SWT.:
اًميِكَح اًميِلَع َناَك َ َّاللَّ َّنِإ
“ maksudnya Allah mengetahui keadaan semua makhluknya. Mengetahui siapa yang berhak mendapat hidayah dan akan memudahkannya mendapatkan petunjuk. Bagi seseorang yang patut mendapat kesesatan maka Allah akan memudahkan sebab kepadanya. Semua itu merupakan hikmah yang serasi (adil) dan argumen yang tidak terbantahkan.Firman Allah SWT.:
ِهِتَمْح َر يِف ُءاَشَي ْنَم ُل ِخْدُي
“Dia memasukan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya (surga)”. Allah memasukan hambanya ke dalam surga karena kemuliaan kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Dan menjadikan mereka beriman.227Al-Shabuni dalam penafsirannya sangat jarang menukil riwayat sahabat atau hadits. Ia mengawali penafsiran dengan pendapatnya sendiri, bila dirasa penafsirannya masih kurang jelas atau kuat, maka ia melegitimasi pendapatnya dengan mengutip Al-Qur’an, hadits dan atsar serta qaul
226 Muẖammad Ali Al-Shâbûnî, Shafwah al-Tafâsîr Op.Cit. juz 3, hlm 1438.
227 Muẖammad Ali Al-Shâbûnî, Shafwah al-Tafâsîr Op.Cit. juz 3, hlm 1438.
Badruzzaman M. Yunus & Sofyana Jamil
ulama. Itu semua dilakukan apabila menurutnya diperlukan.228
f. Aspek retorika (aspek sastrawi)
Pembahasan aspek retorika dalam tafsir ini sangat banyak, bisa dipastikan pada setiap ayat yang dibahas setelah penafsiran ada pembahasan balagah, hal tersebut karena perhatian Al-Shabuni pada aspek sastrawi ini sangat besar. Di antara Penjelasan Al-Shabuni dalam membahas segi retorika seperti pada surat Muhammad/47:20-38.
1) Muqabalah (perbandingan) antara ayat (
ْمُهَلاَمْعَأ َّلَضَأ
(ِالله ِل ْب ِب َس ْن َع ا ْو ُّد َص َو ا ْو ُر َف َك َن ْي ِذ َّل َا
dan( ا ْو ُن َمآ َن ْي ِذ َّلا َو
َو
َع
ِم
ُل
َّصلا او
ِلا
َح
ِتا ).
Perbandingan kedua ayat tersebut merupakan keindahan ilmu badi’.2) Penyebutan kalimat khas ( tertentu ) setelah ‘am ( umum ): )
ٍدَّمَحُم ىَلَع َل ِ زُن اَمِب اوُنَمآ َو
) pendahuluan khas dari ‘am untuk menunjukan kehalusan penghormatan atas keimanan mereka.229g. Terdapat fawaid dan lataif ( faidah-faidah dan esensi ) makna ayat
Setelah membahas dari sisi balaghah, Al-Shabuni melanjutkan dengan menjelaskan fawaid (faidah-faidah) pada ayat-ayat yang sedang ia bahas, namun tidak semua ayat yang sedang dibahas terdapat fawaid. Setelah menjelaskan
228 Muẖammad Ali Al-Shâbûnî, Shafwah al-Tafâsîr Op.Cit. juz 3, hlm 1439.
229 Muẖammad Ali Al-Shâbûnî, Shafwah al-Tafâsîr Op.Cit. juz 2, hlm 1185.
Badruzzaman M. Yunus & Sofyana Jamil
fawaid, diteruskan dengan menjelaskan lataif yang ada pada ayat yang sedang dibahas, namun seperti fawaid, tidak semua ayat yang dijelaskan terdapat lataif .
Adapun contoh fawaid dapat dilihat dalam pemaparan Al-Shabuni pada surat Ali-Imran : 169-180.
Berkaitan dengan firman Allah SWT.,:
ُالله ا ُبَن ْس َح
َو
ِن
ْع
َم
ْلا
َو
ِك
ْي
ِل ,
Al-Shabuni menjelaskan ayat tersebut merupakan kalimat yang diucapkan Nabi Ibrahim As ketika akan dibakar. Kemudian Allah menyelamatkannya dari kobaran api dan menjadikannya dingin sehingga selamatlah Nabi Ibrahm As. Lebih jauh lagi, Al-Shabuni mengutip pendapat Al-Suyuti, yang menganjurkan membaca ayat tersebut apabila ditimpa kesedihan dan banyak cobaan.230Setelah membahas fawaid, Al-Shabuni menjelaskan lataif yang terdapat pada ayat yang ia bahas, contohnya dapat dilihat dalam pemaparan surat Yusuf/12: 43-68.
Al-Shabuni menjelaskan bahwa sebagian ulama berpendapat kecintaan wanita kepada Nabi Yusuf karena syahwat, sampai Allah mengangkatnya dengan derajat kenabian. Sehingga kecintaan para wanita dan para pengikut kepada Nabi Yusuf berubah menjadi mencintai kebenaran.231
Selain tujuh sistematika penyajian tersebut, Al-Shabuni juga menafsirkan dengan melihat dari segi ‘irab (nahwu dan sharaf), menjelaskan fadhlu al-surah (keutamaan
230 Muẖammad Ali Al-Shâbûnî, Shafwah al-Tafâsîr Op.Cit. juz 1, hlm 209.
231 Muẖammad Ali Al-Shâbûnî, Shafwah al-Tafâsîr Op.Cit. juz 1, hlm 209.
Badruzzaman M. Yunus & Sofyana Jamil
surat) dan terkadang menambahkan tanbih. Pemaparan Al-Shabuni berkaitan dengan segi ‘irab bisa dilihat pada surat al-Baqarah : 30.
Al-Shabuni menjelaskan kata ” ْذِا” pada ayat tersebut merupakan zaraf zaman yang nasab dengan fi’il yang dihilangkan (mahdzuf), asalnya َنْي ِح ْرُكْذُا atau َتْق َو ْرُكْذُا. Seperti firman Allah SWT. لْيِلَق ْمُتْنَاْذِا ْو ُرُكْذا َو . Al-Mubarrad mengatakan apabila ada ْذِا bertemu dengan kalimat fi’il yang mustaqbal
(waktu akan datang) maka bermakna madi (lampau) seperti firman Allah SWT., : َكِب ْو ُرُكْمَيْذِا َو yang bermakna ا ْو ُرَكَمْذِا. Sebaliknya, apabila ada ْذِا" "bertemu dengan kalimat fi’il
yang madi, maka maknanya mustaqbal seperti firman Allah SWT. ًةَّماَّطلا ِت َءاَجاَذِاَف dan ِالله ُرْصَنَءاَجاَذِا kedua ayat ini bermakna ُء ْي ِجَي.232
Adapun penjelasan Al-Shabuni berkaitan dengan fadhlu al-surah bisa dilihat pada pembahasan surat Ali-Imran. Keutaman surat yang dikemukakan Al-Shabuni berupa hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim pada kitab haditsnya nomor 805 bab keutamaan membaca Al-Qur’an dan surat Al-Baqarah.
Diriwayatkan oleh Nawas bin Sam’an, dia berkata, “saya mendengarkan Rasulullah Saw.,bersabda: ” pada hari kiamat Qur’an akan datang dengan ahlinya (ahli Al-Qur’an) yaitu mereka yang mengamalkannya. Semua
232 Muẖammad Ali Al-Shâbûnî, Shafwah al-Tafâsîr Op.Cit. juz 1, hlm 39.
Badruzzaman M. Yunus & Sofyana Jamil
surat dalam Al-Qur’an yang akan didahulukan adalah surat Al-Baqarah dan Ali-Imran.233
Pada akhir di setiap kelompok penafsiran ayat, terkadang Al-Shabuni menambahkan tanbih, seperti pada akhir penafsiran surat Al-Maidah/5:67-81.
Ibn Katsir berkata:” ayat
ٌة ْي َق ِد َص ُه ُا ُّم َو
, merupakan ayat sebagai dalil bahwa Maryam bukanlah Nabi seperti yang dikemukakan Za’amah bin Hazam dan lainnya. Mereka yang mengatakan bahwa Sarah dan Maryam adalah seorang Nabi, pendapat tersebut bertendensi pada penyebutan nama keduamya oleh Malaikat.234Langkah-langkah yang telah dijelaskan tersebut tidak seluruhnya diaplikasikan secara konsisten pada setiap ayat yang dibahas. Namun beberapa unsur yang di anggap urgen saja yang dimasukan dalam penafsirannya, dan tentunya melihat relevansi dan urgensinya. Faktor keterbatasan sumber data yang menjadi rujukan juga mempengaruhi, konsistensi sistematika yang meliputi seluruh unsur penafsiran tersebut.